Pesantren dan Pembangunan Masyarakat : Analisis Panca Kesadaran Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid

Nurul Jadid

Pesantren dan Pembangunan Masyarakat : Analisis Panca Kesadaran Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid
Oleh : Imron Sadewo*

Sering orang menggambarkan pesantren sebagai Lembaga tradisonal-konservatif, anti perubahan, jumud dan tidak progresif. Klaim-klaim seperti ini terjadi kemungkinan karena label salaf yang sering dipakai pondok pesantren selain tampilan komunitas pesantren yang terkesan seadanya dengan pakaian sarung-kopyah dan sandal jepit serta jauh dari glamoritas modern dengan luberan merk-merk pakaian terkenal, wah dan prestisius, Padahal sejatinya, tampilan luar pesantren yang membentuk identitas atau sub-kultur, menurut Gus Dur,  seperti itu tidaklah kemudian menunjukkan pesantren anti kemoderenan

Sikap terbuka pesantren dengan paradigma kelenturannya untuk menerima yang baru asal tidak bertentangan dengan ajaran fundamental Islam bisa menjadi barometer bahwa, pada wataknya pesantren sangat akomodatif dengan setiap perubahan. pesantren tidak anti perubahan sosial, tidak anti pembaharuan dan tidak anti modemisasi. Keaslian dan kesejatian tradisi pesantren tetap dapat dipertahankan, sementara unsur-unsur modernisasi dapat pula diserap Oleh pesantren.

pesantren sebagai Lembaga tradisional pendidikan islam di Indonesia tentu telah mengalami proses perubahan dan modernisasi untuk dapat survive sampai hari ini. Eksistensi pesantren sampai hari ini bukan hanya karena memiliki potensi Sebagai lembaga yang identik dengan makna keislaman. tetapi juga karakter eksistensialnya sebagai lembaga Pendidikan Islam yang mengandung makna keaslian Indonesia. Untuk menghadapi modernisasi dan perubahan yang kian cepat dan berdampak luas, pesantren telah melakuan akomodasi dan konsensi-konsensi tenentu untuk menemukan pola yang dipandangnya cukup tepat tanpa mengorbankan esensi-esensi dasar dalam eksistensi pesantren.  akomodasi dan konsensi dipandang perlu Oleh pesantren agar tetap dapat menanamkan nilai-nilai relevansinya di masyarakat.

Dengan kepercayaan masyarakat yang melekat pada pesantren, tentu saja menuntut pesantren selalu mengejawantahkan tiga fungsi yang melekat padanya. Tiga fungsi tersebut adalah; pertama, sebagai media pengkaderan bagi pemikir-pemikir agama (centre of excellent). Kedua, sebagai lembaga yang mencetak sumber daya manusia (SDM). Dan ketiga, sebagai lembaga yang melakukan pemberdayaan masyarakat. Selain itu, pesantren juga dipahami sebagai bagian yang terlibat aktif dalam proses perubahan sosial di tengah perubahan yang terjadi di Indonesia.

Salah satunya adalah PP Nurul Jadid, dalam mengimplementasikan beberapa fungsi tersebut, menitikberatkan pada adanya panca kesadaran (al-wa’iyyat al-khamsah). Panca kesadaran ini meliputi kesadaran beragama, berilmu, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta kesadaran berorganisasi. Panca kesadaran inilah yang menjadi titik tolak dan citra diri santri, baik dalam proses pembentukan jati dirinya ketika masih nyantri, hingga berperan aktif dalam membangun masyarakat.

