Kekayaan Prosa Kitab Al-Ulama Al-Mujadiddun Karya KH Maimoen Zubair

Kekayaan Prosa Kitab Al-Ulama Al-Mujadiddun Karya KH Maimoen Zubair
Oleh: Yudho Sasongko


Salah satu peran pesantren bagi kehidupan masyarakat adalah pengaruh dan berkah ketokohan kultural yang ada di pesantren itu sendiri. Sebut saja Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah yang mempunyai peran penting bagi masyarakat di sekitarnya. Ketokohan kultural pengasuhnya, KH Maimoen Zubair tak diragukan lagi kredibilitasnya. Pengaruhnya bukan bersifat regional saja, namun hingga sampai tingkat nasional dan internasional.

Ketokohan kultural KH Maimoen Zubair juga dibarengi dengan karya-karya literasi yang patut diacungkan jempol. Sebut saja karya Beliau yang berjudul Al-Ulama Al-Mujadiddun. Kitab ini dalam tinjauan kritik sastra, masuk dalam karangan bebas atau prosa (an-natsr). Kita ketahui bahwa sejak dulu kala, prosa (karangan bebas) setia mengiringi peradaban dan literasi manusia. Prosa merupakan bentuk karya sastra tulis yang mempunyai keistimewaan tersendir, hingga cepat berkembang dan menyebar di masyarakat. Prosa atau karangan bebas sejatinya sudah lama menjadi bagian dari perkembangan literatur Islam. Keistimewaan prosa adalah tidak adanya keterikatan oleh kaidah puitika serta disusun dalam bentuk cerita secara bebas serta tidak terikat oleh rima, irama, wazan, ataupun qofiah.

Secara global sastra prosa terbagi menjadi dua, yakni natsr ilm (prosa ilmiah) dan natsr fanni (prosa seni). Dalam khazanah literatur Islam, prosa tidak saja merupakan bagian dari seni. Namun, lebih dari itu, prosa telah berkembang menjadi bentuk yang lebih komplek. Perkembangan prosa melesat hingga melahirkan bentuk-bentuk turunannya seperti khitobah (retorika) dan tarassul (korespondensi). Pengaruh prosa modern dengan metode kitabah at-ta’lif dapat Anda lihat pada buah karya KH Maimoen Zubair ini. Kajian-kajian kesastraan yang berbentuk prosa pada umumnya mempunyai bahasan dan karakteristik tertentu. Namun, secara garis besar, kajian kesusastraan prosa sebagai karangan bebas itu terbagi menjadi beberapa kelompok kecil, diantaranya: Al-Khitobah, Ar-Rosail, Al-Amtsal, Al-Hikam, Al-Washaya, Al-Maqamat, Al-Qishas, dan Al-Masrahiyyah.

Kitab Al-Ulama Al-Mujadiddun merupakan kitab yang menggunakan metode prosa khitobah at-ta’lif. Metode ini menuntut penulis untuk merumuskan permasalahan yang diambil dari realitas ilmiah dalam segala bidang ilmu seperti: fikih, sastra, kedokteran, dan lain-lain. Kitab karya KH Maimoen Zubair ini tentunya menyorot masalah ilmia tentang para pembaharu serta permasalah fikih keseharian dengan menggunakan bahasa fushah, yaitu gaya bahasa yang jelas, ringan dan padat tanpa bertele-tele.

Lain lagi jika ditulis dengan gaya dan metode diwaniyah yang penuh sensasi kata. Dalam metode khitobah at-ta’lif, tidak diperbolehkan menggunakan majaz serta jenis-jenisnya, seperti majaz aqli, mursal, isti’aroh, kinayah dan tasybih dimni. Dalam kitab Al-Ulama Al-Mujaddidun, pembahasan ilmiah disusun Beliau dalam sebuah pengkajian masalah-masalah masail fiqhiyyah kontemporer yang banyak ditemui di kalangan masyarakat. Tentunya pembahasannya menggunakan sistematis dan dengan bahasa yang sederhana agar mudah dimengerti. Tujuan kepahaman adalah salah satu misi dari prosa atau karangan bebas ilmiah modern.

Pandangan progresif Mbah Maimun terihat pada pendapatnya bahwa usaha ijtihadi itu berawal pada lahirnya kebudayan Islam itu sendiri pada abad pertama hijriyah itu sendiri. Penulis memberikan perspektif yang dalam untuk mengulas alur perkembangan pembaharuan yang pernah terjadi dalam Islam.

Beliau mengulas tentang awal pembaharuan yang menunjuk pada golongan sahabat untuk dinobatkan sebagai mujaddid pada abad pertama. Selanjutnya, munculah mujtahid seperti Imam al-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, dan lainnya sebagai mujaddid pada abad kedua. Akhirnya pondasi ijtihadi dunia Islam makin kuat dengan berpegang pada sumber-sumber syariat: Al-Qur’an, Hadis, Qiyas, dan Ijmak.

