Ngaji Urip kepada Kiai As’ad

Ngaji Urip kepada Kiai As’ad
Oleh: Fithrotun Nisa

Lingkungan saya sekarang menjadi salah satu tempat yang mempunyai pengaruh cukup besar terhadap perkembangan pendidikan, ekonomi, sosial maupun budaya. Hal ini tak lepas dari perjuangan sosok kyai kharismatik yang disegani oleh masyarakat sekitar.

Beliau adalah KH. Muntaha al-Hafidh atau akrab dipanggil Mbah Mun. Mbah Mun terkenal dengan kedalaman ilmunya dalam memahami al-Qur’an, baik hafalan maupun mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pondok Pesantren Tahfidhul Qur’an al-Asy’ariyah adalah salah satu bentuk perjuangan Mbah Mun dalam memperjuangkan ajaran islam, di daerah Kalibeber Mojotengah Wonosobo.

Kebesaran nama Mbah Mun membuat orang-orang dari berbagai penjuru daerah berbondong-bondong me-mondok-kan putra-putrinya di Pesantren Tahfidhul Qur’an al-Asy’ariyah. Dimana para santri akan diajarkan ilmu al-Quran sebagai dasar pembelajaran.

Sudah ribuan santri yang menjadi mutakharijin. Bahkan beberapa santri juga sudah mendirikan lembaga pendidikan sendiri. Keberhasilan tersebut tidak lain merupakan buah ta’dhim terhadap Kyai dan taat pada peraturan pondok.

Mbah Mun mempunyai salah seorang abdi ndalem yang sangat ta’dhim dan selalu sendiko dawuh terhadap apa yang diperintahkan oleh beliau. Sehari-hari abdi ndalem tersebut sibuk melayani keperluan Mbah Mun dan terutama ketika ada tamu. Mulai dari memasak, mencuci, menyapu dan nderekke ke manapun Mbah Mun pergi. Bapak As’ad, orang-orang memanggilnya.

Beliau adalah pribadi yang tekun, ulet dan rajin. Bahkan disela aktivitasnya yang sibuk, belia masih menyempatkan nderes hafalan yang sudah dihafal maupun yang akan dihafalkan. Masyaallah. Di malam hari dalam keadaan yang sangat dingin pun, tak menyurutkan semangat untuk tetap menjaga kalam-Nya. Sampai-sampai tidak segan memakai helm dengan balutan kain tebal utk melindungi tubuh.

Bapak As’ad salah seorang abdi ndalem sekaligus santri kesayangan Mbah Mun. Bahkan dalam hal tahfidh, sampai sekarang diserahkan oleh Bapak. Dzurriyah pun juga memberi wewenang atas itu. Padahal Bapak sama sekali tidak ada darah keturunan dari keluarga Mbah Mun, hanya sebatas abdi ndalem dan santri. Akan tetapi itulah rahasia barokah yang sangat dielu-elukan oleh semua santri. Bapak As’ad adalah contoh nyata dari barokah itu.

Setelah Mbah Mun wafat, bapak As’ad mendapat wasiat untuk membangun rumah di daerah Ngebrak RT 10 RW 01 bersama istri, Simak Badi’ah. Beliau juga salah seorang abdi ndalem Mbah Mun. Saya sempat heran ketika pertama kali masuk pondok karena di sini memanggil Pak Kyai dan Ibu Nyai dengan panggilan Bapak dan Simak. Salah satu alasannya adalah karena ketawadlu’an beliau berdua, juga ingin lebih dekat saperti halnya orang tua kandung sendiri.

Dulu, hanya sepetak rumah berdiri dengan dua kamar yang bersebelahan dan sebagian lain ruang tamu. Di sebelah kanan ada dapur, kalau orang jawa menyebutnya ‘pawon’. Santri putra putri masih sedikit. Segala kegiatan selalu bebarengan, layaknya keluarga sendiri. Saling bantu membantu. Semangat, kesabaran, ketawadlu’an, ketaatan sangatlah melekat dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam hal menghafal.

Dengan aktivitas demikian, tak heran, santri-santri jaman dahulu sukses, barokah dan manfaat ilmu-ilmunya, karena tirakat yang dijalankan tidak tanggung-tanggung. Berbeda dengan sekarang, walaupun juga sukses-sukses, akan tetapi kelezatan menimba ilmu itu lebih dirasa enaknya oleh santri-santri jaman dahulu.

Plus minusnya, kalau dahulu mungkin kurang tahu akan teknologi. Sekarang, internet pun sudah masuk di berbagai pesanteren di pelosok daerah. Akan tetapi yang terpenting adalah banyak nilai plus ketika mondok, karena mondok itu membuat candu.

