dafit

Ekoteologis

EKOTEOLOGIS PESANTRE

EKOTEOLOGIS PESANTREN DAN SPIRIT EKOKRITIS LPBI NU MOJOKERTO
Oleh: Yudho Sasongko

Jika anda menemui kibaran panji NU di puncak Pawitra gunung Penanggungan itu bukan kebetulan semata. Kegagahan kibaran panji NU bersama kibaran Sang Saka Merah Putih di puncak tersebut erat kaitannya dengan peran aktif LPBI (Lembaga Penanggulanan Bencana Dan Perubahan Iklim) NU Mojokerto dalam menjaga kelestarian dan konservasi alam di wilayah gunung yang berketinggian 1.653 meter tersebut.

Nafas konservasi alam tidak hanya dimonopoli oleh para pecinta alam ataupun kelompok dan organisasi lingkungan hidup saja. Nyatanya LPBI NU Mojokerto dengan basis warna bendera hijaunya sudah mampu memberikan teladan peran santri dalam mewujudkan ekologi lingkungan hijau disamping peran lainnya sebagai rescuer tanggap darurat kebencanaan.

Mereka juga adalah para pejuang fiqih al bi’ah[1] yang terus berusaha menempatkan wacana lingkungan hidup beserta ekosistemnya sebagai sebuah ushul dan bukan lagi sebagai furu’. Memupuk ekologi menjadi ekoteologi[2]

Diamana permasalahan lingkungan hidup beserta perlindungannya tidak akan bisa atau sulit diselesaikan hanya dengan mengandalkan pengetahuan dan teknologi saja. Perlu tambahan solusi taktis seperti merubah secara arif, bijaksana, mendasar dan bertahap cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam lingkungannya. Sasarannya bukan lagi hanya orang perorang, namun harus menjadi budaya dan kebiasaan masyarakat secara luas.

Bidikan pertama dari LPBI NU Mojokerto adalah para pendaki gunung yang secara psikologis sangat dekat dengan alam. Komunitas pecinta alam dan pendaki gunung tidak bisa diremehkan pengaruhnya dalam mewujudkan ekoteologi yang berbasis ekokritisme.

Mereka adalah variabel dengan jumlah yang cukup besar dalam eksponen para pelaku pelestarian alam. Melihat peluang variabel tersebut maka dijadikanlah sebagai bidikan pertama oleh LPBI NU Mojokerto dalam mendukung tugas mulia tersebut, yaitu mengawal fiqh al bi’ah di area gunung Penanggungan.

Sudah saatnya kita untuk bergotong-royong memberi perhatian yang lebih serius terhadap dampak kerusakan ekologi beserta ekositemnya. Dan jangan lagi dipandang sebelah mata serta hanya sebatas wacana. Jika tidak bergerak serempak tunggu saja kehancuran lingkungan hidup kita.  

LPBI NU Mojokerto siap menghadapi trending topic lonjakan jumlah pendakian gunung Penanggungan belakangan ini. Animo masyarakat tersebut menempati rating tinggi unggahan media sosial dengan kecenderungan terprovokasi oleh nafsu swafoto ala instagrammable[3]. Hal ini memicu makin luasnya paparan informasi tentang keindahan puncak Pawitra gunung Penanggungan.

Dimana hal tersebut akan berdampak buruk juga terhadap kelestarian alam gunung Penanggungan yang disebabkan oleh naiknya intensitas pendakian yang tidak bertanggungjawab. Belum lagi para pelangggar intruduksi[4] kawasan konservasi makin memperburuk kerusakan hutan.

Disinilah diperlukan ruh-ruh santri yang sabar, telaten serta ulet dalam wujud kiprah di tubuh LPBI NU Mojokerto. Santri yang siap berperan dalam menanggulangi extraordinary crime[5] berupa perusakan lingkungan atau pelanggaran wilayah konservasi lainnya.

Kegiatan reboisasi tanaman endemik vegetasi gunung Penanggungan juga digalakkan. LPBI NU Mojokerto juga turut aktif dalam operasi pemadaman kebakaran hutan di gunung Penanggungan serta gunung-gunung disekitarnya seperti gunung Arjuno dan Welirang. Dampak signifikan lainnya yang terlihat dari pendakian massal adalah peran potensi SAR dari para rescuer[6] LPBI NU Mojokerto yang siap memberikan pertolongan terhadap korban-korban pendakian yang frekuensinya makin meningkat di gunung Penanggungan.

Para rescuer siaga 24 jam di pos loket masuk pendakaian gunung Penanggungan pintu Tamiajeng Trawas Mojokerto. Kesiagaan ini termasuk barang langka, sebab sepengetahuan penulis bahwa di pintu-pintu masuk pendakian gunung-gunung lainnya tim SAR lokal hanya datang jika diperlukan. Beda dengan para rescuer LPBI NU Mojokerto yang selaau standby di pos lapor pintu masuk pendakian.

Dengan amanah khulliyat al khoms[7] serta kecerdasan ekologi, LPBI NU Mojokerto percaya diri untuk terus berjuang di medan jihad pelestarian alam. Mereka tak sebatas teoritis yang muluk-muluk membahas ekologi, namun langsung praktek di lapangan untuk memberi contoh tauladan yang terbaik.

Ruh konservasi alam skala ringan dalam fiqh al bi’ah sebenarnya sudah sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya yang langsung terkait dengan ibadah dan masalah fiqih jinayah[8] seperti dilarangnya buang air kecil atau kencing di lubang serta pada air yang tergenang ataupun menebang pohon sembarangan di wilayah Haram. Namun untuk skala besar harus melibatkan sebuah lembaga dan kekuatan terpadu dalam menjalankan amanah fiqih al bi’ah lainnya seperti usaha reboisasi dan pencegahan pembalakan liar, illegal logging.

Sejak 2014 LPBI NU Mojokerto sudah mampu mendistribusikan air di Desa Kunjorowesi, sebuah wilayah terjal nan sulit ditembus. Perlu keuletan dan spirit perjuangan khas santri untuk menembusnya. Sebab desa Kunjorowesi merupakan desa tertinggi di lereng Penanggungan. 

Kerusakan lingkungan di Desa Kunjorowesi sebagian disebabkan oleh aktifitas penebangan pohon dan pengambilan pasir, batu tanah untuk kepentingan korporasi yang membuat desa-desa lereng gunung Penanggungan sering mengalami kekeringan. Bukan hanya sektor lereng, area puncak tinggi seperti puncak Pawitra juga mendapat perhatian LPBI NU Mojokerto, khususnya menjamin tetap terpasangnya bendera NU di puncak gunung legendaris tersebut bersama Kibaran Sang Saka Merah Putih. Termasuk upacara penaikan Sang Saka Merah Putih yang rutin digelar setiap tanggal 17 Agustus.

Selain pengecekan bendera hal tak kalah penting lainnya adalah pengawasan atas kewajibkan para pendaki untuk membawa turun sampahnya dengan cara persuasif seperti disediakan kantong-kantong plastik jumbo secara gratis untuk tempat sampah serta pemberian stiker gratis bagi yang membawa turun sampahnya. Pemasangan baliho dan spanduk pro lingkungan juga dilakukan untuk memberikan semangat pelestarian lingkungan. Cara ini layak mendapat apresiasi dan harus dikampanyekan ke semua pintu-pintu masuk pendakian gunung-gunung di Indonesia yang sepengetahuan penulis tidak ada yang seperti itu. Bravo LPBI NU !

Tidak hanya berhenti disitu, sampah-sampah yang terkumpul dikelolah oleh LPBI NU Mojokerto dalam bentuk program BSN (Bank Sampah Nasional). Data statistik menunjukkan bahwa BSN Mojokerto yang digagas oleh LPBI NU Mojokerto sudah memiliki lebih dari banyak nasabah sampah. Terobosan ini juga merupakan salah satu bukti bahwa LPBI NU Mojokerto telah berperan aktif dalam isu lingkungan dan perubahan iklim.

Penulis : Yudho Sasongko, Anggota Kelompok Pecinta Alam Wilderness Lali Jiwo Pasuruan, HP. 0895337939915, Email : konturamontana@gmail.com Gersikan Rt.01 Rw.01 Kelurahan Kedungringin Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan Jawa Timur 67154


[1] Fiqih lingkungan hidup

[2] Cara pandang religius terhadap lingkungan hidup

[3] Layak posting

[4] Gangguan area terbatas

[5] Kejahatan besar

[6] Potensi dan tenaga penyelamat

[7] Dasar-dasar penjagaan kemuliaan

[8] Fiqh pidana

Santri NU

Akal Sehat Santri

Akal Sehat Santri
Oleh: Ardiansyah Bagus Suryanto

Keagungan Islam dan keindahan Nusantara menyatu dalam senyum penduduk Negeri Pancasila. Dari gunung ke laut wajah tersenyum dimana saja sebagai identitas kultural dalam bersikap, bertindak dan bertutur. Senyuman sebagai bahasa universal untuk mempertahankan tradisi-tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Adaptif dengan setiap kemajuan tanpa kehilangan jati diri dalam ‘menjadi’.

Bahasa dan budaya yang menjadi batasan umat manusia, tidak lagi menjadi halangan untuk bersahabat. Nilai kebajikan yang terkandung dalam budaya lain dan tersimpan dalam bahasa tertentu akan menyatu dalam keindahan budaya nusantara. Penyalahgunaan logika sebagai pangkal perdebatan seringkali menyebabkan permusuhan tak berdasar. Maka sebenarnya, puncak kecerdasan masyarakat gemah ripah loh jinawe adalah keindahan berbudaya. Indah tanpa menjelekkan, menang tanpa mengalahkan dan beragama tanpa mengafirkan.

Nilai-nilai tersebut menjadi karakter, ciri khas atau tipologi masyarakat Nusantara. Dikembangkan dalam pendidikan khusus yang dikenal dengan nama Pesantren, tempat dimana para santri dididik agar tidak kagetan dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat. Senantiasa merawat akal sehat dengan mengedepankan akhlak, menebarkan kedamaian dan memberikan ketenangan kepada umat..

