Islam Nusantara; Moderat dan Bersahabat

Islam Nusantara; Moderat dan Bersahabat
Essay: Wijayanto Bagus Putrawan

Histori dan metode dakwah Islam di Indonesia

Keberadaan Islam Nusantara sebenarnya sudah ada sebelum istilah ini muncul. Yaitu pada abad ke 8 beberapa setelah kedatangan Laksamana Cheng Ho, rombongan Sunan Ampel datang dari daerah Champa (Vietnam). Setelah beberapa dekade sejak hari kedatangan Sunan Ampel, terutama saat kedua anaknya tumbuh dewasa (Sunan Bonang dan Sunan Derajat) dan beberapa muridnya juga sudah tumbuh dewasa (seperti Sunan Giri), maka dibentuklah suatu dewan yang disebut “Walisongo’’. Misi utamanya adalah mensyiarkan agama islam kepada penduduk bumi terutama daerah Nusantara, khususnya Jawa.

Para sejarawan dunia hingga kini masih bingung, mengapa dengan waktu sekitar 50 tahun Walisongo berhasil mengislamkan begitu banyak penduduk Nusantara. Padahal pada waktu itu transportasi belum mengenal mobil, motor, pesawat atau lainnya. Dari segi ruang maupun waktu, derajat kesukarannya sungguh luar biasa. Sehingga para sejarawan pun angkat tangan saat disuruh menerangkan bagaimana Walisongo melakukan mission impossible ini. Membalikan keadaan dalam waktu  kurang dari 50 tahun. Padahal sudah terbukti 800 tahun lebih bangsa Nusantara selalu menolak agama islam.

Para sejarawan akhirnya sepakat bahkan kesuksesan Walisongo dalam proses dakwahnya adalah menggunakan pendekatan kebudayaan. Meski sebenarnya, budaya itu Cuma “bungkus’’, yang benar-benar bikin beda adalah “isi’’ dakwah Walisongo. Para Wali tersebut menyebarkan agama meniru persis “bungkus’’ dan “isi’’ dari dakwah Rasulullah Muhammad kala itu. Pasalnya kondisinya hampir serupa. Dahulu Nabi Muhammad adalah satu-satunya orang yang berada dijalan yang benar. Bahkan istri dan keluarga beliau kala itu beum mengenal islam. Namun berkat Ruh dakwah penuh kasih sayangnya, akhirnya islam menjadi agama yang besar. Agama yang menguasai seluruh sektor pendidikan, ekonomi, dan pemerintah dunia.

Meski dulu saat berdakwah Rasulullah selalu mendapat hinaan, perlakuan yang kasar, bahkan dari keluaarga sendiri, tapi Rasulullh selalu sabar dan selalu tersenyum. Begitupun Walisongo yang meniru akhlaqul karimah sang Rasul. Dalam dakwahnya, mereka tidak pernah melakukan tindak kasar bahkan mengkafir-kafirkan orang. Seperti halnya ketika ada salah satu penduduk yang bertanya soal menaruh sesajen dalam sudut rumahnya. Sang Sunan tidak langsung berkata tidak dan menyalahkanya. Malah berkata “boleh,malah sebaiknya sejumah 20 piring, tapi dimakan bersama para tetangga terdekat ya”.

Begitu pula saat ada seseorang muridnya yang bertanya akan ketauhidan Allah. “Tuhan kok Cuma satu? Apa nanti tidak kerepotan dan ada yang terlewat dan tidak terurus?”,  Sunan yang ditanyai hanya tersenyum mendengarnya, dan mengajak muridnya nonton wayang. Setelah melihat pagelaran wayang, Sunan bertanya kepada muridnya “oh iya, bagaimana menurutmu kalau dalangnya dua atau empat orang?”, muridnya pun menjawab “justru lakon wayangnya bisa bubar. Dalang satu ambil wayang ini, dalang yang lain ambil wayang yang lain, bisa-bisa tabrakan”. Sang Sunan pun kembali tersenyum. Dan seketika itu muridnya beristigfar dan mengaku sudsh salah faham mengenai konsep kewahdaniyyatan pangerannya ( Tuhannya).

Fiqh & Manhaj (Metodologi) Islam Nusantara

Islam Nusantara seringjuga disebut dengan nama Din Arab Jawi. Yang berarti islam dari Arab dengan karakter jawi. Yang dimaksud dengan karakter jawi adalah teritori Nusantara. Namun permasalahannya, apakah syariat yang kita jalani sudah sejalan dengan fiqh?

