Al-Ittifaq, Pesantren Agribisnis di Lereng Gunung Patuha

Al-Ittifaq, Pesantren Agribisnis di Lereng Gunung Patuha
Oleh: Irpanudin

Jika ada santri yang berwisata ke Kawah Putih di Gunung Patuha, Bandung, sempatkanlah mengunjungi Pesantren Al-Ittifaq, yang berada tidak jauh dari Kawah Putih. Pesantren Al-Ittifaq merupakan pesantren yang terletak di lereng Gunung Patuha, hanya berjarak sekitar 4 kilometer sebelum gerbang utama menuju kawasan wisata Kawah Putih.

Pesantren ini tergolong istimewa karena selain menjadi tempat pendidikan ilmu agama, Pesantren Al-Ittifaq juga menjadi pusat pengembangan pertanian. K.H Fuad Affandi sebagai pengasuh Pesantren Al-Ittifaq, dikenal sebagai tokoh yang tidak hanya berjasa mengembangkan pertanian dalam skala provinsi, melainkan nasional.

Atas jasa-jasanya memajukan pertanian Indonesia beliau tercatat memperoleh penghargaan di berbagai bidang dari 5 presiden Indonesia. Mulai dari Presiden Suharto melalui Penghargaan Tut Wuri Handayani Award, diikuti penghargaan dari Presiden Habibie, Megawati Sukarnoputri dan Soesilo Bambang Yudhoyono. Hingga yang termutakhir adalah penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara 2014 dari Presiden Joko Widodo, sebagai tokoh yang berjasa dalam membangun kemandirian pangan di Indonesia.

Lho,… penghargaan dari K.H Abdurrahman Wahid terlewat? Dalam masa kepresidenan K.H Abdurrahman Wahid K.H Fuad Affandi memang tidak menerima penghargaan. Tapi bukan berarti Gus Dur tidak mengenal K.H Fuad Affandi. Sebagai sesama tokoh NU, Gus Dur dan K.H Fuad Affandi bahkan sudah saling mengenal semasa Gus Dur aktif di PBNU.

Menurut cerita K.H Fuad sendiri, di masa Gus Dur menjadi ketua umum PBNU beliau mendapat motivasi langsung dari Gus Dur untuk menekuni dan mengembangkan pertanian di pesantrennya. Barangkali alasan tidak mendapat penghargaan karena masa kepemimpinan Gus Dur yang terlampau singkat dan prioritas membenahi pemerintahan yang belum stabil pasca reformasi.

Sejarah Pesantren Al-Ittifaq

Menurut sejarah, rintisan Al-Ittifaq bermula sebelum era kemerdekaan. Pesantren Al-Ittifaq dirintis oleh K.H Mansyur pada tanggal 1 Februari tahun 1934 (16 Syawal 1302 H), yang mendirikan pesantren atas restu Kanjeng Wiranata Kusumah, Wedana Ciwidey saat itu. K.H Mansyur memimpin pesantren sampai tahun 1953.

Tiga tahun setelah kondisi negara damai, melalui serah terima kedaulatan Indonesia, pesantren diasuh oleh putranya yang bernama K.H Rifai hingga wafatnya pada tahun 1970. Sedang saat ini, estafet kepemimpinan dipegang oleh K.H Fuad Affandi.

Pada masa kepemimpinan dua generasi sebelumnya, selama puluhan tahun berdiri, Al-Ittifaq menjalankan sistem pendidikan klasik yang tertutup, dengan berbagai (norma) tabu yang tidak boleh dilanggar. Di antara tabu tersebut adalah larangan mendirikan rumah dari tembok, larangan membangun toilet di dalam rumah, larangan belajar huruf latin, larangan menggunakan alat elektronik, hingga larangan bergaul dengan pamong praja atau pejabat pemerintah.

Tabu tersebut bukannya tanpa dasar, melainkan bagian dari pendidikan masa lalu dalam memegang teguh nilai agama dan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Sebagai contoh, larangan mendirikan toilet dalam rumah didasari keyakinan bahwa toilet merupakan tempat setan dan kehati-hatian agar najis tidak terbawa ke dalam rumah.

K.H Fuad Affandi dan Revolusi Pesantren Al-Ittifaq

Pembaharuan yang bersifat revolusioner terjadi saat pesantren berada di bawah pengelolaan K.H Fuad Affandi. Beliau memimpin pesantren setelah menyelesaikan pendidikan di bawah bimbingan K.H Ali Maksum, pengasuh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta.

