dafit

Ridwan Kamil di Munas BUMI

Ridwan Kamil Buka Mu

“Salah satu isu sosial keagamaan yang muncul saat ini adalah terkait dengan pemahaman keagamaan yang sempit, dan parsial yang pada gilirannya mengancam kelompok keagamaan yang memiliki tafsir berbeda. Misalnya jihad yang hanya ditafsirkan sebagai perang, padahal sesungguhnya jihad adalah setiap usaha yang sungguh-sungguh untuk mendapatkan ridha Allah. Dengan mengatasnamakan jihad tersebut justru malah melahirkan perilaku-perilaku yang intoleran, keras dan cenderung radikal. Padahal Islam adalah agama yang membawa misi dan ajaran yang penuh dengan rahmat (kasih sayang), cinta dan kedamaian bagi semesta alam.”

Banjar, – Melihat berbagai permasalahan kebangsaan saat ini, Brigade Ulama Muda Indonesia (BUMI) adakan musyawarah Nasional  (Munas), bertempat di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Kujangsari, Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat, acara berlangsung selama dua hari, Rabo-Kamis, 27-28 Februari 2019. Acara yang dihadiri oleh perwakilan ulama muda seluruh indonesia ini dilandasi oleh kepudulian terhadap berbagai permasalahan sosial keagamaan.

“Sejalan dengan pemahaman Islam Rahmatan Lil’alamin, melalui Ahlussunnah Wal Jamaah An Nahdliyyah pemahaman Islam Rahmatan Lil’alamin dapat lebih terealisasikan melalui lima pilar Ahlussunnah Wal Jamaah An Nahdliyyah, yaitu (1) tawassuth (moderat) dalam menyikapi berbagai persoalan. tidak bersikap ekstrim, baik ekstrim kiri atau ekstrim kanan, (2) tasamuh (toleran), dapat hidup berdampingan secara damai dengan pihak lain, (3) ishlah (reformatif), yaitu mengupayakan perbaikan menuju arah yang lebih baik, (4) tathowwur (dinamis), yaitu selalu melakukan kontekstualisasi dalam merespon berbagai persoalan dan tantangan, lebih-lebih di era global, dan (5) manhajy (metodologis), yaitu selalu menggunakan kerangka berfikir yang mengacu kepada manhaj yang telah ditetapkan oleh ulama.” Dikutip dari Term Of Reference (TOR) yang diberikan oleh kepanitiaan, Rabo (27/02/2019).

Acara yang dieselenggarakan dengan tujuan menguatkan dan memelihara aqidah ahlussunah wal Jama’ah ala NU, meneguhkan fikroh, amaliah dan harokah NU, sebagai forum komunikasi da silaturahim jaringan para Ulama Muda Indonesia dan mempersiapkan kader-kader Ulama NU di masa yang akan datang ini, dibuka oleh Gubernur Jawa Barat, H. M. Riswan Kamil. Melui pantun, Gubernur yang aktif bermedsos itu mengaapresiasi seluruh anggota BUMI yang hadir.

“Tentulah sebagai seorang muslim, mari kita kuatkan ukhuwah islamiyah kita. Mari kita doakan agar NKRI tetap utuh dan dijauhkan dari pertengkaran dan perpecahan, kita doakan juga NU dan Ulama Mudanya selalu terdepan dalam menjaga Indonesia. Oh iya, saya ada pantun;

 Bertamasya sambil makan coklat
Naik Kereta kuda isi delapan
Jika Indonesia mau selamat
Ulama muda NU harus di depan”

– Ridwan Kamil

Pada kesempatan yang sama, kiyai sepuh dan tokoh NU, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin juga memberi apresiasi dan berpesan kepada seluruh anggota Munas BUMI. Menurutnya, Ulama Muda memiliki peran strategis dalam melanjutkan perjuangan para ulama ke depan.

“Ulama memiliki dua tugas atau tanggung jawab, pertama adalah tanggung jawab personal kedua adalah tanggung jawab sosial. Tugas pertama adalah mempersiapkan penggangtinya, melukuakn regenerasi dan menciptakan tokoh-tokoh perebubahan. Tugas kedua adalah menjaga agama dan menjaga negara, tugas ini tidak mungkin dilakukan orang per-orang atau sendiri, tetapi dilakukan secara bersama-sama. Hal ini pula yang disadari oleh ulama terdahulu seperti KH. Hasyim Asy’ari, beliau dalam melaksanakan tugas kedua ini, mengajak ulama lain yang kemudian tergabung ke dalam Nahdhatul Ulama,” paparnya.

Selain KH. Ma’ruf Amin dan Ridwan Kamil, hadir pula dalam acara tersebut adalah KH. Abdul Ghoffar Rozin (Ketua Pengurus Pusat Robithah Ma’ahid Islamiyah Nahdhotul Ulama (PP-RMI-NU)), Taufiq Madjid (Dirjen PPMD Kemendes RI) dan KH. Agus Salim (Ketua LDNU) serta KH. Kamal (Pengasuh PP Zuhuddin Ulum Banjar).

5 Moment Menyenangka

Hidup ini seperti roda, kata sebuah lagu. Ada kalanya senang, ada kalanya susah, dan ada kalanya datar-datar saja. Begitu pula bagi para santri di pondok pesantren.

Bagi santri, saat-saat paling susah adalah ketika tidak bisa memahami dan hafal materi pelajaran, berselisih dengan teman sekamar yang setiap waktu bertemu, digelitiki hantu penunggu pesantren di saat tidur, atau tidak mengenakan seragam karena bajunya masih basah atau hilang, dan ditakzir karena luput mengikuti kegiatan.

Tapi, meski kehidupan para santri amat sederhana, monoton dan ruang geraknya terbatas, para santri juga memiliki saat-saat menyenangkan yang amat ditunggu-tunggu serta tak terlupakan, bahkan ketika sudah lulus dari pesantren. Mari kita lihat daftar saat-saat menyenangkan bagi para santri yang masih suka bikin baper sampai ketika sudah menjadi alumni.

Ditengok orang tua

Ditengok orang tua di saat sedang kangen-kangennya dengan kampung halaman atau sedang fakir-fakirnya di pesantren, bahkan sekedar beli sabun atau gorengan pun tak mampu. Kehadiran orang tua, di samping membawa rasa tenang dan mengobati rindu, juga membawa oleh-oleh berupa jajanan dan uang sekedar untuk membeli makanan kecil dan mencukupi kebutuhan hidup yang tak seberapa. Pada saat-saat seperti itu, meski uang pemberian orang tua tak seberapa, rasanya kita bisa membeli apa saja, meski tak sampai membeli gunung dan langit, tentu saja. Itu adalah momen yang indah dan tak terlupakan.

Mati lampu

Mati lampu. Bagi kebanyakan orang, mati lampu adalah peristiwa yang menyebalkan plus menjengkelkan karena aktivitasnya harus terhenti dan jadi tak produktif. Tapi bagi para santri, mati lampu ibarat hadiah tak terduga. Betapa tidak, gara-gara mati lampu pengajian jadi libur sehingga para santri bisa tidur lebih cepat atau mengisinya dengan kegiatan ngerumpi bersama di sudut-sudut rahasia pesantren. Rasanya seperti dapat tiket liburan gratis ke pulau terpencil nan indah. Kurang lebih begitu.

