dafit

Inul Daratista Bantu

TEMPO.COJakarta -Miftah Maulana Habiburrahman atau yang lebih dikenal dengan Gus Miftah prihatin dengan kondisi para kyai kampung yang ikut menjadi korban pandemi corona. Ia teringat dengan ucapan K.H Abdurrahman Wahid alias Gus Dur yang menyebut kyai yang paling ikhlas adalah kyai kampung.

Sosok mereka, menurut Gus Dur, sangat penting di masyarakat, mulai dari mengurus kematian, selamatan, hingga tahlilan. Sayangnya, Gus Miftah melihat ketika pandemi corona sekarang ini para kyai kampung terlupakan.

Lewat video yang diunggah di akun Instagram-nya pada Rabu, 29 April 2020, Gus Miftah mengajak untuk memberikan donasi kepada para kyai kampung melalui rekening Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU. Ajakan Gus Miftah tersebut direspon oleh penyanyi dangdut Inul Daratista.

Inul mengunggah ulang video dan pesan Gus Miftah di akun Instagramnya. “Bismillah. Penyambung amanah dari @gusmiftah. Ingat kah kita siapa yang mengajarkan Ngaji turutan, Iqra’, belajar membaca huruf hijaiyah, alif, ba’, ta’ dan seterusnya sewaktu kita masih anak-anak? Mereka adalah kyai-kyai kampung,” tulis Inul di Instagramnya pada Jumat, 1 Mei 2020.

Menyalin ucapan Gus Miftah, Inul menuliskan betapa peran Kyai kampung seperti, Mbah Rois, Mbah Modin, Mbah Kaum, Guru Diniyah sangat penting. Mereka sumua dianggap penting sebagai ujung tombak dari kegiatan keagamaan di perkampungan dan pedesaan.

Inul Daratista. Instagram

“Mereka lakukan itu semua dengan keikhlasan tanpa adanya honor dan gaji yang jelas,” tulis Inul.

Apalagi di saat pandemi COVID-19 saat ini, mereka juga menjadi korban dan ikut terdampak. Belum adanya bantuan yang diberikan kepada mereka menjadi perhatian dari Gus Miftah sebagai pencetus penggalangan donasi ini.

“Mereka diam bukan karena mereka tidak butuh, mereka tidak teriak karena mereka menjaga kehormatan diri, dengan tidak menampakkan kesusahan mereka dihadapan orang lain,” tulisnya.

Donasi yang disimbolkan sebagai kado lebaran untuk guru ngaji itu bisa ditransfer ke rekening Donasi BNI :0860332209 atas nama RMI NU.

Salah satu guru ngaji di Taman Pendidikan Al-Qur’an yang melihat unggahan tersebut sangat bersyukur atas niat baik Gus Miftah dan Inul Daratista. “Alhamdulillah saya sebagai guru TPQ sangat berterimakasih kepada bunda Inul, semoga rejekinya semakin lancar ya bunda, aamiin,” tulis akun @kurnia.elisa di kolom komentar.

 

MARVELA. TEMPO.CO

Panduan Pencegahan C

RMINU – Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) atau asosiasi pesantren-pesantren di bawah nauangan Nahdlatul Ulama menerbitkan panduan untuk pesantren-pesantren agar terhindar dari Coronavirus Desease (Covid-19).

Panduan tersebut disampaikan melalui Surat Edaran Nomor: 835/A/PPRMI/SE/III/2020 pada 13 Maret 2020 M/18 Rajab 1441 H tentang Protokol Pencegahan Penyebaran Coronavirus disease (Covid-19) pada Pondok Pesantren.

Berikut ini surat edaran tersebut:

Sebagai upaya pencegahan penyebaran Corona Virus Desease (Covid-19), maka Pengurus Pusat Rabithah Mah’ahid Islamiyah menghimbau kepada pesantren di seluruh Indonesia agar:

1. Semua orang yang masuk ke pesantren, baik guru, tamu, santri, wali santri, harus dicek suhu panas badannya menggunakan thermometer inframerah genggam atau yang dikenal dengan thermometer tembak;

2. Jika suhu badan tamu, guru, santri, wali santri melebihi dari 37,3 derajat celcius, maka yang bersangkutan tidak diperkenankan masuk ke area pesantren;

3. Semua orang yang masuk ke pesantren, baik guru, tamu, santri, wali santri, harus cuci tangan menggunakan sabun atau disinfektan yang telah disediakan;

4. Pesantren menyediakan tempat cuci tangan dan sabun di setiap pintu masuk pesantren, madrasah, sekolah, perguruan tinggi, dan asrama, masjid, musholla, dan rumah pengasuh dan asatidz;

5. Di setiap pintu masuk diberikan informasi tatacara cuci tangan yang benar dan dikontrol pelaksanaannya baik oleh sesama santri ataupun asatidz;

6. Pesantren harus absensi dan monitor kesehatan santri secara rutin baik di kelas, asrama, maupun dalam aktivitas lainnya;

7. Kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang, terutama masyarakat umum, perlu ditunda untuk sementara waktu;

8. Pesantren perlu menyediakan ruang isolasi yang dapat digunakan oleh guru, santri dan pengurus pesantren jika mengalami flu, batuk, demam; gangguan pernafasan, sakit tenggorokan, dan badan terasa letih;

9. Jika setelah mendapatkan penanganan, gejala-gejala tersebut tidak segera reda/turun, maka pesantren harus segera merujuk yang bersangkutan ke rumah sakit terdekat;

10. Pesantren perlu bekerjasama dengan dengan puskesmas, rumah sakit, dan tim medis untuk terus memantau kondisi kesehatan santri, ustadz, dan pengurus pesantren;

11. Sebagai upaya pencegahan, pesantren perlu menggalakkan aktivitas yang dapat meningkatan imunitas tubuh santri, asatidz, dan pengurus pesantren, dan mengkonsumsi vitamin C;

12. Membaca qunut nazilah, sholawat tibbil qulub dan doa tolak bala sebagai ikhtiar kita kepada Allah SWT agar pesantren dan seluruh bangsa Indonesia terselamatkan dari virus dan bencana ini. Kemudian, surat edaran tersebut ditandatangani Ketua RMI PBNU KH Abdul Ghaffar Razin dan Sekretaris Habib Sholeh.


SumberNU Online

KH Hafidhi Syarbini

KH Hafidhi Syarbini dan Ijtihad Penguatan Generasi Santri
(Oleh, Shulhan)

KH Hafidhi Syarbini merupakan salah satu santri terbaik KH Maemon Zubair Sarang dan pendiri pesantren di Batuan Sumenep. Setelah memperoleh petunjuk melalui mimpu, pesantran yang dirintisnya diberi nama Darul Istiqomah. Di lembaga ini beliau menanamkan kultur kehidupan yang inklusif dan moderat. Meskipun pesantren ini difokuskan bagi pelajar atau santri untuk mendalami kitab-kitab klasik dengan berbagai genre-nya seperti fiqih, tasawuf, tafsir dan ilmu kebahasaan, santri dibolehkan untuk mengenyam pendidikan formal di luar pesatren mulai dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi.

Kiai Hafidhi, sapaan akrab masyarakat, adalah pengurus teras Pengurus Cabang Nahdhatul Ulama  (PCNU) Kab. Sumenep setelah beberapa tahun berkhidmat di lembaga bahtsul masail (LBM) PCNU. Kiai ini mulai dikelanal publik melaui progam “semanis kurma” dan “mudzakarah” yang disiarkan RRI Kab. Sumenep. Siaran semanis kurma setiap sore salama bulan ramadhan dan siaran mudzkaroh setiap jumat sore sepanjang tahun. Program siaran ini ialah kegiatan interaktif tanya jawab problematikan hukum islam. Sejak itu kiai mulai dikenal oleh mayarakat Sumenep dan sekitarnya sebagai pakar dibidang fikih dan logika. Kiai juga sering menjadi pembicara dalam seminar dan pengajian di luar kesibukannya sebagai pengasuh dan pendidik di pesantren tentunya.

Inovasi dan terobosan yang dilakukan oleh Kiai Hafidhi antara lain:

Acelerative Method dan Active Learning

Menyadari pentingnya kemampuan membaca kitab thurath bagi setiap santri serta sulitnya proses untuk mencapai kompetensi ini, beliau menyusun kitab Al-Fashih. Kitab ini dirancang untuk memudahkan pemula agar mampu membaca kitab salaf dengan baik dan membutuhkan waktu yang relatif singkat. Kebaruan (novelty) metode ini terletak pada penempatan tema idhafah (kalimat majemuk) di bagian awal pelajaran, berbeda dari kitab-kitab aslinya yang menempatkan di bagian akhir bahasan. Selain itu, pembelajaran dirancang dengan empat pendekatan (approach) yang dilaksanan secara beruntun (sequence), yaitu, sighat, makna, jumlah dan murad.

Sighat atau kelas kata diperlukan untuk mengindetifikasi kata dasar dan perubahan makna yang ditimbulkan dari perubahan kelas kata tersebut. Satu kata dalam bahasa arab bisa dikembangkan menjadi beberapa kata melalui metomorfosa baku yang berimplikasi kepada perubahan arti. Satu kata juga cenderung memiliki banya alternatif cara baca dan maknanya berubah pula seperti من bisa dibaca man, min, munna, manna dan mannun. Jumlah adalah sebutan kalimat dalam bahasa arab. Pemilihan bentuk kalimat tersebut merepresentasikan intensitas penulis. Sedengkan murad adalah pesan yang ingin disampaikan oleh penulis kepada pembaca. tanpa diikat pemahaman yang utuh terhadap maksud penulis, tulisan arab tanpa harkat bisa saja dibaca sesuai kehendak pembaca dan itu memungkinkan misunderstanding.

