dafit

PP. Darussalam Blokagung

Peran Pondok Pesantr

“Peran Pondok Pesantren Darussalam Blokagung dalam Pengembangan Pendidikan”
Oleh : M. Abdul Aziz*

Pesantren merupakan lembaga pendidikan non formal yang lebih menekankan pada pendalaman ilmu keagamaan. Dalam sejarah dapat dilihat bahwasanya pesantren tidak hanya memiliki peran sebagai sebuah lembaga pendidikan semata, namun juga turut andil dalam perjuangan untuk mencapai kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan dari penjajah. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya santri pesantren yang berjuang melawan penjajah. Misal saja dari peristiwa resolusi jihad yang dicetuskan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari di Surabaya menunjukan perjuangan laskar Hisbullah melawan para penjajah.

Selain sebagai lembaga yang membantu perjuangan Indonesia dalam mencapai dan mempertahankan kemerdekaan, pesantren yang juga sebagai lembaga dakwah Islam memiliki peran yang juga tak kalah penting dalam proses penyebaran agama Islam di Indonesia. Bertempat didaerah Banyuwangi, tepatnya didusun Blokagung kecamatan Tegalsari kabupaten Banyuwangi, terdapat sebuah lembaga pendidikan baik keagamaan (pondok pesantren) sekaligus pendidikan formal yakni Pondok Pesantren Darussalam Blokagung.

KH. Muhtar Syafa’at atau lebih sering dipanggil Mbah Kyai, pengasuh dan pendiri pondok pesantren Darussalam Blokagung Tegalsari Banyuwangi mempunyai peran penting dalam proses penyebaran agama Islam di Banyuwangi yang pada masanya mayoritas penduduk Blokagung masih beragama Hindu. Sosok KH. Mukhtar Syafa’at yang banyak menguasai ilmu keagamaan menjadikannya seorang yang disegani oleh para santri dan masyarakat Blokagung karena selain dalam bidang ilmu keagamaan, KH. Mukhtar Syafa’at memiliki perangai yang santun, ramah dan menjadi tauladan bagi para santri serta masyarakat sekitar.

Pondok pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi yang notaben nya sebagai lembaga pendidikan keagamaan juga tak mau lepas tangan terhadap pentingnya pendidikan formal. Hal ini terbukti dengan adanya pendidikan formal dalam kurikulum pondok pesantren Darussalam Blokagung mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar Darussalam (SD), MTs Al-Amiriyyah, SMP Plus Darussalam, MA Al-Amiriyyah, SMA Darussalam, SMK Darussalam dan Institut Agama Islam Darussalam (IAIDA) serta Akademi Komunita Darussalam (AK Darussalam).

Selain sebagai lembaga pendidikan formal, pondok pesantren Darussalam Blokagung juga sebagai lembaga pendidikan keagamaan (pendidikan non-formal) yang biasa dikaji dalam pondok pesantren. Pendidikan non formal yang ada di Pondok Pesantren Darussalam Blokagung juga memiliki beberapa pembagian yang mana diantara banyaknya pembagian tersebut dimaksudkan sebagai tolak ukur dari setiap santri yang mempelajarinya. Pendidikan non formal atau juga bisa disebut dengan Madrasah Diniyyah di pondok pesantren Darussalam Blokagung pun juga memiliki tingkatan yang setara dengan pendidikan formal. Tingkatan-tingkatan dalam Madrasah Diniyyah Darussalam Blokagung diantaranya adalah, pertama yaitu Madrasah Dinniyah tingkat Ula yang mana madrasah diniyyah ini sama tingkatannya dengan sekolah dasar dalam pendidikan formal. Kedua, Madrasah Diniyyah Wustho. Madrasah diniyyah Wustho ini setingkat dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dalam pendidikan formal. Ketiga, Madrasah Diniyyahtingkat Ulya yang juga setingkat dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam pendidikan formal. Dan yang terakhir adalah Ma’had Aly yang mana ma’had aly ini juga setingkat dengan perguruan tinggi dalam pendidikan formal.

Pendidikan formal yang ada di pondok pesantren Darussalam Blokagung tersebut memiliki kurukulum pendidikan yang selalu mengikuti perkembangan dunia pendidikan nasional. Dari banyaknya pendidikan formal yang terdapat di pondok pesantren Darussalam Blokagung tersebut membuktikan bahwasanya pondok pesantren Darussalam Blokagung memiliki peran dalam bidang pendidikan untuk semua kalangan yang ingin mendapat pendidikan secara formal selain pendidikan keagamaan yang menjadi ciri khas setiap pondok pesantren yang ada di Indonesia.

Selain mengajarkan mengenai ilmu keagamaan dan juga pendidikan formal, pondok pesantren Darussalam Blokagung juga memberikan ruang untuk para santri mengembangkan bakat dan minat sesuai dengan kemampuan dan keahlian santri dengan adanya ekstrakulikuler. Dari banyaknya ekstrakulikuler yang ada untuk mengembangkan minat dan bakat para santri ini menunjukan bahwasanya dewasa ini pondok pesantren tidak hanya mengajarkan tentang ilmu agama semata, namun juga banyak memiliki ekstrakulikuler yang turut membantu pembelajaran bagi para santri. Sebagai contoh saja terdapat ekstrakulikuler Maziyatul Fata yang mana ekstrakulikuler ini mengajrakan terhadap para santri agar bisa menjadi da’i yang handal yang langsung dibimbing oleh para pembimbing yang handal.

Pondok Pesantren Darussalam Blokagung saat ini menjadi salah satu pondok pesantren terbesar di Banyuwangi terus melakukan pembangunan dan perbaikan baik dari segi infrastruktur seperti gedung pendidikan dan juga memberi tenaga-tenaga pengajar yang berkompeten dalam bidangnya masing-masing. Hal tersebut dimaksudkan guna terus mendukung dan mendakwahkan bahwasanya pendidikan dalam pondok pesantren juga mampu bersaing dalam perkembangan teknologi yang semakin maju seperti saat ini. Peran pondok pesantren dalam lembaga pendidikan dan dakwah dewasa ini sudah semakin berkembang dengan pesat seiring perkembangan teknologi yang terus maju. Pondok pesantren Darussalam Blokagung yang menjadi salah satu dari banyaknya pondok pesantren di Indonesia menjadi sebuah lembaga pendidikan dan juga lembaga dakwah dalam penyebaran ajaran Islam yang selalu mengikuti zaman.

Terakhir dalam tulisan singkat ini penulis menyatakan bahwasanya peran pondok pesantren sekarang ini telah mengalami perubahan. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam pondok pesantren terjadi lantaran perkembangan teknologi serta revolusi industri 4.0. Namun, perubahan tersebut bukan menjadi hambatan bagi pondok pesantren untuk tetap eksis sampai sekarang. Pesantren masih menjadi lembaga pendidikan dan dakwah islam yang banyak diminati oleh kalangan masyarakat baik Indonesia bahkan sampai luar negeri.

*Alumni PP Darussalam Blokagung, sekarang melanjutkan pendidikan S1 di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Nurul Jadid

Pesantren dan Pemban

Pesantren dan Pembangunan Masyarakat : Analisis Panca Kesadaran Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid
Oleh : Imron Sadewo*

Sering orang menggambarkan pesantren sebagai Lembaga tradisonal-konservatif, anti perubahan, jumud dan tidak progresif. Klaim-klaim seperti ini terjadi kemungkinan karena label salaf yang sering dipakai pondok pesantren selain tampilan komunitas pesantren yang terkesan seadanya dengan pakaian sarung-kopyah dan sandal jepit serta jauh dari glamoritas modern dengan luberan merk-merk pakaian terkenal, wah dan prestisius, Padahal sejatinya, tampilan luar pesantren yang membentuk identitas atau sub-kultur, menurut Gus Dur,  seperti itu tidaklah kemudian menunjukkan pesantren anti kemoderenan

Sikap terbuka pesantren dengan paradigma kelenturannya untuk menerima yang baru asal tidak bertentangan dengan ajaran fundamental Islam bisa menjadi barometer bahwa, pada wataknya pesantren sangat akomodatif dengan setiap perubahan. pesantren tidak anti perubahan sosial, tidak anti pembaharuan dan tidak anti modemisasi. Keaslian dan kesejatian tradisi pesantren tetap dapat dipertahankan, sementara unsur-unsur modernisasi dapat pula diserap Oleh pesantren.

pesantren sebagai Lembaga tradisional pendidikan islam di Indonesia tentu telah mengalami proses perubahan dan modernisasi untuk dapat survive sampai hari ini. Eksistensi pesantren sampai hari ini bukan hanya karena memiliki potensi Sebagai lembaga yang identik dengan makna keislaman. tetapi juga karakter eksistensialnya sebagai lembaga Pendidikan Islam yang mengandung makna keaslian Indonesia. Untuk menghadapi modernisasi dan perubahan yang kian cepat dan berdampak luas, pesantren telah melakuan akomodasi dan konsensi-konsensi tenentu untuk menemukan pola yang dipandangnya cukup tepat tanpa mengorbankan esensi-esensi dasar dalam eksistensi pesantren.  akomodasi dan konsensi dipandang perlu Oleh pesantren agar tetap dapat menanamkan nilai-nilai relevansinya di masyarakat.

Dengan kepercayaan masyarakat yang melekat pada pesantren, tentu saja menuntut pesantren selalu mengejawantahkan tiga fungsi yang melekat padanya. Tiga fungsi tersebut adalah; pertama, sebagai media pengkaderan bagi pemikir-pemikir agama (centre of excellent). Kedua, sebagai lembaga yang mencetak sumber daya manusia (SDM). Dan ketiga, sebagai lembaga yang melakukan pemberdayaan masyarakat. Selain itu, pesantren juga dipahami sebagai bagian yang terlibat aktif dalam proses perubahan sosial di tengah perubahan yang terjadi di Indonesia.

Salah satunya adalah PP Nurul Jadid, dalam mengimplementasikan beberapa fungsi tersebut, menitikberatkan pada adanya panca kesadaran (al-wa’iyyat al-khamsah). Panca kesadaran ini meliputi kesadaran beragama, berilmu, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta kesadaran berorganisasi. Panca kesadaran inilah yang menjadi titik tolak dan citra diri santri, baik dalam proses pembentukan jati dirinya ketika masih nyantri, hingga berperan aktif dalam membangun masyarakat.

Kesadaran Beragama

Bagi santri Nurul Jadid kesadaran beragama merupakan titik awal yang harus terpatri dalam dirinya. Kesadaran beragama haruslah dilandasi dengan adanya wawasan keagamaan yang luas, tanggung jawab keagamaan yang tinggi dan penghayatan keagamaan yang mendalam. Apalagi dalam tradisi keilmuan Islam sendiri, antara ilmu dan amal haruslah berjalan beriringan

Kesadaran keagamaan ini, mencangkup tiga aspek, yaitu aqidah, ibadah dan akhlak. Aqidah merupakan kualitas dasar yang harus dimiliki oleh setiap santri Pondok Pesantren Nurul Jadid.Yang dimaksud aspek akidah adalah keyakinan yang mantap bahwa Allah SWT itu Maha Esa dan hanya Dia yang berhak disembah, dan Nabi Muhammad adalah nabi terakhir; segala berita yang dibawa oleh Nabi Muhammad harus dipercaya, baik berupa Al Quran maupun Al Hadits. Inti aqidah adalah tersimpul dalam dua kalimat syahadat, yaitu kesadaran yang utuh untuk  bersaksi bahwa mereka bertuhankan Allah dan pengakuan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Dua kalimat syahadat ini harus menjadi pandangan hidup keagamaan setiap santri, agar mereka terbebas dari segala bentuk perbudakan dan dapat terbentuk jiwa besar yang mandiri, namun tetap tawakal dan tawadlu’.

Jika aqidah sudah kuat maka akan melahirkan keimanan dan jika keimanan sudah kuat maka akan melahirkan ibadah. Aspek kedua ini (ibadah) ini, dibagi menjadi dua, yaitu ibadah mahdlah/muqayadah  (formal, terikat oleh sarat dan rykun tertentu); dan ghairu mahdlah/muthlaqah ( non formal, teknik operasionalnya tidak terikat oleh syarat dan rukun tertentu). Ibadah mahdlah terdiri dari empat rukun selain syahadat dari kelima rukun islam, yaitu sholat, puasa, zakat, dan haji. Sementara ibadah ghairu mahdlah adalah aktifitas ibadah selain ibadah mahdlah, seerti mengamalkan aktifitas ibadah sebagaimana pernah diamalkan oleh Nabi Muhammad SAW, baik puasa ataupun lainnya.

Penekanan pada aspek ibadah tersebut juga tertuangkan dalam tiga kriteria santri, utamanya pada kriteria santri yang pertama, yaitu memperhatikan perbuatan-perbuatan fardlu ‘ain.