Didorong keprihatinan K.H Fuad Affandi melihat kondisi masyarakat Ciburial, yang berada di pedalaman dan terbelakang karena menutup diri dari perkembangan dunia luar, K.H Fuad Affandi berinisiatif untuk melakukan beberapa perubahan progresif.

Didirikannya pondok dan bangunan pesantren dari tembok serta pembuatan toilet di dalam bangunan menjadi simbol awal perubahan yang dijalankan K.H Fuad Affandi, dengan harapan membangun lingkungan yang lebih higienis. Kesadaran K.H Fuad Affandi terhadap pendidikan kemudian mendorongnya untuk melanggar tabu untuk tidak boleh belajar tulisan latin dan menuntut ilmu di sekolah umum.

Bahkan tidak hanya mendukung santrinya menuntut ilmu di sekolah umum, Al-Ittifaq sendiri mendirikan sekolah agar santri dapat mendapat pendidikan formal tidak jauh dari pesantren. Saat ini yayasan Al-Ittifaq mengelola lembaga pendidikan dari tingkat Raudhatul Athfal, Diniyah, Tsanawiyah, hingga Aliyah.

Demikian halnya pandangan terhadap penggunaan alat-alat teknologi, K.H Fuad Affandi sangat menganjurkan pemanfaatan teknologi untuk hal-hal positif guna mendukung kemajuan santri, termasuk kemajuan dalam bidang pendidikan.

Lalu imbas dari kebijakan pesantren untuk menjalin hubungan dengan pemerintah, berpengaruh besar menggaungkan nama Al-Ittifaq sebagai pusat agribisnis. Bahkan Al-Ittifaq termasuk pesantren yang sangat aktif menjalin kerjasama dalam bidang pertanian, tidak hanya dengan lembaga pemerintah tetapi juga berbagai lembaga lain.

Berkat kerjasama itu, sebagai lembaga pendidikan tradisional Al-Ittifaq sudah melampaui fungsi sebuah pondok pesantren biasa, yang mendidik santri untuk mempelajari dan mengamalkan ilmu agama serta mengajarkan membaca kitab kuning. Al-Ittifaq adalah juga lembaga ekonomi karena melalui pengelolaan tanah 15 ha yang dimilikinya, Al-Ittifaq menjalin hubungan bisnis dengan berbagai supermarket modern, rumah sakit, hotel-hotel, pasar-pasar induk, dan badan usaha lainnya sebagai penyedia sayuran.

Disamping itu, Al-Ittifaq juga merupakan lembaga pemberdayaan masyarakat, karena menjadi pusat pengembangan model pertanian organik dan melakukan pembinaan terhadap lebih dari 90 orang petani yang tergabung dalam kelompok tani dan ternak di sekitar pesantren. Al-Ittifaq juga berperan sebagai lembaga pelatihan, karena terbuka bagi siapa pun untuk mendapatkan pelatihan mengelola pertanian ramah lingkungan.

Lalu yang paling unik Al-Ittifaq juga merupakan lembaga penelitian, karena selain melakukan pengembangan ilmu pertanian dan telah menjadi obyek dari berbagai penelitian, Al-Ittifaq bekerja sama dalam penelitian dengan perguruan tinggi dan lembaga riset bertaraf nasional hingga internasional. Salah satu di antara lembaga Internasional yang baru-baru ini menjalin kerjasama dengan Al-Ittifaq adalah Japan International Corporation Agency (JICA) dalam upaya pengembangan budidaya Jeruk Dekopon.

Dari awal berdirinya hingga tahun 1970-an pesantren belum memiliki nama resmi, dan hanya dikenal sesuai nama kampung yaitu Pesantren Ciburial. Nama Al-Ittifaq sendiri diberikan oleh K.H Fuad Affandi sekitar tahun 1978, yang bermakna “kerjasama”. Nama tersebut diperoleh dari inspirasi saat K.H Fuad Affandi menonton pertandingan sepakbola.

Menurut pandangan K.H Fuad Affandi dalam sebuah tim sepakbola tidak mungkin dihindari adanya kerjasama yang baik antara setiap pemain, dan pemain dengan pelatihnya, untuk mencapai tujuan sebuah tim sepakbola yaitu kemenangan. “Kerjasama yang baik” itulah yang kemudian menjadi falsafah dasar pondok pesantren, karena juga pada prinsipnya setiap manusia pasti memiliki kebutuhan terhadap manusia lain.

