Hatim Ghozali: Tidak Ada Jaminan Seseorang Kebal Terhadap Hoax

TANGERANG, – Sekitar pertengahan Oktober 2018, media masa diramaikan oleh pemberitaan kasus hoax yang menimpa Ratna Sarumpaet. Pasalnya, perempuan 60 tahun itu telah menyebar berita bohong terkait operasi plastik yang dilukukannya. Ia menyebut, memar di wajahnya akibat dikeroyok sekolompok orang tak dikenal.

Terkuaknya kasus Ratna, sempat melahirkan gerakan yang mendesak adanya hari anti hoax nasional atau menobatkan Ratna sebagai ratu hoax. Gerakan terebut, menurut Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (PP RMI) NU, Hatim Ghazali dinilai wajar, mengingat hoax adalah penyakit akut bagi masyarakat indonesia.

Dosen Universitas Sampoena itu menilai tidak ada jaminan seseorang kebal dari hoax. Apalagi, kecenderungan orang Indonesia berbagi dan bercerita cukup tinggi. “Sharing lebih gampang ketimbang producing,” katanya, saat menyampaikan materi diskusi di acara Mudzakar Ulama Kharismatik Se-Banten, dengan tema ’Moderasi Beragama: Jihad Ulama Menyelamatkan Umat dan Negeri dari Bahaya Hoax’ di STISNU Nusantara Tangerang, Rabu (16/01/2019).

Hatim Ghazali ketiga dari kanan

Selain tingginya animo berbagi dan bercerita, merebaknya hoax menerutnya juga ditopang oleh majunya teknologi komuniasi, seperti media sosial. Di media sosial seseorang merasa memiliki kebebasan untuk melakukan dan mengatakan apapun.

“Di media sosial lebih banyak justifikasi tanpa verifikasi. Mereka cenderung tidak membaca secara mendalam tentang suatu topik tertentu dan membaca secara random tentang berbagai hal,” ungkapnya.

Ia berharap ada upaya hukum yang serius dalam menangkal hoax. “Sejauh ini yang dijerat hukum hanya produser hoax. Bagaimana dengan platform apakah mereka terlibat litersinya atau tidak? Menurut saya  perlu adanya revisi terhadap Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PSE),” tutupnya.

Dari pengamatan Hatim, hoax paling banyak bertemakan politik. Hal itu mengindikasikan bahwa hoax ini berjalan sistematis. [AD]

Leave Comments