Akal Sehat Santri

Santri NU

Akal Sehat Santri
Oleh: Ardiansyah Bagus Suryanto

Keagungan Islam dan keindahan Nusantara menyatu dalam senyum penduduk Negeri Pancasila. Dari gunung ke laut wajah tersenyum dimana saja sebagai identitas kultural dalam bersikap, bertindak dan bertutur. Senyuman sebagai bahasa universal untuk mempertahankan tradisi-tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Adaptif dengan setiap kemajuan tanpa kehilangan jati diri dalam ‘menjadi’.

Bahasa dan budaya yang menjadi batasan umat manusia, tidak lagi menjadi halangan untuk bersahabat. Nilai kebajikan yang terkandung dalam budaya lain dan tersimpan dalam bahasa tertentu akan menyatu dalam keindahan budaya nusantara. Penyalahgunaan logika sebagai pangkal perdebatan seringkali menyebabkan permusuhan tak berdasar. Maka sebenarnya, puncak kecerdasan masyarakat gemah ripah loh jinawe adalah keindahan berbudaya. Indah tanpa menjelekkan, menang tanpa mengalahkan dan beragama tanpa mengafirkan.

Nilai-nilai tersebut menjadi karakter, ciri khas atau tipologi masyarakat Nusantara. Dikembangkan dalam pendidikan khusus yang dikenal dengan nama Pesantren, tempat dimana para santri dididik agar tidak kagetan dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat. Senantiasa merawat akal sehat dengan mengedepankan akhlak, menebarkan kedamaian dan memberikan ketenangan kepada umat..

Santri sebagai symbol keindahan dalam memperjuangkan harapan umat. Tidak hanya keindahan tentang apa, melainkan juga kesantunan dalam menyapa. Maka, pesantren menjadi tempat berkumpulnya akal sehat dalam mempelajari keindahan sastra. Sastra berwujud firman Tuhan dan sabda Rasul, serta karya ulama’ dalam bentuk rangkaian nadham.

Klaim Hari Santri

Setiap keindahan akan diperebutkan oleh banyak pihak. Cara sederhana untuk mengetahui kebenaran tersebut adalah dengan melacak sejarah adanya hari santri. Juga dapat dideteksi dengan kebiasaan yang telah menjadi identitas. Ada beberapa kata yang setara dengan kata santri, yaitu langgar, tahlilan, tawassul dan ziarah kubur. Setara yang dimaksud di sini adalah identitas sebuah kata dengan kesamaan peristiwa. Sehingga ketika seseorang atau sebuah kelompok mengklaim sebagai pengusul adanya hari santri, namun tidak melakukan objek kata yang setara dengannya, maka dapat disimpulkan sebagai kebohongan.

Menurut Gus Dur, santri berasal dari bahasa Pali shastri, orang yang mempelajari sastra. Pali sebagai bahasa pertama kitab Tripitaka. Istilah yang identic dengan agama Buddha, namun digunakan dalam agama lain. Ini menunjukkan bahwa perbedaan bahasa tidak membuat seseorang auto-kafir atau bermasalah dengan keislamannya.

Langgar sebagai salah satu sebutan tempat beribadah umat Islam yang tidak jauh dari rumah. Berasal dari kata sanggar yang bermakna tempat pemujaan di pekarangan rumah. Walisongo mempunyai andil besar dalam merubah suatu tempat berdasarkan nilai-nilai Islam tanpa pemaksaan atau pertumpahan darah. Istilah yang identic dengan agama lain, namun digunakan dalam dakwah Islam.

Tahlilan merupakan amaliah Islam di Nusantara yang dibungkus dengan kebudayaan setempat. Masyarakat Nusantara pada zaman dahulu senantiasa mengingat jasa leluhur dengan mendatangi punden berundak dengan mempersembahkan sesajen. Walisongo mengadopsinya dan merubahnya menjadi budaya silaturrahim dan sedekah. Tawassul menjadi salah satu unsur dalam tahlilan agar senantiasa mengingat jasa para guru dan orang tua. Sedangkan ziarah kubur menjadi upaya untuk memahami bahwa ‘Jangan sekali-kali melupakan sejarah!’

Raden Santri

Rencana penggusuran makam Rasulullah dan klaim hari santri adalah pola piker dengan latar belakang yang sama. Gerakan santri yang menolak rencana penggusuran tersebut dikenal dengan Komite Hijaz, sebagai cikal bakal Nahdlatul Ulama’. Santri tidak akan melupakan jasa para guru dan orang tuanya, karena melupakan salah satu atau keduanya akan menjadi sebab hilangnya keberkahan dalam hidup. Tahlilan, tawassul dan ziarah kubur sebagai salah satu cara mengingat jasa-jasa mereka yang telah berpulang, inilah identitas santri.

Seorang santri bernama Sayyid Ali Murtadlo menggunakan kata santri sebagai identitas. Orang-orang menyebutnya Raden Santri, kakak dari Sunan Ampel. Anak dari Syekh Ibrahim Asmaraqondi dan sepupu Maulana Malik Ibrahim. Maka sebenarnya, Sayyid Ali Murtadlo adalah Sunan Gresik yang masuk dalam Walisongo.

Santri, tak mengandalkan seragam agar dihormati atau berkata agar diikuti, apalagi minta untuk dilayani. Kebanggannya bukan pada diri, melainkan aktivitas sehari-hari. Senjatanya istiqomah mengaji mengasah jati diri, berharap ilmu yang manfaati barokah dari para kiai. Melestarikan ajaran para wali sebagai pewaris baginda Nabi. Itulah impian sejati, bukan untuk menyombongkan diri terhadap titipan Ilahi, karena itu perilaku syaitoni. Musuh abadi manusia di muka bumi.

Selamat Hari Lahir Organisasi Para Santri, Nahdlatul Ulama’!

*Editor Journal of Islamic Education Studies UIN Sunan Ampel Surabaya

2 Comments

  • Jadi santri itu harus bisa berpikir bijak, benar salah tidak hanya sebatas dari logika, tapi rasa dan ketenangan jiwa juga dipertimbangkan. Terutama masalah keyakinan dan keimanan tidak semuanya bisa di logikakan akal sehat.
    Catat, jadi san3 iku Ojo kagetan, wedian, n gumunan.

  • Ngaji terus nganti istiqomah, berkah

Leave Comments