Melihat Si-dia

Melihat gebetan lagi lewat. Ini peristiwa yang begitu mendebarkan dan bisa bikin para santri susah tidur. Padahal cuma melihat si dia sedang lewat dari jarak belasan sampai puluhan meter jauhnya. Kalau sampai dikasih senyuman oleh si dia, efeknya bisa lebih gawat lagi, seorang santri bisa tiba-tiba jadi pelamun, susah tidur berminggu-minggu dan tidak konsentrasi mengaji. Meski dampaknya bisa berpotensi bikin majnun, tapi ini adalah majnun yang bikin para santri mabuk kepayang.

Khataman

Khataman. Ketika acara khataman digelar, para santri tak ubahnya merayakan hari raya. Mereka bisa lepas dari kegiatan dan beban pengajian pun sudah tuntas. Layaknya hari raya, pada saat khataman para santri mengenakan baju baru, ditengok orang tua dan keluarga, menjadi pusat perhatian dan merasa senang bukan main karena bisa membanggakan kedua orang tua dengan prestasinya. Khataman juga sering menjadi ajang pertemuan para alumni, di mana mereka tampil dengan necis, penuh tawa dan cerita di hadapan adik-adik kelas mereka.

Mayoran

Mayoran, kepungan atau kembulan. Ini adalah tradisi para santri memasak dan makan bersama secara besar-besaran dengan lauk pauk seadanya. Meskipun kadang hanya ditemani sayur terong atau kangkung rasanya begitu nikmat, lengkap dengan bumbunya yang tidak sempurna, kadang terlalu asin, pedas, atau kurang masak. Menikmati masakan mayoran merupakan kenikmatan tak terlupakan. Banyak para alumni pesantren merindukan cita rasa kuliner mayoran yang khas dan sedap serta tak tersedia di restoran mana pun di dunia.

Itulah kira-kira momen-momen paling menyenangkan bagi para santri di pondok pesantren. Tidak mahal, terasa unik, tapi punya dampak emosi dan memori yang selalu bikin ketagihan. Bahagia itu sederhana, kata banyak orang. Para santri sudah mengalaminya, jauh sebelum kalimat itu ada.

Gimana guys? selain 5 moment di atas ada lagi gak hal-hal menyenangkan yang belum di bahas? tulis di kolom komentar ya.

Artikel dikutip dari cigaru.id

Ini Penjelasan Pengh

Jakarta, – Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Masduki Baidlowi mengatakan keputusan menghapuskan sebutan kafir bagi nonmuslim di Indonesia pada Musyawarah Nasional NU, bertujuan untuk menjaga persaudaraan sesama bangsa. Tujuan ini menurutnya sesuai dengan semangat dan nilai-nilai Muktamar 1984 di Situbondo.

Sejak Muktamar 1984 di Situbondo, kata Masduki, NU sudah membuat keputusan bahwa ada tiga persaudaraan di dalam negara bangsa (nation states) yang harus terus dirajut. Pertama adalah persaudaraan seiman (sesama muslim). Kedua persaudaraan sesama bangsa (ukhuwah wathoniyah). Ketiga, persaudaraan sesama manusia (ukhuwah insaniyah).

“Apa yg diputuskan dalam Munas Alim Ulama di Banjar, merupakan elaborasi sekaligus konsistensi dari item kedua, persaudaraan sebangsa,” kata Masduki melalui keterangan tertulisnya, Sabtu 2 Maret 2019.

Baca juga: KH. Said Aqil Bicara Keterlibatan NU Dalam Perdamaian Dunia

Ia mengatakan dalam Al-Quran ditegaskan bahwa manusia diciptakan bersuku-suku di muka bumi ini agar satu sama yg lain saling mengenal, saling bersilaturrahmi untuk menciptakan kedamaian. Perjanjian persaudaraan yang dilakukan oleh Grand syekh Al Azhar dan Paus Fransiscus Asisi dari Roma di Doha, Qatar, sekitar satu bulan lalu, disebut Masduki membawa semangat yang sama.

Latar belakang perjanjian di Doha, menurutnya, dikarenakan kondisi dunia yg makin tak kondusif untuk perdamaian antar sesama manusia. Ia menilai perdamaian dunia tak bisa diselesaikan dengan mengedepankan politik belaka, tetapi harus mengedepankan unsur agama.

Energi serta ruh agama tentang perdamaian antar sesama manusia musti dikedepankan. Persekusi serta energi negatif atas nama agama karena didominasi oleh kalangan yang kurang moderat, terjadi di mana-mana.

Ia menangkap bahwa Keputusan Doha juga sejalan dengan keputusan Muktamar NU 1984. Indonesia sejak 1945 didirikan bersama-sama (negeri perjanjian/mu’ahadah) mesti dijaga bersama-sama. Ini sudah menjadi keputusan Muhammadiyah dan NU.

Pun dari sudut pandang kenegaraan, ia menilai tak ada mayoritas dan minoritas pemeluk agama. Semua sama posisinya di depan hukum.

Baca juga: Sarankan Tak Pakai Kata Kafir, NU Diapresiasi Nonmuslim

“Jadi, tidak tepat menyebut saudara kita yang agamanya berbeda sebagai kafir. Saudara kita menjadi tidak nyaman perasaannya. Anjuran agama tidak mengajarkan pada kita untuk membuat saudara sebangsa tersinggung,” kata Masduki.

Sebelumnya Munas NU, mengusulkan agar NU tidak menggunakan sebutan kafir untuk warga negara Indonesia yang tidak memeluk agama Islam. Pimpinan sidang, Abdul Moqsith Ghazali, mengatakan para kiai berpandangan penyebutan kafir dapat menyakiti para nonmuslim di Indonesia. Meski begitu, kata Moqsith, bukan berarti NU akan menghapus seluruh kata kafir di Al Quran atau hadis. Keputusan dalam Bahtsul Masail Maudluiyyah ini hanya berlaku pada penyebutan kafir untuk warga Indonesia yang nonmuslim.

Berita dikutip dari tempo.co

Sarankan Tak Lagi Gu

Jawa Barat, – Kata “kafir” tak hanya kerap disematkan kepada non-Islam, tapi juga mereka yang beragama Islam tapi punya pemahaman yang berbeda dari mayoritas. Tahu banyak ruginya, Nahdlatul Ulama (NU), lewat Musyawarah Nasional, kemudian menyarankan kata “kafir” tak lagi digunakan.

Menurut Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU, Abdul Muqsith Ghozali, para kiai NU bersepakat untuk mengganti “kafir” dengan istilah muwathinun atau warga negara.

Menurut Muqsith, alasan utama seruan ini adalah sampai sekarang kata kafir punya konotasi kasar. “Kata kafir menyakiti sebagian kelompok non-Muslim,” ujar Muqsith di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis (28/2/2019).

Kesepakatan menggunakan muwathinun, kata Muqsith, digunakan sebagai jalan tengah lantaran setiap pemeluk agama punya status setara sebagai warga negara.

Usulan menghapus kata ‘kafir”, menurut Muqsith, dilatarbelakangi fenomena sosial zaman kiwari yang terjadi di Indonesia. Muqsith menyebut, tak sedikit kelompok yang mempersoalkan status agama seseorang meski ia sama-sama warga negara Indonesia. Akibatnya yang terjadi adalah diskriminasi, dan bahkan persekusi.

“(Kelompok tersebut) memberikan atribusi teologis yang diskriminatif kepada sekelompok warga negara lain. Dengan begitu [menggunakan istilah muwathinun], maka status mereka setara dengan warga negara yang lain,” ucap dia.

Apa yang disampaikan Muqsith bukan isapan jempol. Banyak kasus pelabelan kafir yang bikin masalah.

Persekusi terhadap jemaat Ahmadiyah di Parung, Bogor, pembakaran klenteng di Tanjung Balai, pemotongan nisan salib di Yogyakarta, hingga penolakan menyalatkan jenazah di DKI Jakarta adalah beberapa kasus terkini yang dilatari karena kebencian terhadap si “kafir”.

