dafit

Memaknai Arti Nyantr

Memaknai Arti Nyantri, Ngopi, Ngaji dan Ngabdi di Dunia Pesantren

Oleh: Abu Dzarrin Bagus*

Di pesantren, santri itu identik dengan perihal “Nyantri, Ngopi, Ngaji dan Ngabdi”. Empat hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari kehidupan seorang santri. Sebelum masuk lebih dalam pada pembahasan tema tersebut, saya akan mengedentifikasi makna-makna dari empat hal diatas.

 Pertama, “Nyantri”. Nyantri adalah suatu proses dimana seseorang dipaksa (dibiasakan) untuk hidup serba sederhana, mandiri, disiplin, dan memiliki sifat tawadlu’ kepada seorang kiai atau pengasuh lembaga kepesantrenan. Pada proses ini santri digembleng untuk disiplin full day full night.

Hal inilah yang menjadikan seorang santri itu berbeda dari yang lain; dia sudah dilatih sedemikian rupa untuk siap menjadi kader-kader bangsa yang disiplin dan ber-akhlakul karimah. Sesorang yang memiliki title “Santri” biasanya dipandang lebih oleh masyarakat dengan anggapan ‘siapa yang nyantri, pastilah dia memiliki ilmu agama yang baik’.

Kedua, “Ngopi”. Ngopi adalah suatu aktivitas atau kebiasan yang mungkin sangat mengsyikan menurut sebagian santri. Kebanyakan dari pengopi, utamanya santri, menganggap aktivitas ini dapat menjadi sarana membukan imajinasi.

Muhammad Thom Afandi dalam sampul bukunya yang berjudul “Ngopi Di Pesantrenku Seri 2” menuliskan “Ngopi adalah Pelajaran, mengeja alifba’…ta’… kehidupan dalam lautan iqra’-Nya. Memberi mubtada’ dan mencari Khobarnya, memaknai Fi’il dan mentarkib Fa’il-maf”ulnya, sampai ketemu dengan jelas, kalam firman-Nya, irodah dalam ayat karunia-Nya. Pada setiap seruputan mendalam, menandai makna itu telah terengguk. Seruputan yang kedua dan setrusnya, sampai makna-makna itu menjadi lukisandan di akhir tegukan, lukisan itu telah memiliki warna”.

Lebih dari itu, menurut saya Ngopi adalah momentum dimana kita meresapi pahitnya kehidupan, sekaligus dituntut untuk terus melangkah menuju kebaikan yang akan mengantar kita kepada lautan rasa manis.

Keempat, “Ngaji”. Ngaji adalah kewajiban rutin yang harus di laksanakan oleh seorang santri. Hampir sama seperti belajar di sekolah, tetapi terdapat begitu banyak perbedaan. Diantaranya, di pesantren, Ngaji tidak mempelajari ilmu-ilmu umum. Ngaji lebih banyak mempelajari ilmu agama, sebagai contoh mengkaji Al-Qur’an, mulai belajar ilmu nahwu-shorof  (metode membaca) sampai ilmu tafsir—dengan merujuk kitab-kitab klasik atau biasa disebut kitab kuning.

Keempat, “Ngabdi”. Ngabdi adalah suatu hal yang lazim dilakukan seorang santri dengan tujuan ngalap barokah kepada kiyai. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Hadratus Syaikh K.H Hasyim Asy’ari ketika belia mondok di tempat K.H Cholil Bangkalan. Dimana KH. Hasyim Asy’ari dikenal sebagai santri yang sangat patuh kepada K.H Cholil.

Dikisahkan, pada suatu hari di saat hujan lebat, K.H Cholil mendapat seorang tamu, tamu itu di depan pondok dan sedang kehujanan. Ketika itu pula Mbah Cholil menawarkan kepada santrinya “siapa yang bias menjemput tamu saya di luar?”. Seketika itu Mbah Hasyim mengajukan diri untuk menjemput tamu itu, dengan sesegera mungkin Mbah Hasyim menghampiri tamu itu dan menggendonya untuk menemui Mbah Cholil.

Setelah sekian lama tamu itu di dalam ndalemnya Mbah Cholil, Mbah Cholil kembali bertanya kepada santrinya, “siapa yang mau mengantarkan tamu saya pulang?”. Lagi-lagi Mbah Hasyim menyanggupi permintaan Gurunya itu. Tamu itu di gendong lagi sampai ke gerbang pondok.

Di saat Mbah Hasyim mengatarkan tamu itu, Mbah Cholil berbicara kepada sebagian santrinya “ilmuku sudah dibawa orang itu”, yang di maksud di sini adalah Mbah Hasyim. Lalu Mbah Cholil berkata lagi “dan yang di gendong itu adalah Nabi Khidir AS”.

Dari cerita di atas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa “Sendiko dawuh” kepada kiyai dengan ikhlas, kelak akan membawa barokah tersendi pada santri. Sebagaimana K.H Hasyim yang menjadi Ulama kharismatik dan mendirikan sebuah organisasi besar di Indonesia, yaitu Nahdlotul Ulama (NU). Suatu organisasi yang berasaskan Ahlussunah wal jama’ah dan menjadi rumah  bagi para santri.

Selain itu, di dunia pesantren juga banyak melahirkan tokoh nasional. Hal itu karena seorang santri dituntut bukan hanya menjadi seorang ulama atau kiyai. Melainkan juga mengemban amanah lain, seperti menjadi seorang pemimpin dalam masyarakat sebagaimana semboyan “Shubanul naum rijalul ‘ghod” yaitu pemuda di masa sekarang adalah pemimpin di masa yang akan datang. Hadirnya santri dalam pemerintahan dibuktikan Presiden ke-4 Indonesia adalah seorang santri, beliau adalah Abdurrahman ad-Dhakil atau Abdurrahman Wahid atau yang akrab dikenal dengan Gus Dur. Selain beliau adalah seorang presiden beliau juga di kenal dengan kiyai kharismatik yang cerdas (cendekiawan).

Santri dimanapun dia berada harus berguna untuk orang lain, karena dalam identitas santri ada tanggung jawab keilmuan yang harus memberi maslahah bagi masyarakat di sekitarnya. Kesiapan itu contohnya apabila ada masyarakat yang mengadakan tasyakuran pasti yang menjadi pilihan pertama adalah dia yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren (Nyantri). Santri juga di tuntut untuk mendakwahkan ilmunya yang di peroleh ketika di pesantren, sesuai pedoman “Ajarkanlah ilmu-mu walau se-ayat”.

