dafit

Berfikir Dengan Rasa

Oleh: Lev Widodo

Sudahkah Anda mendengar kisah kecil ini? Dua orang sahabat berdebat. Masing-masing kukuh dengan pendapat dan kebenarannya sendiri. Gara-gara hal itu, mereka hampir baku pukul. Persahabatan mereka pun hampir retak. Tapi untunglah, persis sebelum pertengkaran otot dimulai, mereka memperoleh ide: sebaiknya perdebatan dibawa ke hadapan Seh Juha. Mereka berpikir, orang cerdas satu itu barangkali bisa menuntaskan perdebatan. Bagaimana Seh Juha menyelesaikan masalah mereka?

Ketika bertemu Seh Juha, bertuturlah mereka tentang pertengkaran mereka, dari pangkal hingga ujungnya. “Sayalah yang benar. Dia salah,” simpul orang pertama. Orang kedua tak mau kalah, dia membantah, “Bukan. Dia yang salah. Saya yang benar.” Seh Juha mendengarkan, seperti biasa sambil tersenyum cerdik dan nakal. “Oke,” kata Seh Juha “aku mengerti. Berikan aku waktu untuk berpikir. Nanti sore, datanglah lagi kalian ke rumahku secara bergiliran.”

Siang berlalu, sore tiba. Orang pertama datang. Dia berharap, Seh Juha berpihak kepadanya. “Bagaimana Seh, siapa yang benar, saya atau dia?” Harapannya terkabul. “Setelah aku pikir-pikir, kamu benar,” jawab Seh Juha. Orang pertama pulang membawa kegembiraan dan kemenangan. Orang kedua pun datang, juga mengharapkan keberpihakan Seh Juha. “Saya kan yang benar, Seh?” “Masalahnya rumit,” terang Seh Juha. “Tapi memang kamu yang benar.” Orang kedua juga pulang dengan kegembiraan dan kemenangan.

Istri Seh Juha, Fatimah, yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka, bingung. Dalam hati dia bertanya, “Kok dua-duanya benar? Ini tidak logis.” Fatimah protes kepada Seh Juha. Menurutnya, salah satu pihak niscaya benar, pihak lain tentu salah. Kebenaran itu tunggal dan tak terbagi. “Seh, sejujurnya siapa yang benar? Apa nJenengan tidak bisa berpikir?” Seh Juha rupanya memberikan jawaban kalem, yang bikin terkejut istrinya, “Sayangku, kamu juga benar.”

Semua benar. Tidak seorang pun salah. Orang pertama benar. Orang kedua benar. Istri Seh Juha juga benar. Memang pikiran seperti ini tidak logis. Buah pikiran yang tidak logis sendiri menandakan kebodohan pemikirnya. Tapi, apa itu artinya Seh Juha, yang cerdasnya kelewat-lewat itu, bodoh? Sama sekali tidak. Dia justru sangat pintar. Kehidupan bukan dunia matematis. Dalam matematika hanya berlaku satu rumus untuk menjawab semua soal, 1 ≠ 0. Kehidupan tidak kenal rumus matematis yang dapat diterapkan di segala tempat dan pada semua waktu. Pada konteks tertentu, 1 ≠ 0, tapi pada konteks lain 1 = 0, bahkan bisa saja 1 ≠/= 0.

Apa maknanya? Kehidupan adalah seni, bukan sains. Sains menginginkan presisi dan menjauhi kontradiksi, sedangkan seni justru bermain-main dengan kontras demi komposisi yang harmonis. Bener durung mesthi pener, kata orang Jawa. Kehidupan memang membutuhkan pikiran bener yang logis, tapi kehidupan lebih menghendaki tindakan pener yang selaras dengan konteks, empan papan, tindakan yang adil. Kebenaran individual harus mau mengalah demi maslahat sosial. Keris harus disarungkan, lalu diselipkan di belakang punggung, demi kedamaian bersama. Femonema mikro diletakkan dalam konteks makro. Manusia tidak hidup sendirian. Keberadaan orang lain di sekitarnya perlu dimasukkan dalam pertimbangan rasional untuk menentukan sebuah keputusan.

Pada level itulah Seh Juha berpikir. Dia tidak semata-mata berpikir dengan akal. Untuk mengatasi masalah kehidupan, dia tidak merasa cukup dengan logika identitas. Jika pertengkaran kedua sahabat tadi diselesaikan dengan logika identitas, pertengkaran itu bukan tuntas, melainkan berlanjut dengan ending yang sulit diprediksi. Barangkali salah seorang di antara mereka akan terluka, kalau tidak malah terbunuh. Barangkali skala pertengkaran akan membesar, berbiak menjadi konflik massa.

Seh Juha ingin menyudahi pertengkaran tersebut. Sebab, ada yang lebih penting dari kebenaran rasional, yaitu persahabatan, relasi sosial yang harmonis. Karena itulah, setelah berpikir dengan rasa, Seh Juha memberikan jawaban yang tidak logis. Semua pihak benar, termasuk istrinya Fatimah, yang sudah pasang kuda-kuda untuk bertengkar dengannya.

Baca tulisan-tulisan Lev Widodo

Berpikir dengan akal, dengan logika identitas, itu memang benar, tetapi hanya dalam konteks dan level tertentu. Demikian pula, berpikir dengan rasa juga benar, tetapi juga hanya dalam konteks dan level tertentu. Pada saat dan tempatnya sendiri yang tepat, kedua model berpikir itu diperlukan. Tidaklah mungkin belajar matematika dengan mengandalkan rasa semata. Juga tidaklah mungkin mencintai perempuan atau lelaki yang kau sayangi secara matematis. Program komputer harus dibangun dengan logika.

Ibadah jangan dikalkulasi karena agama adalah rasa. Sendi keadilan Ilahi adalah cinta, bukan akal kita yang terbatas. Maka jangan heran, kalau kelak, setelah kiamat, ada pelacur yang dinaikkan ke surga, dan ada ulama yang dibuang ke dalam jurang neraka. Tindakan Ilahi perlu dipahami dengan rasa. Untuk memaknai takdir, sebaiknya kita berpikir dengan rasa, bukan melulu dengan akal. Inilah salah satu rahasia hikmah yang terkandung dalam kisah tentang pembangkangan Iblis dan kejatuhan Adam. Biografi Iblis dan Adam mengajarkan kepada kita bahwa model berpikir tidak tunggal dan tidak ada model berpikir tunggal. Ada kalanya kita berpikir dengan logika. Ada kalanya pula kita berpikir dengan rasa.