Untuk memahami pesan yang dinginkan penulis, pembaca selain menguasai empat hal diatas juga dituntut untuk memiliki sense yang terbentuk dari seringnya membaca. Penguasaan terhadap ilmu logika akan membantu memudahkan memahami apa yang dimaksudkan pengarang kitab yang sedang dibaca. Memahami kitab kuning tidak cukup hanya berbekal nahwu sharraf (ilmu dasar memcaba naskah klasik), tetapi juga dibutuhkan disiplin lain seperti ilmu balaghah, ilmu mantiq, ilmu sejarah, ilmu sosiologi bahkan ilmu matematika dasar. hal itu diperlukan untuk memudahkan santri memahami isi bacaan kitab dalam pendekaan tekstual secara untuh dan konstektstual secara komprehensip.    

Implementasi pembelajaran di pesantren ini menekankan kemandirian peserta didik. Mereka dilatih untuk menggali dan memahami isi kitab secara mandiri. Jika mendapatkan hal sulit, mereka sharing dengan sesama santri dan kakak tingkat atau melalukan peer teaching untuk menyelesaikan problem yang dihadapi. Kemudian diadakan program sorogan, menyetorkan hasil belajar mandiri kepada kiai atau ustadz. Para santri bergiliran membaca kitab dan menjelaskan kandungaya berdasarkan hasil interpretasi yng mereka kembangkan. Setelah itu, kiai atau ustadz mengeksplorasi sejauh mana penguasaan santri dengan cara mengajukan pertanyaa kritis. Jika santri tersebut mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan gurunya dan mampu mempertahankan argumennya bisa berpindah ke materi selanjutnya.

Praktik ini melatih santri untuk menguasai pelajaran dengan memahami prinsip-prinsip dasar dengan kuat. Pola ini dapat membentuk mereka kuat dalam hal metode dan mampu mengembangkan nalar kritis dan sintesa pemikiran yang brilian. Prosen belajar ini memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengetahui (learning to know) secara memdalam disiplin yang dipelajari. Sebagai makhluk sosial, setiap orang memerlukan intervensi orang lain untuk menyelasaikan masalah yang dihadapi (learning together). Untuk membantu santri mampu mengamalkan ilmu yang telah diproleh, kiai mendorong melaksanakan sholat lima waktu berjemaah, memasak dan mencuci pakaian sendiri dan membersihkan lingkungan pesantren (learning to do).  

Kederisasi

Bagian terpenting dalam penguatan komunitas santri ialah kaderisasi. Di kalangan pesantren salaf (tradisional) proses kaderisasi berjalan secara natural tidak didesain secara terencana untuk generasi berikutnya. Keadaan ini berpotensi lahirnya generasi prematur seperti contoh putra mahkota kiai terpaksa menggantikan kedudukan ayahnya ketika wafat sebagai kiai hanya kerena keturunannya bukan karena keilmuan dan skillnya. Disamping itu, kecenderungan kultur pesantren tradisional menempatkan orang-orang di sekitarnya sebagai pengikut (audien) pasif meskipun secara keilmuan dan kecapakan tidak kalah mempuni. Dua hal ini memungkinkan degradasi kualitas generasi santri karena lahirnya kiai biologis (karena keturunan) bukan kiai fungsional (kerena ilmu dan kemampuan). selain itu kader-kader terbaik yang tidak mendapatkan ruang aktualisasi dengan semestinya akan mencari ruang lain yang lebih menerimanya.

Fenomana ini ditangkap oleh kiai dengan melakukan kaderisasi baik internal pesantren maupun diluar pesantren yang berhubungan dengan penguatan kaum santri. Setelah lama menjadi narasumber siaran RRI, kiai mengundurkan diri dan mendelegasikan santri muda yang dianggap mampu mengantikannya. Meskipun banyak permintaan dari masyarakat untuk tetap menjadi narasumber siaran RRI, kiai tetap menolak dengan alasan mengantisipasi disorientasi dari lillah (karena Allah) menjadi kerena popularitas. Orang yang dijadikan pengantinya dalah Khairul Anam dan Bahrul Widad. Keduanya memiliki beberapa kesamaan dengan kiai yaitu santri pondok Al-Anwar Sarang dan aktivis PCNU. Mereka secara bergantian mengisi smanis kurma menjawab pertanyaan dan konsultasi publik tentang masalah-masalah keagamaan.

Kaderisasi di lingkungan pesantren salah satunya dilakukan dengen memberikan kepercayaan kepada santri terbaiknya untuk mengisi siaran di Radio Nada FM. Seminggu sekali santri ini mengisi siaran kajian keagamaan di Nada FM dengan membaca kitab pilihan dan menjelasakan isinya. Santri juga dilatih untuk menghadiri undangan masyarakat dan memimpin tahlin, yasin dan doa bersama bersama. Santri sering juga dilibatkan dalam kegiatan memandikan dan mengafani jenazah warga sekitar pesantren. Cara ini dimaksudkna untuk mendekatkan santri dengan realitas. Diatara masyarakat dan pesantren tidak ada dinding tebal yang membatasi intereksi. Sebaliknya, santri didorong untuk berinteraksi dengan warga sekitar untuk mengamalkan dan menyebarkan ilmu yang dimiliki.    

Inclusive Learning  dan  Totality Purification

Kiai setelah tamat dari salah satu SMAN di Kab Pemekasan memilih untuk mendalami pendidikan agama di pesantren yang diasuh oleh Mbah Maemon Zubair, tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Kia sempat dipaksa oleh keluarganya untuk melajutkan kuliah bidang kedokteran tetapi tetap memilih pendidikan pesantren. Meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan perkuliahan, beliau tidak melarang dan tidak mendorong santrinya untuk mengambil pendidikan formal disela-sela kesibukannya mendalami kitab. Santri diberikan kebebasan untuk memilih sesuai minat dan passion yang dimiliki. Secara pribadi, beliau tidak minat dan tidak menyukai dunia perkuliahan tetapi tidak kaku dengan pandangan pribadinya. Beliau secara moderat membebaskan santri-santrinya untuk berkembang dan maju secara seimbang.

Dalam sebuah kajian kitab rutin beliau pernah menyampaikan bahwa jika ada santri yang pandai membaca kitab dan memiliki gelar kesarjanaan nanti pasti banyak yang ingin menjadikan menantu dan beliau berjanji untuk memcarikan calon istri yang cocok. Janji itu beliau tepati dengan mencarikan langsung calon istri bagi santri yang memenuhi kualifikasi tersebut. Prilaku ini adalah potret faktual yang mencerminkan bagaimana kiai ini mendidik muridnya dengan baik dan tidak memaksakan pengalaman dan pendapatnya diikuti mentah-mentah. Kiai ini tidak segan memberikan apresiasi kepada murid yang mampu menujkkan kualitas dirinya secara ikhlas meskipun jalan yang dilalui berbeda dengan dirinya.

Kiai Hafidhi tidak menganjurkan para santrinya mengikuti ajang perlombaan baca kitab atau lomba-loba lain khusunsya yang berhubungan dengan keagamaan. Mernurutnya tujuan belajar kitab itu kerena Allah SWT dan untuk memperoleh keberkahan hidup. Untuk menjaga kemurnian niat dan meraih keberkahan melalui kitab yang dipelajari, setiap santri harus berhati-hati dan menghindari dari hal-hal yang berpotensi mendatangkan riya’ dan kesombongan. Ajang perlombaan sebagai syiar merupakan hal baik tetapi perlu diwaspai terjadinya distorsi dan bergesernya ketulusan niat menuntut ilmu agama. Beliau mencotohkan banyak santri yang dikenal pintar dan dipuji kealimannya saat di pondok tetapi ketika pulang tidak mendapatkan tempat atau kesempatan untuk mengamalkan ilmunya di tengah masyarakat. Menurutnya kondisi itu terjadi kemungkinan karena salah niat dan salah menagemen diri saat menempuh pendidikan di pesantren.

Kiai NU ini juga sangat berhati-hati untuk mengikutkan murid-muridnya dalam kegiatan Bahtsul Masail PCNU yang diadakan secara rutin. Beliau berpandangan ilmu bukan untuk dipamerkan tetapi untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahtsul masail bukan ajang menunjukkan diri seabgai orang yang pandai baca kitab dan bisa mengemukan pendapat ulama secara angkuh dan congkak tapi untuk memecahkan masalah (problem solving) dan rekomendasi untuk umat. Santri mengikuti bahtsul masail tidak cukup berbekal kepandaian saja tetapi juga harus mempunyai etika dan sopan santun yang baik serta ketawaduan yang tinggi. Hal ini diungkapkan kerena menurutnya tidak sedikit santri di dalam forum tersebut kurang dapat menununjukkan adab yang baik ketika berpendapat atau menyanggah pendapat-pendapat yang berbeda. Baginya seorang yang bisa terlibat dalam forum seperti ini selain ilmunya mempunya, hatinya harus bersih dan perilakunya mercerminkan akhlak yang terpuji.   

