dafit

Belajar Dari Mbah

Belajar Dari Mbah Liem, Ulama Kharismatik Pencetus Slogan “NKRI HARGA MATI”

Oleh; Fahri Ali

“Duh Gusti Alloh Pangeran kulo, kulo sedoyo mbenjang akhir dewoso dadosno lare ingkang sholeh, maslahah, manfaat dunyo akherat bekti wong tuo, agomo, bongso maedahe tonggo biso nggowo becik ing deso, soho NEGORO KESATUAN REPUBLIK INDONESIA PANCASILA KAPARINGAN AMAN, MAKMUR, DAMAI. Poro pengacau agomo lan poro koruptor kaparingono sadar-sadar, Sumberejo wangi berkah ma’muman Mekah.”

– Mbah Liem (KH. Moeslim Rifa’i Imampuro)

Siapa yang tidak tahu slogan “NKRI HARGA MATI”?. Mungkin dari sebagian pembaca sudah sering mendengarnya atau bahkan pernah melantunkan slogan tersebut. Slogan itu memang dibuat untuk membakar semangat nasionalisme dan menggelorakan jiwa patriotisme diberbagai even kebangsaan. Itulah mengapa slogan tersebut sangat populer.

Dari arti katanya, menunjukan pencetus slogan tersebut ingin memberikan dorongan dan menggelorakan semangat juang untuk setia membela tanah air Indonesia sampai titik darah penghabisan. Dimana kesetiaan pada bangsa dan negara adalah mutlak bagi setiap warga negara Indonesia.

Tetapi pada tema ini, penulis tidak hendak memberikan interpretasi lebih lanjut soal makna slogan di atas. Penulis lebih akan mengulas sesuatu yang mungkin dilupakan khalayak, ketika slogan itu didengungkan. Iya, kita luput membahas atau mengingat siapa sebenarnya pencetusnya?

Dari hasil penelusuran penulis, ada hikayat yang menceritakan bahwa pencetus slogan itu adalah ulama kharismatik Almaghfurlah Simbah KH. Moeslim Rifa’i Imampuro atau akrab disapa Mbah Liem. Salah satunya sebagaimana yang disampaikan oleh Habib Luthfi Bin Yahya.

Menurut kesaksian beliau, dalam buku Fragmen Sejarah NU karya Abdul Mun’im DZ mengatakan, pada saat Panglima TNI Jenderal Benny Moerdani datang ke Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Mbah Liem meneriakkan yel, NKRI Harga Mati…! NKRI Harga Mati…! NKRI Harga Mati…! Pancasila Jaya, maka sejak itulah yel-yel NKRI Harga Mati menjadi jargon, slogan tidak hanya di NU tapi di beberapa pihak seperti di TNI. Jadi slogan atau jargon “NKRI Harga Mati, Pancasila Jaya” dicetuskan oleh Mbah Liem.

Mbah Liem sendiri adalah salah satu ulama yang memiliki rasa cinta terhadap NKRI. Hal ini telah ditunjukan oleh beliau semasa hidupnya. Beliau selalu mengimplementasikan nasionalisme itu di dalam kehidupan sehari-hari. Bentuknya adalah dengan menerapkan dasar dan falsafah negara Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai tonggak pemikiran dalam setiap mengambil keputusan.

Sebagaimana kita ketahui, cinta tanah air adalah salah satu yang diajarkan oleh ulama-ulama terdahulu, khususnya saat mencuatnya Resolusi Jihad, 22 Oktober 1928 yang dipelopori oleh  KH. Hasyim Asy’ari dengan fatwanya “Cinta Tanah Air Adalah Sebagian Dari Iman. Sama halnya dengan KH. Hasyim Asy’ari, Mbah Liem, juga mengajarkan kepada seluruh santrinya untuk menanamkan Hubbul Wathon (cinta tanah air) pada jiwa mereka.

Sama halnya dengan ulama besar lainnya, beliau juga mendirikan lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal. Namun yang menjadi pembeda adalah ungkapan kecintaan beliau terhadap NKRI, dimana nama lembaganya pun diberi nama Al-Muttaqien Pancasila Sakti. Kata “Sakti” disitu memiliki filosofi atau arti “Sampai Kita Mati”, sekligus mengokohkan Pancasila sebagai falsafah yang harus terus dijaga sampai mati. Dalam metode penbajaran pendidikannya pun berbeda dengan lembaga-lembaga lain pada umumnya, dimana Al-Muttaqin Pancasila Sakti berupaya melaksanakan “NKRI HARGA MATI” dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satunya ada di masjid pondok Al-Muttaqien Pancasila Sakti, setiap setelah iqomat sebelum sholat berjama’ah selalu diwajibkan membaca do’a untuk umat islam, bangsa dan negara Indonesia, berikut Doanya:

Subhanaka Allahumma wabihamdika tabaroka ismuka wa ta’ala jadduka laa ilaha Ghoiruka.

Duh Gusti Alloh Pangeran kulo, kulo sedoyo mbenjang akhir dewoso dadosno lare ingkang sholeh, maslahah, manfaat dunyo akherat bekti wong tuo, agomo, bongso maedahe tonggo biso nggowo becik ing deso, soho NEGORO KESATUAN REPUBLIK INDONESIA PANCASILA KAPARINGAN AMAN, MAKMUR, DAMAI. Poro pengacau agomo lan poro koruptor kaparingono sadar-sadar, Sumberejo wangi berkah ma’muman Mekah.”