Sebagai santri zaman sekarang, kita harus pandai-pandai memanfaatkan teknologi yang ada. Salah satunya internet, santri tidak boleh kalah dalam berperan aktif di media sosial. Sebab, tidak sedikit dari pengguna media sosial ingin memecah belah bangsa kita ini melalui ujaran kebencian. Sudah saatnya santri berwawasan luas, bersatu dan berkiprah di kancah nasional dan bahkan internasional. Salah satunya bisa dilakukan dengan menulis dan menyalurkan pendapat yang konstruktif.

Menulis itu gratis dan tidak dilarang. Marilah kita meneruskan tradisi santri dahulu, yaitu menulis.

Abu Dzarrin Bagas

*Abu Dzarrin Bagas adalah santri di pondok pesantren Al-Amin Suburan Mranggen, Demak

RMI NU dan PT PGN

Berdayakan Santri Ma

Malang, – Sebanyak 120 santri se-Kabupaten Malang mengikuti pelatihan budidaya jamur yang diselenggarakan Perusahaan Gas Negara (PGN) bekerja sama dengan Pengurus Pusat Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI NU).

Pelatihan tersebut diselenggarakan di Pondok Pesantren Al Huda Desa Patokpicis, Wajak, Kabupaten Malang, Rabu (20/3/2019). Pembukaan pelatihan dihadiri Vice President Strategi Stakeholder Manajemen PGN Santiaji Gunawan.

Hadir dalam kesempatan itu Ketua Umum PP RMI NU KH Abdul Gofar Rozi dan Pengasuh Pondok Pesantren Al Huda Gus Tajoel Arifin.

“Pelatihan budidaya jamur ini bertujuan untuk pengembangan UMKM berbasis pesantren,” ujar Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al Huda Gus Tajoel Arifin kepada TIMES Indonesia.

Baca juga: Melalui Worshop Pengembangan UMKM, RMI NU dan PT PGN Dukung Pengembangan Ekonomi Pesantren

Dia menjelaskan, bukan tanpa sebab dipilih pelatihan budidaya jamur untuk santri ini. Karena Pondok Pesantren Al Huda saat ini getol mengembangkan budidaya jamur.

“Hasil dari budidaya jamur kami jadikan aneka makanan olahan dan tepung dari jamur,” tuturnya. Menurutnya, budidaya jamur sangatlah mudah. Selain itu, tidak membutuhkan biaya yang sangat besar.

“Saya percaya santri bisa berbudidaya jamur, asalkan dilatih terlebih dahulu. Maka dari itu, kami latih para santri untuk berbudidaya jamur,” terangnya.

Setelah mengikuti pelatihan ini, dia berharap dapat diimplementasikan dengan baik oleh para santri.

“Sehingga para santri dapat memiliki skill dalam berbudidaya jamur yang tentunya bermanfaat bagi mereka nanti, seperti membuka usaha jamur sendiri,” terangnya.

Pengasuh Pondok Pesantren Al Huda Gus Tajoel Arifin megatakan, melalui bantuan pelatihan budidaya jamur dari PGN dan PP RMI NU ini diharapkan pengembangan UMKM berbasis pesantren di Kabupaten Malang semakin menggeliat.

Berita dikutip dari timesindonesia.co.id dengan judul sama.

Gus Rozin

Melalui Workshop Pen

Malang, – Selain berperan sebagai pendidikan keagamaan, pesantren juga memiliki potensi serta kewajiban dalam mempersiapkan mental dan pengetahuan usaha bagi santri dan masyarakat sekelilingnya. Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI NU), KH Abdul Ghoffar Rozin (Gus Rozin), pada acara pembukaan acara Workshop pengembangan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) berbasis pesantren yang diselenggarakan RMI NU bekerjasama dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) di Pondok Pesantren Al Huda Klakah, Patokpicis, Wajak, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (20/3/2019) siang.

“Melalui pelatihan dan pengembangan peluang usaha yang bisa dilakukan oleh pesantren, santri dan masyarakat sekitar dididik untuk siap menghadapi tantangan dan peluang usaha yang semakin kompleks,” ungkapnya

Menurut Gus Rozin, Pesantren telah memiliki basis yang kuat, yaitu santri, alumni  dan masyarakat sekitar pesantren. Tiga komponen tersebut selain menjadi objek harus juga menjadi subjek dalam pemberdayaan. Berjalannya fungsi Pemberdayaan ini akan menjadi penggerak ekonomi umat.

“Santri tidak hanya bisa ngaji dan dakwah saja, namun juga bisa menjadi penggerak ekonomi umat, kalau di Kudus, dikenal dengan istilah “Gus Jigang” ( Ngaji dan dagang),”

Pada kesempatan tersebut, Staff Khusus Presiden Bidang Keagamaan Dalam Negeri itu menjelaskan, workshop pengembangan UMKM berbasis Pesantren yang akan dilaksanakan ini berfokus pada pelatihan pembudidayaan jamur tiram.

“Lahan yang tidak harus besar, modal usaha yang terjangkau, dan hasil yang bisa dipetik setiap hari merupakan sekian alasan yang utama bagi UMKM di pesantren untuk mencoba peluang agribisnis,” ungkapnya.

Baca juga: RMI NU Suarakan Kebersihan Pesantren

Sementara itu, perwakilan dari manajemen PT PGN Santiaji Gunawan berharap hasil kerjasama antara RMI NU dan PT PGN ini mampu menghasilkan para wirausahawan dari kalangan pesantren.

“Apa yang kita adakan hari ini kami berharap, dari pesantren ini melahirkan wirausaha-wirausaha muda yang mampu memimpin dunia usaha,” terang  Santiaji yang menjabat sebagai Group Head of Strategic Stakeholder Management PGN.

Acara workshop ini, rencananya akan digelar selama dua hari, Rabu-Kamis (20-21/3/2019). Kegiatan yang diikuti sekitar 120 peserta dari elemen pesantren, masyarakat sekitar, pelaku UMKM ini akan dipandu Dr. Damanhuri dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang dan tim dari Lembaga Pengembangan Pertanian PWNU Jawa Timur. [ZAM]

Pesantren Digital

Menuju Pesantren Mah

Menuju Pesantren Maha-Digital (Pesantren  In The Cloud)

Oleh: Moh. Ahsan Shohifur Rizal[1]

Memiliki Big Data sebagai aset NU yang dinahkodai pesantren–melangkah jauh dan melampaui batas intelektual untuk menyambut dunia baru, demi terwujudnya masa depan organisai yang memiliki kredibiltas dan eksistensi di era digital–,tentu merupakan mimpi manis yang patut dipikirkan. Menurut saya, ini merupakan investasi digital yang perlu dimulai dengan berbagai kreasi dan bentuknya, guna menunjang dan menopang eksistensi organisasi.