Kesadaran Beragama

Bagi santri Nurul Jadid kesadaran beragama merupakan titik awal yang harus terpatri dalam dirinya. Kesadaran beragama haruslah dilandasi dengan adanya wawasan keagamaan yang luas, tanggung jawab keagamaan yang tinggi dan penghayatan keagamaan yang mendalam. Apalagi dalam tradisi keilmuan Islam sendiri, antara ilmu dan amal haruslah berjalan beriringan

Kesadaran keagamaan ini, mencangkup tiga aspek, yaitu aqidah, ibadah dan akhlak. Aqidah merupakan kualitas dasar yang harus dimiliki oleh setiap santri Pondok Pesantren Nurul Jadid.Yang dimaksud aspek akidah adalah keyakinan yang mantap bahwa Allah SWT itu Maha Esa dan hanya Dia yang berhak disembah, dan Nabi Muhammad adalah nabi terakhir; segala berita yang dibawa oleh Nabi Muhammad harus dipercaya, baik berupa Al Quran maupun Al Hadits. Inti aqidah adalah tersimpul dalam dua kalimat syahadat, yaitu kesadaran yang utuh untuk  bersaksi bahwa mereka bertuhankan Allah dan pengakuan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Dua kalimat syahadat ini harus menjadi pandangan hidup keagamaan setiap santri, agar mereka terbebas dari segala bentuk perbudakan dan dapat terbentuk jiwa besar yang mandiri, namun tetap tawakal dan tawadlu’.

Jika aqidah sudah kuat maka akan melahirkan keimanan dan jika keimanan sudah kuat maka akan melahirkan ibadah. Aspek kedua ini (ibadah) ini, dibagi menjadi dua, yaitu ibadah mahdlah/muqayadah  (formal, terikat oleh sarat dan rykun tertentu); dan ghairu mahdlah/muthlaqah ( non formal, teknik operasionalnya tidak terikat oleh syarat dan rukun tertentu). Ibadah mahdlah terdiri dari empat rukun selain syahadat dari kelima rukun islam, yaitu sholat, puasa, zakat, dan haji. Sementara ibadah ghairu mahdlah adalah aktifitas ibadah selain ibadah mahdlah, seerti mengamalkan aktifitas ibadah sebagaimana pernah diamalkan oleh Nabi Muhammad SAW, baik puasa ataupun lainnya.

Penekanan pada aspek ibadah tersebut juga tertuangkan dalam tiga kriteria santri, utamanya pada kriteria santri yang pertama, yaitu memperhatikan perbuatan-perbuatan fardlu ‘ain.

Dalam kontek ibadah ini, harus ada kesdaran bahwa manusia itu tidak mempunyai wewenang sama sekali dalam mengadakan upacara peribadatan sendiri yang tidak diatur oleh Allah SWT. dan rasulNya. Aspek yang ketiga adalah akhlak. Aspek ini lebih ditujukan kepada pembentukan kepribadian dan perilaku santri agar sesuai dengan moralitas dan nilai-nilai islam. Aspek ihsan disini terbagi menjadi dua: akhlak budi pekerti dan tatakerama. Akhlak budi pekerti pertama masih terdapat dalam hati dan terdiri dari niat, pikiran dan sifat-sifat yang bertujuan untuk kebaikan dan kemuliaan. Sementara yang kedua, adab tatakerama adalah aktualisasi dari akhlak budi pekerti yang tampak dari sikap dan perilaku manusia. Aspek akhlak atau moralitas ini tidak hanya menyangkut individu (perseorangan), tapi juga sosial, seperti tertib kemasyarakatan, amar ma’ruf dan nahi mungkar serta tatasusila dalam keluarga dan seterusnya.

Kesadaran Berilmu

Ilmu secara definitif berarti mengetahui yang tidak diketahui (idrakul majhul), sesuatu yang belum diketahui. Sebagai makhluk yang diberkahi akal-fikiran oleh Allah swt, manusia diharuskan mencari ilmu sebagai bekal dirinya dalam meniti jalan kehidupan. Tanpa ilmu, niscaya manusia akan mengalami begitu banyak kesulitan-kesulitan dalam menempuh perjalanan hidupnya. Sebab itu, Nabi Muhammad saw bersabda, “carilah ilmu sejak dari ayunan orang tua hingga masuk liang lahat” dan “carilah ilmu hingga ke negeri Cina”.

