Masa Depan dan Tantangan Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan, Sosial dan Keagamaan

Masa Depan dan Tantangan Pesantren Sebagai Lembaga Pendidikan, Sosial dan Keagamaan
Oleh; Nur Hasan*

Secara historis, pesantren tidak hanya mengandung makna keislaman, tetapi juga makna keaslian Indonesia. Sebab cikal bakal lembaga pesantren sebenarnya sudah ada pada masa Hindu-Budha, dan Islam tinggal meneruskan, melestarikan, serta merombak nilai (keislaman) di dalamnya. Keberadaan pesantren di Indonesia dimulai sejak Islam masuk di negeri ini, dengan mengadopsi sistem pendidikan keagamaan yang telah lebih dahulu berkembang, seperti sistem pendidikan Hindu atau Budha.

Menurut literatur sejarah Islam di Nusantara, pesantren sudah ada sekitar abad ke 13 yang waktu itu hanya sebatas tempat mengaji dan belajar didalam sebuah bangunan kecil seperti gubuk. Baru beberapa abad kemudian, penyelenggaraan pendidikan ini semakin teratur dengan munculnya tempat-tempat pengajian. Bentuk ini, kemudian berkembang dengan pendirian tempat-tempat menginap bagi para santri, yang kemudian disebut pesantren.  

Pesantren adalah bentuk pendidikan keislaman yang awalnya berbentuk kelembagaan informal tradisional, yang masih sangat relevan untuk dipertahankan eksistensinya. Tetapi dengan kenyataan situasi yang terus berkembang, maka pesantren tetaplah perlu menyesuakian diri agar terus dapat dilihat manfaatnya untuk umat. Sebagaimana peran pesantren dalam membentuk kultur budaya bangsa, dimana para alumni pesantren dirasakan perannya di lingkungan masing-masing, baik di tingkat lokal, regional bahkan internasional.

Sebagai sebuah lembaga yang mempunyai karakter khas, pesantren telah diyakini mempunyai peran yang signifikan, tidak hanya sebagai kawah candradimuka bagi ilmu-ilmu keagamaan, pengembangan dan pengendalian sistem moral masyarakat, namun juga sebagai agen transformasi sosial. Peran keagamaan dan sosial yang dimainkan oleh pesantren merupakan sebuah alasan, kenapa sampai sekarang lembaga ini masih eksis dan konsisten. Hal ini dibuktikan bahwa sejak awal munculnya, pesantren adalah sebuah lembaga kultural yang berfungsi menyebarkan dakwah, lokomotif gerakan perlawanan penjajah, sekaligus sebagai penggerak transformasi sosial-politik bangsa Indonesia pasca kemerdekaan dan sebelum kemerdekaan.

Pada masa sekarang, pesantren masih membuktikan kontribusi dan peranannya di atas, produktivitas moral religius dan ketrampilan praksis, yang di kembangkan pesantren kepada para santrinya, telah mampu mewarnai dunia pendidikan dan dinamika pemikiran intelektual di Indonesia dari berbagai aspek. Pesantren saat ini, merupakan aset sosial yang sangat penting bagi bangsa Indonesia ke depan, bukan hanya sebagai sebuah warisan budaya khas local Indonesia, tapi juga sebagai pembentuk karakter serta penguatan moral bangsa Indonesia.

Sejarah panjang berdirinya negeri ini, tidak lepas dari kontribusi pesantren dan para tokohnya dalam mengisi dan mewarnai pola kemasyarakatan yang berbasis agama dan budaya. Pesantren sering kali menjadi anak tiri dari sebuah sitem kolonial dan tirani, di mana pesantren selalu dimarjinalkan oleh sistem-sistem pendidikan barat. Namun hal tersebut tidak mampu membunuh eksistensi pesantren, sebagai agen transformasi moral sosial religious.

