Ridwan Kamil Buka Munas BUMI Melalui Pantun

Ridwan Kamil di Munas BUMI

“Salah satu isu sosial keagamaan yang muncul saat ini adalah terkait dengan pemahaman keagamaan yang sempit, dan parsial yang pada gilirannya mengancam kelompok keagamaan yang memiliki tafsir berbeda. Misalnya jihad yang hanya ditafsirkan sebagai perang, padahal sesungguhnya jihad adalah setiap usaha yang sungguh-sungguh untuk mendapatkan ridha Allah. Dengan mengatasnamakan jihad tersebut justru malah melahirkan perilaku-perilaku yang intoleran, keras dan cenderung radikal. Padahal Islam adalah agama yang membawa misi dan ajaran yang penuh dengan rahmat (kasih sayang), cinta dan kedamaian bagi semesta alam.”

Banjar, – Melihat berbagai permasalahan kebangsaan saat ini, Brigade Ulama Muda Indonesia (BUMI) adakan musyawarah Nasional  (Munas), bertempat di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo Kujangsari, Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat, acara berlangsung selama dua hari, Rabo-Kamis, 27-28 Februari 2019. Acara yang dihadiri oleh perwakilan ulama muda seluruh indonesia ini dilandasi oleh kepudulian terhadap berbagai permasalahan sosial keagamaan.

“Sejalan dengan pemahaman Islam Rahmatan Lil’alamin, melalui Ahlussunnah Wal Jamaah An Nahdliyyah pemahaman Islam Rahmatan Lil’alamin dapat lebih terealisasikan melalui lima pilar Ahlussunnah Wal Jamaah An Nahdliyyah, yaitu (1) tawassuth (moderat) dalam menyikapi berbagai persoalan. tidak bersikap ekstrim, baik ekstrim kiri atau ekstrim kanan, (2) tasamuh (toleran), dapat hidup berdampingan secara damai dengan pihak lain, (3) ishlah (reformatif), yaitu mengupayakan perbaikan menuju arah yang lebih baik, (4) tathowwur (dinamis), yaitu selalu melakukan kontekstualisasi dalam merespon berbagai persoalan dan tantangan, lebih-lebih di era global, dan (5) manhajy (metodologis), yaitu selalu menggunakan kerangka berfikir yang mengacu kepada manhaj yang telah ditetapkan oleh ulama.” Dikutip dari Term Of Reference (TOR) yang diberikan oleh kepanitiaan, Rabo (27/02/2019).

Acara yang dieselenggarakan dengan tujuan menguatkan dan memelihara aqidah ahlussunah wal Jama’ah ala NU, meneguhkan fikroh, amaliah dan harokah NU, sebagai forum komunikasi da silaturahim jaringan para Ulama Muda Indonesia dan mempersiapkan kader-kader Ulama NU di masa yang akan datang ini, dibuka oleh Gubernur Jawa Barat, H. M. Riswan Kamil. Melui pantun, Gubernur yang aktif bermedsos itu mengaapresiasi seluruh anggota BUMI yang hadir.

“Tentulah sebagai seorang muslim, mari kita kuatkan ukhuwah islamiyah kita. Mari kita doakan agar NKRI tetap utuh dan dijauhkan dari pertengkaran dan perpecahan, kita doakan juga NU dan Ulama Mudanya selalu terdepan dalam menjaga Indonesia. Oh iya, saya ada pantun;

 Bertamasya sambil makan coklat
Naik Kereta kuda isi delapan
Jika Indonesia mau selamat
Ulama muda NU harus di depan”

– Ridwan Kamil

Pada kesempatan yang sama, kiyai sepuh dan tokoh NU, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin juga memberi apresiasi dan berpesan kepada seluruh anggota Munas BUMI. Menurutnya, Ulama Muda memiliki peran strategis dalam melanjutkan perjuangan para ulama ke depan.

“Ulama memiliki dua tugas atau tanggung jawab, pertama adalah tanggung jawab personal kedua adalah tanggung jawab sosial. Tugas pertama adalah mempersiapkan penggangtinya, melukuakn regenerasi dan menciptakan tokoh-tokoh perebubahan. Tugas kedua adalah menjaga agama dan menjaga negara, tugas ini tidak mungkin dilakukan orang per-orang atau sendiri, tetapi dilakukan secara bersama-sama. Hal ini pula yang disadari oleh ulama terdahulu seperti KH. Hasyim Asy’ari, beliau dalam melaksanakan tugas kedua ini, mengajak ulama lain yang kemudian tergabung ke dalam Nahdhatul Ulama,” paparnya.

Selain KH. Ma’ruf Amin dan Ridwan Kamil, hadir pula dalam acara tersebut adalah KH. Abdul Ghoffar Rozin (Ketua Pengurus Pusat Robithah Ma’ahid Islamiyah Nahdhotul Ulama (PP-RMI-NU)), Taufiq Madjid (Dirjen PPMD Kemendes RI) dan KH. Agus Salim (Ketua LDNU) serta KH. Kamal (Pengasuh PP Zuhuddin Ulum Banjar).

Leave Comments