superadmin

Panduan Rawat Covid-19 di Pesantren

Download Panduan Raw

Sebagai ikhtiar mencegah penyebaran Covid-19 di masa New Normal ini, RMI PBNU bekerja sama dengan FSN GM me-launching Panduan Rawat Covid-19 di Pesantren.

Harapan besar bagi kami panduan ini dapat memberi manfaat. Dan semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan dan terhindar dari segala marabahaya. Aminn..

Download File

Download Protokol Pe

Jakarta – Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU), menerbitkan Protokol Pencegahan Covid-19 untuk Pesantren dalam menghadapi new normal. Dalam panduan tersebut RMI PBNU memuat tatalaksana bidang kesehatan dan pedoman kesehatan.

Menurut Ketua RMI PBNU, KH Abdul Ghofarrozin (Gus Rozin), panduan ini dibuat lantaran sebaran Covid-19 masih belum melandai, bahkan cenderung meningkat dan vaksin juga masih belum ditemukan.

“Walau begitu, proses ta’lim dan ta’allum harus terus berjalan. Ditambah aspirasi masyarakat yang menginginkan dibukanya pesantren juga semakin kuat. Maka salah satu ikhtiar penting yang harus dilakukan adalah Menyusun dan mensosialisasikan Protokol Kesehatan New Normal untuk Pesantren.” Tulis Gus Rozin dalam Protokol Pencegahan Covid-19 untuk Pesantren.

Protokol yang diterbitkan atas Kerjasama dengan Forum Silaturahim Nahdliyin Gajah Mada (FSN GM) ini disusun oleh :

  1. dr. Madarina Julia, MPH, PhD, SpA(K).
  2. dr. Nur Azid Mahardinata.
  3. Beta Ahlam Gizela, Sp.FM(K), DFM.
  4. dr. Emy Huriyati, M.Kes.
  5. Fatma Zuhrotun Nisa, STP. MP.
  6. Adhy Jurniawan, S.T.
  7. Widyawan S.T., M.Sc., PhD.
  8. Drs. Mudasir, M.Eng., PhD.
  9. M Rustamaji, SH., MH.
  10. Ika Dewi Ana, M.Kes., PhD.
  11. Muhammad Mustafid, S.Fil.

 

Download Protokol Pencegahan Covid-19 untuk Pesantren.

Sumber: Beritabaru.co.

Protokol Pencegahan

 

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Alloh swt yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya kepada kita. Sholawat dan salam selalu kita sanjungkan kehadirat Kanjeng Nabi Muhammad saw, keluarganya, sahabatnya, dan semua pengikutnya sampai hari akhir nanti.

Bermula dari syawalan online pada hari Sabtu tgl 30 Mei 2020, lahirlah tiga ide pokok. Salah satunya adalah menyusun protokol pencegahan Covid-19 untuk pesantren sebagai bentuk ekspresi kecintaan dan kepedulian terhadap pesantren, yang telah memberikan  kontribusi besar dalam pencerdasan kehidupan bangsa dan pencerahan spiritual bangsa.

Pada saat syawalan, belum banyak draft protokol yang ditujukan secara khusus untuk pesantren. Jika pun ada, maka masih bersifat general dan belum memberikan berbagai opsi-opsi yang memudahkan pesantren, seperti alterntaif terhadap rapid test maupun PCR. Sementara, dalam rilis RMI bertanggal 22 Mei 2020, ditegaskan di situ komitmen kuat PP RMI agar pesantren tidak menjadi cluster baru penularan Covid-19, selain tentu saja komitmen nyata pesantren dalam pencegahan maupun mitigasi dampak Covid-19.

Atas dasar itu, kemudian dibentuk satu task force yang diberi amanah untuk menyusun protokol tersebut. Di tengah proses brainstorming tersebut, kami juga mendapatkan banyak bahan share dari berbagai WhatsApp Group maupun sumber lain yang kami jadikan bahan referensi. Salah satunya adalah draft yang berjudul “Panduan Covid untuk Pondok Pesantren” yang disusun oleh Persatuan Dokter NU (PDNU).

Draft ini menjadi bahan yang kami olah, lengkapi, dan sempurnakan. Selain itu, rilis pers dari PP RMI, presentasi dari Ditpontren Kemenag, juga kami acu. Tentu saja, berbagai referensi akademik yang bisa dipertanggungjawabkan juga menjadi pijakan utama. Alhamdulillah, draft protokol pencegahan ini akhirnya jadi.

