Memaknai Arti Nyantri, Ngopi, Ngaji dan Ngabdi di Dunia Pesantren

Memaknai Arti Nyantri, Ngopi, Ngaji dan Ngabdi di Dunia Pesantren

Oleh: Abu Dzarrin Bagus*

Di pesantren, santri itu identik dengan perihal “Nyantri, Ngopi, Ngaji dan Ngabdi”. Empat hal tersebut tidak bisa dipisahkan dari kehidupan seorang santri. Sebelum masuk lebih dalam pada pembahasan tema tersebut, saya akan mengedentifikasi makna-makna dari empat hal diatas.

 Pertama, “Nyantri”. Nyantri adalah suatu proses dimana seseorang dipaksa (dibiasakan) untuk hidup serba sederhana, mandiri, disiplin, dan memiliki sifat tawadlu’ kepada seorang kiai atau pengasuh lembaga kepesantrenan. Pada proses ini santri digembleng untuk disiplin full day full night.

Hal inilah yang menjadikan seorang santri itu berbeda dari yang lain; dia sudah dilatih sedemikian rupa untuk siap menjadi kader-kader bangsa yang disiplin dan ber-akhlakul karimah. Sesorang yang memiliki title “Santri” biasanya dipandang lebih oleh masyarakat dengan anggapan ‘siapa yang nyantri, pastilah dia memiliki ilmu agama yang baik’.

Kedua, “Ngopi”. Ngopi adalah suatu aktivitas atau kebiasan yang mungkin sangat mengsyikan menurut sebagian santri. Kebanyakan dari pengopi, utamanya santri, menganggap aktivitas ini dapat menjadi sarana membukan imajinasi.

Muhammad Thom Afandi dalam sampul bukunya yang berjudul “Ngopi Di Pesantrenku Seri 2” menuliskan “Ngopi adalah Pelajaran, mengeja alifba’…ta’… kehidupan dalam lautan iqra’-Nya. Memberi mubtada’ dan mencari Khobarnya, memaknai Fi’il dan mentarkib Fa’il-maf”ulnya, sampai ketemu dengan jelas, kalam firman-Nya, irodah dalam ayat karunia-Nya. Pada setiap seruputan mendalam, menandai makna itu telah terengguk. Seruputan yang kedua dan setrusnya, sampai makna-makna itu menjadi lukisandan di akhir tegukan, lukisan itu telah memiliki warna”.

Lebih dari itu, menurut saya Ngopi adalah momentum dimana kita meresapi pahitnya kehidupan, sekaligus dituntut untuk terus melangkah menuju kebaikan yang akan mengantar kita kepada lautan rasa manis.

Keempat, “Ngaji”. Ngaji adalah kewajiban rutin yang harus di laksanakan oleh seorang santri. Hampir sama seperti belajar di sekolah, tetapi terdapat begitu banyak perbedaan. Diantaranya, di pesantren, Ngaji tidak mempelajari ilmu-ilmu umum. Ngaji lebih banyak mempelajari ilmu agama, sebagai contoh mengkaji Al-Qur’an, mulai belajar ilmu nahwu-shorof  (metode membaca) sampai ilmu tafsir—dengan merujuk kitab-kitab klasik atau biasa disebut kitab kuning.

Keempat, “Ngabdi”. Ngabdi adalah suatu hal yang lazim dilakukan seorang santri dengan tujuan ngalap barokah kepada kiyai. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Hadratus Syaikh K.H Hasyim Asy’ari ketika belia mondok di tempat K.H Cholil Bangkalan. Dimana KH. Hasyim Asy’ari dikenal sebagai santri yang sangat patuh kepada K.H Cholil.

Dikisahkan, pada suatu hari di saat hujan lebat, K.H Cholil mendapat seorang tamu, tamu itu di depan pondok dan sedang kehujanan. Ketika itu pula Mbah Cholil menawarkan kepada santrinya “siapa yang bias menjemput tamu saya di luar?”. Seketika itu Mbah Hasyim mengajukan diri untuk menjemput tamu itu, dengan sesegera mungkin Mbah Hasyim menghampiri tamu itu dan menggendonya untuk menemui Mbah Cholil.

Setelah sekian lama tamu itu di dalam ndalemnya Mbah Cholil, Mbah Cholil kembali bertanya kepada santrinya, “siapa yang mau mengantarkan tamu saya pulang?”. Lagi-lagi Mbah Hasyim menyanggupi permintaan Gurunya itu. Tamu itu di gendong lagi sampai ke gerbang pondok.

Di saat Mbah Hasyim mengatarkan tamu itu, Mbah Cholil berbicara kepada sebagian santrinya “ilmuku sudah dibawa orang itu”, yang di maksud di sini adalah Mbah Hasyim. Lalu Mbah Cholil berkata lagi “dan yang di gendong itu adalah Nabi Khidir AS”.

Dari cerita di atas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa “Sendiko dawuh” kepada kiyai dengan ikhlas, kelak akan membawa barokah tersendi pada santri. Sebagaimana K.H Hasyim yang menjadi Ulama kharismatik dan mendirikan sebuah organisasi besar di Indonesia, yaitu Nahdlotul Ulama (NU). Suatu organisasi yang berasaskan Ahlussunah wal jama’ah dan menjadi rumah  bagi para santri.

Selain itu, di dunia pesantren juga banyak melahirkan tokoh nasional. Hal itu karena seorang santri dituntut bukan hanya menjadi seorang ulama atau kiyai. Melainkan juga mengemban amanah lain, seperti menjadi seorang pemimpin dalam masyarakat sebagaimana semboyan “Shubanul naum rijalul ‘ghod” yaitu pemuda di masa sekarang adalah pemimpin di masa yang akan datang. Hadirnya santri dalam pemerintahan dibuktikan Presiden ke-4 Indonesia adalah seorang santri, beliau adalah Abdurrahman ad-Dhakil atau Abdurrahman Wahid atau yang akrab dikenal dengan Gus Dur. Selain beliau adalah seorang presiden beliau juga di kenal dengan kiyai kharismatik yang cerdas (cendekiawan).

Santri dimanapun dia berada harus berguna untuk orang lain, karena dalam identitas santri ada tanggung jawab keilmuan yang harus memberi maslahah bagi masyarakat di sekitarnya. Kesiapan itu contohnya apabila ada masyarakat yang mengadakan tasyakuran pasti yang menjadi pilihan pertama adalah dia yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren (Nyantri). Santri juga di tuntut untuk mendakwahkan ilmunya yang di peroleh ketika di pesantren, sesuai pedoman “Ajarkanlah ilmu-mu walau se-ayat”.

Sebagai santri zaman sekarang, kita harus pandai-pandai memanfaatkan teknologi yang ada. Salah satunya internet, santri tidak boleh kalah dalam berperan aktif di media sosial. Sebab, tidak sedikit dari pengguna media sosial ingin memecah belah bangsa kita ini melalui ujaran kebencian. Sudah saatnya santri berwawasan luas, bersatu dan berkiprah di kancah nasional dan bahkan internasional. Salah satunya bisa dilakukan dengan menulis dan menyalurkan pendapat yang konstruktif.

Menulis itu gratis dan tidak dilarang. Marilah kita meneruskan tradisi santri dahulu, yaitu menulis.

Abu Dzarrin Bagas

*Abu Dzarrin Bagas adalah santri di pondok pesantren Al-Amin Suburan Mranggen, Demak

Leave Comments