Dalam kontek ibadah ini, harus ada kesdaran bahwa manusia itu tidak mempunyai wewenang sama sekali dalam mengadakan upacara peribadatan sendiri yang tidak diatur oleh Allah SWT. dan rasulNya. Aspek yang ketiga adalah akhlak. Aspek ini lebih ditujukan kepada pembentukan kepribadian dan perilaku santri agar sesuai dengan moralitas dan nilai-nilai islam. Aspek ihsan disini terbagi menjadi dua: akhlak budi pekerti dan tatakerama. Akhlak budi pekerti pertama masih terdapat dalam hati dan terdiri dari niat, pikiran dan sifat-sifat yang bertujuan untuk kebaikan dan kemuliaan. Sementara yang kedua, adab tatakerama adalah aktualisasi dari akhlak budi pekerti yang tampak dari sikap dan perilaku manusia. Aspek akhlak atau moralitas ini tidak hanya menyangkut individu (perseorangan), tapi juga sosial, seperti tertib kemasyarakatan, amar ma’ruf dan nahi mungkar serta tatasusila dalam keluarga dan seterusnya.

Kesadaran Berilmu

Ilmu secara definitif berarti mengetahui yang tidak diketahui (idrakul majhul), sesuatu yang belum diketahui. Sebagai makhluk yang diberkahi akal-fikiran oleh Allah swt, manusia diharuskan mencari ilmu sebagai bekal dirinya dalam meniti jalan kehidupan. Tanpa ilmu, niscaya manusia akan mengalami begitu banyak kesulitan-kesulitan dalam menempuh perjalanan hidupnya. Sebab itu, Nabi Muhammad saw bersabda, “carilah ilmu sejak dari ayunan orang tua hingga masuk liang lahat” dan “carilah ilmu hingga ke negeri Cina”.

Ilmu pengetahun terbagi menjadi dua, yaitu ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan duniawi. Para santri diharapkan menguasai kedua ilmu tersebut. Lebih jauh, kesadaran ilmu pengetahun duniawi harus diintegrasikan dengan kesadaran ilmu pengetahuan agama. Atau istilah populernya adalah integrasi antara ilmu pengetahuan dan tekhnologi (Iptek) dengan iman dan taqwa (Imtaq). Dengan demikian, nantinya diharapkan para santri bisa menjadi ilmuwan yang muslim dan atau muslim yang ilmuwan.

Namun demikian, jika para santri tidak mampu menguasai kedua ilmu tersebut secara maksimal dan mengintegrasikannya, diharapakan adanya kerjasama antara santri yang menguasai ilmu agama dengan santri yang ahli dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Kerjasama ini ditujukan demi terbentuknya sebuah dialektika yang bisa mengisi kekurangan masing-masing santri melalui kelebihan yang ada pada diri mereka masing-masing, sehingga akan menciptakan sebuah perpaduan yang baik. Lebih jauh, dengan adanya kerjasama itu, santri diharapkan dapat memberikan yang terbaik bagi pembangunan bangsa dan negara Indonesia untuk meraih cita-cita negara yang sejahtera dan dianugerahi oleh Tuhan.

Pendapat beliau di atas bertolak dari beberapa alasan; pertama, firman Allah swt dalam surat al-Mujadalah, ayat 11, yaitu Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan [juga meninggikan] orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan [bersama firman-Nya] dalam beberapa derajat.

Kedua, kisah tentang Abu Ubaidah bin Jarrah. Waktu itu, Umar bin al-Khattab ra, khalifah kedua setelah Abu Bakar al-Siddiq ra, sangat mengagumi Abu Ubaidah. Ia adalah orang yang luas ilmu pengetahunnya dalam bidang duniawi, seperti ilmu sosiologi (kemasyarakatan), ilmu perekonomian, ketatanegaraan, dan pertanahan. Lebih dari itu, Abu Ubaidah juga dikenal di kalangan sahabat sebagai orang yang mempunyai kebribadian yang luhur dan sangat jujur dalam memegang amanah (tanggung jawab). Oleh karena itu ia terkenal dengan gelar “Aminul Ummah”. Gelar tersebut ia peroleh dari Nabi Muhammad saw. Waktu itu Nabi bersabda, “sesungguhnya setiap ummat mempunyai orang yang dipercaya dan orang yang dipercaya bagi ummat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah”.

Ketiga, kenyataan dalam dunia modern sekarang ini bukan lagi tergantung kepada kesuburan tanah dan banyaknya tambang-tambang, tetapi tergantung kepada kemampuan berfikir penduduknya. Bertolak dari kenyataan dunia modern tersebut (mengenai hubungan ilmu dan agama) antara keduanya terdapat hubungan yang erat dan kuat.

Dari sini, dapat diketahui bahwa kesadaran pertama (beragama) dari panca kesadaran di atas amat erat hubungannya dengan kesadaran yang kedua (berilmu). Sebab jika salah satu di antara keduanya ditinggalkan, niscaya manusia akan mengalami ketidakseimbangan dalam menapak alur kehidupannya. Pernyataan ini bertolak dari sabda Nabi Muhammad saw, “barang siapa yang bertambah ilmunya tapi tidak [belum] bertambah hidayahnya maka orang itu tidak akan ber-di-tambah [hidayah] oleh Allah kecuali ia akan semakin jauh”.

Di sisi lain, kesadaran berilmu tersebut amat erat kaitannya dengan akhlak budi pekerti dan adab tata krama (moralitas). Sebab, jika manusia mengabaikan kedua hal itu, maka ilmu yang diperoleh manusia akan sia-sia belaka atau tidak bermanfaat.

Pengabaian terhadap moral tersebut akan mengakibatkan hati menjadi kotor dan dipenuhi sifat-sifat maksiat. Sementara itu, ilmu adalah cahaya dan cahaya itu akan enggan masuk pada hati yang penuh dengan sifat-sifat kotor dan tidak mulia. Mengenai keengganan ilmu masuk dalam hati manusia yang masih terdapat sifat-sifat kotor tersebut, berikut sebuah kisah tentang Imam Mawardi, seorang tukoh besar dalam dunia Islam yang dicela oleh gurunya, Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghozali (Imam Ghazali), karena hatinya yang tidak ikhlas melaksanakan pekerjaan dari gurunya.

Saat itu, Imam Mawardi pernah merasa kesal terhadap gurunya, Imam Ghozali, karena tidak mendapatkan pelajaran ilmu dari beliau. Padahal ia telah satu tahun lebih berada di pondokan Imam Ghazali. Selama rentang waktu tersebut ia hanya mendapatkan pekerjaan membersihkan kotoran yang berada di bawah sela-sela terompah gurunya. Pekerjaan itu, ia lakukan setiap pagi hari setelah Imam Ghozali memberikan pengajaran terhadap murid-muridnya.

Nah, Karena tidak sabar menerima perlakuan tersebut, Imam Mawardi bertanya kepada gurunya soal ilmu yang tidak pernah diajarkan kepadanya. Mendengar pertanyaan tersebut, Imam Ghazali menjawab, “bagaimana saya dapat mengajar ilmu padamu jika dalam hatimu masih merasa jijik tatkala kau kusuruh untuk membersihkan bekas kotoran dalam terompahku?” Mendengar jawaban tersebut Imam Mawardi tercengang. Ia sadar bahwa hatinya tidak ihklas, hatinya masih terselimuti rasa iri terhadap sahabat-sahabatnya yang terlebih dahulu mendapatkan pengajaran dari Imam Ghozali, sementara ia tidak. Lebih-lebih, ia sadar bahwa hatinya merasa jijik ketika membersihkan kotoran di bawah sela-sela terompah gurunya. Namun kemudian, ia pun sadar bahwa keadaan hati tersebutlah yang menyebabkan keengganan Imam Ghozali memberikan ilmu padanya. Ilmu tersebut akan percuma jika diberikan padanya, sementara hatinya masih kotor.

Kesadaran Berbangsa Dan Bernegara

Landasan filosofis yang mendasari KH. Zaini Mun’im merumuskan konsep ketiga dari panca kesadaran santri ini, khususnya pada kesadaran berbangsanyaadalahfirman Allah swt, “Sesungguhnya Kami menciptakan kamu semua dari jenis laki-laki dan perempuan. Dan Kami juga menciptakan kamu semua dari suku-suku bangsa agar saling mengenal”. Sementara, sabda Nabi Muhammad saw tentang cinta terhadap tanah air adalah termasuk bukti keimanan, juga merupakan dasar untuk merumuskan konsep kesadaran ketiga ini, khususnya kesadaran bernegaranya.

Dari dua dalil di atas, maka terbentuklah satu kesatuan konsep, yaitu kesadaran berbangsa dan bernegara. Konsep ketiga ini tidak bisa dipisah atau dibalik. Karena, pertama, kesadaran berbangsa amat erat kaitannya dengan kesadaran bernegara. Artinya, berdirinya sebuah negara tidak akan pernah diakui oleh negara lainnya apabila di dalam negara tersebut tidak ada bangsa atau rakyatya. Dan meski pun rakyatnya ada, tapi jika mereka tidak mengakui keberadaan negara, maka keberadaan negara tersebut akan terasa hambar.

Kedua, kesadaran bernegara juga amat erat kaitannya dengan kesadaran berbangsa. Artinya sebuah bangsa akan cenderung tidak tertib, tidak aman dan tidak sejahtera apabila tidak ada sebuah negara yang bertanggung jawab melindungi dan mengupayakan terpenuhinya kebutuhan bangsanya. Negara dalam konteks ini merupakan institusi atau lembaga yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pendidikan, pertahanan dan keamanan. Jika tidak ada negara, tak terbayangkan, apakah bangsa atau rakyat bisa memenuhi beberapa kebutuhannya tersebut. Sebab itu integrasi di antara keduanya amat penting.

Ketiga, konsep kesadaran berbangsa dan bernegara ini tidak bisa dibalik. Sebab jika kesadaran bernegara didahulukan daripada kesadaran berbangsa maka hal ini akan tampak ironi sekali. Negara tidak akan pernah ada tanpa keberadaan bangsa terlebih dahulu. Karena keberadaan negara adalah hasil karya dan cipta sebuah bangsa. Dengan pengertian demikian, dapat diketahui bahwa kesadaran berbangsa mendahului dari pada kesadaran bernegara. Lebih jauh, dengan mengedepankan kesadaran berbangsa, maka kedaulatan negara adalah ditangan bangsa atau rakyat. Dan hal ini sesuai dengan bentuk negara Indonesia, yaitu demokrasi; dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Selain dari Al-Qur’an dan Al-Hadits di atas, dalam merumuskan konsep kesadaran ketiga ini, Kiai Zaini juga terinspirasi oleh pengalaman perjuangan beliau bersama-sama ulama dan rakyat Indonesia ketika merebut kemerdekaan. Hal ini terbukti dengan aktifnya beliau dalam beberapa organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan organisasi Raddah di Pamekasan, bergabung dengan TAP/RESIMEN, Pembela Tanah Air (Peta), Front Pertahanan Rakyat dan barisan Sabilillah mulai tahun 1945-1947, dan terakhir menjadi Rais Syuriah Wilayah Jawa Timur sejak tahun 1952 s/d 1972 serta pernah menjadi Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Jawa Timur dalam tubuh organisasi NU.

Perjuangan yang panjang dan berdarah-darah tersebut, tampaknya begitu lekat dalam benak Kiai Zaini. Hingga kemudian, semangat dalam berjuang itu ingin beliau turunkan kepada seluruh santri-santrinya. Harapan tersebut, tampak dari jawaban beliau ketika Jendral Basuki Rahmat, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) tahun 1968, berkunjung kepada beliau dan mengajukan pertanyaan; “dengan mendirikan pesantren ini apakah anda ingin mencetak Kiai atau intelektual muslim?” Dengan tenang KH. Zaini Mun’im menjawab, “tidak kedua-duanya. Saya mendirikan Pondok Pesantren Nurul Jadid ini tidak untuk mencetak Kiai atau mencetak intelektual muslim. Tapi, sederhana saja, saya akan mencetak muslim-muslim yang aktif berjuang di masyarakat dengan bakat dan keahliannya

masing-masing. Jika di antara santri saya ada yang ahli dalam bidang pendidikan, ya, silahkan. Jika ahli dalam bidang ekonomi, ya, silahkan. Sebab sahabat-sahabat Rasulullah itu semuanya merupakan muslim-muslim yang aktif berjuang. Dan saya amat tidak senang apabila ada di antara santri saya yang menjadi tokoh besar (Kiai atau intelektual Islam) tapi mereka pasif dalam berjuang. Saya akan lebih senang apabila melihat alumni santri Nurul Jadid yang menjadi kondektur bus, tapi ia aktif berdakwah amar makruf nahi mungkar”.

Demikianlah, dengan kesadaran berbangsa dan bernegara tersebut, santri-santri Nurul Jadid diharapkan memiliki semangat juang yang tinggi dan menjadi muslim yang aktif. Sehingga mereka akan merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap maju-mundurnya bangsa dan negara Republik Indonesia ini.