Santri sebagai symbol keindahan dalam memperjuangkan harapan umat. Tidak hanya keindahan tentang apa, melainkan juga kesantunan dalam menyapa. Maka, pesantren menjadi tempat berkumpulnya akal sehat dalam mempelajari keindahan sastra. Sastra berwujud firman Tuhan dan sabda Rasul, serta karya ulama’ dalam bentuk rangkaian nadham.

Klaim Hari Santri

Setiap keindahan akan diperebutkan oleh banyak pihak. Cara sederhana untuk mengetahui kebenaran tersebut adalah dengan melacak sejarah adanya hari santri. Juga dapat dideteksi dengan kebiasaan yang telah menjadi identitas. Ada beberapa kata yang setara dengan kata santri, yaitu langgar, tahlilan, tawassul dan ziarah kubur. Setara yang dimaksud di sini adalah identitas sebuah kata dengan kesamaan peristiwa. Sehingga ketika seseorang atau sebuah kelompok mengklaim sebagai pengusul adanya hari santri, namun tidak melakukan objek kata yang setara dengannya, maka dapat disimpulkan sebagai kebohongan.

Menurut Gus Dur, santri berasal dari bahasa Pali shastri, orang yang mempelajari sastra. Pali sebagai bahasa pertama kitab Tripitaka. Istilah yang identic dengan agama Buddha, namun digunakan dalam agama lain. Ini menunjukkan bahwa perbedaan bahasa tidak membuat seseorang auto-kafir atau bermasalah dengan keislamannya.

Langgar sebagai salah satu sebutan tempat beribadah umat Islam yang tidak jauh dari rumah. Berasal dari kata sanggar yang bermakna tempat pemujaan di pekarangan rumah. Walisongo mempunyai andil besar dalam merubah suatu tempat berdasarkan nilai-nilai Islam tanpa pemaksaan atau pertumpahan darah. Istilah yang identic dengan agama lain, namun digunakan dalam dakwah Islam.

Tahlilan merupakan amaliah Islam di Nusantara yang dibungkus dengan kebudayaan setempat. Masyarakat Nusantara pada zaman dahulu senantiasa mengingat jasa leluhur dengan mendatangi punden berundak dengan mempersembahkan sesajen. Walisongo mengadopsinya dan merubahnya menjadi budaya silaturrahim dan sedekah. Tawassul menjadi salah satu unsur dalam tahlilan agar senantiasa mengingat jasa para guru dan orang tua. Sedangkan ziarah kubur menjadi upaya untuk memahami bahwa ‘Jangan sekali-kali melupakan sejarah!’

Raden Santri

Rencana penggusuran makam Rasulullah dan klaim hari santri adalah pola piker dengan latar belakang yang sama. Gerakan santri yang menolak rencana penggusuran tersebut dikenal dengan Komite Hijaz, sebagai cikal bakal Nahdlatul Ulama’. Santri tidak akan melupakan jasa para guru dan orang tuanya, karena melupakan salah satu atau keduanya akan menjadi sebab hilangnya keberkahan dalam hidup. Tahlilan, tawassul dan ziarah kubur sebagai salah satu cara mengingat jasa-jasa mereka yang telah berpulang, inilah identitas santri.

Seorang santri bernama Sayyid Ali Murtadlo menggunakan kata santri sebagai identitas. Orang-orang menyebutnya Raden Santri, kakak dari Sunan Ampel. Anak dari Syekh Ibrahim Asmaraqondi dan sepupu Maulana Malik Ibrahim. Maka sebenarnya, Sayyid Ali Murtadlo adalah Sunan Gresik yang masuk dalam Walisongo.

Santri, tak mengandalkan seragam agar dihormati atau berkata agar diikuti, apalagi minta untuk dilayani. Kebanggannya bukan pada diri, melainkan aktivitas sehari-hari. Senjatanya istiqomah mengaji mengasah jati diri, berharap ilmu yang manfaati barokah dari para kiai. Melestarikan ajaran para wali sebagai pewaris baginda Nabi. Itulah impian sejati, bukan untuk menyombongkan diri terhadap titipan Ilahi, karena itu perilaku syaitoni. Musuh abadi manusia di muka bumi.

Selamat Hari Lahir Organisasi Para Santri, Nahdlatul Ulama’!

*Editor Journal of Islamic Education Studies UIN Sunan Ampel Surabaya

Gus Rozin

Gus Rozin Khawatir G

Surabaya, — Indonesia akan tumbuh menjadi negara maju di masa depan. Harapan itu bukan tanpa alasan, melainkan karena Indonesia memiliki jumlah pemuda atau sering disebut generasi milenial yang cukup banyak. Generasi tersebut, kata KH. Abdul Ghaffar Rozin, Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma;ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI NU), adalah generasi yang hidup di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi-komunikasi.

“Mereka (generasi milenial), berdasarkan survei menunjukkan perilaku menghabiskan 8 jam di depan komputer, 3 jamnya untuk bermedsoso (media sosial),” ungkapnya menggambarkan generasi milenial di hadapan peserta Forum Diskusi Kebangsaan Santri Milenial di Pesantren Sabilur Rosyad, Sidoarjo, (03/04/2019).

Lebih lanjut, Gus Rozin, demikian biasa disapa, menyampaikan generasi milenial di Indonesia, 90%nya memandang bahwa masalah keagamaan sangat penting, sehingga penyediaan konten keagamaan di internet harus menjadi perhatian serius.

“Mereka belajar agama melalui internet. Yang kita dikhawatirkan adalah mereka belajar pada situs-situs yang tidak mengajarkan islam yang rahmatan lil alamin,” tambahnya

Oleh karenanya, RMI, Asosiasi Pesantren Islam Indonesia, bekerjasama dengan Kementerian Informasi dan Komunikasi berupaya untuk berperan aktif dalam penyediaan konten keagamaan yang baik, melalui penyelenggaraan pelatihan media sosial bagi para santri milenia.  Dimana diharapkan pelatihan itu akan melahirkan santri-santri milenial yang mampu menangkal hoax dan mampu menebar rahmat di internet.

Di Siduarjo, kegiatan diskusi dan pelatihan tersebut akan digelar selama dua hari (4-5 April 2019), diikuti oleh 150 santri dari berbagai pesantren di Jawa Timur dan dihadiri narasumber kompeten di bidangnya.

Kaum Sarungan dalam Bingkai Dekolonialisasi

Dekolonialisasi Kaum

Dekolonialisasi Kaum Sarungan, Dari Perang Terbuka Sampai Menolak Celana

Oleh Taufiq Ahmad*

Pesantren punya riwayat panjang dalam perlawanan terhadap penjajahan atau kolonialisme. Dari penjajahan model lama oleh bangsa Londo atau Barat, sampai penjajahan model baru yang dikenal dengan istilah neokolonialisme-imperialisme (Nekolim). Gelora perlawanan paling dahsyat era modern adalah ketika Resolusi Jihad dikumandangkan pada 22 Oktober 1945, yang membuat perlawanan sengit terhadap Sekutu di Surabaya demi suatu pelaksanaan atas Proklamasi Agustus 1945.

Perang total terhadap kolonialisme dikenal dengan istilah dekoloniasi. Ketika perang fisik sudah tidak berlangsung karena penjajah sudah hengkang, struktur warisan kolonial masih bercokol kuat di bumi Indonesia. Hal itulah yang oleh para pakar dikenal dengan negara poskolonial, yakni seolah-olah kita sudah “nasional” padahal struktur dalam (deep structure) dari masyarakat kita masih merupakan kelanjutan dari kolonial. Dan struktur warisan kolonial itu begitu merusak, sehingga negara yang sudah berusia tiga perempat abad ini dalam pergaulan internasional, masih saja berkubang dalam lembah kehinaan dengan predikat sebagai negara tertinggal.                                                                                       

Upaya merombak struktur warisan kolonial yang jadi hambatan bagi kemajuan nasional dalam arti kemandirian ekonomi, kedaulatan politik dan kebudayaan yang bermartabat, itulah yang dikenal sebagai bagian dari upaya dekolonisasi. Masalahnya, apakah saat ini upaya dekolonisasi itu terus dilangsungkan oleh bangsa Indonesia terutama kalangan pesantren? Itulah yang hendak dibahas. Sebab bagaimana pun, setelah kolonial hengkang, hegemoni terus berlangsung dengan topangan kekuatan ekonomi, teknologi dan militer, yang dalam ranah itu, Indonesia di posisi yang lemah dan dilemahkan. Bangsa Indonesia masih saja menjadi obyek, dan belum mampu menjadi subyek dalam kancah global internasional.

Riwayat Perlawanan Kaum Sarungan

Ketika bangsa Barat melakukan kolonialisasi, muslim ala pesantren adalah kalangan yang sejak awal melakukan perlawanan. Seperti perlawanan terhadap Portugis yang menguasai Malaka (1511), yang dipimpin oleh Adipati Yunus, putera mahkota kerajaan Demak Bintoro. Lalu perang terhadap perusahaan kongsi dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang bercokol di Batavia, oleh Sultan Agung.

Ketika VOC bertransformasi jadi negara kolonial Hindia Belanda, perlawanan itu tetap tak pernah surut meski kerajaan-kerajaan Nusantara mulai merosot. Perang besar pernah dilangsungkan oleh aliansi golongan santri, para pendekar keratin, juga sedulur sikep, dibawah pimpinan pangeran Diponegoro. Hal itu secara apik dijelaskan oleh sejarawan Perancis Madzhab Annales yakni Denys Lombard dalam buku kedua dari serial tiga buku Nusa Jawa berjudul Nusa Jawa: Jaringan Asia.  Perang yang dikenal dengan istilah Perang Jawa (Java Orloog) atau Perang Diponegoro yang berlangsung pada 1825-1830 itu begitu dahsyat hingga menguras pundi-pundi kerajaan Belanda, meskipun akhirnya bisa ditakhlukkan.