Shulhan adalah murid KH. Hafidhi Syarbini dan KH. Abdurrahman Alkayis, Ph.D, inisiator gerakan Thariqah akademik, dosen, aktivis advokasi pelajar miskin dan motivator

Download Logo HSN 20

RMI NU, Jakarta – Menyambut Hari Santri Nasional (HSN) 2019 yang jatuh pada tanggal 22 Oktober, Penguruh Pusat Rabhitah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PP RMI NU) menyelenggarakan SayembaraLogoHSN2019. Dimulai sejak 09 Agustus 2019, lomba berakhir pada 05 September 2019.

Setelah melalui tahap penjurian yang ketat, dari 233 logo yang masuk kepanitia, akhirnya dipilih logo dari Ainun Na’im (IG: @mas_naim) sebagai juara.

“Penjuriannya cukup ketat, panitia dan dewan juri sepakat membagi penjurian beberapa tahap, yaitu 12 besar, 6 besar dan 3 besar, sebelum menetapkan juara,” kata salah satu juri, Muhammad Alfuniam, Rabu (18/9).

Kang Niam, sapaan Muhammad Alfuniam, juga menjelaskan juri secara husus memberi batasan penilaian. Dari hasil musyawarah, para dewan juri menyepakati aspek penilaian meliputi; keunikan, kesederhanaan, kemudahan untuk diingat, kesesuain dengan karakter dan tema, aplikatif, black and white/fleksibel disemua warna dan logo miliki kesan abadi atau tahan lama.

Seiring berakhirnya SayembaraLogoHSN2019, Kang Niam mewakili RMI NU dan panitia menyampaikan terimakasih kepada seluruh peserta. Ia juga menyampaikan selamat kepada pemenang sayembara serta memohon maaf atas keterlambatan pengumuman.

“Logonya banyak dan bagus-bagus, kami harus sampai berdebat dan menunda penetapan juara. Tapi alhamdulillah sudah bisa ditetapkan juaranya. Selamat bagi pemenang dan terimakasih untuk para peserta,” pungkas Kang Niam.

Logo dapat di download di link berikut: Logo HSN 2019

Kekayaan Prosa Kitab

Kekayaan Prosa Kitab Al-Ulama Al-Mujadiddun Karya KH Maimoen Zubair
Oleh: Yudho Sasongko


Salah satu peran pesantren bagi kehidupan masyarakat adalah pengaruh dan berkah ketokohan kultural yang ada di pesantren itu sendiri. Sebut saja Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah yang mempunyai peran penting bagi masyarakat di sekitarnya. Ketokohan kultural pengasuhnya, KH Maimoen Zubair tak diragukan lagi kredibilitasnya. Pengaruhnya bukan bersifat regional saja, namun hingga sampai tingkat nasional dan internasional.

Ketokohan kultural KH Maimoen Zubair juga dibarengi dengan karya-karya literasi yang patut diacungkan jempol. Sebut saja karya Beliau yang berjudul Al-Ulama Al-Mujadiddun. Kitab ini dalam tinjauan kritik sastra, masuk dalam karangan bebas atau prosa (an-natsr). Kita ketahui bahwa sejak dulu kala, prosa (karangan bebas) setia mengiringi peradaban dan literasi manusia. Prosa merupakan bentuk karya sastra tulis yang mempunyai keistimewaan tersendir, hingga cepat berkembang dan menyebar di masyarakat. Prosa atau karangan bebas sejatinya sudah lama menjadi bagian dari perkembangan literatur Islam. Keistimewaan prosa adalah tidak adanya keterikatan oleh kaidah puitika serta disusun dalam bentuk cerita secara bebas serta tidak terikat oleh rima, irama, wazan, ataupun qofiah.

Secara global sastra prosa terbagi menjadi dua, yakni natsr ilm (prosa ilmiah) dan natsr fanni (prosa seni). Dalam khazanah literatur Islam, prosa tidak saja merupakan bagian dari seni. Namun, lebih dari itu, prosa telah berkembang menjadi bentuk yang lebih komplek. Perkembangan prosa melesat hingga melahirkan bentuk-bentuk turunannya seperti khitobah (retorika) dan tarassul (korespondensi). Pengaruh prosa modern dengan metode kitabah at-ta’lif dapat Anda lihat pada buah karya KH Maimoen Zubair ini. Kajian-kajian kesastraan yang berbentuk prosa pada umumnya mempunyai bahasan dan karakteristik tertentu. Namun, secara garis besar, kajian kesusastraan prosa sebagai karangan bebas itu terbagi menjadi beberapa kelompok kecil, diantaranya: Al-Khitobah, Ar-Rosail, Al-Amtsal, Al-Hikam, Al-Washaya, Al-Maqamat, Al-Qishas, dan Al-Masrahiyyah.

Kitab Al-Ulama Al-Mujadiddun merupakan kitab yang menggunakan metode prosa khitobah at-ta’lif. Metode ini menuntut penulis untuk merumuskan permasalahan yang diambil dari realitas ilmiah dalam segala bidang ilmu seperti: fikih, sastra, kedokteran, dan lain-lain. Kitab karya KH Maimoen Zubair ini tentunya menyorot masalah ilmia tentang para pembaharu serta permasalah fikih keseharian dengan menggunakan bahasa fushah, yaitu gaya bahasa yang jelas, ringan dan padat tanpa bertele-tele.

Lain lagi jika ditulis dengan gaya dan metode diwaniyah yang penuh sensasi kata. Dalam metode khitobah at-ta’lif, tidak diperbolehkan menggunakan majaz serta jenis-jenisnya, seperti majaz aqli, mursal, isti’aroh, kinayah dan tasybih dimni. Dalam kitab Al-Ulama Al-Mujaddidun, pembahasan ilmiah disusun Beliau dalam sebuah pengkajian masalah-masalah masail fiqhiyyah kontemporer yang banyak ditemui di kalangan masyarakat. Tentunya pembahasannya menggunakan sistematis dan dengan bahasa yang sederhana agar mudah dimengerti. Tujuan kepahaman adalah salah satu misi dari prosa atau karangan bebas ilmiah modern.

Pandangan progresif Mbah Maimun terihat pada pendapatnya bahwa usaha ijtihadi itu berawal pada lahirnya kebudayan Islam itu sendiri pada abad pertama hijriyah itu sendiri. Penulis memberikan perspektif yang dalam untuk mengulas alur perkembangan pembaharuan yang pernah terjadi dalam Islam.

Beliau mengulas tentang awal pembaharuan yang menunjuk pada golongan sahabat untuk dinobatkan sebagai mujaddid pada abad pertama. Selanjutnya, munculah mujtahid seperti Imam al-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan lainnya sebagai mujaddid pada abad kedua. Akhirnya pondasi ijtihadi dunia Islam makin kuat dengan berpegang pada sumber-sumber syariat: Al-Qur’an, Hadis, Qiyas, dan Ijmak.

Dalam sebuah karangan bebas (prosa), seperti pada kitab Al-Ulama Al-Mujadiddun akan banyak didapati retorika ilmiah seperti gaya khitobah yang sederhana namun dalam maknanya. Retorika khitobah adalah perkataan atau sejenisnya yang merupakan cara untuk memberi alasan kuat yang sifatnya mempengaruhi seseorang ataupun kelompok. Hadirnya gaya argumentasi khitobah adalah untuk mempertahankan pendapat yang merupakan bagian dari dinamika ilmiah. Retorika khitobah merupakan cara ilmiah fdalam memberikan reaksi terhadap hal-hal yang menyangkut bagaimana kita mempertahankan pendapat dalam sebuah karangan bebas atau prosa.

Akhirnya gaya literasi khitobah ta’lif mengalami kemajuan pesat hingga mendapat tempat di dunia percetakan. Gaya bahasa pengarang yang ilmiah ini mulai memenuhi penerbitan-penerbitan dengan berbagai macam tema dan topik. Sedangkan perkembangan khitobah pada masa ini makin meruncing di area media massa.

Untuk menghasilkan karya yang baik, seorang pengarang harus memperhatikan unsur-unsur yang membangun sebuah karya prosa. Unsur-unsur intrinsik dalam prosa antara lain: tema, alur, latar, penokohan, sudut pandang, amanat dan gaya bahasa.

Sudut pandang kitab Al-Ulama Al-Mujadiddun jelaslah dipengaruhi oleh Asy’ariyah Maturidiyah sebagai soko guru pembaharuan modern. Pada bagian awal kitab ini pembukaan yang menjelaskan tentang proses kedatangan para pembaharu di setiap 100 tahun atau satu abad. Dengan gamblang di situ disebutkan nama-nama pembaharu yang telah lahir. Kitab Al-Ulama Al-Mujadiddun menjelaskan juga tentang dinamika tajdid dan mujaddid yang dimulai pada masa sahabat hingga abad ke 14 H.

Kitab Al-Ulama Al-Mujadiddun karya KH Maimoen Zubair merupakan karya literasi yang sarat dengan nuansa realisme (al-madrasah al-waqi’iyyah). Aliran ini menyerukan para penulis untuk menjadikan masyarakat sebagai sumber sastranya. Aliran ini lebih banyak menceritakan keadaan yang sebenarnya dalam kehidupan masyarakat. Seperti yang dilakukan KH Maimoen Zubair dengan mengangkat fenomena mujaddid akhir zaman. Dalam karyanya, KH Maimoen Zubair memberikan ilustrasi perkembangan mujaddid di dalam masyarakat beserta problematikanya.