Berpikir hanya dengan logika, termasuk rasionalitas egosentris. Proses penalaranan tidak mempertimbangkan kehadiran orang lain. Aku mendeklarasikan kebenaranku di hadapanmu. Kau pun begitu: mendeklarasikan kebenaranmu di hadapanku. Dari sudut pandangku, pokoknya akulah yang benar. Kau salah. Bagimu kaulah yang benar; aku selalu salah. Terjadilan benturan antar-kebenaran, benturan antar-nilai, benturan antar-peradaban. Sederhana saja, perang berpangkal dari sikap nggugu kersane priyangga, individualisme yang ekstrem dan belum matang, belum tersepuhkan.

Ketika dan setelah peperangan, barulah masing-masing pihak yang bertikai merasa butuh akan dialog. Landasan dialog tersebut adalah kebenaran, yang dimiliki, dikukuhi, dan diyakini setiap pihak. Dialog, yang diprologi oleh perang, menghasilkan lompatan kualitatif berupa sintesis, kebenaran baru yang lebih unggul dan lebih tinggi levelnya, yang merupakan persenyawaan dari dua kebenaran yang sebelumnya saling berbenturan.

Kita kemudian mengenal jalan berdarah menuju kebenaran ini sebagai dialektika. Bukannya mencegah, dialektika membuka peluang bagi pertumpahan darah, justru demi memperoleh terang cahaya pencerahan dan menyongsong fajar kedamaian. Bagi dialektika, biar kapok, anak-anak yang berkelahi jangan didamaikan. Biarlah mereka berkelahi sampai puas. Bila sudah merasakan sakit akibat perkelahian itu, mereka akan kapok, dan mulai menjajagi jalan perdamaian.

Berpikir dengan rasa berbeda dari dialektika. Berpikir dengan rasa, tergolong rasionalitas reflektif sekaligus rasionalitas akomodatif. Tipe rasionalitas ini mempertimbangkan kehadiran orang lain. Berpikir dengan rasa adalah jalan menuju kemanunggalan, baik manunggal secara horizontal dan sosial maupun manunggal secara vertikal dan spiritual. Prinsip sekaligus kesimpulan dari rasa adalah, aku adalah kau, kau adalah aku; semua adalah tunggal, tunggal adalah semua. Baginda Muhammad bersabda, seorang mukmin cermin bagi mukmin yang lain. Baginda Isa berkhutbah, kalau pipi kirimu ditampar, berikan pipi kananmu. Sokrates mengajarkan, gnoti’s afton, kenalilah dirimu. Dalam rasionalitas reflektif dan akomodatif, bersemayam mawas diri, cinta, dan keindahan, hal-hal yang tidak dijumpai jika kita hanya berpikir dengan akal. Rasa, yang disebut al-Quran sebagai al-fuad, yang kemudian dihayati kalangan tasawuf sebagai al-sirr, adalah alat untuk memperjuangkan kedamaian batin dan kedamaian sosial.

Baca juga: 4 Respon Mengakhiri Pertengaran Sains dan Agama

Karena itu, jangan heran jika Konfusius, yang berjihad membangun ketertataan negara itu, juga mengajari muridnya untuk berpikir dengan rasa. Seorang murid Konfisius pernah berdebat dengan seorang penduduk awam. Menurut orang awam tersebut, 7 x 3 = 27. Murid Konfusius ini, yang telah belajar matematika dari mahagurunya, membantah. Yang benar, 7 x 3 = 21, bukan 27. Terpiculah adu mulut berkepanjangan. Mereka akhirnya sepakat membawa masalah ini ke hadapan Konfusius, tapi dengan sebuah taruhan. Kalau murid Konfisius salah dan si awam benar, maka murid Konfusius dicambuk sepuluh kali. Tapi jika sebaliknya, leher si awam harus dipenggal.

“Guru, 7 x 3 = 21, kan?” tanya si murid kepada Konfusius setelah menjelaskan duduk perkara, termasuk menerangkan taruhan yang tidak seimbang tadi. Konfusius menjawab, “7 x 3 = 27. Dia benar. Kau belum pintar. Belum belajar.” Tentu saja jawaban yang tidak masuk akal ini menggelisahkan si murid. Dia protes kepada Konfusius. “Lebih baik kau dicambuk sepuluh kali,” ujar sang guru “daripada satu nyawa melayang hanya karena perdebatan yang sia-sia dan taruhan yang tolol.”

Demikianlah buah manis dari berpikir dengan rasa. Cerita berakhir dengan happy ending. Pertanyaannya, apakah kita sudah berpikir dengan rasa, atau hanya melulu berpikir dengan akal? Apakah kita sudah beragama dengan rasa, atau selalu mengatur Tuhan berdasarkan akal dan masih menyalahkan orang lain yang tidak semazhab dan seagama dengan kita? Ini bukan semata-mata soal bener dan ora bener, tetapi juga soal pener dan ora pener. Di samping timbangan benar-salah, ada timbangan lain, yaitu baik-buruk dan indah-jelek. Marilah berpikir dengan rasa. Marilah berlaku adil sejak dari berpikir.

Bumi Mataram, Dzulkhijah 1437 H

Artikel ini pernah tayang di tubanjogja.org

Berikut Ini 4 Poin Y

RMI NU – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menggelar musyawarah nasional (Munas) selama tiga hari di Banjar Patroman, Jawa Barat, pada 27 Februari hingga 1 Maret 2019.

“Insyaallah tanggal 27 Februari sampai 1 Maret akan adakan musyawarah nasional, semua kumpul di Banjar Patroman, Jawa Barat. Ada 10 ribu ulama yang akan hadir,” kata Ketua PBNU Said Aqil saat menyampaikan sambutan di acara Harlah NU ke-93 sekaligus Konsolidasi Organisasi Jelang Satu Abad di JCC, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (31/1).