Tradisi-tradisi yang ditinggalkan semasa hidup Mbah Liem juga masih bisa dirasakan hingga sekarang, misalnya pengibaran bendera merah putih 24 jam dengan prinsip “Rusak-Ganti” maksudnya adalah adanya bendera merah putih yang terus berkibar selama 24 jam tanpa diturunkan, diturunkan ketika rusak baru di ganti dengan yang baru. Makam beliau juga dikelilingi oleh bendera merah putih, menunjukan bahwa kecintaan beliau terhadap negara yang luar biasa.

Sadar dengan bentuk negara kesatuan, dimana terdapat banyak perbedaan di dalamnya, Mbah Liem, menerima itu sebagai kenyataan yang harus diterima, didukung dan dicintai. Hal ini dituangkan dalam tulisan berikut:

Wujud lainnya dari kecintaan itu–toleransi dalam keberagamaan dan perbedaan–adalah dengan dibangunnya “Joglo Perdamaian Umat Manusia Se-Dunia”. Bangunan ini dimaksudkan untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan antar umat manusia.

Membahas Mbah Liem, tentu banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil dari setiap langkahnya. Beliau menghabiskan masa hidupnya dengan selalu mencintai Tanah Airnya yaitu NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Maka dari itu sebagai generasi muda, kita berkewajiban meneruskan cita-cita kebangsaan para beliau dan para leluhur lainnya. Sebab sudah suatu kepastian, para pemuda lah yang menjadi tonggak harapan bagi terwujudnya cita-cita kemerdekaan, terkhusus bagi para santri yang selalu diajarkan jiwa agamis dan jiwa nasionalis dalam setiap langkahnya.

Terakhir, ada pepatah mengatakan “negara akan hancur dengan sendirinya jika para pemudanya lupa akan sejarah”. Seperti pesan Soekarno “Jas Merah; Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”.

Cacatan; Kendati kiprah dan karyanya cukup fenomenal, khususnya bagi warga Nahdhiyin, biografi Mbah Liem sebenarnya cukup misterius, utamanya soal tahun kelahiran dan silsilah. Beliau seolah menutupi indentitasnya, bahkan hingga kini putra-purtinya tidak mengetahui persis tanggal lahirnya. Salah satu putra Mbah Liem bernama Gus Muh mengatakan Mbah Liem lahir pada tanggal 24 April 1924 namun begitu Gus Muh sendiri belum begitu yakin. Soal identitas Mbah Liem hanya sering mengatakan kalau beliau dulu adalah bertugas sebagai Penjaga Rel kereta Api. Tentang silsilah, pada masa tuanya–menurut informasi dari Gus Jazuli, putra menantunya–Mbah Liem pernah menulis di kertas, bahwa ia masih keturunan keraton Surakarta.

Tentang Penulis, Fahri Ali adalah alumni “Al-Muttaqien Pancasila Sakti” asal Bayumas, kelahiran 25 November 1999. Sekarang tinggal di Salatiga untuk melanjutkan studi S1.

Pembukaan Workshop Pesantrenku Bersih Pesantrenku Sehat

RMI NU Suarakan Kebe

Blora,– Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU menggulirkan paradigma baru semangat menjaga kebersihan di lingkungan pesantren. Para santri diharapkan menjadi pelopor kebersihan dan siap menjadi gugus tugas perilaku hidup bersih di lingkungan masing-masing.

Ketua RMI NU, KH Abdul Ghoffar Rozin menegaskan, para santri di pesantren kerap kali memiliki kebiasaan buruk, yakni kurang memperhatikan kebersihan. Bahkan, sebagian dari para santri ini meyakini, berbagai penyakit kulit yang mereka alami, dipercaya mengandung berkah.

“Tapi pemahaman ini salah. Katanya, gudiken (nama salah satu penyakit kulit, red) itu berkah. Ini tidak ada hubungannya,” tegas Gus Rozin, sapaan akrab KH Abdul Ghoffar Rozin, saat membuka Workshop Pesantrenku Bersih Pesantrenku Sehat, di PP Al Hikmah Ngadipurwo, Blora, Jumat (15/03).

Sehingga, dengan digulirkannya pemahaman baru terkait kebersihan di pesantren, dapat menegaskan citra lembaga ini sebagai pionir kebersihan. Santri pesantren harus mampu menjadi agent of change (agen perubahan) dalam membudayakan kebersihan.

“Maka, nanti tiga bulan mendatang kita akan datang lagi ke sini. Untuk mengecek, apakah workshop ini berhasil maksimal atau tidak,” imbuh Gus Rozin, yang juga merupakan Staff Khusus Presiden RI Bidang Keagamaan itu.

Gus Rozin menambahkan, Workshop Pesantrenku Bersih Pesantrenku Sehat ini terselenggara berkat kerja sama antara RMI NU dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk. Kerja sama antara dua lembaga ini bukanlah kali pertama. Dalam beberapa agenda terakhir, dua lembaga ini kerap menggelar agenda bertema kepesantrenan.

