Merawat Tradisi “Ngaji Sorogan” Di Tengah Menguatnya Arus Modernisme

Merawat Tradisi “Ngaji Sorogan” Di Tengah Menguatnya Arus Modernisme
(Studi Kasus Pondok Pesantren Salaf Al-Utsmani Beddian Bondowoso)

Oleh: Nuril Qomariyah

Saya memilih untuk melakukan penelitian di daerah saya sendiri, hitung-hitung memperkenalkan kearifan lokal (local wisdom) sekaligus khazanah kepesantrenannya. Awalnya, salah seorang guru saya menyarankan untuk melakukan penelitian di pesantren yang berada di desa sebelah, di Pesantren Al-Utsmani Beddian, salah satu pesantren salaf terbesar di Kota Bondowoso. Saya pun menerima itu dan mencoba menggali data di pesantren tersebut.

Pesantren Al-Utsmani Beddian merupakan pesantren yang berada jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, berada di pelosok Desa Jambeanom. Mengapa saya katakan pelosok, karena pesantren ini berada di daerah yang jauh dari perkampungan warga, komplek di sekitar pesantren merupakan daerah tempat tinggal bagi abdi dalem pesantren sendiri.

Ditemani salah satu pengajar Madrasah Diniah (Madin), Pesantren Al-Utsmani Beddian, saya berkunjung kesalah satu pengurus bagian Ta’lim wa Tarbiyah dari Pesantren Al-Utsmani Beddian. Syukurlah malam itu beliau sudah tidak ada kegiatan mengajar kitab setelah tarawih, sehingga saya dapat melakukan tanya-jawab, atau wawancara singkat dengan beliau. Dan tulisan ini merupakan hasil perbincangan panjang dengan salah satu konseptor pengajian kitab dan pendidikan yang ada di Pesantren Al-Utsmani Beddian, Ustad Muchsin Ghazali.

Bukan lagi dualisme lembaga pendidikan

Pesantren sebagai tempat belajar atau kawah candradimuka bagi generasi bangsa, mendalami ilmu pengetahuan (keagamaan), merupakan peletak dasar munculnya Islam Nusantara. Ilmu pengetahuan yang diajarakan di pesantren merupakan refleksi keagaman serta totalitas kebangsaan. Oleh karenanya, keberadaa pesantren sangat diperlukan.

Namun ditengah perkembangan zaman dan masuk arus ilmu pengetahuan lain dari luar. Lembaga pendidikan di Indonesia tidak hanya pesantren, melainkan juga lembaga pendidikan. Seperti sekolah, yang mengajarkan ilmu pengatahuan umum. Keduanya berda dibwah naungan lembaga yang berbeda, sekolah di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Nasional, sedangkan pesantren berada di bawah Departemen Agama. Dua lembaga ini merupakan induk dari lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Diantara keduanya berbagai perbedaan, diantara adalah model dan sistem yang dipakai.

Dalam situasi tersebut, pesantren seolah menjadi subordinat dari sistem besar pendidikan nasional. Sistem kelembagaan ini berlaku pada awal kemerdekaan hingga sekitar tahun 1972 (Materi K.H. Ahmad Baso, dalam Short Course Pengkajian Pesantren).

Namun, kini dualisme lembaga pendidikan ini telah berhasil dihilangkan. Dengan munculnya lembaga pendidikan pesantren yang terstruktural. Dimana jenjang pendidikannya dimulai dari tingkat TPQ (Setara dengan TK/RA), Ula (Setara dengan SD/MI), Ustha (Setara dengan SMP/MTs), Ulya (Setara dengan SMA/MA), dan Ma’had Aly (Setara dengan Universitas). Lembaga pendidikan pesantren dari tingkat TPQ hingga Ulya merupakan pengklasifikasian dari Madrasah Diniah (Madin). Madin ini memiliki kurikulum sendiri yang berada diluar campur tangan pemerintah (Diknas ataupun Depag). Melalui model demikian, santri diharapkan memiliki pola belajar yang sistematis, baik non-formal maupun formal.

