PENTINGNYA LEADERSHIP DAN ENTREPRENEURSHIP BAGI SANTRI DALAM MENOPANG KEMAJUAN BANGSA DI ERA GLOBALISASI

Leadership dan Entrepreneurship

PENTINGNYA LEADERSHIP DAN ENTREPRENEURSHIP BAGI SANTRI DALAM MENOPANG KEMAJUAN BANGSA DI ERA GLOBALISASI

Oleh: Dewi Nur Halimah, S.Si 
(Alumni Santri PP. Khozinatul Ulum Blora) 

Akselerasi globalisasi dewasa ini cukup berdampak signifikan diseluruh berbagai sektor kehidupan, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, budaya dan pendidikan. Kemudahan akses (produk) untuk keluar masuk di suatu negara perlu diimbangi dengan produktivitas pemuda, sehingga mampu bersaing ASEAN dan dunia. Bukan justru sebaliknya, pemuda yang konsumtif yang tidak berdaya saing, bergaya hidup high class dan selalu berfoya-foya sehingga menjadi objek penjualan produk asing yang menurunkan produktivitas suatu negara. Oleh karena itu, arus globalisasi perlu diimbangi dengan keahlian dan keterampilan agar mampu bersaing di tengah persaingan global.      

Sudah sekitar tiga setengah tahun Indonesia memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sejak akhir tahun 2015. Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC) merupakan suatu wadah untuk  kristalisasi kemajuan IPTEK, globalisasi perekonomian serta arus barang dan jasa yang dituangkan ke dalam suatu wadah integrasi wilayah negara-negara di Asia Tenggara. Masyarakat Ekonomi ASEAN menuntut Indonesia untuk mampu bersaing (competition) sekaligus bekerjasama (cooperation).

Kemampuan bersaing tidak terlepas dari sumber daya manusia, sementara kerjasama dalam MEA sangat ditentukan oleh tingkat kepercayaan negara ASEAN terhadap Indonesia. MEA berdampak pada kehidupan masyarakat yang secara langsung juga berimplikasi terhadap pemuda Indonesia.  Sebagaimana telah kita ketahui, mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Itu artinya, mayoritas pemuda Indonesia adalah pemuda muslim yang sebagian dari itu merupakan santri. Untuk menghasilkan SDM yang berdaya saing dan mampu bekerjasama, tentu tidaklah lepas dari kiprah santri, mengingat mayoritas pemuda Indonesia adalah pemuda muslim.

Survei Global Competitiveness Index tahun 2014-2015 membuktikan bahwa daya saing Indonesia masih lemah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Posisi Indonesia berada pada peringkat ke 34. Di level ASEAN, peringkat Indonesia ini masih kalah dengan tiga negara tetangga, yaitu Singapura yang berada di peringkat 2, Malaysia di peringkat 20, dan Thailand yang berada di peringkat ke-31. Salah satu penyebab rendahnya daya saing Indonesia di kancah ASIA maupun ASEAN adalah kurangnya pemuda yang berjiwa leadership dan entrepreneurship tinggi di Indonesia.

Hal ini tentu sangat memprihatinkan, Indonesia yang notabennya negara yang kaya akan sumber daya alam, namun rendah akan sumber daya manusia. Krisis pemuda berarti krisis pemimpin masa depan. Indonesia membutuhkan pemuda yang memiliki jiwa leadership tinggi untuk menanggulangi adanya krisis pemimpin. Pemimpin adalah kepala dari kumpulan para manusia (masyarakat) yang mengatur segala aktifitas masyarakat dan merupakan sosok yang menduduki posisi paling tinggi. Jadi seorang pemuda harus memiliki jiwa pemimpin yang tinggi. Tidak hanya dapat memimpin sebuah negara dengan rakyat-rakyatnya, namun juga dapat memimpin dirinya sendiri. Jika seorang pemuda dapat memimpin dirinya terlebih dahulu, maka dia juga dapat memimpin bangsa.

“Berikan aku 1 pemuda, maka akan ku guncangkan dunia”.