Baca juga: Dekolonialisasi Kamu Sarungan, Dari Perang Terbuka Sampai Menolak Celana

Hanya saja nasib pesantren tidak se-setragis yang ada di Turki dan Mesir, sebagaimana yang di ungkapkan oleh Ayzumardi Azra dalam pengantarnya di buku Bilik-Bilik Pesantren karya Nur Cholis Majid. Di mana sistem klasikal yang ada di Turki pada era Musthafa kemal Ataturk, dan Mesir pada era Gamal Abdul Nashir yang membekukan sistem Medresse (Madrasah) dan Kuttab yang ada, dan menggantinya secara massif ke dalam bentuk sistem pendidikan umum. Situasi-situasi sosiologis dan politis yang mengitari pesantren di Indonesia, serta perbedaan-perbedaan tersebut pada gilirannya membuat pesantren mampu bertahan sampe saat ini.

Secara global, ciri-ciri pesantren hampir sama, namun dalam realitasnya terdapat beberapa perbedaan terutama dilihat dari aspek dan subtansi yang diajarkan. Adapun secara garis besar, ada dua tipologi kelompok pesantren yaitu pesantren salaf (tradisional) dan khalaf (modern).

Pesantren salaf merupakan sebuah pesantren yang masih tetap berpegang teguh pada sistem pendidikan klasikal, seperti sorogan—kajian yang dilandasi dari permintaan seseorang atau beberapa orang santri kepada kyainya untuk diajarkan kitab-kitab tertentu–, sistem dan model seperti ini memberikan tugas pada santri untuk mampu membacakan teks arab beserta tarkibnya (struktur gramatikal), serta arti yang dikandungnya di setiap kata. Dari sinilah, santri dituntut untuk mengerti apa yang dibacanya, dan mampu menjawab jika ditanya.

Selanjutnya adalah sistem wetonan/bandongan–pengajian yang diinisiasi oleh kyai sendiri, baik dalam menentukan tempat, waktu, maupun lebih-lebih kitabnya–, serta mempertahankan kitab-kitab klasik Islam atau dalam istilah populernya ‘’kitab kuning‘’ sebagai bahan pengajaran di pesantren. Serta masih menggunakan metode tradisional, seperti hafalan, memberikan makna kitab-kitab di dalam berlangsungnya proses belajar mengajar.

Dalam pesantren salaf, peran seorang kyai atau ulama sangat dominan, dimana sosok kyai menjadi sumber referensi utama dalam sistem pembelajaran. Dari sinilah muncul istilah ‘’Ngalap Barokahe Kyai ‘’, serta istilah sanad yang merupakan sebagai sebuah tolok ukur rantai dan kualitas keilmuwan seorang ulama. Oleh karena itu, pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan, sangat diperhitungkan dalam mempersiapkan kader-kader ulama dan pemimpin bangsa di masa depan, sekaligus sebagai benteng utama dalam memfilter dampak negative dari kehidupan modern. Maka tidak salah semboyan Revolusi Mental, banyak kalangan yang mengkaitkannya dengan kalangan pesantren, karena dengan pesantrenlah revolusi mental itu akan ada, atau justru sudah ada sejak dulu.

Beberapa pesantren seperti pesantren Sidogiri Pasuruan, Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Lirboyo Kediri, Pesantren Ploso Kediri, Pesantren Al Anwar Sarang, Pesantren MIS, Pesantren MUS Sarang, Pesantren Mambau’ul Ulum Pakis dan pesantren salaf lainnya merupakan beberapa contoh pesantren yang menggunakan system klasikal murni, di mana di dalamnya tidak ada tambahan kurikulum umum. Namun secara sistematis mengajarkan bidang keagamaan yang runtut, misalkan di dalam cabang ilmu fiqh yang dimulai dari kitab fiqh paling awal yaitu Safinatus Shalah, kemudian Safinatun Najah, Fathul Qorib, Fathul Mu’in, dan Fathul Wahab. Begitu juga di bidang ilmu Ushul Fiqh, Tauhid, Tasawuf ataupun Nahwu dan Shorof. Kebanyakan pesantren yang menggunakan metode ini cenderung menutup diri dari modernitas dunia luar, karena lebih menekankan pendalaman kesuatu kajian bidang ilmu fiqh, tasawuf, dan alat.

