LITERASI SEBAGAI MEDIA DAKWAH SANTRI: STUDI KASUS PONPES DARUL FALAH BE-SONGO SEMARANG

ilustrasi literasi pesantren

Literasi Sebagai Media Dakwah Santri: Studi Kasus Ponpes Darul Falah Be-Songo Semarang

Oleh : Nur Koles

Pesantren selama ini dikenal sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam. Namun demikian, sesungguhnya pesantren turut memainkan peranan yang cukup signifikan dalam membina dan mengembangkan Sumber Daya Manusia (SDM) untuk menggapai keunggulan (excellence). Sebagai lembaga pendidikan Islam pondok pesantren sepanjang sejarahnya telah berperan besar dalam upaya-upaya meningkatkan kecerdasan dan martabat manusia.

Fungsi pesantren tersebut hingga kini tetap harus terjaga dengan baik, bahkan sebagian telah mengembangkan fungsi dan perannya sebagai pusat pengembangan di berbagai masyarakat (Said Aqil Sirajd, 1998 : 140). Pesantren pun dituntut untuk menciptakan generasi muslim yang independen dan memiliki life skill yang dapat diandalkan, demi mencapai kemandirian hidup para santri dan pelajar. Hal inilah yang dibutuhkan dalam menghadapi era globalisasi. Sebab, persaingan di era globalisasi hanya dimenangkan oleh manusia yang berkualitas (Zulkifli, 2002 : 160).

Di kalangan pesantren sendiri, setidaknya sejak dasawarsa terakhir telah muncul kesadaran untuk mengambil langkah-langkah tertentu guna meningkatkan kualitas SDM yang mampu menjawab tantangan dan kebutuhan transformasi sosial (pembangunan). Dari sinilah timbul berbagai model pengembangan SDM, baik dalam  bentuk perubahan kurikulum pesantren yang lebih berorientasi kepada kekinian, dalam bentuk kelembagaan baru, atau sekolah-sekolah umum di lingkungan pesantren (Nurcholis Madjid, 1999 : 17).

Berkaitan dengan hal tersebut, mengatakan bahwa (santri) harus dibekali dengan berbagai kemampuan sesuai dengan tuntutan zaman guna menjawab tantangan globalisasi, berkontribusi pada pembangunan masyarakat dan kesejahteraan sosial, lentur, dan adaptif terhadap berbagai perubahan.

Bahkan di beberapa pesantren telah melakukan reorientasi pendidikan yang lebih menekankan life skill dengan memperkenalkan pelatihan-pelatihan keterampilan dalam sistem pendidikannya. Seperti halnya di pondok pesantren yang menjadi tempat belajar sekaligus persinggahan saya saat ini yaitu Ponpes Darul-Falah Be-Songo yang terkenal dengan Pondok Pesantren Life Skill, para santri dibekali berbagai ilmu ketrampilan mulai dari memasak, menjahit, menyablon, menulis, dan lain-lain. Pesantren Mahasiswa Darul Falah Be-Songo telah mencoba melakukan langkah improvisasi metodologi, yaitu memperluas penyebaran wacana dan keilmuan melalui tulisan, lewat program Jurnalistik Praktis.

Pesantren Mahasiswa Darul Falah Be-Songo memiliki visi-misi membimbing dan mencerdaskan santrinya agar siap menyongsong masa depan melalui program kepenulisan. Kegiatan itu merupakan gabungan antara unsur vocational dan pengembangan keilmuan. Para santri di pesantren tersebut dibimbing untuk menjadi penulis yang siap menghadapi masa depan, berdarma dan berjuang melalui ilmu yang dimilikinya. Para santri dibebaskan menempuh jalan yang berbeda-beda sesuai kompetensi dan kemampuan masing-masing dalam kerangka kepenulisan dengan idealisasi masuk ke media massa dan dunia perbukuan. Mereka bisa memilih cerpen, opini, puisi, artikel, atau yang lainnya.

Pengarahan visi-misi melalui program semacam Jurnalistik Praktis paling tidak bisa mengandung tiga kelebihan. Pertama, improvisasi metodologi bagi keilmuan santri; kedua, aktualisasi keterampilan menulis (vocational); dan ketiga, penanaman prinsip belajar untuk menjadi (learning to know) atau belajar untuk memperoleh pengetahuan guna melakukan pembelajaran selanjutnya dan (learning to do). Dengan kata lain, belajar untuk memiliki kompetensi dasar dalam hubungan dengan tim kerja yang berbeda-beda.

Program Jurnalistik itu sendiri merupakan kegiatan yang secara khusus membimbing santri menuju profesionalisme kepenulisan. Artinya, program ini hendak mengembangkan potensi kepenulisan para santrinya dalam bidang kepenulisan yang menitikberatkan pada aspek praktik daripada teori. Karena itu, perlu dilihat, pertama, bagaimana pelaksanaan program Jurnalistik di Pesantren Mahasiswa Darul Falah Be-Songo; dan, kedua, apa hasil dan manfaat usaha pengembangan potensi kepenulisan santri melalui program Jurnalistik Praktis tersebut.

Pesantren Mahasiswa Darul-Falah Be-Songo Semarang dirintis oleh Prof.K.H. Imam Taufiq M,Ag pada tahun 2008. Untuk membiasakan budaya kepenulisan diagendakan Program Jurnalistik Praktis. Jurnalistik Praktis adalah suatu kegiatan yang masuk dalam kurikulum semi otonom  pesantren Darul-Falah Be-Songo yang secara khusus berusaha mengarahkan para santri dalam bidang kepenulisan (Wawancara : Ketua Pondok, 27 Feb 2019). Kurikulum semi otonom pesantren adalah kurikulum pesantren yang di dalam pelaksanaannya mengambil waktu dan jam tersendiri, lepas dari jadwal pelajaran yang telah ditentukan.