Hal demikian tentu tidak sekedar mimpi belaka, melainkan target yang perlu rancang pelan-pelan dan diwujudkan, melalui langkah-langkah strategis. NU sangat berpeluang untuk mewujudkan hal tersebut, sebab telah didukung adanya Santri-Akademik, yang memiliki kemampuan menggabungkan/menalfidkan ilmu pesantren dan ilmu umum, dalam melihat berbagai wacana yang ada.

Pada tema ini, penulis mengemasnya dalam akronim “BK2M”: Big Data, Kajian dan Pergerakan, Membangun dan Menyediakan Open Recourse dan Media digital. Semua invetasi itu wajib ditambahkan kata NU untuk menguatkan eksistensi dan memudahkan masyarakat ketika berselancar di dunia maya. Baik, mari kita bahas satu persatu sebagai berikut;

Big Data/Maha Data NU

Dewasa ini, seolah sudah menjadi keharusan bahwa setiap organisasi harus memiliki atau bersistem mahadata. Mengapa hal itu harus dilakukan?, dikarenakan sebuah organisasi harus mampu memperoleh, mengolah dan menganalisis data besar yang dimiliki organisnasi, khususnya Pesantren. Apa yang dimiliki dan disimpan?, meliputi data aset, karya-NU, kajian NU dan karya atau aset lain yang bisa didigitalisasikan.

Prinsipnya data bisa diakses kapan saja, dimana saja dan oleh siapa saja. Data itu bisa berupa kajian-kajian yang sudah tidak lagi populer dan tidak banyak beredar, khususnya mengkaji karya-karya kyai Nusantara–termasuk hasil kajian kader NU. Hal itu tentu merupakan wujud nyata dalam menyelematkan karya para ulama kita.

Alhamdulillah sekarang sudah ada “Maktabah Syamila” mega digital kitab kuning seluruh dunia, ada hampir enam ribu judul lebih. Tetapi karya itu hanya terbataa bagi para santri yang ahli dalam bahasa arab. Terutama yang membidangi bahstul masail.

Kajian dan Pergerakan Lintas Sektoral Bermuatan NU

Dalam dunia pendidikan, NU sudah banyak perannya dalam berbagai bidang. Tetapi sesuai pengalaman saya menjadi pendidik, kebetulan menjadi pengelola sekolah adiwiyata atau sekolah berbudaya lingkungan, sangat sedikit sekali sekolah NU yang menjalankan program itu. Padahal bidang itu ajang memberikan kiprah positif terhadap Indonesia, bagaimana peduli terhadap berbudaya dan lingkungan, baik di sekolah, di rumah atau di masayarakat sekitar.

Walauun begitu, ketika mengikuti program PKPNU, saya melihat kita sudah menerapkan aksi bebas sampah, artinya kesedaran tentang peduli lingkungan sudah ada.  Mungkin hal tersebut terlihat kecil, tapi jika dikaji program itu telah memberikan efek luar bisa, terutama dalam hal membersihkan sampah, meski belum sampai pada pola pengelolaannya.

Selain itu, mari kita memunculkan Olimpiade Maarif NU secara online, bekerja sama dengan lintas sektoral Dinas Pendidikan maupaun Kementerian Agama. Berdasarkan pertimbangan, siswa NU butuh nutrisi materi NU dengan gaya berbeda, yakni melalui olimpiade tersebut.

Dari situ, otomatis buku-buku NU harus diseleksi betul bahkan jika perlu mengenai sejarah NU ditashih oleh pakar sejarah NU, secara praktis buku NU akan menjadi sumber rujukan primer untuk mengikuti kegiatal olimpiade NU. Sebenarnya banyak hal penulis inginkan dan mimpikan, paling tidak nantinya pesantren akan menjadi pelopor organisasi yang mampu trans-sektoral untuk membantu kerja NU khususnya dalam kaitanya bidang penelitian, pengabdian dan pelatihan (sertifikasi NU).

Membangun dan Menyediakan Open Recources Khas NU

Jika sudah memiliki sistem rumah e-organisasi selanjutnya adalah untuk mengisinya dengan karya-karya monumental ulama-ulama NU dan sarjana-sarjana NU. Yang dapat diakses gratis oleh warga NU yang diintegrasikan dengan sistem Karta NU. Sehingga warga NU bisa mengakses kapanpun-dimanapun karya para ulama dan sarjana NU untuk dijadikan sebagai sumber rujukan dalam menjawab berbagai hal problematika kehidupan sekarang.

Para sarjana NU yang memiliki berbagai disiplin keilmuan masing-masing itu, tentu harus harus kuat memegang ideologi NU (Islam Ahlussunah Wal Jamaah). Sehingga pemikiran-pemikiran mereka tetap dalam koridor ke-NU-an.

Selain itu, hari ini sudah sangat banyak open recources yang telah disedikan oleh penyedia luar negeri, dalam konten itu karya-karya monumental para pakar dunia dapat diakses secara gratis. Terdapat jutaan judul dari berbagai disiplin ilmu yang dapat diakses untuk menopan penguatan kapasitas intelektualitas yang bisa kita manfaatkan.

Media Maha Digital NU

NU dan Media harus menjadi satu. Keduanya harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat, dimana digitalisasi itu dapat dimaksimalkan untuk ajang penyebaran produk pemikiran NU kepada seluruh warga NU, utamanya kepada kenerasi Z.

Penting memikirkan rumah besar bernama  NU itu juga menjadi tempat singgah yang nyaman bagi mereka. Salah satu caranya NU harus membuat mega-link atau peta jaringan mulai dari pusat hingga pengurus ranting, contohnya nama web mulai pusat hingga ranting harus seragam. Sehingga jelas bahwa media NU adalah yang memiliki jaringan link yang dibuat oleh pusat. Nama domain diatur terstruktur, hingga media sosial resmi organisasi juga harus memiliki relasi diseluruh tingkat mulai ranting hingga pusat.