Said Aqil menjelaskan Munas PBNU akan membahas empat poin utama yang hasilnya akan disosialisasikan ke seluruh wilayah Indonesia.

Hal pertama yang dibahas yakni soal hasil Muktamar NU ke-36 di Banjarmasin, 1936 silam yang disebut Said memutuskan Indonesia adalah Darussalam (negara damai) bukan Darul Islam (negara Islam).

“Untuk mempertegas kembali antara agama dan nasionalisme,” kata Said.

Poin selanjutnya yakni soal monopoli perdagangan. Said berkata di era perdagangan bebas ini pedagang kecil harus bersaing dengan pedagang besar.

Menurut Said situasi itu tidak adil. Pedagang kecil dengan modal sedikit disebut Said tak mampu mengalahkan pesaingnya yang telah menembus kancah perdagangan internasional.

“Membahas tentang monopoli perdagangan, di pasar bebas bersaing, yang besar bersaing dengan yang kecil kan tidak adil,” katanya

“Misalnya, Zulkifli, Madrasi harus bersiang dengan Podomoro, Lippo, oleh karena itu pemerintah harus lakukan afirmasi, ada keberpihakan terhadap masyarakat kecil,” lanjutnya.

Poin lain yang dibahas adalah soal sampah plastik yang sedang jadi sorotan tak hanya di Indonesia tapi di semua negara di dunia.

“Yang ketiga soal sampah plastik, ini merupakan ancaman lingkungan hidup. Jelas sekali NU harus siap jawab tantangan problem besar yaitu sampah plastik,” katanya.

Sementara untuk poin terakhir atau poin keempat, Said menyebut musyawarah akan membahas dan memperkuat soal definisi Islam Nusantara.

“Supaya kita mampu jawab orang-orang yang tidak paham, atau pura-pura tidak paham,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Said memastikan hasil musyawarah nanti bukan berupa fatwa. Kata dia, sebagai organisasi PBNU tidak memiliki kewenangan mengeluarkan fatwa.

“Tidak boleh ada fatwa selain dari MA. Lembaga manapun tidak boleh karena bukan ranah konstitusi. Kalau menyampaikan hasil musyawarah boleh tapi itu bukan fatwa,” kata dia. (tst/wis)

Sumber CNN

Kemenag Akan Sempurn

JAKARTA, – Kementerian Agama menyempurnakan draf Rancangan Undang-Undang Pesantren dan Pendidikan Keagamaan. Penyempurnaan tersebut melibatkan sejumlah lembaga agar draf ini bisa mewakili berbagai perspektif. 

RUU membutuhkan pemikiran dari banyak pihak lantaran tidak hanya terkait dengan lembaga pendidikan.

“Pesantren itu juga lembaga dakwah dan lembaga kebudayaan yang membentuk budaya dan tradisi masyarakat di lingkungan sekitarnya. Karena itu, RUU harus dilihat dari semua perspektif,” kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Jakarta, Jumat (25/1/2019).

Baca Juga: Kemandirian dan Keberagaman Pesantren Tidak Boleh Dikebiri RUU Pesantren

Dia berharap, RUU tersebut memiliki kualitas sehingga mendorong pengembangan pesantren dan pendidikan keagamaan ke arah yang lebih baik.

RUU ini, kata dia, diharapkan bisa mengakomodasi berbagai kebutuhan pesantren dalam menjalankan fungsi dan perannya untuk membangun negara dan bangsa.

Lukman mengatakan, pihaknya telah melakukan koordinasi lintas lembaga untuk menyatukan sudut pandang dalam merumuskan RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan yang merupakan usulan DPR.

Baca Juga: Ini Poin-Poin Yang Perlu Disempurnakan Dalam RUU Pesantren

RUU tersebut, kata Lukman, akan semakin menegaskan roh pesantren yang sejati sehingga tidak ada pendomplengan oleh orang-orang tertentu. Ia mengatakan suatu lembaga dapat disebut pesantren jika ada kiai, kitab-kitab yang dikaji, dan persyaratan lainnya yang harus dipenuhi.

Pesantren, kata dia, sejak dahulu dikenal sebagai media mempromosikan Islam rahmat untuk alam semesta, bukan sebaliknya penyebar paham radikalisme dan ekstremisme.

“Tidak boleh lagi ada yang mengklaim misalnya sebuah padepokan mengatasnamakan pesantren, tetapi tidak ada kiainya, tidak ada kitab yang dikajinya,” katanya.

Gus Rozin: Kemandiri

TasikmalayaRabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdatul Ulama (RMI NU) pusat, melakukan Silaturahmi bersama Pimpinan Pondok Pesantren se-Kota Tasikmalaya. Bertempat di Ponpes Bahrul Ulum KH. Bustomi Asrama Al-Mursyidi Mabda Takhosus pimpinan KH. Ahmad Munawwar Hidayatulloh, Kamis (24/01/2019) malam.

Ketua RMI NU, KH. Abdul Ghaffar Rozin mengatakan tujuan dilakukannya silaturahmi ini adalah penguatan eksisitensi dan kemandirian pesantren.

“Untuk Pesantren penyerapan APBN bukanlah tujuan, tapi yang terpenting Rekognisi atau pengakuan dari negara, bahwa pesantren telah hadir sebelum Nusantara ini hadir,” tutur Gus Rozin, sapaan akrabnya.

Menurutnya, sejauh ini seribu persen pesantren adalah swasta, tidak ada pesantren negeri, itulah kelebihan yang dimiliki pesantren.

Kendati lebih banyak mendengar, dalam kesempatan itu Gus Rozin juga menjelaskan peran RMI NU yang saat ini ia pimpin.

“Saat ini tugas kita, pesantren diarahkan dan didorong untuk mandiri, adapun RUU Pesantren tidak boleh menghilangkan identitas itu,” ungkap salah satu Staf Khusus Kepresidenan RI itu.