Diapresiasi

Apa yang dilakukan para kiai NU ini diapresiasi Sekretaris Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Gomar Gultom. Ia sepakat dengan keputusan itu. Menurut dia, setiap warga negara memang harus mendapat hak yang sama tanpa melihat agama apa yang mereka anut.

“Sistem perundang-undangan kita tidak mengenal soal banyak sedikitnya umat. Nomenklatur kita adalah warga negara,” ujarnya kepada reporter Tirto, Jumat (1/3/2019).

Merujuk pada konstitusi, Gultom menyebut, negara punya kewajiban melindungi hak warganya dan memfasilitasi hak konstitusional mereka.

Ia pun menyebut, munculnya pabrikasi label kafir ini tak lepas dari dorongan fanatisme, padahal fanatisme ini seharusnya digunakan untuk mempertahankan dan memelihara keimanan umat terhadap agama yang mereka peluk.

“(Bukan) dibarengi dengan penegasian, apalagi pelecehan terhadap iman orang lain yang berbeda,” ujarnya.

Gultom tak memungkiri, penganut Kristen pernah pula ada dalam periode kerap memandang umat non-Kristen sebagai kafir, sehingga kemudian memicu kristenisasi. Namun, Gultom menyebut, itu sudah ditinggalkan seiring dengan lahirnya perspektif yang lebih humanis dalam menafsirkan Alkitab.

“Sekalipun dalam Alkitab ada istilah kafir, untuk membedakan umat Kristen dan non-Kristen, ungkapan itu tidak dalam rangka melecehkan, apalagi menegasikan keberadaan mereka (umat agama lain),” kata Gultom.

Apresiasi juga disampaikan Budi Tan, pengurus Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi). Budi menyebut, Buddha tak mengenal istilah kafir lantaran Buddha menganggap diri sendiri lebih baik dari orang lain adalah kekeliruan.

“Ajaran Buddha tidak boleh mengatakan diri lebih baik. Umat diharapkan belajar dan melatih setiap hari hal-hal yang baik yang dilakukan orang lain,” ujarnya kepada reporter Tirto.

Ia juga mengungkapkan betapa pentingnya manusia melatih pikirannya agar mampu menjalankan kehidupan dengan baik dan tidak menyakiti orang lain. Dan saran NU agar tak lagi menggunakan kata “kafir” bisa membantu menjalani kehidupan yang seperti itu.

“Sehingga memperoleh karma baik. Untuk mencapai penerangan sempurna,” pungkasnya. [Alfian Putra Abdi]

Berita pernah tayang di tirto.id

KH. Said Aqil Siroj;

Banjar, – NU semakin dibutuhkan kiprahnya di dunia internsional, khususnya untuk memulihkan pertikaian dan membangun perdamaian. Peran itu timbul dan terus membesar karena NU  mengampanyekan Islam Nusantara. Dengan ciri khas yang penuh rahmah, NU dipercaya mampu membawa Islam sebagai solusi masalah negara dan solusi perdamian dunia.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj melaporkan keberhasilan NU tersebut dalam Penutupan Munas dan Konbes NU 2019 di Psantren Miftahul Huda Al-azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat, Jumat (1/3). 

Wakil Presiden HM Jusuf Kalla, Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum dan sejumlah pejabat pemerintah hadir dalam acara tersebut.

“NU diminta mendamaikan golongan Sunni dan Syiah di Iraq yang terus bertikai. NU sudah beberapa kali mempertemukan antar faksi dalam Islam itu dan pelan namun pasti menuju  hasil perdamaian,” papar Kiai Said.

Kemudian dia menceritakan kiprah NU yang telah mendamaikan dua kelompok yang telah 40 tahun berperang di Arghanistan. NU sebagai penengah telah empat kali mpertemukan mereka, di Jakarta, di Kabul, dan dua kali di Istanbul Turki.

“Hasilnya, ulama afghanistan sepakat mendirikan organisasi yang persis namanya dengan kita, yaitu Nahdlatul Ulama. Cuma beda lambangnya, NU kita ada gambar bintang sembilan, sedangkan NU Afghanistan ada gambar bintang lima,” tutur dia.

Lebih lanjut  dia beberkan, ulama Malaysia yang sudah resah atas gerakan wahabi yang telah merusak persaudaraan muslim di negeri jiran itu, sepakat mendirikan organisasi bernama Pertumbuhan Nahdlatul Ulama. “Malaysia mengagumi model Islam Nusantara yang kita gaungkan. Ulama Malaysia mendirikan Pertumbuhan Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

Dia terangkan pula, NU melanjutkan langkah pemerintah Indonesia, khususnya Wapres Jusuf Kalla, membangun perdamian di China, Filipina, Thailand selatan, dan di Myanmar.  

“Alhamdulillah NU telah membantu membangun perdamaian di Uighur China. Dubes China sudah bertamu ke PBNU dan kami sudah datang ke China untuk membantu mewujudkan perdamaian di sana,” lanjut Kiai Said.

Dia teruskan, peran di Asia yang dimainkan NU adalah membantu memulihkan perdamaian di Filipina yang pernah diserang teroris ISIS beberapa waktu lalu. Pemerintah, kata dia,  mendukung tindakan NU. Yakni Presiden Jokowi telah mengirim bantuan untuk pembangunan kembali Masjid Raya di Marawi yang rusak akibat perang ISIS dengan tentara Filipina.

“Alhamdulillah Filipina sudah berangsur pulih dari peristiwa serangan teroris lalu. Sudah damai. Bapak Presiden Jokowi sudah mengirim bantuan pembangunan kembali masjid yang rusak akibat perang tersebut,” tuturnya.

Dia teruskan, NU juga telah menjadi pendamai di Thailand Selatan yang punya masalah gerakan separatis dari warga muslimnya. Lalu di Myanmar, dalam kasus Rohingnya, NU  menerima amanah membantu perdamaian di kawasan tersebut, sehingga menjadi keputusan resmi organisasi.

“Peran NU semakin banyak, kita terus diminta menjadi penengah di negara-negara yang sedang konflik, yang melibatkan kaum muslimnya. Inilah hasil dari Islam Nusantara kita,” tandasnya.

Dijelaskan Kiai Said, Munas dan Konbes NU 2019 dalam sidang komisi Bahsul Masail Maudhuiyah berhasil merumuskan pengertian Islam Nusantara, dan pada sidang pleno, seluruh musyawirin menyepakati, sehingga telah resmi menjadi keputusan organisasi.

“Dengan demikian seluruh pengurus NU dari pusat sampai ranting harus memahami pengertian Islam Nusantara. Bahwa  Islam Nusantara bukanlah paham aliran, sekte, atau mazhab baru yang dikembangkan di Indonesia,” tandasnya.

Islam Nusantara dalam pengertian substansial adalah Islam ahlussunnah waljamaah yang diamalkan, didakwahkan, dan dikembangkan sesuai karakteristik masyarakat dan budaya di Nusantara oleh para pendakwahnya.

Di hulu, Islam Nusantara adalah Islam yang menghormati budaya yang ada selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Di hilir, yaitu puncaknya, Islam Nusantara adalah hubbul wathon minal iman, yaitu cinta tanah air adalah bagian dari iman.