Kesadaran Bermasyarakat

Ibn Khaldun, Penulis Kitab al-Muqoddimah, pernah mengatakan, “kehidupan bermasyarakat merupakan kebutuhan pokok bagi umat manusia”. Ucapan sosiolog besar dalam dunia pemikiran Islam tersebut merupakan karakter dasar manusia. Sebab, manusia pada dasarnya tidak bisa hidup secara individual dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Manusia akan selalu membutuhkan bantuan dari manusia lainnya, dan begitu juga sebaliknya. Kenyataan manusia tersebut, sebenarnya tidak lepas dari ketentuan Allah swt, bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak sempurna. Dalam diri manusia terdapat kelebihan begitu pula kekurangan. Lebih-lebih, manusia juga sering melakukan kesalahan dan lupa.

Bertolak dari konsep manusia menurut Ibn Khaldun di atas, tampaknya konsep kesadaran bermasyarakat ini mendapatkan pijakan filosofisnya. KH. Zaini Mun’im mengambil referensi Ibn Khaldun sebagai salah satu rujukan dalam perumusan konsep keempat ini, tampaknya sesuai dengan pemahaman beliau terhadap Kitab suci Al-Quran, tepatnya surat al-Maidah ayat 3; “Tolong-menolonglah atas dasar kebaikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong atas dasar dosa dan permusuhan”.

Melalui kesadaran bermasyarakat ini, diharapkan bahwa pesantren dan santri tidak boleh menjadi menara gading yang jauh dari masyarakatnya. Pesantren dan santri harus menyatu dalam masyarakat. Artinya pesantren merupakan bagian dari masyarakat. Dengan demikian masyarakat merasa memiliki pesantren dan pesantren juga sebaliknya. Sehingga tidak ada kesenjangan antara pesantren beserta santri-santrinya  dengan masyarakat.

Jika para santri dan Pesantren serta masyarakat merasa saling memiliki, maka segala bentuk kegiatan pesantren akan memperoleh dukungan dari segenap masyarakat. Bukankah pesantren lahir di tengah-tengah masyarakat untuk melakukan transformasi dan emansipasi, agar masyarakat dapat maju, baik peradabannya mau pun tingkat sosial-ekonominya.

Kesadaran Berorganisasi

Adanya sebuah organisasi yang efektif dan efisien adalah mutlak diperlukan bagi setiap santri dan pesantren. Sebab titik lemah Islam dan pesantren adalah pada organisasinya. Kelemahan dalam organisasi menunjukkan kelemahan pada sumber daya manusianya (SDM). Ali bin Abi Thalib telah mengingatkan, “kebenaran yang tidak terorganisir dengan baik akan dikalahkan dengan kebatilan yang terorganisir”.

Kesadaran berorganisasi dirumuskan tidak lain karena selama ini umat Islam hanya bangga dengan jumlahnya yang mayoritas. Mereka tidak pernah melihat kelemahannya dalam bersaing dengan saudara-saudaranya yang lain, yang dipandang minoritas, baik dalam perbaikan pendidikan, peningkatan ekonomi maupun peranannya dalam politik. Padahal Allah swt telah mengingatkan, “Betapa banyak golongan minoritas mengalahkan golongan mayoritas dengan izin Allah”.

Sebab itulah, santri Nurul Jadid harus mampu aktif dalam organisasi. Karena melalui media ini sebuah tujuan bersama akan lebih mudah diraih dengan maksimal. Organisasi adalah pola hubungan yang saling terkait antar satu bagian dengan bagian yang lainnya, yang lebih mengedepankan komunikasi dan koordinasi dalam menjalankan aktifitasnya sehingga dapat mencapai tujuan bersama.

Kesadaran berorganisasi ini dirumuskan, selain karena rasa prihatin Kiai Zaini terhadap eksistensi umat Islam, juga bertolak dari pengalaman beliau semasa di Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) sejak tahun 1952 s/d 1972. Dalam berorganiasi, selain beliau sangat bersungguh-sungguh memajukan organisasinya melalui pemikiran dan gagasan cemerlangnya, beliau juga selalu konsisten memegang etika dan moralitas dalam berorganisasi.

Dengan demikian panca kesadaran ini tak hanya menjadi slogan belaka, tetapi lebih merupakan perilaku yang terpatri dalam jiwa para santri dalam menghadapi perubahan dan tantangan zaman

*Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton dari Sampang Madura.

Kartini dan Tafsir Al-Quran

Kartini; Tokoh Emans

Kartini; Tokoh Emansipasi Perempuan dan Pelopor Lahirnya Tafsir Al-Quran di Jawa
Oleh Nur Koles

Mempelajari pemikiran dan perjuangan seorang tokoh yang memiliki pengaruh besar terhadap nilai-nilai kemanusiaan, tentu harus secara komprehensif. Tidak hanya melihat dari satu sisi saja, namun juga harus  melihat dari berbagai sudut pandang, salah satunya melalui pendekatan sejarah. Sejarah selalu memiliki jalannya sendiri, mengalir melintasi ruang dan waktu. Darinya, kita dipertemukan dengan berbagai peristiwa, tokoh dan tragedi, dimana hal tersebut bisa jadi berdampak besar terhadap kehidupan kita hari ini.

Tokoh emansipasi nasional, Raden Adjeng (RA) Kartini termasuk diantara sekian sosok yang kisahnya sangat pas sebagai referensi inspirasi bagi kita semua, utamanya bagi para santriwati. Sebagaimana sejarah mencatat, bahwa Kartini sejatinya adalah seorang santriwati yang berguru kepada Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang, Jawa Tengah  yang juga dikenal dengan Mbah Sholeh Darat. Kartini adalah pendorong lahirnya kitab tafsir Alquran Jawa pertama di Nusantara.

Perjuangan ideologisnya dalam menyuarakan kesetaraan hak bagi kalangan perempuan banyak terinspirasi dari kegiatannya ketika mengaji bersama Kiai Sholeh Darat. Bahkan, kegelisahan Kartini lah yang mengispirasi Kiai Sholeh Darat untuk menterjemahkan Alquran. Sebelumnya, kegelisahan Kartini muncul ketika fakta yang ada masyarakat hanya bisa membaca Al-Qur’an tetapi tidak diperbolehkan memahami artinya pada zaman itu. Memang pada saat itu, para santri putri yang belajar ngaji kepada seorang kyai di berbagai pondok pesantren atau “Langgar” (mushola kecil) hanya sekedar belajar membaca Al-Qur’an dan tidak memahami isi yang terkandung di dalamnya. Terlebih pada ayat-ayat yang banyak menyinggung tentang persoalan hak dan kewajiban seorang wanita di dalam islam.

Surat Kartini kepada Stella Zihandelaar

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis:

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Al-Qur’an terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al-Qur’an tapi tidak memahami apa yang dibaca.

Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.

Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

RA Kartini melanjutkan kegelisahannya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim kepada Ny Abendanon.

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qur’an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.

Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.

Berguru ke Mbah Sholeh Darat

Sampai akhirnya Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh Darat untuk belajar ngaji dan menanyakan berbagai hal yang menjadi kegelisahannya selama ini terkait dengan tidak diperbolehkannya masyarakat memahami isi dan makna Al-Qur’an. Fakta sejarah yang ada, ternyata kebijakan ini datang dari para penjajah dengan asumsi jika masyarakat memahami Al-Qur’an, maka jiwa merdeka akan tumbuh. Tentu hal ini akan mengancam eksistensi kolonial itu sendiri. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa tidak banyak ulama saat itu yang menerjemahkan Al-Qur’an, bukan tidak mau dan tidak mampu, tetapi harus berhati-hati dengan kebijakan Belanda itu.

Fakta sejarah pertemuan antara RA Kartini dengan Kiai Sholeh Darat memang tidak diceritakan Kartini di setiap catatan surat-suratnya. Hal ini tidak lebih karena Kartini sendiri mengkhawatirkan keselamatan Mbah Sholeh Darat karena tidak tertutup kemungkinan kaum kolonial akan mengetahuinya.

Mbah Sholeh Darat sendiri dalam pengajian yang diberikannya kepada Kartini menjelaskan tentang tafsir surat Al-Fatihah. Hal ini seperti yang diceritakan oleh cucu Mbah Sholeh Darat, Nyai Hj Fadhilah Sholeh. Dalam ceritanya, Nyai Fadhilah mengisahkan:

Takdir mempertemukan Kartini dengan Kiai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat.Kiai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kiai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang kiai.

Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kiai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kiai Sholeh.

“Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.

Kiai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Adjeng bertanya demikian?” Kiai Sholeh balik bertanya.

“Kiai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al-Fatihah, surat pertama dan induk Al-Qur’an. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.

Kiai Sholeh kembali tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan, “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al-Qur’an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Nyai Fadhila menulis Kiai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali berucap “Subhanallah”. Kartini telah menggugah kesadaran Kiai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa.

Dari riwayat di atas, Kartini menemukan cahaya yang menerangi berbagai kegelapan pengetahuan dan ilmu yang selama ini melingkupinya dengan ngaji kepada Mbah Sholeh Darat. Inspirasi inilah yang membuat Kartini memberi judul buku yang berisi surat-suratnya dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Secara historis, dalam pertemuan itu RA Kartini meminta agar Al-Qur’an diterjemahkan. Karena menurutnya, tidak ada gunanya membaca kitab suci tapi tidak memahami artinya. Namun pada saat itu pula penjajah Belanda secara resmi melarang penerjemahan Al-Qur’an. Mbah Sholeh Darat tetap melakukan penerjemahan, Beliau menerjemahkan Al-Qur’an dengan ditulis dalam huruf “Arab gundul” (pegon) sehingga tidak dicurigai dan dipahami penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada RA Kartini pada saat dia menikah dengan RM Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang.  Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari  ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kiai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa  yang saya pahami.”

(Inilah dasar dari buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang ditulis RA Kartini, bukan dari sekumpulan surat-menyurat beliau. Dalam hal ini, substansi sejarah Kartini konon telah disimpangkan secara siginifikan). Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
“Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257).

Dalam sejumlah suratnya kepada Abendanon, Kartini banyak mengulang kata “dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda, Door Duisternis Toot Licht. Oleh Armijn Pane, ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya. 

Surat yang diterjemahkan Kiai Sholeh adalah Al-Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai karena Mbah Kiai Sholeh Darat keburu wafat.

Dari perjumpaannya dengan Mbah Sholeh Darat itu, Kartini juga banyak memahami kehidupan masyarakat yang selama ini terkungkung penjajahan sehingga banyak memunculkan sikap inferioritas terutama di kalangan perempuan. Keterbukaan pandangan dan pemikiran Kartini dari hasil kawruh (belajar) kepada Mbah Sholeh Darat inilah yang membuat langkahnya semakin mantap untuk mengubah tatanan sosial kaum perempuan dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Kisah perjalanan dan perjuangan RA Kartini ini bisa menjadi ‘Ibrah’(pelajaran) dan ‘uswah’(panutan) para santri dalam memperjuangkan nilai-nilai Islam di Nusantara. Demikianlah sosok RA Kartini dilihat dari kaca mata seoarang  Santri. Salam dari kami kaum santri. Selamat Hari Kartini!!!

Nur Koles berasal dari Tuban Jawa Timur. Ia merupakan Alumni ponpes Al-Madienah Denanyar Jombang. Saat ini sedang menempuh pendidikan di UIN Walisongo Semarang dan sekaligus belajar di Ponpes Darul Falah Be-Songo.

Baca juga: Literasi Seabagai Media Dakwah Santri

*)Tulisan ini disarikan dari Kumpulan surat yang dibukukan oleh J.H. Abendanon dengan judul Door Duisternis Tot Licht.

Leadership dan Entrepreneurship

PENTINGNYA LEADER

PENTINGNYA LEADERSHIP DAN ENTREPRENEURSHIP BAGI SANTRI DALAM MENOPANG KEMAJUAN BANGSA DI ERA GLOBALISASI

Oleh: Dewi Nur Halimah, S.Si 
(Alumni Santri PP. Khozinatul Ulum Blora) 

Akselerasi globalisasi dewasa ini cukup berdampak signifikan diseluruh berbagai sektor kehidupan, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, budaya dan pendidikan. Kemudahan akses (produk) untuk keluar masuk di suatu negara perlu diimbangi dengan produktivitas pemuda, sehingga mampu bersaing ASEAN dan dunia. Bukan justru sebaliknya, pemuda yang konsumtif yang tidak berdaya saing, bergaya hidup high class dan selalu berfoya-foya sehingga menjadi objek penjualan produk asing yang menurunkan produktivitas suatu negara. Oleh karena itu, arus globalisasi perlu diimbangi dengan keahlian dan keterampilan agar mampu bersaing di tengah persaingan global.      

Sudah sekitar tiga setengah tahun Indonesia memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sejak akhir tahun 2015. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC) merupakan suatu wadah untuk  kristalisasi kemajuan IPTEK, globalisasi perekonomian serta arus barang dan jasa yang dituangkan ke dalam suatu wadah integrasi wilayah negara-negara di Asia Tenggara. Masyarakat Ekonomi ASEAN menuntut Indonesia untuk mampu bersaing (competition) sekaligus bekerjasama (cooperation).