Corak realisme kitab Al-Ulama Al-Mujadiddun diawali dengan penjelasan dan pengertian tentang mujaddid secara kontemporer atau sesuai dengan keadaan yang terjadi di masyarakat. Unsur realisme dalam karya KH Maimoen Zubair ini terlihat pada penjelasan Beliau tentang siapa saja yang bisa disebut sebagai mujaddid itu. Pandangan Beliau tentang mujaddid merupakan usaha membebaskan perspektif agar ditemukan wacana baru. Dengan tujuan pembaca diharapkan dapat dan mampu mengambil sesuatu yang bernilai. Kitab Al-Ulama Al-Mujadiddun benar-benar menunjukkan ciri-ciri sebuah prosa ilmiah yang modern.

Anda bisa melihat bagaimana uraian-urain pada bab yang menjelaskan berbagai persoalan kehidupan dengan solusinya ditulis dengan pemikirannya runtun dan sistematis. Penulis tidak keluar dari satu gagasan ke gagasan yang lain, kecuali gagasan yang satu telah selesai. Pun pendahuluan pada kitab Al- Ulama Al-Mujadiddun tidak terlalu panjang, temanya cenderung pada tema yang sedang terjadi pada masyarakat.

Nilai keilmiahannya juga di dapat pada penjelasan Beliau di bidang pembaharuan yang selalu dimotori oleh para ulama tersebut. Masalah-masalah keseharian yang terus berkembang dengan adanya kemajuan jaman, juga dibedah dengan pisau-pisau tajam epistemis. Permasalahan kontemporer tersebut diantaranya tentang hukum perbudakan, hukum berzakat nominal intrinsik tunai sebagai pengganti menggantikan emas dan perak, nisab kurensi intrinsik uang kertas dalam sebuah zakat, hukum pajak, hukum mengikuti mazhab ulama dan lain sebagainya.

Sebagaimana bentuk penulisan karangan bebas, pada setiap akhir tulisan selalu ditutup dengan khatimah yang berisi kesimpulan pembahasan. Disinilah kekuatan prosa (karangan bebas) yang berjenis tulisan ilmiah. Semoga apa yang telah ditulis oleh KH Maimoen Zubair dalam kitab Al Ulama Al Mujadiddun bermanfaat bagi perkembangan literasi kitab-kitab berbahasa Arab yang ada di Indonesia dan juga dunia. Semoga pula menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah bagi kita semua.

Penulis adalah anggota kelompok pecinta alam Wilderness Lali Jiwo Pasuruan

Ngaji Urip kepada

Ngaji Urip kepada Kiai As’ad
Oleh: Fithrotun Nisa

Lingkungan saya sekarang menjadi salah satu tempat yang mempunyai pengaruh cukup besar terhadap perkembangan pendidikan, ekonomi, sosial maupun budaya. Hal ini tak lepas dari perjuangan sosok kyai kharismatik yang disegani oleh masyarakat sekitar.

Beliau adalah KH. Muntaha al-Hafidh atau akrab dipanggil Mbah Mun. Mbah Mun terkenal dengan kedalaman ilmunya dalam memahami al-Qur’an, baik hafalan maupun mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pondok Pesantren Tahfidhul Qur’an al-Asy’ariyah adalah salah satu bentuk perjuangan Mbah Mun dalam memperjuangkan ajaran islam, di daerah Kalibeber Mojotengah Wonosobo.

Kebesaran nama Mbah Mun membuat orang-orang dari berbagai penjuru daerah berbondong-bondong me-mondok-kan putra-putrinya di Pesantren Tahfidhul Qur’an al-Asy’ariyah. Dimana para santri akan diajarkan ilmu al-Quran sebagai dasar pembelajaran.

Sudah ribuan santri yang menjadi mutakharijin. Bahkan beberapa santri juga sudah mendirikan lembaga pendidikan sendiri. Keberhasilan tersebut tidak lain merupakan buah ta’dhim terhadap Kyai dan taat pada peraturan pondok.

Mbah Mun mempunyai salah seorang abdi ndalem yang sangat ta’dhim dan selalu sendiko dawuh terhadap apa yang diperintahkan oleh beliau. Sehari-hari abdi ndalem tersebut sibuk melayani keperluan Mbah Mun dan terutama ketika ada tamu. Mulai dari memasak, mencuci, menyapu dan nderekke ke manapun Mbah Mun pergi. Bapak As’ad, orang-orang memanggilnya.

Beliau adalah pribadi yang tekun, ulet dan rajin. Bahkan disela aktivitasnya yang sibuk, belia masih menyempatkan nderes hafalan yang sudah dihafal maupun yang akan dihafalkan. Masyaallah. Di malam hari dalam keadaan yang sangat dingin pun, tak menyurutkan semangat untuk tetap menjaga kalam-Nya. Sampai-sampai tidak segan memakai helm dengan balutan kain tebal utk melindungi tubuh.

Bapak As’ad salah seorang abdi ndalem sekaligus santri kesayangan Mbah Mun. Bahkan dalam hal tahfidh, sampai sekarang diserahkan oleh Bapak. Dzurriyah pun juga memberi wewenang atas itu. Padahal Bapak sama sekali tidak ada darah keturunan dari keluarga Mbah Mun, hanya sebatas abdi ndalem dan santri. Akan tetapi itulah rahasia barokah yang sangat dielu-elukan oleh semua santri. Bapak As’ad adalah contoh nyata dari barokah itu.

Setelah Mbah Mun wafat, bapak As’ad mendapat wasiat untuk membangun rumah di daerah Ngebrak RT 10 RW 01 bersama istri, Simak Badi’ah. Beliau juga salah seorang abdi ndalem Mbah Mun. Saya sempat heran ketika pertama kali masuk pondok karena di sini memanggil Pak Kyai dan Ibu Nyai dengan panggilan Bapak dan Simak. Salah satu alasannya adalah karena ketawadlu’an beliau berdua, juga ingin lebih dekat saperti halnya orang tua kandung sendiri.

Dulu, hanya sepetak rumah berdiri dengan dua kamar yang bersebelahan dan sebagian lain ruang tamu. Di sebelah kanan ada dapur, kalau orang jawa menyebutnya ‘pawon’. Santri putra putri masih sedikit. Segala kegiatan selalu bebarengan, layaknya keluarga sendiri. Saling bantu membantu. Semangat, kesabaran, ketawadlu’an, ketaatan sangatlah melekat dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam hal menghafal.

Dengan aktivitas demikian, tak heran, santri-santri jaman dahulu sukses, barokah dan manfaat ilmu-ilmunya, karena tirakat yang dijalankan tidak tanggung-tanggung. Berbeda dengan sekarang, walaupun juga sukses-sukses, akan tetapi kelezatan menimba ilmu itu lebih dirasa enaknya oleh santri-santri jaman dahulu.

Plus minusnya, kalau dahulu mungkin kurang tahu akan teknologi. Sekarang, internet pun sudah masuk di berbagai pesanteren di pelosok daerah. Akan tetapi yang terpenting adalah banyak nilai plus ketika mondok, karena mondok itu membuat candu.

Dulu, pondok ini bernama Ma’haduna. Setelah beberapa tahun kemudian diganti menjadi Pondok Pesantren Tahfidhul Qur’an Baitul ‘Abidin Darussalam. Keterikatan beliau dan pondok ini terhadap pesantren al-Asy’ariyah sangatlah dekat. Beda jalan satu tujuan.

Dalam hal haflah terutama, masih dilaksanakan bersama-sama. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak santri, pun pembangunan gedung pesantren juga lebih dipercepat. Jadwal ngaji pun juga semakin padat. Tatap muka (musyafahah) dengan Bapak pun tidak sesering ketika santri masih sedikit. Oleh karena itu, ada beberapa mbak-mbak dan kang-kang santri yang dianggap mampu membantu “ngopeni” atau menjaga hafalan para santri dengan menyimak hafalan mereka tiap pagi dan sore.

Di samping itu juga ada simakan partner. Dari kegiatan ini diharapkan dengan sangat agar santri kedepannya terbiasa dengan sendirinya selalu istiqomah nderes. Bapak selalu menasehati agar istiqomah dalam membaca al-Qur’an. Apalagi seyogyanya bagi para huffadh agar selalu menjaganya sampai akhir hayat.

Agak berbeda memang pesantren BAD (santri-santri menyebutnya) dengan pesantren tahfidh lainnya baik di sekitar Kalibeber sendiri maupun luar kota. BAD tidak hanya bagi santri khusus menghafal saja, ada anak sekolah dan kuliah. Universitas terdekat yaitu Universitas Sains al-Qur’an. UNSIQ didirikan oleh Mbah Mun. Beliau rektor pertama.

Salah satu keunggulan mondok di Kalibeber ini adalah dekat dengan lembaga-lembaga yang sangat menunjang proses belajar kita. Terutama UNSIQ. Apalagi di BAD ini banyak sekali yang kuliah. Selain mendapat ilmu agama, santri juga mendapat ilmu umum. Akan tetapi untuk santri BAD tidak diperbolehkan mengikuti ekstrakulikuler apapun di sekolah maupun kuliah kecuali yang menunjang ngaji kita. Bergelut dengan teknologi pun wajib setiap hari karena untuk memenuhi tugas-tugas.