Ilmu pengetahun terbagi menjadi dua, yaitu ilmu pengetahuan agama dan ilmu pengetahuan duniawi. Para santri diharapkan menguasai kedua ilmu tersebut. Lebih jauh, kesadaran ilmu pengetahun duniawi harus diintegrasikan dengan kesadaran ilmu pengetahuan agama. Atau istilah populernya adalah integrasi antara ilmu pengetahuan dan tekhnologi (Iptek) dengan iman dan taqwa (Imtaq). Dengan demikian, nantinya diharapkan para santri bisa menjadi ilmuwan yang muslim dan atau muslim yang ilmuwan.

Namun demikian, jika para santri tidak mampu menguasai kedua ilmu tersebut secara maksimal dan mengintegrasikannya, diharapakan adanya kerjasama antara santri yang menguasai ilmu agama dengan santri yang ahli dalam ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Kerjasama ini ditujukan demi terbentuknya sebuah dialektika yang bisa mengisi kekurangan masing-masing santri melalui kelebihan yang ada pada diri mereka masing-masing, sehingga akan menciptakan sebuah perpaduan yang baik. Lebih jauh, dengan adanya kerjasama itu, santri diharapkan dapat memberikan yang terbaik bagi pembangunan bangsa dan negara Indonesia untuk meraih cita-cita negara yang sejahtera dan dianugerahi oleh Tuhan.

Pendapat beliau di atas bertolak dari beberapa alasan; pertama, firman Allah swt dalam surat al-Mujadalah, ayat 11, yaitu Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan [juga meninggikan] orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan [bersama firman-Nya] dalam beberapa derajat.

Kedua, kisah tentang Abu Ubaidah bin Jarrah. Waktu itu, Umar bin al-Khattab ra, khalifah kedua setelah Abu Bakar al-Siddiq ra, sangat mengagumi Abu Ubaidah. Ia adalah orang yang luas ilmu pengetahunnya dalam bidang duniawi, seperti ilmu sosiologi (kemasyarakatan), ilmu perekonomian, ketatanegaraan, dan pertanahan. Lebih dari itu, Abu Ubaidah juga dikenal di kalangan sahabat sebagai orang yang mempunyai kebribadian yang luhur dan sangat jujur dalam memegang amanah (tanggung jawab). Oleh karena itu ia terkenal dengan gelar “Aminul Ummah”. Gelar tersebut ia peroleh dari Nabi Muhammad saw. Waktu itu Nabi bersabda, “sesungguhnya setiap ummat mempunyai orang yang dipercaya dan orang yang dipercaya bagi ummat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah”.

Ketiga, kenyataan dalam dunia modern sekarang ini bukan lagi tergantung kepada kesuburan tanah dan banyaknya tambang-tambang, tetapi tergantung kepada kemampuan berfikir penduduknya. Bertolak dari kenyataan dunia modern tersebut (mengenai hubungan ilmu dan agama) antara keduanya terdapat hubungan yang erat dan kuat.

Dari sini, dapat diketahui bahwa kesadaran pertama (beragama) dari panca kesadaran di atas amat erat hubungannya dengan kesadaran yang kedua (berilmu). Sebab jika salah satu di antara keduanya ditinggalkan, niscaya manusia akan mengalami ketidakseimbangan dalam menapak alur kehidupannya. Pernyataan ini bertolak dari sabda Nabi Muhammad saw, “barang siapa yang bertambah ilmunya tapi tidak [belum] bertambah hidayahnya maka orang itu tidak akan ber-di-tambah [hidayah] oleh Allah kecuali ia akan semakin jauh”.

Di sisi lain, kesadaran berilmu tersebut amat erat kaitannya dengan akhlak budi pekerti dan adab tata krama (moralitas). Sebab, jika manusia mengabaikan kedua hal itu, maka ilmu yang diperoleh manusia akan sia-sia belaka atau tidak bermanfaat.