Kekalahan perang Jawa bukan berarti menyurutkan perlawanan kalangan pesantren. Bibit-bibit pemberontakan terus disebar di desa-desa lewat pengajaran pesantren. Dari pesantren, pemberontakan dalam skala yang lebih kecil terus berlangsung. Contoh yang populer adalah pemberontakan di Banten yang digawangi oleh gerakan Thariqat Naqsabandiyah, sebagaimana lebih rinci dalam bukunya Sartono Kartodirjo berjudul Pemberontakan Petani Banten 1888. Para mursyid thariqah menyatakan bahwa memerangi Belanda adalah perang Sabil dan hukumnya wajib bagi setiap muslim.

Pemberontakan yang lebih kecil contohnya adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Kiyai Hasan Mukmin di Gedangan, Sidoarjo, karena kebijakan perkebunan belanda yang menggusur tanah-tanah petani. Kiyai Hasan Mukmin rupanya adalah sosok Kiyai yang meresapi jerit tangis petani yang ditindas kolonial, dan karena itu masyarakat ia pimpin untuk melawan.

Adapun menurut keterangan Agus Sunyoto, bahkan dalam waktu satu abad yakni sejak runtuhnya VOC (1799) yang bertransformasi menjadi Hindia Belanda sampai era politik etis (1900), berlangsung 112 kali perlawanan atau pemberontakan yang dipelopori oleh kalangan pesantren atau thariqat. Perlawanan justru surut ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda menggulirkan kebijakan Politik Etis yang salah satunya adalah “penyekolahan” pribumi. Dari situ lahir para elit-intelektual modern dan terbaratkan. Dalam konteks keislaman, lahir juga berbagai “ulama modern” dengan semangat pemurnian ajaran Islam yang menjadi biang keladi kekisruhan antar umat Islam karena isu saling membid’ahkan, saling menyesatkan dan mengkafirkan menjadi marak. Mereka begitu keras memerangi TBC (takhayul, bid’ah dan churafat) yang mereka anggap diderita oleh muslim di Nusantara, tetapi begitu lunak di hadapan penjajah.

Sangat berbeda dengan golongan Islam sebelumnya yang masih getol melawan kolonial, meski tak lagi secara fisik tapi tetap berlangsung dalam ranah kultural. Misalnya, ketika kalangan pesantren secara getol melakukan resistensi terhadap budaya Belanda dalam hal berpakaian. Waktu itu memakai pakaian seperti Belanda diharamkan dengan dalil terkenal man tasyabbaha bi qoumin fahuwa minhum (siapa yang menyerupai suatu kaum, ia termasuk bagian kaum itu.

Sebab itulah, ketika Belanda mempopulerkan celana, kalangan pesantren tetap memakai sarung, sehingga identik dengan kaum sarungan. Ditilik dari ranah ekonomi politik, menolak celana dan memilih sarung artinya memperkuat pondasi perekonomian pribumi, karena waktu itu sarung kebanyakan diproduksi pribumi sementara celana mayoritas diproduksi pabrik kolonial.

Dalam urusan haji, Kiyai Hasyim Asyari pernah mengharamkan masyarakat untuk berhaji lewat biro haji kolonial, karena selain secara politik akan dengan mudah terpetakan oleh kolonial lewat kebijakan pemberian gelar dengan sertifikat “Haji” yang ironisnya, kebijakan kolonial itu masih kita lanjutkan penuh kebanggaan, secara ekonomi hal itu artinya juga memperkuat pundi-pundi kolonial. Artinya, dalam memberi putusan hukum, kalangan pesantren yang dianggap tradisional konservatif itu ternyata progresif.

Perlawanan baik secara fisik atau siasat budaya di atas, menunjukkan bahwa bahwa kalangan pesantren hingga titik darah penghabisan tetap anti terhadap penjajahan. Dan ketika Indonesia sudah merdeka dan memasuki Abad baru, bagaimana sikap kaum sarungan atas kenyataan baru ini?

Ahmad Taufiq
Baca juga: Ziarah Ke Kurdistan; Thariqat, Berzanji dan Semngat Perlawanan

Dekolonisasi Abad 20-21

Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang berlanjut pada perang rakyat Surabaya melawan Sekutu pada November 1945, adalah upaya dekolonisasi yang paling dahsyat dalam sejarah nasional Indonesia. Sehingga, ketika rangkaian itu disusun, akan membentuk suatu tritunggal sejarah kemerdekaan 1945: Proklamasi Agustus, Resolusi Jihad Oktober, dan Revolusi November.

Namun, tritunggal itu bukan berjalan mulus. Virus kolonial warisan Jepang dan Belanda sudah merasuk dalam mental para elit-elit politik bangsa sendiri, sehingga yang terjadi adalah suatu kesenjangan yang begitu menganga antara kehendak rakyat dengan pikiran elit-elitnya, yakni ketika rakyat memantapkan suatu garis perang, para elit saat itu sudah sibuk soal posisi kekuasaan dan perdebatan ideologis  yang kurang nyambung dengan kenyataan yang ada. Dalam menghadapi penjajah yang berusaha kembali bersama Sekutu, para elit justru lebih banyak berunding, padahal dalam sejarah Nusantara, perundingan artinya adalah malapetaka dalam sejarah Nusantara, seperti Perjanjian Bongaya (1667), Perjanjian Banten (1684), hingga KMB (1949).

Malapetaka itu kemudian membayangi bangsa Indonesia sejak diproklamirkan yang kemudian menemukan bentuknya dalam kisruh nasional seperti peristiwa Madiun 1948, DI/TII, PRRI/Permesta, dan G30S 1965. Malapetaka itu kemudian menjadi luka bangsa yang terus membayangi perjalanan republik Indonesia hingga saat ini. Dan, luka bangsa itu oleh segelintir elit penguasa atau intelektual justru terus dikorek sekedar untuk ambisi pribadi atas kekuasaan atau proposal funding internasional, tanpa peduli akan efek sampingnya yakni terus-menerus memproduksi konflik horizontal yang sangat melelahkan.

Pada masa awal republik yang kini kita kenal dengan istilah Orde Lama, ketika Soekarno menyadari bahwa konflik horizontal yang tak kunjung usai dalam konstituante, sementara di sisi lain Nekolim terus membayangi republik, dengan sokongan militer ia mengambil “jalan tengah” dengan membubarkan konstituante dan membentuk demokrasi termipimpin dengan ajaran Nasakomnya. Dalam konteks ini, kaum sarungan yang diwakili NU, masuk dalam aliansi “Fron Nasional” bersama PNI dan PKI dengan semangat melawan Nekolim dan melanjutkan agenda revolusi yang belum selesai. Namun, peristiwa G30S membuyarkan semuanya.

Kelahiran Orde Baru mengembalikan struktur warisan kolonial. Pada zaman Belanda, sebagaimana keterangan Emmanuel Subangun dalam pengantar buku Pemikiran Militer 5 karya Hario Kecik, masyarakat dibelah dalam tiga kelas, dengan Eropa sebagai penguasa ekonomi politik, kalangan Tionghoa jadi “pedagang perantara” dan bangsawan pribumi jadi “pejabat perantara.” Selebihnya di dasar kelas adalah rakyat jelata. Orde Baru adalah aliansi antara “pejabat perantara” yang berkongkalikong dengan “pedagang perantara” itu, dengan topangan militer dan teknokrat. Rakyat sipil dalam hal ini adalah warganegara kelas dua. Dan, karena NU dianggap bagian dari “Orde Lama,” rezim Orba melakukan penyingkiran terhadap organisasi kaum sarungan ini.

Hingga Reformasi 1998 bergulir, dan kaum sarungan yang diwakili Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mampu menduduki posisi presiden. Namun, kebijakan Gus Dur yang secara radikal mengobrak-abrik struktur yang ada itu justru membuat dirinya dilengserkan dalam waktu yang sangat singkat. Sejak itu, pewaris Orde Baru kembali bercokol dengan wajah barunya. Tetapi tetap dengan struktur warisan kolonialnya, dengan penampakan aliansi pengusaha-militer-teknokrat yang meminggirkan rakyat.

Sementara itu, umat Islam sebagai kelompok mayoritas disibukkan dengan kerusuhan warisan kolonial, seperti Islam tradisional/modern, yang kini ditambah radikal/moderat/liberal. Sehingga, ketika NU melahirkan keputusan-keputusan yang seharusnya bisa didorong menjadi energi progresif, seperti putusan Munas Alim Ulama soal distribusi agraria dan kewajiban memelihara lingkungan, yang menjadi perdebatan justru soal bukan soal itu. Memang ada beberapa anak muda Nahdliyin yang mencoba mengusung aspirasi progresif seperti diwakili FNKSDA dengan mengatasnamakan Resolusi Jihad Jilid 2, tetapi tentu belum menjadi mainstream dalam tubuh organisasi kaum sarungan. Saat ini sebenarnya, masih mirip seperti ketika NU didirikan pada 1926, yang disibukkan soal pembelaan atas tradisi Islam Nusantara yang mengalami penyerangan dari kaum modernis-puritan. Belum lagi kesibukan politik praktis yang kini digeluti NU, meski sejak 1984 NU menyatakan kembali ke Khittah 1926. Dan harus diakui, energi kaum sarungan seperti habis di situ.

Namun bagaimana pun peliknya persoalan yang dihadapi, kaum sarungan tidak boleh lengah dalam terus melakukan upaya dekolonisasi. Sebab dekolonisasi adalah tugas radikal kaum sarungan dalam sejarah yang harus dilangsungkan, agar bangsa Indonesia bisa menegakkan harga dirinya yang selama ini diinjak-injak.

Cangkringan, 27-28 Maret 2019

*Penulis adalah pengajar pada MA Al-Qodir, Ponpes Al-Qodir, Cangkringan, Sleman, DIY

Merawat Tradisi “N

Merawat Tradisi “Ngaji Sorogan” Di Tengah Menguatnya Arus Modernisme
(Studi Kasus Pondok Pesantren Salaf Al-Utsmani Beddian Bondowoso)

Oleh: Nuril Qomariyah

Saya memilih untuk melakukan penelitian di daerah saya sendiri, hitung-hitung memperkenalkan kearifan lokal (local wisdom) sekaligus khazanah kepesantrenannya. Awalnya, salah seorang guru saya menyarankan untuk melakukan penelitian di pesantren yang berada di desa sebelah, di Pesantren Al-Utsmani Beddian, salah satu pesantren salaf terbesar di Kota Bondowoso. Saya pun menerima itu dan mencoba menggali data di pesantren tersebut.