Awal berdiri memang diperbolehkan membawa elektronik terutama HP dan laptop dan bisa digunakan tiap waktu. Semakin bertambah tahun dan santri-santri kurang fokus dalam ngaji, akhirnya dibatasi dari jam wajib ngaji pagi selesai sekitar jam 07.00-18.00 maghrib. Mulai maghrib sampai pagi untuk fokus pada kegiatan pondok. Memang sangatlah sulit membagi waktu antara ngaji dan tugas-tugas lain apalagi bagi yang sekolah dan kuliah. Semuanya kembali kepada masing-masing pribadi untuk bisa mengatur semua itu.

Terlepas dari usaha kita masing-masing, selalu bersandarlah kepada Allah SWT Yang Maha Mengabulkan segala yang kita pinta. Juga tak lepas dari doa dan ridlo dari orang tua, baik orang tua secara biologis maupun bukan, yaitu Pak Kyai dan Bu Nyai. Kita bisa mendapatkan ridlo mereka semua dengan selalu mentaati segala apa yang diperintahkan beliau sekalian. Sering kali bapak As’ad dan Simak Badi’ memeberikan pelajaran-pelajaran penting dalam kehidupan sehari-hari.

Tanpa kita sadari langsung. Pelajaran tersebut lebih bermanfaat dari apa yang kita pelajari di bangku sekolah maupun kuliah, tidak dipungkiri juga di keduanya. “ngaji urip”, mungkin lebih ke kehidupan sosial terutama dalam berinteraksi dengan sekitar. Mempelajari bagaimana menyikapi sikap orang lain terhadap kita terutama ketika tidak berbuat baik terhadap kita. Malah sebaliknya, mungkin kita harus introspeksi diri, bisa saja kita dulu yang tidak berbuat baik.

Gusti Allah dalam al-Qur’an menjelaskan bahwasannya dalam penciptaan langit dan bumi itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Dalam keadaan apapun seyogyanya selalu ingat terhadap apa yang diciptakan oleh-Nya, dalam arti mengambil suatu pelajaran baik itu bermanfaat maupun tidak. (QS. Ali Imron: 190-191).

Bapak As’ad, selalu mencontohkan di setiap saat baik sibuk maupun tidak, cobalah selalu “nderes”. Ketika akan mengimami shalat subuh dengan mengendarai motor, lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an mulai terdengar. Yang “ndereaken” beliau menyimak di belakang beliau. Juga ketika bepergian jauh, ada cerita dari santri ketika akan mengakadkan di kendal, beliau bisa nderes sampai 10 juz lebih. Mungkin kalau kita lebih baik buat tidur. Menurut penulis, pengajaran yang dilakukan oleh Bapak As’ad itu mengacu pada ayat tersebut.

Segala yang ada di dunia ini terdapat tanda-tanda yang menjadikan kita ummatan wasathan. Berperan dalam segala aspek kehidupan baik pendidikan, sosial, budaya, ekonomi dan lain sebagainya. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh bapak ketua umum PBNU KH. Said Aqil Siraj dalam harlah Muslimat NU di GBK. Berdakwah tidak hanya dalam pendidikan formal maupun non formal, akan tetapi dalam kehidupan bermasyarakat adalah wadah kita untuk berkontribusi menyalurkan pengetahuan dan pengalaman. Semua itu bisa dimulai dari pesantren.

Keseharian bapak as’ad sendiri juga semuanya adalah pelajaran hidup. Terutama dalam mengajar al-Quran. Bayangkan, mulai fajar beliau berangkat di ponpes al-Asy’ariyah untuk mengimami shalat subuh dan diteruskan menerima setoran al-Qur’an dari santri al-Asy’ariyah. Setelah itu kembali ke BAD dan menyimak lagi setoran ngaji santri putra dan putri BAD sampai sekitar jam 07.00.

Pada jam 10.00-11.00 menyimak darusan dari santri putri. Adzan dhuhur berkumandang berangkat mengimami. Shalat asar pun juga diimami beliau. Usai shalat sekitar jam 16.00 sampai mejelang maghrib menyimak setoran santri putra. Ada juga yang dari luar BAD. Maghrib tiba, beliau sendiri mengimami shalat.

Dilanjutkan ngaji binnadhor putra putri. Isya’ shalat jama’ah dengan beliau. Setelah isya’ sambil menunggu jam wajib setoran santri putri, beliau tadarus disimak oleh santri-santri putri yang udzur. Sekitar 3-4 juz beliau lantunkan. Berangkat menyimak santri dari jam 22.00-23.00.

Semua itu, beliau lakukan setiap hari tanpa mengeluh sedikit pun. Waktu Ramadlan untuk pagi dan sore beliau ada tadarus dengan disimak warga sekitar. Tarawih pun mengimami di a-Asy’ariyah dengan satu kali khataman, setiap hari 1 juz seperempat. Untuk santri BAD ada jadwal sendiri tiap kamar satu khataman dengan bergantian imam. Beliau berpesan untuk melatih menjaga hafalannya dengan menjadi imam. itu semua adalah ketauladanan beliau yang secara kasat mata terlihat.

Para santri juga diajarkan tentang gotong royong bekerja sama dalam banyak hal. Contohnya, ketika akan membangun gedung pesantren baru, semua santri ikut berpartisipasi baik putra maupun putri dan tak ketinggalan Bapak juga ikut. Beliau mengatakan bahwasannya hidup itu harus didasari dengan kerja keras. Supaya para santri itu tahu bahwa perjuangan orang tua untuk anaknya itu sangat luar biasa.

Akhlak terhadap tetangga pun dicontohkan. Saling menyapa ketika bertemu di jalan. Tidak mengganggu kenyamanan tetangga dalam hal apapun. Belum seberapa kita menjalani kehidupan di pondok dengan latarbelakang orang-orang yang berbeda. Esok setelah selesai belajar di pondok akan lebih tidak diduga lagi kehidupan ini.

Oleh karena itu, dinikmati waktu yang singkat di pondok untuk bekal bermasyarakat sampai akhir hayat. Pondok BAD ini juga unik, biasanya setiap berdirinya pondok pasti terpampang papan atau gapuro nama pondok tersebut. Berbeda dengan yang lainnya, atas keinginan pengasuh juga, tidak ada ”plang” atau papan atau gapuro dengan nama pondok.

Dan lagi-lagi semua itu barokahnya beliau mengalir ke penjuru manapun. Tetap dengan ketawadlu’annya, orang-orang mengenal beliau dengan kepercayaan yang mendalam. Mulai dari orang awam sampai sekelas pejabat mendatangi beliau karena kealimannya.

Pengasuh juga menerapkan program piket masak. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini menunjang santri kedepannya agar terbiasa dengan masalah perdapuran. Apalagi bagi santri putri yang wajarnya memang berkecimpung di dapur. Terutama ketika sudah berkeluarga. Tidak menutup kemungkinan ketika liburan tiba, seyogyanya para santri baik putra maupun putri membantu orang tua di rumah. Seperti memasak, menyapu, mencuci, berkebun atau yang lainnya.

Sekali lagi, pendidikan dan dakwah tidak hanya dilakukan dalam pendidikan formal. Hal sekecil menyapa orang di jalan pun adalah suatu bentuk pendidikan karakter. Pesantren sebagai lembaga dakwah yang menurut penulis sangat efektif. Berbisnis juga dipelajari oleh beberapa santri yang diberikan amanah untuk mengelola koperasi pesantren. Ada juga yang membantu mengurus ikan-ikan yang dipelihara oleh Pak Kyai.

Di luar itu, beberapa santri dengan modal HP dan tentunya ada kuota, bisa berbisnis online. Hitung-hitung untuk menambah uang saku. Akan tetapi itu di luar pribadi masing-masing. Lebih baiknya fokus terlebih dahulu pada tujuan utama yaitu menghafal al-Qur’an, apalagi bagi yang sedang proses dan baru menghafal. Karena ketika sudah khatam lebih sulit lagi membagi waktu. Pada dasarnya semua kegiatan pesantren bertujuan untuk melatih kita agar terbiasa dengan kegiatan ketika masih di pondok dan setelahnya (boyong).

Kegiatan lain yang menunjang contohnya JHQ (Jam’iyyatul Huffadh wal Qurra’) yang diadakan setiap satu bulan sekali. Baik se-kecamatan maupun kabupaten. Diikuti oleh seluruh masyarakat wonosobo terutama hafidh dan hafidhoh. Pastinya santri-santri juga mengikuti. Secara langsung kita terjun ke masyarakat, berbaur dengan mereka, saling mengenal dan akhirnya menjalin ukuhuwwah islamiyyah.

Berdakwah dengan membaca al-Qur’an secara bersama-sama. Apalagi di setiap khatamannya terdapat keberkahan yang tak terkira. Selain itu, bagi para santri yang sudah khatam, ada program 40 khataman setiap hari satu khataman secara terus menerus. Juga rutin setiap hari Jum’at dan Sabtu Kliwon program simakan diagendakan. Lagi-lagi untuk membiasakan kita untuk mudawamah tadarus. Masyarakat sekitar pun sering mengundang para santri untuk tadarus dalam berbagai macam hajat.

