dafit

Leadership dan Entrepreneurship

PENTINGNYA LEADER

PENTINGNYA LEADERSHIP DAN ENTREPRENEURSHIP BAGI SANTRI DALAM MENOPANG KEMAJUAN BANGSA DI ERA GLOBALISASI

Oleh: Dewi Nur Halimah, S.Si 
(Alumni Santri PP. Khozinatul Ulum Blora) 

Akselerasi globalisasi dewasa ini cukup berdampak signifikan diseluruh berbagai sektor kehidupan, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, budaya dan pendidikan. Kemudahan akses (produk) untuk keluar masuk di suatu negara perlu diimbangi dengan produktivitas pemuda, sehingga mampu bersaing ASEAN dan dunia. Bukan justru sebaliknya, pemuda yang konsumtif yang tidak berdaya saing, bergaya hidup high class dan selalu berfoya-foya sehingga menjadi objek penjualan produk asing yang menurunkan produktivitas suatu negara. Oleh karena itu, arus globalisasi perlu diimbangi dengan keahlian dan keterampilan agar mampu bersaing di tengah persaingan global.      

Sudah sekitar tiga setengah tahun Indonesia memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sejak akhir tahun 2015. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC) merupakan suatu wadah untuk  kristalisasi kemajuan IPTEK, globalisasi perekonomian serta arus barang dan jasa yang dituangkan ke dalam suatu wadah integrasi wilayah negara-negara di Asia Tenggara. Masyarakat Ekonomi ASEAN menuntut Indonesia untuk mampu bersaing (competition) sekaligus bekerjasama (cooperation).

Kemampuan bersaing tidak terlepas dari sumber daya manusia, sementara kerjasama dalam MEA sangat ditentukan oleh tingkat kepercayaan negara ASEAN terhadap Indonesia. MEA berdampak pada kehidupan masyarakat yang secara langsung juga berimplikasi terhadap pemuda Indonesia.  Sebagaimana telah kita ketahui, mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Itu artinya, mayoritas pemuda Indonesia adalah pemuda muslim yang sebagian dari itu merupakan santri. Untuk menghasilkan SDM yang berdaya saing dan mampu bekerjasama, tentu tidaklah lepas dari kiprah santri, mengingat mayoritas pemuda Indonesia adalah pemuda muslim.

Survei Global Competitiveness Index tahun 2014-2015 membuktikan bahwa daya saing Indonesia masih lemah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Posisi Indonesia berada pada peringkat ke 34. Di level ASEAN, peringkat Indonesia ini masih kalah dengan tiga negara tetangga, yaitu Singapura yang berada di peringkat 2, Malaysia di peringkat 20, dan Thailand yang berada di peringkat ke-31. Salah satu penyebab rendahnya daya saing Indonesia di kancah ASIA maupun ASEAN adalah kurangnya pemuda yang berjiwa leadership dan entrepreneurship tinggi di Indonesia.

Hal ini tentu sangat memprihatinkan, Indonesia yang notabennya negara yang kaya akan sumber daya alam, namun rendah akan sumber daya manusia. Krisis pemuda berarti krisis pemimpin masa depan. Indonesia membutuhkan pemuda yang memiliki jiwa leadership tinggi untuk menanggulangi adanya krisis pemimpin. Pemimpin adalah kepala dari kumpulan para manusia (masyarakat) yang mengatur segala aktifitas masyarakat dan merupakan sosok yang menduduki posisi paling tinggi. Jadi seorang pemuda harus memiliki jiwa pemimpin yang tinggi. Tidak hanya dapat memimpin sebuah negara dengan rakyat-rakyatnya, namun juga dapat memimpin dirinya sendiri. Jika seorang pemuda dapat memimpin dirinya terlebih dahulu, maka dia juga dapat memimpin bangsa.

“Berikan aku 1 pemuda, maka akan ku guncangkan dunia”.

(Ir.Soekarno)

Pernyataan seperti inilah yang membuat para pemuda merinding dan terkobar semangatnya dalam membela bangsa, khususnya Indonesia. Ya, pernyataan ini dikatakan oleh Ir. Soekarno presiden nomor satu di Indonesia. Beliau mengatakan demikian, agar pemuda-pemuda Indonesia ini bangkit dan terbakar semangatnya dalam mencapai kemerdekaan Republik Indonesia di era kolonialisme dulu. Karena beliau percaya dengan adanya sosok pemuda, maka akan memajukan bangsa Indonesia dan mengguncangkan dunia.

Kemajuan sebuah bangsa terletak pada kemajuan para pemudanya”

Pernyataan ini bukanlah sembarang pernyataan melainkan sebuah pernyataan yang dapat membakar semangat jiwa kaum pemuda terus berkobar. Pernyataan ini memiliki poin penting bahwa pemuda menjadi simbolisme tolak ukur maju atau tidaknya suatu negara. Itulah mengapa di negara maju seperti Ameraka Serikat, Perancis, Inggris, Jepang, dan bahkan negara tetangga kita sendiri yakni Singapura menaruh perhatian yang begitu besar pada pemudanya. Hal itu tak lain karena di tangan pemudalah tonggak kemajuan suatu negara. Sebenarnya apa yang mendasari para pemuda di negara maju memiliki kesadaran yang tinggi akan nasionalisme dan patriotisme. Lalu dimanakah posisi pemuda kita sendiri? Bagaimanakah mereka menunjukkan semangat cinta tanah airnya, terlebih lagi sejak di era modernisasi?. Tentu saja hal ini membawa dampak dalam berbagai aspek kehidupan termasuk bangsa kita sendiri.

Apabila kita berkaca pada sejarah, proklamasi bangsa ini dapat terjadi juga karena peran pemuda. Pemuda ini bersikukuh dengan segala idealismenya untuk dapat segera mengikrarkan kemerdekaan agar lepas dari belenggu penjajah. Runtuhnya tirani orde baru juga tidak terlepas dari peran pemuda sebagai motor penggerak ketika melihat berbagai ketidakadilan di masyarakat. Pemuda memang merupakan sebuah simbol idealisme dalam sejarah bangsa dari waktu ke waktu. Melihat hal tersebut tentunya pemuda memiliki nilai-nilai yang lebih untuk memimpin bangsa Indonesia.

Bangsa ini sudah cukup lelah mendengar dan malu melihat moral pemimpin bangsa yang ada diambang batas kritis. Karena inilah, sudah saatnya kita sebagai pemuda penerus bangsa membuktikan idealismenya dengan menjadi pemimpin bangsa ini. Pemimpin muda tentunya akan membawa harapan baru bagi rakyat, dan membawa angin segar di kancah kepemimpinan di masa depan, sudah seharusnya kita memberikan kesempatan dan apresiasi terhadap para pemuda untuk menjadi seorang pemimpin yang produktif. Tentunya harapan kita bersama, pemuda bisa menjadi sosok pemimpin yang bermoral dan memiliki intelektual sehingga mampu membawa nama Indonesia menuju Negara yang terhormat dan Negara maju.

Perlu diingat bahwa berdirinya bangsa Indonesia dan bahkan sampai tetap survive atau berdiri tegak sampai saat ini dari Sabang sampai Merauke tidak terlepas dari peran pemuda. Dalam sejarah perjalanan bangsa, peran pemuda sangatlah besar dan sangat signifikan dalam membangun, mewarnai, dan bahkan memutar balik jarum sejarah bangsa yang merdeka pada tahun 1945 ini. Dalam sejarahnya kita mengenal adanya beberapa gerakan pemuda seperti : Gerakan Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 1945, Gerakan Mahasiswa 1965, Peristiwa Malari 1974, Gerakan Mahasiswa pada era Reformasi 1998. Gerakan-gerakan ini membawa perubahan-perubahan besar dalam sejarah perjalanan bangsa. Perlu diketahui bahwa Gerakan-gerakan ini dipelopori oleh kaum pemuda. Oleh karena itu, membahas sejarah bangsa Indonesia, berarti kita juga akan membahas tentang peran pemuda didalamnya. Begitu pun sebaliknya, jika kita membahas pemuda, maka kita juga membahas pembangunan bangsa Indonesia.

Begitu banyak gerakan-gerakan pemuda yang terjadi di Indonesia yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk kita sebagai pemuda generasi masa depan untuk meningkatkan semangat pemuda sebagai pemimpin garda depan sehingga memajukan bangsa Indonesia. Ada beberapa peran atau karakter yang harus dipenuhi oleh pemuda sebagai pemimpin masa depan bangsa Indonesia, diantaranya yaitu :

1.   Peran kekuatan moral pada diri pemuda sebagai pemimpin bangsa

Pemuda sebagai kekuatan moral ini harus dapat menjadi pelopor dan pendobrak semangat masyarakat dalam mencapai  kemapanan sosial. Pemuda harus selalu tidak mudah puas dengan kemajuan yang ada. Sikap tidak mudah puas inilah yang memunculkan dinamika gerakan dan pemikiran pemuda dapat selalu berkembang dan tumbuh (sikap iniovatif). Ketika pemuda ini sudah merasa puas dengan kondisi atau kemajuan yang ada, maka seketika hal itu juga dinamika dan kreativitas sosialnya akan terhenti. Maka dari iu, pemuda tidak boleh puas dengan kondisi sosial yang ada. Karena rasa inilah yang dapat menjadi motor penggerak (Prime Mover) kekuatan pemuda. Pemuda harus mempunyai semangat dan keberanian untuk mendongkrak dan mendobrak kebekuan dan kemapanan dari structural sosial politik dan ekonomi yang timpang dan yang tidak berpihak pada masyarakat kelas bawah dan yang lemah. Pemuda tidak boleh kompromi dengan ketidakadilan sosial (social injustice). Peran dan sikap sperti inilah yang dimksud sebagai salah satu bentuk kekuatan moral pemuda yang selalu tunduk pada kebenaran.

2.   Peran sosial pemuda pemimpin bangsa

Pemuda sebagai peran sosial dikarenakan terdapat energi, semangat, serta idealisme yang dimilikinya. Pemuda ini harus mampu menjadi kekuatan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pemuda harus berperan aktif dalam suatu pembangunan, baik dalam skala lokal maupun nasional. Pemuda juga harus memiliki rasa kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi, tanggap dengan isu-isu nasional yang sedang berkembang dan mampu menjadi pilar maupun garda terdepan dalam pembangunan bangsa.

3.   Pemuda harus berperan sebagai intelektual untuk memimpin bangsa

Selain harus memiliki kekuatan moral dan sosial, pemuda juga harus memiliki peran intelektual untuk memimpin suatu bangsa, apalagi memimpin bangsa Indonesia yang begitu padat penduduknya. Jadi dalam mengatasi masalah apapun baik dalam negeri maupun masalah di luar negeri akan terasa mudah jika kita sebagai pemimpin memiliki pengetahuan yang luas dan pemuda yang berintelektual tinggi. Intelektual maupun ilmu pengetahuan ini dapat dibagi lagi menjadi penguasaan terhadap bahasa asing terutama bahasa Inggris, lalu penguasaan terhadap IT (Information Technology), kemudian penguasaan manajemen, penguasaan berfikir (thinking skills) yakni berfikir logis, kritis dan analitis, dan penguasaan komunikasi baik verbal maupun non-verbal.

4.   Pemuda harus memiliki kepribadian yang mantap sebagai seorang pemimpin

Kepribadian ini menekankan pada karakter seorang pemimpin di masa yang akan datang, bagaimana seorang pemuda sebagai pemimpin ini dapat memahami situasi dan kondisi yang terjadi pada bangsa dan mendapati solusi-solusi yang ampuh dalam mengatasi kondisi tersebut. Kepribadian ini juga menekankan bahwa sosok pemuda memiliki pribadi yang tangguh tidak mudah tergoyahkan akan gunjingan-gunjingan dari dalam maupun dari luar, dan memiliki rasa silih asuh dan silih asuh terhadap sesama sehingga menimbulkan rasa kehangatan kekeluargaan dalam berbanga dan bernegara.

5.   Pemuda harus berjiwa pemimpin

Sosok pemuda yang terakhir adalah berjiwa pemimpin. Pemimpin memiliki kedudukan tertinggi di hadapan manusia karena mengatur segala aktifitas anggota-anggota yang dipimpin. Jadi seorang pemuda harus memiliki jiwa pemimpin yang tinggi. Tidak hanya dapat memimpin sebuah negara dengan rakyat-rakyatnya, namun dapat juga memimpin dirinya sendiri. Jika seorang pemuda dapat memimpin dirinya terlebih dahulu, maka dia juga dapat memimpin bangsa.   