Walaupun terjadi perubahan sistem belajar, khazanah keilmuan pesantren masih dijaga, utamanya melalu standarisasi. Dengan harapkan, para santri tetap mampu membaca kitab kuning yang telah diajarakan secara turun-temurun oleh ulama-ulama salaf terdahulu. Standar minimal pencapaian tersebut adalah santri lulusan Ulya. Santri yang telah mampu membaca dan memahami kitab kuning, akan menambah pemahaman tentang Agama Islam secara utuh sesuai dengan yang diajarkan salafussholih (Ulama Salaf) yang sangat kental dengan ajaran Rasulullah SAW.

Menurut Ustad Muchsin, lembaga pendidikan pesantren merupakan lembaga pendidikan yang unik. Ada tiga hal yang akan diterima oleh setiap santri yang berada di pesantren–dan akan sulit didapatkan dari lembaga pendidikan lain–, yakni: 1.Ta’lim (Pengajaran); 2.Tarbiyah (Pendidikan-pembentukan kepribadian); dan 3.Ta’dib (Pengenalan Adab-pembentukan akhlak). Ketiganya merupakan komponen yang dikemas secara komplit dalam lembaga pendidikan pesantren dengan harapan output berupa santri yang berilmu siap mengabdi bagi agama dan bangsa serta memiliki keagungan akhlak sesuai dengan akhlak yang diajarakan oleh Rasulullah SAW.

Mengapa harus pesantren salaf?

Pesantren Al Utsmani Beddian merupakan salah satu dari sekian banyak pesantren yang ada di kota saya, Bondowoso. Sejak awal berdiri hingga saat ini pesantren ini masih mempertahankan tradisi pesantren salaf. Lokasi pesantren dapat dikatakan jauh dari pusat kota, karena berada di pelosok desa tepatnya di Dusun Beddian, desa Jambeanom.

Berdasarkan nama dusun itulah kemudian Pesantren Al Utsmani Beddian lebih dikenal dengan sebutan Pesantren Beddian. Diantara pesantren-pesantren lainnya yang ada di Bondowoso, Pesantren Beddian merupakan pesantren salaf terbesar yang ada di Bondowoso, meskipun lokasinya yang berada di pelosok desa.

Hal yang menjadi pertanyaan besar saya adalah mengapa diera modern dan di pelosok desa seperti ini, Pesantren Al Utsmani Beddian masih bertahan dengan label pesantren salaf, sedangkan beberapa pesantren lainnya justru mulai meninggalkan sistem pengajian kitab (Tradisi salaf), dan lebih fokus dalam mengembangkan sistem pendidikan formal yang sedikit banyak telah memasuki lingkungan pesantren.

Atas kegelisahan itu, Ustad Muchsin menyampaikan bahwa pesantren akan kehilangan jati dirinya ketika tidak lagi melahirkan santri-santri yang ahli dalam membaca dan memahami kitab kuning (ahli kitab). Hal ini yang melatarbelakangi Pesantren Al Utsmani Beddian masih mempertahankan kultur salafiyah dalam kegiatan pesantren, yakni berupa ngaji sorogan. Karena hal tersebut merupakan tradisi khas pesantren yang diwariskan oleh ulama salafussholih yang harus tetap dilestarikan dan dirawat.

Demi menunjang eksistensi pesantren salaf diera modern, terdapat pengklasifikasian lembaga di Pesantren Al Utsmani Beddian, yakni: 1) Pengajian Kitab; 2) Madrasah Diniah (Madin); dan 3) Pendidikan Formal. Pengklasifkasian ini bertujuan agar tidak terjadi tumpang tindih antar program yang telah disiapkan oleh pesantren. Namun tetap, diantara ketiga lembaga ini pengajian kitab dijadikan sebagai prioritas utama. Hadirnya lembaga pendidikan formal merupakan suatu kebutuhan dari para santri. Karena tidak sedikit dari santri yang melanjutkan pendidikan setelah tingkatan Ulya di universitas. Sehingga, diperlukan adanya fasilitas berupa pendidikan formal untuk menunjang hal tersebut. Karena di Pesantren Al Utsmani Beddian belum memenuhi syarat untuk mendirikan Ma’had Aly.