 Melihat konsep “fiqh sosial” KH. Sahal Mahfudh, fiqh harus mampu menampilkan dinamisme dan fleksibilitasnya berhadapan dengan perubahan sosial. Bagi kiai Sahal, Fiqh selalu merupakan hasil ijtihad yang tidak bersifat kaku dan sakral, melainkan lentur dan kontekstual. Putusan fiqh yang pada satu tempat dan zaman dianggap valid, bisa saja tidak lagi relevan di era lain atau ditempat lain. Untuk menggambarkan kelenturan fqh ini, kiai Sahal mengutip seloroh KH. Wahab Chasbullah : pekih kuwi yen rupek yo diokoh-okoh ( fiqh itu kalau terasa menyempitkan ya dibuat longgar).

Sebenarnya fiqh Nusantara sudah sangat dinamis dalam mendalami hukum syariat, sebab tidak semua isi ajaran dalam kitab-kitab mu’tabarah salaf yang membahas fiqh, dapat kita aplikasikan di tanah air. Disana zakat onta, sedangkan praktek kita adalah zakat beras.

Kita mengambil pelajaran dari dialog cerdas KH. Muhammad Shalih Ats-tsani Buungah Gresiki dan Syaikhuna Kholil Bangkalan. Selama keduanya nyantri di pesantren kedung, Madura, di abad 19, diceritakan sering terjadi diskusi diantara mereka, walau dengan nada guyon. Syaikhuna Kholil pernah menyindir teman seperguruanya itu demikian : “Buat apa sampean belajar serius kitab-kitab fiqh, toh di Nusantara tidak akan pernah ada yang membayar zakat onta!”. Kyai Nawawi pun membalas : “Buat apa sampean belajar ilmu nahwu dan sharaf bertahun-tahun, kelak kitab-kitab kuning akan banyak diterjemahkan ke dalam bahasa kita!”.

Sederhananya, dalam logika mereka :  boleh belajar fiqh atau ilmu alat, tapi jangan sampai lupa ide-ide Nusantara yang muncul dari negeri kita yang mewarnai kedua ilmu itu. Zakat beras atau praktik penerjemahan adalah salah satu ide-ide Nusantara. Kita tidak hanya harus menerjemahkan bahsa Arab ke bahasa-bahasa Nusantara, namun kita juga harus bisa menerjemahkan bahasa-bahasa kita atau ide-ide kita kedalam bahasa Arab. Seperti halnya praktik imsak saat bulan Ramadhan, halal bihalal dibula Syawal, dan ta’liq thalaq saat aqad nikah dilaksanakan. Kesemuanya itu berbahasa Arab, tapi tidak dikenal dalam lingkungan orang-orang Arab sendiri.

Karena fiqh kita tidak secara tekstual mengacu pada kitab-kitab fiqh, melainkan Ulama’ Nusantara menggunakan Maqasid (tujuan) syari’ah dalam ijtihad mereka. Yaitu hifdhud din (menjaga agama), hifdhun nafs (menjaga nyawa), hifdhul aql (menjaga akal), hifdhul mal (menjaga harta), dan hifdhun nasl (menjaga keturunan). Jadi, selama syariat kita tidak melenceng dari maqasid ini, kita brada pada zona aman beragama.

Fleksibelitas Islam Nusantara 

Kontroversi pembacaan ayat Al Qur’an langgam jawa saat peringatan Isra’ Mi’raj di istana merdeka sangat menarik untuk dibincangkan. Oleh sebagiam pihak menuduh Menteri Agama RI melakukan liberalisasi terhadap kitab suci. Sedangkan pihak lain justru mengapresiasi dan mengatakan bahwa ini adalah salah satu bentuk ekspresi budaya, tanpa mengotori kesucian kitab tersebut.

Dalam acara-acara keagamaan, lazimnya Bacaan Al Qur’an menggunakan langgam (yang bisa disebut lagu) sesuai dengan tartil dan qira’at. Gaya tartil memang lebih sederhana karena tidak perlu menggunakan lagu atau cengkok yang lebih rumit. Adapun gaya baca qira’at yang sering dibawakan seperti husaini, bayati, syika, nahwan dan lainnya, dianggap lebih sulit karena harus mengikuti kaidah yang ada. Model qira’at inilah yang dianggap oleh sebagian orang sebagai bacaan khas arab, dimana Al Qur’an diturunkan.