Protokol ini dapat menjadi panduan untuk tiga hal: 1) pemulangan atau kembalinya para santri dari rumah ke pesantren; 2) proses dan masa karantina; 3) kehidupan keseharian pasca-karantina sebelum Covid-19 benar-benar reda. Semua ini merupakan bagian dari ikhtiar
lahir yang harus kita lakukan untuk mencegah kerusakan, mafsadah, kehancuran kita, yang bisa berujung kematian, bahkan al-maut al-‘am
4 (kematian massif). Di samping tentu saja ikhtiar bathin yang tidak kalah pentingnya, seperti memperbanyak istighfar, sholawat,
membersihkan hati, doa, meninggalkan permusuhan dan perselisihan, dan perbuatan yang tidak bermakna. Kita percaya bahwa setiap
penyakit selalu ada obatnya (kullu da-in dawa-un).

Tugas kita adalah mendiagnosis sumber penyakit dan menemukan obatnya. Setelah ikhtiar lahir dan bathin sudah kita laksanakan secara maksimal, maka semuanya kita kembalikan pada Alloh swt. Tawakal. Pasrah. Sebagaimana dawuh Ibnu Hajar Al-‘asqolany:

.وأن يكون عارفا أنه إن وقع له فهو بتقدير هللا و إن رصف عنه فهو بتقدير هللا

Kita sadari, bahwa jika pada akhirnya kita terkena wabah pandemik, maka itu karena memang sudah menjadi taqdir Alloh swt.
Begitu juga, jika kita selamat, maka itu juga semata karena sudah menjadi taqdir Alloh swt.

Draft ini berangkat dari asumsi umum pesantren. Oleh karena itu, dimungkinkan dimodifikasi dalam pelaksanaan baik ke standar yang lebih ketat maupun lebih moderat, sesuai situasi dan kondisi, namun tetap memperhatikan subtansi pokok protokol pencegahan.

Akhir kata, tiada gading yang tak retak, draft ini terbuka untuk dikoreksi dan diperbaiki. Kami hanya berharap draft ini bermanfaat bagi pesantren. Wallohu a’lam bis-showwab

Selengkanya download link berikut: Protokol Pencehahan Covid-19 untuk Kembali ke Pesantren, Masa Karantina dan Keseharian Pasca-Karantina di Pondok Pesantren

Guru Ngaji DI Y

RMI PBNU Salurkan 25

RMI PBNU, Sleman – Banyak kelompok masyarakat terdampak Pandemi Covid-19 luput dari perhatian pemerintah maupun para dermawan, salah satunya adalah para guru ngaji dan kaum rois di kampung-kampung. Peran mereka kadang tidak dianggap dan dinomor duakan padahal dari merekalah kita bisa mengenal Alif Ba Ta. Dari mereka pulalah proses pemulasaran janasah dari mulai memandaikan hingga membacakan talqin di kuburan.

Pandemi Covid-19 membuat para guru ngaji banyak libur karena tidak ada lagi proses ngaji di TPA maupun masjid-masjid.  Banyak dari mereka tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan primernya seperti makan dan minum karena kehilangan pekerjaan dan tidak ada pemasukan.

Saat ini pemerintah masih belum ada program khusus yang memikirkan para kaum rois dan guru-guru ngaji kita tercinta. Untuk itu asosiasi pesantren NU (RMI PBNU) menginisiasi program “Kado Lebaran untuk Guru Ngaji Tercinta”

Program disalurkan berupa paket sembako dan uang tunai kepada para kaum rois dan guru ngaji musola, masjid, pesantren, TPQ, Madin dst. Di Provinsi D.I.Yogyakarta program ini sudah didistribusikan 250 paket melalui PC RMI di 5 Kabupaten dan Kota.

PC RMI Kota dibagikan langsung oleh Ketua PWNU Kota Yogyakarta sebanya 45 paket kepada para guru ngaji, untuk Kabupaten Gunung Kidul, Bantul, Kulon Progo dan Sleman dibagikan oleh masing-masing Ketua PC RMI kepada para guru ngaji dan kaum rois, pembagian dilaksanakan mulai hari Kamis,  14 Mei 2020 selama tiga hari sampai hari minggu 17 Mei 2020 paket sembako dan uang tunai.