Dulu, pondok ini bernama Ma’haduna. Setelah beberapa tahun kemudian diganti menjadi Pondok Pesantren Tahfidhul Qur’an Baitul ‘Abidin Darussalam. Keterikatan beliau dan pondok ini terhadap pesantren al-Asy’ariyah sangatlah dekat. Beda jalan satu tujuan.

Dalam hal haflah terutama, masih dilaksanakan bersama-sama. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak santri, pun pembangunan gedung pesantren juga lebih dipercepat. Jadwal ngaji pun juga semakin padat. Tatap muka (musyafahah) dengan Bapak pun tidak sesering ketika santri masih sedikit. Oleh karena itu, ada beberapa mbak-mbak dan kang-kang santri yang dianggap mampu membantu “ngopeni” atau menjaga hafalan para santri dengan menyimak hafalan mereka tiap pagi dan sore.

Di samping itu juga ada simakan partner. Dari kegiatan ini diharapkan dengan sangat agar santri kedepannya terbiasa dengan sendirinya selalu istiqomah nderes. Bapak selalu menasehati agar istiqomah dalam membaca al-Qur’an. Apalagi seyogyanya bagi para huffadh agar selalu menjaganya sampai akhir hayat.

Agak berbeda memang pesantren BAD (santri-santri menyebutnya) dengan pesantren tahfidh lainnya baik di sekitar Kalibeber sendiri maupun luar kota. BAD tidak hanya bagi santri khusus menghafal saja, ada anak sekolah dan kuliah. Universitas terdekat yaitu Universitas Sains al-Qur’an. UNSIQ didirikan oleh Mbah Mun. Beliau rektor pertama.

Salah satu keunggulan mondok di Kalibeber ini adalah dekat dengan lembaga-lembaga yang sangat menunjang proses belajar kita. Terutama UNSIQ. Apalagi di BAD ini banyak sekali yang kuliah. Selain mendapat ilmu agama, santri juga mendapat ilmu umum. Akan tetapi untuk santri BAD tidak diperbolehkan mengikuti ekstrakulikuler apapun di sekolah maupun kuliah kecuali yang menunjang ngaji kita. Bergelut dengan teknologi pun wajib setiap hari karena untuk memenuhi tugas-tugas.

Awal berdiri memang diperbolehkan membawa elektronik terutama HP dan laptop dan bisa digunakan tiap waktu. Semakin bertambah tahun dan santri-santri kurang fokus dalam ngaji, akhirnya dibatasi dari jam wajib ngaji pagi selesai sekitar jam 07.00-18.00 maghrib. Mulai maghrib sampai pagi untuk fokus pada kegiatan pondok. Memang sangatlah sulit membagi waktu antara ngaji dan tugas-tugas lain apalagi bagi yang sekolah dan kuliah. Semuanya kembali kepada masing-masing pribadi untuk bisa mengatur semua itu.

Terlepas dari usaha kita masing-masing, selalu bersandarlah kepada Allah SWT Yang Maha Mengabulkan segala yang kita pinta. Juga tak lepas dari doa dan ridlo dari orang tua, baik orang tua secara biologis maupun bukan, yaitu Pak Kyai dan Bu Nyai. Kita bisa mendapatkan ridlo mereka semua dengan selalu mentaati segala apa yang diperintahkan beliau sekalian. Sering kali bapak As’ad dan Simak Badi’ memeberikan pelajaran-pelajaran penting dalam kehidupan sehari-hari.

Tanpa kita sadari langsung. Pelajaran tersebut lebih bermanfaat dari apa yang kita pelajari di bangku sekolah maupun kuliah, tidak dipungkiri juga di keduanya. “ngaji urip”, mungkin lebih ke kehidupan sosial terutama dalam berinteraksi dengan sekitar. Mempelajari bagaimana menyikapi sikap orang lain terhadap kita terutama ketika tidak berbuat baik terhadap kita. Malah sebaliknya, mungkin kita harus introspeksi diri, bisa saja kita dulu yang tidak berbuat baik.

Gusti Allah dalam al-Qur’an menjelaskan bahwasannya dalam penciptaan langit dan bumi itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Dalam keadaan apapun seyogyanya selalu ingat terhadap apa yang diciptakan oleh-Nya, dalam arti mengambil suatu pelajaran baik itu bermanfaat maupun tidak. (QS. Ali Imron: 190-191).