Dikatakan pula oleh K.H Fuad Affandi bahwa Al-Ittifaq merupakan pesantren lintas sektoral yang bernaung di bawah administrasi Departemen Agama, tumbuh di bawah asuhan Departemen Pertanian, berkembang dibantu Departemen Kehutanan, dan maju bersama Departemen Perindustrian.[1] Paradigma yang menggambarkan mengakarnya falsafah kerjasama sebagai ruh pesantren.

Dalam melaksanakan pendidikannya, Pesantren Al-Ittifaq menjadikan materi agribisnis sebagai semacam pendamping keilmuan bagi pendidikan pesantren salaf. Tujuan pelaksanaan kurikulum agribisnis ini adalah upaya mempersiapkan kemandirian ekonomi santri lulusan Al-Ittifaq.

Pesantren Al-Ittifaq dan Pengembangan Agribisnis

K.H Fuad Affandi berpandangan tidak semua lulusan pesantren akan menjadi ulama atau ustadz yang mengajar ilmu agama, sedangkan setiap orang harus memiliki kemandirian ekonomi. Konsekuensinya, seorang santri harus memiliki kecakapan hidup yang akan mereka manfaatkan untuk mencari nafkah. Dalam hal ini Al-Ittifaq membekali santri dengan kecakapan mengelola lahan pertanian terpadu.

Dari dasar pemikiran itulah, K.H Fuad Affandi mempekerjakan santri di unit-unit usaha agribisnis Al-Ittifaq, yang dikelola oleh Koperasi Pesantren Al-Ittifaq. Tujuannya untuk memberikan pengalaman menangani usaha bidang agribisnis. Sehingga santri Al-Ittifaq tidak hanya bisa berteori tentang pertanian atau agribisnis, melainkan memiliki keterampilan untuk menjalankannya. Keterampilan inilah yang nantinya akan digunakan sebagai sarana santri Al-Ittifaq untuk mandiri selepas menyelesaikan pendidikannya di pesantren.

Sebagai sebuah badan usaha agribisnis, Al-Ittifaq memiliki beberapa unit usaha yang bergerak dalam bidang pertanian, peternakan, dan perkebunan. Di bidang pertanian Al-Ittifaq bertanam berbagai sayuran, dengan produk utama Bawang Daun, Kol, Lobak, dan beberapa sayuran lain sesuai permintaan dari mitra usaha.

Di bidang peternakan Pesantren Al-Ittifaq melakukan usaha penggemukan 4 spesies Kambing yang cukup banyak diserap pasar, yaitu dari jenis Priangan, Coss Marino, Ekor Gemuk, dan Domba Garut. Al-Ittifaq sendiri memelihara tidak kurang dari 120 kambing serta beberapa ekor sapi pedaging dan sapi perah dalam jumlah yang lebih sedikit. Jumlah kambing yang dipelihara di mitra ternak sekitar Desa Alamendah juga mencapai lebih dari 100 ekor.

Sementara itu pada bidang perkebunan Al-Ittifaq mengelola sekitar 160 ha kebun kopi, dengan rincian 30 ha kebun kopi milik pesantren dan 130 ha milik warga sekitar yang hampir seluruhnya merupakan alumni Al-Ittifaq.

Karena itu materi pendidikan agribisnis di lini produksi Pesantren Al-Ittifaq didasarkan kepada pelaksanaan usaha di ketiga bidang tersebut. Materi di luar lini produksi adalah materi di bidang marketing, pengolahan pasca panen berupa standarisasi mutu dan pengemasan, pengolahan limbah-limbah pertanian, serta tata niaga usaha pertanian.

Sebagian besar santri salaf Al-Ittifaq berasal dari kalangan tidak mampu secara ekonomi. Santri yang masuk juga berasal dari berragam tingkat pendidikan sehingga penempatan santri ke unit-unit usaha Al-Ittifaq didasarkan pada pendidikan santri yang diperoleh sebelumnya. Meskipun juga tidak dibatasi pendidikan jika individu santri memiliki kemampuan lebih.

Santri lulusan Sekolah Dasar biasanya dipekerjakan di kebun atau kandang, santri lulusan Sekolah Menengah Pertama selain bisa bekerja di kebun dapat juga bekerja di lini pengolahan pasca panen, sementara santri lulusan Sekolah Menengah Atas bisa bekerja di kebun, pasca panen, atau pun ditempatkan di bagian administrasi dan marketing.

Materi pendidikan agribisnis yang diterima santri tidak dilaksanakan di ruang kelas, melainkan berupa pengalaman bekerja langsung di lahan pertanian, kandang atau pengolahan pasca panen. Di tiap kebun atau kandang ditunjuk mandor yang membawahi 5-10 orang orang santri dalam satu kelompok pengelola.