Saya berharap, jangan sampai warga NU menjadi obyek di era digital tetapi kita harus bisa menjadi subyek, utamanya dalam pengembangan ke-islam-an NU dan dakwah islam yang rahmatan lil alamin. Dengan media, kita bisa melakukan dakwah kapan saja, dimana saja. Kita bisa memanfaatkan berbagai media sosial (internet) untuk menguatkan, mengokohkan dan bahkan melebarkan sayap NU dikancah internasioanl.

Semoga sedikit ulasan artikel ini bermanfaat, penulis menyadari bahwa apa yang dimimpikan sangat berat untuk diwujudkan. Tetapi jika ada kemauan-kemampuan-kesempatan insyallah akan terwujud. Mungkin juga artikel ini juga sudah usang karena baru muncul hari ini, penulis mohon maaf atas ketidakfaktualan informasi yang kai terima.


[1] Alumni Santri PP Sabilurrosyad Gasek dan Kandidat Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang

ilustrasi literasi pesantren

LITERASI SEBAGAI MED

Literasi Sebagai Media Dakwah Santri: Studi Kasus Ponpes Darul Falah Be-Songo Semarang

Oleh : Nur Koles

Pesantren selama ini dikenal sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam. Namun demikian, sesungguhnya pesantren turut memainkan peranan yang cukup signifikan dalam membina dan mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk menggapai keunggulan (excellence). Sebagai lembaga pendidikan Islam pondok pesantren sepanjang sejarahnya telah berperan besar dalam upaya-upaya meningkatkan kecerdasan dan martabat manusia.

Fungsi pesantren tersebut hingga kini tetap harus terjaga dengan baik, bahkan sebagian telah mengembangkan fungsi dan perannya sebagai pusat pengembangan di berbagai masyarakat (Said Aqil Sirajd, 1998 : 140). Pesantren pun dituntut untuk menciptakan generasi muslim yang independen dan memiliki life skill yang dapat diandalkan, demi mencapai kemandirian hidup para santri dan pelajar. Hal inilah yang dibutuhkan dalam menghadapi era globalisasi. Sebab, persaingan di era globalisasi hanya dimenangkan oleh manusia yang berkualitas (Zulkifli, 2002 : 160).

Di kalangan pesantren sendiri, setidaknya sejak dasawarsa terakhir telah muncul kesadaran untuk mengambil langkah-langkah tertentu guna meningkatkan kualitas SDM yang mampu menjawab tantangan dan kebutuhan transformasi sosial (pembangunan). Dari sinilah timbul berbagai model pengembangan SDM, baik dalam  bentuk perubahan kurikulum pesantren yang lebih berorientasi kepada kekinian, dalam bentuk kelembagaan baru, atau sekolah-sekolah umum di lingkungan pesantren (Nurcholis Madjid, 1999 : 17).

Berkaitan dengan hal tersebut, mengatakan bahwa (santri) harus dibekali dengan berbagai kemampuan sesuai dengan tuntutan zaman guna menjawab tantangan globalisasi, berkontribusi pada pembangunan masyarakat dan kesejahteraan sosial, lentur, dan adaptif terhadap berbagai perubahan.

Bahkan di beberapa pesantren telah melakukan reorientasi pendidikan yang lebih menekankan life skill dengan memperkenalkan pelatihan-pelatihan keterampilan dalam sistem pendidikannya. Seperti halnya di pondok pesantren yang menjadi tempat belajar sekaligus persinggahan saya saat ini yaitu Ponpes Darul-Falah Be-Songo yang terkenal dengan Pondok Pesantren Life Skill, para santri dibekali berbagai ilmu ketrampilan mulai dari memasak, menjahit, menyablon, menulis, dan lain-lain. Pesantren Mahasiswa Darul Falah Be-Songo telah mencoba melakukan langkah improvisasi metodologi, yaitu memperluas penyebaran wacana dan keilmuan melalui tulisan, lewat program Jurnalistik Praktis.

Pesantren Mahasiswa Darul Falah Be-Songo memiliki visi-misi membimbing dan mencerdaskan santrinya agar siap menyongsong masa depan melalui program kepenulisan. Kegiatan itu merupakan gabungan antara unsur vocational dan pengembangan keilmuan. Para santri di pesantren tersebut dibimbing untuk menjadi penulis yang siap menghadapi masa depan, berdarma dan berjuang melalui ilmu yang dimilikinya. Para santri dibebaskan menempuh jalan yang berbeda-beda sesuai kompetensi dan kemampuan masing-masing dalam kerangka kepenulisan dengan idealisasi masuk ke media massa dan dunia perbukuan. Mereka bisa memilih cerpen, opini, puisi, artikel, atau yang lainnya.

Pengarahan visi-misi melalui program semacam Jurnalistik Praktis paling tidak bisa mengandung tiga kelebihan. Pertama, improvisasi metodologi bagi keilmuan santri; kedua, aktualisasi keterampilan menulis (vocational); dan ketiga, penanaman prinsip belajar untuk menjadi (learning to know) atau belajar untuk memperoleh pengetahuan guna melakukan pembelajaran selanjutnya dan (learning to do). Dengan kata lain, belajar untuk memiliki kompetensi dasar dalam hubungan dengan tim kerja yang berbeda-beda.

Program Jurnalistik itu sendiri merupakan kegiatan yang secara khusus membimbing santri menuju profesionalisme kepenulisan. Artinya, program ini hendak mengembangkan potensi kepenulisan para santrinya dalam bidang kepenulisan yang menitikberatkan pada aspek praktik daripada teori. Karena itu, perlu dilihat, pertama, bagaimana pelaksanaan program Jurnalistik di Pesantren Mahasiswa Darul Falah Be-Songo; dan, kedua, apa hasil dan manfaat usaha pengembangan potensi kepenulisan santri melalui program Jurnalistik Praktis tersebut.

Pesantren Mahasiswa Darul-Falah Be-Songo Semarang dirintis oleh Prof.K.H. Imam Taufiq M,Ag pada tahun 2008. Untuk membiasakan budaya kepenulisan diagendakan Program Jurnalistik Praktis. Jurnalistik Praktis adalah suatu kegiatan yang masuk dalam kurikulum semi otonom  pesantren Darul-Falah Be-Songo yang secara khusus berusaha mengarahkan para santri dalam bidang kepenulisan (Wawancara : Ketua Pondok, 27 Feb 2019). Kurikulum semi otonom pesantren adalah kurikulum pesantren yang di dalam pelaksanaannya mengambil waktu dan jam tersendiri, lepas dari jadwal pelajaran yang telah ditentukan.