“Kalau dulu, kita bikin tagline Pesantrenku Keren! dan sekarang Pesantrenku Bersih, Pesantrenku Sehat. Jadi, Kalau ga bersih, ga keren,” pungkasnya.

Perwakilan PT PGN Tbk, Santiaji Gunawan menyambut baik paradigma kebersihan di pesantren. Pasalnya, pesantren dewasa ini semakin dipercaya menjadi pelopor pendidikan karakter anak bangsa, yang tak hanya mengajarkan ilmu agama. Tetapi juga, semangat toleransi dan kebhinekaan.

“Maka, saat pertama kali RMI NU mengajak kerja sama ini, saya langsung mendukungnya. Kita sebagai BUMN, tidak boleh hanya mencari untung. Tetapi, kita juga harus mendukung upaya-upaya seperti ini, membudayakan hidup bersih dan sehat,” ujar Santiaji.

Di sisi lain, pengasuh PP Al Hikmah Ngadipurwo Blora, KHMA Faishol Nadjib mengemukakan, acara yang akan berlangsung sehari penuh ini diikuti puluhan santri dari puluhan pondok pesantren, dari kawasan Blora dan sekitarnya.

“Ada tiga puluh pesantren yang mengirimkan delegasinya untuk mengikuti workshop ini. Dari kawasan Blora, Rembang, dan kawasan pati. Hari ini, pembukaan dan acara inti akan berlangsung besok selama sehari penuh. Diharapkan, ini akan semakin memupus citra kumuh yang dulu lekat di pesantren,” ujar Gus Fais.

Turut hadir dalam pembukaan Workshop Pesantrenku Bersih Pesantrenku Sehat ini, perwakilan Pemkab Blora, Polres Blora, Kodim 0721/Blora, para kepala desa di sekitar PP Ngadipurwo, perwakilan dan masyarakat di sekitar pesantren.

Acara workshop tersebut rencananya akan dilangsungkan selama dua hari, 15-16 Maret 2019. Total ada 30 pesantren dari Blora dan sekitarnya yang terlibat.[ZAM]

Forum Diskusi Milenial

Ratusan Santri Ikuti

Bandung, – Sebanyak 200 santri dari berbagai daerah di Jawa Barat mengikuti Diskusi Milenial dengan tema ‘Merajut dan Memperkokoh Nilai-nilai Kebangsaan dan Keagamaan’ di Pondok Pesantren Al-Falah Jalan Raya Nagreg Km 38 Kapupaten Bandung.

Kegiatan tersebut digagas oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia bekerja sama dengan staf khusus Presidenan Keagamaan Dalam Negeri serta pondok pesantren Al-Quran Al-Falah Kab Bandung.

Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementran Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia Wiryanta mengatakan bahwa kegiatan tersebut salah satu upaya untuk mencegah berita bohong atau hoax dan fitnah yang saat ini viral di berbagai media sosial.

Baca juga: Pesantren Harus AmbilKebijakan Di Era Digital

“Berita Hoax jelang Pemilu ini terus meningkat tajam terutama terjadi di Bulan Februari dan ini telah sampaikan kepada bapak Mentri,” ujarnya.

Ia menambahkan, forum diskusi tersebut menjadi program Kementrian Kominfountuk melakukan berbagai upaya untuk mencegah terjadinya penyebaran hoax dan juga fitnah.

“Berita hoax ini sangat mengancam kaum milenial lantaran mereka masih labil dan mudah terpengaruh,” ucapnya.

Sementara, Pimpinan pondok Pesantren Al-Falah KH Nanang Naisabur mengatakan bahwa santri sebelumnya sudah diberikan pengetahuan tentang bagaimana cara memfilter informasi bohong atau Hoax.

“Kami para pengasuh sangat berterimakasih atas terselenggaranya kegiatan ini, Jangan sampai informasi yang baik ditanggapinya menjadi buruk begitupun sebaliknya, dan bagaimana cara berfikir positif sehingga bijak dalam menyikapinya, karena sekarang waktu yang tepat berdiskusi bermedsos yang cerdas,” ujarnya.

Baca juga: Pesantren Harus Melawan Ujaran Kebencian

Menurutnya, dalam menyebarkan informasi harus benar karena kalau benar akan membawa manfaat tapi sebaliknya kalau berita hoax apabila disebarkan akan menjadi dosa.

“Insya Allah anak-anak kami cukup dewasa,” katanya.

Kemudian ditambahkan Staf Khusus Presiden Keagamaan Dalam Negeri Gus Abdul Ghoffar Rozin (Gus Rozin) menyebutkan bahwa informasi itu harus disikapi dengan tiga hal yaitu pertama kalau beritanya buruk atau pembawa berita nya itu tidak baik maka kemudian tidak boleh disebar.

Kedua berita baik pun harus kita lihat kalau tidak bermanfaat tidak perlu kita teruskan baru kemudian kalau baik dan bermanfaat bagi kita ataupun bermanfaat lebih lebih bermanfaat bagi orang lain itu baru kita sebarkan,” katanya. [tha]

Berita telah diterbitkan di sumedang.radarbandung.id

Gus Rozin di Diskusi Milenial

Gus Rozin: Pesant


Bandung, – Pesatnya perkembangan teknologi informasi-komunikasi, telah menyita perhatian banyak orang dari berbagai kalangan. Salah satunya adalah KH. Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdhatul Ulama (PP RMI NU).