Pola seperti ini membentuk karakter berfikir para santri pesantren salaf menjadi seorang yang mumpuni dalam suatu bidang, serta mampu menguasai literature Islam berbahasa Arab dalam berbagai disiplin ilmu agama. Dan menguasai gramatika bahasa arab, seperti nahwu, shorof, balaghoh, mantiq secara mendalam. Oleh karenanya ilmu-ilmu tersebut dipelajari serius dan menempati porsi cukup besar dalam kurikulum pesantren salaf, selain fiqh Syafi’i.

Namun disisi lain, para santri dari pesantren-pesantren salaf cenderung lambat dalam merespon arus modernisasi, kebanyakan cenderung tekstual serta terlihat tradisionalis dan lemah dalam aspek literasi, karena terlalu rapat menutup diri dari modernitas zaman. Walalupun demikian, output yang dihasilkan oleh pesantren salaf murni, mempunyai kelebihan dalam Akhlakul Karimah dan berpijak teguh pada nilai-nilai luhur agama Islam, para santri mempunyai rasa ta’dzim kepada kyai dan para seniornya, serta tidak mengenal strata sosial, mampu hidup mandiri, demokratis, saling bekerja sama, dan keberanian akan hidup dan mampu memahami secara mendalam literatur-literatur Arab klasik.

Seadangkan bagi pesantren modern, dalam praktiknya tidak terlalu banyak mengajarkan kitab-kitab Islam klasik. Mereka membuat panduan yang diambilkan dari kitab-kitab klasik tersebut, serta materi ajar yang campuran antara pendidikan ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Porsi seperti ini menjadikan para santrinya lemah dalam segi fondasi keagamaan, baik itu dari segi fiqh ataupun tauhidnya, maka sering kita melihat para alumni pondok modern ketika bersinggungan dengan kelompok-kelompok Islam, entah itu dari esktrim kanan ataupun kiri, terlihat terombang-ambing. Karena pada dasarnya mereka memang kurang dalam fondasi keagamaannya, hal ini juga yang menjadikannya mudah di masuki doktrin-doktrin radikal, walaupun hal tersebut lagi-lagi kembali ke individual masing-masing dan lingkungan, di mana santri tersebut setelah lulus dari pesantren.

Pesantren modern sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, mampu melahirkan santri santri yang berwarna-warni, mulai dari yang condong ke kiri ataupun yang ke kanan. Pola pembelajaran yang diajarkan oleh pesantren modern, mencetak santri yang pintar dalam percakapan bahasa arab, namun kemampuan dalam menguasai literatur kitab kuning dan kemampuan membaca kitab gundul kurang, serta kurang juga dalam memahami tafsir Al-Qur’an, fiqh, ushul fiqh dan ilmu gramatika bahasa Arab.

Maka beda antara pesantren salaf dan pesantren modern, pesantren salaf mencetak santri yang kompeten dalam bidang fiqh, tasawuf ataupun aqidah dan ilmu alat. Sehingga ketika keluar dari wilayah pesantren dan bersinggungan dengan kelompok-kelompok ekstrim Islam, mudah menyikapinya dan tidak terbawa arus pemikiran kelompok-kelompok tersebut. Walapun memang terlihat tekstual dan ortodoks dalam menyikapi modernisasi, namun para santri hasil didikan pesantren salaf mempunyai data dalam merespon modernisasi dan radikalisasi, meskipun kadang terlihat ketradisionalannya. Sementara pondok modern, yang memang kurang intensif dalam penekanan ilmu keagamaan dalam kurikulumnya, menjadikan para santrinya netral, serta mudah terbawa arus pemikiran yang berkembang. Namun berani tampil di luar dengan percaya diri. Hal ini juga yang membedakan secara kentara antara pesantren salaf dan modern, dimana pesantren salaf yang menjunjung tinggi konsep ‘’Ngalap Barokahe Kyai‘’ menjadikan santrinya tawadhu, sedangkan pesantren modern yang menerapkan system ketat terhadap peraturan, menjadikan santrinya takut kepada peraturan daripada kyai, sehingga di pesantren modern jarang ada ada istilah ‘’Ngalap Barokahe Kyai’’ karena memang santri tidak sebegitu intensif bertemu dengan kyainya. Namun argument-argument seperti ini tidak selamanya benar, dan juga sebaliknya.