Sebagai wujud kepemimpinannya, para pemuda perlu terlibat dalam mengambil peran untuk terjun di dunia politik sebagai bagian dari pembuat kebijakan (wisdom maker) baik mengambil bagian sebagai anggota badan eksekutif, lefislatif, maupun yudikatif. Dengan keikutsertaanya menjabat di kursi pemerintahan, diharapkan para pemuda tersebut khususnya para santri mampu turut berkontribusi untuk memajukan negara. Mengapa para santri harus turut ikut andil dalam mengambil peran di kursi pemerintahan?. Karena santri ini memiliki bekal yang komplet yakni ilmu agama beserta ilmu adab dan juga ilmu pengetahuan umum. Dengan bekal ilmu tersebut, apabila santri turut andil mengambil jabatan di kursi pemerintahan, santri dapat berkontribusi dalam menyusun Undang-Undang yang dapat memajukan Madrasah dan Pendidikan Diniyah Pesantren serta kebijakan yang maslahah untuk ummat.

Santri tidak boleh minder apalagi pesimis untuk ikut terjun dalam kursi pemerintahan. Mengingat sudah banyak pula santri yang memiliki beberapa posisi penting dalam pemerintahan. Justru sebaliknya, santri harus percaya diri dan semangat untuk turut serta memajukan negeri di tengah krisis pemimpin, krisis ekonomi, krisis moral dan krisis kemanusiaan. Berikut adalah contoh kiprah beberapa santri yang turut ambil bagian di kursi pemerintahan:

  1. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Gus Taj Yasin adalah Putra KH. Maemoen Zubair, Pengasuh PP. Al-Anwar Sarang-Rembang.
  2. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawangsa adalah alumni santri PP. Ma’hatul Ulum As Syar’iyah/ MUS Sarang-Rembang.
  3. Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif periode 2014-2019  adalah alumni santri PP. Al Muayyad Solo.
  4. Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin periode 2014-2019 adalah alumni santri PP. Modern Darussalam  Gontor.
  5. Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir (AM Fachir) periode 2014-2019 adalah alumni santri dari PP. Modern Darussalam Gontor.
  6. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi adalah alumni santri PP. Al Kholiliyah An Nuroniyah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.
  7. Menristek Dikti Muhammad Nasir adalah alumni santri PP. Mambaul Ilmi As Syar’i, Sarang-Rembang, Jawa Tengah.
  8. Yudi Latif sebagai Kepala Pelaksaan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) adaalah alumni santri PP. Modern Darussalam Gontor.
  9. Dr. TGB Muhammad Zainul Majdi selaku Gubernur Nusa Tenggara Barat adalah alumni PP.Al Anwar, Sarang-Rembang.
  10. Dan lain-lain.

Dengan hadirnya sosok pemuda muslim seperti santri-santri yang berjiwa leadership dan entrepreneurship tinggi diharapkan mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik di masa depan.  Mengapa perlu adanya kiprah santri? Karena perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari komando para ulama tanah air beserta para santrinya. Menurut data Kemenag (2011), tercatat di Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama bahwa jumlah santri pondok pesantren di 34 provinsi di seluruh Indonesia, mencapai 3,65 juta yang tersebar di 25.000 Pondok Pesantren. Santri yang berakhlakul karimah dan cerdas dalam menemukan solusi terkait permasalahan masyarakat baik tentang isu sosial, isu agama, maupun permasalahan lain sangat dinantikan dalam mencetak sejarah kemajuan Indonesia. Terlebih saat ini dunia sedang krisis, baik krisis kemanusiaan maupun krisis moral. Pemimpin yang berjiwa sosial tinggi dan memiliki solidaritas tinggi dalam menyelesaikan permasalahan rakyat adalah solusi menjawab permasalahan yang sedang dihadapi suatu negara, setidaknya bisa meminimalisir permasalahan yang ada. Tengok saja kasus pembantaian ethnis rohingya di Myanmar, hal itu tak lain karena ketidakmampuan pemimpin dalam mengatasi kasus krisis kemanusiaan yang terjadi di negaranya. Berkaca pada kasus ethnis rohingya di Myanmar, sudah selayaknya Indonesia memilih pemimpin yang berkarakter sehingga tercipta kesejahteraan masyarakat yang aman dan terlindungi.

Selain itu, untuk mencapai kemajuan bangsa Indonesia, juga diperlukan adanya peran pemuda yang berjiwa entrepreneurship tinggi dalam mewujudkan kemandirian perekonomian bangsa. Mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah pemeluk agama Islam, maka kiprah santri yang memiliki jiwa entrepreneurship tinggi sangat diharapkan. Saat ini, Indonesia memang secara dzahir sudah merdeka, namun perekonomian Indonesia masih dijajah bangsa lain (di bawah kendali bangsa lain). Indonesia menjadi objek penjualan produk negara-negara lain seperti produk-produk China yang membanjiri barang-barang di pasaran.

Kemandirian bangsa yang diimpikan pada ASEAN Economic Community adalah kemampuan Indonesia untuk mampu bersaing dengan negara-negaraASEAN lainnya. Daya saing dipengaruhi oleh kemampuan dalam menghasilkanproduk-produk dengan kualitas tinggi dan harga yang terjangkau sehingga mampubersaing dengan produk-produk luar negeri. Untuk menghasilkan produk yangberkualitas, produktivitas adalah faktor utama, sedangkan untuk menghasilkanproduk yang mampu bersaing dalam harga, maka efisiensi adalah kuncinya.

Perlu di ketahui bahwasannya untuk mencapai kemandirian perekonomian bangsa, jumlah pelaku wirausaha minimal ada 2% dari total jumlah penduduk di suatu negara. Sementara, berdasarkan data yang dihimpun oleh HIPMI menunjukkan bahwa Indonesia baru memiliki sekitar 1,6% pelaku wirausaha dari total penduduk Indonesia yakni sekitar 260 juta jiwa. Pencapaian Indonesia masih di bawah dua negara tetangga yakni Malaysia dan Singapura. Malaysia memiliki jumlah pelaku wirausaha sekitar 5% dari total jumlah penduduk, sementara Singapura memiliki jumlah pelaku wirausaha sekitar 7%  dari total jumlah penduduk. Sedangkan rasio pencapaian jumlah pelaku wirausaha di China 10%, Jepang 11%, dan Amerika serikat 12%. 

Sumber: HIPMI, 2016.

Data pencapaian jumlah pelaku wirausaha di atas dapat menjadi acuan bagi pemerintah Indonesia dan masyarakat Indonesia untuk menumbuhkan perekonomian bangsa Indonesia dengan menjadi socio-preneur. Kiprah santri yang berjiwa entrepreneurship  tinggi dapat mendorong peningkatan perekonomian Indonesia. Santri yang juga berprofesi sebagai socio-preneur ini nantinya bukan hanya berperan sebagai pelaku usaha tetapi juga berdampak positif terhadap lingkungan. Bukan hanya menjadi pengusaha yang hanya money-oriented tetapi juga social-oriented. Dengan meningkatnya jumlah pengusaha di Indonesia, setidaknya dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

Indonesia merupakan bangsa dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang sangat berlimpah. SDA Indonesia yang berlimpah, namun sayangnya tidak dibarengi dengan kualitas SDM-nya. Indonesia dihadapkan kenyataan bahwa kemampuan daya saing sumber daya manusianya secara umum berada rendah. Rendahnya kualitas SDM Indonesia menimbulkan masalah pengangguran. Tahun 2008, jumlah penganggur terbuka 9,43 juta orang atau 8,46% dari jumlah angkatan kerja yang mencapai 111,48 juta orang dan jumlah setengah penganggur (penduduk yang bekerja kurang dari 35 jam dalam satu minggu) mencapai 30,64 juta orang. Dengan meningkatnya jumlah aktor wirausaha, harapannya jumlah pengangguran di Indonesia menurun. Hal ini karena pengusaha dapat membuka lapangan pekerjaan sehingga menyerap tenaga kerja yang berdampak pada menurunnya jumlah pengangguran.

Untuk mencapai kemandirian perekonomian bangsa yang digerakkan oleh santri ini melibatkan beberapa pihak diantaranya MenKop, Kiahi, santri, dan masyarakat. Menteri Koperasi (MenKop) mendukung kreativitas pemuda, khususnya para santri dengan memberikan fasilitas berupa sarana dan prasarana yang mendukung para santri untuk berinovasi dan berwirausaha. Kiahi berperan dalam memotivasi dan menginspirasi santrinya untuk menjadi wirausaha. Santri berinovasi untuk berwirausaha dengan mengangkat nilai-nilai kearifan lokal. Masyarakat berperan dalam mendorong kesuksesan pemuda untuk berinovasi dengan membeli produk dalam negeri dan membeli karya-karya pemuda Indonesia, termasuk membeli produk-produk yang dijual oleh santri.

Apalagi saat ini telah memasuki zaman milenial, peran santri zaman now untuk menjadi entrepreneur perlu ditingkatkan untuk kemajuan perekonomian bangsa. Santri sudah diberikan bekal ilmu muamalah (jual beli) sehingga sangat cocok apabila menjadi pengusaha penggerak kemajuan bangsa berasaskan jual beli yang jujur. Salah satu contoh Pondok Pesantren yang melatih bisnis adalah Ponpes Agropreneur At Taufiq di Bekasi. Ponpes ini tak hanya mencetak santri yang ahli agama tapi juga santri yang mampu membuka lapangan pekerjaan. Selain itu, ada juga Ponpes Al Ittifaq Bandung  yang juga mengajarkan kewirausahaan berbasis agribisnis terutama syur mayur. Pondok Pesantren Al Ittifaq ini menjadi penyuplai sekitar 3-4 ton hasil pertanian dari lahan Pondok Pesantren seluas 14 hektar yang sepenuhnya dikelola oleh para santri. Dengan contoh tersebut diharapkan dapat  menjadi inspirasi dan motivasi bagi para santri untuk menjadi pengusaha.

Dengan adanya kiprah santri yang berjiwa leadership tinggi diharapkan dapat menjadi solusi krisis pemimpin di masa depan, sehingga melahirkan sosok pemimpin berkarakter yang peduli rakyat. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan prorakyat dan lebih mementingkan kepentingan rakyat di atas kepentingan golongan, keluarga, maupun sanak famili. Sedangkan adanya santri yang berjiwa entrepreneurship tinggi diharapkan mampu meningkatkan perekonomian bangsa dengan meningkatnya jumlah pengusaha di Indonesia.

BIODATA SINGKAT PENULIS  
Dewi  Nur Halimahatau biasa dipanggil Halimah, lahir di Blora pada 7 April 1994. Putri sulung dari pasangan suami istri, Masdari – Mahzunah merupakan alumni mahasiswa dari Julusan Biologi angkatan 2012, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro, Semarang dan juga alumni santri dari PP. Khozinatul Ulum Blora.

Lewat Workshop Menej

Riau, — Sebagai lembaga pendidikan keagamaan, pondok pesantren dirasa masih banyak mengalami kendala dalam pelaksanaan menejerial. Kendala itu, berkaitan dengan anggaran, akuntansi, penataan administrasi, alokasi serta kebutuhan pengembangan pesantren lainnya.

Hal tersebut disampaikan wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI NU), KH Masrur Ainun Najih, di pembukaan acara Workshop Manajemen Keuangan Pesantren yang diselenggarakan PP RMI NU bekerjasama dengan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) di Pondok Pesantren Salafiyah Babussalam, Desa Dayo, Kec. Tandun, Kabupaten Rokan Hulu, Provinsi Riau, Sabtu (13/4/2019) siang.

“Tidak sedikit pesantren yang masih memiliki kekurangan sumberdaya dan tidak sedikit proses pendidikan pesantren berjalan lambat. Hal itu karena kurangnya penataan menejemen keuangan,” terang Kyai Masrur.

Baca juga: Gus Rozin Khawatir Generasi Milenial Belajar Agama dari Situs Internet yang Tidak Tepat

Untuk itulah, lanjut Kyai Masrur, PP RMI NU memandang perlu diadakannya Pelatihan Manajemen Keuangan Pesantren ini. Harapannya dapat peningkatan dan pengembangan sumber daya di pesantren untuk mensiapkan dan memfasilitasinya.

“Harapanya para peserta workshop dapat mendapatkan pengetahuan yang komperenshif dan implementasi di lingkungan pesantren masing-masing,” katanya.

Kyai Masrur menilai, lembaga pesantren akan dihadapkan pada tantangan yang semakin komplek. Apalagi, setelah rancangan Undang-Undang Pesantren disahkan dan disetujui. Salah satu konsekuensinya adalah pesantren dalam pengelolaan SDM dan manajerial harus mengikuti aturan-aturan yang telah ada.

“Mandiri secara politik dan budaya sangat tergantung pada kemandirian secara ekonomi. Dan untuk kemandirian secara ekonomi tidak terlepas dari pesantren untuk dapat mengembangkan dan mengelola keuangan secara akuntabel dan berani melihat peluang-peluang pengembangan ekonomi,” tegasnya.

Sementara itu,  perwakilan PT. PGN, Santiaji Gunawan, mengatakan kegiatan pelatihan ini merupakan bentuk hadirnya negara, dalam rangka meningkatkan kemampuan, kapasitas dan keahlian para santri di bidang manajemen keuangan.