Kelebihan pesantren, tambah Gus Rozin, ada pada kemandirian dan keragamannya. Jangan karena adanya RUU Pesantren, pesantren jadi bergantung dan seragam. “Kemandirian dan Keragaman Pesantren tidak boleh Dikebiri oleh RUU Pesantren,” tegasnya.

Selain Gus Rozin, hadir dalam acara tersebut Habib Soleh (Wakil Bendahara RMI NU), KH. Cecep Ridwan (Pimpinan Ponpes Bahrul Ulum), KH. Ate Musodiq (Ketua PCNU), Kyai Yayan Bunyamin (Direktur Aswaja Center), Jajaran Pengurus Ansor dan Rijalul Ansor serta para Putra Kyai [CP]

*Berita dilansir dari nahdloh.com

24 Santri Ikuti Pela

SEMARANG – Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (PP RMI) Nahdlatul Ulama bekerjasama dengan Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) mengadakan kegiatan pelatihan, pendampingan, dan magang calon mekanik sepeda motor untuk santri Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebanyak 24 santri akan mengikuti program pelatihan tersebut selama kurang lebih 4 bulan ke depan. Pelatihan yang akan dilakukan adalah dalam bentuk teori di dalam kelas dan praktik langsung. Pembukaan pelatihan bertempat di kantor Astra Motor Center Semarang.

Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan pada para santri agar mampu memperbaiki dan mengetahui perkembangan sepeda motor. Hal ini seiring dengan kebutuhan akan sepeda motor di pesantren tak kalah pentingnya dengan alat transportasi lain. Dengan adanya kemampuan baru ini, pesantren memiliki tenaga ahli yang paham sepeda motor. YDBA sendiri sudah 37 tahun mendampingi masyarakat untuk berkontribusi.

Selain itu, ada Astra Motor dan Yayasan Astra Honda Motor (YAHM) yang ikut mendukung pelatihan ini.

Ahmad Muhibbudin selaku wakil ketua YAHM mengatakan bahwa perlu adanya transfer pengetahuan pada masyarakat luas, termasuk santri. Setelah mengikuti pelatihan ini, peluang untuk mengerjakan bidang terkait perbengkelan terbuka lebar. Sudah banyak pelatihan seperti ini yang memberikan manfaat pada peserta. Banyak dari mereka menjadi wirausahawan dengan membuka bengkel sendiri atau bekerja di jaringan perusahaan Astra.

“Setelah lulus bisa untuk menjadi wirausahawan,” papar Rahmad Handoyo selaku mentor YDBA.

Khoironi, perwakilan PP RMI memotivasi peserta bahwa pelatihan kali ini bisa menjadi ilmu baru bagi santri. Untuk pesantren salaf; ini hal baru yang harus ditekuni agar mampu menguasainya.

Abu Choir selaku tim pelaksana dari PW RMI NU Jateng berharap bahwa pelatihan ini ke depan harus ditingkatkan tak hanya dalam pelatihan saja. Perlu adanya pendampingan untuk membuka bengkel di pesantren dengan supervisi dari Astra. [Rifqi]

*Berita pernah diterbitkan sorotindonesia.com dengan judul sama.

Tangani Santri Sakit

GRESIK, – Pelatihan Santri Husada Insani (Husain) digelar oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU di Pondok Pesantren Islamic Al-Qona’ah, GKB, Gresik, Sabtu (15/9).

Puluhan peserta dari berbagai pondok pesantren di Kabupaten Gresik tersebut tak hanya diajari mengenai materi tentang pentingnya Poskestran, tetapi mereka juga diajak praktek oleh dr. Heri Munajib, Mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis Neurologi 1 Universitas Airlangga Surabaya, menangani santri sakit dengan cepat dan tepat.

Pria yang juga pengurus (RMI) NU Kabupaten Gresik itu, mencontohkan cara menangani santri yang kulit kakinya sakit diakibatkan menyentuh knalpot panas.

“Untuk luka seperti ini setelah dibersihkan dengan pincet, harus diberi betadine, kemudian ditutup dengan kasa dan di plaster,” terang dr. Heri, pada peserta pelatihan.

“Jangan lupa. Tangan kita harus selalu dibersihkan baik sebelum maupun sesudah menangani pasien,” imbuhnya.

Pelatihan Santri Husain, kata dr. Heri, diharapkan mampu memberi pengetahuan para santri dalam kesehatan dan penanganan penyakit agar tidak menyebabkan infeksi. Santri Husain adalah pelantara antara santri yang sakit dengan dokter.

“Nanti saya buatkan grup Whatsapp supaya kalau ada santri yang berobat di Poskestren mudah ditangani. Apalagi pemberian obat harus sesuai resep dokter. Kedepan, kami ingin tiap pesantren punya Poskestren,” kata dr. Heri, yang juga Pengurus Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) Gresik.

Sementara, Ketua Tanfidziyah PCNU Gresik KH. Chusnan Ali, melalui Wakil PCNU Gresik Ir. H. Moh. Nadhillah Badruddin, mengungkapkan, bahwa kesehatan sangatlah penting. Untuk itu, dirinya mengapresiasi apa yang dilakukan oleh RMI NU Gresik.

“Kesehatan adalah segala-galanya. Apa artinya punya uang banyak tapi kita sakit. Sehingga mau ibadah atau pun beraktifitas sulit,” ungkapnya.

“Kalau bisa seluruh santri di pondok pesantren se-Kabupaten Gresik diberi pelatihan seperti ini,” harap Nadhillah. (Ink)

*Berita pernah diterbitkan oleh investigasi.today dengan judul sama.