Menurut Gus Rozin, teknologi saat ini sudah sangat sulit dihindari, termasuk di pesantren. Oleh karenanya, kata Gus Rozin, penting diadakan edukasi penggunaan teknologi di lingkungan pesantren.

“Kalau memang di sekitar pesantren sudah banyak gadget, mungkin kita sudah harus menerima itu. Penerimaan tersebut bisa dengan memperkenalkan penggunaan media sosial melalui kultur dan struktur di pesantren,” ungkapnya, saat menyampaikan materi dalam Forum Diskusi Milenial dengan tema ‘Merajut dan Memperkokoh Nilai-nilai Kebangsaan dan Keagamaan’ di pondok pesantren Al-Falah 2 Bandung, Rabu, 13 Maret 2019.

Baca juga: Pesantren Harus Ambil Kebijakan Di Era Digital

Staf Khusus President Bidang Keagamaan Domestik itu berharap penggunaan media sosial di kalangan pesantren dapat memberi manfaat. Tidak hanya sekedar berkomunikasi dan bersosialisasi, tetapi juga untuk media dakwah.

“Apalagi sekarang ini ada banyak orang menggunakan media media sosial untuk ujaran kebencian. Hal itu harus dilawan dengan membawa ajaran dan nilai-nilai islam yang rahmatan lil alamin ke dalam media sosial.”

“Saya berharap kita bisa mengembangkan cara pemanfaatan dan pengelolaan media sosial secara baik dan benar. Sehingga kita bisa merespon informasi yang beredar secara tepat; kalau baik kita pakai dan kalau salah kita abaikan, jika perlu kita respon dengan membuat wacana tandingan yang itu sejalan dengan ajaran islam ahlussunnah wal jamaah,” tambahnya.

Forum diskusi tersebut berlasung selama dua hari, 13 dan 14 Maret 2019, terselenggara berkat kerja sama antara RMI NU, Kominfo RI dan Pesantren Al Falah. Kegiatan pelatihan ini dihadiri utusan pengurus RMI NU, IPNU dan IPPNU serta admin website Nahdliyyin dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Barat. [AD]

Gus Rozin

RMI NU: Pengasuh Pes

Bandung, – Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (PP RMI) PBNU, KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) menilai bahwa kemajuan di era digital memiliki tantangan yang beragam. Oleh karena itu para pengasuh pesantren harus berani mengambil kebijakan demi menyelamatkan santrinya.

Hal tersebut dituturkan Gus Rozin saat membuka Pelatihan Dakwah Milenial di Pesantren Al Falah 2 Nagreg Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (13/3).

Menurut Gus Rozin, pesantren harus membimbing santri agar bermedsos dan menggunakan gadget dengan baik, jika perlu harus ada kurikulum khusus. “Agar mereka dapat mencari referensi yang tepat, kemudian mengolahnya dan melahirkan konten yang damai dan ramah bagi dirinya dan bangsa,” tegas kiai muda yang juga Staf Khusus Presiden bidang Keagamaan dalam Negeri.

Gus Rozin menegaskan pelatihan tersebut dapat mendorong peserta dengan aktif meningkatkan pengetahuan mereka sesuai perkembangan di era digital.

Sementara Staf Ahli Menteri Kominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa, Gun Gun Siswadi, salah satu pemateri dalam kegiatan tersebut menyatakan bahwa pemerintah selama ini telah berusaha membangun infrastruktur digital nasional.

“Pembangunan infrastruktur digital merupakan skala prioritas yang telah diwujudkan bagi bangsa. Dampaknya cukup luas baik yang bersifat sosial maupun kemajuan di bidang ekonomi kerakyatan,” ujarnya.

Menurut Siswadi kemajuan ini harus dimanfaatkan dengan baik, khususnya oleh generasi milenial yang tidak pernah bisa memisahkan kehidupan nyatanya dengan dunia maya.

Acara tersebut berlangsung dua hari, 13 dan 14 Maret 2019, terwujud berkat kerja sama RMI NU, Kominfo RI dan Pesantren Al Falah. Kegiatan pelatihan ini dihadiri utusan pengurus RMI NU, IPNU dan IPPNU serta admin website Nahdliyyin dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Barat. (Hady Haedar/Kendi Setiawan)

Berita dikutip dari NU Onine dengan judul sama.

Lomba Menulis

Lomba Menulis Konten

Lomba Menulis Esai dan Artikel
(Konten website rmi-nu.or.id dan ligasantri.com)

“Bhakti Santri untuk Negeri”

Sub-tema:

  1. Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan dan Dakwah (profil tokoh atau lembaga)
  2. Pesantren dan Pembangunan Masyarakat (profil tokoh atau lembaga)
  3. Dari Pesantren Untuk Sepakbola Indonesia; – gagasan sepakbola pesantren, – ulasan tokoh (Figur ulama dan kaitannya dengan sepakbola) – dan nalisis pertandingan dan tim di liga yang berjalan dalam dan luar negeri.

