Peran Didaktis Kurikulum Ziarah Kubur ala Pesantren terhadap Sishanrata

Peran Diidaktis Kurikulum Ziarah Kubur ala Pesantren terhadap Sishanrata
Oleh: Yudho Sasongko

Tradisi menghormati kyai, Wali Songo, berziarah kubur, tahlilan, dan Maulid Nabi merupakan kurikulum abadi pesantren-pesantren di Nusantara. Salah satu yang menarik untuk dicermati adalah kurikulum ziarah kubur yang mempunyai fungsi didaktis terhadap Sistem Pertahanan Rakyat Semesta (Sishanrata).

Selain sebagai salah satu bentuk dakwah, ziarah kubur yang dilestarikan oleh pesantren mempunyai nilai didaktis. Fungsi didaktis adalah suatu fungsi yang bersifat mendidik. Lewat pembelajaran dalam sebuah kurikulum yang terintegrasi, pesantren terus-menerus melestarikan nilai didaktis ziarah kubur ini.

Fenomena pembelajaran ziarah kubur yang terus dikembangkan oleh pesantren tersebut terkandung nilai spirtualitas, akhlak dan budi pekerti yang unggul. Kurikulum ziarah kubur ala pesantren adalah salah satu usaha untuk meneladani tokoh karismatik yang telah meninggal. Ziarah kubur juga sebagai media pengingat kematian, media bersyukur, pembelajaran ketertiban, kepatuhan dan cinta Tanah Air.

Bagaimana hubungan kurikulum ziarah kubur dengan Sishanrata (Sistem Pertahanan Rakyat Semesta)? Dengan melihat data tentang daftar nama dan alamat makam wali dan auliya di Indonesia, maka di situ terbaca adanya potensi besar tentang ketersediaan sumber daya dan ketangguhan batin para peziarah beserta komponennya. Jumlah makam tersebut sangat banyak dan tersebar merata di Indonesia. Potensi yang besar itu berguna sekali bagi pertahanan semesta dalam kaitannya dengan usaha dan upaya menjaga keutuhan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Kenapa bisa begitu? Begini, sejumlah besar tempat sakral tersebut sempat kami datangi dengan beberapa repetisi ziarah. Di situ kami merasakan adanya suasana kebersamaan dan keteguhan batin peziarah. Mereka dengan mudah saling berkenalan. Kontak verbal baik percakapan transaksional ataupun interpersonal sering terjadi. Mereka merasa telah memiliki apa yang diziarahi. Keterikatan batin mereka yang kuat adalah sebuah proses panjang yang dijalin secara perlahan namun pasti. Proses tersebut telah terjadi di area makam wali secara berkesinambungan serta massal di seluruh wilayah Indonesia.

Hal menarik lainnya yang patut dicermati adalah frekuensi dan kuantitas kunjungan peziarah yang cukup stabil. Makam-makam para wali tersebut tak pernah sepi. Ini layaknya sebuah acara perjumpaan dan perhimpunan akbar yang akan terus terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Sungguh luar biasa!

Potensi besar itu jika kita hubungkan dengan teori dan konsep kajian pertahanan negara akan menghasilkan sebuah hipotesis tentang kekuatan ketahanan nonmiliter yang potensial sekali di tempat-tempat sakral. Kekuatan massanya yang siap sedia untuk digunakan sewaktu-waktu jika diperlukan. Mereka memiliki ikatan batin yang kuat untuk mempertahankan setiap jengkal tanah di area sakral sebagai benteng jika terdesak oleh agresor. Kepercayaan akan karomah wali membuat mereka percaya diri melebihi militer sekalipun. Mereka akan mempertahankan sampai titik darah penghabisan.

Karakter pertahanan semesta adalah mengikutsertakan rakyat sipil menjadi salah satu bagian kekuatan pertahanan negara. Adapun fungsi pertahanan semesta jelas untuk mendukung perang semesta jika diperlukan. Kekuatan dan basis pertahanan rakyat semesta terletak pada persatuan yang diikat kuat untuk saling memiliki dan melindungi. Dan itu sudah tersedia secara massal pasokan bahan bakunya yang berupa kekuatan batin peziarah.