Pesantren Al-Utsmani Beddian merupakan pesantren yang berada jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, berada di pelosok Desa Jambeanom. Mengapa saya katakan pelosok, karena pesantren ini berada di daerah yang jauh dari perkampungan warga, komplek di sekitar pesantren merupakan daerah tempat tinggal bagi abdi dalem pesantren sendiri.

Ditemani salah satu pengajar Madrasah Diniah (Madin), Pesantren Al-Utsmani Beddian, saya berkunjung kesalah satu pengurus bagian Ta’lim wa Tarbiyah dari Pesantren Al-Utsmani Beddian. Syukurlah malam itu beliau sudah tidak ada kegiatan mengajar kitab setelah tarawih, sehingga saya dapat melakukan tanya-jawab, atau wawancara singkat dengan beliau. Dan tulisan ini merupakan hasil perbincangan panjang dengan salah satu konseptor pengajian kitab dan pendidikan yang ada di Pesantren Al-Utsmani Beddian, Ustad Muchsin Ghazali.

Bukan lagi dualisme lembaga pendidikan

Pesantren sebagai tempat belajar atau kawah candradimuka bagi generasi bangsa, mendalami ilmu pengetahuan (keagamaan), merupakan peletak dasar munculnya Islam Nusantara. Ilmu pengetahuan yang diajarakan di pesantren merupakan refleksi keagaman serta totalitas kebangsaan. Oleh karenanya, keberadaa pesantren sangat diperlukan.

Namun ditengah perkembangan zaman dan masuk arus ilmu pengetahuan lain dari luar. Lembaga pendidikan di Indonesia tidak hanya pesantren, melainkan juga lembaga pendidikan. Seperti sekolah, yang mengajarkan ilmu pengatahuan umum. Keduanya berda dibwah naungan lembaga yang berbeda, sekolah di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nasional, sedangkan pesantren berada di bawah Departemen Agama. Dua lembaga ini merupakan induk dari lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Diantara keduanya berbagai perbedaan, diantara adalah model dan sistem yang dipakai.

Dalam situasi tersebut, pesantren seolah menjadi subordinat dari sistem besar pendidikan nasional. Sistem kelembagaan ini berlaku pada awal kemerdekaan hingga sekitar tahun 1972 (Materi K.H. Ahmad Baso, dalam Short Course Pengkajian Pesantren).

Namun, kini dualisme lembaga pendidikan ini telah berhasil dihilangkan. Dengan munculnya lembaga pendidikan pesantren yang terstruktural. Dimana jenjang pendidikannya dimulai dari tingkat TPQ (Setara dengan TK/RA), Ula (Setara dengan SD/MI), Ustha (Setara dengan SMP/MTs), Ulya (Setara dengan SMA/MA), dan Ma’had Aly (Setara dengan Universitas). Lembaga pendidikan pesantren dari tingkat TPQ hingga Ulya merupakan pengklasifikasian dari Madrasah Diniah (Madin). Madin ini memiliki kurikulum sendiri yang berada diluar campur tangan pemerintah (Diknas ataupun Depag). Melalui model demikian, santri diharapkan memiliki pola belajar yang sistematis, baik non-formal maupun formal.

Walaupun terjadi perubahan sistem belajar, khazanah keilmuan pesantren masih dijaga, utamanya melalu standarisasi. Dengan harapkan, para santri tetap mampu membaca kitab kuning yang telah diajarakan secara turun-temurun oleh ulama-ulama salaf terdahulu. Standar minimal pencapaian tersebut adalah santri lulusan Ulya. Santri yang telah mampu membaca dan memahami kitab kuning, akan menambah pemahaman tentang Agama Islam secara utuh sesuai dengan yang diajarkan salafussholih (Ulama Salaf) yang sangat kental dengan ajaran Rasulullah SAW.

Menurut Ustad Muchsin, lembaga pendidikan pesantren merupakan lembaga pendidikan yang unik. Ada tiga hal yang akan diterima oleh setiap santri yang berada di pesantren–dan akan sulit didapatkan dari lembaga pendidikan lain–, yakni: 1.Ta’lim (Pengajaran); 2.Tarbiyah (Pendidikan-pembentukan kepribadian); dan 3.Ta’dib (Pengenalan Adab-pembentukan akhlak). Ketiganya merupakan komponen yang dikemas secara komplit dalam lembaga pendidikan pesantren dengan harapan output berupa santri yang berilmu siap mengabdi bagi agama dan bangsa serta memiliki keagungan akhlak sesuai dengan akhlak yang diajarakan oleh Rasulullah SAW.

Mengapa harus pesantren salaf?

Pesantren Al Utsmani Beddian merupakan salah satu dari sekian banyak pesantren yang ada di kota saya, Bondowoso. Sejak awal berdiri hingga saat ini pesantren ini masih mempertahankan tradisi pesantren salaf. Lokasi pesantren dapat dikatakan jauh dari pusat kota, karena berada di pelosok desa tepatnya di Dusun Beddian, desa Jambeanom.

Berdasarkan nama dusun itulah kemudian Pesantren Al Utsmani Beddian lebih dikenal dengan sebutan Pesantren Beddian. Diantara pesantren-pesantren lainnya yang ada di Bondowoso, Pesantren Beddian merupakan pesantren salaf terbesar yang ada di Bondowoso, meskipun lokasinya yang berada di pelosok desa.

Hal yang menjadi pertanyaan besar saya adalah mengapa diera modern dan di pelosok desa seperti ini, Pesantren Al Utsmani Beddian masih bertahan dengan label pesantren salaf, sedangkan beberapa pesantren lainnya justru mulai meninggalkan sistem pengajian kitab (Tradisi salaf), dan lebih fokus dalam mengembangkan sistem pendidikan formal yang sedikit banyak telah memasuki lingkungan pesantren.

Atas kegelisahan itu, Ustad Muchsin menyampaikan bahwa pesantren akan kehilangan jati dirinya ketika tidak lagi melahirkan santri-santri yang ahli dalam membaca dan memahami kitab kuning (ahli kitab). Hal ini yang melatarbelakangi Pesantren Al Utsmani Beddian masih mempertahankan kultur salafiyah dalam kegiatan pesantren, yakni berupa ngaji sorogan. Karena hal tersebut merupakan tradisi khas pesantren yang diwariskan oleh ulama salafussholih yang harus tetap dilestarikan dan dirawat.

Demi menunjang eksistensi pesantren salaf diera modern, terdapat pengklasifikasian lembaga di Pesantren Al Utsmani Beddian, yakni: 1) Pengajian Kitab; 2) Madrasah Diniah (Madin); dan 3) Pendidikan Formal. Pengklasifkasian ini bertujuan agar tidak terjadi tumpang tindih antar program yang telah disiapkan oleh pesantren. Namun tetap, diantara ketiga lembaga ini pengajian kitab dijadikan sebagai prioritas utama. Hadirnya lembaga pendidikan formal merupakan suatu kebutuhan dari para santri. Karena tidak sedikit dari santri yang melanjutkan pendidikan setelah tingkatan Ulya di universitas. Sehingga, diperlukan adanya fasilitas berupa pendidikan formal untuk menunjang hal tersebut. Karena di Pesantren Al Utsmani Beddian belum memenuhi syarat untuk mendirikan Ma’had Aly.

 Secara terperinci Ustad Muchsin kemudian menjelaskan terkait kegiatan dua lembaga utama yang ada di pesantren, yakni Pengajian Kitab dan Madrasah Diniah. Yang diantara keduanya memiliki relasi yang sangat kuat. Akan tetapi tetap Pengajian Kitab jauh lebih utama jika dibandingkan dengan Madrasah Diniah. Dalam artian jam kegiatan Madrasah Diniah tidak boleh berbenturan dengan kegiatan Pengajian Kitab.

Seluruh kegiatan ngaji kitab di Pesantren Al Utsmani Beddian menggunakan sistem ngaji sorogan. Pengajian Kitab di pesantren ini jika dilihat dari jenisnya terbagi menjadi tiga. Pertama adalah pengajian umum, pengajian ini merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh seluruh santri di pesantren tanpa terkecuali dan juga warga pesantren lainnya termasuk ustad dan ustadzah Madin serta Sekolah Formal. Kegiatan pengajian umum ini dimulai dari pukul 06.30 hingga 08.00 WIB. Pengajian umum merupakan pengajian terpusat di masjid pesantren, yang langsung dipimpin oleh Kiai H.Ghazali selaku pengasuh Pesantren Al Utsmani Beddian saat ini. 

Kitab yang dikaji dalam pengajian umum dari tahun-ketahun masih sama. Dengan tingkatan ringan dipagi hari, hingga nantinya diakhiri dengan kitab yang tingkat kerumitannya cukup tinggi. Kegiatan pengajian umum ini diawali dengan kitab Safinatun Najah dan Sullamut Taufiq. Kemudian dilanjutkann dengan kitab Fathul Qarib, biasanya setelah selesai dua kitab yang pertama santri yang di Madin kelas 4 dan 5 Ula turun (meninggalkan majelis) terlebih dahulu karena kitab yang selanjutnya sudah lebih tinggi. Lebih siang lagi dilanjutkan dengan Kitab Fathul Mu’in biasanya pada bagian ini hingga pukul 08.00 diperuntukkan untuk santri tingkat Ulya dan yang telah lulus, sehingga santri tingkatan Wustha kebawah diizinkan untuk turun lebih dulu.