“Kita buktikan sekolah dari pesantren yang ada di negeri ini, terutama yang ada di Rokan Hulu, adik-adik santri tunjukan kemampuan anda, bahwa anda punya kemampuan lebih, punya kemampuan unggul untuk bersama membangun bangsa ini,” terang Vice President Strategic Stakeholder Management PT. PGN itu.

Sebelumnya, PT PGN dan RMI NU juga telah menyelenggarakan kegiatan pelatihan berbasis pesantren, yakni pelatihan pesantren bersih dan pesantren keren di Blora dan pelatihan pengembangan UMKM di Malang. [Zam]

Pesantren KHAS Kempek

Belajar Toleransi Al

Belajar Toleransi Ala Pesantren: Potret Keseharian Santri Ponpes KHAS Kempek Cirebon
Oleh: Lufaefi

Pesantren lebih dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional, meskipun dewasa ini telah muncul pesantren-pesantren yang dilabeli sebagai pesantren modern. Tradisionalisme di pesantren tersebut menjadi ciri khas dan karakter pesantren pada umumnya. Mengingat, meskipun mengetasnamakan dirinya modern, pesantren itu tetap mempertahankan materi, metode dan sistem pengajaran lama.

Sebagai misal, di salah satu pesantren yang terletak di Cirebon; pesantren Kiai Haji Aqil Siroj (KHAS) Kempek, sekalipun sudah ada sekolah-sekolah formal, dari mulai Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Aliyah (MA), pesantren tersebut tetap mengedepankan kajian kitab kuning. Atau misal lain, meskipun di pesantren asuhan Kiai Said Aqil Siroj tersebut menekankan santrinya menguasai bahasa Arab dan bahasa Inggris, namun tradisi menghafal bait-bait kitab ulama klasik masih terjaga dengan rapih.

Pesantren KHAS Kempek memiliki segudang budaya yang khas dan relevan untuk masa saat ini dan masa yang akan datang.  Ada banyak bentuk aktivitas keseharian para santri KHAS Kempek yang menyimpan nilai peradaban yang berharga untuk masa depan bangsa.

Salah satu contohnya, di pesantren KHAS Kempek dihuni oleh banyak santri yang berasal dari daerah-daerah yang beragam dan berbeda-beda. Hal yang perlu digaris bawahi bahwa, meskipun para santri berasal dari berbagai daerah atau kota yang satu sama lain berbeda, namun tempat tinggal (kamar) santri di pesantren tersebut dibagi secara acak tanpa mempertimbangkan kedaerahan. Santri-santri dari satu daerah tidak disatukan dalam satu kamar atau asrama. Yang ditekankan dalam pembagian kamar di pesantren ialah pembagian secara merata berdasarkan jumlah bilangan, bukan karena unsur-unsur etnis, budaya, atau bahasa.

Potret budaya di atas menyimpan makna dan pelajaran yang sangat penting, yaitu budaya toleransi. Para santri disatukan dalam satu tempat – bahkan satu kamar – meskipun berasal dari daerah-darrah yang berbeda dan tentunya tidak saling mengenal. Dalam proses saling mengenal itu, tentu saja membutuhkan waktu yang tidak singkat. Diperlukan kesaling-pahaman antar kepribadian dan kebudayaan masing-masing. Antar satu dengan yang lainnya dibutuhkan sikap saling mengerti dan tidak mudah emosi dalam perbedaan. Dengan demikian, jiwa toleransi menjadi tertanam rapih di dada para santri. Mereka tidak kaget ketika dihadapkan dengan problem perbedaan.

Satu hal lain yang melekat dalam aktivitas santri yaitu kebersamaan. Kebersamaan menjadi ciri khas bagi warga pesantren. Satu hal yang paling khas bagi para santri pesantren KHAS Kempek adalah kebersamaan saat makan. Meskipun di pesantren KHAS Kempek makanan para santri sudah disiapkan satu  per-satu (piring) untuk setiap santri dan telah disiapkan oleh petugas pesantren, namun tradisi makan bersama tidak sedikitpun luntur. Dua sampai tiga kali sehari para santri makan secara bersama-sama di satu gedung terbuka yang terletak tidak jauh dari pesantren. Tidak hanya itu, baik santri senior atau pun junior semuanya menyatu demi menyantap makan setelah belajar, di setiap siang dan malamnya.

Kegiatan makan bareng para santri menyimpan nilai-nilai dasar toleransi yang sangat melekat. Dalam pada itu, para santri – baik sanior atau junior – mengantri untuk mendapat giliran mengambil nasi dalam satu piring. Para senior tidak mendahului junior, begitupun junior tidak merasa harus didahulukan dari para seniornya. Betapa nilai-nilai itu mengajarkan makna toleransi yang sangat mendalam. Dengan tetap membudayakan mengantri, para junior menghargai senior, dan para senior menyayangi junior.

Pembelajaran toleransi juga dapat tercermin dalam tradisi yang menjadi khas pesantren KHAS Kempek, yaitu mengkaji beragam pemikiran dalam kitab, baik kitab-kitab fikih, tafsir, ataupun kitab-kitab hadis yang satu dengan lainnya berbeda secara mencolok.

Dalam kitab-kitab fikih misalnya, di pesantren KHAS Kempek diajarkan empat mazhab fikih, yaitu Syafi’i, Maliki, Hambali dan Hanafi. Di bidang tafsir, pesantren KHAS Kempek memberikan stimulus banyak tafsir, seperti Al-Jalalain, Marah Labid, Ibnu Katsir, bahkan Tafsir Fi Zilal Al-Quran. Sedangkan riwayat-riwayat hadis juga dibentuk dalam kurikulum pendidikan dengan keragaman kitab-kitabnya. Para santri tidak melulu dijejali dengan satu kitab referensi, namun disuguhi beragam macam kitab sebagai pembelajaran riwayat-riwayat Nabi, seperti sahih Al-Bukhari, sahih Muslim, An-Nasa’i, dan At-Tirmizi.

Budaya toleransi juga tertanam dalam jiwa santri KHAS Kempek ketika melakukan diskusi, atau biasa dikenal dengan Bahtsul Masail. Bahtsul Masail yaitu kegiatan memusyawarahkan problem keagamaan atau sosial secara bersama-sama.

Para santri KHAS Kempek dituntut untuk menyampaikan pendapat masing-masing atas problem yang dihadapi secara seksama oleh para santri dari berbagai angkatan. Dalam menyampaikan pendapat, etika yang wajib diikuti adalah tidak bolehnya berargumen atas dasar emosi dan marah-marah. Setiap pendapat yang diajukan tidak boleh menjatuhkan pendapat teman yang lain dan harus berdasarkan data ilmiah sebagaimana tersebut dalam kitab-kitab pesantren.

Aktivitas Bahtsul Masail, walaupun titik tekannya untuk mendalami keilmuan pesantren, namun sesungguhnya menyimpan nilai-nilai kesaling-toleransian antar satu santri dengan santri yang lainnya. Dalam itu, secara tidak langsung para santri dibentuk dan didesain untuk menjadi pribadi yang terbiasa menghargai orang lain yang berbeda. Para santri dibiasakan untuk berdalil dengan fakta-fakta ketika dihadapkan dengan problema kehidupan, dan yang paling penting, diajarkan untuk menjadi pribadi yang amarahnya tidak mudah tersulut jika menghadapi perbedaan.

Budaya-budaya pesantren memiliki nilai peradaban yang sangat langka. Pembelajaran toleransi dimulai dari sejak dini, sehingga tertanam dalam jiwa setiap santri tanpa adanya unsur doktrinal. Demikian itu perlu ditatamkan pada jiwa-jiwa anak negeri sedari dini untuk mewujudkan generasi bangsa yang sadar akan keberagaman, kesaling-pahaman dan menghargai satu dengan yang lain dalam bingkai perbedaan.

Kenyataan ini menemukan urgensi besar dimana bangsa Indonesia terdiri dari keberagaman, baik suku, ras, agama, atau bahasa. Kesemuanya itu dapat terjaga dengan baik dan menjadi aset bangsa yang mendunia jika santri-santri nusantara terus menjadi garda depan dalam menjaga nilai-nilai toleransi ala pesantren dan membaktikan dirinya untuk negeri.

Biografi Penulis:
Lufaefi seorang mahasiswi dari Institut PTIQ Jakarta, tinggal Jl. PLN, Gandul, Cinere, Depok, Jawa Barat.

Hoax di Media Sosial

Khotbah Jum’at

MENYIKAPI BERITA HOAX DI MEDIA SOSIAL
Oleh Yusuf Hanafi

الحمدُ لله الذي خَلَقَ الموجوداتِ من العدم بنور الإيجاد, وجعَلَها دليلا على وَحدانيته لِذوي البصائر إلى يوم المعاد. أشهد أن لآ إلهَ إلا الله الباقي بلا نَفاد, وأشهد أنّ محمدا رسولُ الله سيّدُ العباد, وصلى الله على سيدنا محمّدٍ وعلى آله وصحبه والتابعين فى جميع البلاد.

أما بعد: فيآ أيها الحاضرون الكرام اتقوا اللهَ ما استطعتم بفعلِ المأموراتِ واجتنابِ المنهياتِ إن الله لا يُخْلِفُ الميعاد. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ, وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًاْ}.

معاشر المسلمين رحمكم الله!

Keseharian kita hampir tidak bisa dipisahkan dari media-media sosial (seperti: Whats App, Facebook, Instagram, dan semacamnya) yang dengan sangat mudah dapat kita akses melalui smartphone, gadget dan perangkat telepon pintar lain sejenis. Tentunya, banyak fasilitas kemudahan yang kita peroleh saat berkomunikasi dan berinteraksi lewat media-media sosial itu. Namun, tidak dipungkiri bahwa media-media sosial itu mempunyai sisi-sisi gelap yang mesti diwaspadai. Antara lain, menjadi media penyebaran informasi yang tidak jelas dan diragukan kebenarannya (atau yang lazim disebut sebagai berita hoax).

Kondisi memprihatinkan di atas semakin diperparah oleh keberadaan media massa, baik cetak maupun elektronik, yang tidak berkomitmen pada kode etik jurnalistik, yang tidak segan mempublikasikan informasi gosip yang tidak jelas kebenarannya tanpa didukung oleh investigasi yang memadai. Terlebih, jelang pemilihan umum yang akan diselenggarakan kurang dari sepekan lagi, tepatnya 17 April 2019, penyebaran informasi yang mengarah kepada fitnah, ujaran kebencian, bahkan pencemaran nama baik, semakin massif dan parah.

Dalam kesempatan khutbah Jum’at kali ini, khatib ingin mengajak para jamaah untuk menelaah kembali tuntunan agama dalam menyikapi informasi dan berita hoax yang tidak berdasar dan diragukan kebenarannya itu.

 معاشر المسلمين رحمكم الله!

Hal pertama yang perlu kita catat, Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk berhati-hati saat menerima informasi, dengan mengecek kebenaran berita tersebut terlebih dahulu. Dalam bahasa agama, perintah tersebut diistilahkan dengan Tabayyun, yakni melakukan validasi dan pemeriksaan (check and recheck) secara ketat dan teliti. Jangan sampai kita gegabah untuk menyebarnya sampai kita punya bukti yang kuat bahwa informasi tersebut valid dan sahih. Terkait dengan hal ini, Allah SWT mengajarkan kepada kita:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

“Wahai kaum beriman, jika datang kepadamu orang fasik dengan membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti (sebelum menyebar-luaskannya), // agar kamu tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum sebab ketidaktahuanmu itu. (Jika kamu mengabaikannya), hal itu akan menyebabkanmu menyesali perbuatanmu itu” (QS. Al-Hujurat: 6).

Ibnu Katsir Rahimahu Allah dalam Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim menjelaskan, “Allah SWT memerintahkan kita untuk melakukan telaah kritis terhadap info dan berita dari orang fasik. Karena bisa jadi berita yang disebarkan itu adalah dusta dan keliru.”

معاشر المسلمين رحمكم الله!

Penting untuk dipahami bahwa informasi dan berita hoax itu sesungguhnya hanya didasarkan pada asumsi dan spekulasi semata. Padahal Islam mengajarkan kepada kita untuk menghindari prasangka buruk (su’uddzhon) terhadap orang lain, seperti dinyatakan secara tegas dalam ayat berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا

“Wahai kaum beriman, jauhilah prasangka (dan kecurigaan), karena sebagian besar dari prasangka itu menyebabkan dosa. Oleh karena itu, janganlah kalian mencari-cari keburukan orang lain” (Q.S. Al-Hujurat: 12).

