Pendidikan di Pondok Pesantren Salaf, Mampukah Menjawab Tantangan Zaman?

Pesantren Salaf

Pendidikan di Pondok Pesantren Salaf, Mampukah Menjawab Tantangan Zaman?
Oleh: Muhammad Wildan Habibi

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang menetapkan standar alokasi minimal sebesar 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) untuk bidang pendidikan dalam konstitusinya. Hal ini merupakan bentuk perhatian luar biasa dari pemerintah Indonesia untuk pendidikan, bidang yang amat sangat penting bagi terwujudnya kemajuan bangsa.

Referensi eksplisit tersebut secara jelas menggambarkan arti penting pendidikan bagi bangsa ini. Pada saat menyampaikan pidato kenegaraan, Presiden Joko Widodo selalu menekankan bahwa masa depan Indonesia bertumpu pada kemampuan bangsa untuk mempersiapkan generasi mendatang. Berangkat dari pemahaman ini, pendidikan dapat diartikan sebagai sebuah investasi yang diperlukan untuk Indonesia yang sejahtera. Sebab diharapkan dari sini dapat terlahir Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Ini adalah sesuatu bentuk yang mendasar bagi sebuah negara.

Lain halnya dengan Negara Sudan, penulis melihat banyak anak-anak kecil dijalanan menyemir sepatu, meminta-minta, menjadi kernet bus, berjualan permen, memunguti sampah, dan lain sebagainya. Rasanya pendidikan di negara tersebut kurang sangat diperhatikan oleh pemerintah Sudan, padahal pendidikan adalah sebuah jawaban dari tantangan masa depan suatu bangsa untuk menyiapkan generasi mudanya guna mempertahankan negaranya dalam arus globalisasi dunia.

Hanya mengambil pelajaran dari cerminan negara lain, bahawasannya di Negara Indonesia masih sangat diperhatikan pendidikannya daripada negara yang penulis sebutkan di atas, seharusnya kita sebagai generasi yang sedang disiapkan pemerintah lewat jalur pendidikan dengan dianggarkannya (APBN) dan (APBD) agar terselenggarakannya beasiswa masyarakat yang kurang mampu, beasiswa masyarakat berprestasi dan juga beasiswa untuk para santri. Ini adalah bentuk perhatian serius dari pemerintah untuk menyiapkan para generasi mudanya menjawab tantangan masa depan dunia, karena pendidikan adalah satu-satunya jawaban masa depan.

Pendidikan tentu bukan hanya soal ilmiah, tetapi pendidikan dalam bentuk keagamaan juga sangat diperlukan pada zaman yang serba menggunakan fikiran yang cerdas, serta dibarengi dengan iman dan akhlaq yang kuat untuk bertahan dalam interfrensi global. Indonesia mempunyai banyak solusi dalam menyikapi masa depan, soal pendidikan keagamaan Indonesia mempunyai Pondok Pesantren dengan sekolah terpadu berbasis agama setara dengan sekolah umum lainnya. Soal pendidikan ilmiah Indonesia juga mempunyai universitas-universitas yang sangat komplit subfakultasnya. Sudah terbukti dan tidak dapat diragukan lagi pendidikan di Negara Indonesia sudah banyak yang mamapu bersaing dalam kancah internasioanl, baik dari Pondok Pesantren maupun dari Universitas-Universitas dalam negri.

 Pendidikan Pondok Pesantren Salaf Menjawab Tantangan Zaman

Pesantren adalah sebuah pendidikan tradisional yang para santrinya tinggal bersama dalam satu komplek pendidikan untuk belajar ilmu keagamaan dengan dibimbing langsung oleh Kiyai (orang yang ilmu keagamaanya sudah mumpuni). Pesantren lahir sejak zaman para Wali Songo berdakawah di tanah Jawa dengan mendirikan padepokan-padepokan untuk mengajarkan keagamaan dengan sistem Jawa tradisional tanpa menghilangkan kebudayaan yang telah tumbuh subur di tanah jawa itu sendiri, hanya saja kebudayaannya disisipkan ajaran syariat keislaman. Sebuah strategi dakwah yang sangat cerdik dan sopan, berbalik tajam dengan dakwah yang sekarang sering kita lihat atau kita dengar, mengingat cara dakwah yang sekarang banyak bertebaran hanya untuk menyuarakan kebencian dan kekerasan.