Namun pengelompokan yang penulis sebut diatas perlu di uraikan lagi, mengingat perkembangan pesantren yang begitu pesat akhir-akhir ini. Dr. H. Babun Suharto, SE,. MM dalam bukunya yang berjudul ‘’Dari Pesantren Untuk Umat’’, terbitan Imtiyas, Surabaya 2013. Mengelompokkan pesantren menjadi 5 kelompok;

Pertama pesantren salaf yang mana telah dijelaskan di atas

Kedua pesantren semi berkembang, yang di dalamnya terdapat system pendidikan salaf dan system madrasah swasta dengan perbandingan kurikulum 90% agama 10% umum.

Ketiga adalah pesantren berkembang, yaitu sama dengan pesantren semi berkembang namun hanya saja lebih variatif dengan perbandingan 70% agama dan 30% umum.

Keempat adalah pesantren modern yang sudah penulis singgung di atas.

Kelima yaitu pesantren ideal, pesantren sebagaimana pesantren modern hanya saja pendidikannnya lebih lengkap dalam bidang ketrampilan yang meliputi teknik, perikanan, dan lain-lain dengan tetap memperhatikan kualitas dengan tidak menggeser ciri khas pesantren.

Meskipun demikian, semua perubahan-perubahan yang ada, sama sekali tidak menghilangkan pesantren dari akar kulturnya. Karena secara umum pesantren masih berfungsi sebagai lembaga yang mentransfer ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu sosial, Islamic values (nilai-nilai Islam), serta lembaga keagamaan yang melakukan control sosial dan lembaga keagamaan yang melakukan rekayasa sosial.

Pesantren Di Tengah Modernitas Kehidupan Sosial

Pada awalnya posisi pesantren di Indonesia memang cukup positif untuk melindungi umat dari terkaman rekayasa ideologi penjajah, banyak ulama besar Islam lahir dari kalangan pesantren masa itu karena kemurnian ajaran, kualitas keilmuan. Namun dalam perjalanan sejarah peradaban manusia yang begitu cepat, pesantren secara bertahap kehilangan kemampuan sosialnya, itu semua karena mereka tetap saja berada pada lingkup yang kecil padahal arus teknologi maju dengan amat pesatnya.

Belakangan reputasi pesantren tampaknya dipertanyakan oleh sebagian masyarakat muslim Indonesia, karena mayoritas pesantren terkesan elitis, jauh dari realitas sosial bahkan ada yang menyebut alumninya kalah Islami dengan kelompok hijrah. Ditambah lagi, problem sosialisai dan aktualisasi ini dengan problem keilmuan, diantaranya terjadinya kesenjangan, alienasi (keterasingan) dan differensiasi (pembedaan) antara keilmuan pesantren dengan dunia modern. Sehingga lulusan pesantren kalah bersaing atau tidak siap berkompetensi dengan lulusan umum dalam urusan profesionalisme di dunia kerja. Belum lagi dunia pesantren yang dihadapkan kepada masalah-masalah globalisasi, yang dapat dipastikan menjadi tanggung jawab yang berat bagi pesantren.

Perlu disadari, bahwa seiring berjalannya waktu, tantangan dunia pesantren semakin besar dan berat. Berpijak dari sini, pesantren sebagai lembaga Tafaqquh Fiddin haruslah bertransformasi, agar tetap survive di tengah terkaman zaman modern dan globalisasi. Karena pada dasarnya agama Islam mengajarkan pembaharuan, agar Islam selalu Sholih Fi Kulli Makan wa Zaman. Maka perlu direnungkan kembali paradigma ‘’Mempertahankan warisan lama yang masih relevan dan mengambil hal terbaru yang lebih baik‘’. Maka dari itu, pesantren harus cerdas untuk merespon problem kekinian dengan pedekatan-pendekatan kontemporer. Namun disisi lain, modernitas yang menurut beberapa kalangan harus segera dilakukan oleh kalangan pesantren, ternyata berisi paradigma dan pandangan dunia yang telah merubah cara pandang lama terhadap dunia itu sendiri dan manusia.