Kedua adalah pengajian khusus, dikatakan khusus karena pengajian ini tersistem dan ditentukan sepenuhnya olh pengurus pesantren, mulai dari jenis kitab yang dikaji, ustad dan ustadzah, serta tempat pengajiannya sudah terkontrol. Kegiatan pengajian ini dimulai dari Ba’da Shalat Isya sampai dengan pukul 21:30. Setelah kegiatan pengajian khusus ini para santri ada jam wajib belajar hinggal pukul 22.00 dan dipantau langsung oleh pengurus. Ketiga adalah pengajian bebas, biasanya dilakukan Ba’da Shalat Maghrib hingga menjelang Shalat Isya’. Setiap santri dibebaskan untuk mengikuti pengajian ini termasuk dalam memilih kitab yang akan dikaji serta ustad atau ustadzahnya. Biasanya kegiatan pengajian bebas ini dilakukan para santri yang masih merasa kurang cakap dalam menerjemah dan sering tertinggal ketika ngaji sorogan.

Pengajian kitab merupakan ruh dari pesantren salaf. Maka tidak heran jika lembaga Pengajian Kitab berada menjadi prioritas utama. Dengan tujuan agar dari pesantren tetap lahir santri-santri yang mampu membaca serta memahami kitab kuning dan dapat diaplikasikan di masyarakat. Selain itu, kegiatan ngaji kitab ini sekaligus merawat serta mempertahankan tradisi baik yang diwariskan oleh para Ulama Salaf terdahulu .

Untuk mendukung kegiatan pengajian kitab, maka pesantren memerlukan Madrasah Diniah (Madin). Dari Madin inilah para santri ditempa metode atau cara agar dapat membaca kitab kuning. Sejak kelas 5 Ula, setiap santri telah mempelajari Ilmu Nahwu dengan Bahasa Indonesia yang ditulis dengan tulisan arab. Dan kelas 6 Ula para santri mempelajari Kitab Nahwu Jurmiyah. Untuk tingkatan Wustha santri mempelajari Kitab Nahwu Imriti dengan ketentuan wajib hafal setengah bagian dari kitab, dan setengahnya lagi dilanjutkan ketika di tingkat Ulya sekaligus mempelajari Kitab Alfiyah Ibnu Malik yang menjadi standart dalam membaca kitab kuning. Dasar ilmu nahwu yang diperoleh di Madin inilah yang mempermudah para santri dalam mengikuti kegiatan pengajian. Kegiatan di Madin dimulai setelah santri selesai mengikuti kegiatan sekolah formal pagi harinya, tepatnya dari Ba’da Shlat Dzuhur hingga sebelum ‘Ashar.

Yang khas dan harus dijaga: Ngaji sorogan dengan arab pegon

Dijelaskan di atas bahwa seluruh jenis pengajian kitab di Pesantren Al Utsmani Beddian, menggunakan sistem ngaji sorogan. Ngaji sorogan sendiri merupakan salah satu tradisi khas pesantren salaf. Saat ngaji sorogan Kiai tak memrlukan papan untuk menulis hanya bermodalkan kitab dan langsung memaknai di hadapan ratusan bahkan ribuan santrinnya pada saat pengajian umum. Begitu pula para santri, hanya membawa kitab dan alat tulis untuk memberi makna pada kitab. Yang khas dari ngaji sorogan adalah cara santri memberi makna pada kitab, yang mayoritas bahkan keseluruhan menggunakan tulisan arab pegon.

Saat mewawancari Ustad Muchsin, sedikit beliau menyinggung sejarah munculnya arab pegon di kalangan santri salaf. Huruf arab pegon telah lama digunakan oleh Wali Songo, Haba’ib, ulama-ulama pesantren hingga para Kiai. Arab pegon merupakan upaya Ulama Salaf untuk memperlancar penyebaran agama Islam dan menjadi transfer ilmu agama. Sehingga, paham-paham keagamaan dapat dinikmati oleh masyarakat luas serta terjaga dari berbagai penyimpangan ilmu agama. Dalam hal ini arab pegon  sebenarnya telah berperan besar dalam mengkomunikasikan khazanah intelektual muslim di Nusantara.

Seorang ahli perpustakaan dari Prancis, Hambert Lior pada tahun 1980 telah mengadakan penelitian mengenai hal ini. Dia memperkirakan bahwa kitab-kitab Islam yang bertuliskan aksara Arab Pegon sekitar 4000 buah naskah tersebar di 28 negara. Ismail Husin (1974) memperkirakan skitar 5000 naskah arab pegon berbahasa Melayu, seperempatnya berada di Indonesia.

Arab pegon berasal dari huruf Arab hijaiyah, yang kemudian disesuaikan dengan akasara (abjad) Indonesia (Jawa atau Madura) sesuai daerah pengajarannya. Huruf pegon lahir dikalangan pondok pesantren untuk memaknai atau menerjemah kitab-kitba kedalam bahasa Indonesia, Jawa, maupun Madura, guna mempermudah penulisannya. Karena penulisan kitab-kitab berbahasa arab dari kanan ke kiri begitu pula penulisan arab pegon, berbeda dengan huruf latin yang ditulis dari kiri ke kanan.

Sayangnya, saat ini huruf arab pegon lambat laun mulai dilupakan. Hal ini bermula sejak Belanda menjajah Indonesia dan mengenalkan huruf latin. Sekolah-sekolah formal hampir seratus persen menggunakan tulisan huruf latin. Bahkan dalam administrasi negara, penjajah menekankan penggunaan tulisan dengan huruf latin. Yang sangat berbeda dengan kondisi Indonesia sebelum kedatangan penjajah. Kurangnya pemahaman dan kesadaran umat Islam mengenai hal ihwal huruf pegon tidak sedikit mempercepat hilangnya tradisi arab pegon dikalangan masyarakat. Jadi tidak di herankan jika akhir-akhir ini keberadaan huruf arab pegon semakin terisolir, hanya dipakai di dunia pesantren yang masih tetap konsisten melestarikan keberadaan huruf arab pegon.

Sejarah panjang serta kondisi arab pegon yang mulai langka dikalangan santri ini yang menjadi pegangan bagi pengasuh dan pengurus Pesantren Al Utsmani Beddian untuk tetap menjaga tradisi ngaji sorogan dengan arab pegon di kalangan santri. Kebiasaan menulis arab pegon ini telah ditanamkan sejak santri duduk di kelas 4 Ula dan diwajibkan untuk tingkatan di atasnya. Inilah satu-satunya cara untuk menjaga dan merawat tradisi ulama salaf yang mulai ditinggalkan diera modern melalui lembaga pendidikan pesantren salafiyah. Tanpa kemudian melupakan kebutuhan santri akan pendidikan modern sebagaimana telah diaparkan di atas.

K.H. Maimoen Zubair, pada Kongres Ijtima’ Ulama Nusantara ke-2 di Malaysia tahun 2007 menyampaikan, betapa umat Islam telah dengan mudahnya melupakan beberapa ajaran ataupun peninggalan ulama salaf. Salah satu diantaranya adalah arab pegon. Siapa lagi yang akan mempertahankan keberadaan huruf arab pegon kalau bukan generasi Islam saat ini, terutama mereka yang menamakan dirinya sebagai kaum santri salafiyah.

Diakhir wawancara Ustad Muchsin menegaskan bahwa pesantren akan kehilangan jati dirinya ketika tidak melahirkan generasi yang bisa membaca dan memaknai kitab dan meninggalkan tradisi ngaji yang diwariskan Ulama Salaf terdahulu. Pesantren Al Utsmani Beddian, yang berada di pelosok berusaha untuk melestarikan tradisi ngaji kitab ini tanpa menghilangkan kodrat kebutuhan santri saat ini berupa pendidikan formal yang modern. Inilah yang menjadi simpul pengembangan khazanah keilmuan di pesantren, sehingga pemikiran tentang pesantren yang kuno, tradisional, dan tertutup dapat dihilangkan dari konstruksi masyarakat saat ini.

Kegiatan penelitian pesantren saya kali ini membawa pada nilai-nilai tradisional pesantren salaf yang menjadi pemikiran masyarakat masih sangat sempit. Karena sebenarnya pesantren salaf tidak sepenuhnya menutup diri dari munculnya pendidikan formal yang memang menjadi kebutuhan para santri. Akan tetapi memberikan ruang tersendiri pada pendidikan formal, dengan tetap menjaga tradisi salafiyah berupa ngaji sorogan bersama pengasuh atau Kiai yang menjadi hal unik yang identik dengan  pesantren salaf. Ngaji sorogan ini yang kemudian mengenalkan saya dengan esensi keberadaan huruf arab pegon dikalangan santri. Dimana sejarah arab pegon dalam penyebaran agama Islam di Indonesia memiliki peranan penting. Hal ini yang kemudian harus diketahui oleh generasi muda muslim saat ini, untuk senantiasa merawat tradisi khas pesantren salaf yang mulai hilang, yakni: Ngaji sorogan dengan arab pegon.

Penelitian kepesantrenan ini mengajarkan saya untuk tetap merawat tradisi lama dan tmenerima serta memberika apresiasi penuh dengan terhadap perkembangan pengetahuan serta tradisi baru sebagai dampak modernisasi.

Nuril Qomariyah, Lahir di Bondowoso 2 Juni, 19 tahun silam. Merupakan Alumni dari Yayasan At-Taqwa Bondowoso sejak bangku TK, MI bahkan MTs., menghabiskan masa SMA di MAN Bondowoso, pernah nyantri di Ma’had Atqia Bondowoso dan di MSAA UIN Malang. Saat ia ini sedang menempuh studi di Jurusan Fisika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia adalah seorang aktivitas yang tidak terlalu menyenangi berdiam diri. Pecinta fisika dan sastra ini selalu berharap dirinya dapat menularkan semangat positif.

Memaknai Arti Nyantr

Memaknai Arti Nyantri, Ngopi, Ngaji dan Ngabdi di Dunia Pesantren

Oleh: Abu Dzarrin Bagus*

Di pesantren, santri itu identik dengan perihal “Nyantri, Ngopi, Ngaji dan Ngabdi”. Empat hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari kehidupan seorang santri. Sebelum masuk lebih dalam pada pembahasan tema tersebut, saya akan mengedentifikasi makna-makna dari empat hal diatas.

 Pertama, “Nyantri”. Nyantri adalah suatu proses dimana seseorang dipaksa (dibiasakan) untuk hidup serba sederhana, mandiri, disiplin, dan memiliki sifat tawadlu’ kepada seorang kiai atau pengasuh lembaga kepesantrenan. Pada proses ini santri digembleng untuk disiplin full day full night.