 Secara terperinci Ustad Muchsin kemudian menjelaskan terkait kegiatan dua lembaga utama yang ada di pesantren, yakni Pengajian Kitab dan Madrasah Diniah. Yang diantara keduanya memiliki relasi yang sangat kuat. Akan tetapi tetap Pengajian Kitab jauh lebih utama jika dibandingkan dengan Madrasah Diniah. Dalam artian jam kegiatan Madrasah Diniah tidak boleh berbenturan dengan kegiatan Pengajian Kitab.

Seluruh kegiatan ngaji kitab di Pesantren Al Utsmani Beddian menggunakan sistem ngaji sorogan. Pengajian Kitab di pesantren ini jika dilihat dari jenisnya terbagi menjadi tiga. Pertama adalah pengajian umum, pengajian ini merupakan kegiatan yang wajib diikuti oleh seluruh santri di pesantren tanpa terkecuali dan juga warga pesantren lainnya termasuk ustad dan ustadzah Madin serta Sekolah Formal. Kegiatan pengajian umum ini dimulai dari pukul 06.30 hingga 08.00 WIB. Pengajian umum merupakan pengajian terpusat di masjid pesantren, yang langsung dipimpin oleh Kiai H.Ghazali selaku pengasuh Pesantren Al Utsmani Beddian saat ini. 

Kitab yang dikaji dalam pengajian umum dari tahun-ketahun masih sama. Dengan tingkatan ringan dipagi hari, hingga nantinya diakhiri dengan kitab yang tingkat kerumitannya cukup tinggi. Kegiatan pengajian umum ini diawali dengan kitab Safinatun Najah dan Sullamut Taufiq. Kemudian dilanjutkann dengan kitab Fathul Qarib, biasanya setelah selesai dua kitab yang pertama santri yang di Madin kelas 4 dan 5 Ula turun (meninggalkan majelis) terlebih dahulu karena kitab yang selanjutnya sudah lebih tinggi. Lebih siang lagi dilanjutkan dengan Kitab Fathul Mu’in biasanya pada bagian ini hingga pukul 08.00 diperuntukkan untuk santri tingkat Ulya dan yang telah lulus, sehingga santri tingkatan Wustha kebawah diizinkan untuk turun lebih dulu.

Kedua adalah pengajian khusus, dikatakan khusus karena pengajian ini tersistem dan ditentukan sepenuhnya olh pengurus pesantren, mulai dari jenis kitab yang dikaji, ustad dan ustadzah, serta tempat pengajiannya sudah terkontrol. Kegiatan pengajian ini dimulai dari Ba’da Shalat Isya sampai dengan pukul 21:30. Setelah kegiatan pengajian khusus ini para santri ada jam wajib belajar hinggal pukul 22.00 dan dipantau langsung oleh pengurus. Ketiga adalah pengajian bebas, biasanya dilakukan Ba’da Shalat Maghrib hingga menjelang Shalat Isya’. Setiap santri dibebaskan untuk mengikuti pengajian ini termasuk dalam memilih kitab yang akan dikaji serta ustad atau ustadzahnya. Biasanya kegiatan pengajian bebas ini dilakukan para santri yang masih merasa kurang cakap dalam menerjemah dan sering tertinggal ketika ngaji sorogan.

Pengajian kitab merupakan ruh dari pesantren salaf. Maka tidak heran jika lembaga Pengajian Kitab berada menjadi prioritas utama. Dengan tujuan agar dari pesantren tetap lahir santri-santri yang mampu membaca serta memahami kitab kuning dan dapat diaplikasikan di masyarakat. Selain itu, kegiatan ngaji kitab ini sekaligus merawat serta mempertahankan tradisi baik yang diwariskan oleh para Ulama Salaf terdahulu .