(Ir.Soekarno)

Pernyataan seperti inilah yang membuat para pemuda merinding dan terkobar semangatnya dalam membela bangsa, khususnya Indonesia. Ya, pernyataan ini dikatakan oleh Ir. Soekarno presiden nomor satu di Indonesia. Beliau mengatakan demikian, agar pemuda-pemuda Indonesia ini bangkit dan terbakar semangatnya dalam mencapai kemerdekaan Republik Indonesia di era kolonialisme dulu. Karena beliau percaya dengan adanya sosok pemuda, maka akan memajukan bangsa Indonesia dan mengguncangkan dunia.

Kemajuan sebuah bangsa terletak pada kemajuan para pemudanya”

Pernyataan ini bukanlah sembarang pernyataan melainkan sebuah pernyataan yang dapat membakar semangat jiwa kaum pemuda terus berkobar. Pernyataan ini memiliki poin penting bahwa pemuda menjadi simbolisme tolak ukur maju atau tidaknya suatu negara. Itulah mengapa di negara maju seperti Ameraka Serikat, Perancis, Inggris, Jepang, dan bahkan negara tetangga kita sendiri yakni Singapura menaruh perhatian yang begitu besar pada pemudanya. Hal itu tak lain karena di tangan pemudalah tonggak kemajuan suatu negara. Sebenarnya apa yang mendasari para pemuda di negara maju memiliki kesadaran yang tinggi akan nasionalisme dan patriotisme. Lalu dimanakah posisi pemuda kita sendiri? Bagaimanakah mereka menunjukkan semangat cinta tanah airnya, terlebih lagi sejak di era modernisasi?. Tentu saja hal ini membawa dampak dalam berbagai aspek kehidupan termasuk bangsa kita sendiri.

Apabila kita berkaca pada sejarah, proklamasi bangsa ini dapat terjadi juga karena peran pemuda. Pemuda ini bersikukuh dengan segala idealismenya untuk dapat segera mengikrarkan kemerdekaan agar lepas dari belenggu penjajah. Runtuhnya tirani orde baru juga tidak terlepas dari peran pemuda sebagai motor penggerak ketika melihat berbagai ketidakadilan di masyarakat. Pemuda memang merupakan sebuah simbol idealisme dalam sejarah bangsa dari waktu ke waktu. Melihat hal tersebut tentunya pemuda memiliki nilai-nilai yang lebih untuk memimpin bangsa Indonesia.

Bangsa ini sudah cukup lelah mendengar dan malu melihat moral pemimpin bangsa yang ada diambang batas kritis. Karena inilah, sudah saatnya kita sebagai pemuda penerus bangsa membuktikan idealismenya dengan menjadi pemimpin bangsa ini. Pemimpin muda tentunya akan membawa harapan baru bagi rakyat, dan membawa angin segar di kancah kepemimpinan di masa depan, sudah seharusnya kita memberikan kesempatan dan apresiasi terhadap para pemuda untuk menjadi seorang pemimpin yang produktif. Tentunya harapan kita bersama, pemuda bisa menjadi sosok pemimpin yang bermoral dan memiliki intelektual sehingga mampu membawa nama Indonesia menuju Negara yang terhormat dan Negara maju.

Perlu diingat bahwa berdirinya bangsa Indonesia dan bahkan sampai tetap survive atau berdiri tegak sampai saat ini dari Sabang sampai Merauke tidak terlepas dari peran pemuda. Dalam sejarah perjalanan bangsa, peran pemuda sangatlah besar dan sangat signifikan dalam membangun, mewarnai, dan bahkan memutar balik jarum sejarah bangsa yang merdeka pada tahun 1945 ini. Dalam sejarahnya kita mengenal adanya beberapa gerakan pemuda seperti : Gerakan Budi Utomo 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 1945, Gerakan Mahasiswa 1965, Peristiwa Malari 1974, Gerakan Mahasiswa pada era Reformasi 1998. Gerakan-gerakan ini membawa perubahan-perubahan besar dalam sejarah perjalanan bangsa. Perlu diketahui bahwa Gerakan-gerakan ini dipelopori oleh kaum pemuda. Oleh karena itu, membahas sejarah bangsa Indonesia, berarti kita juga akan membahas tentang peran pemuda didalamnya. Begitu pun sebaliknya, jika kita membahas pemuda, maka kita juga membahas pembangunan bangsa Indonesia.

