Menuju Pesantren Maha-Digital (Pesantren In The Cloud)

Pesantren Digital

Menuju Pesantren Maha-Digital (Pesantren  In The Cloud)

Oleh: Moh. Ahsan Shohifur Rizal[1]

Memiliki Big Data sebagai aset NU yang dinahkodai pesantren–melangkah jauh dan melampaui batas intelektual untuk menyambut dunia baru, demi terwujudnya masa depan organisai yang memiliki kredibiltas dan eksistensi di era digital–,tentu merupakan mimpi manis yang patut dipikirkan. Menurut saya, ini merupakan investasi digital yang perlu dimulai dengan berbagai kreasi dan bentuknya, guna menunjang dan menopang eksistensi organisasi.

Hal demikian tentu tidak sekedar mimpi belaka, melainkan target yang perlu rancang pelan-pelan dan diwujudkan, melalui langkah-langkah strategis. NU sangat berpeluang untuk mewujudkan hal tersebut, sebab telah didukung adanya Santri-Akademik, yang memiliki kemampuan menggabungkan/menalfidkan ilmu pesantren dan ilmu umum, dalam melihat berbagai wacana yang ada.

Pada tema ini, penulis mengemasnya dalam akronim “BK2M”: Big Data, Kajian dan Pergerakan, Membangun dan Menyediakan Open Recourse dan Media digital. Semua invetasi itu wajib ditambahkan kata NU untuk menguatkan eksistensi dan memudahkan masyarakat ketika berselancar di dunia maya. Baik, mari kita bahas satu persatu sebagai berikut;

Big Data/Maha Data NU

Dewasa ini, seolah sudah menjadi keharusan bahwa setiap organisasi harus memiliki atau bersistem mahadata. Mengapa hal itu harus dilakukan?, dikarenakan sebuah organisasi harus mampu memperoleh, mengolah dan menganalisis data besar yang dimiliki organisnasi, khususnya Pesantren. Apa yang dimiliki dan disimpan?, meliputi data aset, karya-NU, kajian NU dan karya atau aset lain yang bisa didigitalisasikan.

Prinsipnya data bisa diakses kapan saja, dimana saja dan oleh siapa saja. Data itu bisa berupa kajian-kajian yang sudah tidak lagi populer dan tidak banyak beredar, khususnya mengkaji karya-karya kyai Nusantara–termasuk hasil kajian kader NU. Hal itu tentu merupakan wujud nyata dalam menyelematkan karya para ulama kita.

Alhamdulillah sekarang sudah ada “Maktabah Syamila” mega digital kitab kuning seluruh dunia, ada hampir enam ribu judul lebih. Tetapi karya itu hanya terbataa bagi para santri yang ahli dalam bahasa arab. Terutama yang membidangi bahstul masail.

Kajian dan Pergerakan Lintas Sektoral Bermuatan NU

Dalam dunia pendidikan, NU sudah banyak perannya dalam berbagai bidang. Tetapi sesuai pengalaman saya menjadi pendidik, kebetulan menjadi pengelola sekolah adiwiyata atau sekolah berbudaya lingkungan, sangat sedikit sekali sekolah NU yang menjalankan program itu. Padahal bidang itu ajang memberikan kiprah positif terhadap Indonesia, bagaimana peduli terhadap berbudaya dan lingkungan, baik di sekolah, di rumah atau di masayarakat sekitar.

Walauun begitu, ketika mengikuti program PKPNU, saya melihat kita sudah menerapkan aksi bebas sampah, artinya kesedaran tentang peduli lingkungan sudah ada.  Mungkin hal tersebut terlihat kecil, tapi jika dikaji program itu telah memberikan efek luar bisa, terutama dalam hal membersihkan sampah, meski belum sampai pada pola pengelolaannya.

Selain itu, mari kita memunculkan Olimpiade Maarif NU secara online, bekerja sama dengan lintas sektoral Dinas Pendidikan maupaun Kementerian Agama. Berdasarkan pertimbangan, siswa NU butuh nutrisi materi NU dengan gaya berbeda, yakni melalui olimpiade tersebut.

Dari situ, otomatis buku-buku NU harus diseleksi betul bahkan jika perlu mengenai sejarah NU ditashih oleh pakar sejarah NU, secara praktis buku NU akan menjadi sumber rujukan primer untuk mengikuti kegiatal olimpiade NU. Sebenarnya banyak hal penulis inginkan dan mimpikan, paling tidak nantinya pesantren akan menjadi pelopor organisasi yang mampu trans-sektoral untuk membantu kerja NU khususnya dalam kaitanya bidang penelitian, pengabdian dan pelatihan (sertifikasi NU).

Membangun dan Menyediakan Open Recources Khas NU

Jika sudah memiliki sistem rumah e-organisasi selanjutnya adalah untuk mengisinya dengan karya-karya monumental ulama-ulama NU dan sarjana-sarjana NU. Yang dapat diakses gratis oleh warga NU yang diintegrasikan dengan sistem Karta NU. Sehingga warga NU bisa mengakses kapanpun-dimanapun karya para ulama dan sarjana NU untuk dijadikan sebagai sumber rujukan dalam menjawab berbagai hal problematika kehidupan sekarang.

Para sarjana NU yang memiliki berbagai disiplin keilmuan masing-masing itu, tentu harus harus kuat memegang ideologi NU (Islam Ahlussunah Wal Jamaah). Sehingga pemikiran-pemikiran mereka tetap dalam koridor ke-NU-an.

Selain itu, hari ini sudah sangat banyak open recources yang telah disedikan oleh penyedia luar negeri, dalam konten itu karya-karya monumental para pakar dunia dapat diakses secara gratis. Terdapat jutaan judul dari berbagai disiplin ilmu yang dapat diakses untuk menopan penguatan kapasitas intelektualitas yang bisa kita manfaatkan.

Media Maha Digital NU

NU dan Media harus menjadi satu. Keduanya harus menjangkau seluruh lapisan masyarakat, dimana digitalisasi itu dapat dimaksimalkan untuk ajang penyebaran produk pemikiran NU kepada seluruh warga NU, utamanya kepada kenerasi Z.

Penting memikirkan rumah besar bernama  NU itu juga menjadi tempat singgah yang nyaman bagi mereka. Salah satu caranya NU harus membuat mega-link atau peta jaringan mulai dari pusat hingga pengurus ranting, contohnya nama web mulai pusat hingga ranting harus seragam. Sehingga jelas bahwa media NU adalah yang memiliki jaringan link yang dibuat oleh pusat. Nama domain diatur terstruktur, hingga media sosial resmi organisasi juga harus memiliki relasi diseluruh tingkat mulai ranting hingga pusat.

Saya berharap, jangan sampai warga NU menjadi obyek di era digital tetapi kita harus bisa menjadi subyek, utamanya dalam pengembangan ke-islam-an NU dan dakwah islam yang rahmatan lil alamin. Dengan media, kita bisa melakukan dakwah kapan saja, dimana saja. Kita bisa memanfaatkan berbagai media sosial (internet) untuk menguatkan, mengokohkan dan bahkan melebarkan sayap NU dikancah internasioanl.

Semoga sedikit ulasan artikel ini bermanfaat, penulis menyadari bahwa apa yang dimimpikan sangat berat untuk diwujudkan. Tetapi jika ada kemauan-kemampuan-kesempatan insyallah akan terwujud. Mungkin juga artikel ini juga sudah usang karena baru muncul hari ini, penulis mohon maaf atas ketidakfaktualan informasi yang kai terima.


[1] Alumni Santri PP Sabilurrosyad Gasek dan Kandidat Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Malang

Leave Comments