Salah satu fungsi kehadiran pesantren dalam kehidupan sosial adalah untuk melindungi generasi muda bangsanya dari pengaruh negatif globalisasi, sepertihalnya hedonisme, kenakalan remaja dan skulerisme, padahal untuk membangun generasi muda tidak hanya soal keilmuan ilmiah saja, akan tetapi juga keilmuan agama yang didasari dengan kekuatan karakter dan kekuatan aqidah personalnya. Inilah yang melatarbelakangi berdirinya pesantren dan menjadikan semakin kokohnya pesantren hingga zaman moderen seperti sekarang ini, sehingga menjadikan Pesantren sebagai tolak ukur keseimbangan berpendidikan.

Founding fathers bangsa Indonesia KH Wahid Hasyim, sewaktu beliau menjabat sebagai menteri agama, beliau dengan sigap menyerap aspirasi umat Islam dan pesantren yang merupakan komponen utama bangsa ini. Beliau dengan cepat membidani peraturan mengenai penyelenggaraan pengajaran agama di sekolah umum, mendirikan pendidikan guru agama negeri, dan perguruan tinggi agama Islam negeri.

Walhasil jaman sekarang, kekhawatiran tentang tidak adanya pendidikan agama di sekolah formal sudah tidak relevan lagi. Apalagi hampir seluruh pesantren yang memiliki sekolah formal menambah pelajaran agama di luar jam sekolah. Bahkan pelopor-pelopor pendirian sekolah formal di lingkungan pesantren adalah pesantren-pesantren besar yang menjadi rujukan. Seperti Pesantren Tebu Ireng, Nurul Jadid, Darul Ulum dan lain sebagainya.

Rasa percaya diri dan keinginan untuk mandiri adalah sebuah bentuk alasan mengapa masih banyak pesantren salaf yang tidak mengembangkan pendidikannya pada pendidikan formal atau pendidikan ilmiah. Rasa percaya diri timbul dari keberhasilan pendidikan pesantren selama berabad-abad. Khususnya dalam pendidikan karakter, pesantren memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dalam mendidik etika murid-muridnya dalam berinteraksi sosial kebudayaan atau keagamaan, karena salah satu kunci keberhasilan dari berkehidupan sosial adalah baiknya cara berinteraksi sosial.

Salah satu kelebihan yang paling menonjol dan unik dari pesantren salaf justru kemandirian dalam ekonomi. Alasan penulis mengatakan unik sebagai kelebihan pesantren salaf adalah karena pesantren salaf kehidupannya hanya bergantung dari elemen internal pesantren itu sendiri, mulai dari Sumber Daya Manusianya, Sumber Daya Alamnya atau bahkan dari sumber penghasilan ekonomi mandiri lainnya. Pesantren Sidogiri membuktikan bahwa karena tidak memiliki ijazah formal justru membuka peluang besar untuk berwirausaha. Sidogiri dengan ke-salaf-annya mampu mendirikan banyak minimarket dan usaha perbankan BMT (Baitul Mal wa Tamwil).

Suatu bentuk kemandirian pesantren salaf dalam mengolah kurikulum pendidikan kitab kuning dengan segala bentuk model pembelajaran, dan tentu dibekali dengan skill kreativitas berekonomi, bersosial, berbahasa, dan skill menulis. sehingga muncullah percetakan buku milik pesantren salaf seperti Pustaka Sidogiri dan Lirboyo Press. ini adalah sebuah jawaban dari pesantren terhadap masa depan, bahwasannya pesatren juga mampu memandang kebutuhan para santrinya untuk andil dan bersaing dalam tranformasi global, menyebarkan rahmatan lil alamin tanpa menghilangkan eksistensi jiwa ke-pesantren-an.

Omdurman, 26 maret 2019,

Leave Comments