Begitu banyak gerakan-gerakan pemuda yang terjadi di Indonesia yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk kita sebagai pemuda generasi masa depan untuk meningkatkan semangat pemuda sebagai pemimpin garda depan sehingga memajukan bangsa Indonesia. Ada beberapa peran atau karakter yang harus dipenuhi oleh pemuda sebagai pemimpin masa depan bangsa Indonesia, diantaranya yaitu :

1.   Peran kekuatan moral pada diri pemuda sebagai pemimpin bangsa

Pemuda sebagai kekuatan moral ini harus dapat menjadi pelopor dan pendobrak semangat masyarakat dalam mencapai  kemapanan sosial. Pemuda harus selalu tidak mudah puas dengan kemajuan yang ada. Sikap tidak mudah puas inilah yang memunculkan dinamika gerakan dan pemikiran pemuda dapat selalu berkembang dan tumbuh (sikap iniovatif). Ketika pemuda ini sudah merasa puas dengan kondisi atau kemajuan yang ada, maka seketika hal itu juga dinamika dan kreativitas sosialnya akan terhenti. Maka dari iu, pemuda tidak boleh puas dengan kondisi sosial yang ada. Karena rasa inilah yang dapat menjadi motor penggerak (Prime Mover) kekuatan pemuda. Pemuda harus mempunyai semangat dan keberanian untuk mendongkrak dan mendobrak kebekuan dan kemapanan dari structural sosial politik dan ekonomi yang timpang dan yang tidak berpihak pada masyarakat kelas bawah dan yang lemah. Pemuda tidak boleh kompromi dengan ketidakadilan sosial (social injustice). Peran dan sikap sperti inilah yang dimksud sebagai salah satu bentuk kekuatan moral pemuda yang selalu tunduk pada kebenaran.

2.   Peran sosial pemuda pemimpin bangsa

Pemuda sebagai peran sosial dikarenakan terdapat energi, semangat, serta idealisme yang dimilikinya. Pemuda ini harus mampu menjadi kekuatan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pemuda harus berperan aktif dalam suatu pembangunan, baik dalam skala lokal maupun nasional. Pemuda juga harus memiliki rasa kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi, tanggap dengan isu-isu nasional yang sedang berkembang dan mampu menjadi pilar maupun garda terdepan dalam pembangunan bangsa.

3.   Pemuda harus berperan sebagai intelektual untuk memimpin bangsa

Selain harus memiliki kekuatan moral dan sosial, pemuda juga harus memiliki peran intelektual untuk memimpin suatu bangsa, apalagi memimpin bangsa Indonesia yang begitu padat penduduknya. Jadi dalam mengatasi masalah apapun baik dalam negeri maupun masalah di luar negeri akan terasa mudah jika kita sebagai pemimpin memiliki pengetahuan yang luas dan pemuda yang berintelektual tinggi. Intelektual maupun ilmu pengetahuan ini dapat dibagi lagi menjadi penguasaan terhadap bahasa asing terutama bahasa Inggris, lalu penguasaan terhadap IT (Information Technology), kemudian penguasaan manajemen, penguasaan berfikir (thinking skills) yakni berfikir logis, kritis dan analitis, dan penguasaan komunikasi baik verbal maupun non-verbal.

4.   Pemuda harus memiliki kepribadian yang mantap sebagai seorang pemimpin

Kepribadian ini menekankan pada karakter seorang pemimpin di masa yang akan datang, bagaimana seorang pemuda sebagai pemimpin ini dapat memahami situasi dan kondisi yang terjadi pada bangsa dan mendapati solusi-solusi yang ampuh dalam mengatasi kondisi tersebut. Kepribadian ini juga menekankan bahwa sosok pemuda memiliki pribadi yang tangguh tidak mudah tergoyahkan akan gunjingan-gunjingan dari dalam maupun dari luar, dan memiliki rasa silih asuh dan silih asuh terhadap sesama sehingga menimbulkan rasa kehangatan kekeluargaan dalam berbanga dan bernegara.

