Biografi TGH Turmudzi Badaruddin, Pengasuh Qomarul Huda dan Mujtahid Intelektual di Lombok

Biografi TGH Turmudzi Badaruddin, Pengasuh Qomarul Huda dan Mujtahid Intelektual di Lombok
Oleh; M. Habib al-Chudori

Peran ulama dan santri dalam pergolakan sejarah pra hingga pasca kemerdekaan Indonesia sangatlah besar. Tidak tanggung-tanggung, peran ini telah dimulai sejak dakwah Wali Songo pada zaman kerajaan-kerajaan hingga perjuangan meraih kemerdekaan. Terutama setelah dikumandangkannya resolusi jihad oleh K.H Hasyim As’ary yang kemudian membakar semangat juang para santri dan kaum Muslimin pada peristiwa perang 10 November di Surabaya melawan penjajah.

Lihatlah kemudian, jauh setelah kemerdekaan telah direngkuh bangsa Indonesia–walaupun terlupakan perbincangan massa–mereka yang telah gugur di medan perjuangan akhirnya dapat beristirahat dengan tenang di tanah air mereka sendiri, Indonesia. Nikmat kemerdakaan itu telah dibayar dengan harga mahal. Jikalau mampu kita menghitungnya, ada berapa juta tetesan keringat dan darah?, berapa ribu nyawa melayang?, berapa ratus gudang kekayaan habis digunakan untuk membela tanah air bumi pertiwi?.

Namun, seiring gilasan arus modernisasi dan  makin hedonisnya generasi milenial jaman now, nampaknya sejarah perjuangan tersebut telah dianggap hanya sebagai dongeng pengantar tidur. Mereka menganggap bahwa perjuangan tersebut hanyalah romantisme kisah heroik masa lalu yang kini telah usang.

Bahkan, monumen perjuangan mereka sudah dianggap hanyalah sebuah patung-patung mati yang kehabisan masa kejayaan. Kiranya, jargon Soekarno dengan JASMERAH-nya kini sudah mulai memudar. Generasi jaman now lebih gandrung dengan jargon-jargon yang didengungkan oleh barat, seperti “Liberty, equality, fraternity”-nya Prancis, atau keabsurd-an “ Human Rights”-nya Amerika yang tendensius bersifat radikal.

Ditengah-tengah gilasan modernisasi yang carut marut itu, tersebutlah perjuangan yang tiada henti dari seorang Kiyai yang berasal dari pulau Lombok bernama TGH. Turmudzi badaruddin, pengasuh sekaligus pembina Yayasan Pondok Pesantren Qomarul Huda. Beliau dengan ikhlas hadir di tengah masyarakat dan menjadi sokoguru umat, terutama di Lombok.

Sebagai seorang ulama, peran-peran keagamaan Turmuzi sungguh cukup memadai, mulai dari urusan-urusan kematian, perkawinan hingga dakwah Islamiyah telah menjadi kegiatan rutinnya yang tidak bisa dielakkan. Hampir setiap ada musibah kematian, beliau selalu tampil, yang tidak saja di desanya, Bagu, juga sudah meluas ke desa lainnya. Begitu juga dengan acara-acara walimah (pesta perkawinan), beliau juga menjadi tokoh sentralnya.

Kehadirannya dalam setiap undangan sangat dinantikan oleh setiap jamaah, walaupun Turmudzi dikenal sebagai tokoh Nahdlatul Ulama dan termasuk dalam bingkai Kiai Khos, tidak pernah sampai memetakan jamaah yang didatanginya sebagai “in group” dan “out garoups” sebagaimana dilakukan oleh sebagian Kiai. Tingkah polah sang Tuan Guru seperti ini yang sangat disukai masyarakat di Lombok, sehingga dalam melakukan dakwahnya dengan cepat diterima masyarakat.

Mahyudin warga masyarakat yang penulis temui menyatakan bahwa keberhasilan dakwah yang dilakukan Tuan Guru tidak lepas dari kebersahajaan, sederhana, memperlakukan jamaah secara sama dan husnu zhon yang tinggi dalam menghadapi setiap perkara, sehingga dapat mempertimbangkan dan memutuskan segala perkara atau permasalahan ummat dengan baik berdasarkan dalil naqli, aqli, bahkan dengan qiyas sekalipun.