Kriteria Tulisan:

  1. Tulisan dalam bentuk essai atau artikel
  2. Tulisan minimal 700 kata dan maksimal 3000 kata
  3. Tulisan berisi materi sesuai dengan sub-tema yang ditentukan (pilih salah satu atau yang berkaitan)

Syarat dan Ketentuan:

  1. Peserta adalah santri atau alumni pesantren [wajib follow akun media sosial LSN (@Liga_santri (IG) @ligasantricom (FB) @ligasantri (twitter)) dan RMI (@RMI_NU (Twitter) @pp_rminu (IG) dan @rabithahmaahidislamiyahnu (Fanspage FB))]
  2. Tulisan dikirim via email redaksi.ligasantri@gmail.com disertai biaodata penulis.
  3. Tulisan karya sendiri dan belum dipublikasikan di media lain
  4. Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu tulisan
  5. Tulisan menjadi hak milik panitia penyelenggara tanpa menghilangkan nama penulis.
  6. Lomba berlangsung dari 10 Maret 2019 sampai 10 Oktober 2019
  7. Peserta yang lolos akan diumukan tiap minggunya melalui media sosial LSN dan RMI dengan hastag (#lombaRMINU dan #LombaLSN)

Tahap Penjurian

  1. Tulisan dinyatakan lolos apabila diterbitkan di website rmi-nu.or.id (subtema 1 dan 2) atau ligasantri.com (subtema 3) yang akan dipilih tiap minggunya.
  2. Tulisan yang sudah diterbitkan selanjutnya akan dinilai oleh para dewan juri didasarkan pada materi tulisan (70%) dan jumlah pengunjung di halaman postingan (30%)
  3. Keputusan dewan juri tidak bisa diganggu-gugat

Hadiah:

  1. Setiap tulisan yang lolos perlombaan dan diposting di web rmi-nu.or.id dan atau ligasantri.com, berhak atas hadiah pulsa sebesar Rp 25.000, serta otomatis mengikuti perlombaan tingkat akhir untuk merebutkan hadiah utama.
  2. Duapuluh tulisan terpilih akan dicetak dalam bentuk buku dan bagi penulis yang karyanya diterbitkan berhak atas buku tersebut masing-masing 2 eks.
  3. Juara pertama dalam setiap subtema akan mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp 700.000 rupiah + 2 buku + 1 kitab, ada total hadiah sebesar Rp 2.100.0000 + 6 buku + 3 kitab untuk tiga pemenang.
  4. Juara kedua dalam setiap subtema akan mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp 500.000 rupiah + 2 buku + 1 kitab, ada total hadiah sebesar Rp 1.500.0000 + 6 buku + 3 kitab untuk tiga pemenang.
  5. Juara ketiga dalam setiap subtema akan mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp 300.000 rupiah + 2 buku + 1 kitab, ada total hadiah sebesar Rp 900.0000 + 6 buku + 3 kitab untuk tiga pemenang.

Cp: 085730629663 (Dafit)

Ridwan Kamil di Munas BUMI

Ridwan Kamil Buka Mu

“Salah satu isu sosial keagamaan yang muncul saat ini adalah terkait dengan pemahaman keagamaan yang sempit, dan parsial yang pada gilirannya mengancam kelompok keagamaan yang memiliki tafsir berbeda. Misalnya jihad yang hanya ditafsirkan sebagai perang, padahal sesungguhnya jihad adalah setiap usaha yang sungguh-sungguh untuk mendapatkan ridha Allah. Dengan mengatasnamakan jihad tersebut justru malah melahirkan perilaku-perilaku yang intoleran, keras dan cenderung radikal. Padahal Islam adalah agama yang membawa misi dan ajaran yang penuh dengan rahmat (kasih sayang), cinta dan kedamaian bagi semesta alam.”

Banjar, – Melihat berbagai permasalahan kebangsaan saat ini, Brigade Ulama Muda Indonesia (BUMI) adakan musyawarah Nasional  (Munas), bertempat di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Kujangsari, Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat, acara berlangsung selama dua hari, Rabo-Kamis, 27-28 Februari 2019. Acara yang dihadiri oleh perwakilan ulama muda seluruh indonesia ini dilandasi oleh kepudulian terhadap berbagai permasalahan sosial keagamaan.

“Sejalan dengan pemahaman Islam Rahmatan Lil’alamin, melalui Ahlussunnah Wal Jamaah An Nahdliyyah pemahaman Islam Rahmatan Lil’alamin dapat lebih terealisasikan melalui lima pilar Ahlussunnah Wal Jamaah An Nahdliyyah, yaitu (1) tawassuth (moderat) dalam menyikapi berbagai persoalan. tidak bersikap ekstrim, baik ekstrim kiri atau ekstrim kanan, (2) tasamuh (toleran), dapat hidup berdampingan secara damai dengan pihak lain, (3) ishlah (reformatif), yaitu mengupayakan perbaikan menuju arah yang lebih baik, (4) tathowwur (dinamis), yaitu selalu melakukan kontekstualisasi dalam merespon berbagai persoalan dan tantangan, lebih-lebih di era global, dan (5) manhajy (metodologis), yaitu selalu menggunakan kerangka berfikir yang mengacu kepada manhaj yang telah ditetapkan oleh ulama.” Dikutip dari Term Of Reference (TOR) yang diberikan oleh kepanitiaan, Rabo (27/02/2019).