Hatim Bhazali

Pesantren and the Fr

Abstract

Various studies on Pesantren have been conducted through various lenses and perspectives; however, its attractiveness is still there. In some points, the pesantren is well known as a conservative institution in which freedom of thinking is limited. This article is willing to show that not all pesantrens limit their students’ freedom of thinking. One of them is Ma’had Aly (higher education), one of the education institution in Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo which focuses its teaching on fiqh. Fiqh, or Islamic jurisprudence, is one of the branches of Islamic science. In some pesantrens, the teaching of fiqh is limited to one school or madhhab, particularly school of Shafi’i. However, in Ma’had Aly, not only one school of thought is taught, but fiqh of four schools of thought. It shows a high tolerance and respect for differences. In order to seek a new ingredient in formulating Islamic law, the teaching of fiqh is combined with other sciences such as philosophy, sociology, and anthropology. This new ingredient produces a rich discourse of fiqh and widens its scope of discussion to include to religious relationships, gender, human rights, ecology, and other contemporary issues such as interfaith marriage, the possibility of a non-Muslim being president, and the role of women in the public sphere. Looking from the curriculum, the method of teaching, and the publication of bulletin of Tanwirul Afkar, this article proves that freedom of thinking is well-maintained at Ma’had Aly. [Hatim Gazali, Abd. Malik]

Download Full Article

4 Respon untuk &#821

Dalam lintasan sejarah manusia, sains yang berpusat pada rasio dan agama yang bertumpu pada iman lebih sering tampak bersebrangan daripada bergandeng tangan.

Galileo dan Darwin adalah salah satu ilmuan yang harus mendapat fatwa sesat karena teorinya bertentengan dengan gereja saat itu. Sementara dipihak intelektual juga menuding kaum agamawan secara kelompok irrasional. Karl Marx, Nietzche, Freud, adalah salah satu contoh. Karl Marx, misalnya, menuduh agama sebagai candu, Freud menilainya sebagai penyakit neorusis, dan Nietzche mendeklarasikan kematian tuhan, serta beberapa tokoh lainnya.

Dalam perkembangan selanjutnya, sains tampaknya lebih superior dan memenangkan pertarungan tersebut, terlebih setelah masa pencerahan (Enlightenment) dan revolusi industri di Inggris. Peradaban modern yang bersumber rasionalisme Descartes semakin mejelit. Bahkan, Carl Sagan menyimpulkan bahwa tak ada campur tangan manusia dalam penciptaan alam semesta ini. Karena itulah, agamawan menilai kalangan saintis sebagai ateisme.

Kemenangan sains ini terus berkembang sampai pada akhirnya muncul sebuah kesadaran baru yang ditandai oleh skeptisisme ala David Hume (1711-1776). Terlebih, setelah Ian G. Barbour menemukan sebuah formulasi baru dalam menyandingkan agama dan sains melalui beberapa karya, diantaranya Issues in Science and Religion (1966). Agama dalam banyak ditempatkan sebagai mitra dan saling melengkapi. Dalam konteks inilah, Margaret Werheim dalam Pythagora’s Trousers; God, Physics, and Gender Wars (1996) menyatakan bahwa pengembangan fisika dan astronomi modern sejak semula tidak lepas dari motivasi dan semangat keagamaan. Maka, kelahiran Center for Theology and Natural Sciences (CTNS) tahun 1981 dan Yayasan Templeton yang mendedikasikan diri untuk hal tersebut diatas merupakan kabar yang sangat baik.

Empat Relasi Agama dan Sains

Ian G. Barbour dalam penilaian kebanyakan intelektual adalah peletak dasar perbincangan kontemporer sains dan agama. Hal ini tidak terlepas dari jasa dan karya Barbour yang sangat banyak, fenomenal dan mampu menemukan formulasi relasi agama dan sains. Diantara beberapa karyanya adalah Religion in Age of science (1990), Issues in Science and Religion (1966), When Science Meets Religion (2000), dan beberapa karya ilmiah lainnya. Hal ini bukan berarti, sebelum Barbour tidak ada perbincangan yang serius perihal agama dan sains. Jauh sebelum itu, sejumlah intelektual telah mendiskusikan secara mendalam. A.N Whitehead, misalnya, melalui filsafat prosesnya juga telah berbincang tentang hal ini.

Tetapi, kehadiran Ian G. Barbour cukup memberi warna tersendiri bagi konsep agama dan sains. Melalui karya-karya tersebut, terutama Religion in Age of science (1990) sebagaimana yang ditulis oleh Moh Iqbal dalam Relief edisi Januari 2003 memberikan empat tipologi agama dan sains.

1. Konflik

Ian G. Barbour dalam buku When Science Meets Religion (2000; hlm 11-17) menjelaskan bahwa bentuk pertama ini menempatkan sains dan agama secara diametral dan konfrontatif. Dalam paradigma konflik dijelaskan bahwa seorang ilmuan tidak serta merta percaya terhadap kebenaran sains. Agama dinilai tidak mampu menjelaskan dan membuktikan kepercayaannya secara empirik dan rasional. Karena itulah, kebenaran hanya bisa diperoleh oleh sains, tidak oleh agama. Sementara itu, kaum agamawan beragumen sebaliknya. Baginya, sains tidak punya otoritas untuk menjelaskan segala hal yang ada dimuka bumi ini.

Rasio yang dimiliki oleh manusia sebagai satu-satunya instrumen sains sangatlah terbatas dan dibatasi. Maka, untuk menjelaskan segala fenomena dan misteri dunia hanya bisa dipaparkan oleh agama.

Model konfrontatif diatas dalam pandangan Barbour diwakili oleh biblical literalism dan scientific materialism. Biblical Literalism berkeyakinan bahwa kitab suci berlaku universal, valid, final dan memberikan data kebenaran yang tak terbantahkan. Sementara scientific materialism berpendirian bahwa hanya sains-lah satu-satunya jalan untuk mendapat kebenaran. Dalam kerangka inilah, A.J Ayer (1910-1991) bertanya apakah ada gunanya percaya kepada Tuhan sementara ilmu alam merupakan satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat diandalkan karena dapat diuji secara emperik dan rasional. Antony Flew juga berpendapat bahwa penjelasan alamiah lebih rasional daripada penjelasan agama. Begitu pula dengan Jeal Paul Sartre (1905-1980) menyatakan bahwa jika memang Tuhan benar-benar ada, ia harus di tolak, dienyahkan sebab gagasan tentang Tuhan menafikan kemerdekaan manusia. Baginya, “L’esistence de L’homme exclet L’existence de dio (eksistensi manusia meniadakan eksistensi Tuhan)”

2. Independen

Bentuk kedua ini berpendirian bahwa antara agama dan sains memiliki wilayah, metode, dan standar kebenaran masing-masing, sehingga tidak perlu mengandaikan adanya dialog atau kerjasama. Langdan Gilhey sebagaimana yang dikutio oleh Ian G.Barbour (2000) memberikan perbedaan mendasar antara agama dan sains. 1] sains menjelaskan data obyektif, umum dan berulang-ulang, agama bercakap tentang eksistensi tatanan dan keindahan dunia. 2] sains mengajukan pertanyaan “bagaimana”, sementara agama menyodorkan pertanyaan “kenapa”, 3] Dasar otoritasi sains adalah koherensi logis dan kesesuaian eksperimental, sementara dalam agama berasal dari tuhan/wahyu, 4] sains bersifat prediktif dan kuantitatif, sementara agama cenderung menggunakan bahasa simbolik.