Bapak As’ad, selalu mencontohkan di setiap saat baik sibuk maupun tidak, cobalah selalu “nderes”. Ketika akan mengimami shalat subuh dengan mengendarai motor, lantunan ayat-ayat suci al-Qur’an mulai terdengar. Yang “ndereaken” beliau menyimak di belakang beliau. Juga ketika bepergian jauh, ada cerita dari santri ketika akan mengakadkan di kendal, beliau bisa nderes sampai 10 juz lebih. Mungkin kalau kita lebih baik buat tidur. Menurut penulis, pengajaran yang dilakukan oleh Bapak As’ad itu mengacu pada ayat tersebut.

Segala yang ada di dunia ini terdapat tanda-tanda yang menjadikan kita ummatan wasathan. Berperan dalam segala aspek kehidupan baik pendidikan, sosial, budaya, ekonomi dan lain sebagainya. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh bapak ketua umum PBNU KH. Said Aqil Siraj dalam harlah Muslimat NU di GBK. Berdakwah tidak hanya dalam pendidikan formal maupun non formal, akan tetapi dalam kehidupan bermasyarakat adalah wadah kita untuk berkontribusi menyalurkan pengetahuan dan pengalaman. Semua itu bisa dimulai dari pesantren.

Keseharian bapak as’ad sendiri juga semuanya adalah pelajaran hidup. Terutama dalam mengajar al-Quran. Bayangkan, mulai fajar beliau berangkat di ponpes al-Asy’ariyah untuk mengimami shalat subuh dan diteruskan menerima setoran al-Qur’an dari santri al-Asy’ariyah. Setelah itu kembali ke BAD dan menyimak lagi setoran ngaji santri putra dan putri BAD sampai sekitar jam 07.00.

Pada jam 10.00-11.00 menyimak darusan dari santri putri. Adzan dhuhur berkumandang berangkat mengimami. Shalat asar pun juga diimami beliau. Usai shalat sekitar jam 16.00 sampai mejelang maghrib menyimak setoran santri putra. Ada juga yang dari luar BAD. Maghrib tiba, beliau sendiri mengimami shalat.

Dilanjutkan ngaji binnadhor putra putri. Isya’ shalat jama’ah dengan beliau. Setelah isya’ sambil menunggu jam wajib setoran santri putri, beliau tadarus disimak oleh santri-santri putri yang udzur. Sekitar 3-4 juz beliau lantunkan. Berangkat menyimak santri dari jam 22.00-23.00.

Semua itu, beliau lakukan setiap hari tanpa mengeluh sedikit pun. Waktu Ramadlan untuk pagi dan sore beliau ada tadarus dengan disimak warga sekitar. Tarawih pun mengimami di a-Asy’ariyah dengan satu kali khataman, setiap hari 1 juz seperempat. Untuk santri BAD ada jadwal sendiri tiap kamar satu khataman dengan bergantian imam. Beliau berpesan untuk melatih menjaga hafalannya dengan menjadi imam. itu semua adalah ketauladanan beliau yang secara kasat mata terlihat.

Para santri juga diajarkan tentang gotong royong bekerja sama dalam banyak hal. Contohnya, ketika akan membangun gedung pesantren baru, semua santri ikut berpartisipasi baik putra maupun putri dan tak ketinggalan Bapak juga ikut. Beliau mengatakan bahwasannya hidup itu harus didasari dengan kerja keras. Supaya para santri itu tahu bahwa perjuangan orang tua untuk anaknya itu sangat luar biasa.

Akhlak terhadap tetangga pun dicontohkan. Saling menyapa ketika bertemu di jalan. Tidak mengganggu kenyamanan tetangga dalam hal apapun. Belum seberapa kita menjalani kehidupan di pondok dengan latarbelakang orang-orang yang berbeda. Esok setelah selesai belajar di pondok akan lebih tidak diduga lagi kehidupan ini.

Oleh karena itu, dinikmati waktu yang singkat di pondok untuk bekal bermasyarakat sampai akhir hayat. Pondok BAD ini juga unik, biasanya setiap berdirinya pondok pasti terpampang papan atau gapuro nama pondok tersebut. Berbeda dengan yang lainnya, atas keinginan pengasuh juga, tidak ada ”plang” atau papan atau gapuro dengan nama pondok.

Dan lagi-lagi semua itu barokahnya beliau mengalir ke penjuru manapun. Tetap dengan ketawadlu’annya, orang-orang mengenal beliau dengan kepercayaan yang mendalam. Mulai dari orang awam sampai sekelas pejabat mendatangi beliau karena kealimannya.

