PERJALANAN DAN PERKEMBANGAN PESANTREN PEDESAAN DALAM MENGHADAPI TANTANGAN ZAMAN

Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’

PERJALANAN DAN PERKEMBANGAN PESANTREN PEDESAAN DALAM MENGHADAPI TANTANGAN ZAMAN
(Potret Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ Desa Kertajaya Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat)

Oleh ; Yuyus Citra Purwida*

Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ memiliki peran cukup besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Walaupun kebanyakan pesantren dikenal sebagai institusi pendidikan berbasis agama, namun pada saat ini Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ sudah mengembangkan bidang pendidikan umum. Hal ini didukung oleh keberadaan program Kejar Paket A, paket B dan Paket C yang tidak hanya diperuntukan bagi santri tapi juga anak-anak putus sekolah di desa sekitar pesantren. Sedangkan, tutor yang mengajar di masing-masing kelas adalah santri senior yang memiliki kemampuan, baik dalam penguasaan materi pelajaran maupun metode pengajaran.

Sistem pondok yang diterapkan di pesantren mendidik para santrinya untuk selalu disiplin. Kegiatan para santri telah terjadwal dengan baik sehingga apabila terjadi pelanggaran maka santri akan mendapat hukuman. Hukuman tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemampuan santri, karena biasanya hukuman yang diberikan adalah menghafal ayat-ayat dan hal lainnya yang bermanfaat.

Tidak hanya bagi santri, pesantren juga turut serta dalam meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat desa. Hal ini dibuktikan dengan adanya kerjasama antara pesantren dengan pihak pemerintahan desa dalam program peningkatan pendidikan masyarakat. Kerjasama ini dapat terjadi karena pihak desa mengetahui bahwa pesantren memiliki fasilitas yang memadai seperti gedung Wajar Dikdas, bahkan laboratorium komputer yang sudah memiliki jaringan internet.

Kalau dicermati, alasan masyarakat tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan adalah keterbatasan ekonomi. Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut pesantren membuka peluang kepada masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah agar dapat tetap bisa mengenyam pendidikan secara gratis. Tidak sedikit santri yang belajar di pesantren namun mereka tidak usah memikirkan masalah biaya. Biasanya mereka mengabdikan diri mereka melalui bekerja di berbagai bidang usaha milik pesantren.

Selain itu tidak sedikit santri alumni yang juga mendirikan lembaga pendidikan lain sebagai bentuk kepedulian terhadap peningkatan kualitas pendidikan masyarakat. Di Desa Sindangjaya terdapat Pondok Pesantren Al-Huda yang didirikan oleh alumni Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’, namun pesantren ini mengkhususkan bidang pendidikan pada tingkat dasar yang diperuntukan bagi anak-anak usia dini.

Guna pengembangan kelembagaan pendidikan, Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ menjalin kerjasama dengan International Center for Islam and Pluralism (ICIP) dengan dibantu oleh Ford Foundation. Melalui kerjasama ini diadakan Program Pendidikan Jarak Jauh Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT-Information & Communications Technology). Tujuannya adalah mewujudkan komunitas pesantren yang akrab dengan dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi untuk pencerahan peradaban Islam yang inklusif, humanis, terbuka, dan berorientasi ke masa depan serta mengukuhkan pesantren sebagai agen perubahan yang dapat memberi pencerahan dan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Pengembangan kelembagaan dalam bidang ekonomi adalah Unit Simpan Pinjam (USP) yang dikelola oleh Koperasi Pondok Pesantren (KOPONTREN) yang terbuka bagi masyarakat desa, namun sasaran utamanya adalah masyarakat yang sudah memiliki usaha maupun masyarakat yang belum memiliki usaha namun ingin memulai usaha. Pinjaman yang diberikan adalah minimal sebesar 500 ribu rupiah dan maksimal 3 juta rupiah. Jangka waktu pembayaran maksimal 3 tahun. Selain sebagai upaya membantu masyarakat dalam permodalan, hal ini juga dilakukan untuk mencegah masyarakat meminjam kepada koperasi milik misionaris yang ada di Desa Kertajaya. Dalam pengembangan kelembagaan ekonomi, strategi yang dilakukan adalah melalui kerjasama dengan pihak luar dalam hal ini pesantren memiliki kerjasama dengan Bank Syariah Mandiri untuk lebih memperlancar pengadaan kredit lunak untuk masyarakat.