“Islam harus menyatu dengan nasionalisme, nasionalisme harus diberi spirit dengan Islam. Itulah yang diajarkan oleh pendiri NU, hadloruts syaikh KH Hasyim Asy’ari,”  pungkas Kiai Said. (M Ichwan/Muiz)

Berita telah tayang di NU Online

Gus Rozin, Ketua PP RMI NU

Gus Rozin: RMI NU Ak

JAKARTA,– Pimpinan Pusat Rabithoh Ma’ahidil Ilaiyyah (RMI) Nahdlatul Ulama menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di ruang Sidang Lantai 5 PBNU Jakarta, Selasa (19/5/2019). Dalam rakornas yang diikuti RMI PWNU se-Jawa dan lampung ini, lembaga yang mengurusi  pesantren NU ingin fokus pada pemberdayaan pesantren.

“RMI akan fokus pada pemberdayaan Ekonomi dan Pendidikan untuk menjadikan Pesantren NU lebih mandiri dan berdaya,” ujar ketua PP RMI NU KH. Abdul Ghofar Rozin di hadapan peserta Rakornas.

Kiai yang biasa disapa Gus Rozin menuturkan  RMI telah menjalin komunikasi dan kemitraan dengan berbagai pihak untuk pemberdayaan ekonomi Pesantren. Hal ini terjalin pada bidang ritel, mikro keuangan, penjualan produk, pertanian, peternakan, dan lain lain.

“Kemitraan ini bisa diakses oleh semua pesantren yang berminat dengan mengacu pada ketentuan yang ada.”ujarnya.

Baca juga: RMI Perteguh Komitment Pemberdayaan Pesantren

Terkait pemberdayaan bidang pendidikan, katanya, RMI menitikberatkan pada penguatan layanan pendidikan pesantren seperti advokasi legasi Pesantren, pengembangan Puskestren, pemeriksaan kesehatan, promotif kesehatan dan menginisiasi pendirian Pondok Pesantren PBNU.

“RMI akan terus meningkatkan program-program melalui berbagai inovasi untuk kemajuan Pesantren NU.”imbuhnya.

Gus Rozin menegaskan bahwa dalam aspek pendidikan, RMI tidak akan masuk pada wilayah kurikulum.“Soal kurikulum, itu merupakan hak dan wewenang para Masyayikh dalam mengembangkan kekhasan pesantrennya,” imbuh Gus Rozin.

Menurut Gus Rozin, saat ini Pesantren menjadi lembaga diperebutkan berbagai pihak karena itu menjadi tanggung jawab RMI untuk menjaga dan menjadikan seluruh komunikasi dan kerjasama dengan berbagai pihak tersebut menjadi bermanfaat sebesar-besarnya bagi Pesantren.

“RMI akan fokus sebagai asosiasi terdepan dalam mengawal kepentingan pesantren NU ke depan.”tegasnya

Dukungan Wilayah

Merespon ide pemberdayaan pesantren tersebut, Dr. H. Abu Choir, M.A sekretaris RMI PWNU Jateng menyatakan sangat mendukung dengan program PP RMI NU yang akan fokus pada bidang pemberdayaan Pesantren. Menurutnya, pemberdayaan ini akan memberikan kesempatan kepada Pesantren untuk mengembangkan diri pada aspek wasilah seperti ekonomi, manajemen, metode dan mutu kesehatan yang akan mendukung pencapaian maqosid, yaitu tafaqquh fiddin, sosial, dan dakwah.

“Dengan pemberdayaan ini, RMINU akan dirasakan langsung keberadaannya oleh semua Pesantren NU,” imbuh Gus Abu yang juga dosen IAIN Kudus.

Dalam rakornas RMI ini dibahas program kerja, RUU Pesantren,  Kemandirian Ekonomi Pesantren, rencana pesantren PBNU, dan konsolidasi organisasi RMI.[zul,adb/ros]

Berita pernah tayang di Suaranahdliyin.com

Rakornas dan Konsolidasi RMI NU

Adakan Rapat Pleno d

Jakarta,- Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiah (PP RMI) NU menyelenggarakan Rapat Pleno dan Konsolidasi Terbatas, Selasa 19 februari 2019. Bertempat di ruang rapat PBNU lantai 5, acara dihadiri olah seluruh Pengurus Pusat RMI (PP-RMI) dan perwakilan Pengurus Wilayah (PW RMI) dari Jawa dan Sumatra.

Menurut ketua PP RMI, KH. Abdul Ghaffar Rozin atau akrab disapa Gus Rozin, konsolidasi terbatas ini selain sebagai ajang sosialisasi dan pemaparan program kerja RMI baik pusat maupun wilayah, juga diharapkan menjadi jalur komunikasi yang efektif bagi pengurus RMI di semua tingkatan.

“Kita ingin membangun jalur komunikasi yang efektif antara pengurus pusat, wilayah dan cabang. Perlu diketahui RMI sekarang ini adalah lembaga, bukan lagi Banom. Dimana ada beberapa perubahan, salah satunya adalah setruktur kepengurusan yang ditunjuk oleh NU, bukan dipilih oleh anggota. Maka wajar jika tidak ada komukiasi yang sifatnya instruksional, sehingga dibeberapa hal mengalami hambatan,” –papar Gus Rozin, dalam pidato sambutan.

Pada kesempatan itu, Staf Keprisidenan Bidang Keagamaan Domestik tersebut juga menyoroti peran penting pesantren. Menurutnya, sekarang sudah mulai banyak organisasi semacam RMI yang lahir dan aktif dalam melakukan pendampingan pesantren.

“Beberapa bulan terakhir ini mulai muncul lagi fokum atau asosiasi pesantren seperti Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP), Forum Silaturrahmi Pondok Pesantren (FSPP), dan lain sebagainya. Kemunculan berbagai organisasi pesantren itu, membuktikan bahwa betapa pentingnya peran pesantren saat ini. Oleh karena pesantren adalah lembaga yang strategis, maka tidak ada alasan bagi RMI sebagai asosiasi pesantren tertua di Indonesia untuk tidak melakukan tindakan-tindakan strategis,” tuturnya.

Selain itu, Gus Rozin memberikan gambaran beberapa program kerja unggulan yang telah dikerjakan oleh RMI. Ia mencontohkan; ada Balai Latihan Kerja (BLK) di pesantren bekerjasama dengan Kementrian Tenaga Kerja, memrevitalisasi Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren), Peternian dan Peternakan terpadu, beasiswa dan lain-lain.

Kendati banyak program yang dikerjakan RMI di pesentren, Gus Rozin menegaskan RMI tidak akan masuk dalam ranah substansial, seperti kurikulum. Baginya, kurikulum adalah bagian dari local wisdom dari pesantren yang merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia.

“RMI ini fungsinya sebagai pendudukung dalam pemberdayaan pesantren. Kita membantu pesantren untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan dalam ikut serta membangun generasi bangsa,” tegasnya.

Mullah Nasrudin Hoja

Mullah Nasrudin Hoja adalah ulama dari tipe yang tidak lumrah. Ketika berceramah, dia tidak memakai busana ustadz dan segala pernak-perniknya. Sehari-hari dia mengenakan pakaian awam yang sederhana. Dalam pengajiannya, sang mullah tidak pernah menggunakan kitab rujukan, bahkan jarang sekali mengutip ayat atau pun hadis. Nasihatnya yang otentik merupakan buah renungan mendalamnya atas kehidupan. Baik dari segi penampilan maupun retorika, tidak ditemukan satu pun alasan untuk menyebut Nasrudin sebagai ulama.

Karena itu, banyak orang yang meragukan keulamaan Nasrudin, termasuk sebagian tetangganya sendiri. Pada suatu hari, mereka menemui Mullah yang sedang menggembalakan kambing. Tujuannya satu dan pasti: menguji keulamaan Mullah Nasrudin. Mereka berbicara dengan Mullah secara tajam dan blak-blakan.