Model seperti ini sebenarnya lahir untuk mengakhiri pertentangan sains dan agama. Akan tetapi, sesungguhnya akan mempertajam pertentangan keduanya. Sebab, keduanya berjalan tanpa ada dialog dan kerjasama. Maka, jalan alternatif adalah dialog.

3. Dialog

Model ketiga ini tidak menempatkan agama dan sains secara diametral, tetapi ditempatkan secara sejajar untuk melakukan kerjasama, kontak diantara keduanya. Tujuannya adalah mencari dan menemukan persamaan dan perbedaan antara sains dan agama. Berbeda dengan bentuk independent yang mengedepankan perbedaan, model dialog ini justru berusaha mencari titik persamaan diantara sains dan agama. Barbour selanjutnya menjelaskan ada dua hal yang sama antara agama dan sains; yakni kesamaan metodologis dan kesamaan konsep. Secara metodologis, kebenaran sains tidak selamanya obyektif dan kebenaran agama tidak selamanya subyektif. Obyektivitas yang sangat diagungkan oleh sains sesungguhnya melibatkan unsur-unsur subyektifitas. Sementara secara konseptual, keduanya menemukan muara persamaan, misalnya, pada teori komunikasi informasi (communication of information).

4. Intgerasi

Alternatif terakhir yang dinilai Barbour sebagai relasi ideal antara sains dan agama dan integrasi. Secara definitif, Barbour tidak memberikan keterangan yang sangat jelas terhadap model ini. Yak pasti, model ini sebenarnya merupakan langkah berikutnya dari model dialog. Titik-titik perbedaan antara sains dan agama diupayakan untuk diintegrasikan. Hal ini dibuktikan dengan adanya natural theology yang menyatakan bahwa bukti adanya desain pada alam semesta merupakan indikator bagi adanya Tuhan.

Seiring dengan Barbour, bagi penulis, agama semestinya dijadikan sebagai semangat dan landasan etika bagi sains. Hal ini sungguh sangat penting mengingat perkembangan sains yang semakin tidak manusia, bersifat destruktif terhadap alam dan manusia. Teknologi mekanistik, postivistik telah meluluhlantakan peradaban manusia. Kehidupan yang harmonis, damai, sejahtera sebagaimana yang dicita-citakan oleh sains justru dalam batas-batas tertentu merusak kehidupan manusia. Karena itulah, sentuhan agama menjadi sangat penting. Toh, baik sains maupun agama sama-sama ingin menahbiskan dirinya sebagai penjelas agung terhadap semua hal. Keduanya, sama-sama tak menginginkan ada misteri dibalik jagad raya ini. Karena itu, keduanya menghabiskan energinya untuk menjawab teka-teki kehidupan, baik tentang manusia, alam bahkan juga Tuhan Yang Maha Transenden.

B. Islam dan Sains

Mengapa agama dan ilmu pengetahuan seringkali menemukan perdebatan yang cukup sengit? Alasannya keduanya memiliki standar dan sumber pengetahuan yang dianggap berlainan. Tidak jarang dalam sejarah kita menemukan suatu arena pertentangan antara agama dan sains yang tidak sedikit telah menimbulkan tragedi kemanusiaan yang luar biasa. Tragedi Galileo, Copernicus mungkin menjadi salah satu sample bagaimana pertentangan kutub agama dan sains sulit untuk disatukan.

Pada awal abad pencerahan pertentangan dua kutub tersebut lebih santer terdengar. Bedanya, kalau masa klasik sains harus bertekuk lutut pada otoritas agama, pada abad selanjutnya agama mulai ditelanjangi oleh modernitas. Lihatlah begitu tajamnya tradisi positivis Comtean telah menampar wajah agama dengan sebutan “salah satu proses rendah dari evolusi kesadaran mental manusia”. Bahkan penelitian ilmiah Charles Darwin secara telak telah memukul dan menelanjangi kebenaran kitab suci agama. Puncaknya adalah terbitnya buku “Sejarah peperangan antara sains dan Kristen” karya John William Draper dan Andrew Dickson White.

Namun, dewasa ini muncul “arus baru” khususnya di Amerika yang mempunyai kecenderungan untuk menyatukan agama dan sains. Kecenderungan ini dimulai pada tahun 1960-an dengan terbitnya buku Ian Barbour, Issues in Science and Religion (1966). Dalam buku tersebut dijelaskan secara sistematis bahwa “konflik” bukanlah satu-satunya cara untuk memandang hubungan sains dan agama., baik dalam sejarah maupun di masa ini. (lihat; Zainal Abidin Bagir, Pluralisme Pemaknaan Dalam Sains dan Agama; Beberapa Catatan Perkembangan Mutakhir Wacana Sains dan Agama, dalam Jurnal Relief (CRCS UGM) Vol I No I, Januari 2003 hlm. 04)

Paparan di atas hanya kita temukan dalam tradisi perkembangan ilmu pengetahuan di Barat di mana sains pernah menemukan konfrontasi yang begitu dahsyat dengan agama. Dalam islam, misalnya, perdebatan ini cukup ramai dikalangan ahli ilmu kalam (al-mutakallimin) klasik. Munculnya, aliran-aliran ilmu kalam seperti Mu’tazilah, Jabariah, Qadariah, Asy’ariyah tidak terlepas dari perbedaan pandangan dalam menempatkan akal dan wahyu. Jabariah (fatalism), misalnya, sangat tampak mengebiri dan menundukkan potensi akal dibawah kekuatan wahyu. Sehingga, segala hal yang terjadi dijagad raya ini sepi dari intervensi manusia. Itu semua semata-mata karena kehendak Tuhan (agama). Akal pikiran tidak mempunyai ruang untuk menemukan ruang bagi agama di ranah sosial. Satu-satunya instrumen yang bisa menjelaskan fenomena alam adalah agama.