Untuk mendukung kegiatan pengajian kitab, maka pesantren memerlukan Madrasah Diniah (Madin). Dari Madin inilah para santri ditempa metode atau cara agar dapat membaca kitab kuning. Sejak kelas 5 Ula, setiap santri telah mempelajari Ilmu Nahwu dengan Bahasa Indonesia yang ditulis dengan tulisan arab. Dan kelas 6 Ula para santri mempelajari Kitab Nahwu Jurmiyah. Untuk tingkatan Wustha santri mempelajari Kitab Nahwu Imriti dengan ketentuan wajib hafal setengah bagian dari kitab, dan setengahnya lagi dilanjutkan ketika di tingkat Ulya sekaligus mempelajari Kitab Alfiyah Ibnu Malik yang menjadi standart dalam membaca kitab kuning. Dasar ilmu nahwu yang diperoleh di Madin inilah yang mempermudah para santri dalam mengikuti kegiatan pengajian. Kegiatan di Madin dimulai setelah santri selesai mengikuti kegiatan sekolah formal pagi harinya, tepatnya dari Ba’da Shlat Dzuhur hingga sebelum ‘Ashar.

Yang khas dan harus dijaga: Ngaji sorogan dengan arab pegon

Dijelaskan di atas bahwa seluruh jenis pengajian kitab di Pesantren Al Utsmani Beddian, menggunakan sistem ngaji sorogan. Ngaji sorogan sendiri merupakan salah satu tradisi khas pesantren salaf. Saat ngaji sorogan Kiai tak memrlukan papan untuk menulis hanya bermodalkan kitab dan langsung memaknai di hadapan ratusan bahkan ribuan santrinnya pada saat pengajian umum. Begitu pula para santri, hanya membawa kitab dan alat tulis untuk memberi makna pada kitab. Yang khas dari ngaji sorogan adalah cara santri memberi makna pada kitab, yang mayoritas bahkan keseluruhan menggunakan tulisan arab pegon.

Saat mewawancari Ustad Muchsin, sedikit beliau menyinggung sejarah munculnya arab pegon di kalangan santri salaf. Huruf arab pegon telah lama digunakan oleh Wali Songo, Haba’ib, ulama-ulama pesantren hingga para Kiai. Arab pegon merupakan upaya Ulama Salaf untuk memperlancar penyebaran agama Islam dan menjadi transfer ilmu agama. Sehingga, paham-paham keagamaan dapat dinikmati oleh masyarakat luas serta terjaga dari berbagai penyimpangan ilmu agama. Dalam hal ini arab pegon  sebenarnya telah berperan besar dalam mengkomunikasikan khazanah intelektual muslim di Nusantara.

Seorang ahli perpustakaan dari Prancis, Hambert Lior pada tahun 1980 telah mengadakan penelitian mengenai hal ini. Dia memperkirakan bahwa kitab-kitab Islam yang bertuliskan aksara Arab Pegon sekitar 4000 buah naskah tersebar di 28 negara. Ismail Husin (1974) memperkirakan skitar 5000 naskah arab pegon berbahasa Melayu, seperempatnya berada di Indonesia.

Arab pegon berasal dari huruf Arab hijaiyah, yang kemudian disesuaikan dengan akasara (abjad) Indonesia (Jawa atau Madura) sesuai daerah pengajarannya. Huruf pegon lahir dikalangan pondok pesantren untuk memaknai atau menerjemah kitab-kitba kedalam bahasa Indonesia, Jawa, maupun Madura, guna mempermudah penulisannya. Karena penulisan kitab-kitab berbahasa arab dari kanan ke kiri begitu pula penulisan arab pegon, berbeda dengan huruf latin yang ditulis dari kiri ke kanan.

Sayangnya, saat ini huruf arab pegon lambat laun mulai dilupakan. Hal ini bermula sejak Belanda menjajah Indonesia dan mengenalkan huruf latin. Sekolah-sekolah formal hampir seratus persen menggunakan tulisan huruf latin. Bahkan dalam administrasi negara, penjajah menekankan penggunaan tulisan dengan huruf latin. Yang sangat berbeda dengan kondisi Indonesia sebelum kedatangan penjajah. Kurangnya pemahaman dan kesadaran umat Islam mengenai hal ihwal huruf pegon tidak sedikit mempercepat hilangnya tradisi arab pegon dikalangan masyarakat. Jadi tidak di herankan jika akhir-akhir ini keberadaan huruf arab pegon semakin terisolir, hanya dipakai di dunia pesantren yang masih tetap konsisten melestarikan keberadaan huruf arab pegon.