“Mullah,” kata salah seorang dari mereka, “kami tidak percaya bahwa Anda seorang ulama. Bila Anda memang ulama, panggillah pohon itu untuk bersujud di bawah kaki Anda.” Di depan mereka, memang tumbuh sebuah pohon besar.

Baca juga: Ziarah Ke Kurdistan; Berzanji, Tariqat dan Perlawanan

Mullah sadar benar bahwa mereka datang untuk menguji. Dan dia siap dengan tantangan seberat apa pun. “Baiklah. Akan kupanggil pohon itu. Wahai pohon, datanglah ke sini.”

Para penguji kaget menyaksikan keberanian Mullah Nasrudin. Ketika mereka mendengar Mullah memanggil pohon dengan suara yang mantap, jantung mereka berdebar-debar. Jangan-jangan, Nasrudin memang ulama. Dan mereka percaya, bila bersikap kurang ajar terhadap ulama, mereka akan dihampiri nasib sial. Namun, sesaat kemudian, kekhawatiran mereka menyusut. Pohon yang dipanggil Nasrudin tetap diam di tempatnya.

Mullah mengulangi perintah. “Wahai pohon, datanglah ke sini.” Pohon itu tidak mendengar perintah Mullah. Masih saja diam. Orang-orang pun tertawa.

“Benar dugaan kami. Anda bukan ulama. Mana ada ulama yang kalau berceramah jarang mengutip ayat dan hadis seperti Anda. Mana ada ulama yang memberi pengajian tanpa landasan kitab sama sekali. Mana ada ulama yang tampang dan penampilannya seperti kami yang awam ini. Anda ulama gadungan. Kalau memang ulama, pohon itu pasti akan menuruti perintah Anda. Kalau memang ulama, Anda pasti punya karomah.”

Mullah Nasrudin menanggapi olok-olok itu: “Oh, jadi kalian ingin melihat karomah saya? Akan saya panggil sekali lagi pohon itu. Wahai pohon, mereka ingin menyaksikan karomahku. Datanglah ke sini.”

Apakah yang terjadi? Tidak terjadi apa pun. Pohon itu tidak memahami bahasa Mullah. Diam. Hanya dahan dan daunnya bergoyang-goyang tertiup angin. Mullah lalu melangkah menuju pohon, sambil berkata, “Kalau yang dipanggil tidak mau datang, cinta akan membimbing seorang ulama untuk mendatangi siapa yang dipanggil. Itulah karomahnya.”

Cerita ini sudah tua. Sangat tua. Tapi, masalah yang disinggungnya adalah fenomena klise yang berulang muncul pada zaman yang berbeda. Saat ini, kita pun bertemu dengan fenomena keagamaan tersebut. Ukuran keulamaan yang hakiki dilupakan. Keulamaan dipahami lebih secara simbolis.

Dalam pandangan simbolistis, ulama adalah figur publik yang mengenakan busana islami, pintar bahasa Arab, sering mengutip ayat dan hadis, dan merujukkan pendapat dan nasihatnya pada berbagai kitab. Di kalangan muslim tradisional, ciri simbolis ulama ditambah satu lagi: punya karomah, yaitu kemampuan luar biasa yang menyimpang dari hukum alam, misalnya dapat memanggil pohon, membaca isi pikiran orang lain, meramal masa depan, berada di lebih dari satu tempat pada satu waktu, berjalan di atas air, dan sebagainya.

Apakah itu semua merupakan ciri seorang ulama? Atau, apakah ciri ulama hanya hal-hal itu saja? Cerita Mullah Nasrudin Koja di atas mengisyaratkan jawaban yang jelas. Keulamaan tidak bisa dipahami melulu secara simbolis. Di samping penampilan, retorika, dan karomah, ada prasyarat dasar yang harus dipenuhi seorang ulama: cinta. Pada ulama, cinta menjadi pondasi yang menopang tritunggal sifat keulamaan, yaitu keilmuan dalam arti gnosis, kehambaan yang berpadu dengan kekhalifahan, dan kegentaran di hadapan Ilahi (Q.S. Fathir: 28).

Baca juga: Berfikir Dengan Rasa Menurut Sykh Juh

Bila seseorang mengaku ulama, padahal hatinya gersang dari air suci cinta, dia tidak patut dipanggil ulama, biar pun dia berbusana islami, hapal al-Quran dan ribuan hadis, menguasai banyak kitab, dan mampu menunjukkan kesaktian adikodrati. Agama tanpa cinta, adakah maknanya? Ilmu tanpa cinta, adakah manfaatnya? Ibadah tanpa cinta, adakah sayapnya?

“Cinta” yang dimaksud di sini adalah cinta vertikal yang berimplikasi horizontal, spiritualitas yang bervisi kemanusiaan, kegandrungan ilahiah yang melahirkan budi pekerti luhur. Dan budi pekerti luhur selamanya dihasilkan dari keberjarakan kritis terhadap dunia. “Cinta dunia,” kata Nabi, “adalah pangkal setiap kesalahan.”

Ulama tidak mencari atau bahkan mengejar dunia. Dia tidak mendidik demi mencari pengikut, pemuji, dan pemuja. Dia pun tidak berdakwah untuk menumpuk harta, popularitas, dan jabatan. Dia tidak mengemis di depan pintu penguasa. Tapi, bila kekuasaan mendekati dan mengelilinginya, dia bagaikan ikan yang hidup di lautan: berenang dalam air asin tetapi dagingnya tidak menjadi asin. Kecantikan artifisial dunia tidak sedikit pun memikat ulama.

Seorang ulama berdakwah atas dasar cinta yang tulus dan jujur. Dengan sabar dan arif, dia mengajak umat untuk menempuh perjalanan pulang menuju pangkuan Ilahi. Dia mendidik umat dengan tabah dan konsisten. Dia ingin membebaskan umat dari kebahagiaan semu yang merupakan topeng dari wajah penderitaan, demi memperjumpakan mereka dengan kebahagiaan sejati yang menenteramkan.

Bagi umat, dia menjadi tangan kasih sayang Kehidupan, pancaran nama al-Rahman-Nya. Ulama seperti ini adalah bukti rahmat Ilahi, sebagaimana Nabi Muhammad, penghulu para nabi dan rasul, juga menjadi bukti rahmat Ilahi. “Dan tidaklah Kami utus engkau (Muhammad),” demikian tertulis dalam al-Quran, “kecuali untuk menjadi rahmat (Ilahi) bagi alam raya” (Q.S. al-Anbiya: 107).

Bukankah ulama adalah pewaris para nabi? Pada dasarnya, yang diwarisi ulama dari para nabi adalah cinta. Sebab, cintalah yang merupakan jantung risalah agama tauhid. Sekali lagi al-Quran perlu dikutip: “Dan orang-orang yang beriman itu, amat cinta kepada Allah” (Q.S. al-Baqarah: 165).

Karena memiliki cinta, seorang ulama tidak gampang marah kepada umatnya, apalagi menyalah-nyalahkan, membidah-bidahkan, memurtad-murtadkan, dan mengkafir-kafirkan mereka. Bagaikan bunda bagi anak kandungnya, ulama mengemong umat dengan metode tut wuri handayani. Arah langkah umat diorientasikan dengan cara yang empatik, arif, cerdas, dan efektif.