Kyai Khoiron, Pati yang langsung dibagikan oleh Gus Liwaudiin selaku ketua asosiasi pesantren NU. “Bantuan kado lebaran untuk guru ngaji tercinta ini jangan dinilai dari nominalnya, tetapi kepedulian RMI ini semoga dapat sedikit meringankan beban para guru ngaji”, papar Gus Miftah sebagai salah satu koordinator donatur di wilayah DIY.

Haru, senyum bahagia serta ucapan terima kasih disampaikan oleh para guru ngaji, mereka memberikan do’a semoga para donatur dan semua panitia diberikan kesehatan, serta rizki yang melimpah dan berkah.

Baru 250 paket dapat terdistribusi diseluruh DIY dan masih diusahakan tambahan lagi, untuk itu kepada para donator yang ingin bergabung dalam gerakan ini dapat memberikan donasi melalui Rekening BNI 0860332209 atas nama RMI NU, adapun laporan para penyumbang dan distribusi bisa dilihat di laman https://rmi-nu.or.id serta akun media sosial RMI NU dan Ayo Mondok.

Addie MS Dukung Prog

Berita Baru, Jakarta – Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) yang tengah melanda dunia, termasuk juga Indonesia, memberikan dampak yang cukup serius bagi masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah. Tidak terkecuali ‘Guru Ngaji’ yang merupakan profesi mulia, tapi kadang luput dari perhatian.

Untuk itu, Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI-PBNU) mengadakan program ‘Kado Lebaran untuk Guru Ngaji’ demi menjangkau para guru ngaji yang terdampak, namun belum mendapat bantuan dari pemerintah maupun swasta.

Menyambut program RMI-PBNU itu, musisi dan konduktor kenamaan Indonesia, Addie MS sangat mendukung program yang diadakan untuk menyejahterakan dan berempati kepada guru ngaji tersebut.

Dalam video berdurasi 49 detik, Addie MS mengatakan guru ngaji merupakan salah satu dari sekian yang terdampak pandemi Covid-19.

“Guru ngaji adalah salah satu yang terdampak pandemi. Walaupun mereka diam, kita perlu memikirkan mereka yang telah banyak mengajarkan kita membaca ayat-ayat suci al-Quran,” kata Addie MS.

Addie MS melanjutkan bahwa program ‘Kado Lebaran untuk Guru Ngaji’ merupakan ikhtiar yang baik dan sangat penting, terutama di tengah-tengah situasi pandemi seperti sekarang ini.

Sementara itu, Ketua RMI-BNU, KH Abdul Ghofarrozin atau akrab disapa Gus Rozin bersyukur bahwa program yang digagas RMI-PBNU mendapat sambutan positif dan hangat dari masyarakat, terutama mereka yang peduli terhadap guru ngaji.

“Kita bersyukur, program Bingkisan Lebaran Untuk Guru Ngaji ini mendapatkan sambutan yang luar biasa dari publik, dari para kiai, pengasuh pesantren dan influencer,” terang Abdul Ghaffar Rozin.

Dari pantauan Beritabaru.co di akun Instagram RMI-PBNU, sejumlah tokoh turut terlibat dalam program ‘Kado Lebaran Untuk Guru Ngaji’ ini. Mereka diantaranya adalah Gus Mus, Gus Miftah, Gus Lukman Haris Dimyati, Gus Hilmi Muhammad, Ajengan Amin Maulana, Gus Mahrus Iskandar, Gus Zaki Hadzik, Nyai Maslachatul Ammah Sholeh, serta sejumlah Kiai dan Bu Nyai lainnya.

Selain itu, sebagaimana diberitakan oleh Tempo.co, artis dangdut Inul Daratista juga mendukung program RMI-PBNU ini. Mengutip pernyataan Gus Miftah dalam video, Inul menuliskan betapa peran Kyai Kampung seperti, Mbah Rois, Mbah Modin, Mbah Kaum, Guru Diniyah sangat penting. Mereka sumua dianggap penting sebagai ujung tombak dari kegiatan keagamaan di perkampungan dan pedesaan.

“Mereka lakukan itu semua dengan keikhlasan tanpa adanya honor dan gaji yang jelas,” tulis Inul.

Berikut kriteria guru ngaji yang mendapat bantuan; 1) guru ngaji 2) bukan PNS, 3) belum mendapatkan bantuan.

Sumber: Beritabaru.co

RMI bersama Ulama da

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pandemi covid-19 yang melanda hampir seluruh dunia, termasuk Indonesia, memberikan dampak yang sangat serius bagi kehidupan manusia. Bukan saja banyaknya korban yang meninggal, tetapi juga memberikan dampak serius terhadap perekonomian negara.