Dalam konteks dilematis ini, pilihan terbaik bagi insan pesantren adalah mendialogkannya dengan paradigma dan pandangan dunia yang telah diwariskan oleh generasi pencerahan Islam. Bahwasanya pesantren perlu memosisikan warisan masa lalu sebagai teman dialog bagi modernitas dengan segala produk yang ditawarkannya, maka dari itu pesantren harus membaca khazanah lama dan baru dalam frame yang terpisah. Dengan menghadirkan warisan lama pesantren dan dihadapkan dengan masa kekinian.

Bisa jadi warisan lama tersebut terkesan basi, namun tidak menutup kemungkinan masih ada potensi untuk dikembangkan pada masa sekarang atau bahkan masa depan. Sebenarnya sekarang ini telah berlangsung proses dialektika antara tradisi dan modernitas, terutama dilingkungan pesantren yang masih kuat mengusung tradisi. Oleh karena itu, pesantren tersebut pada masa yang akan datang bukan tidak mungkin menjelma menjadi sebuah institusi yang dapat diandalkan baik itu di bidang ilmu agama ataupun ilmu pengetahuan.

Oleh karena itu, penting bagi pesantren sebagai sebuah lembaga Tafaqquh Fiddin untuk  melestarikan dan memodifikasi paradigma;
‘’Mempertahankan warisan lama yang masih relevan dan mengambil hal terbaru yang lebih baik‘’ kalau perlu malah mengkreasi hal baru tersebut menjadi lebih baik.

Hal ini tidak lain, sebagai bentuk adaptasi pesantren terhadap perkembangan di era globalisisasi, agar pesantren tetap eksis dan relevan. Serta sebagai upaya untuk memperbaiki kelemahan dalam sistem pendidikan yang dipakai oleh pesantren. Walaupun tidak semua pihak sepakat akan hal ini, setidaknya perbedaan dalam hal ini sangat memberikan manfaat bagi kalangan pesantren. Karena hal ini mampu melahirkan banyak pesantren yang bervariasi, dengan banyaknya pesantren yang memiliki ciri khas masing-masing, akan memberikan banyak pilihan kepada para santri dalam menentukan pesantren yang sesuai dengan bakat, minat, serta cita-citanya.

Dengan lahirnya pesantren yang beraneka ragam, serta santri yang berwarna-warni di dalam berbagai aspek dan bidang, akan mengubur paradigma bahwa santri hanya mampu di bidang agama saja, karena saat ini banyak sekali santri yang ahli di bidang umum. Karena pada dasarnya agama bukan hanya antara hukum halal dan haram, bukan hanya ilmu hukum-hukum syariat saja, namun juga ilmu ilmu pengetahuan umum yang lainnya.

Semua ini tidak lain hanyalah agar pesantren mampu mencetak santri kompeten dalam ImtaQ dan Iptek, serta melahirkan kader-kader bangsa sebagai insan yang memahami agama secara mendalam baik secara teori maupun praktek, sehingga bisa berperan aktif dalam  kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan semangat ketuhanan yang luhur dan terpuji sebagaimana dicontohkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW. Agar selalu mengawal dan menjaga Keutuhan Negara Republik Indonesia.

*Penulis adalah alumnus Pesantren Mathali’ul Falah, Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah. Dan Alumnus Islamic Studies International University of Africa, Sudan. Sekarang Sedang Menempuh Pendidikan Pascasarjana di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Akun Media Sosial Fb; نور حسن    Twitter; @nurhasannn   IG; noer_hast

Leave Comments