Ketika berbicara tentang agama dan sains maka hal terpenting untuk disinggung adalah persoalan pertentangan iman dan akal atau wahyu dengan akal. Fungsi akal dalam Islam menemukan tempat yang semstinya. Dalam pengertian Islam akal bukanlah otak tetapi daya fikir yang terdapat dalam jiwa manusia untuk memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitar. Dalam Al-quran banyak sekali anjuran terhadap umat Islam untuk memnggunakan akal dalam menangkap sinyal keagungan Tuhan. Al-quran selain memiliki dimensi yang normative juga memiliki dimensi yang menggiring manusia untuk selalu berpikir dengan menggunakan akalnya. Dalam Al-qur’an banyak sekali ditemukan idiom-idiom dan anjuran bagi umat Islam untuk berbuat secara empirik-praktis dengan cara meneliti, mencari data dari alam sekitar semisal pergantian malam dan siang, proses kehidupan biologis, dan misteri alam semesta (Amin Abdullah, 1995, hlm 233)

Penggunaan akal dalam Islam tidak hanya bersifat teoritis tetapi telah dipraktekkan dalam sejarah pembangunan peradaban Islam. Dalam tradisi Islam, kecenderungan untuk mempertentangkan agama dan sains tidak banyak kita temukan. Bahkan arus baru untuk menyatukan agama dan sains seperti yang dimuali oleh Barat justru sudah dimulai pada era klasik Islam. Kita akan melihat betapa megahnya peradaban Bagdad dalam mengkombinasikan pengetahuan ilmiah dengan pengembangan ilmu keagamaan. Prerstasi bersejarah ini merupakan prestasi yang belum pernah kita temukan dalam sejarah manapun. Sejarah pengembangan ilmu pengetahuan dalam Islam yang dimulai sejak abad kedelapan dan kesembilan ditandai dengan penerjemahan literatur ilmu pengetahuan dari Yunani berlangsung yang tanpa mengenal kategori ilmu agama dan umum.

Pada masa inilah kita temukan sejumlah tokoh semisal Ibnu Sina (Avecina), Ibnu Rusyd (Averous), al-Farabi, al-Khawarizmi, al-Jabar, al-Kindi dan Ibnu Hayyan yang terkenal tidak hanya pada bidang agama tetapi juga mencakup bidang-bidang pengetahuan seperti ilmu kedokteran, ilmu astronomi, matametika dan ilmu umum lainnya.

Kesadaran masa itu dapat kita sebut dengan kesadaran integratif-holistik; artinya tidak ada batas pembeda antara ilmu agama dan ilmu non-agama. Karena dua elemen ini diyakini sebagai sarana untuk menemukan anugerah dan keagungan Tuhan yang menjelma dalam alam ciptaannya. Namun, tentu saja kesadaran itu tidak hanya tumbuh karena tekanan sosiologis dan politis semata. Faktor pembentuk yang disadarkan pada motivasi teologis di mana Islam sangat menganjurkan penggunaan akal, juga berperan dalam membangun kesadaran ilmiah tersebut.

Kalau kita secara aksiologis pengembangan ilmu pengetahuan pada masa kejayaan itu memiliki dua karakteristik. Pertama, kesadaran untuk menjadikan ilmu pengetahuan sebagai pembentuk peradaban. Pengembangan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh umat Islam saat itu diarahkan untuk membangun peradaban yang lebih unggul dari peradaban di sekitarnya. Umat Islam meyakini bahwa Islam tidak hanya berposisi sebagai agama tetapi juga sebagai kebudayaan dan peradaban.

Corak kedua, munculnya kesadaran bahwa semakin umat Islam mempelajari ilmu pengetahun semakin dekat pula ia merasakan keagungan Tuhan. Menurut Sayyed Hossien Nasr bahwa pengembangan ilmu yang dilakukan oleh ulama klasik ini tidak hanya dijiwai oleh jiwa ilmiah tetapi juga untuk menyatakan hikmat pencipta dalam ciptaannya (Harun Nasution, 1986. hlm 68). Motivasi seperti itulah yang membangkitkan ghairah umat Islam dalam mengkaji ilmu pengetahuan yang tidak terkotakkan dengan ilmu agama dan umum. Dari dua karekteristik di atas dapat dilihat Islam menempatkan pengembangan sains tidak sebagai pengembangan ilmu murni tetapi sebagai sains instrumental yang menjamin terhadap bangunan kesadaran yang mantap dan kebudayaan yang mapan.

Sayangnya, pada paruh perjalanan selanjutnya ketika peradaban Islam dijarah oleh orang Eropa dan muncul pusat baru peradaban dunia dari Barat, umat Islam tidak menyadari bahwa modernitas yang dibawa oleh Eropa adalah sama dengan yang mereka alami pada masa lampau. Karena telah banyak lupa akan peradaban Islam masa lampau, umat Islam tidak mengetahui bahwa di antara teori-teori Barat itu ada yang telah mendahului dalam Islam. Dan saat itulah muncul anggapan bahwa teori barat bertentangan dengan ajaran Islam. Tidak mustahil umat Islam selama beberapa abad harus mengasingkan diri dengan ilmu non-agama. Karena mereka merasa bahwa ilmu umum adalah bagian yang berbeda dengan ilmu agama.

Paradigma kelimuan masa tersebut kita sebut dengan konfrontatif-isolated. Artinya masa di mana umat Islam mulai mengkotakkan ilmu agama-non agama serta menjahui ilmu non-agama karena dianggap bertentagan dengan ajaran Islam. Pengasingan umat Islam dengan ilmu tidak hanya menyebabkan kemunduran peradaban Islam tetapi juga timbulnya keengganan untuk menggunakan teori-teori umum yang dalam bidang pengkajian keagamaan. Sehingga paradigma kelimuan keIslaman yang berkembang dan merata adalah pengkajian yang normative, doktriner dan ortodoks.