Kemampuan bersaing tidak terlepas dari sumber daya manusia, sementara kerjasama dalam MEA sangat ditentukan oleh tingkat kepercayaan negara ASEAN terhadap Indonesia. MEA berdampak pada kehidupan masyarakat yang secara langsung juga berimplikasi terhadap pemuda Indonesia.  Sebagaimana telah kita ketahui, mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Itu artinya, mayoritas pemuda Indonesia adalah pemuda muslim yang sebagian dari itu merupakan santri. Untuk menghasilkan SDM yang berdaya saing dan mampu bekerjasama, tentu tidaklah lepas dari kiprah santri, mengingat mayoritas pemuda Indonesia adalah pemuda muslim.

Survei Global Competitiveness Index tahun 2014-2015 membuktikan bahwa daya saing Indonesia masih lemah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Posisi Indonesia berada pada peringkat ke 34. Di level ASEAN, peringkat Indonesia ini masih kalah dengan tiga negara tetangga, yaitu Singapura yang berada di peringkat 2, Malaysia di peringkat 20, dan Thailand yang berada di peringkat ke-31. Salah satu penyebab rendahnya daya saing Indonesia di kancah ASIA maupun ASEAN adalah kurangnya pemuda yang berjiwa leadership dan entrepreneurship tinggi di Indonesia.

Hal ini tentu sangat memprihatinkan, Indonesia yang notabennya negara yang kaya akan sumber daya alam, namun rendah akan sumber daya manusia. Krisis pemuda berarti krisis pemimpin masa depan. Indonesia membutuhkan pemuda yang memiliki jiwa leadership tinggi untuk menanggulangi adanya krisis pemimpin. Pemimpin adalah kepala dari kumpulan para manusia (masyarakat) yang mengatur segala aktifitas masyarakat dan merupakan sosok yang menduduki posisi paling tinggi. Jadi seorang pemuda harus memiliki jiwa pemimpin yang tinggi. Tidak hanya dapat memimpin sebuah negara dengan rakyat-rakyatnya, namun juga dapat memimpin dirinya sendiri. Jika seorang pemuda dapat memimpin dirinya terlebih dahulu, maka dia juga dapat memimpin bangsa.

“Berikan aku 1 pemuda, maka akan ku guncangkan dunia”.

(Ir.Soekarno)

Pernyataan seperti inilah yang membuat para pemuda merinding dan terkobar semangatnya dalam membela bangsa, khususnya Indonesia. Ya, pernyataan ini dikatakan oleh Ir. Soekarno presiden nomor satu di Indonesia. Beliau mengatakan demikian, agar pemuda-pemuda Indonesia ini bangkit dan terbakar semangatnya dalam mencapai kemerdekaan Republik Indonesia di era kolonialisme dulu. Karena beliau percaya dengan adanya sosok pemuda, maka akan memajukan bangsa Indonesia dan mengguncangkan dunia.

Kemajuan sebuah bangsa terletak pada kemajuan para pemudanya”

Pernyataan ini bukanlah sembarang pernyataan melainkan sebuah pernyataan yang dapat membakar semangat jiwa kaum pemuda terus berkobar. Pernyataan ini memiliki poin penting bahwa pemuda menjadi simbolisme tolak ukur maju atau tidaknya suatu negara. Itulah mengapa di negara maju seperti Ameraka Serikat, Perancis, Inggris, Jepang, dan bahkan negara tetangga kita sendiri yakni Singapura menaruh perhatian yang begitu besar pada pemudanya. Hal itu tak lain karena di tangan pemudalah tonggak kemajuan suatu negara. Sebenarnya apa yang mendasari para pemuda di negara maju memiliki kesadaran yang tinggi akan nasionalisme dan patriotisme. Lalu dimanakah posisi pemuda kita sendiri? Bagaimanakah mereka menunjukkan semangat cinta tanah airnya, terlebih lagi sejak di era modernisasi?. Tentu saja hal ini membawa dampak dalam berbagai aspek kehidupan termasuk bangsa kita sendiri.

Apabila kita berkaca pada sejarah, proklamasi bangsa ini dapat terjadi juga karena peran pemuda. Pemuda ini bersikukuh dengan segala idealismenya untuk dapat segera mengikrarkan kemerdekaan agar lepas dari belenggu penjajah. Runtuhnya tirani orde baru juga tidak terlepas dari peran pemuda sebagai motor penggerak ketika melihat berbagai ketidakadilan di masyarakat. Pemuda memang merupakan sebuah simbol idealisme dalam sejarah bangsa dari waktu ke waktu. Melihat hal tersebut tentunya pemuda memiliki nilai-nilai yang lebih untuk memimpin bangsa Indonesia.

Bangsa ini sudah cukup lelah mendengar dan malu melihat moral pemimpin bangsa yang ada diambang batas kritis. Karena inilah, sudah saatnya kita sebagai pemuda penerus bangsa membuktikan idealismenya dengan menjadi pemimpin bangsa ini. Pemimpin muda tentunya akan membawa harapan baru bagi rakyat, dan membawa angin segar di kancah kepemimpinan di masa depan, sudah seharusnya kita memberikan kesempatan dan apresiasi terhadap para pemuda untuk menjadi seorang pemimpin yang produktif. Tentunya harapan kita bersama, pemuda bisa menjadi sosok pemimpin yang bermoral dan memiliki intelektual sehingga mampu membawa nama Indonesia menuju Negara yang terhormat dan Negara maju.

Perlu diingat bahwa berdirinya bangsa Indonesia dan bahkan sampai tetap survive atau berdiri tegak sampai saat ini dari Sabang sampai Merauke tidak terlepas dari peran pemuda. Dalam sejarah perjalanan bangsa, peran pemuda sangatlah besar dan sangat signifikan dalam membangun, mewarnai, dan bahkan memutar balik jarum sejarah bangsa yang merdeka pada tahun 1945 ini. Dalam sejarahnya kita mengenal adanya beberapa gerakan pemuda seperti : Gerakan Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 1945, Gerakan Mahasiswa 1965, Peristiwa Malari 1974, Gerakan Mahasiswa pada era Reformasi 1998. Gerakan-gerakan ini membawa perubahan-perubahan besar dalam sejarah perjalanan bangsa. Perlu diketahui bahwa Gerakan-gerakan ini dipelopori oleh kaum pemuda. Oleh karena itu, membahas sejarah bangsa Indonesia, berarti kita juga akan membahas tentang peran pemuda didalamnya. Begitu pun sebaliknya, jika kita membahas pemuda, maka kita juga membahas pembangunan bangsa Indonesia.

Begitu banyak gerakan-gerakan pemuda yang terjadi di Indonesia yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk kita sebagai pemuda generasi masa depan untuk meningkatkan semangat pemuda sebagai pemimpin garda depan sehingga memajukan bangsa Indonesia. Ada beberapa peran atau karakter yang harus dipenuhi oleh pemuda sebagai pemimpin masa depan bangsa Indonesia, diantaranya yaitu :

1.   Peran kekuatan moral pada diri pemuda sebagai pemimpin bangsa

Pemuda sebagai kekuatan moral ini harus dapat menjadi pelopor dan pendobrak semangat masyarakat dalam mencapai  kemapanan sosial. Pemuda harus selalu tidak mudah puas dengan kemajuan yang ada. Sikap tidak mudah puas inilah yang memunculkan dinamika gerakan dan pemikiran pemuda dapat selalu berkembang dan tumbuh (sikap iniovatif). Ketika pemuda ini sudah merasa puas dengan kondisi atau kemajuan yang ada, maka seketika hal itu juga dinamika dan kreativitas sosialnya akan terhenti. Maka dari iu, pemuda tidak boleh puas dengan kondisi sosial yang ada. Karena rasa inilah yang dapat menjadi motor penggerak (Prime Mover) kekuatan pemuda. Pemuda harus mempunyai semangat dan keberanian untuk mendongkrak dan mendobrak kebekuan dan kemapanan dari structural sosial politik dan ekonomi yang timpang dan yang tidak berpihak pada masyarakat kelas bawah dan yang lemah. Pemuda tidak boleh kompromi dengan ketidakadilan sosial (social injustice). Peran dan sikap sperti inilah yang dimksud sebagai salah satu bentuk kekuatan moral pemuda yang selalu tunduk pada kebenaran.

2.   Peran sosial pemuda pemimpin bangsa

Pemuda sebagai peran sosial dikarenakan terdapat energi, semangat, serta idealisme yang dimilikinya. Pemuda ini harus mampu menjadi kekuatan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pemuda harus berperan aktif dalam suatu pembangunan, baik dalam skala lokal maupun nasional. Pemuda juga harus memiliki rasa kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi, tanggap dengan isu-isu nasional yang sedang berkembang dan mampu menjadi pilar maupun garda terdepan dalam pembangunan bangsa.

3.   Pemuda harus berperan sebagai intelektual untuk memimpin bangsa

Selain harus memiliki kekuatan moral dan sosial, pemuda juga harus memiliki peran intelektual untuk memimpin suatu bangsa, apalagi memimpin bangsa Indonesia yang begitu padat penduduknya. Jadi dalam mengatasi masalah apapun baik dalam negeri maupun masalah di luar negeri akan terasa mudah jika kita sebagai pemimpin memiliki pengetahuan yang luas dan pemuda yang berintelektual tinggi. Intelektual maupun ilmu pengetahuan ini dapat dibagi lagi menjadi penguasaan terhadap bahasa asing terutama bahasa Inggris, lalu penguasaan terhadap IT (Information Technology), kemudian penguasaan manajemen, penguasaan berfikir (thinking skills) yakni berfikir logis, kritis dan analitis, dan penguasaan komunikasi baik verbal maupun non-verbal.

4.   Pemuda harus memiliki kepribadian yang mantap sebagai seorang pemimpin

Kepribadian ini menekankan pada karakter seorang pemimpin di masa yang akan datang, bagaimana seorang pemuda sebagai pemimpin ini dapat memahami situasi dan kondisi yang terjadi pada bangsa dan mendapati solusi-solusi yang ampuh dalam mengatasi kondisi tersebut. Kepribadian ini juga menekankan bahwa sosok pemuda memiliki pribadi yang tangguh tidak mudah tergoyahkan akan gunjingan-gunjingan dari dalam maupun dari luar, dan memiliki rasa silih asuh dan silih asuh terhadap sesama sehingga menimbulkan rasa kehangatan kekeluargaan dalam berbanga dan bernegara.

5.   Pemuda harus berjiwa pemimpin

Sosok pemuda yang terakhir adalah berjiwa pemimpin. Pemimpin memiliki kedudukan tertinggi di hadapan manusia karena mengatur segala aktifitas anggota-anggota yang dipimpin. Jadi seorang pemuda harus memiliki jiwa pemimpin yang tinggi. Tidak hanya dapat memimpin sebuah negara dengan rakyat-rakyatnya, namun dapat juga memimpin dirinya sendiri. Jika seorang pemuda dapat memimpin dirinya terlebih dahulu, maka dia juga dapat memimpin bangsa.   

Sebagai wujud kepemimpinannya, para pemuda perlu terlibat dalam mengambil peran untuk terjun di dunia politik sebagai bagian dari pembuat kebijakan (wisdom maker) baik mengambil bagian sebagai anggota badan eksekutif, lefislatif, maupun yudikatif. Dengan keikutsertaanya menjabat di kursi pemerintahan, diharapkan para pemuda tersebut khususnya para santri mampu turut berkontribusi untuk memajukan negara. Mengapa para santri harus turut ikut andil dalam mengambil peran di kursi pemerintahan?. Karena santri ini memiliki bekal yang komplet yakni ilmu agama beserta ilmu adab dan juga ilmu pengetahuan umum. Dengan bekal ilmu tersebut, apabila santri turut andil mengambil jabatan di kursi pemerintahan, santri dapat berkontribusi dalam menyusun Undang-Undang yang dapat memajukan Madrasah dan Pendidikan Diniyah Pesantren serta kebijakan yang maslahah untuk ummat.

Santri tidak boleh minder apalagi pesimis untuk ikut terjun dalam kursi pemerintahan. Mengingat sudah banyak pula santri yang memiliki beberapa posisi penting dalam pemerintahan. Justru sebaliknya, santri harus percaya diri dan semangat untuk turut serta memajukan negeri di tengah krisis pemimpin, krisis ekonomi, krisis moral dan krisis kemanusiaan. Berikut adalah contoh kiprah beberapa santri yang turut ambil bagian di kursi pemerintahan:

  1. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Gus Taj Yasin adalah Putra KH. Maemoen Zubair, Pengasuh PP. Al-Anwar Sarang-Rembang.
  2. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawangsa adalah alumni santri PP. Ma’hatul Ulum As Syar’iyah/ MUS Sarang-Rembang.
  3. Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif periode 2014-2019  adalah alumni santri PP. Al Muayyad Solo.
  4. Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin periode 2014-2019 adalah alumni santri PP. Modern Darussalam  Gontor.
  5. Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir (AM Fachir) periode 2014-2019 adalah alumni santri dari PP. Modern Darussalam Gontor.
  6. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi adalah alumni santri PP. Al Kholiliyah An Nuroniyah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.
  7. Menristek Dikti Muhammad Nasir adalah alumni santri PP. Mambaul Ilmi As Syar’i, Sarang-Rembang, Jawa Tengah.
  8. Yudi Latif sebagai Kepala Pelaksaan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) adaalah alumni santri PP. Modern Darussalam Gontor.
  9. Dr. TGB Muhammad Zainul Majdi selaku Gubernur Nusa Tenggara Barat adalah alumni PP.Al Anwar, Sarang-Rembang.
  10. Dan lain-lain.

