LITERASI KONATIF ALA PONDOK PESANTREN WALI TUNTANG SEMARANG

LITERASI KONATIF ALA PONDOK PESANTREN WALI TUNTANG SEMARANG
Oleh : Yudho Sasongko

Vibrasi dan gaung revolusi industri ke-4 telah membuat sapuan dahsyat di semua lini kehidupan. Salah satunya hempasan terhadap ketahanan literasi bangsa. Ketahanan ini mempunyai peran penting dalam membangun kecerdasan bangsa.

Mencermati pola dan karakteristik sebuah gerakan literasi, saya melihat adanya output hasil interaksinya yang meliputi tiga bagian. Pertama sikap kognitif atau keyakinan dan kesadaran. Kedua sikap afektif yang berhubungan dengan perasaan dan ketiga sikap konatif berhubungan dengan prilaku.

Jelas di sini terlihat perbedaan antara kognitif dan konatif. Karena dahsyatnya output prilaku atau konatif maka lahirlan genre literasi baru. Literasi konatif mempunyai daya gempur dan pertahanan tangguh. Salah satu pondok pesantren yang merintis dan mengembangkan literasi konatif ini adalah Pondok Pesantren WALI (Wakaf Literasi Islam Indonesia) yang terletak di Jalan Mertokusumo, Candirejo, Tuntang, Semarang, Jawa Tengah.

Atmosfer dunia literasi kekinian sangat luas dan membahana hingga dapat diarungi oleh semua literatus (santri). Tak ayal lagi semangat berliterasi berkobar di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Kegagahan literasi kekinian telah menembus hingga tingkat kelembagaan dunia seperti UNESCO.

Lembaga pendidikan dan kebudayaan dunia dibawa naungan PBB itu tertarik hingga merilis pengertian literasi. UNESCO mendedah literasi sebagai seperangkat keterampilan yang nyata, khususnya keterampilan kognitif dalam membaca dan menulis yang terlepas dari konteks dimana keterampilan yang dimaksud diperoleh, dari siapa keterampilan tersebut diperoleh dan bagaimana cara memperolehnya.   

Santri harus bisa produktif menebarkan konten-konten positif di media sosial.” Begitu kata KH. Anis Maftuhin selaku pengasuh pondok pesantren WALI. Pondok pesantren ini mengusung daya gempur literasi konatif sebagai ikon. Beliau juga menambahkan bahwa banyak konten positif dan lebih produktif yang bisa di-create dari literatur kitab kuning pesantren. Tentunya ini merupakan gebrakan di dunia literasi Indonesia.

Banyak kegiatan di pondok pesantren WALI yang mendukung konsep literasi konatif. Diantaranya Ngaji Akbar Jurnalistik yang pernah digelar selama sepekan. Kemudian Seminar Nasional Peranan Kitab Kuning dalam Dinamika Literasi dan Intelektual Islam Indonesia.

Gebrakan lainnya adalah pengembangan metode Tamyiz dalam mendedah kitab kuning. Sebagaimana dikatakan oleh Kyai Munib Sidiq, salah satu pengasuh pondok pesantren tersebut. Beliau mengatakan bahwa metode Tamyiz merupakan metode pembaharuan dengan berbagai inovasi dari metode-metode konvensional nahwu shorof sebelumnya.

Dengan metode ini santri diharapkan mudah memahami dan menyenangkan dalam memahami kitab-kitab kuning. Beliau juga menegaskan agar santri mulai memasyarakatkan ilmu-ilmu dari khazanah kitab kuning untuk menjawab persoalan kontemporer. Dan satu lagi yang tak kalah penting. Beliau mengatakan tentang kalimat yang selalu diulang-ulang ketika acara seninan (suntikan nutrisi untuk semua santri setiap hari senin).

Adapun kalimatnya adalah  ngaji itu penting, bukan yang penting ngaji dan ngaji itu tidak hanya ketika di dalam kelas diatas dampar, tapi setelah keluar kelas, dan beraktifitas. Sungguh dalam sayatan literasi beliau. Salah seorang yang saya kagumi selama ini.