Jurnalistik Praktis oleh pihak pesantren diartikan sebagai latihan kepenulisan yang dilaksanakan untuk mengikuti isu-isu aktual di media massa berupa berita/reportase dalam  bentuk opini, resensi buku, puisi, essai sastra, cerpen, novel yang menitikberatkan pada aspek praktik dalam pelaksanaannya. Jurnalistik Praktis dari pihak pesantren juga mempunyai tujuan tertentu.

Secara garis besar tujuan tersebut dibagi kedalam tiga bagian; Pertama, dengan diadakannya pelatihan Jurnalistik Praktis diharapkan para santri bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan keilmuan melalui media massa dengan menggunakan cara atau jalan yang berbeda-beda. Kemampuan, bakat dan minat para santri diharapkan bisa diarahkan menuju pengapresiasian pendapat dan keinginan terhadap sasaran yang lebih luas, yaitu khalayak.

Para santri bisa menyampaikan apa yang diyakini sebagai kebenaran (dalam syariat Islam) melalui berbagai media, bisa lewat artikel, cerpen, puisi, buku, novel dan sebagainya. Para santri mempunyai latar belakang dan pendidikan yang berbeda-beda, diharapkan bisa melahirkan kontribusi yang bermanfaat melalui tulisan, sesuai dengan kompetensi dan bidang masing-masing. Santri mahasiswa yang di Fakultas Tarbiyah dapat menyampaikan kontribusinya tentang pendidikan, Fakultas Syariah tentang hukum, Fakultas ilmu sosial dan politik menyampaikan gagasanya seputar dunia kepolitikan, Fakultas Ushuluddin tentang dasar-dasar agama, Fakultas Dakwah tentang alternatif pengembangan Islam melalui media massa.

Kedua, dengan Jurnalistik Praktis para santri bisa menjalani proses menuju hidup mandiri, karena pengasuh menyarankan agar semaksimal mungkin tidak menggantungkan orang tua, meskipun harus bersusah-susah dan kerja keras. Dengan termuatnya tulisan di media-media massa akan mendatangkan konsekuensi finansial, yaitu berupa honor. Dengan adanya konsekuensi tersebut, jika para santri telah mapan dalam dunia kepenulisan, bisa memprediksi kemampuannya dan peka terhadap momentum, maka untuk biaya hidup dan perkuliahan menjadi tidak masalah, artinya kemandirian telah tercapai dengan bekal keilmuan.

Ketiga, dengan Jurnalistik Praktis diharapkan dapat membimbing dan mengarahkan para santri di dalam kebiasaan membaca. Hal ini sangat prinsip di dalam dunia kepenulisan, karena dalam menulis yang parameternya adalah selera khalayak melalui tim redaktur masing-masing media massa diperlukan kepekaan dan wawasan yang luas. Hal ini bisa dicapai jika santri benar-benar rajin membaca dan belajar, baik itu dari literatur-literatur yang berwujud wacana ataupun realitas yang ada. Dengan demikian, membaca dan belajar kepada realitas menjadi sebuah kebutuhan, dan kebutuhan itu akan dicari oleh pihak yang membutuhkan selama dia hidup.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dilihat bahwa pada dasarnya apa yang dilakukan oleh pihak pesantren tersebut adalah salah satu alternatif yang bisa dikatakan unik untuk dunia pesantren. Pesantren tersebut telah berusaha mengintegrasikan antara vocational dengan pengembangan keilmuan. Menulis dalam hal ini dapat di masukkan ke dalam vocational dan pengembangan keilmuan, karena pada dasarnya kedua hal tersebut dapat dicapai dalam dunia kepenulisan.

Menulis sebagai sebuah ketrampilan, jika dilakukan dengan maksimal dan telah mencapai kemapanan (dalam arti cukup bisa membaca selera redaktur dan masyarakat umum) akan mendapatkan konsekwensi finansial, yaitu berupa honor. Untuk penulis buku bisa melalui royalti (pembayaran tidak langsung) ataupun langsung. Untuk honor yang didapat, khususnya media-media massa yang jangkauannya luas atau nasional, juga relatif besar dibanding yang lokal. Misalnya harian Kompas, satu tema opini yang termuat bisa mendapatkan honor sekitar empat ratus sampai delapan ratus ribu rupiah, Jawa Pos sekitar dua ratus ribu rupiah, Kedaulatan Rakyat sekitar seratus ribu rupiah.

Yang paling penting di sini adalah nilai positif yang dapat dipetik, khususnya kebiasaan membaca yang akan terpupuk jika seseorang gemar menulis. Bagi orang-orang yang terlibat di dalam dunia pendidikan dan memerlukan banyak wacana tentunya akan lebih peka dalam  memahami maksud yang terkandung di dalam berbagai literatur sebagai efek dari sebuah kebiasaan membaca.

Dengan demikian, penguatan literasi untuk kalangan santri atau pelajar merupakan salah satu cara alternatif berinovasi dan berkolaborasi dalam membangun kemandirian santri di masa yang akan datang.

Penulis kelahiran Tuban Jawa Timur, alumni ponpes Al-Madienah Denanyar Jombang. Saat ini sedang menempuh pendidikan di UIN Walisongo Semarang dan sekaligus belajar di Ponpes Darul Falah Be-Songo.  
Email : Kholiznoer15@gmail.com

Daftar Pustaka

1. Siraj, Said Aqil. 1999. Pesantren Masa Depan. Bandung: Pustaka Hidayah.
2. Zulkifli. 2002. Sufi Pesantren. Yogyakarta: LKIS.
3. Madjid, Nurcholis. 1999. Bilik -bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta: Paramadina.

Belajar Dari Mbah

Belajar Dari Mbah Liem, Ulama Kharismatik Pencetus Slogan “NKRI HARGA MATI”

Oleh; Fahri Ali

“Duh Gusti Alloh Pangeran kulo, kulo sedoyo mbenjang akhir dewoso dadosno lare ingkang sholeh, maslahah, manfaat dunyo akherat bekti wong tuo, agomo, bongso maedahe tonggo biso nggowo becik ing deso, soho NEGORO KESATUAN REPUBLIK INDONESIA PANCASILA KAPARINGAN AMAN, MAKMUR, DAMAI. Poro pengacau agomo lan poro koruptor kaparingono sadar-sadar, Sumberejo wangi berkah ma’muman Mekah.”