Namun sebenarnya, gaya baca yang telah tersebutkan tadi datang dari Iran. Yang menurut Ahmad Sarwat (2015) pada masa kenabian, Iran bukanlah bagian dari jazirah Arab, karena berbangsa dan berbahasa persi. Jadi itulah kesalahan pemahaman sejarah kita. Bahkan diseluruh dunia pun terkadang membaca Al Qur’an juga menggunakan langgam mereka masing-masing. Seperti Mesir, Turki, Yaman, dan lainnya. Karena langgam adalah seni. Dan setiap orang bebas mengekspresikan seni mereka.

Seperti inilah fleksibilitas Al Qur’an diturunkan. Jika kita melihat orang-orang didaerah Wonosobo dan Purworejo, mereka ketika melafalkan ‘ain menjadi ngain. Bagi orang yang paham bbudaya mereka akan memaklumi itu. Karena logat dan dialek orang dimana tempat pasti berbeda. Maka kasus seperti ini tidak pantas untuk disalahkan. Bahkan lahirnya Qira’ah Sab’ah (tujuh gaya baca Al Qur’an) dikarenakan faktor dialek masyarakat Timur Tengah yang berbeda-beda dalam dialek dan detail bacaan mereka.

Kesimpulannya,islam telah mendarah daging dengan kebudayaan di Indonesia. Tanpa adanya maneuver dakwah dengan menggunakan metode “Akulturasi”, yaitu memasukan norma-norma islam kedalam kultur lokal dari para wali terdahulu, islam tidak akan membius masyarakat pribumi yang berjiwa seni, cinta kebudayaan dan suka “nguri-nguri” tradisi. Seperti halnya disyaratkan membaca dua kalimat syahadat jika mau gong pertunjukan wayang dibunyikan oleh sunan Kalijaga, para wali terdahuu memang sudah benar-benar matang untuk mensyiarkan agama Allah yang dikatakan dalam hadist bawha “innaddiina yusrun”. Agama itu mudah, Agama itu bukanlah hal yang bersifat statis, namun dinamis.

Islam datang di Indonesia tanpa meninggalkan sejarah, mau berdialog dengan tradisi, dan juga tetap melestarikan budaya yang ada. Meski terkadang berasal dari tradisi hindu-budha, akulturasi yang ada tidak lantas patut dikatan “ man tasyabbaha biqoumin fahua minhum” (barang siapa menyerupai seuah kaum, maka dia adalah bagian dari kaum itu). Karena tradisi islam jawa yang ada saat ini sudah di’suap’ para wali terdahuu menggunakan ijtihad yang paling pas dan sesuai dengan ajaran islam.

Tolak Radikalisme

Maraknya faham agama yang salah menjadikan sebagian kelompok garis keras salah faham akan mendalami ijtihad. Virus ini berawal dari keinginan sebagian oknum yang mensucikan islam tapi tidak dengan cara yang suci. Membanggakan islam tapi dengan cara yang hina. Dan mengharumkan  islam tapi dengan cara yang busuk.

Radikalisme dikatakan menyalahi hukum negara maupun agama karena melakukan hal-hal yang melenceng dari norma kemanusiaan maupun norma agama. Mereka berlaku brutal, mereka mengkafirkan orang islam, mereka ingin merubah tatanan sistem pemerintah pancasila menjadi “khilafah”. Dan kesemuanya iniah yang kerap menimbulkan aksi kekerasan hingga peperangan ditengah masyarakat. Primordialisme mereka kedepankan, tali persaudaraan mereka putuskan.

Mereka yang terjerumus dalam kelompok semacam itupun bukan tanpa sebab. Mereka kerap diiming-imingi masuk surga, mereka dilimpahi harta, bahkan mereka difasilitasi Negara adikuasa untuk memerankan peran rahwananya. Bahkan jazirah arab sebagai tempat dimana wahyu diturunkan kini menjadi korban peperanan dan islam radikal.

Nama besar islam pun tercemar dikancah internasional. Distorsi menyimpang tentang islam tibul dmana-mana. Dunia harus menghapuskan radikalisme. Yang patut dibenci dan dimusuhi adalah pelaku agama bukan agamanya.

Penulissi siswa SMA N 2 Demak.

Leave Comments