Hal inilah yang menjadikan seorang santri itu berbeda dari yang lain; dia sudah dilatih sedemikian rupa untuk siap menjadi kader-kader bangsa yang disiplin dan ber-akhlakul karimah. Sesorang yang memiliki title “Santri” biasanya dipandang lebih oleh masyarakat dengan anggapan ‘siapa yang nyantri, pastilah dia memiliki ilmu agama yang baik’.

Kedua, “Ngopi”. Ngopi adalah suatu aktivitas atau kebiasan yang mungkin sangat mengsyikan menurut sebagian santri. Kebanyakan dari pengopi, utamanya santri, menganggap aktivitas ini dapat menjadi sarana membukan imajinasi.

Muhammad Thom Afandi dalam sampul bukunya yang berjudul “Ngopi Di Pesantrenku Seri 2” menuliskan “Ngopi adalah Pelajaran, mengeja alifba’…ta’… kehidupan dalam lautan iqra’-Nya. Memberi mubtada’ dan mencari Khobarnya, memaknai Fi’il dan mentarkib Fa’il-maf”ulnya, sampai ketemu dengan jelas, kalam firman-Nya, irodah dalam ayat karunia-Nya. Pada setiap seruputan mendalam, menandai makna itu telah terengguk. Seruputan yang kedua dan setrusnya, sampai makna-makna itu menjadi lukisandan di akhir tegukan, lukisan itu telah memiliki warna”.

Lebih dari itu, menurut saya Ngopi adalah momentum dimana kita meresapi pahitnya kehidupan, sekaligus dituntut untuk terus melangkah menuju kebaikan yang akan mengantar kita kepada lautan rasa manis.

Keempat, “Ngaji”. Ngaji adalah kewajiban rutin yang harus di laksanakan oleh seorang santri. Hampir sama seperti belajar di sekolah, tetapi terdapat begitu banyak perbedaan. Diantaranya, di pesantren, Ngaji tidak mempelajari ilmu-ilmu umum. Ngaji lebih banyak mempelajari ilmu agama, sebagai contoh mengkaji Al-Qur’an, mulai belajar ilmu nahwu-shorof  (metode membaca) sampai ilmu tafsir—dengan merujuk kitab-kitab klasik atau biasa disebut kitab kuning.

Keempat, “Ngabdi”. Ngabdi adalah suatu hal yang lazim dilakukan seorang santri dengan tujuan ngalap barokah kepada kiyai. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Hadratus Syaikh K.H Hasyim Asy’ari ketika belia mondok di tempat K.H Cholil Bangkalan. Dimana KH. Hasyim Asy’ari dikenal sebagai santri yang sangat patuh kepada K.H Cholil.

Dikisahkan, pada suatu hari di saat hujan lebat, K.H Cholil mendapat seorang tamu, tamu itu di depan pondok dan sedang kehujanan. Ketika itu pula Mbah Cholil menawarkan kepada santrinya “siapa yang bias menjemput tamu saya di luar?”. Seketika itu Mbah Hasyim mengajukan diri untuk menjemput tamu itu, dengan sesegera mungkin Mbah Hasyim menghampiri tamu itu dan menggendonya untuk menemui Mbah Cholil.

Setelah sekian lama tamu itu di dalam ndalemnya Mbah Cholil, Mbah Cholil kembali bertanya kepada santrinya, “siapa yang mau mengantarkan tamu saya pulang?”. Lagi-lagi Mbah Hasyim menyanggupi permintaan Gurunya itu. Tamu itu di gendong lagi sampai ke gerbang pondok.

Di saat Mbah Hasyim mengatarkan tamu itu, Mbah Cholil berbicara kepada sebagian santrinya “ilmuku sudah dibawa orang itu”, yang di maksud di sini adalah Mbah Hasyim. Lalu Mbah Cholil berkata lagi “dan yang di gendong itu adalah Nabi Khidir AS”.

Dari cerita di atas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa “Sendiko dawuh” kepada kiyai dengan ikhlas, kelak akan membawa barokah tersendi pada santri. Sebagaimana K.H Hasyim yang menjadi Ulama kharismatik dan mendirikan sebuah organisasi besar di Indonesia, yaitu Nahdlotul Ulama (NU). Suatu organisasi yang berasaskan Ahlussunah wal jama’ah dan menjadi rumah  bagi para santri.

Selain itu, di dunia pesantren juga banyak melahirkan tokoh nasional. Hal itu karena seorang santri dituntut bukan hanya menjadi seorang ulama atau kiyai. Melainkan juga mengemban amanah lain, seperti menjadi seorang pemimpin dalam masyarakat sebagaimana semboyan “Shubanul naum rijalul ‘ghod” yaitu pemuda di masa sekarang adalah pemimpin di masa yang akan datang. Hadirnya santri dalam pemerintahan dibuktikan Presiden ke-4 Indonesia adalah seorang santri, beliau adalah Abdurrahman ad-Dhakil atau Abdurrahman Wahid atau yang akrab dikenal dengan Gus Dur. Selain beliau adalah seorang presiden beliau juga di kenal dengan kiyai kharismatik yang cerdas (cendekiawan).

Santri dimanapun dia berada harus berguna untuk orang lain, karena dalam identitas santri ada tanggung jawab keilmuan yang harus memberi maslahah bagi masyarakat di sekitarnya. Kesiapan itu contohnya apabila ada masyarakat yang mengadakan tasyakuran pasti yang menjadi pilihan pertama adalah dia yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren (Nyantri). Santri juga di tuntut untuk mendakwahkan ilmunya yang di peroleh ketika di pesantren, sesuai pedoman “Ajarkanlah ilmu-mu walau se-ayat”.

Sebagai santri zaman sekarang, kita harus pandai-pandai memanfaatkan teknologi yang ada. Salah satunya internet, santri tidak boleh kalah dalam berperan aktif di media sosial. Sebab, tidak sedikit dari pengguna media sosial ingin memecah belah bangsa kita ini melalui ujaran kebencian. Sudah saatnya santri berwawasan luas, bersatu dan berkiprah di kancah nasional dan bahkan internasional. Salah satunya bisa dilakukan dengan menulis dan menyalurkan pendapat yang konstruktif.

Menulis itu gratis dan tidak dilarang. Marilah kita meneruskan tradisi santri dahulu, yaitu menulis.

Abu Dzarrin Bagas

*Abu Dzarrin Bagas adalah santri di pondok pesantren Al-Amin Suburan Mranggen, Demak

RMI NU dan PT PGN

Berdayakan Santri Ma

Malang, – Sebanyak 120 santri se-Kabupaten Malang mengikuti pelatihan budidaya jamur yang diselenggarakan Perusahaan Gas Negara (PGN) bekerja sama dengan Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI NU).

Pelatihan tersebut diselenggarakan di Pondok Pesantren Al Huda Desa Patokpicis, Wajak, Kabupaten Malang, Rabu (20/3/2019). Pembukaan pelatihan dihadiri Vice President Strategi Stakeholder Manajemen PGN Santiaji Gunawan.

Hadir dalam kesempatan itu Ketua Umum PP RMI NU KH Abdul Gofar Rozi dan Pengasuh Pondok Pesantren Al Huda Gus Tajoel Arifin.

“Pelatihan budidaya jamur ini bertujuan untuk pengembangan UMKM berbasis pesantren,” ujar Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al Huda Gus Tajoel Arifin kepada TIMES Indonesia.

Baca juga: Melalui Worshop Pengembangan UMKM, RMI NU dan PT PGN Dukung Pengembangan Ekonomi Pesantren

Dia menjelaskan, bukan tanpa sebab dipilih pelatihan budidaya jamur untuk santri ini. Karena Pondok Pesantren Al Huda saat ini getol mengembangkan budidaya jamur.

“Hasil dari budidaya jamur kami jadikan aneka makanan olahan dan tepung dari jamur,” tuturnya. Menurutnya, budidaya jamur sangatlah mudah. Selain itu, tidak membutuhkan biaya yang sangat besar.

“Saya percaya santri bisa berbudidaya jamur, asalkan dilatih terlebih dahulu. Maka dari itu, kami latih para santri untuk berbudidaya jamur,” terangnya.

Setelah mengikuti pelatihan ini, dia berharap dapat diimplementasikan dengan baik oleh para santri.

“Sehingga para santri dapat memiliki skill dalam berbudidaya jamur yang tentunya bermanfaat bagi mereka nanti, seperti membuka usaha jamur sendiri,” terangnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Huda Gus Tajoel Arifin megatakan, melalui bantuan pelatihan budidaya jamur dari PGN dan PP RMI NU ini diharapkan pengembangan UMKM berbasis pesantren di Kabupaten Malang semakin menggeliat.

Berita dikutip dari timesindonesia.co.id dengan judul sama.

Gus Rozin

Melalui Workshop Pen

Malang, – Selain berperan sebagai pendidikan keagamaan, pesantren juga memiliki potensi serta kewajiban dalam mempersiapkan mental dan pengetahuan usaha bagi santri dan masyarakat sekelilingnya. Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI NU), KH Abdul Ghoffar Rozin (Gus Rozin), pada acara pembukaan acara Workshop pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) berbasis pesantren yang diselenggarakan RMI NU bekerjasama dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) di Pondok Pesantren Al Huda Klakah, Patokpicis, Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (20/3/2019) siang.

“Melalui pelatihan dan pengembangan peluang usaha yang bisa dilakukan oleh pesantren, santri dan masyarakat sekitar dididik untuk siap menghadapi tantangan dan peluang usaha yang semakin kompleks,” ungkapnya

Menurut Gus Rozin, Pesantren telah memiliki basis yang kuat, yaitu santri, alumni  dan masyarakat sekitar pesantren. Tiga komponen tersebut selain menjadi objek harus juga menjadi subjek dalam pemberdayaan. Berjalannya fungsi Pemberdayaan ini akan menjadi penggerak ekonomi umat.