– Mbah Liem (KH. Moeslim Rifa’i Imampuro)

Siapa yang tidak tahu slogan “NKRI HARGA MATI”?. Mungkin dari sebagian pembaca sudah sering mendengarnya atau bahkan pernah melantunkan slogan tersebut. Slogan itu memang dibuat untuk membakar semangat nasionalisme dan menggelorakan jiwa patriotisme diberbagai even kebangsaan. Itulah mengapa slogan tersebut sangat populer.

Dari arti katanya, menunjukan pencetus slogan tersebut ingin memberikan dorongan dan menggelorakan semangat juang untuk setia membela tanah air Indonesia sampai titik darah penghabisan. Dimana kesetiaan pada bangsa dan negara adalah mutlak bagi setiap warga negara Indonesia.

Tetapi pada tema ini, penulis tidak hendak memberikan interpretasi lebih lanjut soal makna slogan di atas. Penulis lebih akan mengulas sesuatu yang mungkin dilupakan khalayak, ketika slogan itu didengungkan. Iya, kita luput membahas atau mengingat siapa sebenarnya pencetusnya?

Dari hasil penelusuran penulis, ada hikayat yang menceritakan bahwa pencetus slogan itu adalah ulama kharismatik Almaghfurlah Simbah KH. Moeslim Rifa’i Imampuro atau akrab disapa Mbah Liem. Salah satunya sebagaimana yang disampaikan oleh Habib Luthfi Bin Yahya.

Menurut kesaksian beliau, dalam buku Fragmen Sejarah NU karya Abdul Mun’im DZ mengatakan, pada saat Panglima TNI Jenderal Benny Moerdani datang ke Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Mbah Liem meneriakkan yel, NKRI Harga Mati…! NKRI Harga Mati…! NKRI Harga Mati…! Pancasila Jaya, maka sejak itulah yel-yel NKRI Harga Mati menjadi jargon, slogan tidak hanya di NU tapi di beberapa pihak seperti di TNI. Jadi slogan atau jargon “NKRI Harga Mati, Pancasila Jaya” dicetuskan oleh Mbah Liem.

Mbah Liem sendiri adalah salah satu ulama yang memiliki rasa cinta terhadap NKRI. Hal ini telah ditunjukan oleh beliau semasa hidupnya. Beliau selalu mengimplementasikan nasionalisme itu di dalam kehidupan sehari-hari. Bentuknya adalah dengan menerapkan dasar dan falsafah negara Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai tonggak pemikiran dalam setiap mengambil keputusan.

Sebagaimana kita ketahui, cinta tanah air adalah salah satu yang diajarkan oleh ulama-ulama terdahulu, khususnya saat mencuatnya Resolusi Jihad, 22 Oktober 1928 yang dipelopori oleh  KH. Hasyim Asy’ari dengan fatwanya “Cinta Tanah Air Adalah Sebagian Dari Iman. Sama halnya dengan KH. Hasyim Asy’ari, Mbah Liem, juga mengajarkan kepada seluruh santrinya untuk menanamkan Hubbul Wathon (cinta tanah air) pada jiwa mereka.

Sama halnya dengan ulama besar lainnya, beliau juga mendirikan lembaga pendidikan, baik formal maupun non formal. Namun yang menjadi pembeda adalah ungkapan kecintaan beliau terhadap NKRI, dimana nama lembaganya pun diberi nama Al-Muttaqien Pancasila Sakti. Kata “Sakti” disitu memiliki filosofi atau arti “Sampai Kita Mati”, sekligus mengokohkan Pancasila sebagai falsafah yang harus terus dijaga sampai mati. Dalam metode penbajaran pendidikannya pun berbeda dengan lembaga-lembaga lain pada umumnya, dimana Al-Muttaqin Pancasila Sakti berupaya melaksanakan “NKRI HARGA MATI” dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satunya ada di masjid pondok Al-Muttaqien Pancasila Sakti, setiap setelah iqomat sebelum sholat berjama’ah selalu diwajibkan membaca do’a untuk umat islam, bangsa dan negara Indonesia, berikut Doanya:

Subhanaka Allahumma wabihamdika tabaroka ismuka wa ta’ala jadduka laa ilaha Ghoiruka.

Duh Gusti Alloh Pangeran kulo, kulo sedoyo mbenjang akhir dewoso dadosno lare ingkang sholeh, maslahah, manfaat dunyo akherat bekti wong tuo, agomo, bongso maedahe tonggo biso nggowo becik ing deso, soho NEGORO KESATUAN REPUBLIK INDONESIA PANCASILA KAPARINGAN AMAN, MAKMUR, DAMAI. Poro pengacau agomo lan poro koruptor kaparingono sadar-sadar, Sumberejo wangi berkah ma’muman Mekah.”

Tradisi-tradisi yang ditinggalkan semasa hidup Mbah Liem juga masih bisa dirasakan hingga sekarang, misalnya pengibaran bendera merah putih 24 jam dengan prinsip “Rusak-Ganti” maksudnya adalah adanya bendera merah putih yang terus berkibar selama 24 jam tanpa diturunkan, diturunkan ketika rusak baru di ganti dengan yang baru. Makam beliau juga dikelilingi oleh bendera merah putih, menunjukan bahwa kecintaan beliau terhadap negara yang luar biasa.

Sadar dengan bentuk negara kesatuan, dimana terdapat banyak perbedaan di dalamnya, Mbah Liem, menerima itu sebagai kenyataan yang harus diterima, didukung dan dicintai. Hal ini dituangkan dalam tulisan berikut:

Wujud lainnya dari kecintaan itu–toleransi dalam keberagamaan dan perbedaan–adalah dengan dibangunnya “Joglo Perdamaian Umat Manusia Se-Dunia”. Bangunan ini dimaksudkan untuk selalu menjaga persatuan dan kesatuan antar umat manusia.

Membahas Mbah Liem, tentu banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil dari setiap langkahnya. Beliau menghabiskan masa hidupnya dengan selalu mencintai Tanah Airnya yaitu NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Maka dari itu sebagai generasi muda, kita berkewajiban meneruskan cita-cita kebangsaan para beliau dan para leluhur lainnya. Sebab sudah suatu kepastian, para pemuda lah yang menjadi tonggak harapan bagi terwujudnya cita-cita kemerdekaan, terkhusus bagi para santri yang selalu diajarkan jiwa agamis dan jiwa nasionalis dalam setiap langkahnya.

Terakhir, ada pepatah mengatakan “negara akan hancur dengan sendirinya jika para pemudanya lupa akan sejarah”. Seperti pesan Soekarno “Jas Merah; Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”.

