5 Moment Menyenangkan Di Pesantren

Hidup ini seperti roda, kata sebuah lagu. Ada kalanya senang, ada kalanya susah, dan ada kalanya datar-datar saja. Begitu pula bagi para santri di pondok pesantren.

Bagi santri, saat-saat paling susah adalah ketika tidak bisa memahami dan hafal materi pelajaran, berselisih dengan teman sekamar yang setiap waktu bertemu, digelitiki hantu penunggu pesantren di saat tidur, atau tidak mengenakan seragam karena bajunya masih basah atau hilang, dan ditakzir karena luput mengikuti kegiatan.

Tapi, meski kehidupan para santri amat sederhana, monoton dan ruang geraknya terbatas, para santri juga memiliki saat-saat menyenangkan yang amat ditunggu-tunggu serta tak terlupakan, bahkan ketika sudah lulus dari pesantren. Mari kita lihat daftar saat-saat menyenangkan bagi para santri yang masih suka bikin baper sampai ketika sudah menjadi alumni.

Ditengok orang tua

Ditengok orang tua di saat sedang kangen-kangennya dengan kampung halaman atau sedang fakir-fakirnya di pesantren, bahkan sekedar beli sabun atau gorengan pun tak mampu. Kehadiran orang tua, di samping membawa rasa tenang dan mengobati rindu, juga membawa oleh-oleh berupa jajanan dan uang sekedar untuk membeli makanan kecil dan mencukupi kebutuhan hidup yang tak seberapa. Pada saat-saat seperti itu, meski uang pemberian orang tua tak seberapa, rasanya kita bisa membeli apa saja, meski tak sampai membeli gunung dan langit, tentu saja. Itu adalah momen yang indah dan tak terlupakan.

Mati lampu

Mati lampu. Bagi kebanyakan orang, mati lampu adalah peristiwa yang menyebalkan plus menjengkelkan karena aktivitasnya harus terhenti dan jadi tak produktif. Tapi bagi para santri, mati lampu ibarat hadiah tak terduga. Betapa tidak, gara-gara mati lampu pengajian jadi libur sehingga para santri bisa tidur lebih cepat atau mengisinya dengan kegiatan ngerumpi bersama di sudut-sudut rahasia pesantren. Rasanya seperti dapat tiket liburan gratis ke pulau terpencil nan indah. Kurang lebih begitu.

Melihat Si-dia

Melihat gebetan lagi lewat. Ini peristiwa yang begitu mendebarkan dan bisa bikin para santri susah tidur. Padahal cuma melihat si dia sedang lewat dari jarak belasan sampai puluhan meter jauhnya. Kalau sampai dikasih senyuman oleh si dia, efeknya bisa lebih gawat lagi, seorang santri bisa tiba-tiba jadi pelamun, susah tidur berminggu-minggu dan tidak konsentrasi mengaji. Meski dampaknya bisa berpotensi bikin majnun, tapi ini adalah majnun yang bikin para santri mabuk kepayang.

Khataman

Khataman. Ketika acara khataman digelar, para santri tak ubahnya merayakan hari raya. Mereka bisa lepas dari kegiatan dan beban pengajian pun sudah tuntas. Layaknya hari raya, pada saat khataman para santri mengenakan baju baru, ditengok orang tua dan keluarga, menjadi pusat perhatian dan merasa senang bukan main karena bisa membanggakan kedua orang tua dengan prestasinya. Khataman juga sering menjadi ajang pertemuan para alumni, di mana mereka tampil dengan necis, penuh tawa dan cerita di hadapan adik-adik kelas mereka.

Mayoran

Mayoran, kepungan atau kembulan. Ini adalah tradisi para santri memasak dan makan bersama secara besar-besaran dengan lauk pauk seadanya. Meskipun kadang hanya ditemani sayur terong atau kangkung rasanya begitu nikmat, lengkap dengan bumbunya yang tidak sempurna, kadang terlalu asin, pedas, atau kurang masak. Menikmati masakan mayoran merupakan kenikmatan tak terlupakan. Banyak para alumni pesantren merindukan cita rasa kuliner mayoran yang khas dan sedap serta tak tersedia di restoran mana pun di dunia.

Itulah kira-kira momen-momen paling menyenangkan bagi para santri di pondok pesantren. Tidak mahal, terasa unik, tapi punya dampak emosi dan memori yang selalu bikin ketagihan. Bahagia itu sederhana, kata banyak orang. Para santri sudah mengalaminya, jauh sebelum kalimat itu ada.

Gimana guys? selain 5 moment di atas ada lagi gak hal-hal menyenangkan yang belum di bahas? tulis di kolom komentar ya.

Artikel dikutip dari cigaru.id

Leave Comments