Sebagai guru, dia tegas dan memegang prinsip, tetapi hatinya tidak pernah kehabisan pengertian, pemakluman, dan pemaafan. Hatinya lebih luas daripada tujuh samudera, tujuh lapis bumi, ditambah tujuh petala langit. Sebab, hatinya itu merupakan dampar kencana tempat al-Rahman bertahta. Di mana pun dan kapan pun, dia menjadi pelita suci yang memendarkan cahaya cinta. [Lev Widodo]

NB: Artikel ini saya tulis untuk Dik Doank, pendiri dan pengasuh komunitas kreativitas Kandang Jurang Doank. Dengan caranya sendiri, seniman ini mewujudkan gagasan kependidikan Ki Hadjar Dewantara yang banyak disalahpahami, disalahgunakan, disalahterapkan, dan disalah-arahkan. Salawat dan salam terlimpah kepada kekasih kita, Baginda Muhammad, seluruh hawari dan sahabatnya, segenap keluarga dan keturunannya, dan semua pengikut dan perindunya yang tabah melangkah di jalan kemanusiaan yang berliku dan tangguh mendaki gunung cinta yang terjal.

Artikel ini pernah terbit di tubanjogja.org.

Ziarah Ke Kurdistan:

Kurdistan – Pintu memasuki Kurdistan, di sini namanya adalah Barzanji. Suatu kitab kedua yang paling terkenal (dan paling dekat) bagi masyarakat muslim Nusantara (khususnya Jawa) setelah Alquran.[1] Ia sering dibaca bersama dalam berbagai peringatan, seperti tingkeban, aqiqah, khitanan (potong titit), mantenan, maulidan, atau bahkan acara mingguan di langgar atau di masjid. Ada yang belum kenal? Biar saya sunati pok. Tapi (tahukah kita), opo sih sejatine kitab Barzanji kuwi?

Barzanji dan Kurdistan

Barzanji adalah suatu karya pemenang sayembara yang diadakan oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, pahlawan Islam dalam Perang Salib. Belajar dari tradisi perayaan Natal dalam Kristen, Al-Ayyubi memakai Barzanji untuk memompa semangat para prajurit dengan mengingat kembali kisah perjuangan Nabi Muhammad Saw dalam perayaan Maulid Nabi. Karya tulis ini sebenarnya berjudul ‘Iqd al-Jawahir (Kalung Permata) yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad saw, namun kemudian malah terkenal dengan sebutan Al-Barzanji. Dan benar, setelah perayaan Maulid Nabi diadakan dengan gemuruh pembacaan Al-Barzanji serta penghayatan yang mendalam atasnya, pasukan Islam kemudian mampu merebut kembali Yerussalem dari tangan bangsa Eropa pada tahun 1187.

Adapun pengarang kitab Barzanji yaitu Syekh Ja’far ibn Hasan ibn Abdul Karim ibn Muhammad Al-Barzanji (1690-1766). Al-Barzanji adalah nama desa “Barzinja”, suatu desa tempat pengarang dilahirkan. Letak desa Barzinja ada di Kurdistan. Kurdistan adalah suatu wilayah yang terdiri dari gugusan bukit-bukit, yang tempat tinggal bangsa Kurdi. Bangsa Kurdi adalah suatu bangsa terbesar keempat di Timur Tengah setelah Arab, Turki, dan Persia. Mata pencaharian bangsa Kurdi adalah bertani dan beternak, saat ini sebagian nomaden, dengan kesukuan (ashobiyah) yang cukup kental. Dulunya Kurdistan merupakan bagian dari kerajaan Turki Usmani, tapi kini terbagi menjadi (setidaknya) empat negara, pojokan Turki, pojokan Suriah, pojokan Irak, dan pojokan Iran. Di semua negara tersebut bangsa Kurdi menjadi minoritas dan dicurigai sebab punya kecenderungan memberontak. Maklum, bangsa Kurdi masih ingin mendirikan negara Kurdistan yang sampai saat ini belum kesampaian.

Tariqat, Kurdistan dan Nusantara

Pintu selanjutnya adalah Tariqat. Adalah tariqat Qadiriyah, kemudian Naqsabandiyah, yang sangat berkembang pesat di Kurdistan. Dalam tariqat, satu sama lain sesama anggota adalah famili. Oleh sebab itu di Kurdistan, tariqat berfungsi efektif sebagai penjahit dari perpecahan antar suku/kabilah bangsa Kurdi. Mirip di Nusantara, dimana tariqat-tariqat menjadi penjahit lintas kerajaan/kesultanan di zaman kolonial.

Adapun persinggungan ulama Nusantara dengan Kurdi berlangsung Madinah. Saat itu ulama Nusantara abad XVII banyak yang berguru kepada salah satu ulama Kurdi terkemuka, Ibrahim Ibn Hasan Al-Kurani (1615-1690) di Madinah. Dia merupakan guru tarekat yang memegang ijazah dari berbagai tarekat sekaligus: Syatariyah, Qadiriyah, Naqsabandiyah dan Cistiyah. Dua ulama Nusantara tercatat menjadi santrinya di Madinah, ‘Abd Al Ra’uf al Sinkili (1620-1695) dan Muhammad Yusuf al Maqassari (1627-1699).

Baca juga: Berfikir Dengan Rasa; Dealektika Anatara "Salah dan Benar"

Kemudian Abad XIX, Ahmad Khatib as Sambasi (w. 1878) belajar dan menjadi guru sampai akhir hidupnya di Mekkah. Beliaulah yang menulis kitab tasawuf yang hebat Fathul ‘Arifin. Beliau juga yang menggabungkan dua tarekat sekaligus dengan mendirikan tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah yang mendapatkan sambutan massif di Indonesia mulai pertengahan Abad XIX. Khatib Sambas adalah penentang sengit atas kecenderungan wahabisme, puritanisme dan pelarangan tarekat serta membendung arus kecenderungan tersebut masuk Nusantara. Kiai Nawawi al Bantani (1813-1897) yang di atas disebut sebagai pensyarah Kitab Al Barzanji, merupakan salah satu santri terbaiknya di Mekkah. Artinya, selain penyebaran ajaran Islam itu lewat para saudagar muslim Gujarat, atau lewat lasykar-lasykar China, atau langsung dari Hadramaut, bangsa Kurdi juga punya andil yang cukup berarti bagi penyebaran sekaligus pembentukan warna-warninya Islam di Nusantara.

Martin van Bruneissen, berpendapat bahwa kedekatan muslim di Asia Tenggara dengan Kurdistan adalah dari kesamaan madzhab yang diikuti, yakni sesama pengikut Syafii. Tapi menurut saya, ada sesuatu yang terlupakan, yaitu bahwa kedekatan itu juga disebabkan kemiripan asal, maksudnya kita (selain orang perkotaan pesisir), punya kesamaan dengan orang Kurdi adalah sama-sama orang udik/pinggiran/gunung, sesama penggembala kambing atau sapi, sesama petani. Maka wajar jika kemudian klop.

Selain sebagai penjahit persatuan, tariqat di Kurdistan juga punya andil dalam berbagai pemberontakan. Misalnya pemberontakan di Kurdistan Iran pada 1880 yang dipimpin oleh Ubaidillah dari Syamdinan (tariqat Naqsabandiyah). Hal tersebut tentu mengingatkan saya pada pemberontakan di Banten (1888) yang diorganisir oleh beberapa tariqat seperti Qadiriyah dan Naqsabandiyah dalam melawan kesewenangan kolonial Hindia-Belanda.

Kurdistan Saat Ini

Cita-cita bangsa Kurdi dalam mendirikan negara Kurdistan atau Kurdi Raya masih dalam perjuangan. Wilayah Kurdistan yang terpecah-pecah jadi empat negara akibat perjanjian Sykes-Pycott (1923),[2] tentu sangat menyulitkan persatuan untuk mendirikan suatu negara. Sehingga, suatu cerita klasik “Mem dan Zin”[3], oleh pejuang nasionalis Kurdi dijadikan suatu ibarat bahwa Kurdi memang tak bakal bisa meraih Kurdistan.