Pengasuh juga menerapkan program piket masak. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini menunjang santri kedepannya agar terbiasa dengan masalah perdapuran. Apalagi bagi santri putri yang wajarnya memang berkecimpung di dapur. Terutama ketika sudah berkeluarga. Tidak menutup kemungkinan ketika liburan tiba, seyogyanya para santri baik putra maupun putri membantu orang tua di rumah. Seperti memasak, menyapu, mencuci, berkebun atau yang lainnya.

Sekali lagi, pendidikan dan dakwah tidak hanya dilakukan dalam pendidikan formal. Hal sekecil menyapa orang di jalan pun adalah suatu bentuk pendidikan karakter. Pesantren sebagai lembaga dakwah yang menurut penulis sangat efektif. Berbisnis juga dipelajari oleh beberapa santri yang diberikan amanah untuk mengelola koperasi pesantren. Ada juga yang membantu mengurus ikan-ikan yang dipelihara oleh Pak Kyai.

Di luar itu, beberapa santri dengan modal HP dan tentunya ada kuota, bisa berbisnis online. Hitung-hitung untuk menambah uang saku. Akan tetapi itu di luar pribadi masing-masing. Lebih baiknya fokus terlebih dahulu pada tujuan utama yaitu menghafal al-Qur’an, apalagi bagi yang sedang proses dan baru menghafal. Karena ketika sudah khatam lebih sulit lagi membagi waktu. Pada dasarnya semua kegiatan pesantren bertujuan untuk melatih kita agar terbiasa dengan kegiatan ketika masih di pondok dan setelahnya (boyong).

Kegiatan lain yang menunjang contohnya JHQ (Jam’iyyatul Huffadh wal Qurra’) yang diadakan setiap satu bulan sekali. Baik se-kecamatan maupun kabupaten. Diikuti oleh seluruh masyarakat wonosobo terutama hafidh dan hafidhoh. Pastinya santri-santri juga mengikuti. Secara langsung kita terjun ke masyarakat, berbaur dengan mereka, saling mengenal dan akhirnya menjalin ukuhuwwah islamiyyah.

Berdakwah dengan membaca al-Qur’an secara bersama-sama. Apalagi di setiap khatamannya terdapat keberkahan yang tak terkira. Selain itu, bagi para santri yang sudah khatam, ada program 40 khataman setiap hari satu khataman secara terus menerus. Juga rutin setiap hari Jum’at dan Sabtu Kliwon program simakan diagendakan. Lagi-lagi untuk membiasakan kita untuk mudawamah tadarus. Masyarakat sekitar pun sering mengundang para santri untuk tadarus dalam berbagai macam hajat.

Setiap pesantren mempunyai strategi yang berbeda dalam menyampaikan dakwah dan mendidik para santri. Karena dengan berubahnya zaman, berubah juga pola pikir dan hidup seseorang.

Pesantren zaman dahulu sangatlah akrab dengan keklasikannya (salaf). Pengajarannya pun masih berkutat pada kitab-kitab kuning dan sejenisnya. Sedangkan sekarang ini, sudah ada campur tangan teknologi, akhirnya belajar pun bisa dari internet. Kitab-kitab pun sudah banyak yang berbentuk digital.

Beberapa pesantren menggabungkan metode klasik dan modern. Pesantren BAD salah satu contohnya. Sekarang ini setiap pesantren mempunyai akun baik di facebook, instagram dan lain sebagainya. Akun tersebut berisi konten-konten yang positif baik dari segi kegiatan pondok ataupun informasi dari luar pondok.

Cara ini juga salah satu strategi dakwah santri untuk menunjukkan profil pesantren yang tidak menakutkan akan tetapi menyenangkan. Serius tetapi santai. Kita juga harus bertanggungjawab agar tidak terlena dengan kecanggihan teknologi karena tujuan awal adalah mengaji.

Bapak As’ad sering memberikan petuah-petuah kepada santri di setiap momen. Berikut adalah salah satu untaian kata yang sangat menampar hati kita untuk terus berusaha agar berhati-hati dan tidak sembrono terhadap kalam Gusti Allah.

”Ora ono artine apal al-Qur’an nek ora diamalke, ndang pada ngati-ati, ndak dilaknati, ora keno gawe gagah-gagahan, wajib mudawamah nderes”,

Tidak ada artinya hafal al-Qur’an jika tidak diamalkan. Berhati-hatilah akan laknatnya (al-Qur’an). Tidak boleh untuk menyombongkan diri, harus konsisten tadarus al-Qur’an”. (KH. As’ad al-Hafidh)

Penulis adalah santri PPTQ Baitul ‘Abidin Darussalam, berasal dari Kendal.

Leave Comments