Setiap pesantren mempunyai strategi yang berbeda dalam menyampaikan dakwah dan mendidik para santri. Karena dengan berubahnya zaman, berubah juga pola pikir dan hidup seseorang.

Pesantren zaman dahulu sangatlah akrab dengan keklasikannya (salaf). Pengajarannya pun masih berkutat pada kitab-kitab kuning dan sejenisnya. Sedangkan sekarang ini, sudah ada campur tangan teknologi, akhirnya belajar pun bisa dari internet. Kitab-kitab pun sudah banyak yang berbentuk digital.

Beberapa pesantren menggabungkan metode klasik dan modern. Pesantren BAD salah satu contohnya. Sekarang ini setiap pesantren mempunyai akun baik di facebook, instagram dan lain sebagainya. Akun tersebut berisi konten-konten yang positif baik dari segi kegiatan pondok ataupun informasi dari luar pondok.

Cara ini juga salah satu strategi dakwah santri untuk menunjukkan profil pesantren yang tidak menakutkan akan tetapi menyenangkan. Serius tetapi santai. Kita juga harus bertanggungjawab agar tidak terlena dengan kecanggihan teknologi karena tujuan awal adalah mengaji.

Bapak As’ad sering memberikan petuah-petuah kepada santri di setiap momen. Berikut adalah salah satu untaian kata yang sangat menampar hati kita untuk terus berusaha agar berhati-hati dan tidak sembrono terhadap kalam Gusti Allah.

”Ora ono artine apal al-Qur’an nek ora diamalke, ndang pada ngati-ati, ndak dilaknati, ora keno gawe gagah-gagahan, wajib mudawamah nderes”,

Tidak ada artinya hafal al-Qur’an jika tidak diamalkan. Berhati-hatilah akan laknatnya (al-Qur’an). Tidak boleh untuk menyombongkan diri, harus konsisten tadarus al-Qur’an”. (KH. As’ad al-Hafidh)

Penulis adalah santri PPTQ Baitul ‘Abidin Darussalam, berasal dari Kendal.

Bopes; Subkultur Bon

Dapat dibayangkan, sepakbola tanpa kehadiran penonton di tepi lapangan, akan terasa hambar. Kehadiran mereka dengan segala bentuk dukungan dapat menyuntikkan tambahan semangat bagi para pemain yang berlaga.

Suporter sendiri berawal hanya dari kerumunan yang datang untuk menyaksikan dan memberikan dukungan kepada tim andalan dan kesayangannya. Kemudian secara perlahan muncul kesadaran untuk berkumpul atau berserikat dalam sebuah wadah yang solid.

Suporter dan sepak bola hadir bukan hanya sebagai ajang ketangkasan dan hiburan semata. Suporter dan sepakbola kini menjadi sebuah komoditi yang mampu memobilisasi banyak orang, sehingga membentuk identitas baru dalam kehidupan masyarakat. Termasuk sepakbola dan suporter di dalamnya.  

Membahas hubungan club bola dan suporter di Indonesia, tentu kita langsung ingat nama-nama besar suporter club nasional. Sebut saja, Jack Mania (Persija Jakarta), Viking (Persib Bandung), Bonek (Persebaya Surabaya) dan lainnya.

Dari nama-nama suporter tersebut, mungkin ada salah satu nama yang paling dibenci masyarakat. Iya, mereka adalah Bonek (bondo nekat), mereka dikenal sebagai kelompok suporter yang suka rusuh, bahkan dibeberapa pemberitaan mereka kerab melakukan penjarahan.

Tetapi sesungguhnya Bonek adalah suporter yang mewarisi semangat jihad ala NU di 10 November 1945, berhjuang sampai titik darah penghabisan dengan kelengkapan seadanya. Namun yang umum diketahui masyarakat justru hanya sifat kerasnya. Hingga membuat citra bonek negatif.

Hal itu wajar mengingat dinamika suporter nasional. Tapi rupanya citra negatif itu membuat bonek sendiri merasa gerah, hingga beberapa supporter bonek membuat sebuah grup yang diberi nama Bopes atau (Bonek pesantren). Bopes merupakan gabungan dari penggemar Bonek yang berlatarbelakang santri pondok pesantren.

Bopes juga berkembang sebagaimana Bonek melalui kultur atau budaya. Kelompok ini tidak saja terbentuk secara organik yang disatukan oleh interaksi simbolik, seperti klub, logo, dan ragam nyanyian (chants) dukungan. Namun Bopes lebih dari hal itu.

<<Baca Selengkapnya>>

RMI NU Berduka Atas

Jakarta. – Keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) kembali berduka. Setelah sebelumnya pada hari Selasa (6/8), Mustasyar PBNU, KH. Maimoen Zubair meninggal dunia di Makkah, Arab Saudi. Pagi tadi telah berpulang ke rahmatullah salah seorang Ketua PBNU, H. Muhammad Sulton Fathoni di Rumah Sakit Permata, Depok, Jawa Barat pada Kamis (8/8) dini hari pukul 00.30 WIB.

Kabar meninggalnya KH. Maimoen Zubair dan H. Muhammad Sulton Fathoni, membawa duka mendalam bagi NU. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Ketua Pengurus Pusat Rabhitah Ma’ahid Islamiyah Nadlatul Ulama (PP RMINU), H. Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin).

“Kabar ini mengejutkan, baru dua hari yang lalu kita kehilangan guru sekaligus ulama panutan, Mbah Kiai Maimoen Zubair, hari ini kehilangan Kiai Sulton, semoga kita semua khususnya keluarga diberikan kekuatan dan ketabahan” ungkap Gus Rozin, usai sholat jenazah, di kantor PBNU Jakarta.

Selain berbelasungkawa, Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan dalam Negeri tersebut juga meminta doa untuk almarhum. “Mohon doa dan Sholat Ghoib serta Fatihahnya untuk almarhum. Semoga khusnul khotimah,” tambahnya.

“Kami atasnama keluarga besar Pesantren NU, PP RMI ikut berduka cita atas meninggalnya Romo Kiai Maimoen Zubair dan Kiai Sulton Fathoni, semoga beliau berdua khusnul khotimah dan diterima segenap amal ibadahnya. Aamiin,” tutup Gus Rozin

Rencanya jenazah akan diterbangkan siang ini pukul 14.00 WIB menuju Lumajang. Jenazah akan disemayamkan di makam keluarga, Komplek Madrasah al-Munawwarah Jl. Citarum No. 38 Suko Jogoyudan Lumajang. [Dafit/BB]

Islam Nusantara; Mod

Islam Nusantara; Moderat dan Bersahabat
Essay: Wijayanto Bagus Putrawan

Histori dan metode dakwah Islam di Indonesia

Keberadaan Islam Nusantara sebenarnya sudah ada sebelum istilah ini muncul. Yaitu pada abad ke 8 beberapa setelah kedatangan Laksamana Cheng Ho, rombongan Sunan Ampel datang dari daerah Champa (Vietnam). Setelah beberapa dekade sejak hari kedatangan Sunan Ampel, terutama saat kedua anaknya tumbuh dewasa (Sunan Bonang dan Sunan Derajat) dan beberapa muridnya juga sudah tumbuh dewasa (seperti Sunan Giri), maka dibentuklah suatu dewan yang disebut “Walisongo’’. Misi utamanya adalah mensyiarkan agama islam kepada penduduk bumi terutama daerah Nusantara, khususnya Jawa.

Para sejarawan dunia hingga kini masih bingung, mengapa dengan waktu sekitar 50 tahun Walisongo berhasil mengislamkan begitu banyak penduduk Nusantara. Padahal pada waktu itu transportasi belum mengenal mobil, motor, pesawat atau lainnya. Dari segi ruang maupun waktu, derajat kesukarannya sungguh luar biasa. Sehingga para sejarawan pun angkat tangan saat disuruh menerangkan bagaimana Walisongo melakukan mission impossible ini. Membalikan keadaan dalam waktu  kurang dari 50 tahun. Padahal sudah terbukti 800 tahun lebih bangsa Nusantara selalu menolak agama islam.

Para sejarawan akhirnya sepakat bahkan kesuksesan Walisongo dalam proses dakwahnya adalah menggunakan pendekatan kebudayaan. Meski sebenarnya, budaya itu Cuma “bungkus’’, yang benar-benar bikin beda adalah “isi’’ dakwah Walisongo. Para Wali tersebut menyebarkan agama meniru persis “bungkus’’ dan “isi’’ dari dakwah Rasulullah Muhammad kala itu. Pasalnya kondisinya hampir serupa. Dahulu Nabi Muhammad adalah satu-satunya orang yang berada dijalan yang benar. Bahkan istri dan keluarga beliau kala itu beum mengenal islam. Namun berkat Ruh dakwah penuh kasih sayangnya, akhirnya islam menjadi agama yang besar. Agama yang menguasai seluruh sektor pendidikan, ekonomi, dan pemerintah dunia.

Meski dulu saat berdakwah Rasulullah selalu mendapat hinaan, perlakuan yang kasar, bahkan dari keluaarga sendiri, tapi Rasulullh selalu sabar dan selalu tersenyum. Begitupun Walisongo yang meniru akhlaqul karimah sang Rasul. Dalam dakwahnya, mereka tidak pernah melakukan tindak kasar bahkan mengkafir-kafirkan orang. Seperti halnya ketika ada salah satu penduduk yang bertanya soal menaruh sesajen dalam sudut rumahnya. Sang Sunan tidak langsung berkata tidak dan menyalahkanya. Malah berkata “boleh,malah sebaiknya sejumah 20 piring, tapi dimakan bersama para tetangga terdekat ya”.