Dengan hadirnya sosok pemuda muslim seperti santri-santri yang berjiwa leadership dan entrepreneurship tinggi diharapkan mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik di masa depan.  Mengapa perlu adanya kiprah santri? Karena perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari komando para ulama tanah air beserta para santrinya. Menurut data Kemenag (2011), tercatat di Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama bahwa jumlah santri pondok pesantren di 34 provinsi di seluruh Indonesia, mencapai 3,65 juta yang tersebar di 25.000 Pondok Pesantren. Santri yang berakhlakul karimah dan cerdas dalam menemukan solusi terkait permasalahan masyarakat baik tentang isu sosial, isu agama, maupun permasalahan lain sangat dinantikan dalam mencetak sejarah kemajuan Indonesia. Terlebih saat ini dunia sedang krisis, baik krisis kemanusiaan maupun krisis moral. Pemimpin yang berjiwa sosial tinggi dan memiliki solidaritas tinggi dalam menyelesaikan permasalahan rakyat adalah solusi menjawab permasalahan yang sedang dihadapi suatu negara, setidaknya bisa meminimalisir permasalahan yang ada. Tengok saja kasus pembantaian ethnis rohingya di Myanmar, hal itu tak lain karena ketidakmampuan pemimpin dalam mengatasi kasus krisis kemanusiaan yang terjadi di negaranya. Berkaca pada kasus ethnis rohingya di Myanmar, sudah selayaknya Indonesia memilih pemimpin yang berkarakter sehingga tercipta kesejahteraan masyarakat yang aman dan terlindungi.

Selain itu, untuk mencapai kemajuan bangsa Indonesia, juga diperlukan adanya peran pemuda yang berjiwa entrepreneurship tinggi dalam mewujudkan kemandirian perekonomian bangsa. Mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah pemeluk agama Islam, maka kiprah santri yang memiliki jiwa entrepreneurship tinggi sangat diharapkan. Saat ini, Indonesia memang secara dzahir sudah merdeka, namun perekonomian Indonesia masih dijajah bangsa lain (di bawah kendali bangsa lain). Indonesia menjadi objek penjualan produk negara-negara lain seperti produk-produk China yang membanjiri barang-barang di pasaran.

Kemandirian bangsa yang diimpikan pada ASEAN Economic Community adalah kemampuan Indonesia untuk mampu bersaing dengan negara-negaraASEAN lainnya. Daya saing dipengaruhi oleh kemampuan dalam menghasilkanproduk-produk dengan kualitas tinggi dan harga yang terjangkau sehingga mampubersaing dengan produk-produk luar negeri. Untuk menghasilkan produk yangberkualitas, produktivitas adalah faktor utama, sedangkan untuk menghasilkanproduk yang mampu bersaing dalam harga, maka efisiensi adalah kuncinya.

Perlu di ketahui bahwasannya untuk mencapai kemandirian perekonomian bangsa, jumlah pelaku wirausaha minimal ada 2% dari total jumlah penduduk di suatu negara. Sementara, berdasarkan data yang dihimpun oleh HIPMI menunjukkan bahwa Indonesia baru memiliki sekitar 1,6% pelaku wirausaha dari total penduduk Indonesia yakni sekitar 260 juta jiwa. Pencapaian Indonesia masih di bawah dua negara tetangga yakni Malaysia dan Singapura. Malaysia memiliki jumlah pelaku wirausaha sekitar 5% dari total jumlah penduduk, sementara Singapura memiliki jumlah pelaku wirausaha sekitar 7%  dari total jumlah penduduk. Sedangkan rasio pencapaian jumlah pelaku wirausaha di China 10%, Jepang 11%, dan Amerika serikat 12%. 

Sumber: HIPMI, 2016.

Data pencapaian jumlah pelaku wirausaha di atas dapat menjadi acuan bagi pemerintah Indonesia dan masyarakat Indonesia untuk menumbuhkan perekonomian bangsa Indonesia dengan menjadi socio-preneur. Kiprah santri yang berjiwa entrepreneurship  tinggi dapat mendorong peningkatan perekonomian Indonesia. Santri yang juga berprofesi sebagai socio-preneur ini nantinya bukan hanya berperan sebagai pelaku usaha tetapi juga berdampak positif terhadap lingkungan. Bukan hanya menjadi pengusaha yang hanya money-oriented tetapi juga social-oriented. Dengan meningkatnya jumlah pengusaha di Indonesia, setidaknya dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

Indonesia merupakan bangsa dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang sangat berlimpah. SDA Indonesia yang berlimpah, namun sayangnya tidak dibarengi dengan kualitas SDM-nya. Indonesia dihadapkan kenyataan bahwa kemampuan daya saing sumber daya manusianya secara umum berada rendah. Rendahnya kualitas SDM Indonesia menimbulkan masalah pengangguran. Tahun 2008, jumlah penganggur terbuka 9,43 juta orang atau 8,46% dari jumlah angkatan kerja yang mencapai 111,48 juta orang dan jumlah setengah penganggur (penduduk yang bekerja kurang dari 35 jam dalam satu minggu) mencapai 30,64 juta orang. Dengan meningkatnya jumlah aktor wirausaha, harapannya jumlah pengangguran di Indonesia menurun. Hal ini karena pengusaha dapat membuka lapangan pekerjaan sehingga menyerap tenaga kerja yang berdampak pada menurunnya jumlah pengangguran.

Untuk mencapai kemandirian perekonomian bangsa yang digerakkan oleh santri ini melibatkan beberapa pihak diantaranya MenKop, Kiahi, santri, dan masyarakat. Menteri Koperasi (MenKop) mendukung kreativitas pemuda, khususnya para santri dengan memberikan fasilitas berupa sarana dan prasarana yang mendukung para santri untuk berinovasi dan berwirausaha. Kiahi berperan dalam memotivasi dan menginspirasi santrinya untuk menjadi wirausaha. Santri berinovasi untuk berwirausaha dengan mengangkat nilai-nilai kearifan lokal. Masyarakat berperan dalam mendorong kesuksesan pemuda untuk berinovasi dengan membeli produk dalam negeri dan membeli karya-karya pemuda Indonesia, termasuk membeli produk-produk yang dijual oleh santri.

Apalagi saat ini telah memasuki zaman milenial, peran santri zaman now untuk menjadi entrepreneur perlu ditingkatkan untuk kemajuan perekonomian bangsa. Santri sudah diberikan bekal ilmu muamalah (jual beli) sehingga sangat cocok apabila menjadi pengusaha penggerak kemajuan bangsa berasaskan jual beli yang jujur. Salah satu contoh Pondok Pesantren yang melatih bisnis adalah Ponpes Agropreneur At Taufiq di Bekasi. Ponpes ini tak hanya mencetak santri yang ahli agama tapi juga santri yang mampu membuka lapangan pekerjaan. Selain itu, ada juga Ponpes Al Ittifaq Bandung  yang juga mengajarkan kewirausahaan berbasis agribisnis terutama syur mayur. Pondok Pesantren Al Ittifaq ini menjadi penyuplai sekitar 3-4 ton hasil pertanian dari lahan Pondok Pesantren seluas 14 hektar yang sepenuhnya dikelola oleh para santri. Dengan contoh tersebut diharapkan dapat  menjadi inspirasi dan motivasi bagi para santri untuk menjadi pengusaha.

Dengan adanya kiprah santri yang berjiwa leadership tinggi diharapkan dapat menjadi solusi krisis pemimpin di masa depan, sehingga melahirkan sosok pemimpin berkarakter yang peduli rakyat. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan prorakyat dan lebih mementingkan kepentingan rakyat di atas kepentingan golongan, keluarga, maupun sanak famili. Sedangkan adanya santri yang berjiwa entrepreneurship tinggi diharapkan mampu meningkatkan perekonomian bangsa dengan meningkatnya jumlah pengusaha di Indonesia.

BIODATA SINGKAT PENULIS  
Dewi  Nur Halimahatau biasa dipanggil Halimah, lahir di Blora pada 7 April 1994. Putri sulung dari pasangan suami istri, Masdari – Mahzunah merupakan alumni mahasiswa dari Julusan Biologi angkatan 2012, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro, Semarang dan juga alumni santri dari PP. Khozinatul Ulum Blora.

Lewat Workshop Menej

Riau, — Sebagai lembaga pendidikan keagamaan, pondok pesantren dirasa masih banyak mengalami kendala dalam pelaksanaan menejerial. Kendala itu, berkaitan dengan anggaran, akuntansi, penataan administrasi, alokasi serta kebutuhan pengembangan pesantren lainnya.

Hal tersebut disampaikan wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI NU), KH Masrur Ainun Najih, di pembukaan acara Workshop Manajemen Keuangan Pesantren yang diselenggarakan PP RMI NU bekerjasama dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) di Pondok Pesantren Salafiyah Babussalam, Desa Dayo, Kec. Tandun, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau, Sabtu (13/4/2019) siang.

“Tidak sedikit pesantren yang masih memiliki kekurangan sumberdaya dan tidak sedikit proses pendidikan pesantren berjalan lambat. Hal itu karena kurangnya penataan menejemen keuangan,” terang Kyai Masrur.

Baca juga: Gus Rozin Khawatir Generasi Milenial Belajar Agama dari Situs Internet yang Tidak Tepat

Untuk itulah, lanjut Kyai Masrur, PP RMI NU memandang perlu diadakannya Pelatihan Manajemen Keuangan Pesantren ini. Harapannya dapat peningkatan dan pengembangan sumber daya di pesantren untuk mensiapkan dan memfasilitasinya.

“Harapanya para peserta workshop dapat mendapatkan pengetahuan yang komperenshif dan implementasi di lingkungan pesantren masing-masing,” katanya.

Kyai Masrur menilai, lembaga pesantren akan dihadapkan pada tantangan yang semakin komplek. Apalagi, setelah rancangan Undang-Undang Pesantren disahkan dan disetujui. Salah satu konsekuensinya adalah pesantren dalam pengelolaan SDM dan manajerial harus mengikuti aturan-aturan yang telah ada.

“Mandiri secara politik dan budaya sangat tergantung pada kemandirian secara ekonomi. Dan untuk kemandirian secara ekonomi tidak terlepas dari pesantren untuk dapat mengembangkan dan mengelola keuangan secara akuntabel dan berani melihat peluang-peluang pengembangan ekonomi,” tegasnya.

Sementara itu,  perwakilan PT. PGN, Santiaji Gunawan, mengatakan kegiatan pelatihan ini merupakan bentuk hadirnya negara, dalam rangka meningkatkan kemampuan, kapasitas dan keahlian para santri di bidang manajemen keuangan.

“Kita buktikan sekolah dari pesantren yang ada di negeri ini, terutama yang ada di Rokan Hulu, adik-adik santri tunjukan kemampuan anda, bahwa anda punya kemampuan lebih, punya kemampuan unggul untuk bersama membangun bangsa ini,” terang Vice President Strategic Stakeholder Management PT. PGN itu.

Sebelumnya, PT PGN dan RMI NU juga telah menyelenggarakan kegiatan pelatihan berbasis pesantren, yakni pelatihan pesantren bersih dan pesantren keren di Blora dan pelatihan pengembangan UMKM di Malang. [Zam]

Pesantren KHAS Kempek

Belajar Toleransi Al

Belajar Toleransi Ala Pesantren: Potret Keseharian Santri Ponpes KHAS Kempek Cirebon
Oleh: Lufaefi

Pesantren lebih dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional, meskipun dewasa ini telah muncul pesantren-pesantren yang dilabeli sebagai pesantren modern. Tradisionalisme di pesantren tersebut menjadi ciri khas dan karakter pesantren pada umumnya. Mengingat, meskipun mengetasnamakan dirinya modern, pesantren itu tetap mempertahankan materi, metode dan sistem pengajaran lama.

Sebagai misal, di salah satu pesantren yang terletak di Cirebon; pesantren Kiai Haji Aqil Siroj (KHAS) Kempek, sekalipun sudah ada sekolah-sekolah formal, dari mulai Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Aliyah (MA), pesantren tersebut tetap mengedepankan kajian kitab kuning. Atau misal lain, meskipun di pesantren asuhan Kiai Said Aqil Siroj tersebut menekankan santrinya menguasai bahasa Arab dan bahasa Inggris, namun tradisi menghafal bait-bait kitab ulama klasik masih terjaga dengan rapih.

Pesantren KHAS Kempek memiliki segudang budaya yang khas dan relevan untuk masa saat ini dan masa yang akan datang.  Ada banyak bentuk aktivitas keseharian para santri KHAS Kempek yang menyimpan nilai peradaban yang berharga untuk masa depan bangsa.