Pengabaian terhadap moral tersebut akan mengakibatkan hati menjadi kotor dan dipenuhi sifat-sifat maksiat. Sementara itu, ilmu adalah cahaya dan cahaya itu akan enggan masuk pada hati yang penuh dengan sifat-sifat kotor dan tidak mulia. Mengenai keengganan ilmu masuk dalam hati manusia yang masih terdapat sifat-sifat kotor tersebut, berikut sebuah kisah tentang Imam Mawardi, seorang tukoh besar dalam dunia Islam yang dicela oleh gurunya, Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghozali (Imam Ghazali), karena hatinya yang tidak ikhlas melaksanakan pekerjaan dari gurunya.

Saat itu, Imam Mawardi pernah merasa kesal terhadap gurunya, Imam Ghozali, karena tidak mendapatkan pelajaran ilmu dari beliau. Padahal ia telah satu tahun lebih berada di pondokan Imam Ghazali. Selama rentang waktu tersebut ia hanya mendapatkan pekerjaan membersihkan kotoran yang berada di bawah sela-sela terompah gurunya. Pekerjaan itu, ia lakukan setiap pagi hari setelah Imam Ghozali memberikan pengajaran terhadap murid-muridnya.

Nah, Karena tidak sabar menerima perlakuan tersebut, Imam Mawardi bertanya kepada gurunya soal ilmu yang tidak pernah diajarkan kepadanya. Mendengar pertanyaan tersebut, Imam Ghazali menjawab, “bagaimana saya dapat mengajar ilmu padamu jika dalam hatimu masih merasa jijik tatkala kau kusuruh untuk membersihkan bekas kotoran dalam terompahku?” Mendengar jawaban tersebut Imam Mawardi tercengang. Ia sadar bahwa hatinya tidak ihklas, hatinya masih terselimuti rasa iri terhadap sahabat-sahabatnya yang terlebih dahulu mendapatkan pengajaran dari Imam Ghozali, sementara ia tidak. Lebih-lebih, ia sadar bahwa hatinya merasa jijik ketika membersihkan kotoran di bawah sela-sela terompah gurunya. Namun kemudian, ia pun sadar bahwa keadaan hati tersebutlah yang menyebabkan keengganan Imam Ghozali memberikan ilmu padanya. Ilmu tersebut akan percuma jika diberikan padanya, sementara hatinya masih kotor.

Kesadaran Berbangsa Dan Bernegara

Landasan filosofis yang mendasari KH. Zaini Mun’im merumuskan konsep ketiga dari panca kesadaran santri ini, khususnya pada kesadaran berbangsanyaadalahfirman Allah swt, “Sesungguhnya Kami menciptakan kamu semua dari jenis laki-laki dan perempuan. Dan Kami juga menciptakan kamu semua dari suku-suku bangsa agar saling mengenal”. Sementara, sabda Nabi Muhammad saw tentang cinta terhadap tanah air adalah termasuk bukti keimanan, juga merupakan dasar untuk merumuskan konsep kesadaran ketiga ini, khususnya kesadaran bernegaranya.

Dari dua dalil di atas, maka terbentuklah satu kesatuan konsep, yaitu kesadaran berbangsa dan bernegara. Konsep ketiga ini tidak bisa dipisah atau dibalik. Karena, pertama, kesadaran berbangsa amat erat kaitannya dengan kesadaran bernegara. Artinya, berdirinya sebuah negara tidak akan pernah diakui oleh negara lainnya apabila di dalam negara tersebut tidak ada bangsa atau rakyatya. Dan meski pun rakyatnya ada, tapi jika mereka tidak mengakui keberadaan negara, maka keberadaan negara tersebut akan terasa hambar.

Kedua, kesadaran bernegara juga amat erat kaitannya dengan kesadaran berbangsa. Artinya sebuah bangsa akan cenderung tidak tertib, tidak aman dan tidak sejahtera apabila tidak ada sebuah negara yang bertanggung jawab melindungi dan mengupayakan terpenuhinya kebutuhan bangsanya. Negara dalam konteks ini merupakan institusi atau lembaga yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pendidikan, pertahanan dan keamanan. Jika tidak ada negara, tak terbayangkan, apakah bangsa atau rakyat bisa memenuhi beberapa kebutuhannya tersebut. Sebab itu integrasi di antara keduanya amat penting.