Jurnalistik Praktis oleh pihak pesantren diartikan sebagai latihan kepenulisan yang dilaksanakan untuk mengikuti isu-isu aktual di media massa berupa berita/reportase dalam  bentuk opini, resensi buku, puisi, essai sastra, cerpen, novel yang menitikberatkan pada aspek praktik dalam pelaksanaannya. Jurnalistik Praktis dari pihak pesantren juga mempunyai tujuan tertentu.

Secara garis besar tujuan tersebut dibagi kedalam tiga bagian; Pertama, dengan diadakannya pelatihan Jurnalistik Praktis diharapkan para santri bisa ikut berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan keilmuan melalui media massa dengan menggunakan cara atau jalan yang berbeda-beda. Kemampuan, bakat dan minat para santri diharapkan bisa diarahkan menuju pengapresiasian pendapat dan keinginan terhadap sasaran yang lebih luas, yaitu khalayak.

Para santri bisa menyampaikan apa yang diyakini sebagai kebenaran (dalam syariat Islam) melalui berbagai media, bisa lewat artikel, cerpen, puisi, buku, novel dan sebagainya. Para santri mempunyai latar belakang dan pendidikan yang berbeda-beda, diharapkan bisa melahirkan kontribusi yang bermanfaat melalui tulisan, sesuai dengan kompetensi dan bidang masing-masing. Santri mahasiswa yang di Fakultas Tarbiyah dapat menyampaikan kontribusinya tentang pendidikan, Fakultas Syariah tentang hukum, Fakultas ilmu sosial dan politik menyampaikan gagasanya seputar dunia kepolitikan, Fakultas Ushuluddin tentang dasar-dasar agama, Fakultas Dakwah tentang alternatif pengembangan Islam melalui media massa.

Kedua, dengan Jurnalistik Praktis para santri bisa menjalani proses menuju hidup mandiri, karena pengasuh menyarankan agar semaksimal mungkin tidak menggantungkan orang tua, meskipun harus bersusah-susah dan kerja keras. Dengan termuatnya tulisan di media-media massa akan mendatangkan konsekuensi finansial, yaitu berupa honor. Dengan adanya konsekuensi tersebut, jika para santri telah mapan dalam dunia kepenulisan, bisa memprediksi kemampuannya dan peka terhadap momentum, maka untuk biaya hidup dan perkuliahan menjadi tidak masalah, artinya kemandirian telah tercapai dengan bekal keilmuan.

Ketiga, dengan Jurnalistik Praktis diharapkan dapat membimbing dan mengarahkan para santri di dalam kebiasaan membaca. Hal ini sangat prinsip di dalam dunia kepenulisan, karena dalam menulis yang parameternya adalah selera khalayak melalui tim redaktur masing-masing media massa diperlukan kepekaan dan wawasan yang luas. Hal ini bisa dicapai jika santri benar-benar rajin membaca dan belajar, baik itu dari literatur-literatur yang berwujud wacana ataupun realitas yang ada. Dengan demikian, membaca dan belajar kepada realitas menjadi sebuah kebutuhan, dan kebutuhan itu akan dicari oleh pihak yang membutuhkan selama dia hidup.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dilihat bahwa pada dasarnya apa yang dilakukan oleh pihak pesantren tersebut adalah salah satu alternatif yang bisa dikatakan unik untuk dunia pesantren. Pesantren tersebut telah berusaha mengintegrasikan antara vocational dengan pengembangan keilmuan. Menulis dalam hal ini dapat di masukkan ke dalam vocational dan pengembangan keilmuan, karena pada dasarnya kedua hal tersebut dapat dicapai dalam dunia kepenulisan.

Menulis sebagai sebuah ketrampilan, jika dilakukan dengan maksimal dan telah mencapai kemapanan (dalam arti cukup bisa membaca selera redaktur dan masyarakat umum) akan mendapatkan konsekwensi finansial, yaitu berupa honor. Untuk penulis buku bisa melalui royalti (pembayaran tidak langsung) ataupun langsung. Untuk honor yang didapat, khususnya media-media massa yang jangkauannya luas atau nasional, juga relatif besar dibanding yang lokal. Misalnya harian Kompas, satu tema opini yang termuat bisa mendapatkan honor sekitar empat ratus sampai delapan ratus ribu rupiah, Jawa Pos sekitar dua ratus ribu rupiah, Kedaulatan Rakyat sekitar seratus ribu rupiah.

Yang paling penting di sini adalah nilai positif yang dapat dipetik, khususnya kebiasaan membaca yang akan terpupuk jika seseorang gemar menulis. Bagi orang-orang yang terlibat di dalam dunia pendidikan dan memerlukan banyak wacana tentunya akan lebih peka dalam  memahami maksud yang terkandung di dalam berbagai literatur sebagai efek dari sebuah kebiasaan membaca.

Dengan demikian, penguatan literasi untuk kalangan santri atau pelajar merupakan salah satu cara alternatif berinovasi dan berkolaborasi dalam membangun kemandirian santri di masa yang akan datang.

Penulis kelahiran Tuban Jawa Timur, alumni ponpes Al-Madienah Denanyar Jombang. Saat ini sedang menempuh pendidikan di UIN Walisongo Semarang dan sekaligus belajar di Ponpes Darul Falah Be-Songo.  
Email : Kholiznoer15@gmail.com

Daftar Pustaka

1. Siraj, Said Aqil. 1999. Pesantren Masa Depan. Bandung: Pustaka Hidayah.
2. Zulkifli. 2002. Sufi Pesantren. Yogyakarta: LKIS.
3. Madjid, Nurcholis. 1999. Bilik -bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta: Paramadina.

3 Comments

Leave Comments