Mandor di Al-Ittifaq tidak hanya menjadi pemimpin atau koordinator pelaksana pekerjaan di lapangan, melainkan juga menjadi sosok pembimbing, guru, dan motivator bagi para santri. Sebagian mandor, selain terdiri dari santri senior juga merupakan ustadz di pesantren. Mandor yang sudah cukup lama mengabdi di pesantren dan mampu untuk mandiri, dengan keinginan sendiri untuk mandiri sebagian biasanya membentuk kelompok sendiri dan membina pertanian di daerahnya masing-masing.

Di lahan pertanian setiap santri belajar segala hal mengenai pengelolaan lahan, dari mulai hal kecil seperti cara memegang cangkul, cara mencangkul yang benar, menanam bibit, melakukan pemupukan, memelihara tanaman, hingga melakukan pemanenan, dari aktivitas yang sehari-hari mereka kerjakan. Mandor, atau seniornya akan memberikan petunjuk pengerjaan di awal mereka masuk dan mengoreksi jika ada kekeliruan saat santri melakukan sesuatu.

Pola pembelajaran yang sama diterapkan pada pemeliharaan ternak. Seorang mandor mengkoordinir beberapa orang santri dalam kegiatan memelihara ternak. Santri yang bertugas memberi pakan akan mengambil rumput, mengumpulkan limbah sayur lalu memotong-motongnya. Santri juga belajar membuat pakan yang difermentasi, dengan penjadwalan pemberian pakannya untuk merangsang nafsu makan hewan, agar hewan tumbuh optimal.

Hewan-hewan yang menderita sakit atau baru saja melahirkan akan ditempatkan pada ruang yang disiapkan secara khusus, seperti fungsi rumah sakit bagi manusia. Interaksi setiap hari dengan hewan mengasah santri untuk sensitif terhadap keadaan hewan dan segera memisahkan, menangani, dan membuat laporan ketika ada hewan yang menunjukkan tanda tidak normal.

Pada pengolahan produk pasca panen, santri diajarkan untuk melakukan pemilahan produk sesuai sasaran pasar produk tersebut. Kegiatan ini dilakukan pada malam hari seusai shalat Isya, untuk pengiriman menuju lokasi penerima pada dini hari.

Di lini pasca panen santri akan belajar untuk mengklasifikasikan produk sayuran sesuai kualitasnya, kemudian melakukan pengemasan sesuai kebutuhan konsumen. Proses pasca panen ini merupakan kunci bagi Al-Ittifaq untuk menembus pasar supermarket modern yang memiliki standar kualitas tinggi untuk setiap barang yang dijualnya. Saat ini Al-Ittifaq memiliki standar penyeleksian terhadap sekitar 126 komoditas yang rutin dikirim ke konsumen, terdiri atas sekitar 110 jenis sayuran, dengan jumlah sisanya berupa buah dan komoditas lain.

Proses pasca panen di Al-Ittifaq dimulai dari sortasi, yaitu pemisahan produk yang bermutu tinggi dengan produk tidak layak jual. Setelah proses sortasi, seleksi akan dilanjutkan langkah kedua yaitu grading.

Proses grading dilakukan dengan membagi produk menjadi beberapa kelas, sesuai mutu dengan harga yang berbeda-beda sesuai kelasnya masing-masing. Setelah diklasifikasikan, produk akan melewati proses ketiga dan keempat yaitu packing dan labeling.

Produk sayuran dengan standar kelas 1 dan 2 yang memiliki mutu prima akan dikemas dan diatur sehingga memiliki tampilan yang menarik, lalu diberikan label sesuai standar konsumen, sebelum dikirim ke supermarket modern, hotel-hotel dan restoran. Sayuran kelas 3 dengan mutu sedang akan dikirim ke pasar induk dan pasar tradisional. Sementara sayuran kelas 4 yang masih baik mutunya, namun tidak memenuhi standar untuk dijual ke pasar, akan dikonsumsi sendiri. Sayuran kelas 5 menjadi pakan hewan ternak, pakan ikan, atau diolah untuk menjadi pupuk organik. Sedangkan proses pasca panen lainnya ada di luar kegiatan teknis, yaitu servicing, berupa usaha memberikan pelayanan terbaik bagi konsumen dengan membangun komunikasi.