Dalam ayat di atas, ma’asyiral hadirin, kita dilarang untuk berlaku tajassus. Tajassus adalah “mencari-cari keburukan dan kejelekan pihak lain”. Selain tajassus, ada juga istilah tahassus yang bermakna “menguping kabar perihal aib dan cacat orang lain.” Terkait dengan hal ini, Rasul SAW mengingatkan:

مَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ ، صُبَّ فِى أُذُنِهِ الآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa menguping omongan orang lain, sedangkan mereka tidak suka (kalau didengarkan oleh pihak lain), atau mereka cenderung menutupinya, maka akan dituangkan cairan tembaga panas pada telinga orang yang menguping tadi di hari kiamat nanti” (HR. Bukhari, No. 7042).

معاشر المسلمين رحمكم الله!

Mengapa kita harus menjaga diri sekaligus menjauhi informasi dan berita hoax? Jawabannya adalah karena kehormatan sesama, khususnya saudara seiman kita itu, harus benar-benar dihormati dan dipelihara. Saat Haji Wada’ di Padang Arafah, Nabi Muhammad SAW mengingatkan kita semua:

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ بَيْنَكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِى شَهْرِكُمْ هَذَا ، فِى بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah, harta, dan kehormatan saudara kalian itu dijamin dan haram (untuk dinodai),  sebagaimana kemuliaan hari ini, kemuliaan bulan ini, dan kemuliaan negeri kalian ini” (HR. Bukhari, No. 67 dan Muslim, No. 1679)

 Terlebih lagi, jika informasi dan berita hoax itu mengarah kepada tuduhan dan dakwaan keji yang berpotensi mencemarkan nama baik seorang Muslim, seperti: vonis kafir, murtad, PKI, dan semacamnya. Kita harus menyikapinya dengan sangat hati-hati. Sebab, menuduh sesama Muslim murtad, atau kafir, memiliki konsekuensi hukum yang sangat serius dan berat, baik di dunia maupun di akhirat. Terkait dengan ini, Allah SWT mengingatkan:

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

“Orang-orang yang menyakiti kaum mukmin (laki-laki dan perempuan) tanpa adanya kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (Q.S. Al-Ahzab: 58).

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW juga mengingatkan:

” أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لِأَخِيهِ: يَا كَافِرُ، فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا، إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ، وَإِلَّا رَجَعَتْ عَلَيْهِ ”

“Siapa saja yang berkata kepada saudaranya, ‘hai orang kafir’, maka (vonis) kafir itu telah kembali kepada salah seorang dari keduanya. Jika tidak benar seperti yang ia katakan, maka (vonis kafir itu) kembali kepada si penuduh” (Muttafaq Alaih).

 معاشر المسلمين رحمكم الله!

Hadis di atas menunjukkan betapa seriusnya konsekuensi mengafirkan sesama Muslim. Oleh karena itu, seorang Muslim tidak boleh secara gegabah dan serampangan melakukan pengafiran terhadap Muslim lainnya, sebab yang berhak mengafirkan itu hanyalah Allah dan Rasul-Nya, yang dalam praktiknya hanya boleh dilakukan oleh para ulama yang mendalam ilmu dan ma’rifat-nya.

Oleh karena itu, dalam kesempatan yang mulia ini, khatib menyarankan agar para jamaah tidak ceroboh dan gegabah dalam men-share (atau menyebarkan) berita gosip lewat pesan singkat, WhatsApp, Facebook, Instagram atau media-media sosial lainnya. Sebab, jika yang kita share itu berisi berita palsu dan fitnah, dipastikan kita akan mendapatkan dosa.

Banyak orang beranggapan, sekadar men-share informasi (meski belum jelas) itu bukanlah persoalan serius. Alasannya, ia bukanlah produsen dari informasi yang tidak jelas dan berpotensi bohong itu. Anggapan ini sangatlah tidak tepat!! Terkait dengan hal ini, Rasulullah SAW mengingatkan:

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukup seseorang dikatakan dusta jika ia menceritakan dan menyebarkan segala yang ia dengar” (HR. Muslim, No. 5).

Berpijak dari hadis di atas, seseorang dapat dikatakan berdusta jika ia men-share setiap info gosip yang ia peroleh, meski ia bukanlah produsen berita Hoax tersebut.

 معاشر المسلمين رحمكم الله!

Jika kita cermati secara seksama, informasi dan berita Hoax yang marak beredar lewat media-media sosial itu tidak hanya berisi gosip dan fitnah semata, tetapi juga mengarah pada merendahkan, mencela, dan menghina pihak lain. Celaan dan hinaan yang ditujukan kepada pihak lain itu sesungguhnya mencerminkan level dan derajat kepribadian si penyebar berita Hoax itu sendiri yang rendah.

Karena itu, tepat kiranya jika kita merenungkan pernyataan Ibnul Qayyim al-Jauziyah Rahimahu Allah berikut ini:

وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عُيِّرَتْ بِهَا أَخَاكَ فَهِيَ إِلَيْكَ يَحْتَمِلُ أَنْ يُرِيْدَ بِهِ أَنَّهَا صَائِرَةٌ إِلَيْكَ وَلاَ بُدَّ أَنْ تَعْمَلَهَا

“Setiap celaan yang ditujukan kepada saudaramu, maka itu akan kembali kepadamu. Artinya, Engkau bisa dipastikan melakukan dosa tersebut” (Madarijus Salikin, 1: 176)

Perlu disadari, belum tentu kita lebih baik dari pihak yang kita jelek-jelekkan itu! Karena itu, kita harus menghindarikan diri dari menghina dan mencela pihak manapun, meski lewat medsos. Dalam QS. Al-Hujurat: 11, Allah SWT mengingatkan:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ

“Wahai kaum beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.” (QS. Al-Hujurat: 11)

معاشر المسلمين رحمكم الله!

Sebagai penutup, kita harus ingat bersama bahwa individu atau kelompok yang jadi korban informasi dan berita Hoax itu sesungguhnya adalah pihak yang terzalimi. Sebagaimana dinyatakan oleh Rasul SAW, doa orang yang terzalimi itu mustajab dan dikabulkan oleh Allah SWT.

اتقوا دعوه المظلوم وإن كان كافرا فإنه ليس دونها حجاب

Karena itulah, kita harus waspada agar tidak menzalimi pihak lain, walaupun non Muslim. Justru, jika ada saudara kita yang jadi korban kezaliman berita Hoax, kita harus mendoakannya agar senantiasa dilindungi oleh Allah SWT, dan mendapat keberkahan hidup.

Sebagai catatan, pahala mendoakan saudara kita yang terzalimi itu juga akan kembali kepada kita sendiri, sebagaimana dinyatakan dalam hadis Nabi berikut:

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ, عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ , كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ: آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Doa seorang Muslim untuk saudaranya (saat dalam kesunyian) itu merupakan doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisinya, ada malaikat (yang bertugas mengamini doa tersebut). Saat ia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat berseru: Amin, Engkau akan mendapat kebaikan yang semisal dengannya” (HR. Muslim, No. 2733).

بارك الله لى ولكم فى القرآن العظيم, ونفعنى وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم, وتقبل منى ومنكم تلاوته إنه هو السميع العليم. أقول قولى هذا وأستغفر الله لى ولكم ولسائر المسلمين, فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

*Khutbah Jum’at di Masjid Al-Hikmah Univ. Negeri Malang, Jum’at 12 April 2019.

Pesantren Salaf

Pendidikan di Pondok

Pendidikan di Pondok Pesantren Salaf, Mampukah Menjawab Tantangan Zaman?
Oleh: Muhammad Wildan Habibi

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang menetapkan standar alokasi minimal sebesar 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) untuk bidang pendidikan dalam konstitusinya. Hal ini merupakan bentuk perhatian luar biasa dari pemerintah Indonesia untuk pendidikan, bidang yang amat sangat penting bagi terwujudnya kemajuan bangsa.

Referensi eksplisit tersebut secara jelas menggambarkan arti penting pendidikan bagi bangsa ini. Pada saat menyampaikan pidato kenegaraan, Presiden Joko Widodo selalu menekankan bahwa masa depan Indonesia bertumpu pada kemampuan bangsa untuk mempersiapkan generasi mendatang. Berangkat dari pemahaman ini, pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah investasi yang diperlukan untuk Indonesia yang sejahtera. Sebab diharapkan dari sini dapat terlahir Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Ini adalah sesuatu bentuk yang mendasar bagi sebuah negara.

Lain halnya dengan Negara Sudan, penulis melihat banyak anak-anak kecil dijalanan menyemir sepatu, meminta-minta, menjadi kernet bus, berjualan permen, memunguti sampah, dan lain sebagainya. Rasanya pendidikan di negara tersebut kurang sangat diperhatikan oleh pemerintah Sudan, padahal pendidikan adalah sebuah jawaban dari tantangan masa depan suatu bangsa untuk menyiapkan generasi mudanya guna mempertahankan negaranya dalam arus globalisasi dunia.

Hanya mengambil pelajaran dari cerminan negara lain, bahawasannya di Negara Indonesia masih sangat diperhatikan pendidikannya daripada negara yang penulis sebutkan di atas, seharusnya kita sebagai generasi yang sedang disiapkan pemerintah lewat jalur pendidikan dengan dianggarkannya (APBN) dan (APBD) agar terselenggarakannya beasiswa masyarakat yang kurang mampu, beasiswa masyarakat berprestasi dan juga beasiswa untuk para santri. Ini adalah bentuk perhatian serius dari pemerintah untuk menyiapkan para generasi mudanya menjawab tantangan masa depan dunia, karena pendidikan adalah satu-satunya jawaban masa depan.

Pendidikan tentu bukan hanya soal ilmiah, tetapi pendidikan dalam bentuk keagamaan juga sangat diperlukan pada zaman yang serba menggunakan fikiran yang cerdas, serta dibarengi dengan iman dan akhlaq yang kuat untuk bertahan dalam interfrensi global. Indonesia mempunyai banyak solusi dalam menyikapi masa depan, soal pendidikan keagamaan Indonesia mempunyai Pondok Pesantren dengan sekolah terpadu berbasis agama setara dengan sekolah umum lainnya. Soal pendidikan ilmiah Indonesia juga mempunyai universitas-universitas yang sangat komplit subfakultasnya. Sudah terbukti dan tidak dapat diragukan lagi pendidikan di Negara Indonesia sudah banyak yang mamapu bersaing dalam kancah internasioanl, baik dari Pondok Pesantren maupun dari Universitas-Universitas dalam negri.

 Pendidikan Pondok Pesantren Salaf Menjawab Tantangan Zaman

Pesantren adalah sebuah pendidikan tradisional yang para santrinya tinggal bersama dalam satu komplek pendidikan untuk belajar ilmu keagamaan dengan dibimbing langsung oleh Kiyai (orang yang ilmu keagamaanya sudah mumpuni). Pesantren lahir sejak zaman para Wali Songo berdakawah di tanah Jawa dengan mendirikan padepokan-padepokan untuk mengajarkan keagamaan dengan sistem Jawa tradisional tanpa menghilangkan kebudayaan yang telah tumbuh subur di tanah jawa itu sendiri, hanya saja kebudayaannya disisipkan ajaran syariat keislaman. Sebuah strategi dakwah yang sangat cerdik dan sopan, berbalik tajam dengan dakwah yang sekarang sering kita lihat atau kita dengar, mengingat cara dakwah yang sekarang banyak bertebaran hanya untuk menyuarakan kebencian dan kekerasan.

Salah satu fungsi kehadiran pesantren dalam kehidupan sosial adalah untuk melindungi generasi muda bangsanya dari pengaruh negatif globalisasi, sepertihalnya hedonisme, kenakalan remaja dan skulerisme, padahal untuk membangun generasi muda tidak hanya soal keilmuan ilmiah saja, akan tetapi juga keilmuan agama yang didasari dengan kekuatan karakter dan kekuatan aqidah personalnya. Inilah yang melatarbelakangi berdirinya pesantren dan menjadikan semakin kokohnya pesantren hingga zaman moderen seperti sekarang ini, sehingga menjadikan Pesantren sebagai tolak ukur keseimbangan berpendidikan.

Founding fathers bangsa Indonesia KH Wahid Hasyim, sewaktu beliau menjabat sebagai menteri agama, beliau dengan sigap menyerap aspirasi umat Islam dan pesantren yang merupakan komponen utama bangsa ini. Beliau dengan cepat membidani peraturan mengenai penyelenggaraan pengajaran agama di sekolah umum, mendirikan pendidikan guru agama negeri, dan perguruan tinggi agama Islam negeri.

Walhasil jaman sekarang, kekhawatiran tentang tidak adanya pendidikan agama di sekolah formal sudah tidak relevan lagi. Apalagi hampir seluruh pesantren yang memiliki sekolah formal menambah pelajaran agama di luar jam sekolah. Bahkan pelopor-pelopor pendirian sekolah formal di lingkungan pesantren adalah pesantren-pesantren besar yang menjadi rujukan. Seperti Pesantren Tebu Ireng, Nurul Jadid, Darul Ulum dan lain sebagainya.