“Santri tidak hanya bisa ngaji dan dakwah saja, namun juga bisa menjadi penggerak ekonomi umat, kalau di Kudus, dikenal dengan istilah “Gus Jigang” ( Ngaji dan dagang),”

Pada kesempatan tersebut, Staff Khusus Presiden Bidang Keagamaan Dalam Negeri itu menjelaskan, workshop pengembangan UMKM berbasis Pesantren yang akan dilaksanakan ini berfokus pada pelatihan pembudidayaan jamur tiram.

“Lahan yang tidak harus besar, modal usaha yang terjangkau, dan hasil yang bisa dipetik setiap hari merupakan sekian alasan yang utama bagi UMKM di pesantren untuk mencoba peluang agribisnis,” ungkapnya.

Baca juga: RMI NU Suarakan Kebersihan Pesantren

Sementara itu, perwakilan dari manajemen PT PGN Santiaji Gunawan berharap hasil kerjasama antara RMI NU dan PT PGN ini mampu menghasilkan para wirausahawan dari kalangan pesantren.

“Apa yang kita adakan hari ini kami berharap, dari pesantren ini melahirkan wirausaha-wirausaha muda yang mampu memimpin dunia usaha,” terang  Santiaji yang menjabat sebagai Group Head of Strategic Stakeholder Management PGN.

Acara workshop ini, rencananya akan digelar selama dua hari, Rabu-Kamis (20-21/3/2019). Kegiatan yang diikuti sekitar 120 peserta dari elemen pesantren, masyarakat sekitar, pelaku UMKM ini akan dipandu Dr. Damanhuri dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang dan tim dari Lembaga Pengembangan Pertanian PWNU Jawa Timur. [ZAM]

Pesantren Digital

Menuju Pesantren Mah

Menuju Pesantren Maha-Digital (Pesantren  In The Cloud)

Oleh: Moh. Ahsan Shohifur Rizal[1]

Memiliki Big Data sebagai aset NU yang dinahkodai pesantren–melangkah jauh dan melampaui batas intelektual untuk menyambut dunia baru, demi terwujudnya masa depan organisai yang memiliki kredibiltas dan eksistensi di era digital–,tentu merupakan mimpi manis yang patut dipikirkan. Menurut saya, ini merupakan investasi digital yang perlu dimulai dengan berbagai kreasi dan bentuknya, guna menunjang dan menopang eksistensi organisasi.

Hal demikian tentu tidak sekedar mimpi belaka, melainkan target yang perlu rancang pelan-pelan dan diwujudkan, melalui langkah-langkah strategis. NU sangat berpeluang untuk mewujudkan hal tersebut, sebab telah didukung adanya Santri-Akademik, yang memiliki kemampuan menggabungkan/menalfidkan ilmu pesantren dan ilmu umum, dalam melihat berbagai wacana yang ada.

Pada tema ini, penulis mengemasnya dalam akronim “BK2M”: Big Data, Kajian dan Pergerakan, Membangun dan Menyediakan Open Recourse dan Media digital. Semua invetasi itu wajib ditambahkan kata NU untuk menguatkan eksistensi dan memudahkan masyarakat ketika berselancar di dunia maya. Baik, mari kita bahas satu persatu sebagai berikut;

Big Data/Maha Data NU

Dewasa ini, seolah sudah menjadi keharusan bahwa setiap organisasi harus memiliki atau bersistem mahadata. Mengapa hal itu harus dilakukan?, dikarenakan sebuah organisasi harus mampu memperoleh, mengolah dan menganalisis data besar yang dimiliki organisnasi, khususnya Pesantren. Apa yang dimiliki dan disimpan?, meliputi data aset, karya-NU, kajian NU dan karya atau aset lain yang bisa didigitalisasikan.

Prinsipnya data bisa diakses kapan saja, dimana saja dan oleh siapa saja. Data itu bisa berupa kajian-kajian yang sudah tidak lagi populer dan tidak banyak beredar, khususnya mengkaji karya-karya kyai Nusantara–termasuk hasil kajian kader NU. Hal itu tentu merupakan wujud nyata dalam menyelematkan karya para ulama kita.

Alhamdulillah sekarang sudah ada “Maktabah Syamila” mega digital kitab kuning seluruh dunia, ada hampir enam ribu judul lebih. Tetapi karya itu hanya terbataa bagi para santri yang ahli dalam bahasa arab. Terutama yang membidangi bahstul masail.

Kajian dan Pergerakan Lintas Sektoral Bermuatan NU

Dalam dunia pendidikan, NU sudah banyak perannya dalam berbagai bidang. Tetapi sesuai pengalaman saya menjadi pendidik, kebetulan menjadi pengelola sekolah adiwiyata atau sekolah berbudaya lingkungan, sangat sedikit sekali sekolah NU yang menjalankan program itu. Padahal bidang itu ajang memberikan kiprah positif terhadap Indonesia, bagaimana peduli terhadap berbudaya dan lingkungan, baik di sekolah, di rumah atau di masayarakat sekitar.

Walauun begitu, ketika mengikuti program PKPNU, saya melihat kita sudah menerapkan aksi bebas sampah, artinya kesedaran tentang peduli lingkungan sudah ada.  Mungkin hal tersebut terlihat kecil, tapi jika dikaji program itu telah memberikan efek luar bisa, terutama dalam hal membersihkan sampah, meski belum sampai pada pola pengelolaannya.

Selain itu, mari kita memunculkan Olimpiade Maarif NU secara online, bekerja sama dengan lintas sektoral Dinas Pendidikan maupaun Kementerian Agama. Berdasarkan pertimbangan, siswa NU butuh nutrisi materi NU dengan gaya berbeda, yakni melalui olimpiade tersebut.

Dari situ, otomatis buku-buku NU harus diseleksi betul bahkan jika perlu mengenai sejarah NU ditashih oleh pakar sejarah NU, secara praktis buku NU akan menjadi sumber rujukan primer untuk mengikuti kegiatal olimpiade NU. Sebenarnya banyak hal penulis inginkan dan mimpikan, paling tidak nantinya pesantren akan menjadi pelopor organisasi yang mampu trans-sektoral untuk membantu kerja NU khususnya dalam kaitanya bidang penelitian, pengabdian dan pelatihan (sertifikasi NU).

Membangun dan Menyediakan Open Recources Khas NU

Jika sudah memiliki sistem rumah e-organisasi selanjutnya adalah untuk mengisinya dengan karya-karya monumental ulama-ulama NU dan sarjana-sarjana NU. Yang dapat diakses gratis oleh warga NU yang diintegrasikan dengan sistem Karta NU. Sehingga warga NU bisa mengakses kapanpun-dimanapun karya para ulama dan sarjana NU untuk dijadikan sebagai sumber rujukan dalam menjawab berbagai hal problematika kehidupan sekarang.

Para sarjana NU yang memiliki berbagai disiplin keilmuan masing-masing itu, tentu harus harus kuat memegang ideologi NU (Islam Ahlussunah Wal Jamaah). Sehingga pemikiran-pemikiran mereka tetap dalam koridor ke-NU-an.

Selain itu, hari ini sudah sangat banyak open recources yang telah disedikan oleh penyedia luar negeri, dalam konten itu karya-karya monumental para pakar dunia dapat diakses secara gratis. Terdapat jutaan judul dari berbagai disiplin ilmu yang dapat diakses untuk menopan penguatan kapasitas intelektualitas yang bisa kita manfaatkan.

Media Maha Digital NU

NU dan Media harus menjadi satu. Keduanya harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat, dimana digitalisasi itu dapat dimaksimalkan untuk ajang penyebaran produk pemikiran NU kepada seluruh warga NU, utamanya kepada kenerasi Z.

Penting memikirkan rumah besar bernama  NU itu juga menjadi tempat singgah yang nyaman bagi mereka. Salah satu caranya NU harus membuat mega-link atau peta jaringan mulai dari pusat hingga pengurus ranting, contohnya nama web mulai pusat hingga ranting harus seragam. Sehingga jelas bahwa media NU adalah yang memiliki jaringan link yang dibuat oleh pusat. Nama domain diatur terstruktur, hingga media sosial resmi organisasi juga harus memiliki relasi diseluruh tingkat mulai ranting hingga pusat.

Saya berharap, jangan sampai warga NU menjadi obyek di era digital tetapi kita harus bisa menjadi subyek, utamanya dalam pengembangan ke-islam-an NU dan dakwah islam yang rahmatan lil alamin. Dengan media, kita bisa melakukan dakwah kapan saja, dimana saja. Kita bisa memanfaatkan berbagai media sosial (internet) untuk menguatkan, mengokohkan dan bahkan melebarkan sayap NU dikancah internasioanl.

Semoga sedikit ulasan artikel ini bermanfaat, penulis menyadari bahwa apa yang dimimpikan sangat berat untuk diwujudkan. Tetapi jika ada kemauan-kemampuan-kesempatan insyallah akan terwujud. Mungkin juga artikel ini juga sudah usang karena baru muncul hari ini, penulis mohon maaf atas ketidakfaktualan informasi yang kai terima.


[1] Alumni Santri PP Sabilurrosyad Gasek dan Kandidat Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang

ilustrasi literasi pesantren

LITERASI SEBAGAI MED

Literasi Sebagai Media Dakwah Santri: Studi Kasus Ponpes Darul Falah Be-Songo Semarang

Oleh : Nur Koles

Pesantren selama ini dikenal sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam. Namun demikian, sesungguhnya pesantren turut memainkan peranan yang cukup signifikan dalam membina dan mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk menggapai keunggulan (excellence). Sebagai lembaga pendidikan Islam pondok pesantren sepanjang sejarahnya telah berperan besar dalam upaya-upaya meningkatkan kecerdasan dan martabat manusia.

Fungsi pesantren tersebut hingga kini tetap harus terjaga dengan baik, bahkan sebagian telah mengembangkan fungsi dan perannya sebagai pusat pengembangan di berbagai masyarakat (Said Aqil Sirajd, 1998 : 140). Pesantren pun dituntut untuk menciptakan generasi muslim yang independen dan memiliki life skill yang dapat diandalkan, demi mencapai kemandirian hidup para santri dan pelajar. Hal inilah yang dibutuhkan dalam menghadapi era globalisasi. Sebab, persaingan di era globalisasi hanya dimenangkan oleh manusia yang berkualitas (Zulkifli, 2002 : 160).