Ketiga, konsep kesadaran berbangsa dan bernegara ini tidak bisa dibalik. Sebab jika kesadaran bernegara didahulukan daripada kesadaran berbangsa maka hal ini akan tampak ironi sekali. Negara tidak akan pernah ada tanpa keberadaan bangsa terlebih dahulu. Karena keberadaan negara adalah hasil karya dan cipta sebuah bangsa. Dengan pengertian demikian, dapat diketahui bahwa kesadaran berbangsa mendahului dari pada kesadaran bernegara. Lebih jauh, dengan mengedepankan kesadaran berbangsa, maka kedaulatan negara adalah ditangan bangsa atau rakyat. Dan hal ini sesuai dengan bentuk negara Indonesia, yaitu demokrasi; dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

Selain dari Al-Qur’an dan Al-Hadits di atas, dalam merumuskan konsep kesadaran ketiga ini, Kiai Zaini juga terinspirasi oleh pengalaman perjuangan beliau bersama-sama ulama dan rakyat Indonesia ketika merebut kemerdekaan. Hal ini terbukti dengan aktifnya beliau dalam beberapa organisasi seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan organisasi Raddah di Pamekasan, bergabung dengan TAP/RESIMEN, Pembela Tanah Air (Peta), Front Pertahanan Rakyat dan barisan Sabilillah mulai tahun 1945-1947, dan terakhir menjadi Rais Syuriah Wilayah Jawa Timur sejak tahun 1952 s/d 1972 serta pernah menjadi Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Jawa Timur dalam tubuh organisasi NU.

Perjuangan yang panjang dan berdarah-darah tersebut, tampaknya begitu lekat dalam benak Kiai Zaini. Hingga kemudian, semangat dalam berjuang itu ingin beliau turunkan kepada seluruh santri-santrinya. Harapan tersebut, tampak dari jawaban beliau ketika Jendral Basuki Rahmat, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) tahun 1968, berkunjung kepada beliau dan mengajukan pertanyaan; “dengan mendirikan pesantren ini apakah anda ingin mencetak Kiai atau intelektual muslim?” Dengan tenang KH. Zaini Mun’im menjawab, “tidak kedua-duanya. Saya mendirikan Pondok Pesantren Nurul Jadid ini tidak untuk mencetak Kiai atau mencetak intelektual muslim. Tapi, sederhana saja, saya akan mencetak muslim-muslim yang aktif berjuang di masyarakat dengan bakat dan keahliannya

masing-masing. Jika di antara santri saya ada yang ahli dalam bidang pendidikan, ya, silahkan. Jika ahli dalam bidang ekonomi, ya, silahkan. Sebab sahabat-sahabat Rasulullah itu semuanya merupakan muslim-muslim yang aktif berjuang. Dan saya amat tidak senang apabila ada di antara santri saya yang menjadi tokoh besar (Kiai atau intelektual Islam) tapi mereka pasif dalam berjuang. Saya akan lebih senang apabila melihat alumni santri Nurul Jadid yang menjadi kondektur bus, tapi ia aktif berdakwah amar makruf nahi mungkar”.

Demikianlah, dengan kesadaran berbangsa dan bernegara tersebut, santri-santri Nurul Jadid diharapkan memiliki semangat juang yang tinggi dan menjadi muslim yang aktif. Sehingga mereka akan merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap maju-mundurnya bangsa dan negara Republik Indonesia ini.

Kesadaran Bermasyarakat

Ibn Khaldun, Penulis Kitab al-Muqoddimah, pernah mengatakan, “kehidupan bermasyarakat merupakan kebutuhan pokok bagi umat manusia”. Ucapan sosiolog besar dalam dunia pemikiran Islam tersebut merupakan karakter dasar manusia. Sebab, manusia pada dasarnya tidak bisa hidup secara individual dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Manusia akan selalu membutuhkan bantuan dari manusia lainnya, dan begitu juga sebaliknya. Kenyataan manusia tersebut, sebenarnya tidak lepas dari ketentuan Allah swt, bahwa manusia merupakan makhluk yang tidak sempurna. Dalam diri manusia terdapat kelebihan begitu pula kekurangan. Lebih-lebih, manusia juga sering melakukan kesalahan dan lupa.