Rasa percaya diri dan keinginan untuk mandiri adalah sebuah bentuk alasan mengapa masih banyak pesantren salaf yang tidak mengembangkan pendidikannya pada pendidikan formal atau pendidikan ilmiah. Rasa percaya diri timbul dari keberhasilan pendidikan pesantren selama berabad-abad. Khususnya dalam pendidikan karakter, pesantren memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dalam mendidik etika murid-muridnya dalam berinteraksi sosial kebudayaan atau keagamaan, karena salah satu kunci keberhasilan dari berkehidupan sosial adalah baiknya cara berinteraksi sosial.

Salah satu kelebihan yang paling menonjol dan unik dari pesantren salaf justru kemandirian dalam ekonomi. Alasan penulis mengatakan unik sebagai kelebihan pesantren salaf adalah karena pesantren salaf kehidupannya hanya bergantung dari elemen internal pesantren itu sendiri, mulai dari Sumber Daya Manusianya, Sumber Daya Alamnya atau bahkan dari sumber penghasilan ekonomi mandiri lainnya. Pesantren Sidogiri membuktikan bahwa karena tidak memiliki ijazah formal justru membuka peluang besar untuk berwirausaha. Sidogiri dengan ke-salaf-annya mampu mendirikan banyak minimarket dan usaha perbankan BMT (Baitul Mal wa Tamwil).

Suatu bentuk kemandirian pesantren salaf dalam mengolah kurikulum pendidikan kitab kuning dengan segala bentuk model pembelajaran, dan tentu dibekali dengan skill kreativitas berekonomi, bersosial, berbahasa, dan skill menulis. sehingga muncullah percetakan buku milik pesantren salaf seperti Pustaka Sidogiri dan Lirboyo Press. ini adalah sebuah jawaban dari pesantren terhadap masa depan, bahwasannya pesatren juga mampu memandang kebutuhan para santrinya untuk andil dan bersaing dalam tranformasi global, menyebarkan rahmatan lil alamin tanpa menghilangkan eksistensi jiwa ke-pesantren-an.

Omdurman, 26 maret 2019,

Ekoteologis

EKOTEOLOGIS PESANTRE

EKOTEOLOGIS PESANTREN DAN SPIRIT EKOKRITIS LPBI NU MOJOKERTO
Oleh: Yudho Sasongko

Jika anda menemui kibaran panji NU di puncak Pawitra gunung Penanggungan itu bukan kebetulan semata. Kegagahan kibaran panji NU bersama kibaran Sang Saka Merah Putih di puncak tersebut erat kaitannya dengan peran aktif LPBI (Lembaga Penanggulanan Bencana Dan Perubahan Iklim) NU Mojokerto dalam menjaga kelestarian dan konservasi alam di wilayah gunung yang berketinggian 1.653 meter tersebut.

Nafas konservasi alam tidak hanya dimonopoli oleh para pecinta alam ataupun kelompok dan organisasi lingkungan hidup saja. Nyatanya LPBI NU Mojokerto dengan basis warna bendera hijaunya sudah mampu memberikan teladan peran santri dalam mewujudkan ekologi lingkungan hijau disamping peran lainnya sebagai rescuer tanggap darurat kebencanaan.

Mereka juga adalah para pejuang fiqih al bi’ah[1] yang terus berusaha menempatkan wacana lingkungan hidup beserta ekosistemnya sebagai sebuah ushul dan bukan lagi sebagai furu’. Memupuk ekologi menjadi ekoteologi[2]

Diamana permasalahan lingkungan hidup beserta perlindungannya tidak akan bisa atau sulit diselesaikan hanya dengan mengandalkan pengetahuan dan teknologi saja. Perlu tambahan solusi taktis seperti merubah secara arif, bijaksana, mendasar dan bertahap cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam lingkungannya. Sasarannya bukan lagi hanya orang perorang, namun harus menjadi budaya dan kebiasaan masyarakat secara luas.

Bidikan pertama dari LPBI NU Mojokerto adalah para pendaki gunung yang secara psikologis sangat dekat dengan alam. Komunitas pecinta alam dan pendaki gunung tidak bisa diremehkan pengaruhnya dalam mewujudkan ekoteologi yang berbasis ekokritisme.

Mereka adalah variabel dengan jumlah yang cukup besar dalam eksponen para pelaku pelestarian alam. Melihat peluang variabel tersebut maka dijadikanlah sebagai bidikan pertama oleh LPBI NU Mojokerto dalam mendukung tugas mulia tersebut, yaitu mengawal fiqh al bi’ah di area gunung Penanggungan.

Sudah saatnya kita untuk bergotong-royong memberi perhatian yang lebih serius terhadap dampak kerusakan ekologi beserta ekositemnya. Dan jangan lagi dipandang sebelah mata serta hanya sebatas wacana. Jika tidak bergerak serempak tunggu saja kehancuran lingkungan hidup kita.  

LPBI NU Mojokerto siap menghadapi trending topic lonjakan jumlah pendakian gunung Penanggungan belakangan ini. Animo masyarakat tersebut menempati rating tinggi unggahan media sosial dengan kecenderungan terprovokasi oleh nafsu swafoto ala instagrammable[3]. Hal ini memicu makin luasnya paparan informasi tentang keindahan puncak Pawitra gunung Penanggungan.

Dimana hal tersebut akan berdampak buruk juga terhadap kelestarian alam gunung Penanggungan yang disebabkan oleh naiknya intensitas pendakian yang tidak bertanggungjawab. Belum lagi para pelangggar intruduksi[4] kawasan konservasi makin memperburuk kerusakan hutan.

Disinilah diperlukan ruh-ruh santri yang sabar, telaten serta ulet dalam wujud kiprah di tubuh LPBI NU Mojokerto. Santri yang siap berperan dalam menanggulangi extraordinary crime[5] berupa perusakan lingkungan atau pelanggaran wilayah konservasi lainnya.

Kegiatan reboisasi tanaman endemik vegetasi gunung Penanggungan juga digalakkan. LPBI NU Mojokerto juga turut aktif dalam operasi pemadaman kebakaran hutan di gunung Penanggungan serta gunung-gunung disekitarnya seperti gunung Arjuno dan Welirang. Dampak signifikan lainnya yang terlihat dari pendakian massal adalah peran potensi SAR dari para rescuer[6] LPBI NU Mojokerto yang siap memberikan pertolongan terhadap korban-korban pendakian yang frekuensinya makin meningkat di gunung Penanggungan.

Para rescuer siaga 24 jam di pos loket masuk pendakaian gunung Penanggungan pintu Tamiajeng Trawas Mojokerto. Kesiagaan ini termasuk barang langka, sebab sepengetahuan penulis bahwa di pintu-pintu masuk pendakian gunung-gunung lainnya tim SAR lokal hanya datang jika diperlukan. Beda dengan para rescuer LPBI NU Mojokerto yang selaau standby di pos lapor pintu masuk pendakian.

Dengan amanah khulliyat al khoms[7] serta kecerdasan ekologi, LPBI NU Mojokerto percaya diri untuk terus berjuang di medan jihad pelestarian alam. Mereka tak sebatas teoritis yang muluk-muluk membahas ekologi, namun langsung praktek di lapangan untuk memberi contoh tauladan yang terbaik.

Ruh konservasi alam skala ringan dalam fiqh al bi’ah sebenarnya sudah sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya yang langsung terkait dengan ibadah dan masalah fiqih jinayah[8] seperti dilarangnya buang air kecil atau kencing di lubang serta pada air yang tergenang ataupun menebang pohon sembarangan di wilayah Haram. Namun untuk skala besar harus melibatkan sebuah lembaga dan kekuatan terpadu dalam menjalankan amanah fiqih al bi’ah lainnya seperti usaha reboisasi dan pencegahan pembalakan liar, illegal logging.

Sejak 2014 LPBI NU Mojokerto sudah mampu mendistribusikan air di Desa Kunjorowesi, sebuah wilayah terjal nan sulit ditembus. Perlu keuletan dan spirit perjuangan khas santri untuk menembusnya. Sebab desa Kunjorowesi merupakan desa tertinggi di lereng Penanggungan. 

Kerusakan lingkungan di Desa Kunjorowesi sebagian disebabkan oleh aktifitas penebangan pohon dan pengambilan pasir, batu tanah untuk kepentingan korporasi yang membuat desa-desa lereng gunung Penanggungan sering mengalami kekeringan. Bukan hanya sektor lereng, area puncak tinggi seperti puncak Pawitra juga mendapat perhatian LPBI NU Mojokerto, khususnya menjamin tetap terpasangnya bendera NU di puncak gunung legendaris tersebut bersama Kibaran Sang Saka Merah Putih. Termasuk upacara penaikan Sang Saka Merah Putih yang rutin digelar setiap tanggal 17 Agustus.

Selain pengecekan bendera hal tak kalah penting lainnya adalah pengawasan atas kewajibkan para pendaki untuk membawa turun sampahnya dengan cara persuasif seperti disediakan kantong-kantong plastik jumbo secara gratis untuk tempat sampah serta pemberian stiker gratis bagi yang membawa turun sampahnya. Pemasangan baliho dan spanduk pro lingkungan juga dilakukan untuk memberikan semangat pelestarian lingkungan. Cara ini layak mendapat apresiasi dan harus dikampanyekan ke semua pintu-pintu masuk pendakian gunung-gunung di Indonesia yang sepengetahuan penulis tidak ada yang seperti itu. Bravo LPBI NU !

Tidak hanya berhenti disitu, sampah-sampah yang terkumpul dikelolah oleh LPBI NU Mojokerto dalam bentuk program BSN (Bank Sampah Nasional). Data statistik menunjukkan bahwa BSN Mojokerto yang digagas oleh LPBI NU Mojokerto sudah memiliki lebih dari banyak nasabah sampah. Terobosan ini juga merupakan salah satu bukti bahwa LPBI NU Mojokerto telah berperan aktif dalam isu lingkungan dan perubahan iklim.

Penulis : Yudho Sasongko, Anggota Kelompok Pecinta Alam Wilderness Lali Jiwo Pasuruan, HP. 0895337939915, Email : konturamontana@gmail.com Gersikan Rt.01 Rw.01 Kelurahan Kedungringin Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan Jawa Timur 67154


[1] Fiqih lingkungan hidup

[2] Cara pandang religius terhadap lingkungan hidup

[3] Layak posting

[4] Gangguan area terbatas

[5] Kejahatan besar

[6] Potensi dan tenaga penyelamat

[7] Dasar-dasar penjagaan kemuliaan

[8] Fiqh pidana

Santri NU

Akal Sehat Santri

Akal Sehat Santri
Oleh: Ardiansyah Bagus Suryanto

Keagungan Islam dan keindahan Nusantara menyatu dalam senyum penduduk Negeri Pancasila. Dari gunung ke laut wajah tersenyum dimana saja sebagai identitas kultural dalam bersikap, bertindak dan bertutur. Senyuman sebagai bahasa universal untuk mempertahankan tradisi-tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Adaptif dengan setiap kemajuan tanpa kehilangan jati diri dalam ‘menjadi’.

Bahasa dan budaya yang menjadi batasan umat manusia, tidak lagi menjadi halangan untuk bersahabat. Nilai kebajikan yang terkandung dalam budaya lain dan tersimpan dalam bahasa tertentu akan menyatu dalam keindahan budaya nusantara. Penyalahgunaan logika sebagai pangkal perdebatan seringkali menyebabkan permusuhan tak berdasar. Maka sebenarnya, puncak kecerdasan masyarakat gemah ripah loh jinawe adalah keindahan berbudaya. Indah tanpa menjelekkan, menang tanpa mengalahkan dan beragama tanpa mengafirkan.

Nilai-nilai tersebut menjadi karakter, ciri khas atau tipologi masyarakat Nusantara. Dikembangkan dalam pendidikan khusus yang dikenal dengan nama Pesantren, tempat dimana para santri dididik agar tidak kagetan dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat. Senantiasa merawat akal sehat dengan mengedepankan akhlak, menebarkan kedamaian dan memberikan ketenangan kepada umat..

Santri sebagai symbol keindahan dalam memperjuangkan harapan umat. Tidak hanya keindahan tentang apa, melainkan juga kesantunan dalam menyapa. Maka, pesantren menjadi tempat berkumpulnya akal sehat dalam mempelajari keindahan sastra. Sastra berwujud firman Tuhan dan sabda Rasul, serta karya ulama’ dalam bentuk rangkaian nadham.

Klaim Hari Santri

Setiap keindahan akan diperebutkan oleh banyak pihak. Cara sederhana untuk mengetahui kebenaran tersebut adalah dengan melacak sejarah adanya hari santri. Juga dapat dideteksi dengan kebiasaan yang telah menjadi identitas. Ada beberapa kata yang setara dengan kata santri, yaitu langgar, tahlilan, tawassul dan ziarah kubur. Setara yang dimaksud di sini adalah identitas sebuah kata dengan kesamaan peristiwa. Sehingga ketika seseorang atau sebuah kelompok mengklaim sebagai pengusul adanya hari santri, namun tidak melakukan objek kata yang setara dengannya, maka dapat disimpulkan sebagai kebohongan.