Literasi kritis konatif sangat diperlukan oleh para santri sebagai kekuatan dan keterampilan berkomunikasi serta dalam rangka mendukung karya-karya tulisnya. Seperti tantangan yang diberikan oleh rmi-nu.or.id dan ligasantri.com dalam lomba essai dan artikel konten website. Ini kesempatan bagus bagi para santri untuk mengasah kemampuan literasinya. Mari kita dukung langkah cemerlang ini demi literasi konatif pesantren di Indonesia.

Literasi konatif menitikberatkan pendekatan instruksional kritis teks. Hingga menghasilkan sebuah keputusan prilaku atau konatif. Secara umum dapat dipahami sebagai kemampuan untuk mendorong para pembaca agar bisa aktif menganalisis teks dan juga mengungkapkan pesan yang menjadi dasar argumentasi teks serta mengambil sikap tegas dalam bentuk keputusan prilaku.

Ada sejumlah persyaratan untuk menjadikan literasi konatif ini sebagai jantung dan garda depan sebuah proses edukasi. Pertama, keberadaan pengajar yang memiliki keterampilan berbahasa yang cukup. Kedua pasokan buku-buku. Dan yang ketiga adalah alokasi waktu khusus. Tiap pondok pesantren sudah mempunyai tiga persyaratan dasar di atas. Apalagi sekarang ada program Pustaka Bergerak Indonesia (PBI).

Pustaka Bergerak Indonesia (PBI) adalah jaringan masyarakat madani yang secara sukarela bekerjasama untuk membangun kekuatan dan kemandirian masyarakat lokal dalam menyebarkan bacaan bermutu dan membangun budaya ilmiah, khususnya di wilayah yang sarana perhubungannya masih kurang berkembang. Masyarakat bisa mengirim buku gratis sebanyak-banyaknya lewat PT Pos setiap tanggal 17 setiap bulan.

Program kirim buku gratis melalui PT Pos ini sangat bermanfaat bagi peningkatan literasi anak bangsa. Khususnya bagi anak di daerah terluar, terdepan dan tertinggal (3T) atau daerah perbatasan yang sarana prasana pendidikannya masih sangat terbatas. Ini bisa dimanfaatkan oleh pondok pesantren yang ingin menajamkan mata literasi konatifnya.

Kebudayaan baca-tulis atau literasi adalah ladang persemaian nalar kritis. Santri diupayakan hidup dalam gelimang cinta yang besar terhadap budaya literasi.

Literasi itu tidak hanya mampu dalam hal membaca dan menulis bahan tercetak atau media lainnya. Lebih jauh lagi harus membawa perlawanan bijak. Seperti literasi konatif yang tercium harum mewangi di dalam tulisan Kartini (1879-1904), Door Duisternis Tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang.

Literasi konatif bertolak dari perspektif pedagogi yang kritikal. Literasi konatif dapat digunakan untuk mengupas teks yang berasal dari surat kabar, berita televisi, film, media sosial hingga yang langsung kita dengar, kita lihat di sekitar kita. Berguna untuk menghadapi masyarakat yang sedang dibanjiri oleh informasi sampah, berita bohong, berita palsu, perundungan atau bahkan fitnah keji.

Pembelajaran konatif akan mendorong keharusan seseorang untuk ikut bertanggungjawab dan bersikap terhadap situasi yang terjadi di lingkungan. Serta ikut mengambil bagian secara aktif dalam proses perubahan menuju tatanan masyarakat yang lebih berakhlak.

 
Budaya literasi konatif pada dasarnya tidak mempraktikkan perilaku dogmatis yang kaku dan otoriter. Literasi konatif bukanlah sebuah sikap pasif membiarkan sebuah bacaan, wacana ataupun kejadian yang tak boleh dibantah dan hanya perlu didengar, dilihat serta diikuti saja.

Literasi konatif meminta kita untuk membaca, mendengar, melihat dan berdialog dengan bacaan, peristiwa, kasus yang menggugah pikiran secara aktif hingga pada akhirnya dirangsang untuk mengungkapkan pikiran sendiri. Bisa melalui lisan, tulisan atau apapun bentuknya. Sehingga menghasilkan sebuah sikap, keputusan dan prilaku tegas dalam memandang suatu permasalahan. Salam literasi !

Penulis : Yudho Sasongko, Anggota Kelompok Pecinta Alam Wilderness Lali Jiwo Pasuruan.

Leave Comments