Akibat kebijakan dan seruan untuk melakukan pembatasan fisik dan sosial, roda ekonomi berjalan lambat. Banyak rakyat yang semakin terperosok ke jurang kemiskinan, dan menjerit kelaparan.

“Tempo hari, banyak orang yang menyerukan peduli Ojek Online (ojol) dengan memberikan bantuan. Ini bagus. Namun tidak cukup di situ. Sebab, banyak komponen bangsa yang terdampak lebih serius. Salah satunya adalah para guru ngaji di langar-langgar, musholla, dan pesantren. Kelompok ini kurang mendapatkan perhatian dan sering terlupakan” ujar Abdul Ghaffar Rozin yang diakrab disapa Gus Rozin, Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah PBNU.

“Karena itu, RMI NU membuat Program Kado Lebaran Untuk Guru Ngaji Tercinta ini ingin menjangkau para guru Ngaji yang terdampak namun sampai saat ini belum mendapatkan bantuan dari pihak manapun. Jadi kriteria yang mendapatkan bantuan ini tiga; 1) guru ngaji 2) bukan PNS, 3) belum mendapatkan bantuan” imbuh Gus Rozin.

“RMI NU bersama dengan para kiai, pengasuh pesantren dan bu Nyai Nusantara terus menggaungkan dan menyukseskan program ini. Kita bersyukur, program Bingkisan Lebaran Untuk Guru Ngaji ini mendapatkan sambutan yang luar biasa dari publik, dari para kiai, pengasuh pesantren dan influencer. Bahkan, KH. Musthofa Bisri atau yang dikenal dengan Gus Mus juga turut berkontribusi dalam gerakan ini, serta mengajak kita semua untuk turut berdonasi untuk Guru Ngaji melalui RMI NU” tambah Gus Rozin.

Dari pantauan akun Instagram RMI NU, terdapat sejumlah tokoh yang turut serta terlibat dalam program Kado Lebaran Untuk Guru Ngaji Tercinta ini. Beberapa di antaranya adalah Gus Mus, Gus Miftah, Gus Rozin, Gus Lukman Haris Dimyati, Gus Hilmi Muhammad, Ajengan  Amin Maulana, Gus Mahrus Iskandar, Gus Zaki Hadzik, Nyai Maslachatul Ammah Sholeh, serta sejumlah Kiai dan Bu nyai lainnya. Bahkan video yang diposting oleh dai kondang Gus Miftah telah ditonton lebih dari 150 ribu, juga direpost oleh Inul Daratista.

Menurut Gus Rozin, program Kado Lebaran Untuk Guru Ngaji Tercinta ini ditargetkan mencapai 5.000 paket yang akan didistribusikan kepada guru-guru ngaji, marbot masjid, dan ustadz pesantren se Indonesia, terutama daerah-daerah Zona Merah.

Gus Rozin menambahkan bahwa sambil lalu menggalang dana, secara parallel dana yang sudah terkumpul tersebut langsung didistribusikan kepada yang berhak. Sampai hari ini, (Selasa, 12/5) donasi dalam bentuk uang yang sudah terkumpul oleh RMI, sebagaimana yang dilaporkan dalam website rmi-nu.or.id telah mencapai Rp 100 juta. Dari dana yang terkumpul tersebut, tambah Gus Rozin, RMI telah mendistribusikan ratusan paket di sejumlah daerah, seperti di Surabaya, Sidoarjo, Jombang, Solo, Garut, Lebak, Cirebok, Depok, Bogor dan lain sebagainya. Dan distribusi ini akan terus berjalan parallel dengan penggalangan dana.

Gus Rozin berharap banyak orang yang terlibat dalam gerakan ini dengan memberikan donasi melalui Rekening BNI 0860332209 atas nama RMI NU, mengingat para guru ngaji ini sering terlewat dalam pendataan sebagai orang yang berhak mendapatkan bantuan.

“Dana yang terkumpul tersebut akan dibelanjakan dalam bentuk barang dan sebagian berupa uang, yang akan sampaikan kepada guru ngaji. Selain berupa uang, RMI juga menerima bantuan dalam bentuk barang. Semua donasi ini akan dilaporkan kepada publik secara transparan dan akuntabel melalui website rmi-nu.or.id serta akun media sosial RMI NU,” ungkap Gus Rozin.

Sumber: Republika.co.id