Menurut Gus Dur, santri berasal dari bahasa Pali shastri, orang yang mempelajari sastra. Pali sebagai bahasa pertama kitab Tripitaka. Istilah yang identic dengan agama Buddha, namun digunakan dalam agama lain. Ini menunjukkan bahwa perbedaan bahasa tidak membuat seseorang auto-kafir atau bermasalah dengan keislamannya.

Langgar sebagai salah satu sebutan tempat beribadah umat Islam yang tidak jauh dari rumah. Berasal dari kata sanggar yang bermakna tempat pemujaan di pekarangan rumah. Walisongo mempunyai andil besar dalam merubah suatu tempat berdasarkan nilai-nilai Islam tanpa pemaksaan atau pertumpahan darah. Istilah yang identic dengan agama lain, namun digunakan dalam dakwah Islam.

Tahlilan merupakan amaliah Islam di Nusantara yang dibungkus dengan kebudayaan setempat. Masyarakat Nusantara pada zaman dahulu senantiasa mengingat jasa leluhur dengan mendatangi punden berundak dengan mempersembahkan sesajen. Walisongo mengadopsinya dan merubahnya menjadi budaya silaturrahim dan sedekah. Tawassul menjadi salah satu unsur dalam tahlilan agar senantiasa mengingat jasa para guru dan orang tua. Sedangkan ziarah kubur menjadi upaya untuk memahami bahwa ‘Jangan sekali-kali melupakan sejarah!’

Raden Santri

Rencana penggusuran makam Rasulullah dan klaim hari santri adalah pola piker dengan latar belakang yang sama. Gerakan santri yang menolak rencana penggusuran tersebut dikenal dengan Komite Hijaz, sebagai cikal bakal Nahdlatul Ulama’. Santri tidak akan melupakan jasa para guru dan orang tuanya, karena melupakan salah satu atau keduanya akan menjadi sebab hilangnya keberkahan dalam hidup. Tahlilan, tawassul dan ziarah kubur sebagai salah satu cara mengingat jasa-jasa mereka yang telah berpulang, inilah identitas santri.

Seorang santri bernama Sayyid Ali Murtadlo menggunakan kata santri sebagai identitas. Orang-orang menyebutnya Raden Santri, kakak dari Sunan Ampel. Anak dari Syekh Ibrahim Asmaraqondi dan sepupu Maulana Malik Ibrahim. Maka sebenarnya, Sayyid Ali Murtadlo adalah Sunan Gresik yang masuk dalam Walisongo.

Santri, tak mengandalkan seragam agar dihormati atau berkata agar diikuti, apalagi minta untuk dilayani. Kebanggannya bukan pada diri, melainkan aktivitas sehari-hari. Senjatanya istiqomah mengaji mengasah jati diri, berharap ilmu yang manfaati barokah dari para kiai. Melestarikan ajaran para wali sebagai pewaris baginda Nabi. Itulah impian sejati, bukan untuk menyombongkan diri terhadap titipan Ilahi, karena itu perilaku syaitoni. Musuh abadi manusia di muka bumi.

Selamat Hari Lahir Organisasi Para Santri, Nahdlatul Ulama’!

*Editor Journal of Islamic Education Studies UIN Sunan Ampel Surabaya

Gus Rozin

Gus Rozin Khawatir G

Surabaya, — Indonesia akan tumbuh menjadi negara maju di masa depan. Harapan itu bukan tanpa alasan, melainkan karena Indonesia memiliki jumlah pemuda atau sering disebut generasi milenial yang cukup banyak. Generasi tersebut, kata KH. Abdul Ghaffar Rozin, Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma;ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI NU), adalah generasi yang hidup di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi-komunikasi.

“Mereka (generasi milenial), berdasarkan survei menunjukkan perilaku menghabiskan 8 jam di depan komputer, 3 jamnya untuk bermedsoso (media sosial),” ungkapnya menggambarkan generasi milenial di hadapan peserta Forum Diskusi Kebangsaan Santri Milenial di Pesantren Sabilur Rosyad, Sidoarjo, (03/04/2019).

Lebih lanjut, Gus Rozin, demikian biasa disapa, menyampaikan generasi milenial di Indonesia, 90%nya memandang bahwa masalah keagamaan sangat penting, sehingga penyediaan konten keagamaan di internet harus menjadi perhatian serius.

“Mereka belajar agama melalui internet. Yang kita dikhawatirkan adalah mereka belajar pada situs-situs yang tidak mengajarkan islam yang rahmatan lil alamin,” tambahnya

Oleh karenanya, RMI, Asosiasi Pesantren Islam Indonesia, bekerjasama dengan Kementerian Informasi dan Komunikasi berupaya untuk berperan aktif dalam penyediaan konten keagamaan yang baik, melalui penyelenggaraan pelatihan media sosial bagi para santri milenia.  Dimana diharapkan pelatihan itu akan melahirkan santri-santri milenial yang mampu menangkal hoax dan mampu menebar rahmat di internet.

Di Siduarjo, kegiatan diskusi dan pelatihan tersebut akan digelar selama dua hari (4-5 April 2019), diikuti oleh 150 santri dari berbagai pesantren di Jawa Timur dan dihadiri narasumber kompeten di bidangnya.

Kaum Sarungan dalam Bingkai Dekolonialisasi

Dekolonialisasi Kaum

Dekolonialisasi Kaum Sarungan, Dari Perang Terbuka Sampai Menolak Celana

Oleh Taufiq Ahmad*

Pesantren punya riwayat panjang dalam perlawanan terhadap penjajahan atau kolonialisme. Dari penjajahan model lama oleh bangsa Londo atau Barat, sampai penjajahan model baru yang dikenal dengan istilah neokolonialisme-imperialisme (Nekolim). Gelora perlawanan paling dahsyat era modern adalah ketika Resolusi Jihad dikumandangkan pada 22 Oktober 1945, yang membuat perlawanan sengit terhadap Sekutu di Surabaya demi suatu pelaksanaan atas Proklamasi Agustus 1945.

Perang total terhadap kolonialisme dikenal dengan istilah dekoloniasi. Ketika perang fisik sudah tidak berlangsung karena penjajah sudah hengkang, struktur warisan kolonial masih bercokol kuat di bumi Indonesia. Hal itulah yang oleh para pakar dikenal dengan negara poskolonial, yakni seolah-olah kita sudah “nasional” padahal struktur dalam (deep structure) dari masyarakat kita masih merupakan kelanjutan dari kolonial. Dan struktur warisan kolonial itu begitu merusak, sehingga negara yang sudah berusia tiga perempat abad ini dalam pergaulan internasional, masih saja berkubang dalam lembah kehinaan dengan predikat sebagai negara tertinggal.                                                                                       

Upaya merombak struktur warisan kolonial yang jadi hambatan bagi kemajuan nasional dalam arti kemandirian ekonomi, kedaulatan politik dan kebudayaan yang bermartabat, itulah yang dikenal sebagai bagian dari upaya dekolonisasi. Masalahnya, apakah saat ini upaya dekolonisasi itu terus dilangsungkan oleh bangsa Indonesia terutama kalangan pesantren? Itulah yang hendak dibahas. Sebab bagaimana pun, setelah kolonial hengkang, hegemoni terus berlangsung dengan topangan kekuatan ekonomi, teknologi dan militer, yang dalam ranah itu, Indonesia di posisi yang lemah dan dilemahkan. Bangsa Indonesia masih saja menjadi obyek, dan belum mampu menjadi subyek dalam kancah global internasional.

Riwayat Perlawanan Kaum Sarungan

Ketika bangsa Barat melakukan kolonialisasi, muslim ala pesantren adalah kalangan yang sejak awal melakukan perlawanan. Seperti perlawanan terhadap Portugis yang menguasai Malaka (1511), yang dipimpin oleh Adipati Yunus, putera mahkota kerajaan Demak Bintoro. Lalu perang terhadap perusahaan kongsi dagang Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang bercokol di Batavia, oleh Sultan Agung.

Ketika VOC bertransformasi jadi negara kolonial Hindia Belanda, perlawanan itu tetap tak pernah surut meski kerajaan-kerajaan Nusantara mulai merosot. Perang besar pernah dilangsungkan oleh aliansi golongan santri, para pendekar keratin, juga sedulur sikep, dibawah pimpinan pangeran Diponegoro. Hal itu secara apik dijelaskan oleh sejarawan Perancis Madzhab Annales yakni Denys Lombard dalam buku kedua dari serial tiga buku Nusa Jawa berjudul Nusa Jawa: Jaringan Asia.  Perang yang dikenal dengan istilah Perang Jawa (Java Orloog) atau Perang Diponegoro yang berlangsung pada 1825-1830 itu begitu dahsyat hingga menguras pundi-pundi kerajaan Belanda, meskipun akhirnya bisa ditakhlukkan.

Kekalahan perang Jawa bukan berarti menyurutkan perlawanan kalangan pesantren. Bibit-bibit pemberontakan terus disebar di desa-desa lewat pengajaran pesantren. Dari pesantren, pemberontakan dalam skala yang lebih kecil terus berlangsung. Contoh yang populer adalah pemberontakan di Banten yang digawangi oleh gerakan Thariqat Naqsabandiyah, sebagaimana lebih rinci dalam bukunya Sartono Kartodirjo berjudul Pemberontakan Petani Banten 1888. Para mursyid thariqah menyatakan bahwa memerangi Belanda adalah perang Sabil dan hukumnya wajib bagi setiap muslim.

Pemberontakan yang lebih kecil contohnya adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Kiyai Hasan Mukmin di Gedangan, Sidoarjo, karena kebijakan perkebunan belanda yang menggusur tanah-tanah petani. Kiyai Hasan Mukmin rupanya adalah sosok Kiyai yang meresapi jerit tangis petani yang ditindas kolonial, dan karena itu masyarakat ia pimpin untuk melawan.

Adapun menurut keterangan Agus Sunyoto, bahkan dalam waktu satu abad yakni sejak runtuhnya VOC (1799) yang bertransformasi menjadi Hindia Belanda sampai era politik etis (1900), berlangsung 112 kali perlawanan atau pemberontakan yang dipelopori oleh kalangan pesantren atau thariqat. Perlawanan justru surut ketika pemerintah kolonial Hindia Belanda menggulirkan kebijakan Politik Etis yang salah satunya adalah “penyekolahan” pribumi. Dari situ lahir para elit-intelektual modern dan terbaratkan. Dalam konteks keislaman, lahir juga berbagai “ulama modern” dengan semangat pemurnian ajaran Islam yang menjadi biang keladi kekisruhan antar umat Islam karena isu saling membid’ahkan, saling menyesatkan dan mengkafirkan menjadi marak. Mereka begitu keras memerangi TBC (takhayul, bid’ah dan churafat) yang mereka anggap diderita oleh muslim di Nusantara, tetapi begitu lunak di hadapan penjajah.

Sangat berbeda dengan golongan Islam sebelumnya yang masih getol melawan kolonial, meski tak lagi secara fisik tapi tetap berlangsung dalam ranah kultural. Misalnya, ketika kalangan pesantren secara getol melakukan resistensi terhadap budaya Belanda dalam hal berpakaian. Waktu itu memakai pakaian seperti Belanda diharamkan dengan dalil terkenal man tasyabbaha bi qoumin fahuwa minhum (siapa yang menyerupai suatu kaum, ia termasuk bagian kaum itu.

Sebab itulah, ketika Belanda mempopulerkan celana, kalangan pesantren tetap memakai sarung, sehingga identik dengan kaum sarungan. Ditilik dari ranah ekonomi politik, menolak celana dan memilih sarung artinya memperkuat pondasi perekonomian pribumi, karena waktu itu sarung kebanyakan diproduksi pribumi sementara celana mayoritas diproduksi pabrik kolonial.

Dalam urusan haji, Kiyai Hasyim Asyari pernah mengharamkan masyarakat untuk berhaji lewat biro haji kolonial, karena selain secara politik akan dengan mudah terpetakan oleh kolonial lewat kebijakan pemberian gelar dengan sertifikat “Haji” yang ironisnya, kebijakan kolonial itu masih kita lanjutkan penuh kebanggaan, secara ekonomi hal itu artinya juga memperkuat pundi-pundi kolonial. Artinya, dalam memberi putusan hukum, kalangan pesantren yang dianggap tradisional konservatif itu ternyata progresif.

Perlawanan baik secara fisik atau siasat budaya di atas, menunjukkan bahwa bahwa kalangan pesantren hingga titik darah penghabisan tetap anti terhadap penjajahan. Dan ketika Indonesia sudah merdeka dan memasuki Abad baru, bagaimana sikap kaum sarungan atas kenyataan baru ini?