Indonesia adalah negara dan bangsa yang mempunyai daya tarik kuat tersendiri bagi bangsa lain untuk menguasainya. Hal ini disebabkan oleh kekayaan dan potensi sumber daya alamnya yang sangat menggiurkan. Termasuk faktor demografis penduduknya yang besar dan berpotensi tinggi. Untuk menghadapi dan mengatasi berbagai kemungkinan serangan dan gangguan bangsa lain terhadap kedaulatan NKRI, maka dikembangkanlah sebuah konsep pertahanan yang bersifat semesta. Konsep pertahanan itu dinamakan Sistem Pertahanan Rakyat Semesta (Sishanrata).

Perlu digarisbawahi bahwa perang tidak berarti atau tidak harus menggunakan kekuatan bersenjata. Namun juga berkaitan luas dengan upaya mempertahankan keutuhan aspek-aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara agar tetap berjalan lancar dan aman. Awal abad ke-20 adalah tonggak bagi model pertahanan yang bersifat semesta. Termasuk model perangnya bersifat semesta juga.

Konflik bersenjata antar dua negara atau lebih bukan saja terjadi di bidang militer. Namun juga menyangkut setiap aspek kehidupan lainnya. Klasifikasi medan perangpun makin berkembang. Dengan adanya kemajuan teknologi alat utama sistem persenjataan, maka tidak ada lagi pemisahan antara medan perang dengan daerah aman. Semua akan terjangkau serta terpapar untuk ikut serta dalam perang semesta tersebut. 

Perang semesta akan menjadikan seluruh aspek kehidupan menjadi objek perang. Bukan saja terbatas pada kekuatan militer. Namun juga nonmiliter akan merasakan hantamannya. Sedang kekuatan batin yang dimiliki para peziarah adalah rata-rata tidak mau tunduk kepada musuh. Inilah salah satu bahan bakar pertahanan rakyat semesta tersebut. Harus dapat kita manfaatkan sebaik mungkin.

Mari kita tengok suasana batin sebuah peristiwa yang dapat mewakili secara langsung potensi sistem pertahanan semesta ini. Peristiwa tersebut adalah kasus Gubah Haddad di Priok tahun 2010. Walaupun tidak secara keseluruhan dapat mewakili hipotesis ini, peristiwa penggusuran yang terjadi di area makam Habib Hasan bin Muhammad Haddad cukuplah menjadi bukti bahwa pola pengumpulan kekuatan dan pertahanan massal nonmiliter dapat dibangun dari kekuatan batin para peziarah dan pecintanya.

Kekuatan luar yang mengusik area makam akan dengan sendirinya mendapat perlawanan dari potensi kekuatan para peziarah dan pecintanya. Dengan sendirinya area komplek makam tersebut menjadi benteng yang kuat dan tangguh. US Coast Guard Unit (Unit Penjaga Pantai Amerika Serikat) pernah menilai bahwa pelabuhan Tanjung Priok Jakarta adalah pelabuhan laut internasional yang tidak steril. Salah satu penyebabnya adalah lalu lalangnya peziarah makam wali tersebut di atas. Namun sampai sekarang penilaian itu patah di tengah jalan serta tak mampu lagi menjadi bahan bakar provokasi penggusuran.

Contoh lainnya adalah bertahannya komplek makam Sunan Ampel Surabaya saat pertempuran heroik 10 November 1945. Dahsyatnya serangan musuh tak pelak lagi menimbulkan banyak sekali jatuhnya korban jiwa. Gedung-gedung di sekitarnya banyak yang hancur lebur. Namun keajaiban telah terjadi. Komplek makam Sunan Ampel yang tak jauh dari lokasi pertempuran di Jembatan Merah tersebut selamat.

Komponen pendukung lainnya adalah keberadaan masjid di setiap area makam para wali. Meski fungsi utamanya untuk beribadah, masjid bisa digunakan sebagai markas dan tempat pertemuan untuk menyusun strategi perang. Perkembangan strategi perang memungkinkan dilakukannya serangan untuk menundukkan lawan tanpa menggunakan kekerasan. Salah satunya adalah dengan mempengaruhi dan mengubah cara berpikir bangsa yang menjadi target serangan agar sesuai dengan kehendak penyerang. Jadi pertahankanlah area dan komplek pemakaman para wali. Jangan menuruti musuh!

Mempertahankan komplek makam wali peserta komponen yang ada di dalamnya sama halnya dengan membangun kekuatan pertahanan rakyat semesta. Oleh karena itu pemerintah bersama masyarakat harus terus bekerjasama untuk memakmurkan komplek makam wali di seluruh wilayah Indonesia.

Yudho Sasongko merupakan anggota kelompok Pecinta alam Wilderness Lali Jiwo Pasuruan

Leave Comments