Cacatan; Kendati kiprah dan karyanya cukup fenomenal, khususnya bagi warga Nahdhiyin, biografi Mbah Liem sebenarnya cukup misterius, utamanya soal tahun kelahiran dan silsilah. Beliau seolah menutupi indentitasnya, bahkan hingga kini putra-purtinya tidak mengetahui persis tanggal lahirnya. Salah satu putra Mbah Liem bernama Gus Muh mengatakan Mbah Liem lahir pada tanggal 24 April 1924 namun begitu Gus Muh sendiri belum begitu yakin. Soal identitas Mbah Liem hanya sering mengatakan kalau beliau dulu adalah bertugas sebagai Penjaga Rel kereta Api. Tentang silsilah, pada masa tuanya–menurut informasi dari Gus Jazuli, putra menantunya–Mbah Liem pernah menulis di kertas, bahwa ia masih keturunan keraton Surakarta.

Tentang Penulis, Fahri Ali adalah alumni “Al-Muttaqien Pancasila Sakti” asal Bayumas, kelahiran 25 November 1999. Sekarang tinggal di Salatiga untuk melanjutkan studi S1.

Pembukaan Workshop Pesantrenku Bersih Pesantrenku Sehat

RMI NU Suarakan Kebe

Blora,– Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU menggulirkan paradigma baru semangat menjaga kebersihan di lingkungan pesantren. Para santri diharapkan menjadi pelopor kebersihan dan siap menjadi gugus tugas perilaku hidup bersih di lingkungan masing-masing.

Ketua RMI NU, KH Abdul Ghoffar Rozin menegaskan, para santri di pesantren kerap kali memiliki kebiasaan buruk, yakni kurang memperhatikan kebersihan. Bahkan, sebagian dari para santri ini meyakini, berbagai penyakit kulit yang mereka alami, dipercaya mengandung berkah.

“Tapi pemahaman ini salah. Katanya, gudiken (nama salah satu penyakit kulit, red) itu berkah. Ini tidak ada hubungannya,” tegas Gus Rozin, sapaan akrab KH Abdul Ghoffar Rozin, saat membuka Workshop Pesantrenku Bersih Pesantrenku Sehat, di PP Al Hikmah Ngadipurwo, Blora, Jumat (15/03).

Sehingga, dengan digulirkannya pemahaman baru terkait kebersihan di pesantren, dapat menegaskan citra lembaga ini sebagai pionir kebersihan. Santri pesantren harus mampu menjadi agent of change (agen perubahan) dalam membudayakan kebersihan.

“Maka, nanti tiga bulan mendatang kita akan datang lagi ke sini. Untuk mengecek, apakah workshop ini berhasil maksimal atau tidak,” imbuh Gus Rozin, yang juga merupakan Staff Khusus Presiden RI Bidang Keagamaan itu.

Gus Rozin menambahkan, Workshop Pesantrenku Bersih Pesantrenku Sehat ini terselenggara berkat kerja sama antara RMI NU dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk. Kerja sama antara dua lembaga ini bukanlah kali pertama. Dalam beberapa agenda terakhir, dua lembaga ini kerap menggelar agenda bertema kepesantrenan.

“Kalau dulu, kita bikin tagline Pesantrenku Keren! dan sekarang Pesantrenku Bersih, Pesantrenku Sehat. Jadi, Kalau ga bersih, ga keren,” pungkasnya.

Perwakilan PT PGN Tbk, Santiaji Gunawan menyambut baik paradigma kebersihan di pesantren. Pasalnya, pesantren dewasa ini semakin dipercaya menjadi pelopor pendidikan karakter anak bangsa, yang tak hanya mengajarkan ilmu agama. Tetapi juga, semangat toleransi dan kebhinekaan.

“Maka, saat pertama kali RMI NU mengajak kerja sama ini, saya langsung mendukungnya. Kita sebagai BUMN, tidak boleh hanya mencari untung. Tetapi, kita juga harus mendukung upaya-upaya seperti ini, membudayakan hidup bersih dan sehat,” ujar Santiaji.

Di sisi lain, pengasuh PP Al Hikmah Ngadipurwo Blora, KHMA Faishol Nadjib mengemukakan, acara yang akan berlangsung sehari penuh ini diikuti puluhan santri dari puluhan pondok pesantren, dari kawasan Blora dan sekitarnya.

“Ada tiga puluh pesantren yang mengirimkan delegasinya untuk mengikuti workshop ini. Dari kawasan Blora, Rembang, dan kawasan pati. Hari ini, pembukaan dan acara inti akan berlangsung besok selama sehari penuh. Diharapkan, ini akan semakin memupus citra kumuh yang dulu lekat di pesantren,” ujar Gus Fais.

Turut hadir dalam pembukaan Workshop Pesantrenku Bersih Pesantrenku Sehat ini, perwakilan Pemkab Blora, Polres Blora, Kodim 0721/Blora, para kepala desa di sekitar PP Ngadipurwo, perwakilan dan masyarakat di sekitar pesantren.

Acara workshop tersebut rencananya akan dilangsungkan selama dua hari, 15-16 Maret 2019. Total ada 30 pesantren dari Blora dan sekitarnya yang terlibat.[ZAM]

Forum Diskusi Milenial

Ratusan Santri Ikuti

Bandung, – Sebanyak 200 santri dari berbagai daerah di Jawa Barat mengikuti Diskusi Milenial dengan tema ‘Merajut dan Memperkokoh Nilai-nilai Kebangsaan dan Keagamaan’ di Pondok Pesantren Al-Falah Jalan Raya Nagreg Km 38 Kapupaten Bandung.

Kegiatan tersebut digagas oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia bekerja sama dengan staf khusus Presidenan Keagamaan Dalam Negeri serta pondok pesantren Al-Quran Al-Falah Kab Bandung.

Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Kementran Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia Wiryanta mengatakan bahwa kegiatan tersebut salah satu upaya untuk mencegah berita bohong atau hoax dan fitnah yang saat ini viral di berbagai media sosial.

Baca juga: Pesantren Harus AmbilKebijakan Di Era Digital

“Berita Hoax jelang Pemilu ini terus meningkat tajam terutama terjadi di Bulan Februari dan ini telah sampaikan kepada bapak Mentri,” ujarnya.

Ia menambahkan, forum diskusi tersebut menjadi program Kementrian Kominfountuk melakukan berbagai upaya untuk mencegah terjadinya penyebaran hoax dan juga fitnah.

