PERJUANGAN KIAI SHOLEH DARAT DALAM MENANAMKAN JIWA NASIONALISME DI NUSANTARA

Perjuangan Kiai Sholeh Darat Dalam Menanamkan Jiwa Nasionalisme di Nusantara
Oleh : Nur Koles

Kiai Sholeh Darat Semarang yang populer dipanggil Mbah Sholeh Darat merupakan seorang ulama besar dan wali yang hidup di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ia menjadi ulama, pejuang, pujangga, dan wali karena keluasan ilmunya dan laku kreativitasnya yang tak kenal padam.

Ia juga seorang pejuang yang sangat gigih dalam melawan penjajah melalui strategi kultural. Kealiman dan kedalaman ilmunya dibuktikan dengan perannya sebagai guru para ulama terkemuka di Nusantara.

Nama lengkap Kiai Sholeh Darat adalah K.H. Muhammad Sholeh bin Umar As-Samarani. Ia merupakan putra seorang kiai dan sekaligus pejuang yaitu Kiai Umar yang dikenal sebagaai ulama dan mitra perjuangan Pangeran Diponegoro.

Pada saat terjadinya Perang Jawa pada 1825-1830, yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, Kiai Umar turut bergabung dalam peperangan tersebut. Sehingga sejak kecil jiwa kesatria kiai Sholeh Darat sudah tertanam, dilihat dari perjuangan yang sudah dilakukan oleh ayahnya.

Pengembaraan keilmuan kiai Sholeh Darat dimulai dari ayahnya sendiri, dan dilanjut ke berbagai pesantren di Jawa, sampai pada akhirnya hijrah ke Mekkah untuk mendalami ilmu agama di sana. Gerakan pendidikan Kiai Sholeh Darat ini, kalau secara politik merupakan upayanya untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme.

Meski demikian, di dalam karya-karyanya ia tidak secara terang-terangan mengampayekan ‘nasionalisme’. Sebab perjuangan dan laku kreativitas Kiai Sholeh Darat di Jawa berada dalam belenggu penjajahan.

Selain itu, semangat nasionalisme Kiai Sholeh Darat sebenarnya sudah tertanam sejak dirinya masih kanak-kanak. Pengalaman di masa kanak-kanak ini jelas tidak bisa diabaikan untuk memahami pemikiran gerakannya.

Pengalaman Kiai Sholeh Darat di masa kolonial, baik ketika masih usia kanak-kanak maupun ketika sudah dewasa dan menjadi seorang ulama sepuh di Semarang, telah menjadi bekal nasionalisme yang harus dibangun dengan masyarakat Jawa Tengah.

Kiai Sholeh Darat dalam strateginya membangun semangat nasionalisme kepada masyarakat dan para santrinya melalui pendidikan keagamaan. Sebab di berbagai kitab yang dikarangnya, bukan hanya mengajarkan agama saja, melainkan juga dalam rangka menyemai benih-benih nasionalisme dan perlawanan terhadap penjajah ke dalam jiwa para santri dan masyarakatnya.

Singkatnya, era Kiai Sholeh Darat merupakan masa-masa membangun kesadaran nasionalisme, atau katakanlah era ideologisasi. Pada saat itu, kiai sholeh darat dalam perlawannya terhadap para penjajah melalui pendekatan simbolik, sebuah perlawanan kultural yang tidak menggunakan kekerasan.

Melalui karya-karyanya tersebut, secara tersirat, Kiai Sholeh Darat mengajarkan nilai-nilai nasionalisme dan mendidik masyarakat untuk menjauhi atau membenci kelompok penjajah. Dalam rangka membangun kesadaran anti penjajah ini, Kiai Sholeh Darat menggunakan idiom-idiom keagamaan untuk membangun kesadaran perlunya menjauhi segala bentuk kemaksiatan, termasuk melawan belenggu penjajah.