5.   Pemuda harus berjiwa pemimpin

Sosok pemuda yang terakhir adalah berjiwa pemimpin. Pemimpin memiliki kedudukan tertinggi di hadapan manusia karena mengatur segala aktifitas anggota-anggota yang dipimpin. Jadi seorang pemuda harus memiliki jiwa pemimpin yang tinggi. Tidak hanya dapat memimpin sebuah negara dengan rakyat-rakyatnya, namun dapat juga memimpin dirinya sendiri. Jika seorang pemuda dapat memimpin dirinya terlebih dahulu, maka dia juga dapat memimpin bangsa.   

Sebagai wujud kepemimpinannya, para pemuda perlu terlibat dalam mengambil peran untuk terjun di dunia politik sebagai bagian dari pembuat kebijakan (wisdom maker) baik mengambil bagian sebagai anggota badan eksekutif, lefislatif, maupun yudikatif. Dengan keikutsertaanya menjabat di kursi pemerintahan, diharapkan para pemuda tersebut khususnya para santri mampu turut berkontribusi untuk memajukan negara. Mengapa para santri harus turut ikut andil dalam mengambil peran di kursi pemerintahan?. Karena santri ini memiliki bekal yang komplet yakni ilmu agama beserta ilmu adab dan juga ilmu pengetahuan umum. Dengan bekal ilmu tersebut, apabila santri turut andil mengambil jabatan di kursi pemerintahan, santri dapat berkontribusi dalam menyusun Undang-Undang yang dapat memajukan Madrasah dan Pendidikan Diniyah Pesantren serta kebijakan yang maslahah untuk ummat.

Santri tidak boleh minder apalagi pesimis untuk ikut terjun dalam kursi pemerintahan. Mengingat sudah banyak pula santri yang memiliki beberapa posisi penting dalam pemerintahan. Justru sebaliknya, santri harus percaya diri dan semangat untuk turut serta memajukan negeri di tengah krisis pemimpin, krisis ekonomi, krisis moral dan krisis kemanusiaan. Berikut adalah contoh kiprah beberapa santri yang turut ambil bagian di kursi pemerintahan:

  1. Wakil Gubernur Jawa Tengah, Gus Taj Yasin adalah Putra KH. Maemoen Zubair, Pengasuh PP. Al-Anwar Sarang-Rembang.
  2. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawangsa adalah alumni santri PP. Ma’hatul Ulum As Syar’iyah/ MUS Sarang-Rembang.
  3. Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif periode 2014-2019  adalah alumni santri PP. Al Muayyad Solo.
  4. Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin periode 2014-2019 adalah alumni santri PP. Modern Darussalam  Gontor.
  5. Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir (AM Fachir) periode 2014-2019 adalah alumni santri dari PP. Modern Darussalam Gontor.
  6. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi adalah alumni santri PP. Al Kholiliyah An Nuroniyah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.
  7. Menristek Dikti Muhammad Nasir adalah alumni santri PP. Mambaul Ilmi As Syar’i, Sarang-Rembang, Jawa Tengah.
  8. Yudi Latif sebagai Kepala Pelaksaan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) adaalah alumni santri PP. Modern Darussalam Gontor.
  9. Dr. TGB Muhammad Zainul Majdi selaku Gubernur Nusa Tenggara Barat adalah alumni PP.Al Anwar, Sarang-Rembang.
  10. Dan lain-lain.