“Berita hoax ini sangat mengancam kaum milenial lantaran mereka masih labil dan mudah terpengaruh,” ucapnya.

Sementara, Pimpinan pondok Pesantren Al-Falah KH Nanang Naisabur mengatakan bahwa santri sebelumnya sudah diberikan pengetahuan tentang bagaimana cara memfilter informasi bohong atau Hoax.

“Kami para pengasuh sangat berterimakasih atas terselenggaranya kegiatan ini, Jangan sampai informasi yang baik ditanggapinya menjadi buruk begitupun sebaliknya, dan bagaimana cara berfikir positif sehingga bijak dalam menyikapinya, karena sekarang waktu yang tepat berdiskusi bermedsos yang cerdas,” ujarnya.

Baca juga: Pesantren Harus Melawan Ujaran Kebencian

Menurutnya, dalam menyebarkan informasi harus benar karena kalau benar akan membawa manfaat tapi sebaliknya kalau berita hoax apabila disebarkan akan menjadi dosa.

“Insya Allah anak-anak kami cukup dewasa,” katanya.

Kemudian ditambahkan Staf Khusus Presiden Keagamaan Dalam Negeri Gus Abdul Ghoffar Rozin (Gus Rozin) menyebutkan bahwa informasi itu harus disikapi dengan tiga hal yaitu pertama kalau beritanya buruk atau pembawa berita nya itu tidak baik maka kemudian tidak boleh disebar.

Kedua berita baik pun harus kita lihat kalau tidak bermanfaat tidak perlu kita teruskan baru kemudian kalau baik dan bermanfaat bagi kita ataupun bermanfaat lebih lebih bermanfaat bagi orang lain itu baru kita sebarkan,” katanya. [tha]

Berita telah diterbitkan di sumedang.radarbandung.id

Gus Rozin di Diskusi Milenial

Gus Rozin: Pesant


Bandung, – Pesatnya perkembangan teknologi informasi-komunikasi, telah menyita perhatian banyak orang dari berbagai kalangan. Salah satunya adalah KH. Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdhatul Ulama (PP RMI NU).

Menurut Gus Rozin, teknologi saat ini sudah sangat sulit dihindari, termasuk di pesantren. Oleh karenanya, kata Gus Rozin, penting diadakan edukasi penggunaan teknologi di lingkungan pesantren.

“Kalau memang di sekitar pesantren sudah banyak gadget, mungkin kita sudah harus menerima itu. Penerimaan tersebut bisa dengan memperkenalkan penggunaan media sosial melalui kultur dan struktur di pesantren,” ungkapnya, saat menyampaikan materi dalam Forum Diskusi Milenial dengan tema ‘Merajut dan Memperkokoh Nilai-nilai Kebangsaan dan Keagamaan’ di pondok pesantren Al-Falah 2 Bandung, Rabu, 13 Maret 2019.

Baca juga: Pesantren Harus Ambil Kebijakan Di Era Digital

Staf Khusus President Bidang Keagamaan Domestik itu berharap penggunaan media sosial di kalangan pesantren dapat memberi manfaat. Tidak hanya sekedar berkomunikasi dan bersosialisasi, tetapi juga untuk media dakwah.

“Apalagi sekarang ini ada banyak orang menggunakan media media sosial untuk ujaran kebencian. Hal itu harus dilawan dengan membawa ajaran dan nilai-nilai islam yang rahmatan lil alamin ke dalam media sosial.”

“Saya berharap kita bisa mengembangkan cara pemanfaatan dan pengelolaan media sosial secara baik dan benar. Sehingga kita bisa merespon informasi yang beredar secara tepat; kalau baik kita pakai dan kalau salah kita abaikan, jika perlu kita respon dengan membuat wacana tandingan yang itu sejalan dengan ajaran islam ahlussunnah wal jamaah,” tambahnya.

Forum diskusi tersebut berlasung selama dua hari, 13 dan 14 Maret 2019, terselenggara berkat kerja sama antara RMI NU, Kominfo RI dan Pesantren Al Falah. Kegiatan pelatihan ini dihadiri utusan pengurus RMI NU, IPNU dan IPPNU serta admin website Nahdliyyin dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Barat. [AD]

Gus Rozin

RMI NU: Pengasuh Pes

Bandung, – Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (PP RMI) PBNU, KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) menilai bahwa kemajuan di era digital memiliki tantangan yang beragam. Oleh karena itu para pengasuh pesantren harus berani mengambil kebijakan demi menyelamatkan santrinya.

Hal tersebut dituturkan Gus Rozin saat membuka Pelatihan Dakwah Milenial di Pesantren Al Falah 2 Nagreg Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (13/3).

Menurut Gus Rozin, pesantren harus membimbing santri agar bermedsos dan menggunakan gadget dengan baik, jika perlu harus ada kurikulum khusus. “Agar mereka dapat mencari referensi yang tepat, kemudian mengolahnya dan melahirkan konten yang damai dan ramah bagi dirinya dan bangsa,” tegas kiai muda yang juga Staf Khusus Presiden bidang Keagamaan dalam Negeri.

Gus Rozin menegaskan pelatihan tersebut dapat mendorong peserta dengan aktif meningkatkan pengetahuan mereka sesuai perkembangan di era digital.

Sementara Staf Ahli Menteri Kominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa, Gun Gun Siswadi, salah satu pemateri dalam kegiatan tersebut menyatakan bahwa pemerintah selama ini telah berusaha membangun infrastruktur digital nasional.

“Pembangunan infrastruktur digital merupakan skala prioritas yang telah diwujudkan bagi bangsa. Dampaknya cukup luas baik yang bersifat sosial maupun kemajuan di bidang ekonomi kerakyatan,” ujarnya.

Menurut Siswadi kemajuan ini harus dimanfaatkan dengan baik, khususnya oleh generasi milenial yang tidak pernah bisa memisahkan kehidupan nyatanya dengan dunia maya.

Acara tersebut berlangsung dua hari, 13 dan 14 Maret 2019, terwujud berkat kerja sama RMI NU, Kominfo RI dan Pesantren Al Falah. Kegiatan pelatihan ini dihadiri utusan pengurus RMI NU, IPNU dan IPPNU serta admin website Nahdliyyin dari berbagai kota dan kabupaten di Jawa Barat. (Hady Haedar/Kendi Setiawan)

Berita dikutip dari NU Onine dengan judul sama.