Berangkat dari keyakinan bahwa Allah SWT melimpahkan karunia kepada semua makhluk diantaranya tanah, air, dan beragam tumbuhan dan hewan yang semuanya diperuntukkan untuk kepentingan manusia. Maka pesantren berupaya untuk memanfaatkan apa yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT untuk kepentingan seluruh umat. Pesantren memilih bidang agribisnis untuk lebih mengoptimalkan seluruh potensi tersebut. Pesantren memilih mengembangkan agribisnis karena berangkat dari asumsi bahwa segala kebutuhan manusia berasal dari pertanian dan dari keyakinan bahwa jika manusia sering berinteraksi dengan tanah maka umurnya akan cenderung lebih panjang karena manusia diciptakan
dari tanah sehingga apabila manusia lebih sering berinteraksi dengan tanah yang merupakan asal muasalnya niscaya manusia akan panjang umur. Pondok Pesantren Al-Musri sendiri memiliki lahan sekitar tujuh hektar, yang harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan seluruh umat.

Selain itu, guna menambah jumlah lahan pesantren menjalin kerjasama dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Pesantren menyewa lahan non produktif milik PLN dengan biaya sewa sebesar 600 ribu rupiah per tahun. Lahan ini dimanfaatkan untuk menanam pakan sapi dan juga untuk perkebunan.

Selain itu, sebagai bentuk keprihatinan kepada Indonesia sebagai negara agraris, namun justru terancam krisis pangan. Mengingat juga belum berhasilnya upaya pemberdayaan dan penanggulangan kemiskinan yang telah dilaksanakan oleh pemerintah, seperti penyediaan kebutuhan pangan, pelayanan kesehatan dan pendidikan, pembangunan pertanian, pemberian dana bergulir, pembangunan sarana dan prasarana umum dan pendampingan–dikarenakan kebijakan program yang selama ini dilakukan merupakan kebijakan dari pemerintah pusat (top down)–, di mana kebijakan tersebut mempunyai banyak kelemahan yang perlu dikoreksi secara mendasar (Maulana, 2007). Oleh karena itu pesantren merasa perlu untuk memulainya dari lingkungan mereka sendiri.

Melalui pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan kelembagaan ekonomi inilah diharapkan masyarakat desa tidak lagi berbondong-bondong pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Masyarakat desa diupayakan untuk menggali dan memaksimalkan potensi sumberdaya alam yang ada di desa. Karena selama ini roda perekonomian masih terpusat di kota sehingga menarik masyarakat desa untuk selalu datang ke kota untuk mencari peruntungan.

Program agribisnis diperuntukan bagi santri dan masyarakat sekitar. Pesantren menaruh perhatian pada masyarakat sebagai upaya ikut berperan serta terhadap pemberantasan kemiskinan. Program agribisnis antara masyarakat dan santri sebenarnya memiliki perbedaan orientasi. Bagi santri program agribisnis merupakan sarana pelatihan sedangkan bagi masyarakat program agribisnis merupakan sarana peningkatan pendapatan dalam rangka perbaikan ekonomi keluarga.

Unit-unit pertanian yang ada di pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ antara lain sebagai berikut:

1. Pertanian sawah

Pertanian yang saat ini dikembangkan adalah padi sawah, lahan sawah letaknya cukup jauh dari pesantren. Hal ini dikarenakan lahan milik pesantren tidak terpusat pada satu tempat. Jenis padi yang dibudidayakan adalah jenis IR dan Ciherang. Lahan pertanian sawah ini ada yang digarap oleh masyarakat, sasaran yang menjadi prioritas adalah masyarakat golongan ekonomi menengah kebawah.