Acara yang dieselenggarakan dengan tujuan menguatkan dan memelihara aqidah ahlussunah wal Jama’ah ala NU, meneguhkan fikroh, amaliah dan harokah NU, sebagai forum komunikasi da silaturahim jaringan para Ulama Muda Indonesia dan mempersiapkan kader-kader Ulama NU di masa yang akan datang ini, dibuka oleh Gubernur Jawa Barat, H. M. Riswan Kamil. Melui pantun, Gubernur yang aktif bermedsos itu mengaapresiasi seluruh anggota BUMI yang hadir.

“Tentulah sebagai seorang muslim, mari kita kuatkan ukhuwah islamiyah kita. Mari kita doakan agar NKRI tetap utuh dan dijauhkan dari pertengkaran dan perpecahan, kita doakan juga NU dan Ulama Mudanya selalu terdepan dalam menjaga Indonesia. Oh iya, saya ada pantun;

 Bertamasya sambil makan coklat
Naik Kereta kuda isi delapan
Jika Indonesia mau selamat
Ulama muda NU harus di depan”

– Ridwan Kamil

Pada kesempatan yang sama, kiyai sepuh dan tokoh NU, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin juga memberi apresiasi dan berpesan kepada seluruh anggota Munas BUMI. Menurutnya, Ulama Muda memiliki peran strategis dalam melanjutkan perjuangan para ulama ke depan.

“Ulama memiliki dua tugas atau tanggung jawab, pertama adalah tanggung jawab personal kedua adalah tanggung jawab sosial. Tugas pertama adalah mempersiapkan penggangtinya, melukuakn regenerasi dan menciptakan tokoh-tokoh perebubahan. Tugas kedua adalah menjaga agama dan menjaga negara, tugas ini tidak mungkin dilakukan orang per-orang atau sendiri, tetapi dilakukan secara bersama-sama. Hal ini pula yang disadari oleh ulama terdahulu seperti KH. Hasyim Asy’ari, beliau dalam melaksanakan tugas kedua ini, mengajak ulama lain yang kemudian tergabung ke dalam Nahdhatul Ulama,” paparnya.

Selain KH. Ma’ruf Amin dan Ridwan Kamil, hadir pula dalam acara tersebut adalah KH. Abdul Ghoffar Rozin (Ketua Pengurus Pusat Robithah Ma’ahid Islamiyah Nahdhotul Ulama (PP-RMI-NU)), Taufiq Madjid (Dirjen PPMD Kemendes RI) dan KH. Agus Salim (Ketua LDNU) serta KH. Kamal (Pengasuh PP Zuhuddin Ulum Banjar).

5 Moment Menyenangka

Hidup ini seperti roda, kata sebuah lagu. Ada kalanya senang, ada kalanya susah, dan ada kalanya datar-datar saja. Begitu pula bagi para santri di pondok pesantren.

Bagi santri, saat-saat paling susah adalah ketika tidak bisa memahami dan hafal materi pelajaran, berselisih dengan teman sekamar yang setiap waktu bertemu, digelitiki hantu penunggu pesantren di saat tidur, atau tidak mengenakan seragam karena bajunya masih basah atau hilang, dan ditakzir karena luput mengikuti kegiatan.

Tapi, meski kehidupan para santri amat sederhana, monoton dan ruang geraknya terbatas, para santri juga memiliki saat-saat menyenangkan yang amat ditunggu-tunggu serta tak terlupakan, bahkan ketika sudah lulus dari pesantren. Mari kita lihat daftar saat-saat menyenangkan bagi para santri yang masih suka bikin baper sampai ketika sudah menjadi alumni.

Ditengok orang tua

Ditengok orang tua di saat sedang kangen-kangennya dengan kampung halaman atau sedang fakir-fakirnya di pesantren, bahkan sekedar beli sabun atau gorengan pun tak mampu. Kehadiran orang tua, di samping membawa rasa tenang dan mengobati rindu, juga membawa oleh-oleh berupa jajanan dan uang sekedar untuk membeli makanan kecil dan mencukupi kebutuhan hidup yang tak seberapa. Pada saat-saat seperti itu, meski uang pemberian orang tua tak seberapa, rasanya kita bisa membeli apa saja, meski tak sampai membeli gunung dan langit, tentu saja. Itu adalah momen yang indah dan tak terlupakan.

Mati lampu

Mati lampu. Bagi kebanyakan orang, mati lampu adalah peristiwa yang menyebalkan plus menjengkelkan karena aktivitasnya harus terhenti dan jadi tak produktif. Tapi bagi para santri, mati lampu ibarat hadiah tak terduga. Betapa tidak, gara-gara mati lampu pengajian jadi libur sehingga para santri bisa tidur lebih cepat atau mengisinya dengan kegiatan ngerumpi bersama di sudut-sudut rahasia pesantren. Rasanya seperti dapat tiket liburan gratis ke pulau terpencil nan indah. Kurang lebih begitu.