Begitu pula saat ada seseorang muridnya yang bertanya akan ketauhidan Allah. “Tuhan kok Cuma satu? Apa nanti tidak kerepotan dan ada yang terlewat dan tidak terurus?”,  Sunan yang ditanyai hanya tersenyum mendengarnya, dan mengajak muridnya nonton wayang. Setelah melihat pagelaran wayang, Sunan bertanya kepada muridnya “oh iya, bagaimana menurutmu kalau dalangnya dua atau empat orang?”, muridnya pun menjawab “justru lakon wayangnya bisa bubar. Dalang satu ambil wayang ini, dalang yang lain ambil wayang yang lain, bisa-bisa tabrakan”. Sang Sunan pun kembali tersenyum. Dan seketika itu muridnya beristigfar dan mengaku sudsh salah faham mengenai konsep kewahdaniyyatan pangerannya ( Tuhannya).

Fiqh & Manhaj (Metodologi) Islam Nusantara

Islam Nusantara seringjuga disebut dengan nama Din Arab Jawi. Yang berarti islam dari Arab dengan karakter jawi. Yang dimaksud dengan karakter jawi adalah teritori Nusantara. Namun permasalahannya, apakah syariat yang kita jalani sudah sejalan dengan fiqh?

 Melihat konsep “fiqh sosial” KH. Sahal Mahfudh, fiqh harus mampu menampilkan dinamisme dan fleksibilitasnya berhadapan dengan perubahan sosial. Bagi kiai Sahal, Fiqh selalu merupakan hasil ijtihad yang tidak bersifat kaku dan sakral, melainkan lentur dan kontekstual. Putusan fiqh yang pada satu tempat dan zaman dianggap valid, bisa saja tidak lagi relevan di era lain atau ditempat lain. Untuk menggambarkan kelenturan fqh ini, kiai Sahal mengutip seloroh KH. Wahab Chasbullah : pekih kuwi yen rupek yo diokoh-okoh ( fiqh itu kalau terasa menyempitkan ya dibuat longgar).

Sebenarnya fiqh Nusantara sudah sangat dinamis dalam mendalami hukum syariat, sebab tidak semua isi ajaran dalam kitab-kitab mu’tabarah salaf yang membahas fiqh, dapat kita aplikasikan di tanah air. Disana zakat onta, sedangkan praktek kita adalah zakat beras.

Kita mengambil pelajaran dari dialog cerdas KH. Muhammad Shalih Ats-tsani Buungah Gresiki dan Syaikhuna Kholil Bangkalan. Selama keduanya nyantri di pesantren kedung, Madura, di abad 19, diceritakan sering terjadi diskusi diantara mereka, walau dengan nada guyon. Syaikhuna Kholil pernah menyindir teman seperguruanya itu demikian : “Buat apa sampean belajar serius kitab-kitab fiqh, toh di Nusantara tidak akan pernah ada yang membayar zakat onta!”. Kyai Nawawi pun membalas : “Buat apa sampean belajar ilmu nahwu dan sharaf bertahun-tahun, kelak kitab-kitab kuning akan banyak diterjemahkan ke dalam bahasa kita!”.

Sederhananya, dalam logika mereka :  boleh belajar fiqh atau ilmu alat, tapi jangan sampai lupa ide-ide Nusantara yang muncul dari negeri kita yang mewarnai kedua ilmu itu. Zakat beras atau praktik penerjemahan adalah salah satu ide-ide Nusantara. Kita tidak hanya harus menerjemahkan bahsa Arab ke bahasa-bahasa Nusantara, namun kita juga harus bisa menerjemahkan bahasa-bahasa kita atau ide-ide kita kedalam bahasa Arab. Seperti halnya praktik imsak saat bulan Ramadhan, halal bihalal dibula Syawal, dan ta’liq thalaq saat aqad nikah dilaksanakan. Kesemuanya itu berbahasa Arab, tapi tidak dikenal dalam lingkungan orang-orang Arab sendiri.

Karena fiqh kita tidak secara tekstual mengacu pada kitab-kitab fiqh, melainkan Ulama’ Nusantara menggunakan Maqasid (tujuan) syari’ah dalam ijtihad mereka. Yaitu hifdhud din (menjaga agama), hifdhun nafs (menjaga nyawa), hifdhul aql (menjaga akal), hifdhul mal (menjaga harta), dan hifdhun nasl (menjaga keturunan). Jadi, selama syariat kita tidak melenceng dari maqasid ini, kita brada pada zona aman beragama.

Fleksibelitas Islam Nusantara 

Kontroversi pembacaan ayat Al Qur’an langgam jawa saat peringatan Isra’ Mi’raj di istana merdeka sangat menarik untuk dibincangkan. Oleh sebagiam pihak menuduh Menteri Agama RI melakukan liberalisasi terhadap kitab suci. Sedangkan pihak lain justru mengapresiasi dan mengatakan bahwa ini adalah salah satu bentuk ekspresi budaya, tanpa mengotori kesucian kitab tersebut.

Dalam acara-acara keagamaan, lazimnya Bacaan Al Qur’an menggunakan langgam (yang bisa disebut lagu) sesuai dengan tartil dan qira’at. Gaya tartil memang lebih sederhana karena tidak perlu menggunakan lagu atau cengkok yang lebih rumit. Adapun gaya baca qira’at yang sering dibawakan seperti husaini, bayati, syika, nahwan dan lainnya, dianggap lebih sulit karena harus mengikuti kaidah yang ada. Model qira’at inilah yang dianggap oleh sebagian orang sebagai bacaan khas arab, dimana Al Qur’an diturunkan.

Namun sebenarnya, gaya baca yang telah tersebutkan tadi datang dari Iran. Yang menurut Ahmad Sarwat (2015) pada masa kenabian, Iran bukanlah bagian dari jazirah Arab, karena berbangsa dan berbahasa persi. Jadi itulah kesalahan pemahaman sejarah kita. Bahkan diseluruh dunia pun terkadang membaca Al Qur’an juga menggunakan langgam mereka masing-masing. Seperti Mesir, Turki, Yaman, dan lainnya. Karena langgam adalah seni. Dan setiap orang bebas mengekspresikan seni mereka.

Seperti inilah fleksibilitas Al Qur’an diturunkan. Jika kita melihat orang-orang didaerah Wonosobo dan Purworejo, mereka ketika melafalkan ‘ain menjadi ngain. Bagi orang yang paham bbudaya mereka akan memaklumi itu. Karena logat dan dialek orang dimana tempat pasti berbeda. Maka kasus seperti ini tidak pantas untuk disalahkan. Bahkan lahirnya Qira’ah Sab’ah (tujuh gaya baca Al Qur’an) dikarenakan faktor dialek masyarakat Timur Tengah yang berbeda-beda dalam dialek dan detail bacaan mereka.

Kesimpulannya,islam telah mendarah daging dengan kebudayaan di Indonesia. Tanpa adanya maneuver dakwah dengan menggunakan metode “Akulturasi”, yaitu memasukan norma-norma islam kedalam kultur lokal dari para wali terdahulu, islam tidak akan membius masyarakat pribumi yang berjiwa seni, cinta kebudayaan dan suka “nguri-nguri” tradisi. Seperti halnya disyaratkan membaca dua kalimat syahadat jika mau gong pertunjukan wayang dibunyikan oleh sunan Kalijaga, para wali terdahuu memang sudah benar-benar matang untuk mensyiarkan agama Allah yang dikatakan dalam hadist bawha “innaddiina yusrun”. Agama itu mudah, Agama itu bukanlah hal yang bersifat statis, namun dinamis.

Islam datang di Indonesia tanpa meninggalkan sejarah, mau berdialog dengan tradisi, dan juga tetap melestarikan budaya yang ada. Meski terkadang berasal dari tradisi hindu-budha, akulturasi yang ada tidak lantas patut dikatan “ man tasyabbaha biqoumin fahua minhum” (barang siapa menyerupai seuah kaum, maka dia adalah bagian dari kaum itu). Karena tradisi islam jawa yang ada saat ini sudah di’suap’ para wali terdahuu menggunakan ijtihad yang paling pas dan sesuai dengan ajaran islam.

Tolak Radikalisme

Maraknya faham agama yang salah menjadikan sebagian kelompok garis keras salah faham akan mendalami ijtihad. Virus ini berawal dari keinginan sebagian oknum yang mensucikan islam tapi tidak dengan cara yang suci. Membanggakan islam tapi dengan cara yang hina. Dan mengharumkan  islam tapi dengan cara yang busuk.

Radikalisme dikatakan menyalahi hukum negara maupun agama karena melakukan hal-hal yang melenceng dari norma kemanusiaan maupun norma agama. Mereka berlaku brutal, mereka mengkafirkan orang islam, mereka ingin merubah tatanan sistem pemerintah pancasila menjadi “khilafah”. Dan kesemuanya iniah yang kerap menimbulkan aksi kekerasan hingga peperangan ditengah masyarakat. Primordialisme mereka kedepankan, tali persaudaraan mereka putuskan.