2. Perkebunan

Perkebunan dikelola oleh santri yang merupakan santri-santri terpilih yang memiliki keuletan dan memiliki pengetahuan tentang bidang perkebunan. Lahan yang dipakai untuk perkebunan adalah sekitar 400 bata. Tanaman yang dibudidayakan di Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ adalah tomat, kedelai, singkong dan kacang tanah. Tanaman ini ditanam dengan sistem rolling tergantung musim. Hasil dari perkebunan biasanya dipakai untuk memenuhi kebutuhan santri dan jika bersisa akan dijual kepada tengkulak. Hasil dari sekali musim tanam tomat saja dapat menghasilkan sebanyak 1 ton.

Perkebunan pada saat ini masih lebih banyak melibatkan santri, pesantren pernah melibatkan masyarakat namun tidak berlangsung lama. Hal ini karena lahan yang dibuat untuk perkebunan belum terlalu luas dan dengan alasan masih tersedia tenaga santri yang bisa dioptimalkan.
3. Peternakan

Peternakan yang saat ini dikembangkan oleh pesantren adalah peternakan sapi, domba dan peternakan bebek. Pada unit ini melibatkan masyarakat dan santri. Santri memelihara hewan yang ada di lingkungan pesantren dalam hal ini peternakan bebek dan sapi. Santri memelihara bebek setiap hari dengan memberi makan pada setiap pagi dan sore dan mengganti air minum pada tengah hari. Saat ini bebek yang dimiliki oleh pesantren berjumlah 200 ekor.

4. Perikanan

Pesantren memiliki dua jenis bidang perikanan yaitu kolam darat dan kolam jaring apung (KJA). Perikanan kolam darat dimulai sejak tahun 1999 sedangkan untuk KJA baru dimulai pada tahun 2006. latar belakang dibuatnya KJA adalah karena permintaan dari masyarakat yang berada di sekitar Desa Calingcing yang letaknya lebih dekat dengan waduk Cirata. Mereka merupakan masyarakat yang sudah menjadi konsumen tetap pesantren dan jika harus pergi ke kolam darat yang letaknya dekat dengan pesantren yang letaknya cukup jauh dengan mereka. Untuk itulah dibuat KJA agar masyarakat tersebut aksesnya lebih dekat.

Pada awal dibuatnya KJA yang dimiliki oleh pesantren hanya berjumlah empat petak namun karena usaha ini terus mengalami kemajuan saat ini KJA yang dimiliki oleh pesantren sudah berjumlah delapan petak dengan ukuran 6×6 m2 per petaknya. Sedangkan untuk perikanan kolam darat pesantren memiliki 10 kolam yang letaknya dekat dengan pesantren.

Ikan yang dibudidayakan di kolam darat adalah ikan lele, gurame, nila, ikan mas dan saat ini akan mencoba membudidayakan ikan bawal. Sedangkan untuk ikan budidaya di KJA adalah ikan nila gif dan nila super blue. Ikan nila super blue memiliki keunggulan dibandingkan dengan ikan nila lainnya, hal yang membuatnya lebih unggul adalah ukuran ikannya yang lebih besar.

Konsumen KJA dan kolam darat adalah masyarakat yang menggunakannya
sebagai konsumsi rumah tangga maupun untuk dibudidayakan kembali. Masyarakat yang membeli utnuk dibudidayakan kembali biasanya membeli benih ikan dengan harga Rp. 200.000,- per liternya. Sedangkan untuk mereka yang membeli ikan untuk konsumsi, harga ikan adalah Rp.8000,- perkilonya.