Melihat Si-dia

Melihat gebetan lagi lewat. Ini peristiwa yang begitu mendebarkan dan bisa bikin para santri susah tidur. Padahal cuma melihat si dia sedang lewat dari jarak belasan sampai puluhan meter jauhnya. Kalau sampai dikasih senyuman oleh si dia, efeknya bisa lebih gawat lagi, seorang santri bisa tiba-tiba jadi pelamun, susah tidur berminggu-minggu dan tidak konsentrasi mengaji. Meski dampaknya bisa berpotensi bikin majnun, tapi ini adalah majnun yang bikin para santri mabuk kepayang.

Khataman

Khataman. Ketika acara khataman digelar, para santri tak ubahnya merayakan hari raya. Mereka bisa lepas dari kegiatan dan beban pengajian pun sudah tuntas. Layaknya hari raya, pada saat khataman para santri mengenakan baju baru, ditengok orang tua dan keluarga, menjadi pusat perhatian dan merasa senang bukan main karena bisa membanggakan kedua orang tua dengan prestasinya. Khataman juga sering menjadi ajang pertemuan para alumni, di mana mereka tampil dengan necis, penuh tawa dan cerita di hadapan adik-adik kelas mereka.

Mayoran

Mayoran, kepungan atau kembulan. Ini adalah tradisi para santri memasak dan makan bersama secara besar-besaran dengan lauk pauk seadanya. Meskipun kadang hanya ditemani sayur terong atau kangkung rasanya begitu nikmat, lengkap dengan bumbunya yang tidak sempurna, kadang terlalu asin, pedas, atau kurang masak. Menikmati masakan mayoran merupakan kenikmatan tak terlupakan. Banyak para alumni pesantren merindukan cita rasa kuliner mayoran yang khas dan sedap serta tak tersedia di restoran mana pun di dunia.

Itulah kira-kira momen-momen paling menyenangkan bagi para santri di pondok pesantren. Tidak mahal, terasa unik, tapi punya dampak emosi dan memori yang selalu bikin ketagihan. Bahagia itu sederhana, kata banyak orang. Para santri sudah mengalaminya, jauh sebelum kalimat itu ada.

Gimana guys? selain 5 moment di atas ada lagi gak hal-hal menyenangkan yang belum di bahas? tulis di kolom komentar ya.

Artikel dikutip dari cigaru.id

Ini Penjelasan Pengh

Jakarta, – Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masduki Baidlowi mengatakan keputusan menghapuskan sebutan kafir bagi nonmuslim di Indonesia pada Musyawarah Nasional NU, bertujuan untuk menjaga persaudaraan sesama bangsa. Tujuan ini menurutnya sesuai dengan semangat dan nilai-nilai Muktamar 1984 di Situbondo.

Sejak Muktamar 1984 di Situbondo, kata Masduki, NU sudah membuat keputusan bahwa ada tiga persaudaraan di dalam negara bangsa (nation states) yang harus terus dirajut. Pertama adalah persaudaraan seiman (sesama muslim). Kedua persaudaraan sesama bangsa (ukhuwah wathoniyah). Ketiga, persaudaraan sesama manusia (ukhuwah insaniyah).

“Apa yg diputuskan dalam Munas Alim Ulama di Banjar, merupakan elaborasi sekaligus konsistensi dari item kedua, persaudaraan sebangsa,” kata Masduki melalui keterangan tertulisnya, Sabtu 2 Maret 2019.

Baca juga: KH. Said Aqil Bicara Keterlibatan NU Dalam Perdamaian Dunia

Ia mengatakan dalam Al-Quran ditegaskan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku di muka bumi ini agar satu sama yg lain saling mengenal, saling bersilaturrahmi untuk menciptakan kedamaian. Perjanjian persaudaraan yang dilakukan oleh Grand syekh Al Azhar dan Paus Fransiscus Asisi dari Roma di Doha, Qatar, sekitar satu bulan lalu, disebut Masduki membawa semangat yang sama.

Latar belakang perjanjian di Doha, menurutnya, dikarenakan kondisi dunia yg makin tak kondusif untuk perdamaian antar sesama manusia. Ia menilai perdamaian dunia tak bisa diselesaikan dengan mengedepankan politik belaka, tetapi harus mengedepankan unsur agama.

Energi serta ruh agama tentang perdamaian antar sesama manusia musti dikedepankan. Persekusi serta energi negatif atas nama agama karena didominasi oleh kalangan yang kurang moderat, terjadi di mana-mana.

Ia menangkap bahwa Keputusan Doha juga sejalan dengan keputusan Muktamar NU 1984. Indonesia sejak 1945 didirikan bersama-sama (negeri perjanjian/mu’ahadah) mesti dijaga bersama-sama. Ini sudah menjadi keputusan Muhammadiyah dan NU.

Pun dari sudut pandang kenegaraan, ia menilai tak ada mayoritas dan minoritas pemeluk agama. Semua sama posisinya di depan hukum.

Baca juga: Sarankan Tak Pakai Kata Kafir, NU Diapresiasi Nonmuslim

“Jadi, tidak tepat menyebut saudara kita yang agamanya berbeda sebagai kafir. Saudara kita menjadi tidak nyaman perasaannya. Anjuran agama tidak mengajarkan pada kita untuk membuat saudara sebangsa tersinggung,” kata Masduki.