Di Turki, bangsa Kurdi masih menjalankan tuntutan kemerdekaan sebagaimana digawangi oleh PKK (Partai Pekerja Kurdistan). Perjuangan mereka saat ini mendapat represi dari rezim Turki, Erdogan. PKK dicap sebagai organisasi teroris oleh rezim. Terakhir, perang melawan ISIS dijadikan dalih bagi Erdogan untuk memerangi PKK.

Di Iran, pernah didirikan Republik Mahabad oleh orang Kurdi bernama Mustafa Barzani, tapi dalam waktu singkat republik itu digusur oleh pasukan Syah Reza Pahlevi. Di Irak, bangsa Kurdi mendapat represi yang hebat oleh rezim Saddam Husain. Hingga ketika Saddam terjungkal, Kurdistan di Irak menjadi wilayah otonom. Begitu juga di Suriah, seiring hadirnya ISIS, Kurdi punya posisi tawar yang bagus. Apalagi pasukan Kurdi terkenal sangat hebat dalam memukul mundur ISIS, baik Kurdi Suriah (Rojava) atau Irak.

Terakhir, dibalik kegagalan demi kegagalan itu, berkat kegigihannya, saat ini bangsa Kurdi semakin dikenal dunia internasional. Selain soal memerangi ISIS, banyaknya percobaan-percobaan dalam tata sosial-politik mutakhir menjadi inspirasi baru bagi dunia.[Ahmad Taufiq]

Baca juga: Meneladani Akhlaqul Karimah Kyai Sholeh Darat

Yogyakarta, 08 Mei 2017

Artikel ini pernah tayang di tubanjogja.org

[1] Baca karya Martin van Bruneissen “Kurdish `Ulama and their Indonesian Disciples” yang dipublikasikan di http://www.let.uu.nl/~martin.vanbruinessen/personal/publications/Kurdish_ulama_Indonesia.htm

[2] Perjanjian Sykes-Picot (1916) adalah perjanjian rahasia antara Inggris dengan Perancis dalam membagi-bagi wilayah Turki Usmani sambil menunggu kejatuhan kesultanan Turki dalam perang dunia pertama. Sejak saat itulah, ketika Turki Usmani benar-benar jatuh, wilayah Kurdistan terbagi menjadi bagian dari empat negara: Turki, Iran, Irak dan Suriah.

[3] Cerita Mim dan Zin adalah cerita rakyat (folklore) yang legendaris bagi bangsa Kurdi. Diambil dari kisah nyata tentang percintaan antara pemuda kelas bawah dengan seorang putri istana yang berakhir tragis sebab berbagai rintangan yang malah membuat mereka terpisah, Mim di penjara dan Zin dikurung di istana. Namun, keduanya kemudian menemukan penyatuannya ketika sama-sama menemukan jalan cinta pada Tuhan: meninggal dunia. Kisah ini dituturkan secara lisan secara turun-temurun hingga seorang pujangga sufi bernama Ahmad Al-Khani menulis cerita itu dalam bentuk syair pada 1692. Terakhir, dari sajak Al-Khani seorang ulama terkenal Kurdi Suriah, yakni Syekh Said Ramadhan Al-Buthi menuliskannya dalam bentuk novel (1957). Adapun makam Mim dan Zin terletak di Cizre, dan saat ini sering diziarahi banyak orang.

Berfikir Dengan Rasa

Oleh: Lev Widodo

Sudahkah Anda mendengar kisah kecil ini? Dua orang sahabat berdebat. Masing-masing kukuh dengan pendapat dan kebenarannya sendiri. Gara-gara hal itu, mereka hampir baku pukul. Persahabatan mereka pun hampir retak. Tapi untunglah, persis sebelum pertengkaran otot dimulai, mereka memperoleh ide: sebaiknya perdebatan dibawa ke hadapan Seh Juha. Mereka berpikir, orang cerdas satu itu barangkali bisa menuntaskan perdebatan. Bagaimana Seh Juha menyelesaikan masalah mereka?

Ketika bertemu Seh Juha, bertuturlah mereka tentang pertengkaran mereka, dari pangkal hingga ujungnya. “Sayalah yang benar. Dia salah,” simpul orang pertama. Orang kedua tak mau kalah, dia membantah, “Bukan. Dia yang salah. Saya yang benar.” Seh Juha mendengarkan, seperti biasa sambil tersenyum cerdik dan nakal. “Oke,” kata Seh Juha “aku mengerti. Berikan aku waktu untuk berpikir. Nanti sore, datanglah lagi kalian ke rumahku secara bergiliran.”

Siang berlalu, sore tiba. Orang pertama datang. Dia berharap, Seh Juha berpihak kepadanya. “Bagaimana Seh, siapa yang benar, saya atau dia?” Harapannya terkabul. “Setelah aku pikir-pikir, kamu benar,” jawab Seh Juha. Orang pertama pulang membawa kegembiraan dan kemenangan. Orang kedua pun datang, juga mengharapkan keberpihakan Seh Juha. “Saya kan yang benar, Seh?” “Masalahnya rumit,” terang Seh Juha. “Tapi memang kamu yang benar.” Orang kedua juga pulang dengan kegembiraan dan kemenangan.

Istri Seh Juha, Fatimah, yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka, bingung. Dalam hati dia bertanya, “Kok dua-duanya benar? Ini tidak logis.” Fatimah protes kepada Seh Juha. Menurutnya, salah satu pihak niscaya benar, pihak lain tentu salah. Kebenaran itu tunggal dan tak terbagi. “Seh, sejujurnya siapa yang benar? Apa nJenengan tidak bisa berpikir?” Seh Juha rupanya memberikan jawaban kalem, yang bikin terkejut istrinya, “Sayangku, kamu juga benar.”

Semua benar. Tidak seorang pun salah. Orang pertama benar. Orang kedua benar. Istri Seh Juha juga benar. Memang pikiran seperti ini tidak logis. Buah pikiran yang tidak logis sendiri menandakan kebodohan pemikirnya. Tapi, apa itu artinya Seh Juha, yang cerdasnya kelewat-lewat itu, bodoh? Sama sekali tidak. Dia justru sangat pintar. Kehidupan bukan dunia matematis. Dalam matematika hanya berlaku satu rumus untuk menjawab semua soal, 1 ≠ 0. Kehidupan tidak kenal rumus matematis yang dapat diterapkan di segala tempat dan pada semua waktu. Pada konteks tertentu, 1 ≠ 0, tapi pada konteks lain 1 = 0, bahkan bisa saja 1 ≠/= 0.

Apa maknanya? Kehidupan adalah seni, bukan sains. Sains menginginkan presisi dan menjauhi kontradiksi, sedangkan seni justru bermain-main dengan kontras demi komposisi yang harmonis. Bener durung mesthi pener, kata orang Jawa. Kehidupan memang membutuhkan pikiran bener yang logis, tapi kehidupan lebih menghendaki tindakan pener yang selaras dengan konteks, empan papan, tindakan yang adil. Kebenaran individual harus mau mengalah demi maslahat sosial. Keris harus disarungkan, lalu diselipkan di belakang punggung, demi kedamaian bersama. Femonema mikro diletakkan dalam konteks makro. Manusia tidak hidup sendirian. Keberadaan orang lain di sekitarnya perlu dimasukkan dalam pertimbangan rasional untuk menentukan sebuah keputusan.