Mereka yang terjerumus dalam kelompok semacam itupun bukan tanpa sebab. Mereka kerap diiming-imingi masuk surga, mereka dilimpahi harta, bahkan mereka difasilitasi Negara adikuasa untuk memerankan peran rahwananya. Bahkan jazirah arab sebagai tempat dimana wahyu diturunkan kini menjadi korban peperanan dan islam radikal.

Nama besar islam pun tercemar dikancah internasional. Distorsi menyimpang tentang islam tibul dmana-mana. Dunia harus menghapuskan radikalisme. Yang patut dibenci dan dimusuhi adalah pelaku agama bukan agamanya.

Penulissi siswa SMA N 2 Demak.

Peran Didaktis Kurik

Peran Diidaktis Kurikulum Ziarah Kubur ala Pesantren terhadap Sishanrata
Oleh: Yudho Sasongko

Tradisi menghormati kyai, Wali Songo, berziarah kubur, tahlilan, dan Maulid Nabi merupakan kurikulum abadi pesantren-pesantren di Nusantara. Salah satu yang menarik untuk dicermati adalah kurikulum ziarah kubur yang mempunyai fungsi didaktis terhadap Sistem Pertahanan Rakyat Semesta (Sishanrata).

Selain sebagai salah satu bentuk dakwah, ziarah kubur yang dilestarikan oleh pesantren mempunyai nilai didaktis. Fungsi didaktis adalah suatu fungsi yang bersifat mendidik. Lewat pembelajaran dalam sebuah kurikulum yang terintegrasi, pesantren terus-menerus melestarikan nilai didaktis ziarah kubur ini.

Fenomena pembelajaran ziarah kubur yang terus dikembangkan oleh pesantren tersebut terkandung nilai spirtualitas, akhlak dan budi pekerti yang unggul. Kurikulum ziarah kubur ala pesantren adalah salah satu usaha untuk meneladani tokoh karismatik yang telah meninggal. Ziarah kubur juga sebagai media pengingat kematian, media bersyukur, pembelajaran ketertiban, kepatuhan dan cinta Tanah Air.

Bagaimana hubungan kurikulum ziarah kubur dengan Sishanrata (Sistem Pertahanan Rakyat Semesta)? Dengan melihat data tentang daftar nama dan alamat makam wali dan auliya di Indonesia, maka di situ terbaca adanya potensi besar tentang ketersediaan sumber daya dan ketangguhan batin para peziarah beserta komponennya. Jumlah makam tersebut sangat banyak dan tersebar merata di Indonesia. Potensi yang besar itu berguna sekali bagi pertahanan semesta dalam kaitannya dengan usaha dan upaya menjaga keutuhan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Kenapa bisa begitu? Begini, sejumlah besar tempat sakral tersebut sempat kami datangi dengan beberapa repetisi ziarah. Di situ kami merasakan adanya suasana kebersamaan dan keteguhan batin peziarah. Mereka dengan mudah saling berkenalan. Kontak verbal baik percakapan transaksional ataupun interpersonal sering terjadi. Mereka merasa telah memiliki apa yang diziarahi. Keterikatan batin mereka yang kuat adalah sebuah proses panjang yang dijalin secara perlahan namun pasti. Proses tersebut telah terjadi di area makam wali secara berkesinambungan serta massal di seluruh wilayah Indonesia.

Hal menarik lainnya yang patut dicermati adalah frekuensi dan kuantitas kunjungan peziarah yang cukup stabil. Makam-makam para wali tersebut tak pernah sepi. Ini layaknya sebuah acara perjumpaan dan perhimpunan akbar yang akan terus terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Sungguh luar biasa!

Potensi besar itu jika kita hubungkan dengan teori dan konsep kajian pertahanan negara akan menghasilkan sebuah hipotesis tentang kekuatan ketahanan nonmiliter yang potensial sekali di tempat-tempat sakral. Kekuatan massanya yang siap sedia untuk digunakan sewaktu-waktu jika diperlukan. Mereka memiliki ikatan batin yang kuat untuk mempertahankan setiap jengkal tanah di area sakral sebagai benteng jika terdesak oleh agresor. Kepercayaan akan karomah wali membuat mereka percaya diri melebihi militer sekalipun. Mereka akan mempertahankan sampai titik darah penghabisan.

Karakter pertahanan semesta adalah mengikutsertakan rakyat sipil menjadi salah satu bagian kekuatan pertahanan negara. Adapun fungsi pertahanan semesta jelas untuk mendukung perang semesta jika diperlukan. Kekuatan dan basis pertahanan rakyat semesta terletak pada persatuan yang diikat kuat untuk saling memiliki dan melindungi. Dan itu sudah tersedia secara massal pasokan bahan bakunya yang berupa kekuatan batin peziarah.

Indonesia adalah negara dan bangsa yang mempunyai daya tarik kuat tersendiri bagi bangsa lain untuk menguasainya. Hal ini disebabkan oleh kekayaan dan potensi sumber daya alamnya yang sangat menggiurkan. Termasuk faktor demografis penduduknya yang besar dan berpotensi tinggi. Untuk menghadapi dan mengatasi berbagai kemungkinan serangan dan gangguan bangsa lain terhadap kedaulatan NKRI, maka dikembangkanlah sebuah konsep pertahanan yang bersifat semesta. Konsep pertahanan itu dinamakan Sistem Pertahanan Rakyat Semesta (Sishanrata).

Perlu digarisbawahi bahwa perang tidak berarti atau tidak harus menggunakan kekuatan bersenjata. Namun juga berkaitan luas dengan upaya mempertahankan keutuhan aspek-aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara agar tetap berjalan lancar dan aman. Awal abad ke-20 adalah tonggak bagi model pertahanan yang bersifat semesta. Termasuk model perangnya bersifat semesta juga.

Konflik bersenjata antar dua negara atau lebih bukan saja terjadi di bidang militer. Namun juga menyangkut setiap aspek kehidupan lainnya. Klasifikasi medan perangpun makin berkembang. Dengan adanya kemajuan teknologi alat utama sistem persenjataan, maka tidak ada lagi pemisahan antara medan perang dengan daerah aman. Semua akan terjangkau serta terpapar untuk ikut serta dalam perang semesta tersebut. 

Perang semesta akan menjadikan seluruh aspek kehidupan menjadi objek perang. Bukan saja terbatas pada kekuatan militer. Namun juga nonmiliter akan merasakan hantamannya. Sedang kekuatan batin yang dimiliki para peziarah adalah rata-rata tidak mau tunduk kepada musuh. Inilah salah satu bahan bakar pertahanan rakyat semesta tersebut. Harus dapat kita manfaatkan sebaik mungkin.

Mari kita tengok suasana batin sebuah peristiwa yang dapat mewakili secara langsung potensi sistem pertahanan semesta ini. Peristiwa tersebut adalah kasus Gubah Haddad di Priok tahun 2010. Walaupun tidak secara keseluruhan dapat mewakili hipotesis ini, peristiwa penggusuran yang terjadi di area makam Habib Hasan bin Muhammad Haddad cukuplah menjadi bukti bahwa pola pengumpulan kekuatan dan pertahanan massal nonmiliter dapat dibangun dari kekuatan batin para peziarah dan pecintanya.

Kekuatan luar yang mengusik area makam akan dengan sendirinya mendapat perlawanan dari potensi kekuatan para peziarah dan pecintanya. Dengan sendirinya area komplek makam tersebut menjadi benteng yang kuat dan tangguh. US Coast Guard Unit (Unit Penjaga Pantai Amerika Serikat) pernah menilai bahwa pelabuhan Tanjung Priok Jakarta adalah pelabuhan laut internasional yang tidak steril. Salah satu penyebabnya adalah lalu lalangnya peziarah makam wali tersebut di atas. Namun sampai sekarang penilaian itu patah di tengah jalan serta tak mampu lagi menjadi bahan bakar provokasi penggusuran.

Contoh lainnya adalah bertahannya komplek makam Sunan Ampel Surabaya saat pertempuran heroik 10 November 1945. Dahsyatnya serangan musuh tak pelak lagi menimbulkan banyak sekali jatuhnya korban jiwa. Gedung-gedung di sekitarnya banyak yang hancur lebur. Namun keajaiban telah terjadi. Komplek makam Sunan Ampel yang tak jauh dari lokasi pertempuran di Jembatan Merah tersebut selamat.

Komponen pendukung lainnya adalah keberadaan masjid di setiap area makam para wali. Meski fungsi utamanya untuk beribadah, masjid bisa digunakan sebagai markas dan tempat pertemuan untuk menyusun strategi perang. Perkembangan strategi perang memungkinkan dilakukannya serangan untuk menundukkan lawan tanpa menggunakan kekerasan. Salah satunya adalah dengan mempengaruhi dan mengubah cara berpikir bangsa yang menjadi target serangan agar sesuai dengan kehendak penyerang. Jadi pertahankanlah area dan komplek pemakaman para wali. Jangan menuruti musuh!

Mempertahankan komplek makam wali peserta komponen yang ada di dalamnya sama halnya dengan membangun kekuatan pertahanan rakyat semesta. Oleh karena itu pemerintah bersama masyarakat harus terus bekerjasama untuk memakmurkan komplek makam wali di seluruh wilayah Indonesia.

Yudho Sasongko merupakan anggota kelompok Pecinta alam Wilderness Lali Jiwo Pasuruan

1 2 3 7