Dalam sebuah karangan bebas (prosa), seperti pada kitab Al-Ulama Al-Mujadiddun akan banyak didapati retorika ilmiah seperti gaya khitobah yang sederhana namun dalam maknanya. Retorika khitobah adalah perkataan atau sejenisnya yang merupakan cara untuk memberi alasan kuat yang sifatnya mempengaruhi seseorang ataupun kelompok. Hadirnya gaya argumentasi khitobah adalah untuk mempertahankan pendapat yang merupakan bagian dari dinamika ilmiah. Retorika khitobah merupakan cara ilmiah fdalam memberikan reaksi terhadap hal-hal yang menyangkut bagaimana kita mempertahankan pendapat dalam sebuah karangan bebas atau prosa.

Akhirnya gaya literasi khitobah ta’lif mengalami kemajuan pesat hingga mendapat tempat di dunia percetakan. Gaya bahasa pengarang yang ilmiah ini mulai memenuhi penerbitan-penerbitan dengan berbagai macam tema dan topik. Sedangkan perkembangan khitobah pada masa ini makin meruncing di area media massa.

Untuk menghasilkan karya yang baik, seorang pengarang harus memperhatikan unsur-unsur yang membangun sebuah karya prosa. Unsur-unsur intrinsik dalam prosa antara lain: tema, alur, latar, penokohan, sudut pandang, amanat dan gaya bahasa.

Sudut pandang kitab Al-Ulama Al-Mujadiddun jelaslah dipengaruhi oleh Asy’ariyah Maturidiyah sebagai soko guru pembaharuan modern. Pada bagian awal kitab ini pembukaan yang menjelaskan tentang proses kedatangan para pembaharu di setiap 100 tahun atau satu abad. Dengan gamblang di situ disebutkan nama-nama pembaharu yang telah lahir. Kitab Al-Ulama Al-Mujadiddun menjelaskan juga tentang dinamika tajdid dan mujaddid yang dimulai pada masa sahabat hingga abad ke 14 H.

Kitab Al-Ulama Al-Mujadiddun karya KH Maimoen Zubair merupakan karya literasi yang sarat dengan nuansa realisme (al-madrasah al-waqi’iyyah). Aliran ini menyerukan para penulis untuk menjadikan masyarakat sebagai sumber sastranya. Aliran ini lebih banyak menceritakan keadaan yang sebenarnya dalam kehidupan masyarakat. Seperti yang dilakukan KH Maimoen Zubair dengan mengangkat fenomena mujaddid akhir zaman. Dalam karyanya, KH Maimoen Zubair memberikan ilustrasi perkembangan mujaddid di dalam masyarakat beserta problematikanya.

Corak realisme kitab Al-Ulama Al-Mujadiddun diawali dengan penjelasan dan pengertian tentang mujaddid secara kontemporer atau sesuai dengan keadaan yang terjadi di masyarakat. Unsur realisme dalam karya KH Maimoen Zubair ini terlihat pada penjelasan Beliau tentang siapa saja yang bisa disebut sebagai mujaddid itu. Pandangan Beliau tentang mujaddid merupakan usaha membebaskan perspektif agar ditemukan wacana baru. Dengan tujuan pembaca diharapkan dapat dan mampu mengambil sesuatu yang bernilai. Kitab Al-Ulama Al-Mujadiddun benar-benar menunjukkan ciri-ciri sebuah prosa ilmiah yang modern.

Anda bisa melihat bagaimana uraian-urain pada bab yang menjelaskan berbagai persoalan kehidupan dengan solusinya ditulis dengan pemikirannya runtun dan sistematis. Penulis tidak keluar dari satu gagasan ke gagasan yang lain, kecuali gagasan yang satu telah selesai. Pun pendahuluan pada kitab Al- Ulama Al-Mujadiddun tidak terlalu panjang, temanya cenderung pada tema yang sedang terjadi pada masyarakat.

Nilai keilmiahannya juga di dapat pada penjelasan Beliau di bidang pembaharuan yang selalu dimotori oleh para ulama tersebut. Masalah-masalah keseharian yang terus berkembang dengan adanya kemajuan jaman, juga dibedah dengan pisau-pisau tajam epistemis. Permasalahan kontemporer tersebut diantaranya tentang hukum perbudakan, hukum berzakat nominal intrinsik tunai sebagai pengganti menggantikan emas dan perak, nisab kurensi intrinsik uang kertas dalam sebuah zakat, hukum pajak, hukum mengikuti mazhab ulama dan lain sebagainya.

Sebagaimana bentuk penulisan karangan bebas, pada setiap akhir tulisan selalu ditutup dengan khatimah yang berisi kesimpulan pembahasan. Disinilah kekuatan prosa (karangan bebas) yang berjenis tulisan ilmiah. Semoga apa yang telah ditulis oleh KH Maimoen Zubair dalam kitab Al Ulama Al Mujadiddun bermanfaat bagi perkembangan literasi kitab-kitab berbahasa Arab yang ada di Indonesia dan juga dunia. Semoga pula menjadi ilmu yang bermanfaat dan berkah bagi kita semua.

Penulis adalah anggota kelompok pecinta alam Wilderness Lali Jiwo Pasuruan

Leave Comments