Salah satu contohnya, di pesantren KHAS Kempek dihuni oleh banyak santri yang berasal dari daerah-daerah yang beragam dan berbeda-beda. Hal yang perlu digaris bawahi bahwa, meskipun para santri berasal dari berbagai daerah atau kota yang satu sama lain berbeda, namun tempat tinggal (kamar) santri di pesantren tersebut dibagi secara acak tanpa mempertimbangkan kedaerahan. Santri-santri dari satu daerah tidak disatukan dalam satu kamar atau asrama. Yang ditekankan dalam pembagian kamar di pesantren ialah pembagian secara merata berdasarkan jumlah bilangan, bukan karena unsur-unsur etnis, budaya, atau bahasa.

Potret budaya di atas menyimpan makna dan pelajaran yang sangat penting, yaitu budaya toleransi. Para santri disatukan dalam satu tempat – bahkan satu kamar – meskipun berasal dari daerah-darrah yang berbeda dan tentunya tidak saling mengenal. Dalam proses saling mengenal itu, tentu saja membutuhkan waktu yang tidak singkat. Diperlukan kesaling-pahaman antar kepribadian dan kebudayaan masing-masing. Antar satu dengan yang lainnya dibutuhkan sikap saling mengerti dan tidak mudah emosi dalam perbedaan. Dengan demikian, jiwa toleransi menjadi tertanam rapih di dada para santri. Mereka tidak kaget ketika dihadapkan dengan problem perbedaan.

Satu hal lain yang melekat dalam aktivitas santri yaitu kebersamaan. Kebersamaan menjadi ciri khas bagi warga pesantren. Satu hal yang paling khas bagi para santri pesantren KHAS Kempek adalah kebersamaan saat makan. Meskipun di pesantren KHAS Kempek makanan para santri sudah disiapkan satu  per-satu (piring) untuk setiap santri dan telah disiapkan oleh petugas pesantren, namun tradisi makan bersama tidak sedikitpun luntur. Dua sampai tiga kali sehari para santri makan secara bersama-sama di satu gedung terbuka yang terletak tidak jauh dari pesantren. Tidak hanya itu, baik santri senior atau pun junior semuanya menyatu demi menyantap makan setelah belajar, di setiap siang dan malamnya.

Kegiatan makan bareng para santri menyimpan nilai-nilai dasar toleransi yang sangat melekat. Dalam pada itu, para santri – baik sanior atau junior – mengantri untuk mendapat giliran mengambil nasi dalam satu piring. Para senior tidak mendahului junior, begitupun junior tidak merasa harus didahulukan dari para seniornya. Betapa nilai-nilai itu mengajarkan makna toleransi yang sangat mendalam. Dengan tetap membudayakan mengantri, para junior menghargai senior, dan para senior menyayangi junior.

Pembelajaran toleransi juga dapat tercermin dalam tradisi yang menjadi khas pesantren KHAS Kempek, yaitu mengkaji beragam pemikiran dalam kitab, baik kitab-kitab fikih, tafsir, ataupun kitab-kitab hadis yang satu dengan lainnya berbeda secara mencolok.

Dalam kitab-kitab fikih misalnya, di pesantren KHAS Kempek diajarkan empat mazhab fikih, yaitu Syafi’i, Maliki, Hambali dan Hanafi. Di bidang tafsir, pesantren KHAS Kempek memberikan stimulus banyak tafsir, seperti Al-Jalalain, Marah Labid, Ibnu Katsir, bahkan Tafsir Fi Zilal Al-Quran. Sedangkan riwayat-riwayat hadis juga dibentuk dalam kurikulum pendidikan dengan keragaman kitab-kitabnya. Para santri tidak melulu dijejali dengan satu kitab referensi, namun disuguhi beragam macam kitab sebagai pembelajaran riwayat-riwayat Nabi, seperti sahih Al-Bukhari, sahih Muslim, An-Nasa’i, dan At-Tirmizi.

Budaya toleransi juga tertanam dalam jiwa santri KHAS Kempek ketika melakukan diskusi, atau biasa dikenal dengan Bahtsul Masail. Bahtsul Masail yaitu kegiatan memusyawarahkan problem keagamaan atau sosial secara bersama-sama.

Para santri KHAS Kempek dituntut untuk menyampaikan pendapat masing-masing atas problem yang dihadapi secara seksama oleh para santri dari berbagai angkatan. Dalam menyampaikan pendapat, etika yang wajib diikuti adalah tidak bolehnya berargumen atas dasar emosi dan marah-marah. Setiap pendapat yang diajukan tidak boleh menjatuhkan pendapat teman yang lain dan harus berdasarkan data ilmiah sebagaimana tersebut dalam kitab-kitab pesantren.

Aktivitas Bahtsul Masail, walaupun titik tekannya untuk mendalami keilmuan pesantren, namun sesungguhnya menyimpan nilai-nilai kesaling-toleransian antar satu santri dengan santri yang lainnya. Dalam itu, secara tidak langsung para santri dibentuk dan didesain untuk menjadi pribadi yang terbiasa menghargai orang lain yang berbeda. Para santri dibiasakan untuk berdalil dengan fakta-fakta ketika dihadapkan dengan problema kehidupan, dan yang paling penting, diajarkan untuk menjadi pribadi yang amarahnya tidak mudah tersulut jika menghadapi perbedaan.

Budaya-budaya pesantren memiliki nilai peradaban yang sangat langka. Pembelajaran toleransi dimulai dari sejak dini, sehingga tertanam dalam jiwa setiap santri tanpa adanya unsur doktrinal. Demikian itu perlu ditatamkan pada jiwa-jiwa anak negeri sedari dini untuk mewujudkan generasi bangsa yang sadar akan keberagaman, kesaling-pahaman dan menghargai satu dengan yang lain dalam bingkai perbedaan.

Kenyataan ini menemukan urgensi besar dimana bangsa Indonesia terdiri dari keberagaman, baik suku, ras, agama, atau bahasa. Kesemuanya itu dapat terjaga dengan baik dan menjadi aset bangsa yang mendunia jika santri-santri nusantara terus menjadi garda depan dalam menjaga nilai-nilai toleransi ala pesantren dan membaktikan dirinya untuk negeri.

Biografi Penulis:
Lufaefi seorang mahasiswi dari Institut PTIQ Jakarta, tinggal Jl. PLN, Gandul, Cinere, Depok, Jawa Barat.

Hoax di Media Sosial

Khotbah Jum’at

MENYIKAPI BERITA HOAX DI MEDIA SOSIAL
Oleh Yusuf Hanafi

الحمدُ لله الذي خَلَقَ الموجوداتِ من العدم بنور الإيجاد, وجعَلَها دليلا على وَحدانيته لِذوي البصائر إلى يوم المعاد. أشهد أن لآ إلهَ إلا الله الباقي بلا نَفاد, وأشهد أنّ محمدا رسولُ الله سيّدُ العباد, وصلى الله على سيدنا محمّدٍ وعلى آله وصحبه والتابعين فى جميع البلاد.

أما بعد: فيآ أيها الحاضرون الكرام اتقوا اللهَ ما استطعتم بفعلِ المأموراتِ واجتنابِ المنهياتِ إن الله لا يُخْلِفُ الميعاد. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ, وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاْ}.

معاشر المسلمين رحمكم الله!

Keseharian kita hampir tidak bisa dipisahkan dari media-media sosial (seperti: Whats App, Facebook, Instagram, dan semacamnya) yang dengan sangat mudah dapat kita akses melalui smartphone, gadget dan perangkat telepon pintar lain sejenis. Tentunya, banyak fasilitas kemudahan yang kita peroleh saat berkomunikasi dan berinteraksi lewat media-media sosial itu. Namun, tidak dipungkiri bahwa media-media sosial itu mempunyai sisi-sisi gelap yang mesti diwaspadai. Antara lain, menjadi media penyebaran informasi yang tidak jelas dan diragukan kebenarannya (atau yang lazim disebut sebagai berita hoax).

Kondisi memprihatinkan di atas semakin diperparah oleh keberadaan media massa, baik cetak maupun elektronik, yang tidak berkomitmen pada kode etik jurnalistik, yang tidak segan mempublikasikan informasi gosip yang tidak jelas kebenarannya tanpa didukung oleh investigasi yang memadai. Terlebih, jelang pemilihan umum yang akan diselenggarakan kurang dari sepekan lagi, tepatnya 17 April 2019, penyebaran informasi yang mengarah kepada fitnah, ujaran kebencian, bahkan pencemaran nama baik, semakin massif dan parah.

Dalam kesempatan khutbah Jum’at kali ini, khatib ingin mengajak para jamaah untuk menelaah kembali tuntunan agama dalam menyikapi informasi dan berita hoax yang tidak berdasar dan diragukan kebenarannya itu.

 معاشر المسلمين رحمكم الله!

Hal pertama yang perlu kita catat, Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk berhati-hati saat menerima informasi, dengan mengecek kebenaran berita tersebut terlebih dahulu. Dalam bahasa agama, perintah tersebut diistilahkan dengan Tabayyun, yakni melakukan validasi dan pemeriksaan (check and recheck) secara ketat dan teliti. Jangan sampai kita gegabah untuk menyebarnya sampai kita punya bukti yang kuat bahwa informasi tersebut valid dan sahih. Terkait dengan hal ini, Allah SWT mengajarkan kepada kita:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai kaum beriman, jika datang kepadamu orang fasik dengan membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (sebelum menyebar-luaskannya), // agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum sebab ketidaktahuanmu itu. (Jika kamu mengabaikannya), hal itu akan menyebabkanmu menyesali perbuatanmu itu” (QS. Al-Hujurat: 6).

Ibnu Katsir Rahimahu Allah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim menjelaskan, “Allah SWT memerintahkan kita untuk melakukan telaah kritis terhadap info dan berita dari orang fasik. Karena bisa jadi berita yang disebarkan itu adalah dusta dan keliru.”

معاشر المسلمين رحمكم الله!

Penting untuk dipahami bahwa informasi dan berita hoax itu sesungguhnya hanya didasarkan pada asumsi dan spekulasi semata. Padahal Islam mengajarkan kepada kita untuk menghindari prasangka buruk (su’uddzhon) terhadap orang lain, seperti dinyatakan secara tegas dalam ayat berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Wahai kaum beriman, jauhilah prasangka (dan kecurigaan), karena sebagian besar dari prasangka itu menyebabkan dosa. Oleh karena itu, janganlah kalian mencari-cari keburukan orang lain” (Q.S. Al-Hujurat: 12).

Dalam ayat di atas, ma’asyiral hadirin, kita dilarang untuk berlaku tajassus. Tajassus adalah “mencari-cari keburukan dan kejelekan pihak lain”. Selain tajassus, ada juga istilah tahassus yang bermakna “menguping kabar perihal aib dan cacat orang lain.” Terkait dengan hal ini, Rasul SAW mengingatkan:

مَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan oleh pihak lain), atau mereka cenderung menutupinya, maka akan dituangkan cairan tembaga panas pada telinga orang yang menguping tadi di hari kiamat nanti” (HR. Bukhari, No. 7042).

معاشر المسلمين رحمكم الله!

Mengapa kita harus menjaga diri sekaligus menjauhi informasi dan berita hoax? Jawabannya adalah karena kehormatan sesama, khususnya saudara seiman kita itu, harus benar-benar dihormati dan dipelihara. Saat Haji Wada’ di Padang Arafah, Nabi Muhammad SAW mengingatkan kita semua:

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِى شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِى بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan saudara kalian itu dijamin dan haram (untuk dinodai),  sebagaimana kemuliaan hari ini, kemuliaan bulan ini, dan kemuliaan negeri kalian ini” (HR. Bukhari, No. 67 dan Muslim, No. 1679)

 Terlebih lagi, jika informasi dan berita hoax itu mengarah kepada tuduhan dan dakwaan keji yang berpotensi mencemarkan nama baik seorang Muslim, seperti: vonis kafir, murtad, PKI, dan semacamnya. Kita harus menyikapinya dengan sangat hati-hati. Sebab, menuduh sesama Muslim murtad, atau kafir, memiliki konsekuensi hukum yang sangat serius dan berat, baik di dunia maupun di akhirat. Terkait dengan ini, Allah SWT mengingatkan:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Orang-orang yang menyakiti kaum mukmin (laki-laki dan perempuan) tanpa adanya kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (Q.S. Al-Ahzab: 58).

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW juga mengingatkan:

” أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لِأَخِيهِ: يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا، إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ، وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ ”

“Siapa saja yang berkata kepada saudaranya, ‘hai orang kafir’, maka (vonis) kafir itu telah kembali kepada salah seorang dari keduanya. Jika tidak benar seperti yang ia katakan, maka (vonis kafir itu) kembali kepada si penuduh” (Muttafaq Alaih).

 معاشر المسلمين رحمكم الله!