Pada level itulah Seh Juha berpikir. Dia tidak semata-mata berpikir dengan akal. Untuk mengatasi masalah kehidupan, dia tidak merasa cukup dengan logika identitas. Jika pertengkaran kedua sahabat tadi diselesaikan dengan logika identitas, pertengkaran itu bukan tuntas, melainkan berlanjut dengan ending yang sulit diprediksi. Barangkali salah seorang di antara mereka akan terluka, kalau tidak malah terbunuh. Barangkali skala pertengkaran akan membesar, berbiak menjadi konflik massa.

Seh Juha ingin menyudahi pertengkaran tersebut. Sebab, ada yang lebih penting dari kebenaran rasional, yaitu persahabatan, relasi sosial yang harmonis. Karena itulah, setelah berpikir dengan rasa, Seh Juha memberikan jawaban yang tidak logis. Semua pihak benar, termasuk istrinya Fatimah, yang sudah pasang kuda-kuda untuk bertengkar dengannya.

Baca tulisan-tulisan Lev Widodo

Berpikir dengan akal, dengan logika identitas, itu memang benar, tetapi hanya dalam konteks dan level tertentu. Demikian pula, berpikir dengan rasa juga benar, tetapi juga hanya dalam konteks dan level tertentu. Pada saat dan tempatnya sendiri yang tepat, kedua model berpikir itu diperlukan. Tidaklah mungkin belajar matematika dengan mengandalkan rasa semata. Juga tidaklah mungkin mencintai perempuan atau lelaki yang kau sayangi secara matematis. Program komputer harus dibangun dengan logika.

Ibadah jangan dikalkulasi karena agama adalah rasa. Sendi keadilan Ilahi adalah cinta, bukan akal kita yang terbatas. Maka jangan heran, kalau kelak, setelah kiamat, ada pelacur yang dinaikkan ke surga, dan ada ulama yang dibuang ke dalam jurang neraka. Tindakan Ilahi perlu dipahami dengan rasa. Untuk memaknai takdir, sebaiknya kita berpikir dengan rasa, bukan melulu dengan akal. Inilah salah satu rahasia hikmah yang terkandung dalam kisah tentang pembangkangan Iblis dan kejatuhan Adam. Biografi Iblis dan Adam mengajarkan kepada kita bahwa model berpikir tidak tunggal dan tidak ada model berpikir tunggal. Ada kalanya kita berpikir dengan logika. Ada kalanya pula kita berpikir dengan rasa.

Berpikir hanya dengan logika, termasuk rasionalitas egosentris. Proses penalaranan tidak mempertimbangkan kehadiran orang lain. Aku mendeklarasikan kebenaranku di hadapanmu. Kau pun begitu: mendeklarasikan kebenaranmu di hadapanku. Dari sudut pandangku, pokoknya akulah yang benar. Kau salah. Bagimu kaulah yang benar; aku selalu salah. Terjadilan benturan antar-kebenaran, benturan antar-nilai, benturan antar-peradaban. Sederhana saja, perang berpangkal dari sikap nggugu kersane priyangga, individualisme yang ekstrem dan belum matang, belum tersepuhkan.

Ketika dan setelah peperangan, barulah masing-masing pihak yang bertikai merasa butuh akan dialog. Landasan dialog tersebut adalah kebenaran, yang dimiliki, dikukuhi, dan diyakini setiap pihak. Dialog, yang diprologi oleh perang, menghasilkan lompatan kualitatif berupa sintesis, kebenaran baru yang lebih unggul dan lebih tinggi levelnya, yang merupakan persenyawaan dari dua kebenaran yang sebelumnya saling berbenturan.

Kita kemudian mengenal jalan berdarah menuju kebenaran ini sebagai dialektika. Bukannya mencegah, dialektika membuka peluang bagi pertumpahan darah, justru demi memperoleh terang cahaya pencerahan dan menyongsong fajar kedamaian. Bagi dialektika, biar kapok, anak-anak yang berkelahi jangan didamaikan. Biarlah mereka berkelahi sampai puas. Bila sudah merasakan sakit akibat perkelahian itu, mereka akan kapok, dan mulai menjajagi jalan perdamaian.

Berpikir dengan rasa berbeda dari dialektika. Berpikir dengan rasa, tergolong rasionalitas reflektif sekaligus rasionalitas akomodatif. Tipe rasionalitas ini mempertimbangkan kehadiran orang lain. Berpikir dengan rasa adalah jalan menuju kemanunggalan, baik manunggal secara horizontal dan sosial maupun manunggal secara vertikal dan spiritual. Prinsip sekaligus kesimpulan dari rasa adalah, aku adalah kau, kau adalah aku; semua adalah tunggal, tunggal adalah semua. Baginda Muhammad bersabda, seorang mukmin cermin bagi mukmin yang lain. Baginda Isa berkhutbah, kalau pipi kirimu ditampar, berikan pipi kananmu. Sokrates mengajarkan, gnoti’s afton, kenalilah dirimu. Dalam rasionalitas reflektif dan akomodatif, bersemayam mawas diri, cinta, dan keindahan, hal-hal yang tidak dijumpai jika kita hanya berpikir dengan akal. Rasa, yang disebut al-Quran sebagai al-fuad, yang kemudian dihayati kalangan tasawuf sebagai al-sirr, adalah alat untuk memperjuangkan kedamaian batin dan kedamaian sosial.

Baca juga: 4 Respon Mengakhiri Pertengaran Sains dan Agama

Karena itu, jangan heran jika Konfusius, yang berjihad membangun ketertataan negara itu, juga mengajari muridnya untuk berpikir dengan rasa. Seorang murid Konfisius pernah berdebat dengan seorang penduduk awam. Menurut orang awam tersebut, 7 x 3 = 27. Murid Konfusius ini, yang telah belajar matematika dari mahagurunya, membantah. Yang benar, 7 x 3 = 21, bukan 27. Terpiculah adu mulut berkepanjangan. Mereka akhirnya sepakat membawa masalah ini ke hadapan Konfusius, tapi dengan sebuah taruhan. Kalau murid Konfisius salah dan si awam benar, maka murid Konfusius dicambuk sepuluh kali. Tapi jika sebaliknya, leher si awam harus dipenggal.

“Guru, 7 x 3 = 21, kan?” tanya si murid kepada Konfusius setelah menjelaskan duduk perkara, termasuk menerangkan taruhan yang tidak seimbang tadi. Konfusius menjawab, “7 x 3 = 27. Dia benar. Kau belum pintar. Belum belajar.” Tentu saja jawaban yang tidak masuk akal ini menggelisahkan si murid. Dia protes kepada Konfusius. “Lebih baik kau dicambuk sepuluh kali,” ujar sang guru “daripada satu nyawa melayang hanya karena perdebatan yang sia-sia dan taruhan yang tolol.”

Demikianlah buah manis dari berpikir dengan rasa. Cerita berakhir dengan happy ending. Pertanyaannya, apakah kita sudah berpikir dengan rasa, atau hanya melulu berpikir dengan akal? Apakah kita sudah beragama dengan rasa, atau selalu mengatur Tuhan berdasarkan akal dan masih menyalahkan orang lain yang tidak semazhab dan seagama dengan kita? Ini bukan semata-mata soal bener dan ora bener, tetapi juga soal pener dan ora pener. Di samping timbangan benar-salah, ada timbangan lain, yaitu baik-buruk dan indah-jelek. Marilah berpikir dengan rasa. Marilah berlaku adil sejak dari berpikir.

Bumi Mataram, Dzulkhijah 1437 H

Artikel ini pernah tayang di tubanjogja.org