Sejarah panjang serta kondisi arab pegon yang mulai langka dikalangan santri ini yang menjadi pegangan bagi pengasuh dan pengurus Pesantren Al Utsmani Beddian untuk tetap menjaga tradisi ngaji sorogan dengan arab pegon di kalangan santri. Kebiasaan menulis arab pegon ini telah ditanamkan sejak santri duduk di kelas 4 Ula dan diwajibkan untuk tingkatan di atasnya. Inilah satu-satunya cara untuk menjaga dan merawat tradisi ulama salaf yang mulai ditinggalkan diera modern melalui lembaga pendidikan pesantren salafiyah. Tanpa kemudian melupakan kebutuhan santri akan pendidikan modern sebagaimana telah diaparkan di atas.

K.H. Maimoen Zubair, pada Kongres Ijtima’ Ulama Nusantara ke-2 di Malaysia tahun 2007 menyampaikan, betapa umat Islam telah dengan mudahnya melupakan beberapa ajaran ataupun peninggalan ulama salaf. Salah satu diantaranya adalah arab pegon. Siapa lagi yang akan mempertahankan keberadaan huruf arab pegon kalau bukan generasi Islam saat ini, terutama mereka yang menamakan dirinya sebagai kaum santri salafiyah.

Diakhir wawancara Ustad Muchsin menegaskan bahwa pesantren akan kehilangan jati dirinya ketika tidak melahirkan generasi yang bisa membaca dan memaknai kitab dan meninggalkan tradisi ngaji yang diwariskan Ulama Salaf terdahulu. Pesantren Al Utsmani Beddian, yang berada di pelosok berusaha untuk melestarikan tradisi ngaji kitab ini tanpa menghilangkan kodrat kebutuhan santri saat ini berupa pendidikan formal yang modern. Inilah yang menjadi simpul pengembangan khazanah keilmuan di pesantren, sehingga pemikiran tentang pesantren yang kuno, tradisional, dan tertutup dapat dihilangkan dari konstruksi masyarakat saat ini.

Kegiatan penelitian pesantren saya kali ini membawa pada nilai-nilai tradisional pesantren salaf yang menjadi pemikiran masyarakat masih sangat sempit. Karena sebenarnya pesantren salaf tidak sepenuhnya menutup diri dari munculnya pendidikan formal yang memang menjadi kebutuhan para santri. Akan tetapi memberikan ruang tersendiri pada pendidikan formal, dengan tetap menjaga tradisi salafiyah berupa ngaji sorogan bersama pengasuh atau Kiai yang menjadi hal unik yang identik dengan  pesantren salaf. Ngaji sorogan ini yang kemudian mengenalkan saya dengan esensi keberadaan huruf arab pegon dikalangan santri. Dimana sejarah arab pegon dalam penyebaran agama Islam di Indonesia memiliki peranan penting. Hal ini yang kemudian harus diketahui oleh generasi muda muslim saat ini, untuk senantiasa merawat tradisi khas pesantren salaf yang mulai hilang, yakni: Ngaji sorogan dengan arab pegon.

Penelitian kepesantrenan ini mengajarkan saya untuk tetap merawat tradisi lama dan tmenerima serta memberika apresiasi penuh dengan terhadap perkembangan pengetahuan serta tradisi baru sebagai dampak modernisasi.

Nuril Qomariyah, Lahir di Bondowoso 2 Juni, 19 tahun silam. Merupakan Alumni dari Yayasan At-Taqwa Bondowoso sejak bangku TK, MI bahkan MTs., menghabiskan masa SMA di MAN Bondowoso, pernah nyantri di Ma’had Atqia Bondowoso dan di MSAA UIN Malang. Saat ia ini sedang menempuh studi di Jurusan Fisika UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Ia adalah seorang aktivitas yang tidak terlalu menyenangi berdiam diri. Pecinta fisika dan sastra ini selalu berharap dirinya dapat menularkan semangat positif.

Leave Comments