Dari pemaparan historis di atas kita dapat menarik suatu pengalaman sejarah bahwa harus dipahami bahwa kemunduran dan runtuhnya perdaban Islam terjadi ketika umat Islam mengucilkan diri dari ilmu pengetahuan. Paradigma konfrontatif-isolated atau mungkin bisa kita sebut dengan nalar sekularistik yang dipraktekkan oleh umat masa kemunduran Islam patut menjadi pelajaran di masa yang akan datang. Tentu saja harus disadari bahwa produk keilmuan masa keemasan Islam sudah dipandang usang untuk diterapkan saat ini akan tetapi pada segi epistimologi, ontologi dan aksiologinya mungkin masih akan mengalami relevansi dengan kondisi saat ini. Wallhu ‘a’lam. [Hatim Gazali]

Sumber: Jurnal Justisia, Fak. Syariah IAIN Walisongo Semarang.

Hatim Ghozali: Tidak

TANGERANG, – Sekitar pertengahan Oktober 2018, media masa diramaikan oleh pemberitaan kasus hoax yang menimpa Ratna Sarumpaet. Pasalnya, perempuan 60 tahun itu telah menyebar berita bohong terkait operasi plastik yang dilukukannya. Ia menyebut, memar di wajahnya akibat dikeroyok sekolompok orang tak dikenal.

Terkuaknya kasus Ratna, sempat melahirkan gerakan yang mendesak adanya hari anti hoax nasional atau menobatkan Ratna sebagai ratu hoax. Gerakan terebut, menurut Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (PP RMI) NU, Hatim Ghazali dinilai wajar, mengingat hoax adalah penyakit akut bagi masyarakat indonesia.

Dosen Universitas Sampoena itu menilai tidak ada jaminan seseorang kebal dari hoax. Apalagi, kecenderungan orang Indonesia berbagi dan bercerita cukup tinggi. “Sharing lebih gampang ketimbang producing,” katanya, saat menyampaikan materi diskusi di acara Mudzakar Ulama Kharismatik Se-Banten, dengan tema ’Moderasi Beragama: Jihad Ulama Menyelamatkan Umat dan Negeri dari Bahaya Hoax’ di STISNU Nusantara Tangerang, Rabu (16/01/2019).

Hatim Ghazali ketiga dari kanan

Selain tingginya animo berbagi dan bercerita, merebaknya hoax menerutnya juga ditopang oleh majunya teknologi komuniasi, seperti media sosial. Di media sosial seseorang merasa memiliki kebebasan untuk melakukan dan mengatakan apapun.

“Di media sosial lebih banyak justifikasi tanpa verifikasi. Mereka cenderung tidak membaca secara mendalam tentang suatu topik tertentu dan membaca secara random tentang berbagai hal,” ungkapnya.

Ia berharap ada upaya hukum yang serius dalam menangkal hoax. “Sejauh ini yang dijerat hukum hanya produser hoax. Bagaimana dengan platform apakah mereka terlibat litersinya atau tidak? Menurut saya  perlu adanya revisi terhadap Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik (PSE),” tutupnya.

Dari pengamatan Hatim, hoax paling banyak bertemakan politik. Hal itu mengindikasikan bahwa hoax ini berjalan sistematis. [AD]

Ini Poin-Poin Yang P

JAKARTA,— Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pesantren dan Pendidikan Keagamaan disetujui menjadi RUU usul inisiatif DPR RI dalam Rapat Paripurna DPR RI Selasa (16/10). Rabithah Ma’ahid Al Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama (NU) berpandangan bahwa substansi RUU pesantren masih perlu disempurnakan.

Ketua PP RMI NU, KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) mengatakan, RUU tentang Pesantren masih terbuka dan kemungkinan akan banyak perubahan pada RUU tersebut. RMI NU menyambut baik adanya inisiatif pembuatan RUU pesantren. Ini merupakan upaya yang luar biasa terhadap kemajuan pendidikan pesantren.

“Tetapi substansinya saya kira masih ada beberapa yang harus disempurnakan, pertama, yang dibutuhkan oleh pesantren adalah pengakuan terhadap tradisi, keilmuan dan budaya yang selama ini berkembang di pesantren,” kata Gus Rozin kepada Republika.co.id, Selasa (16/10).

Ia menerangkan, RUU tentang Pesantren baru mendorong pengakuan formal pesantren seperti pengakuan administrasi dan anggaran. Tapi RUU ini juga mengamanatkan adanya ujian nasional di pesantren. Padahal selama ini ujian nasional di dunia pendidikan formal saja masih menimbulkan perdebatan yang belum selesai.

Ia menegaskan, ketika RUU tentang Pesantren mengamanatkan adanya ujian nasional untuk pesantren, maka kebijakan ini akan membawa pesantren kepada kesegaraman pesantren. Padahal kelebihan pesantren ada pada keberagamannya karena setiap pesantren mengembangkan ciri khasnya sendiri. 

“Setiap pesantren mengembangkan keilmuannya sendiri, kekuatan dan ciri khas pesantren ada di situ sehingga tradisi pesantren tumbuh kuat menjadi patner negara dalam pembentukan karakter bangsa,” ujarnya.

Gus Rozin menyampaikan, RMI NU khawatir ketika ada amanat ujian nasional untuk pesantren, malah akan menghilangkan substansi pendidikan di pesantren. Di dunia penddikan formal saja, ketika orang sibuk mengejar ujian nasional maka substnasi dari pendidikannya banyak yang terlewat.

RMI NU menyampaikan, pengakuan terhadap pesantren baru sampai pengakuan administrasi dan anggaran. Tapi belum pada pengakuan tradisi, kebudayan dan keilmuan pesantren. Menurut RMI NU hal ini menjadi catatan penting.

*Berita telah diterbitkan oleh REPUBLIKA.CO.ID.

1 3 4 5 6