Hadis di atas menunjukkan betapa seriusnya konsekuensi mengafirkan sesama Muslim. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh secara gegabah dan serampangan melakukan pengafiran terhadap Muslim lainnya, sebab yang berhak mengafirkan itu hanyalah Allah dan Rasul-Nya, yang dalam praktiknya hanya boleh dilakukan oleh para ulama yang mendalam ilmu dan ma’rifat-nya.

Oleh karena itu, dalam kesempatan yang mulia ini, khatib menyarankan agar para jamaah tidak ceroboh dan gegabah dalam men-share (atau menyebarkan) berita gosip lewat pesan singkat, WhatsApp, Facebook, Instagram atau media-media sosial lainnya. Sebab, jika yang kita share itu berisi berita palsu dan fitnah, dipastikan kita akan mendapatkan dosa.

Banyak orang beranggapan, sekadar men-share informasi (meski belum jelas) itu bukanlah persoalan serius. Alasannya, ia bukanlah produsen dari informasi yang tidak jelas dan berpotensi bohong itu. Anggapan ini sangatlah tidak tepat!! Terkait dengan hal ini, Rasulullah SAW mengingatkan:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukup seseorang dikatakan dusta jika ia menceritakan dan menyebarkan segala yang ia dengar” (HR. Muslim, No. 5).

Berpijak dari hadis di atas, seseorang dapat dikatakan berdusta jika ia men-share setiap info gosip yang ia peroleh, meski ia bukanlah produsen berita Hoax tersebut.

 معاشر المسلمين رحمكم الله!

Jika kita cermati secara seksama, informasi dan berita Hoax yang marak beredar lewat media-media sosial itu tidak hanya berisi gosip dan fitnah semata, tetapi juga mengarah pada merendahkan, mencela, dan menghina pihak lain. Celaan dan hinaan yang ditujukan kepada pihak lain itu sesungguhnya mencerminkan level dan derajat kepribadian si penyebar berita Hoax itu sendiri yang rendah.

Karena itu, tepat kiranya jika kita merenungkan pernyataan Ibnul Qayyim al-Jauziyah Rahimahu Allah berikut ini:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

“Setiap celaan yang ditujukan kepada saudaramu, maka itu akan kembali kepadamu. Artinya, Engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut” (Madarijus Salikin, 1: 176)

Perlu disadari, belum tentu kita lebih baik dari pihak yang kita jelek-jelekkan itu! Karena itu, kita harus menghindarikan diri dari menghina dan mencela pihak manapun, meski lewat medsos. Dalam QS. Al-Hujurat: 11, Allah SWT mengingatkan:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ

“Wahai kaum beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11)

معاشر المسلمين رحمكم الله!

Sebagai penutup, kita harus ingat bersama bahwa individu atau kelompok yang jadi korban informasi dan berita Hoax itu sesungguhnya adalah pihak yang terzalimi. Sebagaimana dinyatakan oleh Rasul SAW, doa orang yang terzalimi itu mustajab dan dikabulkan oleh Allah SWT.

اتقوا دعوه المظلوم وإن كان كافرا فإنه ليس دونها حجاب

Karena itulah, kita harus waspada agar tidak menzalimi pihak lain, walaupun non Muslim. Justru, jika ada saudara kita yang jadi korban kezaliman berita Hoax, kita harus mendoakannya agar senantiasa dilindungi oleh Allah SWT, dan mendapat keberkahan hidup.

Sebagai catatan, pahala mendoakan saudara kita yang terzalimi itu juga akan kembali kepada kita sendiri, sebagaimana dinyatakan dalam hadis Nabi berikut:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ, عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ , كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Doa seorang Muslim untuk saudaranya (saat dalam kesunyian) itu merupakan doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya, ada malaikat (yang bertugas mengamini doa tersebut). Saat ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat berseru: Amin, Engkau akan mendapat kebaikan yang semisal dengannya” (HR. Muslim, No. 2733).

بارك الله لى ولكم فى القرآن العظيم, ونفعنى وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم, وتقبل منى ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم. أقول قولى هذا وأستغفر الله لى ولكم ولسائر المسلمين, فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

*Khutbah Jum’at di Masjid Al-Hikmah Univ. Negeri Malang, Jum’at 12 April 2019.

Pesantren Salaf

Pendidikan di Pondok

Pendidikan di Pondok Pesantren Salaf, Mampukah Menjawab Tantangan Zaman?
Oleh: Muhammad Wildan Habibi

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang menetapkan standar alokasi minimal sebesar 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) untuk bidang pendidikan dalam konstitusinya. Hal ini merupakan bentuk perhatian luar biasa dari pemerintah Indonesia untuk pendidikan, bidang yang amat sangat penting bagi terwujudnya kemajuan bangsa.

Referensi eksplisit tersebut secara jelas menggambarkan arti penting pendidikan bagi bangsa ini. Pada saat menyampaikan pidato kenegaraan, Presiden Joko Widodo selalu menekankan bahwa masa depan Indonesia bertumpu pada kemampuan bangsa untuk mempersiapkan generasi mendatang. Berangkat dari pemahaman ini, pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah investasi yang diperlukan untuk Indonesia yang sejahtera. Sebab diharapkan dari sini dapat terlahir Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Ini adalah sesuatu bentuk yang mendasar bagi sebuah negara.

Lain halnya dengan Negara Sudan, penulis melihat banyak anak-anak kecil dijalanan menyemir sepatu, meminta-minta, menjadi kernet bus, berjualan permen, memunguti sampah, dan lain sebagainya. Rasanya pendidikan di negara tersebut kurang sangat diperhatikan oleh pemerintah Sudan, padahal pendidikan adalah sebuah jawaban dari tantangan masa depan suatu bangsa untuk menyiapkan generasi mudanya guna mempertahankan negaranya dalam arus globalisasi dunia.

Hanya mengambil pelajaran dari cerminan negara lain, bahawasannya di Negara Indonesia masih sangat diperhatikan pendidikannya daripada negara yang penulis sebutkan di atas, seharusnya kita sebagai generasi yang sedang disiapkan pemerintah lewat jalur pendidikan dengan dianggarkannya (APBN) dan (APBD) agar terselenggarakannya beasiswa masyarakat yang kurang mampu, beasiswa masyarakat berprestasi dan juga beasiswa untuk para santri. Ini adalah bentuk perhatian serius dari pemerintah untuk menyiapkan para generasi mudanya menjawab tantangan masa depan dunia, karena pendidikan adalah satu-satunya jawaban masa depan.

Pendidikan tentu bukan hanya soal ilmiah, tetapi pendidikan dalam bentuk keagamaan juga sangat diperlukan pada zaman yang serba menggunakan fikiran yang cerdas, serta dibarengi dengan iman dan akhlaq yang kuat untuk bertahan dalam interfrensi global. Indonesia mempunyai banyak solusi dalam menyikapi masa depan, soal pendidikan keagamaan Indonesia mempunyai Pondok Pesantren dengan sekolah terpadu berbasis agama setara dengan sekolah umum lainnya. Soal pendidikan ilmiah Indonesia juga mempunyai universitas-universitas yang sangat komplit subfakultasnya. Sudah terbukti dan tidak dapat diragukan lagi pendidikan di Negara Indonesia sudah banyak yang mamapu bersaing dalam kancah internasioanl, baik dari Pondok Pesantren maupun dari Universitas-Universitas dalam negri.

 Pendidikan Pondok Pesantren Salaf Menjawab Tantangan Zaman

Pesantren adalah sebuah pendidikan tradisional yang para santrinya tinggal bersama dalam satu komplek pendidikan untuk belajar ilmu keagamaan dengan dibimbing langsung oleh Kiyai (orang yang ilmu keagamaanya sudah mumpuni). Pesantren lahir sejak zaman para Wali Songo berdakawah di tanah Jawa dengan mendirikan padepokan-padepokan untuk mengajarkan keagamaan dengan sistem Jawa tradisional tanpa menghilangkan kebudayaan yang telah tumbuh subur di tanah jawa itu sendiri, hanya saja kebudayaannya disisipkan ajaran syariat keislaman. Sebuah strategi dakwah yang sangat cerdik dan sopan, berbalik tajam dengan dakwah yang sekarang sering kita lihat atau kita dengar, mengingat cara dakwah yang sekarang banyak bertebaran hanya untuk menyuarakan kebencian dan kekerasan.

Salah satu fungsi kehadiran pesantren dalam kehidupan sosial adalah untuk melindungi generasi muda bangsanya dari pengaruh negatif globalisasi, sepertihalnya hedonisme, kenakalan remaja dan skulerisme, padahal untuk membangun generasi muda tidak hanya soal keilmuan ilmiah saja, akan tetapi juga keilmuan agama yang didasari dengan kekuatan karakter dan kekuatan aqidah personalnya. Inilah yang melatarbelakangi berdirinya pesantren dan menjadikan semakin kokohnya pesantren hingga zaman moderen seperti sekarang ini, sehingga menjadikan Pesantren sebagai tolak ukur keseimbangan berpendidikan.

Founding fathers bangsa Indonesia KH Wahid Hasyim, sewaktu beliau menjabat sebagai menteri agama, beliau dengan sigap menyerap aspirasi umat Islam dan pesantren yang merupakan komponen utama bangsa ini. Beliau dengan cepat membidani peraturan mengenai penyelenggaraan pengajaran agama di sekolah umum, mendirikan pendidikan guru agama negeri, dan perguruan tinggi agama Islam negeri.

Walhasil jaman sekarang, kekhawatiran tentang tidak adanya pendidikan agama di sekolah formal sudah tidak relevan lagi. Apalagi hampir seluruh pesantren yang memiliki sekolah formal menambah pelajaran agama di luar jam sekolah. Bahkan pelopor-pelopor pendirian sekolah formal di lingkungan pesantren adalah pesantren-pesantren besar yang menjadi rujukan. Seperti Pesantren Tebu Ireng, Nurul Jadid, Darul Ulum dan lain sebagainya.

Rasa percaya diri dan keinginan untuk mandiri adalah sebuah bentuk alasan mengapa masih banyak pesantren salaf yang tidak mengembangkan pendidikannya pada pendidikan formal atau pendidikan ilmiah. Rasa percaya diri timbul dari keberhasilan pendidikan pesantren selama berabad-abad. Khususnya dalam pendidikan karakter, pesantren memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dalam mendidik etika murid-muridnya dalam berinteraksi sosial kebudayaan atau keagamaan, karena salah satu kunci keberhasilan dari berkehidupan sosial adalah baiknya cara berinteraksi sosial.

Salah satu kelebihan yang paling menonjol dan unik dari pesantren salaf justru kemandirian dalam ekonomi. Alasan penulis mengatakan unik sebagai kelebihan pesantren salaf adalah karena pesantren salaf kehidupannya hanya bergantung dari elemen internal pesantren itu sendiri, mulai dari Sumber Daya Manusianya, Sumber Daya Alamnya atau bahkan dari sumber penghasilan ekonomi mandiri lainnya. Pesantren Sidogiri membuktikan bahwa karena tidak memiliki ijazah formal justru membuka peluang besar untuk berwirausaha. Sidogiri dengan ke-salaf-annya mampu mendirikan banyak minimarket dan usaha perbankan BMT (Baitul Mal wa Tamwil).

Suatu bentuk kemandirian pesantren salaf dalam mengolah kurikulum pendidikan kitab kuning dengan segala bentuk model pembelajaran, dan tentu dibekali dengan skill kreativitas berekonomi, bersosial, berbahasa, dan skill menulis. sehingga muncullah percetakan buku milik pesantren salaf seperti Pustaka Sidogiri dan Lirboyo Press. ini adalah sebuah jawaban dari pesantren terhadap masa depan, bahwasannya pesatren juga mampu memandang kebutuhan para santrinya untuk andil dan bersaing dalam tranformasi global, menyebarkan rahmatan lil alamin tanpa menghilangkan eksistensi jiwa ke-pesantren-an.

Omdurman, 26 maret 2019,

Ekoteologis

EKOTEOLOGIS PESANTRE

EKOTEOLOGIS PESANTREN DAN SPIRIT EKOKRITIS LPBI NU MOJOKERTO
Oleh: Yudho Sasongko

Jika anda menemui kibaran panji NU di puncak Pawitra gunung Penanggungan itu bukan kebetulan semata. Kegagahan kibaran panji NU bersama kibaran Sang Saka Merah Putih di puncak tersebut erat kaitannya dengan peran aktif LPBI (Lembaga Penanggulanan Bencana Dan Perubahan Iklim) NU Mojokerto dalam menjaga kelestarian dan konservasi alam di wilayah gunung yang berketinggian 1.653 meter tersebut.

Nafas konservasi alam tidak hanya dimonopoli oleh para pecinta alam ataupun kelompok dan organisasi lingkungan hidup saja. Nyatanya LPBI NU Mojokerto dengan basis warna bendera hijaunya sudah mampu memberikan teladan peran santri dalam mewujudkan ekologi lingkungan hijau disamping peran lainnya sebagai rescuer tanggap darurat kebencanaan.