Ahmad Taufiq
Baca juga: Ziarah Ke Kurdistan; Thariqat, Berzanji dan Semngat Perlawanan

Dekolonisasi Abad 20-21

Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang berlanjut pada perang rakyat Surabaya melawan Sekutu pada November 1945, adalah upaya dekolonisasi yang paling dahsyat dalam sejarah nasional Indonesia. Sehingga, ketika rangkaian itu disusun, akan membentuk suatu tritunggal sejarah kemerdekaan 1945: Proklamasi Agustus, Resolusi Jihad Oktober, dan Revolusi November.

Namun, tritunggal itu bukan berjalan mulus. Virus kolonial warisan Jepang dan Belanda sudah merasuk dalam mental para elit-elit politik bangsa sendiri, sehingga yang terjadi adalah suatu kesenjangan yang begitu menganga antara kehendak rakyat dengan pikiran elit-elitnya, yakni ketika rakyat memantapkan suatu garis perang, para elit saat itu sudah sibuk soal posisi kekuasaan dan perdebatan ideologis  yang kurang nyambung dengan kenyataan yang ada. Dalam menghadapi penjajah yang berusaha kembali bersama Sekutu, para elit justru lebih banyak berunding, padahal dalam sejarah Nusantara, perundingan artinya adalah malapetaka dalam sejarah Nusantara, seperti Perjanjian Bongaya (1667), Perjanjian Banten (1684), hingga KMB (1949).

Malapetaka itu kemudian membayangi bangsa Indonesia sejak diproklamirkan yang kemudian menemukan bentuknya dalam kisruh nasional seperti peristiwa Madiun 1948, DI/TII, PRRI/Permesta, dan G30S 1965. Malapetaka itu kemudian menjadi luka bangsa yang terus membayangi perjalanan republik Indonesia hingga saat ini. Dan, luka bangsa itu oleh segelintir elit penguasa atau intelektual justru terus dikorek sekedar untuk ambisi pribadi atas kekuasaan atau proposal funding internasional, tanpa peduli akan efek sampingnya yakni terus-menerus memproduksi konflik horizontal yang sangat melelahkan.

Pada masa awal republik yang kini kita kenal dengan istilah Orde Lama, ketika Soekarno menyadari bahwa konflik horizontal yang tak kunjung usai dalam konstituante, sementara di sisi lain Nekolim terus membayangi republik, dengan sokongan militer ia mengambil “jalan tengah” dengan membubarkan konstituante dan membentuk demokrasi termipimpin dengan ajaran Nasakomnya. Dalam konteks ini, kaum sarungan yang diwakili NU, masuk dalam aliansi “Fron Nasional” bersama PNI dan PKI dengan semangat melawan Nekolim dan melanjutkan agenda revolusi yang belum selesai. Namun, peristiwa G30S membuyarkan semuanya.

Kelahiran Orde Baru mengembalikan struktur warisan kolonial. Pada zaman Belanda, sebagaimana keterangan Emmanuel Subangun dalam pengantar buku Pemikiran Militer 5 karya Hario Kecik, masyarakat dibelah dalam tiga kelas, dengan Eropa sebagai penguasa ekonomi politik, kalangan Tionghoa jadi “pedagang perantara” dan bangsawan pribumi jadi “pejabat perantara.” Selebihnya di dasar kelas adalah rakyat jelata. Orde Baru adalah aliansi antara “pejabat perantara” yang berkongkalikong dengan “pedagang perantara” itu, dengan topangan militer dan teknokrat. Rakyat sipil dalam hal ini adalah warganegara kelas dua. Dan, karena NU dianggap bagian dari “Orde Lama,” rezim Orba melakukan penyingkiran terhadap organisasi kaum sarungan ini.

Hingga Reformasi 1998 bergulir, dan kaum sarungan yang diwakili Abdurrahman Wahid alias Gus Dur mampu menduduki posisi presiden. Namun, kebijakan Gus Dur yang secara radikal mengobrak-abrik struktur yang ada itu justru membuat dirinya dilengserkan dalam waktu yang sangat singkat. Sejak itu, pewaris Orde Baru kembali bercokol dengan wajah barunya. Tetapi tetap dengan struktur warisan kolonialnya, dengan penampakan aliansi pengusaha-militer-teknokrat yang meminggirkan rakyat.

Sementara itu, umat Islam sebagai kelompok mayoritas disibukkan dengan kerusuhan warisan kolonial, seperti Islam tradisional/modern, yang kini ditambah radikal/moderat/liberal. Sehingga, ketika NU melahirkan keputusan-keputusan yang seharusnya bisa didorong menjadi energi progresif, seperti putusan Munas Alim Ulama soal distribusi agraria dan kewajiban memelihara lingkungan, yang menjadi perdebatan justru soal bukan soal itu. Memang ada beberapa anak muda Nahdliyin yang mencoba mengusung aspirasi progresif seperti diwakili FNKSDA dengan mengatasnamakan Resolusi Jihad Jilid 2, tetapi tentu belum menjadi mainstream dalam tubuh organisasi kaum sarungan. Saat ini sebenarnya, masih mirip seperti ketika NU didirikan pada 1926, yang disibukkan soal pembelaan atas tradisi Islam Nusantara yang mengalami penyerangan dari kaum modernis-puritan. Belum lagi kesibukan politik praktis yang kini digeluti NU, meski sejak 1984 NU menyatakan kembali ke Khittah 1926. Dan harus diakui, energi kaum sarungan seperti habis di situ.

Namun bagaimana pun peliknya persoalan yang dihadapi, kaum sarungan tidak boleh lengah dalam terus melakukan upaya dekolonisasi. Sebab dekolonisasi adalah tugas radikal kaum sarungan dalam sejarah yang harus dilangsungkan, agar bangsa Indonesia bisa menegakkan harga dirinya yang selama ini diinjak-injak.

Cangkringan, 27-28 Maret 2019

*Penulis adalah pengajar pada MA Al-Qodir, Ponpes Al-Qodir, Cangkringan, Sleman, DIY

Merawat Tradisi “N

Merawat Tradisi “Ngaji Sorogan” Di Tengah Menguatnya Arus Modernisme
(Studi Kasus Pondok Pesantren Salaf Al-Utsmani Beddian Bondowoso)

Oleh: Nuril Qomariyah

Saya memilih untuk melakukan penelitian di daerah saya sendiri, hitung-hitung memperkenalkan kearifan lokal (local wisdom) sekaligus khazanah kepesantrenannya. Awalnya, salah seorang guru saya menyarankan untuk melakukan penelitian di pesantren yang berada di desa sebelah, di Pesantren Al-Utsmani Beddian, salah satu pesantren salaf terbesar di Kota Bondowoso. Saya pun menerima itu dan mencoba menggali data di pesantren tersebut.

Pesantren Al-Utsmani Beddian merupakan pesantren yang berada jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, berada di pelosok Desa Jambeanom. Mengapa saya katakan pelosok, karena pesantren ini berada di daerah yang jauh dari perkampungan warga, komplek di sekitar pesantren merupakan daerah tempat tinggal bagi abdi dalem pesantren sendiri.

Ditemani salah satu pengajar Madrasah Diniah (Madin), Pesantren Al-Utsmani Beddian, saya berkunjung kesalah satu pengurus bagian Ta’lim wa Tarbiyah dari Pesantren Al-Utsmani Beddian. Syukurlah malam itu beliau sudah tidak ada kegiatan mengajar kitab setelah tarawih, sehingga saya dapat melakukan tanya-jawab, atau wawancara singkat dengan beliau. Dan tulisan ini merupakan hasil perbincangan panjang dengan salah satu konseptor pengajian kitab dan pendidikan yang ada di Pesantren Al-Utsmani Beddian, Ustad Muchsin Ghazali.

Bukan lagi dualisme lembaga pendidikan

Pesantren sebagai tempat belajar atau kawah candradimuka bagi generasi bangsa, mendalami ilmu pengetahuan (keagamaan), merupakan peletak dasar munculnya Islam Nusantara. Ilmu pengetahuan yang diajarakan di pesantren merupakan refleksi keagaman serta totalitas kebangsaan. Oleh karenanya, keberadaa pesantren sangat diperlukan.

Namun ditengah perkembangan zaman dan masuk arus ilmu pengetahuan lain dari luar. Lembaga pendidikan di Indonesia tidak hanya pesantren, melainkan juga lembaga pendidikan. Seperti sekolah, yang mengajarkan ilmu pengatahuan umum. Keduanya berda dibwah naungan lembaga yang berbeda, sekolah di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nasional, sedangkan pesantren berada di bawah Departemen Agama. Dua lembaga ini merupakan induk dari lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Diantara keduanya berbagai perbedaan, diantara adalah model dan sistem yang dipakai.

Dalam situasi tersebut, pesantren seolah menjadi subordinat dari sistem besar pendidikan nasional. Sistem kelembagaan ini berlaku pada awal kemerdekaan hingga sekitar tahun 1972 (Materi K.H. Ahmad Baso, dalam Short Course Pengkajian Pesantren).

Namun, kini dualisme lembaga pendidikan ini telah berhasil dihilangkan. Dengan munculnya lembaga pendidikan pesantren yang terstruktural. Dimana jenjang pendidikannya dimulai dari tingkat TPQ (Setara dengan TK/RA), Ula (Setara dengan SD/MI), Ustha (Setara dengan SMP/MTs), Ulya (Setara dengan SMA/MA), dan Ma’had Aly (Setara dengan Universitas). Lembaga pendidikan pesantren dari tingkat TPQ hingga Ulya merupakan pengklasifikasian dari Madrasah Diniah (Madin). Madin ini memiliki kurikulum sendiri yang berada diluar campur tangan pemerintah (Diknas ataupun Depag). Melalui model demikian, santri diharapkan memiliki pola belajar yang sistematis, baik non-formal maupun formal.

Walaupun terjadi perubahan sistem belajar, khazanah keilmuan pesantren masih dijaga, utamanya melalu standarisasi. Dengan harapkan, para santri tetap mampu membaca kitab kuning yang telah diajarakan secara turun-temurun oleh ulama-ulama salaf terdahulu. Standar minimal pencapaian tersebut adalah santri lulusan Ulya. Santri yang telah mampu membaca dan memahami kitab kuning, akan menambah pemahaman tentang Agama Islam secara utuh sesuai dengan yang diajarkan salafussholih (Ulama Salaf) yang sangat kental dengan ajaran Rasulullah SAW.

Menurut Ustad Muchsin, lembaga pendidikan pesantren merupakan lembaga pendidikan yang unik. Ada tiga hal yang akan diterima oleh setiap santri yang berada di pesantren–dan akan sulit didapatkan dari lembaga pendidikan lain–, yakni: 1.Ta’lim (Pengajaran); 2.Tarbiyah (Pendidikan-pembentukan kepribadian); dan 3.Ta’dib (Pengenalan Adab-pembentukan akhlak). Ketiganya merupakan komponen yang dikemas secara komplit dalam lembaga pendidikan pesantren dengan harapan output berupa santri yang berilmu siap mengabdi bagi agama dan bangsa serta memiliki keagungan akhlak sesuai dengan akhlak yang diajarakan oleh Rasulullah SAW.

Mengapa harus pesantren salaf?

Pesantren Al Utsmani Beddian merupakan salah satu dari sekian banyak pesantren yang ada di kota saya, Bondowoso. Sejak awal berdiri hingga saat ini pesantren ini masih mempertahankan tradisi pesantren salaf. Lokasi pesantren dapat dikatakan jauh dari pusat kota, karena berada di pelosok desa tepatnya di Dusun Beddian, desa Jambeanom.

Berdasarkan nama dusun itulah kemudian Pesantren Al Utsmani Beddian lebih dikenal dengan sebutan Pesantren Beddian. Diantara pesantren-pesantren lainnya yang ada di Bondowoso, Pesantren Beddian merupakan pesantren salaf terbesar yang ada di Bondowoso, meskipun lokasinya yang berada di pelosok desa.

Hal yang menjadi pertanyaan besar saya adalah mengapa diera modern dan di pelosok desa seperti ini, Pesantren Al Utsmani Beddian masih bertahan dengan label pesantren salaf, sedangkan beberapa pesantren lainnya justru mulai meninggalkan sistem pengajian kitab (Tradisi salaf), dan lebih fokus dalam mengembangkan sistem pendidikan formal yang sedikit banyak telah memasuki lingkungan pesantren.

Atas kegelisahan itu, Ustad Muchsin menyampaikan bahwa pesantren akan kehilangan jati dirinya ketika tidak lagi melahirkan santri-santri yang ahli dalam membaca dan memahami kitab kuning (ahli kitab). Hal ini yang melatarbelakangi Pesantren Al Utsmani Beddian masih mempertahankan kultur salafiyah dalam kegiatan pesantren, yakni berupa ngaji sorogan. Karena hal tersebut merupakan tradisi khas pesantren yang diwariskan oleh ulama salafussholih yang harus tetap dilestarikan dan dirawat.

