kangmuh

Meneladani Akhlaqul

oleh Ahmad Karomi

Nama lengkapnya adalah Muhammad Saleh bin Umar As-Samarani, yang dikenal dengan sebutan Mbah Soleh Darat, hidup sezaman dengan Syekh Nawawi Banten dan Syekh Kholil Bin Abdul Latif Bangkalan Madura, lahir di Kedung Cemlung, Jepara pada tahun 1235 H./1820 M., dan wafat di Semarang pada hari Jum’at 29 Ramadhan 1321 H. atau 18 Desember 1903 M. Ketiga ulama yang berasal dari Jawa itu juga sezaman dan seperguruan di Mekah dengan beberapa ulama dari Patani diantaranya adalah Syekh Muhammad Zain bin Mustafa Al-Fathani (Lahir 1233 H./1817 M., wafat 1325 H./1908 M.). Mereka juga seperguruan di Makkah dengan Syekh Amrullah (Datuknya Prof. Dr. Hamka) dari Minangkabau, Sumatera Barat.

Sebenarnya sudah banyak yang menulis biografi Kiai Sholeh Darat yang merupakan guru KH. Hasyim Asyari ini. Beliau adalah ulama yang sangat tawadu’, santun, tidak sok pintar, sok alim, dan merasa benar sendiri.
Kekaguman saya dalam kitab Minhajul Atqiya’ beliau tulis dengan redaksi bahasa yang sangat santun: “awit nulis Jumadil awal (memulai nulis jumadil awal).. udzur marid (udzur sakit) beberapa hari. Mugo-mugo bisoho khatam serta manfaat. Dan ada pula di dalam muqaddimah kitab tepatnya di halaman 12 secara gamblang beliau berkata: “Moko lamun ningali siro, Ya ikhwani! ing iki kitab iku bener, cocok pengendikane poro ulama, moko iku saking fahame ulama muhaqqiqin , moko lamun ono ingkang luput ora bener, moko iku saking salahe faham ingsun, moko ingsun nuwun ngapuro lan podo benerno supoyo ojo dadi sasar (beliau tidak mnggunakan redaksi sesat) ingatase wongkang bodoh2, ojo siro poyoki (gojloki) lan istihza’ (tertawa meremehkan) krono ingsun wus weroh kelawan yaqin setuhune ingsun (Mbah Sholeh sndiri) iku bodoh ora ngerti ilmu arabiyyah lan ingsun muflis minal ilmi wal amal (miskin ilmu dan amal).”

Kurang lebih bila diterjemahkan bahasa Indonesia begini: “Maka jika kalian lihat wahai saudaraku! dalam kitab ini sebuah kebenaran dan cocok dengan ucapan para ulama, maka itu sejatinya dari pemahaman ulama ahli hakikat. Jika dalam kitab ini terdapat kesalahan atau tidak benar, maka itu (murni) dari kesalahpahaman saya. Oleh karena itu, saya minta maaf dan mohon dibenarkan (diperbaiki), agar tidak menjadikan orang yang bodoh-bodoh salah jalan (paham). Jangan kalian meledek dan tertawa mengejek, karena saya sudah tahu dengan yakin akan kebodohan saya yang tidak mengerti ilmu Arab ini dan saya miskin ilmu amal.”

Ungkapan Kiai Sholeh Darat ini bila dipahami, tersimpan pesan bahwa sejatinya manusia tetap memiliki sisi kealpaan, khilaf, kekurangan dan tidak memiliki pengetahuan apa-apa. Beliau dengan penuh tawadu’ menekankan akan pentingnya “mengosongkan bilik hati” dari takabbur, jumawa, merasa alim, hebat, dan anti kritik. Dari sinilah, sosok Kiai Sholeh Darat bisa kita teladani bahwa untuk menjadi pewaris ilmu Nabi haruslah didasari akhlaqul karimah, siap diingatkan jika terbukti salah.