Di antara ajarannya yang paling fundamental pada saat itu adalah haram hukumnya menyerupai kaum penjajah. Pendapat Kiai Sholeh Darat tentang haramnya menyerupai tata cara hidup orang kafir ada di dalam kitabnya Majmu’atussyari’ah Al-Kafiyah lil Awam. kitab ini berisi tentang dasar-dasar agama (Ushuluddin) yang menyangkut teologi atau tauhid yang diperuntukkan bagi orang awam.

Pemikiran Kiai Sholeh Darat mengenai larangan menyerupai orang kafir, ada di dalam bab tentang kufur. Di dalam kitab tersebut Kiai Sholeh Darat menyatakan :

“Lan dadi kufur maneh wong kang nganggo penganggone liyane ahli Islam, penganggo kang wus tertentu maring liyane ahli Islam kabeh serta atine neqodake baguse iki panggone serta demen atine maring iki penganggo. Lan haram ingatase wong Islam nyerupani panggone wong liya ahli Islam senadyan atine ora demen.”

Artinya : Dan menjadi kufur lagi orang yang memakai pakaian (seperti) kelompok yang bukan Islam, pakaian yang sudah didesain untuk orang non-Islam, serta hatinya yakin bahwa pakaiannya itu bagus dan hatinya juga senang terhadap pakaian tersebut. Dan haram bagi orang Islam menyerupai pakaiannya orang lain yang tidak beragama Islam walaupun hatinya tidak menyukai pakaian tersebut.

Fatwa Kiai Sholeh Darat di atas pada abad berikutnya (abad ke-20), dikukuhkan kembali oleh santrinya yang bernama Kiai Hasyim Asy’ari dan para kiai lainnya, dalam bentuk Resolusi Jihad melawan penjajah melalui organisasi Nahdlatul Ulama.

Apa yang dipersoalkan oleh Kiai Sholeh Darat di atas bukan soal dasi, atau topi semata, melainkan ada sesuatu yang lebih mendasar dan substansial, yaitu prinsip-prinsip dan nilai-nilai kultural. Dalam konteks ini, haram mengikuti tata cara berpakaian orang kafir, sejatinya adalah melawan berbagai bentuk infiltrasi dan dominasi budaya asing ke dalam budaya pribumi.

Hal ini sekaligus sebagai seruan perlunya berpegang teguh dan melestarikan budaya pribumi. Karenanya, melalui pemikiran beliau bisa diketahui bahwa identitas bukan semata-mata persoalan sosial dan budaya, melainkan juga persoalan politik dan ideologi. Kiai sholeh Darat berusaha menarik garis pembatas dalam rangka memberikan penyadaran politik anti kolonial kepada masyarakat.

Sehingga masyarakat Jawa pada kala itu tidak mau tunduk, tidak bersedia diatur dan dikuasai oleh rezim kolonial. Pada akhirnya, semangat perjuangan masyarakat melawan penjajah menjadi berkobar-kobar, demi mempertahankan Bangsa yang tercinta ini. Sesuai apa yang telah diajarkan di dalam ajaran Islam, yakni ‘Hubbul Wathon Minnal Iman’ (Cinta Tanah Air bagian dari Iman).

Demikianlah metodologi dakwah Kiai Sholeh Darat yang penuh kesantunan dan tanpa kekerasan, sesuai apa yang telah diajarankan oleh baginda Nabi Muhammad SAW.

Nur Koles berasal dari Tuban Jawa Timur. Ia merupakan Alumni ponpes Al-Madienah Denanyar Jombang. Saat ini sedang menempuh pendidikan di UIN Walisongo Semarang dan sekaligus belajar di Ponpes Darul Falah Be-Songo.

*)Tulisan ini disarikan dari bukunya Taufiq Hakim berjudul ‘Kiai Sholeh Darat dan Dinamika Politik di Nusantara’, serta dalam Kitab ‘Majmu’atussyari’ah Al-Kafiyah lil Awam’.

Leave Comments