Demi menunjang eksistensi pesantren salaf diera modern, terdapat pengklasifikasian lembaga di Pesantren Al Utsmani Beddian, yakni: 1) Pengajian Kitab; 2) Madrasah Diniah (Madin); dan 3) Pendidikan Formal. Pengklasifkasian ini bertujuan agar tidak terjadi tumpang tindih antar program yang telah disiapkan oleh pesantren. Namun tetap, diantara ketiga lembaga ini pengajian kitab dijadikan sebagai prioritas utama. Hadirnya lembaga pendidikan formal merupakan suatu kebutuhan dari para santri. Karena tidak sedikit dari santri yang melanjutkan pendidikan setelah tingkatan Ulya di universitas. Sehingga, diperlukan adanya fasilitas berupa pendidikan formal untuk menunjang hal tersebut. Karena di Pesantren Al Utsmani Beddian belum memenuhi syarat untuk mendirikan Ma’had Aly.

 Secara terperinci Ustad Muchsin kemudian menjelaskan terkait kegiatan dua lembaga utama yang ada di pesantren, yakni Pengajian Kitab dan Madrasah Diniah. Yang diantara keduanya memiliki relasi yang sangat kuat. Akan tetapi tetap Pengajian Kitab jauh lebih utama jika dibandingkan dengan Madrasah Diniah. Dalam artian jam kegiatan Madrasah Diniah tidak boleh berbenturan dengan kegiatan Pengajian Kitab.

Seluruh kegiatan ngaji kitab di Pesantren Al Utsmani Beddian menggunakan sistem ngaji sorogan. Pengajian Kitab di pesantren ini jika dilihat dari jenisnya terbagi menjadi tiga. Pertama adalah pengajian umum, pengajian ini merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh seluruh santri di pesantren tanpa terkecuali dan juga warga pesantren lainnya termasuk ustad dan ustadzah Madin serta Sekolah Formal. Kegiatan pengajian umum ini dimulai dari pukul 06.30 hingga 08.00 WIB. Pengajian umum merupakan pengajian terpusat di masjid pesantren, yang langsung dipimpin oleh Kiai H.Ghazali selaku pengasuh Pesantren Al Utsmani Beddian saat ini. 

Kitab yang dikaji dalam pengajian umum dari tahun-ketahun masih sama. Dengan tingkatan ringan dipagi hari, hingga nantinya diakhiri dengan kitab yang tingkat kerumitannya cukup tinggi. Kegiatan pengajian umum ini diawali dengan kitab Safinatun Najah dan Sullamut Taufiq. Kemudian dilanjutkann dengan kitab Fathul Qarib, biasanya setelah selesai dua kitab yang pertama santri yang di Madin kelas 4 dan 5 Ula turun (meninggalkan majelis) terlebih dahulu karena kitab yang selanjutnya sudah lebih tinggi. Lebih siang lagi dilanjutkan dengan Kitab Fathul Mu’in biasanya pada bagian ini hingga pukul 08.00 diperuntukkan untuk santri tingkat Ulya dan yang telah lulus, sehingga santri tingkatan Wustha kebawah diizinkan untuk turun lebih dulu.

Kedua adalah pengajian khusus, dikatakan khusus karena pengajian ini tersistem dan ditentukan sepenuhnya olh pengurus pesantren, mulai dari jenis kitab yang dikaji, ustad dan ustadzah, serta tempat pengajiannya sudah terkontrol. Kegiatan pengajian ini dimulai dari Ba’da Shalat Isya sampai dengan pukul 21:30. Setelah kegiatan pengajian khusus ini para santri ada jam wajib belajar hinggal pukul 22.00 dan dipantau langsung oleh pengurus. Ketiga adalah pengajian bebas, biasanya dilakukan Ba’da Shalat Maghrib hingga menjelang Shalat Isya’. Setiap santri dibebaskan untuk mengikuti pengajian ini termasuk dalam memilih kitab yang akan dikaji serta ustad atau ustadzahnya. Biasanya kegiatan pengajian bebas ini dilakukan para santri yang masih merasa kurang cakap dalam menerjemah dan sering tertinggal ketika ngaji sorogan.

Pengajian kitab merupakan ruh dari pesantren salaf. Maka tidak heran jika lembaga Pengajian Kitab berada menjadi prioritas utama. Dengan tujuan agar dari pesantren tetap lahir santri-santri yang mampu membaca serta memahami kitab kuning dan dapat diaplikasikan di masyarakat. Selain itu, kegiatan ngaji kitab ini sekaligus merawat serta mempertahankan tradisi baik yang diwariskan oleh para Ulama Salaf terdahulu .

Untuk mendukung kegiatan pengajian kitab, maka pesantren memerlukan Madrasah Diniah (Madin). Dari Madin inilah para santri ditempa metode atau cara agar dapat membaca kitab kuning. Sejak kelas 5 Ula, setiap santri telah mempelajari Ilmu Nahwu dengan Bahasa Indonesia yang ditulis dengan tulisan arab. Dan kelas 6 Ula para santri mempelajari Kitab Nahwu Jurmiyah. Untuk tingkatan Wustha santri mempelajari Kitab Nahwu Imriti dengan ketentuan wajib hafal setengah bagian dari kitab, dan setengahnya lagi dilanjutkan ketika di tingkat Ulya sekaligus mempelajari Kitab Alfiyah Ibnu Malik yang menjadi standart dalam membaca kitab kuning. Dasar ilmu nahwu yang diperoleh di Madin inilah yang mempermudah para santri dalam mengikuti kegiatan pengajian. Kegiatan di Madin dimulai setelah santri selesai mengikuti kegiatan sekolah formal pagi harinya, tepatnya dari Ba’da Shlat Dzuhur hingga sebelum ‘Ashar.

Yang khas dan harus dijaga: Ngaji sorogan dengan arab pegon

Dijelaskan di atas bahwa seluruh jenis pengajian kitab di Pesantren Al Utsmani Beddian, menggunakan sistem ngaji sorogan. Ngaji sorogan sendiri merupakan salah satu tradisi khas pesantren salaf. Saat ngaji sorogan Kiai tak memrlukan papan untuk menulis hanya bermodalkan kitab dan langsung memaknai di hadapan ratusan bahkan ribuan santrinnya pada saat pengajian umum. Begitu pula para santri, hanya membawa kitab dan alat tulis untuk memberi makna pada kitab. Yang khas dari ngaji sorogan adalah cara santri memberi makna pada kitab, yang mayoritas bahkan keseluruhan menggunakan tulisan arab pegon.

Saat mewawancari Ustad Muchsin, sedikit beliau menyinggung sejarah munculnya arab pegon di kalangan santri salaf. Huruf arab pegon telah lama digunakan oleh Wali Songo, Haba’ib, ulama-ulama pesantren hingga para Kiai. Arab pegon merupakan upaya Ulama Salaf untuk memperlancar penyebaran agama Islam dan menjadi transfer ilmu agama. Sehingga, paham-paham keagamaan dapat dinikmati oleh masyarakat luas serta terjaga dari berbagai penyimpangan ilmu agama. Dalam hal ini arab pegon  sebenarnya telah berperan besar dalam mengkomunikasikan khazanah intelektual muslim di Nusantara.

Seorang ahli perpustakaan dari Prancis, Hambert Lior pada tahun 1980 telah mengadakan penelitian mengenai hal ini. Dia memperkirakan bahwa kitab-kitab Islam yang bertuliskan aksara Arab Pegon sekitar 4000 buah naskah tersebar di 28 negara. Ismail Husin (1974) memperkirakan skitar 5000 naskah arab pegon berbahasa Melayu, seperempatnya berada di Indonesia.

Arab pegon berasal dari huruf Arab hijaiyah, yang kemudian disesuaikan dengan akasara (abjad) Indonesia (Jawa atau Madura) sesuai daerah pengajarannya. Huruf pegon lahir dikalangan pondok pesantren untuk memaknai atau menerjemah kitab-kitba kedalam bahasa Indonesia, Jawa, maupun Madura, guna mempermudah penulisannya. Karena penulisan kitab-kitab berbahasa arab dari kanan ke kiri begitu pula penulisan arab pegon, berbeda dengan huruf latin yang ditulis dari kiri ke kanan.

Sayangnya, saat ini huruf arab pegon lambat laun mulai dilupakan. Hal ini bermula sejak Belanda menjajah Indonesia dan mengenalkan huruf latin. Sekolah-sekolah formal hampir seratus persen menggunakan tulisan huruf latin. Bahkan dalam administrasi negara, penjajah menekankan penggunaan tulisan dengan huruf latin. Yang sangat berbeda dengan kondisi Indonesia sebelum kedatangan penjajah. Kurangnya pemahaman dan kesadaran umat Islam mengenai hal ihwal huruf pegon tidak sedikit mempercepat hilangnya tradisi arab pegon dikalangan masyarakat. Jadi tidak di herankan jika akhir-akhir ini keberadaan huruf arab pegon semakin terisolir, hanya dipakai di dunia pesantren yang masih tetap konsisten melestarikan keberadaan huruf arab pegon.

Sejarah panjang serta kondisi arab pegon yang mulai langka dikalangan santri ini yang menjadi pegangan bagi pengasuh dan pengurus Pesantren Al Utsmani Beddian untuk tetap menjaga tradisi ngaji sorogan dengan arab pegon di kalangan santri. Kebiasaan menulis arab pegon ini telah ditanamkan sejak santri duduk di kelas 4 Ula dan diwajibkan untuk tingkatan di atasnya. Inilah satu-satunya cara untuk menjaga dan merawat tradisi ulama salaf yang mulai ditinggalkan diera modern melalui lembaga pendidikan pesantren salafiyah. Tanpa kemudian melupakan kebutuhan santri akan pendidikan modern sebagaimana telah diaparkan di atas.

K.H. Maimoen Zubair, pada Kongres Ijtima’ Ulama Nusantara ke-2 di Malaysia tahun 2007 menyampaikan, betapa umat Islam telah dengan mudahnya melupakan beberapa ajaran ataupun peninggalan ulama salaf. Salah satu diantaranya adalah arab pegon. Siapa lagi yang akan mempertahankan keberadaan huruf arab pegon kalau bukan generasi Islam saat ini, terutama mereka yang menamakan dirinya sebagai kaum santri salafiyah.

Diakhir wawancara Ustad Muchsin menegaskan bahwa pesantren akan kehilangan jati dirinya ketika tidak melahirkan generasi yang bisa membaca dan memaknai kitab dan meninggalkan tradisi ngaji yang diwariskan Ulama Salaf terdahulu. Pesantren Al Utsmani Beddian, yang berada di pelosok berusaha untuk melestarikan tradisi ngaji kitab ini tanpa menghilangkan kodrat kebutuhan santri saat ini berupa pendidikan formal yang modern. Inilah yang menjadi simpul pengembangan khazanah keilmuan di pesantren, sehingga pemikiran tentang pesantren yang kuno, tradisional, dan tertutup dapat dihilangkan dari konstruksi masyarakat saat ini.

Kegiatan penelitian pesantren saya kali ini membawa pada nilai-nilai tradisional pesantren salaf yang menjadi pemikiran masyarakat masih sangat sempit. Karena sebenarnya pesantren salaf tidak sepenuhnya menutup diri dari munculnya pendidikan formal yang memang menjadi kebutuhan para santri. Akan tetapi memberikan ruang tersendiri pada pendidikan formal, dengan tetap menjaga tradisi salafiyah berupa ngaji sorogan bersama pengasuh atau Kiai yang menjadi hal unik yang identik dengan  pesantren salaf. Ngaji sorogan ini yang kemudian mengenalkan saya dengan esensi keberadaan huruf arab pegon dikalangan santri. Dimana sejarah arab pegon dalam penyebaran agama Islam di Indonesia memiliki peranan penting. Hal ini yang kemudian harus diketahui oleh generasi muda muslim saat ini, untuk senantiasa merawat tradisi khas pesantren salaf yang mulai hilang, yakni: Ngaji sorogan dengan arab pegon.

Penelitian kepesantrenan ini mengajarkan saya untuk tetap merawat tradisi lama dan tmenerima serta memberika apresiasi penuh dengan terhadap perkembangan pengetahuan serta tradisi baru sebagai dampak modernisasi.

Nuril Qomariyah, Lahir di Bondowoso 2 Juni, 19 tahun silam. Merupakan Alumni dari Yayasan At-Taqwa Bondowoso sejak bangku TK, MI bahkan MTs., menghabiskan masa SMA di MAN Bondowoso, pernah nyantri di Ma’had Atqia Bondowoso dan di MSAA UIN Malang. Saat ia ini sedang menempuh studi di Jurusan Fisika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia adalah seorang aktivitas yang tidak terlalu menyenangi berdiam diri. Pecinta fisika dan sastra ini selalu berharap dirinya dapat menularkan semangat positif.

1 2 3 4 5 7