Pada bidang perikanan, pesantren memiliki kerjasama dengan pihak BPTP (Balai Pengembangan Teknologi Perikanan), kerjasama tersebut berupa kerjasama dalam hal teknologi jantanisasi ikan. Jantanisasi dilakukan agar ukuran ikan yang dihasilkan lebih besar. Kelembagaan pertanian yang dikembangkan adalah:

  • Sistem bagi hasil, pada pertanian sawah pesantren melibatkan masyarakat untuk menggarap lahan pesantren. Hasil pertanian yang dihasilkan akan dibagi sesuai sistem syariah sehingga kedua belah pihak tidak merasa dirugikan. Bagi hasil ini dilakukan setelah dipotong oleh biaya produksi.
  • Sistem maro, pada bidang peternakan pesantren mempercayakan hewan yang dimiliki untuk dipelihara oleh masyarakat terutama masyarakat golongan ekonomi menengah ke bawah. Sistem maro yang dimaksud adalah misalkan domba tersebut beranak dua maka bagi hasil antara pesantren dan masyarakat adalah setengah-setengah sedangkan jika domba tersebut beranak dua maka bagi hasil antara pesantren dan masyarakat adalah satu-satu dan begitu seterusnya.

Strategi yang dilakukan pesantren dalam pengembangan kelembagaan pertanian adalah melalui pemberdayaan santri dan masyarakat desa. Pemberdayaan santri dan masyarakat ini dilakukan dengan tujuan  mengoptimalkan potensi dan sumber daya yang ada, selain itu juga agar semua pihak merasa ikut serta dalam perubahan.

Peran pesantren dalam perbaikan akhlak masyarakat dilakukan melalui pengembangan kelembagaan pengajian. Pengajian ini dilakukan rutin setiap minggunya sebagai ajang pembinaan akhlak dan moral masyarakat desa. Pengajian merupakan perkumpulan informal yang bertujuan untuk mengajarkan dasar-dasar agama pada masyarakat umum. Sehingga, pengajian sangat vital sekali sebagai upaya islamisasi terhadap massa (Horikoshi, 1987). Pada pengajian ini para ustadz menunjukkan dalil dalil al-quran kemudian menghubungkannya dengan persoalan-persoalan dunia yang kerap kali dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, baik mengenai persoalan keluarga maupun persoalan masyarakat.

Masih Menurut Horikoshi (1987) bagi masyarakat awam pengajian memiliki fungsi yang berbeda, yaitu : Pertama, pengajian merupakan amal kebaikan karena ulama mendorong agar mereka mencari ilmu agama sebanyakbanyaknya, sebab ganjaran untuk beramal saleh adalah lebih besar dibanding sekedar sembahyang; kedua, berfungsi sebagai upaya meningkatkan kembali firman-firman Tuhan yang sudah terlupakan, dan ketiga, untuk bermasyarakat dengan jamaah lain bahkan yang lebih khusus mengadakan silaturahmi dengan ulama yang dikagumi dan dihormati.

Pengajian di Pondok Pesantren Miftahulhuda Al-Musri’ tidak hanya membahas masalah hal tersebut di atas saja bahkan kadang masyarakat yang menggarap lahan atau memelihara hewan milik pesantren mengutarakan hal-hal yang mereka perlukan berkaitan dengan itu pada acara pengajian tersebut. Misalnya mereka memerlukan pupuk atau bahkan mengutarakan masalah apapun yang sedang mereka hadapi.

Strategi yang dilakukan dalam pengembangan kelembagaan pengajian ini adalah melalui penyebaran santri senior pada setiap mesjid dan mushola diseluruh penjuru desa selain itu pengajian juga dilakukan rutin setiap minggunya di mesjid pesantren. Pengajian untuk laki-laki diadakan setiap hari senin pagi dan pengajian bagi perempuan diadakan setiap hari jum’at pagi. Pengajian bagi laki-laki yang diadakan di mesjid pesantren biasanya diisi oleh dewan kiai sedangkan bagi perempuan yang memberikan materi biasanya adalah para istri dewan kiai.

*Penulis adalah Tenaga Pengajar di SMA N 1 Ngadirojo Pacitan

Leave Comments