Mereka juga adalah para pejuang fiqih al bi’ah[1] yang terus berusaha menempatkan wacana lingkungan hidup beserta ekosistemnya sebagai sebuah ushul dan bukan lagi sebagai furu’. Memupuk ekologi menjadi ekoteologi[2]

Diamana permasalahan lingkungan hidup beserta perlindungannya tidak akan bisa atau sulit diselesaikan hanya dengan mengandalkan pengetahuan dan teknologi saja. Perlu tambahan solusi taktis seperti merubah secara arif, bijaksana, mendasar dan bertahap cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam lingkungannya. Sasarannya bukan lagi hanya orang perorang, namun harus menjadi budaya dan kebiasaan masyarakat secara luas.

Bidikan pertama dari LPBI NU Mojokerto adalah para pendaki gunung yang secara psikologis sangat dekat dengan alam. Komunitas pecinta alam dan pendaki gunung tidak bisa diremehkan pengaruhnya dalam mewujudkan ekoteologi yang berbasis ekokritisme.

Mereka adalah variabel dengan jumlah yang cukup besar dalam eksponen para pelaku pelestarian alam. Melihat peluang variabel tersebut maka dijadikanlah sebagai bidikan pertama oleh LPBI NU Mojokerto dalam mendukung tugas mulia tersebut, yaitu mengawal fiqh al bi’ah di area gunung Penanggungan.

Sudah saatnya kita untuk bergotong-royong memberi perhatian yang lebih serius terhadap dampak kerusakan ekologi beserta ekositemnya. Dan jangan lagi dipandang sebelah mata serta hanya sebatas wacana. Jika tidak bergerak serempak tunggu saja kehancuran lingkungan hidup kita.  

LPBI NU Mojokerto siap menghadapi trending topic lonjakan jumlah pendakian gunung Penanggungan belakangan ini. Animo masyarakat tersebut menempati rating tinggi unggahan media sosial dengan kecenderungan terprovokasi oleh nafsu swafoto ala instagrammable[3]. Hal ini memicu makin luasnya paparan informasi tentang keindahan puncak Pawitra gunung Penanggungan.

Dimana hal tersebut akan berdampak buruk juga terhadap kelestarian alam gunung Penanggungan yang disebabkan oleh naiknya intensitas pendakian yang tidak bertanggungjawab. Belum lagi para pelangggar intruduksi[4] kawasan konservasi makin memperburuk kerusakan hutan.

Disinilah diperlukan ruh-ruh santri yang sabar, telaten serta ulet dalam wujud kiprah di tubuh LPBI NU Mojokerto. Santri yang siap berperan dalam menanggulangi extraordinary crime[5] berupa perusakan lingkungan atau pelanggaran wilayah konservasi lainnya.

Kegiatan reboisasi tanaman endemik vegetasi gunung Penanggungan juga digalakkan. LPBI NU Mojokerto juga turut aktif dalam operasi pemadaman kebakaran hutan di gunung Penanggungan serta gunung-gunung disekitarnya seperti gunung Arjuno dan Welirang. Dampak signifikan lainnya yang terlihat dari pendakian massal adalah peran potensi SAR dari para rescuer[6] LPBI NU Mojokerto yang siap memberikan pertolongan terhadap korban-korban pendakian yang frekuensinya makin meningkat di gunung Penanggungan.

Para rescuer siaga 24 jam di pos loket masuk pendakaian gunung Penanggungan pintu Tamiajeng Trawas Mojokerto. Kesiagaan ini termasuk barang langka, sebab sepengetahuan penulis bahwa di pintu-pintu masuk pendakian gunung-gunung lainnya tim SAR lokal hanya datang jika diperlukan. Beda dengan para rescuer LPBI NU Mojokerto yang selaau standby di pos lapor pintu masuk pendakian.

Dengan amanah khulliyat al khoms[7] serta kecerdasan ekologi, LPBI NU Mojokerto percaya diri untuk terus berjuang di medan jihad pelestarian alam. Mereka tak sebatas teoritis yang muluk-muluk membahas ekologi, namun langsung praktek di lapangan untuk memberi contoh tauladan yang terbaik.

Ruh konservasi alam skala ringan dalam fiqh al bi’ah sebenarnya sudah sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya yang langsung terkait dengan ibadah dan masalah fiqih jinayah[8] seperti dilarangnya buang air kecil atau kencing di lubang serta pada air yang tergenang ataupun menebang pohon sembarangan di wilayah Haram. Namun untuk skala besar harus melibatkan sebuah lembaga dan kekuatan terpadu dalam menjalankan amanah fiqih al bi’ah lainnya seperti usaha reboisasi dan pencegahan pembalakan liar, illegal logging.

Sejak 2014 LPBI NU Mojokerto sudah mampu mendistribusikan air di Desa Kunjorowesi, sebuah wilayah terjal nan sulit ditembus. Perlu keuletan dan spirit perjuangan khas santri untuk menembusnya. Sebab desa Kunjorowesi merupakan desa tertinggi di lereng Penanggungan. 

Kerusakan lingkungan di Desa Kunjorowesi sebagian disebabkan oleh aktifitas penebangan pohon dan pengambilan pasir, batu tanah untuk kepentingan korporasi yang membuat desa-desa lereng gunung Penanggungan sering mengalami kekeringan. Bukan hanya sektor lereng, area puncak tinggi seperti puncak Pawitra juga mendapat perhatian LPBI NU Mojokerto, khususnya menjamin tetap terpasangnya bendera NU di puncak gunung legendaris tersebut bersama Kibaran Sang Saka Merah Putih. Termasuk upacara penaikan Sang Saka Merah Putih yang rutin digelar setiap tanggal 17 Agustus.

Selain pengecekan bendera hal tak kalah penting lainnya adalah pengawasan atas kewajibkan para pendaki untuk membawa turun sampahnya dengan cara persuasif seperti disediakan kantong-kantong plastik jumbo secara gratis untuk tempat sampah serta pemberian stiker gratis bagi yang membawa turun sampahnya. Pemasangan baliho dan spanduk pro lingkungan juga dilakukan untuk memberikan semangat pelestarian lingkungan. Cara ini layak mendapat apresiasi dan harus dikampanyekan ke semua pintu-pintu masuk pendakian gunung-gunung di Indonesia yang sepengetahuan penulis tidak ada yang seperti itu. Bravo LPBI NU !

Tidak hanya berhenti disitu, sampah-sampah yang terkumpul dikelolah oleh LPBI NU Mojokerto dalam bentuk program BSN (Bank Sampah Nasional). Data statistik menunjukkan bahwa BSN Mojokerto yang digagas oleh LPBI NU Mojokerto sudah memiliki lebih dari banyak nasabah sampah. Terobosan ini juga merupakan salah satu bukti bahwa LPBI NU Mojokerto telah berperan aktif dalam isu lingkungan dan perubahan iklim.

Penulis : Yudho Sasongko, Anggota Kelompok Pecinta Alam Wilderness Lali Jiwo Pasuruan, HP. 0895337939915, Email : konturamontana@gmail.com Gersikan Rt.01 Rw.01 Kelurahan Kedungringin Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan Jawa Timur 67154


[1] Fiqih lingkungan hidup

[2] Cara pandang religius terhadap lingkungan hidup

[3] Layak posting

[4] Gangguan area terbatas

[5] Kejahatan besar

[6] Potensi dan tenaga penyelamat

[7] Dasar-dasar penjagaan kemuliaan

[8] Fiqh pidana

Santri NU

Akal Sehat Santri

Akal Sehat Santri
Oleh: Ardiansyah Bagus Suryanto

Keagungan Islam dan keindahan Nusantara menyatu dalam senyum penduduk Negeri Pancasila. Dari gunung ke laut wajah tersenyum dimana saja sebagai identitas kultural dalam bersikap, bertindak dan bertutur. Senyuman sebagai bahasa universal untuk mempertahankan tradisi-tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Adaptif dengan setiap kemajuan tanpa kehilangan jati diri dalam ‘menjadi’.

Bahasa dan budaya yang menjadi batasan umat manusia, tidak lagi menjadi halangan untuk bersahabat. Nilai kebajikan yang terkandung dalam budaya lain dan tersimpan dalam bahasa tertentu akan menyatu dalam keindahan budaya nusantara. Penyalahgunaan logika sebagai pangkal perdebatan seringkali menyebabkan permusuhan tak berdasar. Maka sebenarnya, puncak kecerdasan masyarakat gemah ripah loh jinawe adalah keindahan berbudaya. Indah tanpa menjelekkan, menang tanpa mengalahkan dan beragama tanpa mengafirkan.

Nilai-nilai tersebut menjadi karakter, ciri khas atau tipologi masyarakat Nusantara. Dikembangkan dalam pendidikan khusus yang dikenal dengan nama Pesantren, tempat dimana para santri dididik agar tidak kagetan dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat. Senantiasa merawat akal sehat dengan mengedepankan akhlak, menebarkan kedamaian dan memberikan ketenangan kepada umat..

Santri sebagai symbol keindahan dalam memperjuangkan harapan umat. Tidak hanya keindahan tentang apa, melainkan juga kesantunan dalam menyapa. Maka, pesantren menjadi tempat berkumpulnya akal sehat dalam mempelajari keindahan sastra. Sastra berwujud firman Tuhan dan sabda Rasul, serta karya ulama’ dalam bentuk rangkaian nadham.

Klaim Hari Santri

Setiap keindahan akan diperebutkan oleh banyak pihak. Cara sederhana untuk mengetahui kebenaran tersebut adalah dengan melacak sejarah adanya hari santri. Juga dapat dideteksi dengan kebiasaan yang telah menjadi identitas. Ada beberapa kata yang setara dengan kata santri, yaitu langgar, tahlilan, tawassul dan ziarah kubur. Setara yang dimaksud di sini adalah identitas sebuah kata dengan kesamaan peristiwa. Sehingga ketika seseorang atau sebuah kelompok mengklaim sebagai pengusul adanya hari santri, namun tidak melakukan objek kata yang setara dengannya, maka dapat disimpulkan sebagai kebohongan.

Menurut Gus Dur, santri berasal dari bahasa Pali shastri, orang yang mempelajari sastra. Pali sebagai bahasa pertama kitab Tripitaka. Istilah yang identic dengan agama Buddha, namun digunakan dalam agama lain. Ini menunjukkan bahwa perbedaan bahasa tidak membuat seseorang auto-kafir atau bermasalah dengan keislamannya.

Langgar sebagai salah satu sebutan tempat beribadah umat Islam yang tidak jauh dari rumah. Berasal dari kata sanggar yang bermakna tempat pemujaan di pekarangan rumah. Walisongo mempunyai andil besar dalam merubah suatu tempat berdasarkan nilai-nilai Islam tanpa pemaksaan atau pertumpahan darah. Istilah yang identic dengan agama lain, namun digunakan dalam dakwah Islam.

Tahlilan merupakan amaliah Islam di Nusantara yang dibungkus dengan kebudayaan setempat. Masyarakat Nusantara pada zaman dahulu senantiasa mengingat jasa leluhur dengan mendatangi punden berundak dengan mempersembahkan sesajen. Walisongo mengadopsinya dan merubahnya menjadi budaya silaturrahim dan sedekah. Tawassul menjadi salah satu unsur dalam tahlilan agar senantiasa mengingat jasa para guru dan orang tua. Sedangkan ziarah kubur menjadi upaya untuk memahami bahwa ‘Jangan sekali-kali melupakan sejarah!’

Raden Santri

Rencana penggusuran makam Rasulullah dan klaim hari santri adalah pola piker dengan latar belakang yang sama. Gerakan santri yang menolak rencana penggusuran tersebut dikenal dengan Komite Hijaz, sebagai cikal bakal Nahdlatul Ulama’. Santri tidak akan melupakan jasa para guru dan orang tuanya, karena melupakan salah satu atau keduanya akan menjadi sebab hilangnya keberkahan dalam hidup. Tahlilan, tawassul dan ziarah kubur sebagai salah satu cara mengingat jasa-jasa mereka yang telah berpulang, inilah identitas santri.

Seorang santri bernama Sayyid Ali Murtadlo menggunakan kata santri sebagai identitas. Orang-orang menyebutnya Raden Santri, kakak dari Sunan Ampel. Anak dari Syekh Ibrahim Asmaraqondi dan sepupu Maulana Malik Ibrahim. Maka sebenarnya, Sayyid Ali Murtadlo adalah Sunan Gresik yang masuk dalam Walisongo.

Santri, tak mengandalkan seragam agar dihormati atau berkata agar diikuti, apalagi minta untuk dilayani. Kebanggannya bukan pada diri, melainkan aktivitas sehari-hari. Senjatanya istiqomah mengaji mengasah jati diri, berharap ilmu yang manfaati barokah dari para kiai. Melestarikan ajaran para wali sebagai pewaris baginda Nabi. Itulah impian sejati, bukan untuk menyombongkan diri terhadap titipan Ilahi, karena itu perilaku syaitoni. Musuh abadi manusia di muka bumi.

Selamat Hari Lahir Organisasi Para Santri, Nahdlatul Ulama’!

*Editor Journal of Islamic Education Studies UIN Sunan Ampel Surabaya

1 2 3 4 5 7