Dengan hadirnya sosok pemuda muslim seperti santri-santri yang berjiwa leadership dan entrepreneurship tinggi diharapkan mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik di masa depan.  Mengapa perlu adanya kiprah santri? Karena perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari komando para ulama tanah air beserta para santrinya. Menurut data Kemenag (2011), tercatat di Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama bahwa jumlah santri pondok pesantren di 34 provinsi di seluruh Indonesia, mencapai 3,65 juta yang tersebar di 25.000 Pondok Pesantren. Santri yang berakhlakul karimah dan cerdas dalam menemukan solusi terkait permasalahan masyarakat baik tentang isu sosial, isu agama, maupun permasalahan lain sangat dinantikan dalam mencetak sejarah kemajuan Indonesia. Terlebih saat ini dunia sedang krisis, baik krisis kemanusiaan maupun krisis moral. Pemimpin yang berjiwa sosial tinggi dan memiliki solidaritas tinggi dalam menyelesaikan permasalahan rakyat adalah solusi menjawab permasalahan yang sedang dihadapi suatu negara, setidaknya bisa meminimalisir permasalahan yang ada. Tengok saja kasus pembantaian ethnis rohingya di Myanmar, hal itu tak lain karena ketidakmampuan pemimpin dalam mengatasi kasus krisis kemanusiaan yang terjadi di negaranya. Berkaca pada kasus ethnis rohingya di Myanmar, sudah selayaknya Indonesia memilih pemimpin yang berkarakter sehingga tercipta kesejahteraan masyarakat yang aman dan terlindungi.

Selain itu, untuk mencapai kemajuan bangsa Indonesia, juga diperlukan adanya peran pemuda yang berjiwa entrepreneurship tinggi dalam mewujudkan kemandirian perekonomian bangsa. Mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah pemeluk agama Islam, maka kiprah santri yang memiliki jiwa entrepreneurship tinggi sangat diharapkan. Saat ini, Indonesia memang secara dzahir sudah merdeka, namun perekonomian Indonesia masih dijajah bangsa lain (di bawah kendali bangsa lain). Indonesia menjadi objek penjualan produk negara-negara lain seperti produk-produk China yang membanjiri barang-barang di pasaran.

Kemandirian bangsa yang diimpikan pada ASEAN Economic Community adalah kemampuan Indonesia untuk mampu bersaing dengan negara-negaraASEAN lainnya. Daya saing dipengaruhi oleh kemampuan dalam menghasilkanproduk-produk dengan kualitas tinggi dan harga yang terjangkau sehingga mampubersaing dengan produk-produk luar negeri. Untuk menghasilkan produk yangberkualitas, produktivitas adalah faktor utama, sedangkan untuk menghasilkanproduk yang mampu bersaing dalam harga, maka efisiensi adalah kuncinya.

Perlu di ketahui bahwasannya untuk mencapai kemandirian perekonomian bangsa, jumlah pelaku wirausaha minimal ada 2% dari total jumlah penduduk di suatu negara. Sementara, berdasarkan data yang dihimpun oleh HIPMI menunjukkan bahwa Indonesia baru memiliki sekitar 1,6% pelaku wirausaha dari total penduduk Indonesia yakni sekitar 260 juta jiwa. Pencapaian Indonesia masih di bawah dua negara tetangga yakni Malaysia dan Singapura. Malaysia memiliki jumlah pelaku wirausaha sekitar 5% dari total jumlah penduduk, sementara Singapura memiliki jumlah pelaku wirausaha sekitar 7%  dari total jumlah penduduk. Sedangkan rasio pencapaian jumlah pelaku wirausaha di China 10%, Jepang 11%, dan Amerika serikat 12%. 

Sumber: HIPMI, 2016.

Data pencapaian jumlah pelaku wirausaha di atas dapat menjadi acuan bagi pemerintah Indonesia dan masyarakat Indonesia untuk menumbuhkan perekonomian bangsa Indonesia dengan menjadi socio-preneur. Kiprah santri yang berjiwa entrepreneurship  tinggi dapat mendorong peningkatan perekonomian Indonesia. Santri yang juga berprofesi sebagai socio-preneur ini nantinya bukan hanya berperan sebagai pelaku usaha tetapi juga berdampak positif terhadap lingkungan. Bukan hanya menjadi pengusaha yang hanya money-oriented tetapi juga social-oriented. Dengan meningkatnya jumlah pengusaha di Indonesia, setidaknya dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