Sebelumnya Munas NU, mengusulkan agar NU tidak menggunakan sebutan kafir untuk warga negara Indonesia yang tidak memeluk agama Islam. Pimpinan sidang, Abdul Moqsith Ghazali, mengatakan para kiai berpandangan penyebutan kafir dapat menyakiti para nonmuslim di Indonesia. Meski begitu, kata Moqsith, bukan berarti NU akan menghapus seluruh kata kafir di Al Quran atau hadis. Keputusan dalam Bahtsul Masail Maudluiyyah ini hanya berlaku pada penyebutan kafir untuk warga Indonesia yang nonmuslim.

Berita dikutip dari tempo.co

Sarankan Tak Lagi Gu

Jawa Barat, – Kata “kafir” tak hanya kerap disematkan kepada non-Islam, tapi juga mereka yang beragama Islam tapi punya pemahaman yang berbeda dari mayoritas. Tahu banyak ruginya, Nahdlatul Ulama (NU), lewat Musyawarah Nasional, kemudian menyarankan kata “kafir” tak lagi digunakan.

Menurut Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, Abdul Muqsith Ghozali, para kiai NU bersepakat untuk mengganti “kafir” dengan istilah muwathinun atau warga negara.

Menurut Muqsith, alasan utama seruan ini adalah sampai sekarang kata kafir punya konotasi kasar. “Kata kafir menyakiti sebagian kelompok non-Muslim,” ujar Muqsith di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis (28/2/2019).

Kesepakatan menggunakan muwathinun, kata Muqsith, digunakan sebagai jalan tengah lantaran setiap pemeluk agama punya status setara sebagai warga negara.

Usulan menghapus kata ‘kafir”, menurut Muqsith, dilatarbelakangi fenomena sosial zaman kiwari yang terjadi di Indonesia. Muqsith menyebut, tak sedikit kelompok yang mempersoalkan status agama seseorang meski ia sama-sama warga negara Indonesia. Akibatnya yang terjadi adalah diskriminasi, dan bahkan persekusi.

“(Kelompok tersebut) memberikan atribusi teologis yang diskriminatif kepada sekelompok warga negara lain. Dengan begitu [menggunakan istilah muwathinun], maka status mereka setara dengan warga negara yang lain,” ucap dia.

Apa yang disampaikan Muqsith bukan isapan jempol. Banyak kasus pelabelan kafir yang bikin masalah.

Persekusi terhadap jemaat Ahmadiyah di Parung, Bogor, pembakaran klenteng di Tanjung Balai, pemotongan nisan salib di Yogyakarta, hingga penolakan menyalatkan jenazah di DKI Jakarta adalah beberapa kasus terkini yang dilatari karena kebencian terhadap si “kafir”.

Diapresiasi

Apa yang dilakukan para kiai NU ini diapresiasi Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Gomar Gultom. Ia sepakat dengan keputusan itu. Menurut dia, setiap warga negara memang harus mendapat hak yang sama tanpa melihat agama apa yang mereka anut.

“Sistem perundang-undangan kita tidak mengenal soal banyak sedikitnya umat. Nomenklatur kita adalah warga negara,” ujarnya kepada reporter Tirto, Jumat (1/3/2019).

Merujuk pada konstitusi, Gultom menyebut, negara punya kewajiban melindungi hak warganya dan memfasilitasi hak konstitusional mereka.

Ia pun menyebut, munculnya pabrikasi label kafir ini tak lepas dari dorongan fanatisme, padahal fanatisme ini seharusnya digunakan untuk mempertahankan dan memelihara keimanan umat terhadap agama yang mereka peluk.

“(Bukan) dibarengi dengan penegasian, apalagi pelecehan terhadap iman orang lain yang berbeda,” ujarnya.

Gultom tak memungkiri, penganut Kristen pernah pula ada dalam periode kerap memandang umat non-Kristen sebagai kafir, sehingga kemudian memicu kristenisasi. Namun, Gultom menyebut, itu sudah ditinggalkan seiring dengan lahirnya perspektif yang lebih humanis dalam menafsirkan Alkitab.

“Sekalipun dalam Alkitab ada istilah kafir, untuk membedakan umat Kristen dan non-Kristen, ungkapan itu tidak dalam rangka melecehkan, apalagi menegasikan keberadaan mereka (umat agama lain),” kata Gultom.

Apresiasi juga disampaikan Budi Tan, pengurus Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi). Budi menyebut, Buddha tak mengenal istilah kafir lantaran Buddha menganggap diri sendiri lebih baik dari orang lain adalah kekeliruan.

“Ajaran Buddha tidak boleh mengatakan diri lebih baik. Umat diharapkan belajar dan melatih setiap hari hal-hal yang baik yang dilakukan orang lain,” ujarnya kepada reporter Tirto.

Ia juga mengungkapkan betapa pentingnya manusia melatih pikirannya agar mampu menjalankan kehidupan dengan baik dan tidak menyakiti orang lain. Dan saran NU agar tak lagi menggunakan kata “kafir” bisa membantu menjalani kehidupan yang seperti itu.

“Sehingga memperoleh karma baik. Untuk mencapai penerangan sempurna,” pungkasnya. [Alfian Putra Abdi]

Berita pernah tayang di tirto.id

1 3 4 5 6 7