Proses pemanfaatan keseluruhan produk pertanian tersebut merupakan falsafah Al-Ittifaq untuk tidak meninggakan sampah sedikitpun. Sebagaimana ajaran K.H Affandi bahwa :

“Tidak boleh ada sejengkal tanah yang tidur, tidak boleh ada sedetik waktu yang nganggur, dan tidak boleh ada secuil sampah yang ngawur”.[2]

K.H Fuad Affandi

Kalimat yang dapat dimaknai bahwa setiap lahan yang ada harus diberdayakan, setiap waktu ada harus digunakan untuk ibadah kepada Allah ﷻ, dan setiap benda, meski benda sisa sekalipun harus diolah untuk dapat dimanfaatkan.

Pada masa awal penerapan pendidikan agribisnis Al-Ittifaq, setiap santri salaf yang belajar di Al-Ittifaq hanya bekerja di bidang yang sesuai dengan minat dan kemampuan mereka. Tetapi seiring berkembangnya santri yang mengikuti pendidikan formal dan menurunnya rasio jumlah santri salaf yang belajar di Al-Ittifaq dibandingkan jumlah santri khalaf, dilakukan kebijakan rotasi. Jadi santri-santri salaf saat ini lebih luas rentang keilmuan agribisnisnya karena bisa belajar bidang pertanian, peternakan, juga pengolahan pasca panen.

Pada lini tata niaga, ada divisi pembukuan dan keuangan, serta divisi marketing atau pemasaran. Divisi pembukuan dan keuangan mencatat seluruh data penerimaan barang dari petani mitra dan catatan penjualannya. Sementara santri yang berperan sebagai tenaga pemasaran bertugas membina hubungan baik dengan konsumen, memberikan informasi, dan menerima keluhan konsumen untuk dilakukan solusi mengatasinya, sesuai dengan prinsip servicing. Hal-hal seperti penagihan keterlambatan pembayaran, pengembalian produk yang tidak layak jual, atau rekonsiliasi data pengiriman produk, juga menjadi tugas pemasaran.

Usaha-usaha pendidikan dan perubahan budaya masyarakat yang digagas K.H Fuad Affandi tidaklah mudah, awalnya pesantren menghadapi resistensi dan penentangan masyarakat Ciburial. Selain mendobrak pantangan, karakter masyarakat dan keengganan menerima hal-hal yang baru menjadi hambatan. Tetapi berkat perjuangan tidak kenal lelah dan strategi pendekatan kultural yang tepat, di bawah kepemimpinan K.H. Fuad Affandi Pondok Pesantren Al-Ittifaq memodernisasi diri dan berhasil mendorong masyarakat dan budaya pertaniannya untuk lebih maju.

Terkhusus melalui aktifitasnya di bidang pertanian organik, Al-Ittifaq mampu menjadi katalis kemajuan budaya pertanian masyarakat di sekitar pondok dan meningkatkan taraf ekonominya. Hasil dari kemajuan dan peran Al-Ittifaq tersebut adalah sebuah pesantren yang berada di tengah pemukiman warga. Tidak menjadi sebuah lingkungan eksklusif dengan pagar tinggi dari besi, melainkan membaur dengan lingkungan sekitar dan menjadi bagian dari lanskap kehidupan sehari-hari warga Kampung Ciburial.

Di tengah kemajuan dan modernisasinya Al-Ittifaq tidak pernah meninggalkan identitas dan tujuan utamanya sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam. Meskipun Al-Ittifaq sendiri sudah memiliki sekolah formal dari berbagai jenjang dan ribuan siswa. Dibarengi segala aktifitas di luar kegiatan mengaji dan pembinaan masyarakat, Al-Ittifaq tetap sebuah pondok pesantren yang mempertahankan sistem pendidikan pesantren salaf (tradisional non ijazah). Dikatakan oleh K.H Fuad Affandi sebagai pendiri dan sesepuh pesantren, sampai kapan pun Al-Ittifaq akan menerima dan mengadakan pendidikan salaf meskipun seandainya tinggal tersisa satu orang santri yang belajar di pesantren.

Bogor, 2 Juni 2019

Penulis adalah alumni Pesantren Mahasiswa Al-Ihya Dramaga, Bogor 2004-2007. Ia merupakan penulis lepas dan guru di salah satu sekolah di Mbrebes. Kini ia tinggal di Studio Foto Anyar Jaya, Jl Raya Klampok No 14 RT 03/07, Klampok – Brebes 52252.


[1] Wawancara dengan pemimpin Pondok Pesantren Al-Ittifaq K.H Fuad Affandi, 8 November 2018.

[2] Kata ngawur berasal dari bahasa sunda yang bermakna: tercerai berai karena tidak berguna

Leave Comments