Indonesia merupakan bangsa dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang sangat berlimpah. SDA Indonesia yang berlimpah, namun sayangnya tidak dibarengi dengan kualitas SDM-nya. Indonesia dihadapkan kenyataan bahwa kemampuan daya saing sumber daya manusianya secara umum berada rendah. Rendahnya kualitas SDM Indonesia menimbulkan masalah pengangguran. Tahun 2008, jumlah penganggur terbuka 9,43 juta orang atau 8,46% dari jumlah angkatan kerja yang mencapai 111,48 juta orang dan jumlah setengah penganggur (penduduk yang bekerja kurang dari 35 jam dalam satu minggu) mencapai 30,64 juta orang. Dengan meningkatnya jumlah aktor wirausaha, harapannya jumlah pengangguran di Indonesia menurun. Hal ini karena pengusaha dapat membuka lapangan pekerjaan sehingga menyerap tenaga kerja yang berdampak pada menurunnya jumlah pengangguran.

Untuk mencapai kemandirian perekonomian bangsa yang digerakkan oleh santri ini melibatkan beberapa pihak diantaranya MenKop, Kiahi, santri, dan masyarakat. Menteri Koperasi (MenKop) mendukung kreativitas pemuda, khususnya para santri dengan memberikan fasilitas berupa sarana dan prasarana yang mendukung para santri untuk berinovasi dan berwirausaha. Kiahi berperan dalam memotivasi dan menginspirasi santrinya untuk menjadi wirausaha. Santri berinovasi untuk berwirausaha dengan mengangkat nilai-nilai kearifan lokal. Masyarakat berperan dalam mendorong kesuksesan pemuda untuk berinovasi dengan membeli produk dalam negeri dan membeli karya-karya pemuda Indonesia, termasuk membeli produk-produk yang dijual oleh santri.

Apalagi saat ini telah memasuki zaman milenial, peran santri zaman now untuk menjadi entrepreneur perlu ditingkatkan untuk kemajuan perekonomian bangsa. Santri sudah diberikan bekal ilmu muamalah (jual beli) sehingga sangat cocok apabila menjadi pengusaha penggerak kemajuan bangsa berasaskan jual beli yang jujur. Salah satu contoh Pondok Pesantren yang melatih bisnis adalah Ponpes Agropreneur At Taufiq di Bekasi. Ponpes ini tak hanya mencetak santri yang ahli agama tapi juga santri yang mampu membuka lapangan pekerjaan. Selain itu, ada juga Ponpes Al Ittifaq Bandung  yang juga mengajarkan kewirausahaan berbasis agribisnis terutama syur mayur. Pondok Pesantren Al Ittifaq ini menjadi penyuplai sekitar 3-4 ton hasil pertanian dari lahan Pondok Pesantren seluas 14 hektar yang sepenuhnya dikelola oleh para santri. Dengan contoh tersebut diharapkan dapat  menjadi inspirasi dan motivasi bagi para santri untuk menjadi pengusaha.

Dengan adanya kiprah santri yang berjiwa leadership tinggi diharapkan dapat menjadi solusi krisis pemimpin di masa depan, sehingga melahirkan sosok pemimpin berkarakter yang peduli rakyat. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan prorakyat dan lebih mementingkan kepentingan rakyat di atas kepentingan golongan, keluarga, maupun sanak famili. Sedangkan adanya santri yang berjiwa entrepreneurship tinggi diharapkan mampu meningkatkan perekonomian bangsa dengan meningkatnya jumlah pengusaha di Indonesia.

BIODATA SINGKAT PENULIS  
Dewi  Nur Halimahatau biasa dipanggil Halimah, lahir di Blora pada 7 April 1994. Putri sulung dari pasangan suami istri, Masdari – Mahzunah merupakan alumni mahasiswa dari Julusan Biologi angkatan 2012, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro, Semarang dan juga alumni santri dari PP. Khozinatul Ulum Blora.

Leave Comments