Bertolak dari konsep manusia menurut Ibn Khaldun di atas, tampaknya konsep kesadaran bermasyarakat ini mendapatkan pijakan filosofisnya. KH. Zaini Mun’im mengambil referensi Ibn Khaldun sebagai salah satu rujukan dalam perumusan konsep keempat ini, tampaknya sesuai dengan pemahaman beliau terhadap Kitab suci Al-Quran, tepatnya surat al-Maidah ayat 3; “Tolong-menolonglah atas dasar kebaikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong atas dasar dosa dan permusuhan”.

Melalui kesadaran bermasyarakat ini, diharapkan bahwa pesantren dan santri tidak boleh menjadi menara gading yang jauh dari masyarakatnya. Pesantren dan santri harus menyatu dalam masyarakat. Artinya pesantren merupakan bagian dari masyarakat. Dengan demikian masyarakat merasa memiliki pesantren dan pesantren juga sebaliknya. Sehingga tidak ada kesenjangan antara pesantren beserta santri-santrinya  dengan masyarakat.

Jika para santri dan Pesantren serta masyarakat merasa saling memiliki, maka segala bentuk kegiatan pesantren akan memperoleh dukungan dari segenap masyarakat. Bukankah pesantren lahir di tengah-tengah masyarakat untuk melakukan transformasi dan emansipasi, agar masyarakat dapat maju, baik peradabannya mau pun tingkat sosial-ekonominya.

Kesadaran Berorganisasi

Adanya sebuah organisasi yang efektif dan efisien adalah mutlak diperlukan bagi setiap santri dan pesantren. Sebab titik lemah Islam dan pesantren adalah pada organisasinya. Kelemahan dalam organisasi menunjukkan kelemahan pada sumber daya manusianya (SDM). Ali bin Abi Thalib telah mengingatkan, “kebenaran yang tidak terorganisir dengan baik akan dikalahkan dengan kebatilan yang terorganisir”.

Kesadaran berorganisasi dirumuskan tidak lain karena selama ini umat Islam hanya bangga dengan jumlahnya yang mayoritas. Mereka tidak pernah melihat kelemahannya dalam bersaing dengan saudara-saudaranya yang lain, yang dipandang minoritas, baik dalam perbaikan pendidikan, peningkatan ekonomi maupun peranannya dalam politik. Padahal Allah swt telah mengingatkan, “Betapa banyak golongan minoritas mengalahkan golongan mayoritas dengan izin Allah”.

Sebab itulah, santri Nurul Jadid harus mampu aktif dalam organisasi. Karena melalui media ini sebuah tujuan bersama akan lebih mudah diraih dengan maksimal. Organisasi adalah pola hubungan yang saling terkait antar satu bagian dengan bagian yang lainnya, yang lebih mengedepankan komunikasi dan koordinasi dalam menjalankan aktifitasnya sehingga dapat mencapai tujuan bersama.

Kesadaran berorganisasi ini dirumuskan, selain karena rasa prihatin Kiai Zaini terhadap eksistensi umat Islam, juga bertolak dari pengalaman beliau semasa di Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) sejak tahun 1952 s/d 1972. Dalam berorganiasi, selain beliau sangat bersungguh-sungguh memajukan organisasinya melalui pemikiran dan gagasan cemerlangnya, beliau juga selalu konsisten memegang etika dan moralitas dalam berorganisasi.

Dengan demikian panca kesadaran ini tak hanya menjadi slogan belaka, tetapi lebih merupakan perilaku yang terpatri dalam jiwa para santri dalam menghadapi perubahan dan tantangan zaman

*Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton dari Sampang Madura.

Leave Comments