Beliau lahir pada tahun 1937 di Desa Bagu, Pringgarata, Lombok Tengah, berayahandakan Ustadz Badaruddin bin Abdul Hakim. Sejak belia, “Turmudzi kecil” memang sudah dipersiapkan oleh orang tuanya menjadi orang besar yang akan mewarisi peran ayah dan buyut-buyutnya sebagai pemuka agama. Maka tak ayal, dengan latar belakang  kondisi lingkungan keagamaan yang kuat dan pendidikan sedemikian ketat dan disiplin, Turmudzi kecil tumbuh menjadi seorang yang memegang teguh dasar ajaran-ajaran agama Islam.

Setelah menamatkan pendidikannya di Pondok Pesantren Darul Qur’an yang dibina oleh seorang ulama legendaris; TGH Shaleh Hambali, Turmudzi muda kemudian melanjutkan pendidikannya di Makkah Al-Mukarromah ( (Fadli, 2011).

Setelah pengembaraan intelektual dirasa cukup, beliaupun pulang dari Makkah. Sejak itu, Ustadz Turmudzi mulai mem-back up  masyarakat pertama-tama dengan melanjutkan pengajaran Al-Qur’an yang sudah dimulai oleh ayahnya.

Kemudian setelah para santri dirasa cukup mahir membaca Al-qur’an beserta tajwidnya, Ustadz Turmudzi menapaki langkah yang lebih atas, yaitu pengajian kitab kuning. Dalam pengajian ini, metodologi yang dipakai oleh beliau adalah metodologi halaqah, yakni sistem pengajaran dimana santri (mutarabbi) langsung bertatap muka dengan guru (murabbi) dalam bentuk lingkaran yang biasanya terdiri dari 12 santri atau lebih, disertai dengan kurikulum yang jelas dan diselengggarakan melalui sarana-sarana pendidikan, seperti kitab dan sebagainya (Nurjamilah, 2014).

Pada taraf ini, konsentrasi pengajaran beliau adalah pada bidang keilmuan nahwu atau gramatikal Arab dan sharf yang mana kedua bidang keilmuan ini menjadi kunci dalam memahami ilmu-ilmu keislaman yang kebanyakan tertulis di kitab-kitab kuning berbahasa Arab.

Beberapa kitab yang beliau ajarkan dalam bidang nahwu diantaranya adalah Matn Jurumiyah karangan Imam As-Sonhaji ( 672-723 H), Muthammimah karangan Imam Ar-Ra’iny, dan kitab Alfiyah karangan Ibnu Malik (600-672 H). Adapun  dalam sharf diantaranya adalah kitab Dhammun karangan Mustafa Saqa (1349 H), yang kemudian dikolaborasikan dengan kitab Al-Awamil karangan Al-Jurjani ( 377-471H), dan Al-Jurumiyah (Fadli, 2011).

Mengingat semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan dakwah keislaman, beliau kemudian memberanikan diri menanggung amanat dakwah tersebut dengan mengadakan pengajian umum. Dalam kajian tersebut, beliau bisasanya membahas masalah yang berkaitan dengan fiqih, aqidah, dan tasawuf yang mana ketiga bidang tersebut sangat urgen dan krusial bagi masyarakat.

Seiring berjalannya pengajian yang beliau berikan, mengingat perkembangan zaman, TGH. Turmudzi kemudian berniat membangun sebuah lembaga pendidikan formal. Hingga pada tahun 1962 berdirilah Madrasah Ibtidaiyah (MI) sebagai batu loncatan yang strategis. Pada tahun 1969 kemudian didirikan madrasah lanjutan yakni Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan pada tahun 1984 berlanjut dengan didirikannya Madrasah Aliyah (MA).

Tak hanya berhenti di situ saja, salah satu prestasi terbesar beliau adalah tercapainya cita-cita  membangun perguruan tinggi. Dimulai dari Sekolah Tinggi Agama Islam Ibrahimy (STAII) bekerjasama dengan Institut Agama Islam Ibrahimy Situbondo yang disahkan dengan penyerahan SK langsung dari Menteri Agama KH. Tholhah Hasan yang kemudian harui berubah menjadi IAI Qomarul Huda. Dilanjutkan dengan pendirian Sekolah Tinggi Ilmu kesehatan pada tahun 2006 dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan pada tahun 2010 (Fadli, 2011).

Hal  yang paling menyentuh hati penulis adalah di usia beliau yang ke-82 tahun, beliau masih berjuang mengajar santri-santrinya dengan tulus dan ikhlas meski kondisi fisik beliau semakin lemah.

Assalamualaika Ya Murobbyna……….Akan selalu kami ingat nasihatmu “Al-Ilmu Lil Amal”.

Penulis bernama M. Habib al-Chudor dari Bilebant. Ia merupakan santri Pondok Pesantren Qamarul Huda Bagu.

Leave Comments