Di kalangan pesantren sendiri, setidaknya sejak dasawarsa terakhir telah muncul kesadaran untuk mengambil langkah-langkah tertentu guna meningkatkan kualitas SDM yang mampu menjawab tantangan dan kebutuhan transformasi sosial (pembangunan). Dari sinilah timbul berbagai model pengembangan SDM, baik dalam  bentuk perubahan kurikulum pesantren yang lebih berorientasi kepada kekinian, dalam bentuk kelembagaan baru, atau sekolah-sekolah umum di lingkungan pesantren (Nurcholis Madjid, 1999 : 17).

Berkaitan dengan hal tersebut, mengatakan bahwa (santri) harus dibekali dengan berbagai kemampuan sesuai dengan tuntutan zaman guna menjawab tantangan globalisasi, berkontribusi pada pembangunan masyarakat dan kesejahteraan sosial, lentur, dan adaptif terhadap berbagai perubahan.

Bahkan di beberapa pesantren telah melakukan reorientasi pendidikan yang lebih menekankan life skill dengan memperkenalkan pelatihan-pelatihan keterampilan dalam sistem pendidikannya. Seperti halnya di pondok pesantren yang menjadi tempat belajar sekaligus persinggahan saya saat ini yaitu Ponpes Darul-Falah Be-Songo yang terkenal dengan Pondok Pesantren Life Skill, para santri dibekali berbagai ilmu ketrampilan mulai dari memasak, menjahit, menyablon, menulis, dan lain-lain. Pesantren Mahasiswa Darul Falah Be-Songo telah mencoba melakukan langkah improvisasi metodologi, yaitu memperluas penyebaran wacana dan keilmuan melalui tulisan, lewat program Jurnalistik Praktis.

Pesantren Mahasiswa Darul Falah Be-Songo memiliki visi-misi membimbing dan mencerdaskan santrinya agar siap menyongsong masa depan melalui program kepenulisan. Kegiatan itu merupakan gabungan antara unsur vocational dan pengembangan keilmuan. Para santri di pesantren tersebut dibimbing untuk menjadi penulis yang siap menghadapi masa depan, berdarma dan berjuang melalui ilmu yang dimilikinya. Para santri dibebaskan menempuh jalan yang berbeda-beda sesuai kompetensi dan kemampuan masing-masing dalam kerangka kepenulisan dengan idealisasi masuk ke media massa dan dunia perbukuan. Mereka bisa memilih cerpen, opini, puisi, artikel, atau yang lainnya.

Pengarahan visi-misi melalui program semacam Jurnalistik Praktis paling tidak bisa mengandung tiga kelebihan. Pertama, improvisasi metodologi bagi keilmuan santri; kedua, aktualisasi keterampilan menulis (vocational); dan ketiga, penanaman prinsip belajar untuk menjadi (learning to know) atau belajar untuk memperoleh pengetahuan guna melakukan pembelajaran selanjutnya dan (learning to do). Dengan kata lain, belajar untuk memiliki kompetensi dasar dalam hubungan dengan tim kerja yang berbeda-beda.

Program Jurnalistik itu sendiri merupakan kegiatan yang secara khusus membimbing santri menuju profesionalisme kepenulisan. Artinya, program ini hendak mengembangkan potensi kepenulisan para santrinya dalam bidang kepenulisan yang menitikberatkan pada aspek praktik daripada teori. Karena itu, perlu dilihat, pertama, bagaimana pelaksanaan program Jurnalistik di Pesantren Mahasiswa Darul Falah Be-Songo; dan, kedua, apa hasil dan manfaat usaha pengembangan potensi kepenulisan santri melalui program Jurnalistik Praktis tersebut.

Pesantren Mahasiswa Darul-Falah Be-Songo Semarang dirintis oleh Prof.K.H. Imam Taufiq M,Ag pada tahun 2008. Untuk membiasakan budaya kepenulisan diagendakan Program Jurnalistik Praktis. Jurnalistik Praktis adalah suatu kegiatan yang masuk dalam kurikulum semi otonom  pesantren Darul-Falah Be-Songo yang secara khusus berusaha mengarahkan para santri dalam bidang kepenulisan (Wawancara : Ketua Pondok, 27 Feb 2019). Kurikulum semi otonom pesantren adalah kurikulum pesantren yang di dalam pelaksanaannya mengambil waktu dan jam tersendiri, lepas dari jadwal pelajaran yang telah ditentukan.

Jurnalistik Praktis oleh pihak pesantren diartikan sebagai latihan kepenulisan yang dilaksanakan untuk mengikuti isu-isu aktual di media massa berupa berita/reportase dalam  bentuk opini, resensi buku, puisi, essai sastra, cerpen, novel yang menitikberatkan pada aspek praktik dalam pelaksanaannya. Jurnalistik Praktis dari pihak pesantren juga mempunyai tujuan tertentu.

Secara garis besar tujuan tersebut dibagi kedalam tiga bagian; Pertama, dengan diadakannya pelatihan Jurnalistik Praktis diharapkan para santri bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan keilmuan melalui media massa dengan menggunakan cara atau jalan yang berbeda-beda. Kemampuan, bakat dan minat para santri diharapkan bisa diarahkan menuju pengapresiasian pendapat dan keinginan terhadap sasaran yang lebih luas, yaitu khalayak.

Para santri bisa menyampaikan apa yang diyakini sebagai kebenaran (dalam syariat Islam) melalui berbagai media, bisa lewat artikel, cerpen, puisi, buku, novel dan sebagainya. Para santri mempunyai latar belakang dan pendidikan yang berbeda-beda, diharapkan bisa melahirkan kontribusi yang bermanfaat melalui tulisan, sesuai dengan kompetensi dan bidang masing-masing. Santri mahasiswa yang di Fakultas Tarbiyah dapat menyampaikan kontribusinya tentang pendidikan, Fakultas Syariah tentang hukum, Fakultas ilmu sosial dan politik menyampaikan gagasanya seputar dunia kepolitikan, Fakultas Ushuluddin tentang dasar-dasar agama, Fakultas Dakwah tentang alternatif pengembangan Islam melalui media massa.

Kedua, dengan Jurnalistik Praktis para santri bisa menjalani proses menuju hidup mandiri, karena pengasuh menyarankan agar semaksimal mungkin tidak menggantungkan orang tua, meskipun harus bersusah-susah dan kerja keras. Dengan termuatnya tulisan di media-media massa akan mendatangkan konsekuensi finansial, yaitu berupa honor. Dengan adanya konsekuensi tersebut, jika para santri telah mapan dalam dunia kepenulisan, bisa memprediksi kemampuannya dan peka terhadap momentum, maka untuk biaya hidup dan perkuliahan menjadi tidak masalah, artinya kemandirian telah tercapai dengan bekal keilmuan.

Ketiga, dengan Jurnalistik Praktis diharapkan dapat membimbing dan mengarahkan para santri di dalam kebiasaan membaca. Hal ini sangat prinsip di dalam dunia kepenulisan, karena dalam menulis yang parameternya adalah selera khalayak melalui tim redaktur masing-masing media massa diperlukan kepekaan dan wawasan yang luas. Hal ini bisa dicapai jika santri benar-benar rajin membaca dan belajar, baik itu dari literatur-literatur yang berwujud wacana ataupun realitas yang ada. Dengan demikian, membaca dan belajar kepada realitas menjadi sebuah kebutuhan, dan kebutuhan itu akan dicari oleh pihak yang membutuhkan selama dia hidup.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dilihat bahwa pada dasarnya apa yang dilakukan oleh pihak pesantren tersebut adalah salah satu alternatif yang bisa dikatakan unik untuk dunia pesantren. Pesantren tersebut telah berusaha mengintegrasikan antara vocational dengan pengembangan keilmuan. Menulis dalam hal ini dapat di masukkan ke dalam vocational dan pengembangan keilmuan, karena pada dasarnya kedua hal tersebut dapat dicapai dalam dunia kepenulisan.

Menulis sebagai sebuah ketrampilan, jika dilakukan dengan maksimal dan telah mencapai kemapanan (dalam arti cukup bisa membaca selera redaktur dan masyarakat umum) akan mendapatkan konsekwensi finansial, yaitu berupa honor. Untuk penulis buku bisa melalui royalti (pembayaran tidak langsung) ataupun langsung. Untuk honor yang didapat, khususnya media-media massa yang jangkauannya luas atau nasional, juga relatif besar dibanding yang lokal. Misalnya harian Kompas, satu tema opini yang termuat bisa mendapatkan honor sekitar empat ratus sampai delapan ratus ribu rupiah, Jawa Pos sekitar dua ratus ribu rupiah, Kedaulatan Rakyat sekitar seratus ribu rupiah.

Yang paling penting di sini adalah nilai positif yang dapat dipetik, khususnya kebiasaan membaca yang akan terpupuk jika seseorang gemar menulis. Bagi orang-orang yang terlibat di dalam dunia pendidikan dan memerlukan banyak wacana tentunya akan lebih peka dalam  memahami maksud yang terkandung di dalam berbagai literatur sebagai efek dari sebuah kebiasaan membaca.

Dengan demikian, penguatan literasi untuk kalangan santri atau pelajar merupakan salah satu cara alternatif berinovasi dan berkolaborasi dalam membangun kemandirian santri di masa yang akan datang.

Penulis kelahiran Tuban Jawa Timur, alumni ponpes Al-Madienah Denanyar Jombang. Saat ini sedang menempuh pendidikan di UIN Walisongo Semarang dan sekaligus belajar di Ponpes Darul Falah Be-Songo.  
Email : Kholiznoer15@gmail.com

Daftar Pustaka

1. Siraj, Said Aqil. 1999. Pesantren Masa Depan. Bandung: Pustaka Hidayah.
2. Zulkifli. 2002. Sufi Pesantren. Yogyakarta: LKIS.
3. Madjid, Nurcholis. 1999. Bilik -bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta: Paramadina.